Pesan Tempat di Sisi Allah Swt (1) : TIGA HAL (BEKAL) YANG DIBAWA MATI

Saudaraku,

Ada satu hal yang semua orang tidak bisa menghindar namun sering dilupakan, bahkan diabaikan, yaitu “pulang kampung”, kembali ke asal mula kita alias kematian. Ada yang ingat, dengan lantas meraup harta sebanyak mungkin untuk warisan anak cucunya. Ada pula yang dengan menyiapkan kaveling 1 x 2 meter yang megah – mewah.

Saya yakin, anda semua pasti pernah kehilangan sanak-saudara atau kerabat,  dipanggil kembali ke haribaanNYA. Kemudian kita bertakziah, mengantarkannya ke pemakaman. Dengan mata kepala kita sendiri, kita saksikan ia tergolek sendirian di dasar liang lahat, hanya berbalut selembar kain kafan, tidak lebih. Setelah semuanya kembali ke rumah masing-masing, apa dan siapakah yang menemaninya? Bekal apakah yang diperlukannya? Siraman air mawar, bunga tabur nan harum dan rangkaian karangan bunga yang megahkah? Gelar hajinya yang sudah 2 atau 3 kali? Umrohnya setiap tahun? Kedudukan, jabatan dan pangkatnyakah? Atau aneka gelar, tanda penghargaan serta bintang dan tanda jasa yang disematkan di baju dinasnya?

Saudaraku,

Saya yakin, sebagian besar dari anda pasti pernah mendengar atau membaca sebuah hadis di dalam buku “tahlil” untuk memperingati wafat seseorang. Hadis ini sesungguhnya sangat populer dan mudah diingat. Tapi saya kuatir belum banyak di antara umat Islam yang memahami, menghayati dan selanjutnya mempersiapkannya sebagai bekal sekaligus teman perjalanan “pulang kampung”. Meskipun demikian saya percaya, anda semua tidak termasuk yang seperti itu. Dengan anda mau menyisihkan waktu,  untuk secara sukarela mengikuti majelis-majelis silaturahim dan majelis pengetahuan seperti ini saja, lebih-lebih dengan mau membaca seri tulisan ini, sudah menunjukkan derajat kemuliaan jiwa anda.

Anda pasti ingat, hadis yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim itu berbunyi, “Rasulullah Saw bersabda: ‘Bila seseorang telah meninggal, maka terputuslah baginya pahala segala amal, kecuali tiga hal yang tetap kekal yaitu sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat dan anak yang saleh yang senantiasa mendoakannya’”.  Dalam bahasa gaulnya, jika kita, jika anda meninggal, semuanya sudah tidak ada artinya kecuali tiga hal, ulangi, semuanya sudah tidak ada artinya kecuali tiga hal yaitu pertama, sedekah jariyah yang sudah kita berikan. Kedua, ilmu kita yang bermanfaat bagi sesamanya, sesama makhluk Allah, baik yang berupa manusia maupun bukan. Ketiga, anak saleh yang senantiasa mendoakan kita.

Dalam seri selanjutnya insya Allah ketiga hal yang merupakan syarat pesan tempat di sisi Allah Swt, sekaligus bekal dan teman perjalanan kita “pulang kampung”, menyongsong kematian, kembali ke haribaan Gusti Allah Sang Maha Raja Di Raja Yang Menguasai Hari Kemudian itu, akan kita bahas satu per satu. Namun sekarang ijinkanlah saya menutup seri ini dengan mengutip bait pertama sebuah tembang, yang saya kenal pertama kali dalam kehidupan saya, yang didendangkan almarhumah ibu untuk mendasari  pemahaman saya tentang kehidupan dan kematian, sebagai berikut:

Ono tangis, layung- layung,

tangise wong, wedi mati,

gedongono, kuncenono

mongso wurungo wong, mati………

(Ada tangis, sayup –sayup.

tangis dari orang yang takut mati,

biar dilindungi dalam gedung atau benteng kokoh terkunci rapat,

takkan mungkin manusia menghindar dari kematian : penjabaran dari Surat An-Nisaa ayat 78).

Maha Benar Allah dengan segala firmanNya.

Beji, 22 Desember 2012.

Leave a comment

Filed under Uncategorized

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s