Seri Memaknai Kehidupan: 46 (FB: Tasawuf Djawa Full): MELAWAN UJUB & RIYA.

MEMAKNAI KEHIDUPAN ( 46)

MELAWAN UJUB & RIYA

Ujub menurut Al Ghazali, merusak amal saleh, karena ujub menganggap hebat, me¬nganggap agung atas amal saleh yang dilakukan oleh dirinya sendiri. Orang yang ujub lupa atau belum mampu menyelami kedalaman makna alhamdulillah, segala puji milik (bagi) Allah. Mengapa kita yang ingin dipuji? Mengapa kita begal, kita rampas, kita korupsi untuk diri kita sendiri, pujian makhluk untuk Allah? Padahal semua amal baik perbuatan kita bisa terwujud berkat taufiq dari Gusti Allah. Pangeran Yang Maha Kuasalah yang membesarkan pahala dan kadarnya, sehingga dapat memuliakan amal manusia.

Guna melawan ujub, Al Ghazali memberi resep berupa dzikrul minnah, senantiasa ingat pada jasa dan karunia Allah. Kita bisa menolong orang karena Allah. Kita ini hanya sekedar menjadi perantara Allah dalam menolong orang tersebut. Oleh sebab itu pujian dan kebanggaan tadi bukanlah milik kita, tetapi milik, dan karena itu harus kita teruskan untuk dipersembahkan kepada Sang Maha Kuasa, Pencipta Yang Maha Sempurna.

Mengenai riya, Al Ghazali mengingatkan dapat terjadi jika dalam beramal saleh, kita tidak memiliki landasan keikhlasan. Kita beramal lantaran menginginkan kemanfaatan duniawi, walaupun dengan memohon kepada Allah, bukan lagi semata-mata ikhlas karena Allah. Orang yang seperti ini berusaha memamerkan amalnya agar diketahui dan dipuji orang lain.

Di lain pihak, mengharapkan kebaikan dengan penampakan duniawi, tidak selalu berarti riya. Berupaya agar dihormati orang dan memiliki pengaruh besar di masyarakat, bisa digolongkan ibadah, jika memang sungguh-sungguh diniatkan untuk membela dan menegak¬kan ayat-ayat Allah. Sebab dengan mempunyai pengaruh yang besar, kita lebih bisa menyuruh orang beribadah secara baik. Seruan yang sama yang dikemukakan oleh orang yang berpengaruh, tentu berbeda dibanding jika dikemukakan oleh orang yang tak berpengaruh. Bukankah Anda pasti lebih percaya dengan seorang ulama terkenal, dibanding pendapat orang jalanan yang tidak Anda kenal? Maka mengharap kebaikan bukanlah riya, asalkan tidak dengan maksud memuliakan diri sendiri, asalkan tanpa maksud duniawi, melainkan untuk tujuan kebaikan akhirat.

Untuk memahami ujub dan riya yang suka menggoda bersama-sama, Al Ghazali memberikan contoh tentang golongan orang-orang yang pertama masuk neraka, lantaran mengerjakan amal, bahkan dengan kedok ibadah tapi dengan mengharap pujian manusia, yaitu pertama, penghapal dan pembaca Qur’an yang mencari pujian manusia. Kedua, orang yang mati dalam perang sabil karena ingin disebut pemberani dan atau pahlawan. Ketiga, orang kaya yang ingin dipuji sebagai dermawan. Naudzubillah.

Leave a comment

Filed under Uncategorized

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s