Pesan Tempat di Sisi Allah Swt (3): JANGAN SEDEKAHKAN BARANG & REZEKI HARAM

Dalam Seri sebelumnya kita sudah membahas makna dan jenis-jenis sedekah. Sekarang marilah kita bahas jenis sedekah yang berupa materi, barang atau rezeki. Karena sebagaimana sering jadi seloroh selama ini, “iya betul sedekah senyum juga penting, tapi senyuman saja tidak akan menghapus rasa lapar serta membuat perut kenyang”.

Mengenai sedekah materi, para ahli fikih sepakat kita tidak boleh menye­dekahkan barang atau rezeki yang bukan milik kita sendiri dan barang haram, baik haram dari segi zatnya maupun cara mendapatkannya. Barang haram dari segi zat misalkan daging babi dan minuman keras. Haram dari segi mem­perolehnya misalkan harta yang diperoleh dari judi, merampok, korupsi dan sebagainya. Karena harta tersebut bukan­lah miliknya yang sah. Gusti Allah Swt tidak akan menerima sedekah dari yang haram, sebagaimana hal itu dijelaskan Nabi Muhammad Saw. dalam sabdanya yang mene­rangkan bahwa sesungguhnya Allah Swt. adalah baik, dan tidak akan menerima kecuali yang baik-baik.  (HR Muslim).

 Gusti Allah memerintahkan orang-orang mukmin seperti apa yang Dia perintahkan kepada para rasulNya. Allah Swt berfirman: “Hai rasul-rasul, makanlah dari makanan yang baik-baik, dan kerjakanlah amal yang saleh. Sesungguhnya Aku Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan” (QS. 23:51) dan “Hai orang-orang yang beriman, makanlah di antara rezeki yang baik-baik yang Kami berikan kepadamu…” (QS.2:172).

 

Saudaraku,

Kaidah fikih dan hadis itu perlu saya sampaikan, karena dewasa ini banyak di antara kita yang tidak peduli dengan hal tersebut. Ada sebagian saudara-saudara kita terutama yang dari kalangan birokrasi, yang berpenghasilan dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara,  baik sebagai pegawai atau pun rekanan Pemerintah, yang hidup mewah di atas penghasilan resminya. Ironisnya mereka berprinsip menganut teori keseimbangan., korupsi diimbangi dengan sedekah, terutama kepada lembaga-lembaga sosial keagamaan. Lebih ironis lagi, yang diberi sedekah, yang mestinya tahu hadis dan kaidah fikihnya, menerima begitu saja, bahkan menjadikan Sang Koruptor yang menyumbangnya sebagai idola nan dermawan.

Rasulullah Saw. dalam hadisnya yang diriwayatkan oleh Ibnu Umar dan Ahmad melarang penggunaan uang haram sekecil apa pun untuk membeli apalagi membangun prasarana dan sarana ibadah. Demikian pula dalam hadis yang  diriwayatkan oleh At-Tabrani, Ibnu Umar dan Ahmad melarang meminum dan memakan rezeki seperti itu, “Ketika sesuap haram jatuh ke dalam perut anak cucu Adam, maka semua malaikat di bumi dan langit memberi laknat padanya selama suapan itu berada dalam dirinya, dan kalau ia mati dalam keadaan begitu, maka tempatnya adalah Jahanam”. Naudzubillah!

Saudaraku,

Tentang hakikat balasan amal, ulama tersohor kita kelahiran Aceh, almarhum Prof.DR.KH. Muhibbuddin Waly menjelaskan dari Kitab Al Hikam antara lain sebagai berikut:

1.   Semua amal kebaikan pasti dibalas Allah Swt., asal amal itu dikerjakan dengan ikhlas, baik dan sempurna.

2.   Balasan dari amal itu tidak tertentu di negeri akhirat saja tapi juga diberikan Allah di dunia, baik bersifat lahiriah atau rohaniah seperti ber­tambah kuat iman dan bertambah yakin dalam beribadah kepada Allah Swt.

3.   Yang sudah terang bahwa pahala akhirat yakin dan pasti, sebab Allah tidak akan menyalahi janji-Nya, sedangkan balasan di dunia tidak dilepaskan Allah, cuma kadang-kadang manusia tidak menyadarinya.

4.   Dan Maha Suci Allah lagi Maha Tinggi, yang hanya memberikan balasan ibadah dan amal kebajikan di akhirat saja, tanpa sama sekali memberikan karuniaNya di dunia ini.

Oleh karena itu pembaca, agar pahala kita terus berjalan meskipun kita sudah meninggal, marilah kita tanamkan tekad pada diri kita untuk selalu bersedekah jariyah secara ikhlas dan semaksimal mungkin sesuai kemampuan kita. Marilah kita ajarkan hal tersebut kepada anak-anak dan keturunan kita.

Dan juga tidak kalah penting, apa saja warisan “berharga” dari kedua orangtua kita, baik “warisan berupa harta benda maupun ilmu dan pengajaran” marilah dengan ikhlas kita sedekah jariyahkan diringi doa dan permohonan kepada Allah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Memenuhi kebutuhan hamba-hambaNya, agar pahalanya dilimpahkan kepada kedua orangtua kita.

Aamiin.

 

Beji, 24 Desember 2012.

1 Comment

Filed under Uncategorized

One response to “Pesan Tempat di Sisi Allah Swt (3): JANGAN SEDEKAHKAN BARANG & REZEKI HARAM

  1. Pingback: Sedekah Jariyah & Melawan Kezaliman Dengan Menanam Pohon : Hikmah Ramadhan (10). | B.Wiwoho : TASAWUF JAWA

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s