Belajar Mengenal Diri Demi Bisa Mengenal Allah

Kita sering mendengar hadis yang berbunyi, “man ‘arafa nafsahu faqad ‘arafa rabbahu” yang berarti, barang siapa mengenal dirinya, maka ia akan mengenal Tuhannya. Berapa kali kita pernah mendengar atau membacanya? Saya sendiri rasanya sudah tak terhitung. Namun demikian ternyata tidak mudah bagi saya untuk memahami, apalagi menghayati. Berbagai teori dan cara telah saya coba. Kidung, Suluk, Serat dan entah apa lagi. Metode gotak-gatik-gatuk juga sudah. Setiap penjelasan, setiap bacaan bagaikan barisan titik-titik. Memang makin lama makin rapat, tetapi belum menyambung menjadi satu garis. Barulah setelah membaca Minhajul Abidin-nya Al-Ghazali serta Al-Hikam-nya Syekh Athaillah Askandary, itu pun juga harus berulang kali, alhamdulillah, titik-titik tersebut mulai menyambung, Allaahumma aamiin menjadi sebuah garis.

Untuk menjalani tasawuf dengan makrifatnya, menurut Al-Ghazali kita harus mengenal di samping kedua hal tadi, juga dua hal lain lagi yang merupakan kelengkapan dari kedua hal utama tersebut, yaitu mengenal dunia dan mengenal akhirat. Pengenalan atas perihal dunia dan perihal akhirat, memudahkan kita melatih mengenal diri kita dan Tuhan.

Hakikat mengenal diri adalah bagaimana bisa selalu merasa bahwa kita ini hanyalah seorang hamba yang rendah, yang tak memiliki apa-apa, yang tak berdaya, yang senantiasa membutuhkan apa saja dari Gusti Allah Yang Maha Kuasa. Mata, mulut, pendengaran, nafas, denyut jantung, harta benda suami-istri, anak-anak, teman serta apa saja termasuk ilmu dan kepandaian yang selama ini kita akui, kita klaim sebagai milik kita, sesungguhnya adalah milik Allah yang dititipkan, diamanahkan kepada kita untuk sementara waktu saja, yang sewaktu-waktu, setiap saat, dapat dan akan diminta kembali sekaligus pertanggungjawaban selama kita pergunakan.

Hakikat mengenal Tuhan adalah bagaimana kita senantiasa menyadari dan tahu benar, yakin seyakin-yakinnya, bahwa hanya Gusti Allah Yang Maha Agung dan Maha Berkuasa yang berhak dipertuhan, yang berhak disembah serta dimintai pertolongan. Pemilik sesungguhnya atas apa saja yang selama ini kita klaim sebagai milik kita. Coba kita renungkan yang sederhana saja, bagaimana jadinya seseorang yang semula pandai, ingatannya tajam luar biasa, tampan, kuat gagah perkasa, tiba-tiba secara mendadak Allah mengambil kembali semua itu, saraf-saraf otaknya disumbat dan stroke, seketika lunglai tak berdaya, jatuh terpuruk di lantai, mulutnya miring, badannya lumpuh, ingatannya lenyap seketika. Naudzubillah.

Dalam mempelajari serta menghayati hakikat mengenal Tuhan, marilah sering kita jadikan sebagai zikir empat buah ayat, yakni :

1. Al-Fatihah ayat 5
2. Ayat Kursi (Al-Baqarah : 255)
3. Al-Insyiraah ayat terakhir (8)
4. Al Ikhlash ayat 2

Keempatnya sengaja tidak saya kutip, agar masing-masing dari kita mengingat sendiri sambil bertafakur menghayatinya, insya Allah kita semakin mengenalnya.

Sahabatku, hakikat mengenal dunia, adalah memahami dan menghayatinya sebagai stasiun persinggahan dalam pengembaraan menuju stasiun tujuan di Kerajaan Akhirat. Oleh karena hanya sebagai stasiun persinggahan, maka kita tak boleh terpikat habis-habisan olehnya. Agar kita tak terlena oleh daya pesona dunia yang luar biasa, sebaliknya justru harus menaklukkannya sebagai bekal membangun istana abadi kita di Kerajaan Akhirat, Gusti Allah Yang Maha Kuasa telah membekali kita dengan sebuah mandat untuk menjadi khalifah fil ard. Menjadi pengemban amanah Allah di muka bumi, guna menegakkan rahmat bagi alam semesta dan segenap isinya, dengan senantiasa taat kepada Gusti Allah dan Rasulullah dalam ber-amar ma’ruf nahi munkar. Ini berarti pesona dunia itu harus kita jadikan rahmat yang harus dinikmati oleh sesamanya, bukan hanya oleh diri sendiri dan keluarga kita, dengan cara yang baik dan menghindari kemungkaran.

Akan halnya dunia, sang ahli hikmah Lukman mengajarkan, “Sesungguhnya dunia itu seperti lautan yang dalam, banyak manusia yang karam tenggelam di dalamnya. Karena itu jadikanlah taqwa sebagai bahteramu, muatannya iman dan layarnya tawakal kepada Allah. Insya Allah engkau selamat.”

Kecintaan terhadap pesona dunia khususnya harta dan kekuasaan, bisa menyebabkan orang mengabaikan ketaatan kepada Allah. Pesona dunia mampu membius manusia yang menganggapnya sebagai berhala-berhala yang patut ditaati. Sehingga tidak berlebihan apabila Buya Hamka menyebut bagaikan “agama sendiri, di luar agama Islam dan Kristen, di luar agama Brahmana dan Budha, yaitu agama yang diwahyukan oleh harta itu sendiri, mana yang halal kata harta, walaupun haram kata agama, diikut orang juga wahyu harta, larangan harta itu juga yang dihentikan orang.”

Lantaran harta menurut Buya, terbitlah aturan masyarakat, puji dan sanjung bisa dibeli dengan harta. Orang menghormati orang kaya lantaran hartanya, meskipun dia seorang pencuri halus, laksana tikus mencuri daging tumit orang yang tidur nyenyak tengah malam.

Orang yang karam dalam lautan pesona dunia, hatinya terhunjam terbenam dalam pusaran ketidakpastian kehidupan, dan hidup bagai menghasta kain sarung, berputar di sana ke sana juga. Padahal bukan harta sedikit yang menyebabkan susah, dan bukan harta yang banyak pula yang menyebabkan gembira. Pokok gembira dan susah payah adalah jiwa yang gelisah atau jiwa yang tenang dan damai.

Perihal mengenal akhirat, saya senang mengibaratkan sebagai stasiun atau kota tujuan terakhir dari suatu pengembaraan yang panjang, Seorang pengembara yang mempunyai tujuan yang jelas yang diimpi-impikan, yang dirindukan, pada umumnya akan mempersiapkan diri plus bekal yang memadai, berkonsentrasi serta menegakkan disiplin yang tinggi, menjaga diri dan perjalanannya supaya tetap sehat dan selamat tiba di kota tujuan.

Dengan setiap saat membayangkan hidup bahagia di istana Kerajaan Akhirat, kita akan selalu berhati-hati dan waspada selama di perjalanan. Karena sadar sedang mengemban amanah Allah, maka sewaktu singgah di stasiun Dunia, kita pun senantiasa mempersiapkan, melatih diri dan cermat sehingga dapat menunaikan amanah tersebut dengan sebaik-baiknya.

Itu semua akan membangun kekuatan bawah sadar, batin dan jiwa kita untuk menjadi Sang Pemenang. Akan terus mengobarkan kecintaan dan kerinduan pada Sang Kekasih yang setia menunggu Sang Pemenang di Istana Akhirat. Kecintaan dan kerinduan nan membara akan meningkatkan ketaqwaan sehingga sampai ke maqam yang disebut dalam Al Hikam, hilang pandangan makhluk sebab pandangan Allah, serta melihat Allah dalam melihat alam. Kalam hikmah dari yang mulia Imam Ibnu Athaillah Askandary itu menyatakan: “Barang siapa mengenal Al Haq (Allah), niscaya dia melihat-NYA dalam tiap-tiap sesuatu. Barang siapa yang mendalam ingatannya kepada Allah, maka lenyaplah penglihatan dan perasaannya dari tiap-tiap sesuatu (selain Allah). Dan barang siapa yang mencintai Allah niscaya tidak ada sesuatu apa pun yang mempengaruhi kecintaannya.”

Maka jika kita melihat sesuatu, yang nampak adalah Sang Kekasih Yang Maha Pencipta. Jika menghadapi sesuatu keadaan, kita akan teringat pada Sang Kekasih yang adalah Sang Maha Sutradara. Jika mengerjakan sesuatu yang terbayang hanyalah Sang Kekasih Yang Maha Penentu lagi Maha Kuasa.

Alhamdulillaah, alhamdulillaah, alhamdulillaah

 

2 Comments

Filed under Uncategorized

2 responses to “Belajar Mengenal Diri Demi Bisa Mengenal Allah

  1. sableng

    kAta orang jawa “lek awkmu eroh awkmu dwe koe bakal ngerti pengeranmu”

  2. islamjawa

    Kasinggihan mas Sableng. Salam takzim.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s