Seri Memaknai Kehidupan (54): MENYAYANGI MAKHLUK BERNYAWA DAN TAK BERNYAWA

Perihal binatang, Al Quran menjelaskannya tidak kurang dari 42 (empat puluh dua) ayat, sementara dari khasanah hadis Rasulullah saw, dikenal ada dua hadis yang sangat populer, yaitu satu mengenai anjing dan satu lagi tentang kucing.

Pada suatu hari yang sangat panas, (di Arab Saudi bisa mencapai 40-55 derajat Celsius, bandingkan dengan di Indonesia yang hanya sekitar 30 derajat), seorang perempuan pelacur dari Bani Israel melihat seekor anjing sedang berputar-putar mengelilingi sebuah sumur sambil menjulurkan lidahnya karena kehausan. Ia kemudian melepas sepatu kulitnya untuk mengambil air sumur dan memberikan kepada anjing untuk diminum. Menurut Kanjeng Nabi sebagaimana diriwayatkan oleh Muslim, karena perbuatannya itu dosa perempuan tersebut diampuni.

Dalam hadis yang lain Muslim mengisahkan, seorang wanita justru masuk neraka karena seekor kucing. Ia mengurungnya, tidak memberi makan dan minum, bahkan tidak membiarkan binatang tersebut memakan serangga, sehingga akhirnya mati dalam penderitaan.

Sebagai pembawa rahmat bagi alam semesta dengan segenap isinya, Rasulullah senantiasa memberikan keteladanan bagaimana mengasihi dan menyayangi sesamanya, tidak hanya ter¬hadap yang bernyawa, tapi juga terhadap yang tak bernyawa.

Dahulu saya sempat bingung dan malu terhadap teman-teman bukan Jawa, yang mencemooh kebiasaan orang Jawa memberi nama kesayangan atau kehormatan kepada benda-benda dan binatang miliknya.

Alhamdulillah sekarang saya berani men¬jawab bahwa semua itu ada referensinya, ada penuntunnya, yaitu Kanjeng Nabi Muhammad. Dalam hadis Bukhari, kuda beliau diberi nama Luhaif atau si Peringkik, mungkin karena suka meringkik. Keledainya diberi nama Ufair atau si Cemerlang. Untanya diberi nama Adhba atau si Lincah. Demikian pula lima bilah pedang, tujuh baju zirah, tikar, gelas, tongkat dan lain-lain barang yang pernah beliau miliki, diberi nama yang indah-indah.

Gusti Allah menciptakan binatang ber¬pasang-pasangan agar segala jenis binatang itu berkembang biak menyebar di muka bumi secara seimbang. Unggas yang daging dan telurnya enak dimakan, berkembang biak dengan cepat dan mudah. Virus pun dapat berkembang biak secara cepat, namun umurnya pendek, bahkan ke¬banyakan mati terkena sinar matahari. Sementara itu bisakah kita bayangkan betapa menakutkan apabila binatang-binatang buas seperti harimau, singa dan beruang cepat beranak pinak lagi banyak. Juga gajah yang mampu memakan ratusan kilogram tumbuh-tumbuhan setiap hari?

Dari contoh-contoh tadi nampak betapa adil dan seimbangnya Allah mengatur kehidupan makhluk-makhluk-Nya. Lantas mengapa kita harus merusak keseimbangan tersebut demi memuaskan dahaga keserakahan kita?

Maka wahai saudaraku, semenjak sekarang marilah bertekad untuk tidak membunuh binatang, kecuali untuk membela diri menjaga keselamatan atau sekadar untuk makan. Bahkan untuk makan pun seyogyanya memilih binatang-binatang yang diternakkan, agar jangan sampai ada jenis binatang yang punah.
Kehati-hatian serta kasih sayang yang sama, wajib pula kita berikan kepada bagian dari alam semesta yang lain, seperti langit dan udara serta bumi dengan gunung, sungai dan lautannya.

Semuanya bisa kita mulai dari hal-hal yang sederhana. Agar kita dapat menghirup udara segar, marilah kita jaga udara dari segala hal yang bisa mencemarinya, misalkan aneka macam asap dan hawa panas dari proses pembakaran yang berlebihan.
Agar air laut, danau dan sungai tetap jernih serta tidak terkontaminasi oleh zat-zat yang membahayakan makhluk hidup, khususnya ikan, binatang dan manusia, marilah kita cegah untuk tidak memproduksi limbah-limbah berbahaya.

Tentang bumi, Surat An-Nahl ayat 15, Surat Thaahaa ayat 53 dan Surat Al-Anbiyaa’ ayat 31 menjelaskan bahwa Sang Maha Pencipta membentangkan bumi, dan padanya ditancapkan gunung sebagai pasak agar bumi tidak guncang. Bumi ini selanjutnya dilengkapi dengan jalan dan sungai sebagai petunjuk bagi manusia.

Dalam Surat Thaahaa ayat 53, disambung 54 dan 55, dijelaskan bagaimana sesudah itu Allah menurunkan hujan, menciptakan tumbuh-tumbuhan, binatang dan manusia. Akan tetapi ketamakan sebagian manusia, membuat dirinya serakah dalam menikmati segala anugerah Tuhan yang diamanahkan kepadanya. Gunung digempur, hutan dibabat, lautan diurug serta aneka kerusakan alam lainnya, yang pada gilirannya menggoyahkan keseimbangan dan memutuskan mata rantai kelestariannya. Naudzubillahimindzalik.

Bagaimana menjaga agar segala hal buruk tadi tidak terjadi? Baginda Rasul, para sahabat dan keluarga mereka telah memberikan contoh, berupa cara hidup yang amat sederhana dalam kemakmuran dan kejayaan. Mereka misalkan, makan roti terbuat dari tepung kasar, memiliki hanya dua sampai tiga pasang pakaian dan tidur di atas tikar. Padahal mereka adalah Amirul mukminin, khalifah, penguasa yang ditakuti oleh musuh-musuh Islam yang memungkinkan untuk hidup bergelimang kemewahan. Akan tetapi hal itu tidak dilakukannya.

Kita mungkin tidak mampu mencontoh sepenuhnya hidup sederhana sekeras itu. Yang terpenting adalah bagaimana secara sadar kita selalu berusaha meneladani semangat kesederhanaannya. Segala sesuatu yang kita butuhkan diatur sekedarnya dan fungsional. Insya Allah, alma’unah biqadrin niyyah, pertolongan Gusti Allah akan datang tergantung niat kita, sebagai bekal mengarungi dan mem¬berikan makna yang positif dalam Lingkaran Spiral Kehidupan yang Kelima ini. Amiin, alhamdulillah.

Leave a comment

Filed under Uncategorized

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s