Pesan Tempat di Sisi Allah Swt (6): MENDIDIK ANAK DAN GENERASI MUDA YANG SALEH

         Saudaraku,

         Di dalam ajaran Islam, orang yang saleh memiliki kedudukan istimewa, sampai-sampai Allah Swt berfirman dalam surat An Nuur: 55 sebagai berikut:

 

“Allah telah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan beramal saleh di antara kamu, sungguh Dia akan menjadikan mereka sebagai pemimpin di muka bumi (mereka akan diberi wa­risan kekuasaan di muka bumi), sebagaimana Dia telah menjadikan pemimpin orang-orang sebelum mereka, dan sungguh Dia meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka; dan sungguh Dia akan menggan­tikan ketakutan mereka dengan keamanan. Mereka menyembahKu, tidak menyekutukanKu dengan sesuatu. Dan Barang siapa yang ingkar sesudah demikian itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik.”

 

Iman kepada Allah Swt. dan amal saleh, ke­dua­nya nampak berbeda tapi sesungguhnya satu. Almarhum Buya Hamka dalam Tafsir Al Azhar menge­­mukakan, iman bagaikan pelita yang memberi cahaya dalam hati, menyinar cahaya itu keluar dan dapatlah petunjuk, sehingga nyatalah apa yang akan dikerjakan. Oleh sebab itu iman akan  menimbulkan amal yang saleh.

 

Banyak pula amalan yang saleh dikerjakan, tapi jika tidak timbul dari iman, bercampuraduk­lah yang haq dengan yang batil. Namun bila iman dan amal saleh bersatu padu, amal saleh timbul dari iman, dan iman menimbulkan amal saleh. Kepada orang yang memiliki kedua hal itu, Tuhan menjanjikan akan memberikan warisan kekuasaan di per­mukaan bumi ini. Kendali bumi akan diserah­kan ke tangan mereka.

 

Tapi siapakah mereka itu? Mereka adalah orang-orang yang hanya beribadah kepada Allah dan tidak menyekutukan Allah dengan yang lain. Mereka adalah orang-orang yang taat kepada Allah Swt. dan Rasulullah Saw. Taat kepada Allah dan RasulNya? Ikutilah perintah-perintahNya dan jauhilah larangan-larangan­Nya, tanpa menawar, tanpa meminta tempo atau tangguh.

 

Memang dalam memperjuangkan iman dan amal saleh, tidaklah selalu bertemu jalan datar yang disirami minyak wangi, kiri kanan dipasangi umbul-umbul dan janur kuning. Tak jarang kita terbentur, sebagaimana nabi dan para sahabatnya pun pernah terbentur. Kalau kita gagal sekali atau dua kali, ataupun kalau kita kalah, bukanlah berarti apa yang kita tuju dan kita cita-citakan tidak benar, mungkin cara kita mencapai tujuan yang belum benar, yang belum tepat.

 

Marilah kita belajar dan bertekad untuk senan­tiasa taat kepada Allah dan Rasulullah Saw. Marilah kita berusaha sungguh-sungguh tanpa kenal menyerah menjadi anak yang saleh. Mendidik anak keturunan kita, mendidik generasi muda umat kita menjadi anak  dan generasi muda yang saleh. Menunjukkan kepada kedua orangtua, kepada guru dan para pendahulu kita bahwa kita adalah benar-benar anak dan generasi mudanya yang saleh, yang senantiasa mendoakan kedua orang­tua, mendoakan mereka. Sehingga insya Allah, setidak-tidaknya doa yang lazim kita panjat­kan sesudah salat wajib dikabulkan Allah Yang Maha Pengasih.

“Ya Allah, ampunilah dosa hamba, dan dosa kedua orangtua hamba, dan kasih sayangilah mereka se­bagaimana mereka telah mengasihi hamba semasa bayi. Aamiin”

      

       Saudaraku,        

       Ulama-ulama tasawuf mengajarkan kepada para muridnya untuk senantiasa ingat dan menghormati orangtua serta guru-gurunya. Juga untuk senantiasa berlapang dada bermurah hati memanjatkan doa bagi sanak saudara, kaum kerabat dan handai tolan yang sudah wafat mendahului kita. Paling sedikit kita membaca Al Fatihah dengan disertai doa agar pahala bacaan kita dilimpahkan kepada almarhum atau almarhumah tersebut. Demikian pula bila kita hendak mengamalkan ajaran-ajaran seseorang, katakanlah Syekh atau Ustadz “Fulan”, seyogyanyalah kita persembahkan pahala bacaan Al Fatihah seperti itu kepada Syekh “Fulan”.

         Memang ada pro kontra mengenai berdoa dengan cara  mengirim atau membacakan Al Fatihah seperti itu.  Tentang hal ini, KH.MA.Sahal Mahfudz  yang semenjak tahun 1999 sampai dengan sekarang menjabat sebagai Rais ‘Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama, dan juga menjabat Ketua Majelis Ulama Indonesia semenjak tahun 2000 sampai sekarang, menjelaskan sebagai berikut:

“Agama Islam menganjurkan untuk saling mendoakan sesama muslim, walaupun terhadap muslim yang telah meninggal dunia. Ini membuktikan bahwa persaudaraan antara muslim itu bersifat abadi, tidak hanya ketika hidup di dunia saja tetapi juga ketika salah satu diantara mereka telah meninggal. Bahkan persaudaraan itu akan berlanjut kelak di akhirat.Ulama ahli fiqih bersepakat, bahwa amalan orang yang masih hidup yang diperuntukkan kepada yang telah meninggal berpahala sama. Amalan itu tidak hanya sebatas doa, tetapi juga amalan-amalan lain yang bermanfaat bagi yang telah meninggal dunia. Seperti sedekah, membaca al-Qur’an, dan membayarkan qadha puasa.

Dalam kitab Hujjah Ahlus Sunnah wal Jama’ah dijelaskan ada dua pendapat mengenai hukum membaca al-Qur’an di kuburan. Madzhab Malikiyah menganggap hal itu makruh. Sedangkan mayoritas ulama mutaakhkhirin memperbolehkannya. Dan pendapat terakhir inilah yang berlaku di kalangan kaum muslimin sekarang.
Jika kita mau memperhatikan hadits Nabi yang diriwayatkan oleh Ali bin Abi Thalib dari Nabi Muhammad saw. Sesungguhnya beliau telah bersabda: “barang siapa yang melewati kuburan dan membaca surat al-fatihah sebelas kali, kemudian menghadiahkan pahalanya kepada orang yang telah meninggal, maka diberikan kepadanya pahal dengan hitungan orang yang telah meninggal tadi”.

Adapun hadits yang lebih spesifik menerangkan tentang membaca al-Qur’an di kuburan adalah hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah ra yang artinya:”barang siapa berziarah kepada kubur kedua orang tuanya atau salah satunya, kemudian ia membaca surat Yasin di pekuburan, dia telah diampuni dengan hitungan ayat atau huruf ayat tadi. Dan orang tersebut suda h dianggap berbuat baik kepada orang tuanya”.

Dalam kitab yang sama dijelaskan, Qadhi Abi Thayyib ketika ditanya tentang menghatami al-Qur’an di maqbarah (kuburan), menjawab bahwa pahalanya bagi orang yang membaca. Sedangkan mayit, seperti orang yang hadir, diharapkan mendapat barokah dan rahmat Allah swt.

Dengan demikian, jelaslah bahwa membaca al-Qur’an di pekuburan tidak dilarang oleh Agama Islam. bahkan, membaca al-Qur’an dengan pengertian tersebut disunnahkan.”  (Sumber: KH.MA. Sahal Mahfudh, Dialog Problematika Umat. Surabya: Khalista & LTN PBNU  dan Situs Resmi Nahdlatul Ulama: www.nu.or.id).

Saudaraku,

Betapa tak terhitungnya nikmat,  rahmat dan berkah yang telah dianugerahkan Gusti Allah kepada kita. Dalam hal usia, sebagian dari kita pun sudah memperoleh bonus melampaui usia Kanjeng Nabi Muhammad Saw.  Bahkan sebagian lagi sudah mengenyam aneka pesona dunia. Apa saja sudah pernah kita coba, sudah kita rasakan kecuali satu hal, yaitu kematian. Dan karena kematian itu pasti, bukan kemungkinan, maka marilah kita songsong kematian itu dengan mempersiapkan diri sebaik-baiknya. Menyiapkan bekal yang kelak memang kita perlukan yakni amal atau sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat dan anak atau generasi muda yang saleh.

Alhamdulillah, kita sudah membahas tiga bekal sekaligus tiga sahabat setia yang akan selalu mendampingi kita setelah kita tutup usia. Tiga bekal untuk “Pulang Kampung”, kembali ke haribaan Gusti Allah Swt. Marilah kita siapkan dengan sebaik-baiknya ketiga bekal tersebut, agar dengan itu kita memperoleh anugerah berupa derajat yang mulia di sisiNYA. Aamiin.

Beji, 03 Januari 2013.

 

Leave a comment

Filed under Uncategorized

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s