Seri Memaknai Kehidupan (52): TIADA PEMAKSAAN DI DALAM ISLAM.

Dengan sesama manusia, kita harus membangun kehidupan yang rukun damai, yang jujur dan adil. Saling harga menghargai, saling mengembangkan kasih sayang dan bukan sebaliknya, mengobarkan kebencian apalagi memusnahkan yang lain. Jangan sampai perbedaan membuat kita ber¬musuhan.
Dalam buku “Operasi Woyla” yang terbit tahun 1981 saya t

elah menulis, Islam bukanlah suatu gerakan agresif yang mengobarkan kekerasan dan pemaksaan kehendak. Islam sesuai dengan arti katanya, adalah suatu ajaran yang penuh dengan penyerahan diri kepada Tuhan Yang Maha Esa. Islam berusaha menye¬lamatkan manusia dengan perilaku salam atau damai. Islam diturunkan guna menggalang perdamaian dunia, bukan untuk perang dan mengalirkan darah.
Tuhan telah mengajarkan umat manusia melalui Surat An-Nahl (16:125), “Serulah ke jalan Tuhanmu dengan bijaksana dan nasihat yang baik, dan bantahlah mereka dengan cara yang lebih baik pula.”
Sungguh luas kandungan ayat tersebut. Sangat mulia nilainya, karena bersama beberapa ayat yang lain, menunjukkan bahwa Islam menghormati sepenuhnya kemerdekaan ber¬pendapat dan berkepercayaan.
Allah berfirman dalam Surat Al-Baqarah (2:256), “Tiada paksaan untuk memasuki agama. Sesungguhnya telah jelas jalan yang benar dibanding jalan yang salah. Karena itu barang siapa yang ingkar kepada yang disembah selain Allah dan beriman kepada Allah, maka sesung¬guhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang kuat, yang tidak akan putus. Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.”
Tuhan pun menegaskan lagi dalam Surat Yunus (10:99) “Dan jika Tuhanmu menghendaki, tentulah beriman semua orang yang di muka bumi seluruhnya. Apakah engkau hendak memaksa manusia supaya semuanya menjadi orang-orang yang beriman?” Melalui Surat Al-Kaafiruun (109:6) Gusti Allah menegaskan, “Bagimu agamamu, bagiku agamaku.”
Jelas bahwa Islam menyilahkan golongan lain untuk mendirikan syiar-syiar agamanya. Biarkan mereka mengikuti apa yang mereka percayai, sebagaimana juga ditegaskan dalam surat Al-An’am (6:108), “Dan janganlah kamu memaki sembahan-sembahan yang mereka sembah selain Allah, karena mereka nanti akan memaki Allah dengan melampaui batas tanpa pengetahuan. Demikianlah Kami jadikan setiap umat menganggap baik pekerjaan mereka. Kemudian kepada Tuhan merekalah terpulang keputusan-Nya, lalu Dia memberitakan kepada mereka apa yang dahulu mereka kerjakan.”
Prinsip-prinsip itulah yang membuat Baginda Rasul pernah tanpa risi menerima kedatangan 60 (enam puluh) orang pemuka agama Nasrani dari Najran, walaupun di rumahnya tidak ada suatu ruangan yang ditata mewah untuk menerima tamu-tamu kehormatan. Dengan kepolosan hati yang dilandasi kesucian jiwa, Kanjeng Nabi menggelar beberapa helai sorbannya yang terbagus untuk tempat duduk mereka. Dan pada waktu orang-orang Nasrani itu minta izin hendak melakukan kebaktian agamanya, Nabi mempersilakan mereka agar melaksanakan di dalam masjid. Demikian pula sebaliknya menurut Imam Malik, dalam suratnya kepada Khalifah Harun al-Rasyid, Rasulullah memperkenankan kita salat di kediaman orang Yahudi dan Nasrani. Masya Allah.

Leave a comment

Filed under Uncategorized

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s