Tafsir Kidung Kawedar Sunan Kalijaga (6): MANUNGGALING KAWULA – GUSTI.

Bait 15 :
Panunggale kawulo lan Gusti,
nila hening arane duk gesang,
duk mati nila arane,
lan suksma ngumbareku,
ing asmara mong raga yekti,
durung darbe peparab,
duk rarene iku,
awayah bisa dedolan,
aran Sang Hyang Jati iya sang Hartati,
yeka sang arta daya.

Artinya :
Penyatuan sang hamba dengan Gusti Allah,
nila hening namanya tatkala hidup,
ketika mati nila namanya,
dan suksma yang mengembara,
yang senang mengasuh raga,
belum punya nama,
sewaktu masih kecil,
saat masih suka bermain-main,
disebut Sang Hyang Jati atau Sang Hartati,
yakni sang arta daya.

Bait 16 :

Dadya wisa mangkya amartani,
lamun marta atemahan wisa,
marma arta daya rane,
duk lagya aneng gunung,
ngalih aran Asmara Jati,
wayah tumekang tuwa,
emut ibunipun,
ni Panjari lunga ngetan,
ki Hartati nurut gigiring Marapi,
anulya mring Sundara.

Artinya:

Jadilah bisa (racun yang berasal dari binatang) yang dapat bermanfaat bagi kehidupan,
tapi kehidupan yang tenang dapat pula berubah menjadi bisa (racun),
Itulah rahasia yang disebut arta daya,
ketika berada di gunung,
kemudian berganti nama Asmara Jati,
teringat ibunya,
ni Panjari pergi ke timur,
ki Hartati menyusuri punggung Marapi,
kemudian sampai di Sundara.
Bait 17:

Ana pandhita akarya wangsit,
mindha kombang angajap ing tawang,
susuh angin ngendi nggone,
lawan galihing kangkung,
watesane langit jaladri,
isining wuluh wungwang,
lan gigiring punglu,
tapaking kuntul nglayang,
manuk miber uluke ngungkuli langit,
kusuma jrah ing tawang.

Artinya:

Ada pendeta menciptakan ilham,
bagai kumbang menggapai langit,
di manakah sarang angin berada,
serta inti batang kangkung,
batas antara langit dan lautan,
isi dari buluh kosong,
dan punggung bola besi,
jejak burung kuntul melayang,
burung terbang melampaui langit,
bunga mekar memenuhi angkasa.

Bait 18:

Ngampil banyu apikulan warih,
amek geni sarwi adedamar,
kodhok ngemuli elenge,
miwah kang banyu denkum,
myang dahana murub kabesmi,
bumi pinethak ingkang,
pawana katiup,
tanggal pisan kapurnaman,
yen anenun senteg pisan anegesi,
kuda ngrap ing pandengan.

Artinya:

Membawa air dengan pikulan yang terbuat dari air,
mengambil api dengan pelita,
katak menyelimuti liangnya,
dan air direndam air,
membakar api menyala,
bumi yang dikuburkan,
angin ditiup,
bulan tanggal satu memperoleh purnama,
bila menenun sekali gerak selesai,
kuda berderap dalam pandangan.

Bait 15 sampai dengan 18 ini menguraikan tentang manunggaling kawulo – Gusti atau penyatuan sang hamba dengan Tuhannya. Sebagaimana kelaziman penyair-penyair sufi di berbagai negara, penggambaran hubungan antara sang hamba dengan Sang Khalik itu dilakukan dengan menggunakan bahasa-bahasa kiasan serta ungkapan-ungkapan simbolik dan metaforis. Begitu pula dalam Kidung Kawedar yang merupakan suluk yang berupa tembang puisi yang kontemplatif-meditatif ini.

Agar segera bisa menarik perhatian khalayak, Sunan Kalijaga seperti gurunya Sunan Bonang, juga menggunakan kiasan-kiasan yang lazim berlaku pada saat itu, sehingga langsung bisa diterima oleh sebagian besar masyarakat yang masih menganut Syiwa-Buddha, berbagai aliran kepercayaan serta percaya pada roh-roh gaib.

Berbeda dengan bait-bait awal, dalam bait 15 – 18 tidak disisipkan sama sekali istilah dan kata-kata dari bahasa Arab atau pun Islam, sehingga karenanya, bagi penganut berbagai aliran kepercayaan dan Syiwa-Buddha, juga bisa ditafsirkan sesuai metode meditasi mereka. Keempat bait itu selanjutnya dan bahkan sampai sekarang, menjadi pegangan dari banyak aliran kebatinan dan Kejawen.

Bait 15 dan 16 ditafsirkan sebagai keadaan manusia semenjak masih di alam ruh, di dunia tatkala ruh dan raga menyatu maupun setelah kematian. Di alam ruh ia bagai cahaya kebiruan yang jernih, bening, suci tak bernoda. Tatkala mengembara di dunia, nafsunya yang menyenangi pesona dunia, dapat menjadi racun yang menyebar dalam kehidupannya. Bisa atau racun itu dapat bermanfaat bagi kehidupan, sebaliknya kehidupan yang semula tenang juga bisa berubah menjadi racun. Namun sesungguhnya ia memiliki kekuatan tersembunyi yang disebut arta daya atau kebijaksanaan dan kekuatan batin dengan rasa belas kasihnya, yang mampu menjadi daya kekuatan jiwa yang luar biasa, yang sebenarnya selalu berusaha mengingatkan pada asal mula dan jati dirinya.

Bait 17 – 18 adalah bait yang yang menggambarkan kemustahilan sekaligus kekosongan atau suwung. Semuanya dilukiskan dalam kalimat yang dimulai dari, ada pendeta yang ingin menciptakan ilham sehingga diibaratkan kumbang menggapai langit. Dilanjutkan dengan pertanyaan-pertanyaan tentang sarang angin, inti batang (empulur yang mengeras seperti batu) kangkung, letak cakrawala, isi buluh atau batang bambu yang kosong, jejak burung yang sedang terbang serta punggung dari bola besi dan seterusnya, yang pada dasarnya tidak ada, kosong dan mustahil.

Bait 18 masih melanjutkan kemustahilan dan kekosongan yang diuraikan di bait 17, namun sudah mulai memasukkan isyarat-isyarat pencarian manusia terhadap jati diri dan Sang Pencipta. Pencarian itu ibarat mau mengambil air dengan pikulan yang terbuat dari air, mengambil api dengan pelita yang menyala sampai merendam air dalam air, membakar api yang membara, mengubur bumi dan seterusnya. Sesungguhnya apa yang dicari dan diinginkan, sudah ada pada dirinya.

Bagi penganut aliran-aliran kebatinan dan kejawen, keadaan kemustahilan itu adalah tan kena kinaya ngapa, tidak tergambarkan atau tidak dapat disepertikan. Jadi hakikat Tuhan adalah kekosongan yang tak terbayangkan tetapi memiliki energi yang luar biasa, sehingga mampu mengatur kehidupan serta keserasian alam raya.

Energi yang luar biasa itu memancar dan masuk ke dalam mahluk-makhluk hidup. Pada manusia, energi itu adalah cahaya kehidupan atau atman atau ruh atau jiwa. Hubungan sumber asal energi dengan ruh dikiaskan sebagai Brahman dengan atman, atau matahari dengan cahaya-cahayanya yang memancar menerangi serta menghidupi alam raya dan makhluk-makhluknya.

Dalam mencapai tingkatan penyatuan antara atman dengan Brahman, antara cahaya dan sumber cahaya yang kosong tak terbayangkan itu, maka manusia harus terlebih dulu mengosongkan dirinya dari berbagai nafsu dan keinginan yang membebani, yang mewarnai atmannya. Cara membersihkan atman yang bak nila hening dari berbagai kotoran dunia kehidupan tersebut, bisa dilakukan dengan melakukan berbagai semedi, tapa brata dan tirakat , yaitu puasa dengan berpantang aneka makanan dan minuman 24 jam tanpa henti sehari semalam selama suatu periode tertentu, misalkan satu minggu dan empat puluh hari. Dengan semedi dan tirakat diharapkan semua nafsu dan keinginan manusiawi dapat dimatikan sehingga atman menjadi kosong. Kosong akan mudah menyatu, manunggal dengan yang sama kosongnya pula. Dengan pemahaman yang seperti itulah Kidung Kawedar sampai sekarang bisa diterima, bahkan dijadikan sumber referensi utama oleh semua kalangan masyarakat Jawa yang menyenangi olah batin, baik yang Islam maupun bukan.

Sunan Kalijaga adalah murid kesayangan Sunan Bonang. Keduanya merupakan wali-Allah yang menyebarkan agama Islam di pulau Jawa, dengan menggunakan metode komunikasi yang hebat termasuk memanfaatkan seni budaya, menyusup masuk ke dalam adat istiadat dan kepercayaan masyarakat tanpa menimbulkan gejolak besar (Tonggak-tonggak awal Tasawuf Jawa, https://islamjawa.wordpress.com). Bersama para wali lainnya, mereka menciptakan suluk-suluk khas Jawa dalam bentuk tembang-tembang puisi dengan metrum atau irama-irama tertentu seperti halnya Kidung Kawedar dengan metrum dhandanggula ini.

Kata suluk berasal dari bahasa Arab yang secara etimologis berarti cara, jalan, kelakukan dan tingkah laku. Dalam tasawuf, suluk berarti jalan atau cara mendekatkan diri ke Gusti Allah Swt yang pada umumnya ditempuh secara tahap demi tahap, tanjakan demi tanjakan, tapi secara garis besar bisa dikelompokkan menjadi dua tahap.

Tahap pertama adalah tahap penyucian diri antara lain dengan bertobat dan berhenti melakukan dosa serta berbagai perbuatan tercela lebih-lebih yang dilarang Gusti Allah. Tahap kedua yaitu penyerahan diri secara total kepada Allah swt. Jika diibaratkan salon kecantikan, tahap pertama adalah tahap membersihkan wajah sedangkan tahap kedua adalah tahap membuat pondasi yang dilanjutkan dengan merias wajah agar menjadi cantik. Sementara itu bila diibaratkan dunia kesehatan, maka tahap pertama adalah mengenali dan membuang semua penyakit, sedangkan tahap kedua adalah perbaikan dan perawatan menuju manusia yang sehat lahir dan batin.

Tahap pertama disebut juga tahapan takhalli atau pengosongan jiwa dari sifat-sifat tercela. Tahap kedua disebut tahali atau mengisi kembali setelah kosong, dengan sifat-sifat terpuji seperti ikhlas, sabar, jujur, taat, tawakal, tawadlu, ridho dan merasa cukup atau qanaah. Hasil dari kedua tahapan ini adalah tajalli, yaitu manusia baru dengan wajah batin yang nampak indah sempurna, yang dengan itu ia bisa melihat serta merasakan keagungan Gusti Allah (Tasawuf, Salon Kecantikan Jiwa di Era Globalisasi, https://islamjawa.wordpress.com).

Perjalanan seorang salik, yaitu sang penempuh jalan menuju Allah, digambarkan oleh guru Sunan Kalijaga yakni Sunan Bonang dalam Suluk Gentur atau Suluk Bentur, yang juga diperjelas secara saling melengkapi dengan karya-karyanya yang lain seperti Gita Suluk Lastri, Suluk Khalifah, Suluk Jebeng dan terutama Suluk Wujil (Memahami Suluk-Suluk Sunan Bonang, https://islamjawa.wordpress.com).

Dalam Suluk Gentur, Sunan Bonang antara lain membuat tamzil, garam jatuh ke laut dan lenyap, tetapi tidak dapat dikatakan menjadi laut. Pun tidak hilang dalam kekosongan atau suwung. Demikian pula apabila manusia mencapai keadaan fana’, maka tidak lantas tercerap ke dalam Wujud Mutlak. Yang lenyap adalah kesadaran akan keberadaan atau kewujudan jasmaninya.

Pencapaian tertinggi seorang salik, lanjutnya, ialah fana’ ruh idafi, yaitu keadaan dapat melihat peralihan atau pertukaran segala bentuk lahir dan gejala lahir. Di sini ia mencapai makrifat dengan kesadaran intuitif, yang menyempurnakan penglihatannya tentang Allah sebagai Yang Kekal dan Yang Tunggal. Dalam fana’ ruh idafi, seseorang sepenuhnya menyaksikan kebenaran hakiki ayat Al Qur’an 28 : 88, “Segala sesuatu binasa kecuali Wajah Allah.”

Mengapa Sunan Kalijaga tidak memperjelas makna kekosongan (suwung) sebagaimana sudah dilakukan oleh Gurunya? Kemungkinan pertama, pada saat menciptakan Kidung tersebut, beliau belum memperoleh referensi yang lengkap. Kedua wali ini memang memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Sunan Bonang semenjak lahir sudah dididik dalam suasana kehidupan yang Islami termasuk mempelajari Al Qur’an, hadis serta berbagai kitab dan ajaran para ulama pendahulunya dari TimurTengah. Sedangkan Sunan Kalijaga, baru mempelajari Islam secara sungguh-sungguh setelah melewati tahap penyadaran oleh Sunan Bonang, dari seorang pemuda yang berandalan, langsung menjadi seorang salik yang berjuang keras mencapai hakikat dan makrifat, tanpa terlebih dulu membaca berbagai kitab . Sementara itu, karena ia adalah putera Adipati Tuban, Sunan Kalijaga menguasai tata pemerintahan dan seni budaya, yang kemudian dijadikan sarana andalan dalam berdakwah.

Kemungkinan kedua, memang beliau sengaja membuat multi tafsir supaya bisa menarik perhatian masyarakat luas yang masih dalam suasana peralihan, yang masih kuat menganut animisme, Syiwa-Buddha dan percaya pada roh-roh gaib, agar mau mendengarkan, menerima dan selanjutnya menyenangi Kidungannya.

Suasana peralihan itu juga digambarkan Sunan Bonang antara lain dalam Suluk Wijil, yang dikupas dan ditafsirkan oleh DR.Abdul Hadi WM ( dalam jamaluddinab.blogspot.com, diunduh pada 13.02.2012), sebagai berikut: “Wujil menjadi tenang setelah mendengarkan pitutur gurunya. Akan tetapi dia tetap merasa asing dengan lingkungan kehidupan keagamaan yang dijumpainya di Bonang. Berbeda dengan di Majapahit dahulu, untuk mencapai rahasia Yang Satu, orang harus melakukan tapa brata dan yoga, pergi jauh ke hutan, menyepi dan melakukan kekerasan ragawi.
Di Pesantren Bonang kehidupan sehari-hari berjalan seperti biasa. Shalat fardu lima waktu dijalankan dengan tertib. Majelis-majelis untuk membicarakan pengalaman kerohanian dan penghayatan keagamaan senantiasa diadakan. Di sela-sela itu para santri mengerjakan pekerjaan sehari-hari di samping mengadakan pentas-pentas seni dan pembacaan tembang.”

Mengenai manunggaling kawula – Gusti, Kitab Al Hikam yang tersohor dan menjadi salah satu pegangan penganut tasawuf, karya Al Imam Ibnu Athaillah Askandary menyatakan apabila jiwa manusia suci dari segala kekeruhan yang datang dari alam lahiriah, maka naiklah jiwa tersebut ke alam jabarut, yaitu alam yang dihuni para malaikat. Dalam keadaan begitu, tidak ada dinding penghalang antara sang jiwa dan Sang Pencipta. Di mata orang yang memiliki jiwa seperti itu, alam raya nampak begitu kecil bagaikan sebutir biji sawi. Alam atau jagad raya yang tertangkap oleh pancainderanya menjadi jagad kecil, sedangkan dirinya menjadi jagad besar. Maka berlangsunglah apa yang disebut manunggaling kawula – Gusti. Manusia menyatu dengan Tuhannya, dalam arti jiwa manusia mampu mengendalikan segala nafsu dan keinginannya, sehingga menyatu dengan kehendak Allah, mampu melaksanakan dengan baik tugas-tugasnya selaku wakil dan utusan Allah di muka bumi (Pengembaraan Batin Orang Jawa di Lorong Kehidupan, halaman 100 – 115 dan 143, serta Memaknai Kehidupan halaman 32 – 33).

Al Ghazali dalam Raudhatut Thalibien wa ‘Umdatus Saalikien atau Raudah, Taman Jiwa Kaum Sufi, menggambarkan suasana penyatuan antara sang hamba dengan Sang Pencipta, tercapai tatkala dzat dari sang hamba mencapai tahap fana’, sifatnya telah sirna dan kefanaannya lebur dalam keabadian-Nya. Maka bagi sang hamba bisa berlaku “ dengan diri-Ku ia mendengar dan dengan diri-Ku ia melihat”. Jadilah Dia yang melimpahkan kewalian sang hamba dan menjadi wali (kekasih) sang hamba. Jika sang hamba berkata, maka berkata dengan zikir-zikir-Nya. Jika memandang dengan cahaya-cahaya-Nya. Jika bergerak maka akan bergerak dengan kekuasaan-Nya. Jika memukul dengan limpahan keperkasaan-Nya.

Sangat mudah diucapkan oleh siapa pun, namun tidak sembarang orang bisa melakukannya. Semoga kita wahai sahabat-sahabatku, termasuk golongan yang langka dan sedikit itu.

Subhanallaah walhamdulillaah, aamiin.

2 Comments

Filed under Uncategorized

2 responses to “Tafsir Kidung Kawedar Sunan Kalijaga (6): MANUNGGALING KAWULA – GUSTI.

  1. islamjawa

    Terima kasih sudah ikut berkenan menyebarluaskan tafsir pemahaman ini. Semoga diridhoi,dirahmati dan diberkahi oleh Gusti Allah Yang Maha Agung. Aamiin. Salam takzim.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s