Mendayagunakan Potensi Diri, Dengan Mengenali 3 Komponen Dasar Manusia.

Prof.K.H.Ali Yafie, keluarga kami suka memanggil Puang Kyai sebagai padanan dari bahasa Jawa Mbah atau Eyang Kyai, mengibaratkan tasawuf dengan dua fasilitas kehidupan modern. Yang pertama ibarat salon kecantikan, dan yang kedua ibarat rumah sakit. Keduanya memiliki tugas yang hampir sama dan saling berkaitan, yaitu mengobati, merawat serta mempercantik kalbu atau hati nurani. Kalbu yang sudah berhasil dirawat di rumah sakit dan atau di salon tersebut disebut akhlaq karimah atau moral yang luhur.

Agar kita bisa mengelola diri, merawat kalbu serta menata batin secara baik, maka kita perlu mengenali tiga komponen dasar kehidupan yaitu nafsu, akal dan kalbu. Nafsu kata Prof Kyai Ali Yafie, ada kalanya disebut syahwat, adalah satu komponen dalam diri manusia yang merupakan sumber penggerak. Seluruh dinamika dari hidup manusia digerakkan oleh kesadaran dan potensi nafsu. Dalam bahasa sehari-hari yang paling sederhana, kita sering berbicara mengenai nafsu makan, nafsu bicara dan lain-lain.

Nafsu sering pula disebut hawa nafsu. Menurut Buya Hamka, hawa itu ialah angin atau gelora. Dia ada pada tiap-tiap manusia. Hawa nafsu ataupun syahwat harus dikendalikan. Sebab jika tidak ia akan bergelora menerjang apa saja, akan berkobar membakar segala yang dijumpainya. Syahwat yang berkobar tanpa kendali, kata Al Ghazali akan menimbulkan keonaran dan kefasiqan, yaitu perbuatan yang melanggar perintah Tuhan. Namun sebaliknya syahwat yang kurang teguh akan melemahkan hati dan menjadikan kita pemalas. Oleh sebab itu syahwat harus terkendali, berada di tengah-tengah supaya timbul ‘iffah, artinya dapat memerintah diri sendiri, dan qanaah, yakni merasa cukup dengan apa yang diperoleh tapi tidak berhenti berusaha.

Orang yang bisa mengendalikan syahwatnya menurut Al Ghazali akan memperoleh kebahagiaan, karena kebahagian itu berada pada kemenangan dalam memerangi hawa nafsu dan menahan kehendaknya yang berlebih-lebihan. Jenis peperangan inilah yang di dalam ajaran Islam sering disebut peperangan besar, lebih besar dari menaklukkan negeri, sebagaimana sabda Kanjeng Nabi Muhammad setelah kembali dari Perang Badar, yang dianggap oleh para sahabatnya kemenangan dari segala kemenangan. Menurut beliau, kembali dari Perang Badar itu ialah kembali dari perang yang sekecil-kecilnya. “Kita ini kembali dari peperangan yang paling kecil, menuju peperangan yang lebih besar, yaitu peperangan melawan hawa nafsu”. Dalam kesempatan lain, orang bertanya kepada Rasulullah, perang apa yang paling utama. Beliau menjawab, “Engkau perangi hawa nafsumu.” Abu Daud juga meriwayatkan sabda beliau, “Bukanlah orang yang gagah berani itu lantaran dia cepat melompati musuhnya di dalam pertempuran, tetapi orang yang berani ialah yang bisa menahan dirinya dari kemarahan.”

Tentang akal, syahdan komponen inilah yang memberikan daya pikir dan daya nalar sekaligus pengendali. Kita bisa berpikir dan menganalisa karena memiliki akal, dalam arti akal yang selalu disambung dengan pikiran. Akal, demikian nasihat Kyai Ali Yafie, mempunyai bentuk materi yang disebut otak, sedangkan aktivitas dan pemberdayaan otak dinamakan pemikiran dan penalaran. Sebab itu jika ada orang bodoh yang pemikiran dan penalarannya tidak berjalan, sering disebut tidak berotak dan tidak berakal.

Aktivitas pemikiran otak tadi dalam buku saya tentang Mutiara Kehidupan, saya sebut sebagai Pikiran Sadar. Otak dengan Pikiran Sadar merupakan motor dari tubuh kita. Di samping Pikiran Sadar, kita juga memiliki Pikiran Bawah Sadar yang mengendalikan seluruh urat syaraf melalui urat syaraf tulang belakang dan sistem susunan syaraf otak.

Jika pikiran sadar dapat diidentikkan dengan otak, maka Pikiran Bawah Sadar menurut paham Kejawen merupakan kinerja dari budi, jinem atau angan-angan, sukma dan rahsa atau intisari roh. Oleh karena itu Pikiran Bawah Sadar memiliki kemampuan dan kekuatan luar biasa. Pikiran Bawah Sadar memberikan bisikan-bisikan kepada kalbu yang selama ini kita kenal sebagai suara hati nurani.

Jika nafsu kehidupan manusia diibaratkan mobil, maka nafsu itu adalah bahan bakar atau bensinnya, sedangkan akal adalah stir atau pengendalinya. Sesuai namanya, fungsi kendali itu penting untuk mengatur agar mobil berjalan baik tidak menabrak kiri-kanan, sehingga membahayakan baik diri sendiri maupun orang lain. Demikianlah, orang yang tidak mendayagunakan akalnya, maka ia akan banyak membuat masalah dengan orang lain. Di sinilah tasawuf mengajarkan manusia mendayagunakan akal, berfikir, merenung, melakukan pengamatan, penelitian, analisis, kajian serta mengembangkan pemikiran-pemikiran lewat ilmu pengetahuan.

Akan halnya komponen ketiga, yaitu kalbu atau hati nurani, adalah perasaan halus yang ada di dalam diri manusia yang paling dalam, di dalam lubuk hatinya. Hati nurani merupakan komponen yang sangat penting karena di situlah tempat terpantulnya sinar-sinar hidayah Allah. Ia merupakan komponen yang sangat erat hubungannya dengan agama. Namun sayangnya tidak semua orang memiliki kalbu yang berfungsi, atau dalam bahasa yang lebih halus, tidak semua orang mampu mendengarkan suara hati nuraninya sendiri. Padahal apabila hati nurani berfungsi, maka akan memberikan kekuatan besar kepada akal pikiran.

Marilah coba kita perhatikan kehidupan sehari-hari kita, bagaimana peranan ketiga komponen dasar kehidupan tersebut. Menurut Prof. Ali Yafie, yang paling dominan adalah nafsu. Boleh dikatakan, paling sedikit dari aktivitas kita sehari-hari itu 80% digerakkan oleh nafsu, baru kemudian akal pikiran. Tetapi sepintar apapun orang, dia tidak mungkin bisa berpikir 24 jam sehari tanpa henti. Karena itu sepandai-pandai dan secerdas orang, ia hanya akan menggunakan pikirannya paling tinggi 20% dari seluruh kegiatan hariannya. Apalagi orang yang tidak berilmu, mungkin sepanjang hari otaknya tidak digunakan, hanya sekedar ikut-ikutan orang lain.

Diluar itu yang paling sedikit berfungsi adalah hati nurani, yakni perasaan halus dan kesadaran yang paling tinggi dalam diri manusia yang dapat mengetahui akal pikirannya.

Sahabatku, marilah kita kenali dengan baik ketiga komponen dasar tersebut, agar kita bisa mengelola secara tepat, berdayaguna dan seimbang. Mengendalikan nafsu agar tidak liar dan binal. Mendayagunakan akal agar bisa memiliki nalar serta pemikiran yang baik. Mengasah dan mempertajam batin kita agar bisa mendengarkan dan menangkap bisikan lembut hati nurani.

Subhaanallaah, walhamdulillaah.

 

2 Comments

Filed under Uncategorized

2 responses to “Mendayagunakan Potensi Diri, Dengan Mengenali 3 Komponen Dasar Manusia.

  1. waskito

    Bagaimana kita melatih nurani kita bisa bekerja lebih

  2. islamjawa

    Mas Waskito, dengan sering melakukan tafakur, muhasabah dan sabar. Salam takzim.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s