Pemimpin Ideal Versi Sunan Kalijaga

Dakwah dengan media kesenian termasuk tembang atau nyanyian dipelopori oleh Wali Sembilan di Abad XV. Melalui aneka seni pertunjukan antara lain wayang, para wali mengajarkan kepada masyarakat Jawa yang memeluk Hindu – Budha, sebuah pemahaman baru mengenai Gusti Allah dan Kanjeng Nabi Muhammad. Mengajarkan mengenai derajat kedudukan manusia di mata Tuhan, yang tidak dibeda-bedakan oleh kasta dan pesona dunia, tetapi oleh sikap, perilaku, ketaatan dan ibadahnya kepada Tuhan.

Salah seorang wali yaitu Sunan Kalijaga (abad ke 15 dan 16), dengan 45 bait tembang yang diberi nama Kidung Kawedar, mengajarkan kekuatan, hikmah dan fadilah ketauhidan, ayat Kursi, surat Al-Ikhlash, Al-Falaq dan An-Naas. Para wali tidak langsung menyuruh orang untuk salat, tapi secara bertahap mendongeng, mengajarkan sejarah Islam, Kanjeng Nabi Muhammad, para sahabat dan keluarganya, baru kemudian syahadat, salat dan rukun iman serta rukun Islam lainnya.

Kedahsyatan dari tauhid dengan dua kalimat syahadatnya dijabarkan dalam cerita wayang Perang Bharatayudha. Perang antara Ksatria Pandawa yang berjuang menegakkan kebenaran melawan kebatilan dan keangkaramurkaan keluarga Kurawa, akhirnya dapat dimenangkan oleh Pandawa setelah Prabu Puntadewa dengan Pusaka Kalimasada atau Kalimat Syahadat mengalahkan Panglima Perang Kurawa yaitu Prabu Salya yang sakti mandraguna karena memiliki ajian Candrabirawa, yang berupa kekuatan dahsyat jin setan peri perayangan.

Adapun Prabu Puntadewa, digambarkan sebagai seorang raja yang tidak mau mengenakan mahkota, bahkan pakaian kebesaran raja lainnya. Rambutnya digelung sederhana. Mukanya senantiasa menunduk. Perilakunya lemah lembut bagaikan orang yang tiada daya, sehingga dianggap tidak mampu berperang, tidak bisa berkelahi. Ia tidak pernah marah, hatinya suci bersih sehingga digambarkan darahnya tidak berwarna merah melainkan putih. Hati dan perilakunya  lurus, jujur, tulus dan tidak penuh tipu muslihat, bahkan ia juga tidak bisa serta  tidak pernah berbohong.

Namun tatkala pasukannya terdesak dan tiada satu pun perwira perangnya yang mampu menandingi Panglima Perang musuh, Puntadewa yang tidak kokoh kekar seperti Bima sang Panglima Angkatan Bersenjata Pandawa, juga tidak gesit seperti Arjuna yang selama ini dikenal sebagai tokoh Pasukan Khusus Pandawa yang senantiasa berhasil mengatasi segala macam ancaman,  turun dari kereta perang berjalan kaki maju ke medan laga, menyerbu lawan dengan menenteng busur panah serta keyakinan mutlak terhadap kekuatan syahadat, bersandar dan mengandalkan sepenuhnya pada pertolonagn Gusti Allah Yang Maha Gagah Perkasa lagi Maha Kuasa. Akibatnya, para jin setan peri perayangan, meledak hancur berkeping-keping dan sertamerta  lenyap . Sementara anak panahnya melesat bagaikan kilat menembus jantung Prabu Salya, lawan tandingnya, tewas seketika.

Puntadewa adalah ciri seorang pemimpin satria pinandita, seorang satria atau umara yang berjiwa pendeta atau ulama. Ia rendah hati, tawadu, ikhlas, tidak riya dan tidak ujub. Tidak sombong, tidak suka pamer dan tidak suka dipuji. Hidup dan tampil amat sederhana, bagaikan rakyat jelata, sangat jujur dan adil serta mengabdi untuk kesejahteraan rakyat. Pemimpin yang seperti itulah yang oleh Sunan Kalijaga, digambarkan sebagai pemimpin yang selalu diridhoi, diberkahi dan dirahmati Gusti Allah. Pemimpin yang menghayati hakikat tasawuf, yang tidak berambisi apalagi tamak pada pesona dunia, khususnya kekuasan dan harta benda. Pemimpin yang seperti inilah yang dapat melindungi, menyejahterakan dan memakmurkan rakyatnya. Pemimpin yang bisa membuat negeri dan rakyatnya disegani serta dihormati oleh para raja dan rakyat negeri-negeri tetangga.

Semoga kita senantiasa dianugerahi Pemimpin-Pemimpin yang seperti itu, dan dijauhkan dari Pemimpin-Pemimpin yang memiliki sifat, tabiat serta perilaku sebaliknya.Aamiin.

( Catatan: Artikel ini seyogyanya merupakan seri ke 28 dari tulisan “Orang Jawa Belajar Mengenal Gusti Allah”, tapi kami sajikan lebih dulu sesuai dengan situasi tatkala kita sedang ramai menghadapi Pemilu, tanpa bermaksud sama sekali mendukung salah satu Calon Presiden. Matur nuwun).

 

2 Comments

Filed under Uncategorized

2 responses to “Pemimpin Ideal Versi Sunan Kalijaga

  1. Pingback: TANDA-TANDA PEMIMPIN YANG MEMPEROLEH WAHYU: Seri Etika & Moral Kepemimpinan (14). Kata “wahyu” memiliki makna yang beragam. Yang paling komprehensif dan sempurna dari seluruh makna tersebut adalah perpindahan pengetahuan kepada pikiran orang yang

  2. Pingback: TANDA-TANDA PEMIMPIN YANG MEMPEROLEH WAHYU: Seri Etika & Moral Kepemimpinan (14). Kata “wahyu” memiliki makna yang beragam. Yang paling komprehensif dan sempurna dari seluruh makna tersebut adalah perpindahan pengetahuan kepada pikiran orang yang

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s