Seri Memaknai Kehidupan (53): MENANAM POHON SAMADENGAN SEDEKAH SEPANJANG ZAMAN

Terhadap tumbuh-tumbuhan, cobalah hitung berapa banyak yang telah Anda makan, yang Anda konsumsi? Berapa puluh pohon telah ditebang untuk membangun rumah dan kantor Anda? Untuk hotel dan restoran yang pernah Anda singgahi? Di lain pihak bandingkan seberapa banyak pohon yang telah Anda ta­nam, jangan-jangan sebatang pohon pun belum pernah.

K.H. Abdurrahman Arroisi, mengisahkan dalam buku “30 Kisah Teladan”, tentang keprihatinan seorang sufi, Ibrahim bin Adham, terhadap kerusakan yang terjadi di muka bumi dan lautan akibat ulah manusia yang tidak bertanggungjawab.

Sang Wali terpana dengan Surat An-Nahl (16:112), “Dan Allah memberikan gambaran tentang sebuah negeri yang tadinya aman tenteram. Rezeki datang melimpah dari segala jurusan. Akan tetapi, mereka kemudian menganiaya kurnia Allah itu. Maka ditimpa­kan atas mereka selubung kelaparan dan ketakutan sebagai akibat perbuatan mereka sendiri.”

Semenjak gaung firman Allah ini bergema di dadanya, Sang Wali yang pada mulanya adalah seorag raja, lebih banyak menghabiskan waktunya untuk beribadah dan berkebun. Ia berakrab-akrab dengan alam, sebab bila alam tidak disantuni dengan penuh kearifan, pasti akan menyebabkan timbulnya ketimpangan dan kebinasaan. Oleh karena itu dengan dalih apa pun, merusak dan menyia-nyiakan alam adalah kelaliman yang sangat dikutuk.

Sehubungan dengan itu, menjelang ke­be­rangkatan tentaranya menuju perang Mu’tah, Baginda Rasul berpesan antara lain, “Jangan­lah mengganggu penduduk yang tidak ber­salah, lindungilah kaum wanita, jangan mem­bunuh anak-anak dan orang sakit. Jangan membong­kar atau merusak rumah-rumah penduduk atau bangunan-bangunan umum, jangan merusak mata pencaharian rakyat musuh, dan jangan pula merusak buah-buahan, dedaunan serta hasil pertanian, jangan me­nebang pohon kurma atau kayu-kayuan dan pohon-pohon lain.”

Kanjeng Nabi juga pernah bersabda, “Andai­kata hari kiamat besok pagi tiba, sedangkan di tanganmu tergenggam sebutir bibit kurma, apakah yang harus kamu lakukan? Membuang­nya sia-sia karena putus asa? Tidak. Kamu teruskan menanam bibit kurma itu, sebab bagai­manapun, bagimu telah tersedia pahala untuk menanamnya.”

Muslim meriwayatkan beberapa hadis yang menyatakan bahwa seseorang yang menanam pohon atau tumbuh-tumbuhan akan terus memperoleh pahala sedekah, setiap ada makhluk, baik manusia maupun binatang yang memakan sesuatu dari tumbuh-tumbuhan atau pohon tersebut.

Demikian wahai anak-anakku, tumbuh-tumbuhan sebagai makhluk Tuhan juga harus kita sayangi. Janganlah kita menebang atau mencabutnya sesuka hati, lebih-lebih sampai menyebabkan kemusnahan. Sebab pasti ada tujuan dan manfaat mengapa Gusti Allah menciptakannya. Jika sekarang kita belum mengetahui kemanfaatan sesuatu makhluk, itu lantaran ilmu pengetahuan kita yang belum mampu menjangkaunya.

Apabila kita ingin mengkonsumsi sesuatu jenis tumbuh-tumbuhan marilah kita imbangi dengan upaya untuk menanamnya, paling sedikit membantu pengembangan budidayanya. Sedang­kan pohon-pohon besar yang ditebang untuk bahan bangunan rumah tinggal kita, marilah kita berupaya keras menanam penggantinya. Insya Allah kita telah ikut menjaga keseimbangan dan kelestarian alam semesta. Alhamdulillah.

 

 

Leave a comment

Filed under Uncategorized

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s