Seri Musibah (3): BERHALA MODERN & FALSAFAH UNTUNG

 

Ada kebiasaan orang Jawa, yang bila tertimpa musibah selalu mengucapkan, “masih untung”. Tabrakan naik motor misalkan, mengucapkan: “Untung Cuma tangan kiri yang patah, nggak sampai tewas kegilas roda mobil”.

Imam Nawawi Al-Bantaniy, ulama kelahiran Tanara – Banten yang mukim di Mekah abad ke-19 dan sangat tersohor,  dalam bukunya “Nashoihul ‘Ibad (Nasehat Penghuni Dunia)”, meriwayatkan reaksi Khalifah Umar jika menghadapi musibah, “Demi Allah, setiap kali aku tertimpa bencana maka di situ selalu terdapat empat nikmat karena Allah. Pertama, untunglah bencana itu tidak menyantap agamaku; kedua, untunglah bencana itu tidak lebih besar lagi; ketiga, untunglah bencana itu tidak menutup ridho llah; dan keempat, untunglah lantaran bencana itu saya dapat mengharap pahala dari Allah”.

Dalam tulisan sebelumnya sudah disinggung bahwa musibah atau ujian itu tidak hanya berupa hal-hal buruk saja, tetapi juga yang baik-baik. Contohnya harta dan kekuasaan, meskipun cara memperolehnya sudah sesuai jalan yang diridhoi Allah alias halal dan thoyib, namun jika tidak dikelola dengan betul maka akan menyantap agama kita, menutup ridho serta menutup pahala selanjutnya. Demikian pula suami-isteri dan anak-anak. Bahkan mengenai harta, Imam Al Ghazali menyatakan,  walaupun halal tapi kalau berlebihan maka dalam pemahaman tasawuf sudah bisa disebut “haram”.

Semua pesona dunia itu justru bisa menyesatkan kita, membuat kita mabok dunia, hidup foya-foya, sombong, takabur serta seribu satu perbuatan lainnya yang tidak disukai Allah. Untuk membela tindakannya, orang yang seperti itu punya sejuta kilah, karena setan memang selalu membantu menyediakan jawaban, alasan dan pembelaan. 

Apalagi jika disamping zatnya, cara memperolehnya pun tidak halal dan tidak thoyib. Cara meraih kekuasaan , cara memperoleh harta benda, isteri-suami dan anak-anak juga tidak sesuai ajaran agama. Dalam kehidupan modern yang materialistis ini, lazim terjadi guna memperoleh aneka pesona tadi,  orang melakukan riswa, suap-menyuap, membagi dan menerima komisi dengan dalih sama-sama senang dan ikhlas, menipu, mark-up, menjual minuman keras dan sejuta perbuatan tercela yang dilarang Allah lainnya. Seribu satu alasan dibuat antara lain kalau tidak demikian, lantas anak-buah saya makan apa? Anak-isteri saya makan apa? Apa perusahaan saya harus ditutup dan sejuta alasan lainnya.

Ketakutan pada kesusahan kehidupan dunia, telah mengalahkan ketaatan kita kepada Gusti Allah, mengorbankan ketaatan kita pada Allah Swt dan Kanjeng Nabi Muhammad Saw. Orang-orang seperti ini bisa jadi sholatnya rajin, demikian pula umroh dan haji, bahkan zakat-infaq dan sedekahnya mengucur deras. Orang-orang yang seperti itu bisa disebut munafik, yang seluruh perbuatan yang dikiranya ibadah dan amal soleh itu, akan sia-sia. Naudzubillah.

Pesona kehidupan dunia telah menjadi berhala-berhala modern yang dipatuhi,  dengan melakukan  ritual-ritual dalam bentuk perbuatan-perbuatan tercela yang melanggar larangan-larangan Gusti Allah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Kuasa. Itulah yang disebut syirik chafi, yaitu syirik yang tersamar, yang terselubung.

Akan hal ini  Gusti Allah telah mengantisipasi  dalam Surat At-Taubah ayat 24, “Jika bapak-bapakmu, anak-anakmu, saudara-saudaramu, isteri-isterimu, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu peroleh, perniagaan yang kamu khawatir merugi dan tempat tinggal yang kamu sukai, lebih kamu cintai dibanding Allah dan Rasul-Nya dan (dari) berjihad di jalan-Nya, maka tungguhlah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya. Dan Allah tidak akan memimpin kaum yang fasik”.

Oleh sebab itu, marilah kita renungkan bersama diri kita dan lingkungan kehidupan kita sekarang ini. Termasuk yang manakah? Yang taat ataukah yang sesat, yang khianat pada jalan Allah? Apabila termasuk yang sesat, marilah kita saling mengingatkan dan bertobat sebelum terlambat.

Marilah kita hindari atau kita bangun tekad perlawanankita untuk menghancurkan berhala-berhala modern, berupa kekuasaan, kedudukan, pangkat,gelar, harta-benda serta berbagai pesona kenikmatan dunia lainnya, yang mengalahkan ketaatan kita pada Allah Swt dan Rasulullah Saw. Karena berhala modern yang seperti itu jelas-jelas menjerumuskan dan merusak ketauhidan kita sebagaimana peringatan ayat di atas.

Uang yang diperoleh dengan cara yang tidak baik secara tegas diharamkan oleh Baginda Rasul, tidak boleh dikonsumsi sama sekali, serta tidak boleh untuk membangun atau membeli perlengkapan sholat (hadis riwayat Ibnu Umar, Ahmad dan Thabrani).  Tentang hadis ini sudah saya bahas dalam buku “Pengembaraan Batin Orang Jawa di Lorong Kehidupan”. Sedangkan uang yang seperti itu menurut ulama kharismatik Abah Thoyib dari Semengko, Mojokerta, Jawa Timur, hanya akan membawa bencana saja bagi yang menikmatinya. Naudzubillah.

 Demi membentengi diri menghadapi gempuran persoalan hidup yang bisa menggoyahkan ketauhidan kita, Imam Al Ghazali dalam Minhajul ‘Abidin  mengajarkan empat hal. Pertama, jika memperoleh anugerah kenikmatan, kita harus bersyukur antara lain dengan selalu bermuka cerah dan banyak mengerjakan amal soleh. Kedua, jika tertimpa kesusahan atau kesukaran, kita harus sabar supaya terasa hikmahnya. Ketiga, jika memperoleh kebaikan, maka insyaflah akan kebaikan Allah Swt, dan ingatlah bahwa itu semua karena jasa Allah. Keempat, jika mengerjakan kejahatan dan maksiat, kita harus ridho akan ketetapannya, tetapi perbuatan jahat dan maksiatnya harus distop dan bertobat, mohon ampunan serta  pertolongan-Nya agar kita tidak sampai tersesat dan melakukan kejahatan atau pun maksiat lagi.

Semoga.

 

Beji, 04 Oktober 2012.

Leave a comment

Filed under Uncategorized

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s