Seri Memaknai Kehidupan (62): RAHMAT BAGI GUNUNG, BINATANG SAMPAI SANDAL JEPIT.

 

Saudaraku,

Dari lingkaran keempat, selanjutnya kita memasuki Lingkaran Spiral Kehidupan Yang Kelima, interaksi kehidupan di alam semesta. Di sini kita bertugas bukan hanya sekadar mewujudkan masyarakat adil makmur, tetapi lebih jauh lagi mewujudkan rahmat bagi alam semesta dan seluruh isinya, dalam suatu tatanan yang baldatun, thoyibatun wa robbun ghofur, yang senantiasa dalam ampunan dan naungan Ilahi. Mewujudkan rahmat bagi sesama umat manusia. Bagi sesama ciptaan Tuhan. Bagi gunung, sungai, lembah, ngarai, hutan, lautan, bebatuan, air, binatang, tumbuh-tumbuhan, jazad renik, meja, kursi, pakaian kerja bahkan sandal jepit kita dan lain sebaginya. Bukan hanya demi memuaskan hawa nafsu semata-mata. Bukan hanya demi suku, agama, ras dan golongan kita sendiri.

Alam itu berubah, dan semua yang berubah menurut kaidah ilmu fikih adalah makhluk. Maka kalau kita mengaku sebagai orang ber­agama terutama Islam, janganlah melihat alam sebagai obyek ilmiah semata-mata, juga hati-hati menuduh orang yang mencari hikmah dari kemurkaan alam sebagai mistis. Belajar dari hikmah sejarah para nabi dan kaumnya di dalam Al Qur’an, kita akan menjumpai bahwa alam itu adalah balatentara Allah, dan melalui bala­tentara-Nya, Allah memperingatkan bahkan menjatuhkan hukuman dunia kepada umat-Nya yang tidak bermoral, yang durhaka dan fasiq. Naudzubillah.

Dalam kaitan ini guru kita Prof. K.H. Ali Yafie mengingatkan dengan mengutip surat Al-Hadid ayat 20, “Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu.” Agar kita tidak terkecoh dengan kehidupan duniawi yang seperti itu maka kita harus memahami hakikat kehidupan itu sendiri, kemudian memanfaatkan segala fasilitas yang tersedia untuk mendapat­kan makna yang positif berupa monumen tugu amal saleh.

Jika kita dapat mewujudkan kehidupan yang seperti itu maka hidup menjadi bermakna. Akan tetapi itu semua harus diperjuangkan. Kita harus secara sadar dan taat asas memaknai kehidupan kita.

Kecenderungan hidup manusia akan kese­nangan, menurut Pak Kyai, pada dasarnya tidak dilarang, namun manusia dianjurkan untuk memikirkan orientasi kehidupan duniawinya, serta dilarang memperturutkan hawa nafsu, sebagaimana firman Allah dalam surat Al-Qashash ayat 77, “Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (keba­hagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) seba­gaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan”.

Maha Benar Allah dengan segala firman-Nya.

Leave a comment

Filed under Uncategorized

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s