Seri menyikapi musibah (4): RIYADHOH DAN HIKMAH DIBALIK PENYAKIT

 

            Pada umumnya kita sudah pernah mendengar tentang hadis yang sangat populer, yang mengisahkan empat malaikat yang mendatangi sesorang hamba Allah yang akan sakit. Gusti Allah mengutus malaikat-malaikat tersebut untuk, malaikat pertama mengambil kekuatan si hamba; malaikat kedua mengambil selera makannya; malaikat ketiga mengambil cahaya wajahnya; malaikat keempat mengambil dosa-dosanya.

            Dampak dari yang pertama sampai ketiga mudah dipahami dan nampak secara kasat mata, yaitu orang yang sakit menjadi lemah, kehilangan nafsu makan dan kemudian pucat. Tetapi akan halnya yang keempat, sering orang enggan membicarakan,  padahal itulah anugerah Allah yang Maha Pengampun yang tak ternilai harganya. Tak jarang tatkala hal ini disinggung, orang menyanggah, “Memang salah apa ? Memangnya saya banyak dosa ?”.

            Begitu pengasih dan penyayangnya Allah, bila Beliau berkendak menyembuhkan sang hamba, maka kepada malaikat pertama sampai dengan ketiga diperintahkan mengembalikan apa yang sudah diambilnya dari sang hamba, sementara kepada malaikat  keempat diperintahkan pergi jauh-jauh dan melemparkan dosa-dosa sang hamba ke lautan lepas.

            Tak terbayangkan betapa akan penuhnya neraka dan kosongnya surga apabila Gusti Allah tak berbelas kasih mengurangi dosa-dosa para hambaNya selagi masih hidup di dunia. Tak terbayangkan betapa berat siksa akhirat nanti jika tidak memperoleh pengurangan, tidak memperoleh diskon dosa dalam bentuk sakit tersebut.

            Karena itu lah para mursyid atau guru tasawuf banyak mengajarkan dan melatih para muridnya dalam menghadapi penyakit, Syekh Abdul Qodir Jaelani misalkan mengatakan, “Apabila sakit menimpa kamu, maka terimalah dengan lapang dada dan penuh kesabaran, sambil ikhtiar untuk berobat.  Apabila pengobatan telah datang, maka terimalah dengan rasa syukur kepada Allah Swt. Jika kamu demikian, maka hidupmu tentu digampangkan oleh Allah dalam masalah yang kamu hadapi.” (Al Fathur Rabbani, Wal Faidhurrahmani, Fatwa ke 8).

            Oleh sebab itu penyakit bagi kebanyakan penganut tasawuf justru sering disyukuri, lantaran dianggap sebagai pengurang dosa sekaligus bukti kecintaan Allah. Sejumlah mursyid bahkan mengajarkan kalau bisa tahanlah minimal selama dua hari pertama sakit untuk tidak berobat, dan segeralah memproses diri menjalani riyadhoh, melakukan upaya mawas diri, membersihkan diri dan melatih diri agar bisa semakin dekat dengan Allah Ta’ala. Dengan riyadhoh kita berlatih menyempurnakan diri, bertobat dan membuang perbuatan-perbuatan yang dilarang Allah, kemudian mengisi dengan perbuatan-perbuatan terpuji.

            Dalam riyadhoh kita diajarkan menyepi di kamar nan sunyi, belajar berdialog batin dengan Allah, bermesraan berdua sambil meneliti dosa-dosa kita, memohon ampun dan pertolongan serta kekuatan untuk tidak mengulanginya.

            Akan halnya penyakit, sesungguhnya lantaran tiga hal pokok. Pertama, semata-mata karena cobaan atau ujian Allah. Kedua, karena ulah manusia itu sendiri, yaitu berupa ketidakmampuan mengelola  fisik maupun non fisiknya. Ketiga, karena perbuatan buruk yang menimbulkan dosa. Hal manakah yang menjadi penyebab kita sakit ? Orang lain tidak bisa mengetahui dengan persis. Yang seharusnya bisa mengetahui secara tepat hanyalah yang bersangkutan. Meskipun demikian juga tidak mudah mengetahui kemudian memahami diri sendiri, apalagi kesalahan dan dosanya, untuk selanjutnya membersihkan serta memperbaiki diri.

            Riyadhoh melatih kita melakukan itu semua, termasuk memahami firman-firman Allah yang terkait buah amal manusia, sebagaimana surat Az-Zumar ayat 39, setiap orang akan memetik buah amalnya sendiri. Selanjutnya surat As-Syuura ayat 30 menyatakan, “Dan apa saja musibah yang menimpamu, maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahanmu).”  Demikian pula Surat Yunus ayat 44, “Sesungguhnya Allah tidak berbuat zalim kepada manusia sedikitpun, akan tetapi manusia itulah yang berbuat zalim kepada diri mereka sendiri”.

            Demikianlah saudaraku, dalam riyadhoh marilah kita secara jujur terlebih dulu mencari penyebab musibah yang kita alami termasuk musibah sakit, pada diri kita. Supaya dengan begitu kita bisa segera memperbaiki diri.

            Apabila ternyata tidak juga ketemu, terimalah musibah tersebut sebagai ujian dari Allah guna meningkatkan maqom kita di hadapan Nya. Petiklah hikmah-hikmah atas musibah itu sebagaimana sudah kita bahas dalam tulisan sebelumnya. Bersyukurlah,  kalau bukan karena musibah,  kemiskinan, penyakit, kematian, kegagalan dan kesulitan hidup tentulah manusia akan senantiasa mengangkat kepala karena congkak. Kesuksesan akan menunjukkan siapa kita, sedangkan musibah apalagi kegagalan akan menunjukkan siapa-siapa sahabat kita.

Subhanallah walhamdulillah.

 

Beji, 5 Oktober 2012

Leave a comment

Filed under Uncategorized

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s