Setan, musuh bebuyutan manusia (2 – 3): MENGENAL SETAN PEMEGANG MANDAT DARI ALLAH.

 

Anda masih ingat, betapa berkuasanya Presiden Republik Indonesia pada masa sebelum Reformasi tahun 1998? Pada masa itu, Presiden juga disebut sebagai Mandataris Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR). Artinya pengemban mandat atau orang yang memperoleh mandat untuk memimpin Indonesia, dari lembaga tertinggi negara yaitu MPR. Kekuasaan sang pengemban mandat, sungguh luar biasa besarnya.

Nah, sekarang bisa dibayangkan jika seseorang atau sesuatu makhluk memperoleh mandat dari Gusti Allah Yang Maha Kuasa, Maha Raja di Raja “Penguasa Langit dan Bumi”, Penguasa Masa Sekarang maupun Akhirat kelak. Penerima mandat atau kuasa itu adalah iblis atau setan, sebagaimana dalam kisah hubungan Adam dan Iblis, yang diulang-ulang oleh Allah pada beberapa Surat, sejak Surat Al Baqarah, Al A’raf, Al Hijr, Al Isra’, Al Kahfi dan Tha-Ha. Seperti halnya dalam kehidupan, para orangtua mengajarkan sesuatu yang penting kepada anak-anaknya secara berulang, agar bisa diingat dan dipahami.

Dalam tulisan sebelumnya sudah kita bahas Surat Al A’raf : 12 – 13, yang menceritakan kesombangan setan serta kemurkaan Allah atas kesombongan yang menjadi pangkal ketidaktaatan kepada Allah itu. Ayat-ayat selanjutnya menceritakan dialog iblis dengan Allah, yang memohon ijin atau mandat untuk menggoda dan menguji manusia, demi membuktikan apakah betul-betul manusia itu memang patut dimuliakan. Permintaan mandat ini dikabulkan Allah (Al A’raf: 14 – 15), dan sesudah memperoleh mandat kemudian setan berujar: “Karena Engkau telah menghukum aku (sebagai yang) tersesat, aku akan benar-benar menghalangi mereka (manusia)  dari jalan Engkau yang lurus. Aku akan mendatangi mereka dari depan, dari belakang, dari kanan dan dari kiri mereka (maksudnya mengganggu manusia dengan segala tipu daya). Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka itu bersyukur (taat)” (  Al A’raf: 16 – 17).

Berdasarkan berbagai Surat tadi ditambah Surat An Naas,  marilah kita mencoba memetakan posisi kita sebagai manusia, vis a vis, berhadapan dengan iblis. Dalam hal usia, iblis berusia ribuan tahun bahkan baru akan mati saat Sangkakala yang pertama ditiup. Sedangkan usia manusia hanya sekitar 60 – 80 tahun. Seperti halnya manusia, iblis juga beranak pinak. Maka bisa dibayangkan berapa banyak jumlah mereka sekarang. Iblis itu kasat indera, artinya tidak bisa dikenali dengan panca indera manusia, sementara manusia itu sebaliknya, yakni nyata. Karena itu iblis bisa melihat kita, sedangkan kita tak bisa melihatnya. Tempat tinggal yang paling disenangi iblis adalah hati manusia, sebaliknya manusia kurang peduli dengan hatinya. Dengan menjadikan hati manusia sebagai istananya, iblis tanpa henti senantiasa membisiki hati atau qalbu yang dihuninya dengan berbagai bujuk rayu, tipu daya dan kobaran nafsu jahat. Di lain pihak, pada umumnya manusia kurang tekun melakukan dzikir qalbu untuk senantiasa membisikkan perlawanan terhadap bisikan iblis. Kebanyakan manusia sudah cukup puas dengan berdzikir di mulut saja. Padahal dzikir qalbu adalah benteng pertahanan keimanan dan ketaatan yang paling kokoh guna menghadapi serbuan iblis, bahkan dzikir qalbu bisa bagaikan panah cahaya malaikat yang mengusir iblis.

Guna mengetahui apakah sesuatu bisikan hati itu baik atau bisikan buruk dari setan, Al Ghazali mengajarkan untuk mengetesnya dengan hukum-hukum agama, dalam hal ini Islam. Jika sesuai itu berarti bisikan baik, dan bila tidak berarti bisikan buruk.  Bisikan tersebut juga bisa diakurkan dengan kelakukan para solihin. Jika sesuai berarti baik dan bila tidak berarti bisikan setan. Pada intinya, bisikan setan itu selalu mengajak pada keburukan.

Sebagaimana nasihat ahli strategi perang Sun Tsu, yaitu jika ingin memenangkan peperangan maka kenalilah dirimu sendiri dan juga kenalilah lawanmu, maka sekarang kita sudah mengenali siapa diri kita dan iblis yang menjadi musuh manusia semenjak penciptaannya. Kita sudah tahu mereka memiliki mandat dari Gusti Allah untuk menggoda kita. Dalam tulisan sebelumnya kita juga sudah mengetahui tipu daya serta ciri-ciri perbuatannya. Sekarang kita juga sudah mengetahui sifat, potensi dan posisinya. Sekarang tinggal bagaimana kita memobilisasi serta menggerakan pasukan pertahanan diri kita.

Kita sudah tahu sasaran empuk serta target yang paling diincar setan, yakni hati kita. Maka kita harus menjaga dan menguasai hati atau qalbu kita, dan tidak memberikan kesempatan kepada setan untuk menguasainya. Kita sudah mengetahui jenis dan ciri-ciri perbuatan bahkan tipu dayanya. Maka begitu ciri-ciri itu muncul, kita harus cepat melibasnya. Kita juga sudah memiliki metode untuk mendeteksi serangannya, karena itu metode tersebut harus senantiasa siap siaga dipergunakan.

Dan yang tidak pula kalah penting, adalah jangan pernah merasa takut kepada jin, setan, gendruwo, hantu, kuntilanak, wewe gombel, banaspati dan mungkin jutaan lagi  nama jadi-jadiannya yang konon berada di sekitar kita, di pohon besar di perempatan dekat rumah, di pojok kanan halaman belakang rumah kita dan sebagainya. Kalau toh benar-benar ada, mereka tak lebih menakutkan dibanding yang menyusup, bersembunyi di hati manusia. Lagi pula mengapa takut kepada mereka semua? Bukankah dari semula, Gusti Allah telah menciptakan manusia lebih mulia di banding setan, serta memerintahkan para malaikat dan setan untuk memuliakan kita. Hanya pengikut setan yang takut kepada setan. Dan itu pasti bukan anda.

Nah, apa sekarang anda juga masih tetap takut kepada setan? Naudzubillah. Marilah kita tanamkan keyakinan kuat pada diri kita tentang kemulian diri kita, seraya membaca mantera sakti: “A’udzubillahi minasy syaithanir rajim”.

 

 

Leave a comment

Filed under Uncategorized

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s