Setan, musuh bebuyutan manusia (3 – 3) : FALSAFAH “ELING lan WASPODO”, KIAT MEMATAHKAN MANDAT SETAN.

Mematahkan, mementahkan atau menolak mandat Gusti Allah kepada setan untuk menggoda dan menguji manusia? Mana mungkin? Mandat atau pemberian kuasa  dari Allah Yang Maha Kuasa kok ditolak? Kenapa tidak?

Marilah kita lihat peluang untuk mementahkan mandat setan itu dengan mencermati Surat Al Baqarah ayat 35, 36, 37, 38 dan 39 serta Surat Al A’raf ayat 19 dan seterusnya.  Syahdan, sesudah setan menerima tangguh sekaligus mandat, ia lalu menggoda moyang manusia yaitu Nabi Adam dan Hawa, untuk melanggar satu-satunya larangan Allah di dalam surga. Allah telah menganugerahkan apa saja berikut kebebasan yang luar biasa kepada moyang kita, kecuali melakukan satu hal yang kemudian lazim kita sebut sebagai “memakan buah terlarang”. Tetapi setan justru mengobarkan nafsu  moyang kita serta membujuknya untuk memakan buah itu, dan celakanya mereka terkena bujuk rayu tersebut.

Nafsu yang tidak kunjung puas dengan anugerah yang luar biasa itulah yang kemudian oleh Kanjeng Nabi Muhammad disebut rakus atau serakah, yang menjadi akar kedua dari semua dosa. Oleh sebab keserakahan tadi, Allah mengeluarkan keduanya dari surga, menerima taubat mereka serta memberikan pegangan sebagai bekal kehidupan sekaligus guna menolak godaan setan.

Buya Hamka melukiskan secara indah ayat-ayat tersebut dalam tafsir Al Azharnya sebagai berikut: “Berangkatlah dan tinggalkanlah tempat ini. Pergilah ke bumi yang telah Aku sediakan buat kamu. Setelah kamu sampai di sana kelak, tidaklah akan Aku biarkan saja kamu, melainkan akan Aku kirimkan pentunjukKu kelak. ‘Maka barangsiapa yang menuruti pentunjukKu, tidaklah akan ada ketakutan atas mereka dan tidaklah mereka akan berdukacita’ “.

Buya melanjutkan, Nabi Adam  disuruh pindah ke bumi karena akan diberi tugas menurunkan umat manusia. Mengumpulkan bekal di bumi, yang akan dibawa kembali menghadap Allah. Memang dia telah berdosa, tetapi  dosanya telah diampuni. Sekarang dia harus  berani menempuh hidup di bumi. Jangan ke sana dengan hati iba dan dukacita. Hidup di bumi berketurunan dan beranak-cucu. Tuhan berjanji akan selalu mengiriminya tuntunan, petunjuk dan bimbingan. Lantaran itu, betapa pun hebat permusuhannya dengan setan, dengan adanya tuntunan Tuhan itu, asal dipegangnya teguh pula oleh anak-cucu di belakang hari, mereka akan selamat dari rayuan setan-iblis. Mereka tidak akan diserang oleh rasa takut dan tidak pula akan ditimpa penyakit duka citaDemikian

Buya Hamka mengajarkan kita memahami ketentuan akan adanya petunjuk Allah dalam menghadapi setan, meskipun mereka sudah memegang mandat dari Allah. Karena mandat itu tidak berlaku mutlak, melainkan ada syarat-syarat tambahannya yang merupakan peluang bagi manusia untuk mematahkannya. Tuhan memberikan tuntunan,petunjuk dan bimbingan melalui agama, dalam hal ini adalah agama Islam. Islam dengan Al Qur’an dan hadisnya, mengajarkan kita mengenali setan, mengenali tipu daya dan ciri-ciri perbuatan setan, serta mengajarkan cara-cara melawan serta mengatasi godaannya, sebagaimana telah kami uraikan di bagian pertama dan kedua seri tulisan ini.

Kecuali cara-cara di atas, Allah mengajarkan pula suatu amalan doa, suatu permohonan mandat buat melawan godaan setan. Jadi disamping memberikan mandat atau mengijinkan setan untuk menggoda manusia, sebaliknya Allah pun mengajarkan kepada manusia guna melawannya , dengan cara sama-sama memohon mandat, memohon perlindungan dari Allah. Mandat hanya bisa diatasi dengan mandat yang sekelas pula. Namun Allah akan mengabulkan permohonan perlindungan, apabila permohonan itu disampaikan secara sungguh-sungguh, dengan penghayatan penuh beserta memenuhi persyaratan-persyaratannya, yakni  mengikuti tuntunan, petunjuk dan bimbinganNya, dan bukan hanya sekedar memohon  secara lisan, sementara perbuatannya tetap mengikuti perbuatan setan.

Cara memohon perlindungan itu diajarkan dalam Surat A A’raf: 200, Surat Al Mu’minuun: 96 – 98, “…..katakanlah: Ya Tuhanku, aku berlindung kepadaMu dari bisikan setan”, dan Surat Fushshilat: 36, “….. jika engkau diganggu oleh setan dengan suatu gangguan, maka berlindunglah kepada Allah. Sesungguhnya Dialah yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui”. Juga diajarkan dalam  Surat An Nahl: 98 – 100.

Permohonan perlindungan kepada Allah dari gangguan setan, lazim kita kenal sebagai ta’awudz atau isti’adzah. Kanjeng Nabi Muhammad melalui berbagai hadis selanjutnya mengajarkan bacaan ta’awudz itu. Muslim, Abu Dawud, An Nasa’i dan Bukhari misalkan, menuliskan petunjuk Rasulullah Saw dari riwayat Sulaiman bin Shurad: “ Ada dua orang yang saling mencela di hadapan Rasulullah, sedangkan kami duduk di hadapan beliau. Salah seorang mencela yang lain dalam keadaan marah dengan wajah merah padam. Maka Rasulullah  bersabda, ‘Sesungguhnya aku akan ajarkan suatu kalimat yang jika seseorang mengucapkan, niscaya akan hilang semua yang dirasakannya itu. Ucapan itu ialah, a’udzubillahi minasy syaithanir rajim’ “. Artinya, aku memohon perlindungan kepada Allah dari setan yang terkutuk

Begitulah saudaraku, lantaran setan itu tanpa jemu senantiasa membombardir kita dengan hasutan dan bisikan-bisikan buruk, maka kita pun harus secara daim, secara terus-menerus tanpa henti membisikkan, menanamkan serta meneguhkan ketaatan kita kepada Gusti Allah. Kita harus tanpa putus mengingat Allah, baik dalam berpikir, dalam berbicara, dalam melakukan sesuatu perbuatan, dalam makan bahkan dalam tidur pun, senantiasa mengingatNya. Jika melihat sesuatu, ingatlah kepada keagungan yang menciptakannya, yaitu Allah. Jika menghadapi sesuatu persoalan, ingatlah kepada kemahakuasaan Sang Maha Sutradara, yaitu Allah.

Kita harus tanpa jemu secara sadar melibatkan Gusti Allah seraya memohon perlindungan, pertolongan, pembelaan, kemudahan dan kemenangan dariNya bagi kehidupan kita beragama, kehidupan di dunia ini maupun di akhirat kelak. Inilah hakekat dari dzikir dan salat daim, yaitu mengingat Allah secara terus-menerus tanpa putus. Inilah hakekat dari “eling lan waspodo” dalam filosofi Jawa. Senantiasa ingat (dzikir) dan waspada.  Kita bisa melatihnya dengan mula-mula melakukan dzikir secara lisan sebagaimana lazimnya, yang secara bertahap ditingkatkan menjadi dzikir qalbu tanpa henti, sejalan pula dengan hasutan serta bisikan setan yang tak pernah berhenti di qalbu kita.

Subhaanallaahi walhamdulillaahi walaa ilaaha illallaahi huwallaahu akbar.

 

Leave a comment

Filed under Uncategorized

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s