Seri Memaknai Kehidupan (48): MAKNA DAERAH & HUTAN TERLARANG ZAMAN DAHULU.

Dengan asma Allah,
alangkah luar biasa Allah,
setiap nikmat adalah dari Allah.
Dengan asma Allah,
alangkah luar biasa Allah,
seluruh kebaikan dan semua yang baik pasti dari Allah.

Dengan asma Allah,
alangkah luarbiasa Allah,
tiada seorang pun yang sanggup menolak berbagai
macam kejahatan, melainkan Allah.

SEPERTI lazimnya orang Jawa, almarhumah Ibu sering mengajarkan “memayu hayuning bawono”, yaitu menjaga kelestarian (sekaligus mengandung pengertian menebarkan kebahagiaan), alam semesta dan segenap isinya.

Sebagai pengejawantahan dari semangat ini, ibu suka menasihati dan mendidik anak keturunannya agar dapat hidup bahagia dan mulia, menjadi tempat berteduh bagi yang kehujanan dan kepanasan. Memberi minum bagi yang kehausan. Memberi makan pada yang kelaparan. Yang belas kasih kepada sesamanya. Memaafkan siapa yang menyakitinya. Itulah kemuliaan budi manusia.

Adapun yang dimaksud dengan sesamanya yaitu semua makhluk Tuhan, yang tiada lain adalah alam semesta dan segenap isinya, termasuk manusia. Sehubungan dengan itu maka kehidupan alam semesta wajib dijaga agar tetap seimbang.

Para pendiri kerajaan nan arief bijaksana, mengatur tata guna tanah sedari awal pembangunan ibu kota kerajaan. Hutan-hutan bakau di tepi pantai tidak boleh ditebang. Kolam atau tambak ikan boleh dibangun di daratan di belakang hutan bakau. Untuk menjaga ekosistem air, hutan-hutan di sekeliling ibukota, terutama yang berada di perbukitan atau gunung juga tidak boleh ditebang. Bahkan dilarang untuk dirambah dan dijamah manusia.
Untuk itu para alim ulama kerajaan ditugasi mengembangkan citra tentang daerah-daerah larangan tersebut sebagai “lemah sangar kayu aeng, jalma mara jalma mati” wilayah kerajaan jin yang sangat sangar, sangat angker. Siapa yang berani datang menginjakkan kaki di bumi daerah itu, lebih-lebih berani menebang pohonnya akan mati.

Daerah itu hanya boleh dikunjungi oleh raja atau utusannya. Demikian pula pohonnya hanya boleh ditebang atas kehendak raja sesudah memohon izin Sang Penguasa Hutan, itu pun biasa¬nya hanya beberapa batang untuk diper¬gunakan sebagai tiang-tiang bangunan keraton, supaya keraton memiliki daya magis wilayah tersebut. Disebarkan ke masyarakat, kayu tadi merupakan sumbangan Raja Jin, sebagai tanda takluk kepada Raja (manusia) yang sakti mandraguna. Sudah barang tentu kayunya adalah kayu pilihan, berumur tua dan berdiameter besar.

Pada zaman dahulu, orang yang hendak menikah juga diharuskan menanam pohon. Ada pohon wajib yaitu kelapa serta pohon-pohon tabungan sukarela di hari tua berupa pohon-pohon tanaman keras. Di masa kecil, saya melihat paman dari ayah saya yang menjabat sebagai Kepala Desa di kampung saya, membuat catatan statistik jumlah pohon tanaman keras di wilayah kerjanya. Di papan tulis besar di pendapa rumahnya yang luas, saya senang membaca berapa jumlah pohon-pohon tanaman keras, kambing, sapi dan kerbau yang ada di desa. Itulah untuk pertama kali saya mulai belajar statistik. Sayang sekali ketentuan dan kebiasaan baik itu sekarang sudah tidak berlaku lagi.

6 Comments

Filed under Uncategorized

6 responses to “Seri Memaknai Kehidupan (48): MAKNA DAERAH & HUTAN TERLARANG ZAMAN DAHULU.

  1. dwi yantono

    raja alim qaja disembah,
    raja lalim raja disanggah

  2. dwi yantono

    ada pepatah melayu berkata:
    raja alim qaja disembah,
    raja lalim raja disanggah

  3. dwi yantono

    ada pepatah melayu berkata:
    raja alim raja disembah,
    raja lalim raja disanggah

  4. islamjawa

    Betul Mas Dwi, terima kasih dan salam ta’zim.

  5. islamjawa

    Betul Mas Dwi, terima kasih. Salam ta’zim.

  6. islamjawa

    Alhamdulillah, terima kasih.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s