Seri Memaknai Kehidupan: ILMU HARUS DISERTAI RASA TAKUT

ILMU HARUS DISERTAI RASA TAKUT

Para ulama tempo dulu telah memberikan tips untuk membedakan orang berilmu yang sungguh-sungguh taat kepada Allah dan yang tidak.

Ilmu yang mengandung takut bercampur rasa agung kepada Allah akan membantu yang memilikinya menjadi taat kepada Allah, selalu berada di atas garis-garis Allah, mendahulukan akhirat dari dunia dan selalu memberikan nasihat-nasihat yang baik terhadap sesamanya. Sang pemilik juga tidak sombong dan senantiasa menghormati kekasih-kekasih Allah serta senang bergaul dengan fakir miskin.

Dalam buku “Zikir dan Doa Persembahan Anak Saleh” saya kutipkan pula, sebaliknya ilmu yang tidak disertai rasa takut, tidak mem¬bawa kebaikan bagi yang punya. Sebab yang bersangkutan tidak dapat berpisah dari kesukaannya terhadap dunia dan menjuruskan keinginannya untuk mendapatkan dunia sebanyak-banyaknya. Dia sombong, angan-angannya panjang dan lupa sama sekali bahwa suatu waktu akan mati, akan masuk kubur dan kelak diadili di Mahkamah Akhirat. Orang alim yang seperti itu begitu mencintai dunia dan mengumpulkan pesona dunia secara berlebihan sehingga lalai pada akhirat, lalai menaati Gusti Allah.
Tidak berlebihan apa yang dikatakan ulama Syeikh Abu Hasan Asy-Syadzali, “Ilmu pengetahuan itu laksana dinar (uang emas) dan dirham (uang perak). Jika Allah menghendaki, maka Dia akan menyusahkan Anda dengan uang-uang tersebut.”

Sementara itu Imam Dzunnun al Mishry mengatakan, manusia semuanya mati kecuali ulama. Ulama pun semuanya tidur, kecuali ulama yang mengamalkan ilmunya. Dan yang mengamalkan ilmunya pun semuanya tertipu oleh dirinya dan oleh setan kecuali yang ikhlas.

Anak-anakku,

Marilah kita mencari ilmu pengetahuan yang bermanfaat, yang harus diamalkan secara ikhlas disertai rasa takut kepada Allah swt. Bukan untuk menuruti bujukan setan dan hawa nafsu. Bukan demi harta benda, pangkat-derajat serta pujian manusia. Ingatlah harta benda, kekuasaan dan derajat dunia bukanlah tujuan hidup kita selaku khaliftullah fil ard, melainkan hanya sekedar sarana. Oleh karena itu sarana tidak boleh mengalahkan tujuan.
Marilah kita patuhi firman Allah di surat Al-A’raaf ayat 56, “Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi sesudah (Allah) memperbaiki dan berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut (tidak akan diterima) dan penuh harap (akan dikabulkan).” Maha benar Allah dengan segala firman-Nya.

Wahai Kekasih,
tenggelamkanlah daku dalam lautan pesona-Mu,
timanglah daku dalam mabok kepayang kepada-Mu,
supaya rindu dendamku,
membuatku kesepian dalam hiruk-pikuk raja-raja,
supaya pesona-Mu,
membuatku tetap kesepian dalam pesona
para ratu kecantikan.

Leave a comment

Filed under Uncategorized

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s