Tasawuf: Melatih Niat Baik

Sahabatku, kita sering mendengar orang mengibaratkan kehidupan keluarga sebagai bahtera rumahtangga. Hidup memang bagaikan mengarungi lautan lepas. Kadang kala penuh gelombang yang bergulung-gulung menggebu-gebu, kadang tenang bagaikan tiada beriak. Ada duka ada bahagia. Ada panas ada dingin. Ada lapar ada kenyang. Ada baik ada buruk. Pengaruh malaikat dan godaan setan silih berganti. Karena malaikat dan setan itu seperti dua sisi dari satu keping uang logam. Dan siapa yang mampu melawan godaan setan yang telah memperoleh hak, mandat dan kuasa dari Gusti Allah untuk menggoda manusia? Kecuali jika kita pun selalu memohon mandat dan kuasa dari Gusti Allah untuk melawan dan mengalahkannya. Mandat harus dilawan dengan mandat.

Oleh sebab itu disamping harus sering memanjatkan doa untuk mengalahkan godaan setan, kita pun perlu mengisi kehidupan dengan perbuatan baik, dengan amal saleh, yang dimulai dengan memasang niat baik secara berulang-ulang setiap hari sehingga menyatu dengan jiwa kita.

Di pagi hari, begitu terbangun dari tidur, duduklah diam sejenak di tempat tidur. Bertafakur, ber¬meditasi. Berfikir dan berniatlah untuk berbuat baik bagi sesamanya. Rencanakan dan susunlah langkah kita hari ini. Mohonlah mandat dan kuasa dari Allah agar dapat me¬wujudkan¬nya. Selanjutnya mulailah dengan mengucapkan bismillaahirrahmaannirrahiim, dengan sepenuh pemahaman dan penghayatan akan maknanya, bukan sekedar lantunan bibir, disertai prasangka baik dan keyakinan penuh akan diridhoi, dirahmati dan diberkahi Allah Swt. Teguh dan kokohkan niat, menjadi tekad dan semangat mewujudkan rahmatan lil alamien, sebagai bekal ibadah dan amal saleh kita.

Di siang hari, tetaplah berusaha untuk berbuat baik dengan cara yang halal dan thoyib, tanpa risau tentang bagaimana hasilnya. Sebab soal hasil bukanlah urusan kita, tetapi itu urusan atau hak Gusti Allah sepenuhnya. Mantabkan kembali niat, tekad sekaligus semangat ibadah muamalah di pagi hari tadi, dalam doa dan tafakur sesudah salat zuhur dan ashar.

Di malam hari, menjelang tidur kembali bertafakur sejenak, bermuhasabah, membuat kalkulasi kehi¬dupan sehari. Apa yang sudah berhasil kita perbuat, dan apa yang belum atau yang masih terhutang. Bersyukur jika bisa berbuat baik, dan mohonlah ampun kepada Allah jika justru berbuat sebaliknya. Berjanjilah untuk mem¬perbaiki diri. Jangan bosan selalu memohon mandat dan kuasa dari Allah Yang Maha Kuasa untuk dapat melakukan kebaikan. Mohonlah pertolongan dari-Nya agar besok dapat berbuat lebih baik lagi.

Tentang niat, bersumber dari Abu Hurairah, Bukhari dan Muslim meriwayatkan sabda Kanjeng Nabi, Allah Azza Wajalla berfirman, “Apabila hamba-Ku berniat akan melakukan perbuatan baik dan tidak melaksanakannya, maka Aku mencatatnya sebagai satu kebaikan baginya. Jika dia melaksanakan maka Aku mencatatnya sebagai sepuluh kebaikan sampai tujuh ratus kali lipat. Dan apabila hamba-Ku berniat akan melakukan perbuatan jelek dan tidak jadi mengerjakannya, maka Aku tidak mencatatnya. Jika dia mengerjakannya, maka Aku mencatatnya sebagai satu kejelekan”. Menurut kedua perawi hadis ini Rasulullah juga bersabda, “Sesungguhnya amal perbuatan itu dinilai hanya dengan niatnya”.

Begitulah Sahabatku, marilah senantiasa kita jaga dan perbaiki niat kita, sehingga melandasi seluruh gerak dan perilaku kita, serta menjadikannya sebagai bekal ibadah dan amal saleh. Insya Allah kita tergolong sebagai manusia yang memperoleh karunia nur dari Allah Yang Maha Agung, yaitu orang yang selalu lapang dan lega hatinya, yang jauh dari negeri kepalsuan.

Aamiin.

 

Leave a comment

Filed under Uncategorized

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s