MUSIBAH, PONDASI KENABIAN

Ingatkah anda pada sebuah ungkapan sekaligus joke dalam permainan sepakbola? Kapten kesebelasan  yang di luar lapangan selalu lebih hebat dari yang di dalam lapangan. Maksudnya, penonton selalu merasa lebih mampu dibanding pemain yang sedang bertanding.

Ia berteriak-teriak memberi komando kepada pemain A, B dan C. Ia juga berteriak kecewatatkala pemain yang dijagoi gagal mengoper bola dan sebaginya. Padahal jika ia yang menjadi pemain, jangan-jangan baru seperempat jam sudah kehabisan nafas. Boro-boro lari menggiring bola. Melangkahkan kaki saja sudah terasa sangat berat.

Itulah kehidupan. Kalau melihat orang lain sedang mengalami musibah, dengan indah berbusa-busa, kita bisa secara mudah memberikan nasehat agar ikhlas, sabar dan tawakal. Tapi bila kita sendiri yang mengalami, jangan-jangan lebih terguncang  dibandingkan orang lain. Naudzubillah.

Karena itulah, sangat beralasan firman Allah Swt yang menyatakan, “ Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan, ‘kami telah beriman’, sedang mereka tidak diuji lagi? Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya  Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta”, (Surat Al Ankabuut : 2 – 3).

Demikianlah, mana bisa kita memperoleh gelar Doktor bila kita tidak lolos dari tim pengujinya? Mana mungkin kita memiliki wing terjun payung, jika kita tidak pernah benar-benar terjun payung? Mana mungkin kita disebut pendaki gunung bila belum pernah menaklukkan minimal sebuah puncak gunung? Dan mana mungkin kita sudah betul-betul  beriman jika belum pernah lulus dari ujian dan cobaan kehidupan?

Maka tepatlah fatwa Syekh Abdul Qadir Jailani yang menyatakan, “Janganlah kamu lari dari ujian dan cobaan, karena datangnya ujian dan cobaan yang dibarengi dengan sabar itu merupakan pondasi dari setiap kebaikan, pondasi kenabian, kerasulan, kewalian dan kearifan. Kecintaan kepada Allah itu adalah pada ujian dan cobaan”.

Apabila kamu tidak  sabar atas datangnya ujian dan cobaan yang menimpa kamu, lanjutnya, berarti kamu tidak punya pondasi. Sesungguhnya  kamu yang lari dari ujian dan cobaan yang menimpamu, berarti kamu tidak butuh kewalian, ma’rifat dan dekat kepada Allah Ta’ala. Bersabarlah, katanya, dengan kesabaran yang seiring dengan hati dan rohmu pada pintu yang lebih dekat pada Allah Azza wa Jalla.

Dengan musibah manusia diuji, diberi cobaan apakah batinnya goncang atau tidak. Apakah hati kita  menjadi liar dan keyakinan kita menurun atau tidak? Apakah iman kita goyah atau tidak?

Para ahli hikmah mengajarkan agar kita berusaha keras memetik hikmah yang terkandung di dalam setiap ujian dari Gusti Allah. Menurut Prof.Dr.K.H.Muhibbuddin Waly dalam kajiannya tentang Al-Hikam, banyak hikmah di dalam setiap ujian, empat terpenting diantaranya yaitu: Pertama, menambah dan memperkokoh tumpuan serta pengharapan kita kepada Allah. Kedua, melemahkan nafsu buruk terutama nafsu terhadap pesona dunia yang bisa mengabaikan ridho Allah. Ketiga, menggalang kesabaran dan menumbuhkan ketaatan. Keempat, menghapus dosa-dosa dan kesalahan.

Hikmah-hikmah tersebut hanya bisa kita peroleh apabila kita memahami musibah dengan kacamata iman-yakin dan sabar. Jika kita sudah berhasil memperoleh hikmah, meskipun itu ibarat hanya sebesar atom yang menghuni relung  hati, maka nilai kebaikannya jauh lebih tinggi dibanding amal ibadah lahir yang sebesar gunung. Sebab puncak dan pokok dari semua amal ibadah adalah pada hati, pada niat yang terkandung di dalam hati. Apabila hati sudah terisi hikmah sehingga menjadi baik, otomatis semua amal ibadah akan ikut baik. Tetapi apabila tidak, maka belum dapat dipastikan amal ibadah yang kita kerjakan akan baik.

Meskipun demikian, mohon jangan dilupakan, yang namanya musibah atau ujian itu tidak hanya berupa kejadian buruk saja, namun juga termasuk yang baik, sebagaimana firman Allah Swt dalam Surat Al-Anfaal ayat 17, “…… dan Allah hendak menguji orang-orang yang beriman dengan ujian yang baik…..” . Dalam konteks ayat ini adalah kemenangan dalam peperangan dan harta rampasan.

Harta benda adalah titipan Allah yang merupakan perhiasan dunia, yang berfungsi sebagai ujian keimanan sekaligus pula bekal ibadah. Harta benda bisa menjadi kenikmatan yang berkah, bila digunakan dengan penuh syukur di jalan yang diridhoi dan bukan di jalan yang dilarang apalagi dimurkai. Sebaliknya pula bisa menjadi malapetaka.

Harta bersama kekuasaan menurut Imam Al Mawardi merupakan dua hal yang paling cepat bisa mengubah perilaku manusia. Tiga hal yang lain yaitu pergaulan, penyakit dan usia. Harta dan kekuasaan bisa membuat manusia lupa diri, serakah, sombong, takabur dan terlena mabuk dalam pesona dunia.

Oleh sebab itu marilah kita senantiasa ingat kata-kata bijak yang menyatakan bahwa segala sesuatu yang menyenangkan, itu pula yang menyusahkan. Senang dan susah, panas dan dingin, berat dan ringan, pahala dan hukuman, ibarat dua sisi dari satu keping uang logam. Suka dan duka itu senantiasa berpasangan, saling mengintip dan berebut untuk menjadi yang dipermukaan.

Semoga kita senantiasa dijadikan hamba-hambaNya yang pandai memetik hikmah-hikmahNya. Aamiin.

Beji, 02 Oktober 2012.

Leave a comment

Filed under Uncategorized

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s