GAYA HIDUP & KEKAYAAN PARA TOKOH

Belakangan ini kita banyak melihat dan membaca pemberitaan tentang  gaya hidup serta kekayaan para tokoh, pejabat tinggi dan politisi, khususnya yang terlibat kasus-kasus korupsi. Bagi masyarakat kebanyakan, semuanya wah dan luar biasa. Rumahnya lebih dari satu, masing-masing berharga milyaran bahkan belasan milyar rupiah. Mobilnya yang juga lebih dari satu, pun berharga ratusan juta sampai satu milyar rupiah lebih.

Jangan ditanya bagaimana semua itu bisa mereka beli dari gajinya yang tidak sebanding. Karena pasti ada seribu satu kilah jawaban. Tentu saja gaya hidup dan kemewahan itu menimbulkan berbagai komentar negatif masyarakat yang “dipaksa” membayar pajak guna membiayai pemerintahan dan gaji mereka.

Menanggapi hal itu, seorang politisi, kebetulan muslim, dengan enteng menjawab bahwa soal mewah itu relatif.

Relatif? Sulit banget mengukurnya. Meskipun demikian, kita bisa menelaah nasihat Al Ghazali, dan secara lebih khusus lagi meneladani gaya hidup serta kekayaan junjungan Nabi Besar Muhammad Saw dan para sahabatnya. Karena siapa lagi yang harus kita ikuti jika bukan Al Qur’an serta sunah dan hadis beliau?

Sebagaimana sudah kita ketahui bersama, sorang muslim wajib taat kepada Gusti Allah SWT dan Rasulullah. Sedangkan ketaatan itu menurut Al Ghazali, tersimpan dalam gudang-gudang Allah yang lubang kuncinya adalah doa dan anak kuncinya adalah barang yang halal.

Tulisan ini tak hendak membahas  halal dan haram. Katakan saja, gaya hidup serta kekayaan kita semuanya halal, baik dari segi zat maupun cara memperolehnya. Namun pada hemat Al Ghazali, itu saja tidak cukup untuk membentuk anak kunci ketaatan. Sebab barang halal yang berlebihan, akan berubah menjadi “haram” dan dilarang. Contoh sederhana adalah makanan dan minuman. Sate kambing dan kue tart misalkan, adalah makanan yang enak sekali. Tapi bisakah dibayangkan apa akibatnya apabila hampir setiap hari kita menyantapnya puluhan tusuk dan satu loyang? Berbagai penyakit berbahaya niscaya akan segera menyerang.

Al Ghazali mengingatkan kita semua, gaya hidup dan kekayaan yang berlebihan, akan membuat hati menjadi keras serta memadamkan cahayanya. Bahkan yang sangat mengkhawatirkan, akan menuntun kepada perbuatan iseng yang pada akhirnya menjerumuskan ke kesusahan. Akan hal ini telah banyak contohnya. Sepasang suami-isteri yang semula hidup harmonis dalam kesederhanaan, rumahtangganya menjadi berantakan justru tatkala kaya raya.

Tentang gaya hidup dan kemewahan, bagi para profesional cerdik cendekiawan, maka ukurannya bukan sekedar relatif, tetapi fungsional. Sesuai fungsinya. Mobil untuk bekerja sehari-hari misalnya, jika sudah memadai dengan harga dua ratus sampai empat ratus juta rupiah, apalagi kalau ada yang lebih murah dengan kualifikasi yang sama memadainya, mengapa harus yang mewah seharga milyaran rupiah? Contoh lain adalah jam tangan sebagai penunjuk waktu. Jika dengan harga ratusan ribu saja sudah bisa dipercaya dan berfungsi dengan baik, mengapa harus yang seharga ratusan juta rupiah?

Bagaimana dengan gaya hidup dan kekayaan Kanjeng Nabi Muhammad yang diikuti para sahabatnya, sebagai teladan bagi muslim. Banyak kisah tentang itu, namun saya hendak mengambil beberapa contoh yang sudah lazim diketahui, untuk sekedar mengingatkan.

Alas tidur Rasulullah hanyalah selembar tikar anyaman dari pelepah kurma yang kasar dan keras, padahal kalau mau beliau bisa saja memiliki yang empuk lagi lembut. Pakaian layak pakainya hanya dua dan makan sehari-harinya adalah roti yang keras yang terbut dari tepung kasar, yang diolesi minyak.

Kaget memergoki Khalifah Umar makan roti keras lagi kasar yang susah ditelah sebagaimana kebiasaan Baginda Rasul, Utbah sahabatnya bertanya, “Mengapa engkau tidak memakan roti yang halus wahai Amirulmukminin?” Jawab Umar, “Apakah rakyatku sudah memakan roti yang halus? Nanti sajalah jika seluruh rakyatku sudah memakan roti seperti itu”.

Seperti Rasulullah pula, pakaian Umar hanya dua, bahkan salah satunya dengan duabelas tambalan. Hinakah mereka?

Khalifah Umar dan demikian juga Khalifah Abubakar pendahulunya, pernah marah besar serta mengancam akan memberikan hukuman keras kepada sahabatnya jika ada yang mengusulkan kenaikan gajinya selaku khalifah, yang nyaris tidak mencukupi untuk makan keluarganya.

Saudaraku, saya tak hendak menyeru kita semua persis secara spartan, apa adanya, mengikuti cara hidup Kanjeng Nabi dan para sahabatnya. Karena jujur saja, saya pun belum sanggup. Namun ijinkanlah saya tepat di hari Isra Mi’raj ini, mengajak untuk saling mengingatkan agar berusaha keras, setahap demi setahap, menangkap api semangat serta meneladani kesederhanaan Kanjeng Nabi yang hidup senasib sepenanggungan dengan rakyatnya. Kalaulah keteladanan tersebut kita ibaratkan sebuah tujuan, maka api semangat yang harus terus kita jaga dan kobarkan adalah upaya keras kita untuk sampai ke tujuan tadi, meski hanya bagaikan melangkah setapak demi setapak, bahkan walau hanya dengan beringsut sehasta demi sehasta. Yang penting janganlah diam tanpa berusaha bergerak. Teruslah senantiasa ingat pada tujuan, dan teruslah berusaha menggapainya.

Saudaraku, janganlah sampai kita “dilalaikan dari mengingat Allah lantaran bermegah-megahan, hingga kita masuk ke dalam kubur” (At Takaatsur). Naudzubillah.

Depok, 27 Rajab 1434H  (6 Juni 2013)

B.WIWOHO (Tasawuf Jawa: islamjawa.wordpress.com)

 

 

Leave a comment

Filed under Uncategorized

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s