KENAPA HARUS RIDHO MENGHADAPI MUSIBAH

 

           Siapakah yang tidak was-was,  yang tidak susah lagi gundah gulana, jika menghadapi hal-hal yang tidak sejalan dengan hati dan perasaannya ?  

            Siapakah yang tidak resah gelisah dan terguncang hatinya, bila ditimpa malapetaka ? Mengalami bala, bencana dan musibah sebagamana pengertian awam selama ini ?.

            Musibah seperti sudah pernah kita bahas sebelumnya, berasal dari kata ashaaba  yang berarti  sesuatu yang kita alami, apakah itu baik atau buruk. Namun sudah menjadi kelaziman sehari-hari, kata musibah itu hanya dipakai untuk kejadian yang buruk atau yang sulit-sulit saja. Sedangkan yang baik tidak disebut musibah. Padahal dalam surat An Nisaa Ayat 79 disebutkan “Maa ashaabka min hasanatin fa minnallah. Wamaa ashaabaka min sayyi’atin fa min nafsik”. Maknanya, yang kamu alami sehingga menimbulkan dampak kesenangan dalam hidup, itu harus kamu sadari, bahwa itu dari Allah. Tapi apa yang kamu alami yang berdampak atau mengakibatkan kesulitan bagi kamu, cobalah terlebih dahulu periksa diri kamu. Bahasa gaulnya, yang baik dari Allah, yang buruk karena ulah kita sendiri.

            Musibah dalam pengertian kejadian buruk sering disebut pula kesulitan, bala, cobaan atau ujian Tuhan. Adapun jenis-jenisnya antara lain sakit, kematian, bencana, kecelakaan, tertipu, rugi, pailit, miskin, kehilangan harta benda, kehilangan pekerjaan, belum kunjung punya suami – isteri atau anak, dijahati-difitnah-disyiriki orang lain, anak kita nakal dan sebagainya.

            Semuanya tidak mengenakkan hati dan perasaan. Bahkan tidak jarang karenanya langit sudah bagaikan mau runtuh. Dunia serasa hendak kiamat. Atau memang kiamat kecil, kata sementara orang. Orang yang di dera duka nestapa seperti itu, kehilangan sanak saudara tercinta karena meninggal dunia misalkan, bisa meraung-raung, menangis meratapi jenazahnya. Sampai pernah terjadi, Sayidina Ali menegor sahabatnya yang berbuat seperti itu, “Ketahuilah, betapapun takdir akan tetap berlaku. Kalau engkau ridho akan takdir ini engkau akan mendapatkan ampunan dan pahala, sebaliknya jika engkau tidak ridho maka takdir tetap berlaku dan engkau malah mendapatkan dosa”. (Imam Al Ghazali dalam Minhajul ‘Abidin).

            Bila kita renungkan dalam-dalam nasehat tersebut, demikian pula berbagai hadis tentang menghadapi musibah dan kematian, memang sungguh keterlaluan jika kita tidak ridho. Semua yang selama ini kita klaim sebagai milik kita termasuk sanak saudara, sesungguhnya adalah milik Gusti Allah yang dititipkan dengan sepenuh amanah kepada kita. Nah ini sang Pemilik mengambil kembali hak-Nya kok kita tidak rela ? Berani benar kita memprotes Nya dengan menangis meratap meraung-raung ? Toh yang sudah diambil oleh Sang Pemilik tak mungkin kita minta lagi. Yang sudah mati tak mungkin hidup kembali.

            Tetapi, apakah kita sungguh-sungguh tidak dibenarkan menangis menghadapi musibah buruk seperti kematian, khilangan dan kehancuran ? Menangisi jenazah dengan tidak meratapinya, dibolehkan sebagaimana disebutkan dalam hadis Abu Mas’ud Al Anshari dan Qarazhah bin Ka’ab yang berkata, “Rasulullah saw membolehkan kami menangis ketika ditimpa musibah asalkan tidak disertai dengan ratapan “ (HR Ibnu Abi Syaibah dan Thabrani).

            Dalam riwayat-riwayat lain dikisahkan, Rasulullah pun mencucurkan air mata tatkala memangku puteranya yang sedang menghadapi sakaratul maut. Air mata yang seperti itu menurut beliau adalah rahmat yang dijadikan di dalam hati hamba-hamba-Nya yang suka berbelas kasih kepada sesamanya.

            Lantas sikap yang bagaimana yang sebaiknya kita lakukan, jika Gusti Allah mengambil kembali “titipan” Nya dari kita ? Ridho seperti yang diajarkan Sayidina Ali itulah yang terbaik. Segala sesuatu ini sesungguhnya adalah milik Allah dan kepada Allah pula akan kembali. Oleh karena itu meskipun kita tercekat menghadapi bala, malapetaka dan musibah, meski hati kita pilu bagai tersayat sembilu lantaran yang kita cintai diambil-Nya, kita tetap harus ridho, dan tentu saja boleh seraya berdoa memohon gantinya yang lebih baik lagi, sejalan dengan nasihat Nabi Khidir As. pada saat Rasulullah Saw wafat;

“Sesungguhnya Allah telah menyediakan balasan pada setiap musibah, pengganti pada setiap yang hilang, dan khalifah pada setiap yang tiada. Maka kembalikanlah segalanya kepada Allah dan berharaplah kepada Nya. Allah telah mempersiapkan segalanya untuk kalian dan ketahuilah bahwasannya yang ditimpa musibah adalah orang yang tidak terpaksa”. (kesaksian Abu Bakar, riwayat Baihaqi dari Anas bin Malik).

Beji 01 Oktober 2012

Leave a comment

Filed under Uncategorized

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s