Seri menyikapi musibah (5): BERSYUKUR DALAM SUKA & DUKA

Dalam kehidupan sehari-hari kita sering menjumpai orang-orang yang dari waktu ke waktu, dari bulan ke bulan, dan dari tahun ke tahun, selalu saja mengeluhkan gajinya yang kurang. Dilain pihak, ada pula orang yang jika sedang tidak berkenan dimintai sumbangan atau bantuan, mengatakan “nggak punya uang”, padahal di dompetnya ada uang meskipun sedikit.

Dua contoh tersebut adalah contoh tipe-tipe orang yang tidak pandai bersyukur, bahkan orang yang kedua juga berbohong. Ada uang walau sedikit, bilang tidak ada. Bagamana jika nanti Gusti Allah betul-betul membuat dia tidak punya uang sama sekali? Kalau tidak mau memberi, carilah alasan yang baik tanpa perlu mengingkari nikmat apa lagi berbohong. Tidak takutkah kita dengan firman Allah dalan surat Ibrahim ayat 7: “Sungguh jika kamu bersyukur, niscaya kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkarinya, sungguh azabKU sangat keras”. Termasuk ingkar nikmat adalah tidak menggunakan nikmat Allah untuk taat kepadaNYA.
 
Ayat ini jelas-jelas menegaskan bahwa syukur itu pengikat nikmat, agar nikmat yang sudah kita peroleh tidak hilang dan sebaliknya tetap kekal bersama kita, bahkan supaya pahala nikmatnya bertambah.

Bagaimana kita belajar memahami dan menghayati nikmat-nikmat Allah Yang Maha Pengasih ? Prof. Dr. K.H. Muhibbuddin Waly dalam kitab kajian Al-Hikmahnya mengajarkan, hendaklah seseorang itu selalu bertafakur pada keadaan dirinya sebelum dia mendapatkan nikmat.

Dalam contoh kasus di atas, karyawan yang memiliki gaji tadi hendaklah merenungkan keadaan dirinya sebelum atau jika ia tidak memiliki pekerjaan. Membandingkan dirinya dengan orang-orang lain yang tidak memiliki pekerjaan dan penghasilan sama sekali.

Orang kaya hendaklah selalu bertafakur pada keadaan bagaimana dia sebelumnya, bahkan bagaimana bila ia menjadi fakir-miskin, Orang sehat ingat tatkala ia jatuh sakit, atau bila suatu saat jatuh sakit. Orang yang memperolah nikmat agama dan telah kembali ke jalan Allah, hendaklah ingat bagaimana ia pernah melakukan maksiat sebelumnya.

Pada intinya, lihatlah setiap nikmat itu pada lawannya. Bandingkan dengan hal-hal yang berlawan terhadap nikmat tersebut. Insya Allah kita akan mudah memanjatkan puji dan syukur.

Puji dan syukur menurut Imam Al-Ghazali, merupakan tanjakan terakhir dalam perjalanan tarekat. Puji adalah amalan-amalan lahirian seperti wiridan, hamdallah, tasbih dan tahlil. Sedangkan syukur adalah amalan-amalan batin yang selanjutnya memancar pula dalam amalan lahir atau perbuatan, antara lain sabar, bergembira dan menggunakan nikmat tadi untuk hal-hal yang diridhoi Allah, serta tidak menggunakannya untuk bermaksiat. Buah syukur adalah kegembiraan dan suka cita, sedangkan syukur itu sendiri adalah buah dari iman.

Karena itu marilah wahai saudaraku, kita hadapi kehidupan ini dengan kegembiraan dan suka cita, bukan dengan mengeluh, murung, bermuram durja. Dengan kegembiraan dan suka cita tidaklah berarti bergembira ria seperti anak kecil yang memperolaeh mainan yang disukainya. Tapi cukuplah terpancar dari air muka serta amalan puji syukur sebagaimana uraian di atas. Kenikmatan dalam arti yang lazim tidak perlu diekspose, ditunjuk-tunjukkan apalagi dipamerkan, sebab bisa menimbulkan kecemburuan orang lain, serta memancing orang berbuat iri-dengki.

Sebaliknya apabila kita menghadapi musibah, tidaklah boleh diratapi, juga tidak perlu ditunjuk-tunjukkan, diomong-omongkan menjadi keluh kesah. Sebab jika kita melakukan itu berarti kita tidak ridho, tidak terima Allah menguji kita. Berani benar kita tidak terima terhadap ujian atau cobaan Allah. Coba, betapa kesal kita sebagai atasan jika anak buah kita protes keras dengan cara yang tidak beradab atas kebijakan kita ?
Disamping itu mengobral musibah kepada orang lain juga belum tentu menghasilkan simpati dan bantuan. Malahan, bisa jadi mereka mencibir kita, “rasain lu sekarang”.

Marilah kita terima dan jalani musibah dengan tegar, sebab ketegaran akan menghasilkan kesabaran. Marilah kita senantiasa bersyukur dalam keadaan apapun, bersyukur dalam suka dan duka karena toh sebagaimana janji Allah dalam surat Al-Insyiraah, “maka sesungguhnya beserta kesukaran ada kemudahan”.

Dengan asma Allah,
alangkah luar biasa Allah,
setiap nikmat adalah dari Allah,

Dengan asma Allah,
alangkah luar biasa Allah,
sesungguhnya kebaikan dan semua
yang baik pasti dari Allah,

Dengan asma Allah,
alangkah luar biasa Allah,
tiada seorangpun yang sanggup menolak
berbagai macam kejahatan melainkan Allah.

Bismillah walhamdulillah

Beji, 7 Oktober 2012

Leave a comment

Filed under Uncategorized

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s