Calon Penghuni Surga

Sahabatku, anda tentu masih ingat sebuah kisah yang berasal dari sebuah hadis yang sangat populer, yang banyak dikutip sebagai bahan ceramah dan khotbah Jum’at. Hadis tersebut menceritakan, pada suatu waktu Kanjeng Nabi Muhammad sedang berada di masjid bersama sahabat-sahabatnya. Tiba-tiba beliau mengatakan, sebentar lagi akan datang seorang calon penghuni surga. Tak lama berselang datang seorang pria yang berpenampilan sangat sederhana, yang tidak dikenal oleh para sahabat.  ”Itulah orang yang menjadi calon penghuni surga” seru Rasulullah menunjuk laki-laki yang mukanya masih basah dengan air wudhu, yang memasuki masjid dan langsung mengerjakan salat tahiyatul masjid.

 

Penasaran terhadap jawaban Rasulullah, Abdullah bin Amr bin Ash mengikuti diam-diam orang itu. Setelah tahu siapa dia dan tempat tinggalnya, suatu hari Abdullah singgah ke rumah pria bernama Abu Umamah Ibnu Jarrah tersebut, dengan pura-pura menyamar sebagai seseorang yang memerlukan bantuan penginapan. Jadilah Abdullah menginap selama tiga hari untuk mengamati sejauh mana perilaku dan ibadahnya  sehingga Rasulullah menyebutnya sebagai calon penghuni surga. Ternyata perilaku dan ibadah orang tersebut biasa-biasa saja, bahkan tidak melakukan ibadah-ibadah sunah seperti puasa dan salat malam, kecuali bertakbir dan  berzikir setiap kali terbangun dari tidur.

 

Pada saat berpamitan Abdullah membuka diri dan tujuannya menginap serta bertanya mengenai ibadahnya. Tentu saja tuan rumah kebingungan dan tak bisa segera menjawab. Namun, begitu Abdullah beranjak pulang, si orang dusun memanggil dan mengatakan ”Aku adalah sebagaimana yang engkau lihat. Hanya saja aku selalu berusaha untuk tidak pernah iri hati dan dengki terhadap nikmat yang diberikan Allah kepada orang lain. Setiap malam sebelum tidur aku selalu membersihkan hatiku dari ujub, takabur, kedengkian dan rasa dendam. Aku juga tidak pernah berbuat curang kepada seseorang baik muslimin maupun selainnya”.

 

Abdullah terpana takjub mendengar keterangan itu, sebab menunjukkan kebersihan hati yang bersangkutan, yang mudah diucapkan tapi sangat sulit dilaksanakan. Bahkan banyak dari kaum muslimin yang tak peduli dengan hal tersebut. Ternyata  ibadah lahiriah saja tak cukup bisa mengantarkan manusia masuk surga, tetapi juga diperlukan amal saleh dan ibadah batin khususnya akhlak yang mulia.

 

Sahabatku, akhlak mulia Abu Umamah Ibnu Jarrah itu mengandung dua makna penting yang menurut Al Ghazali merupakan kunci kebahagiaan hidup di dunia, yaitu ridho dan syukur. Juga mensyiratkan kebersihan hati yang merupakan inti ibadah batin. Tasawuf membagi ibadah dalam 2 (dua) jenis, yaitu ibadah lahir dan ibadah batin. Rukun Islam yang lima adalah bentuk-bentuk dari ibadah lahir. Sedangkan bentuk-bentuk ibadah batin ialah ikhlas, tidak ujub, tidak riya, tawadhu, tidak punya rasa iri-dengki, tawakal, sabar, tahan uji dan tahan menderita dalam mengerjakan taat kepada Gusti Allah. Dari Abu Hurairah Rasulullah bersabda, “Janganlah kalian saling iri dan dengki.” (HR Muslim).


Sesungguhnyalah, agama Islam bertugas membersihkan hati. Oleh karena itu orang yang tidak bersih hati dan tidak saleh, apa artinya beragama Islam? Hanya sekedar disunat dan membaca syahadat? Salat, puasa, zakat dan hajinya pun disertai dengan ujub dan riya. Ingin dikagumi, ingin dihargai orang lain. Apa artinya? Tidak ada artinya sama sekali. Islam harus dibuktikan dengan melakukan kedua jenis ibadah tadi. Di samping ibadah lahir, juga harus melakukan amal-amal batin serta menjauhi larangan batin.

 

Ada suatu cara untuk melatih ibadah batin, terutama membunuh perasaan iri-dengki dan menerima dengan sabar serta tawakal cobaan Gusti Allah. Jika ada kenalan atau saudara yang memperoleh rejeki, derajat dan kebahagiaan, bersyukurlah. Karena minimal yang bersangkutan insya Allah tidak akan merepoti dan mengganggu kita lagi. Syukur-syukur mungkin saja dia menghadiahkan sesuatu kepada kita.

 

Sementara itu bila kita memperoleh cobaan atau penderitaan, kita harus ridho. Tidak usah diceritakan dan diadukan kepada orang lain. Sebab orang tersebut belum tentu bisa dan mau menolong kita. Malah boleh jadi di belakang kita justru mencibir, ”rasain lu”.

 

Yang lebih buruk lagi, menceritakan penderitaan atau cobaan Allah Yang Maha Adil kepada orang lain, apalagi kepada khalayak umum melalui pesan telpon, fesbuk, twitter atau status di profil telpon genggam dan sejenisnya yang jangkauannya sangat luas, adalah ibarat tidak terima, tidak ridho Gusti Allah menguji kita. Bagaikan protes, tidak rela Gusti Allah memberikan cobaan kepada kita. Dalam tataran ketaatan, meskipun tanpa kita sadari, ini sungguh keterlaluan. Naudzubillah.

 

Marilah kita hayati doa Nabi Ibrahim sebagaimana dalam Surat Asy Syuaraa ayat 87 – 89 yaitu: “Dan janganlah Engkau menghinakanku pada hari kebangkitan, yaitu pada hari yang tidak berguna harta dan anak-anak, kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih”.  

 

Semoga  latihan sederhana ini bisa menolong kita menegakkan ibadah batin, sehingga kita bisa menghadap Gusti Allah Yang Maha Agung dengan hati yang bersih.

 

Aamiin.

 

Leave a comment

Filed under Uncategorized

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s