Tafsir Kidung Kawedar Sunan Kalijaga (7) : SANG GURU SEJATI, HARTATI dan ARTA DAYA.

Bait 19 :
Ana kayu apurwa sawiji,
wit buwana epang keblat papat,
agodong mega rumembe,
apradapa kukuwung,
kembang lintang salaga langit,
semi andaru kilat,
woh surya lantengsu,
asirat bun lan udan,
apepucuk akasa bungkah pratiwi,
oyode bayu braja.

Artinya :
Ada batang kayu bermula dari satu,
pohon dunia bercabang empat penjuru,
berdaun mega yang tergerai subur,
berpucuk pelangi,
berbunga bintang bertaburan di langit,
bersemi kayu kilat (petir),
berbuah matahari dan bulan,
percikan embun dan hujan,
berpucuk langit beralaskan bumi,
akarnya angin dan halilintar.

Bait 20 :
Wiwitane duk anemu candi,
gegedhongan miwah wawarangan (versi lain:wawarangkan),
sihing Hyang kabesmi kabeh,
tan ana janma kang wruh,
yen weruha purwane dadi,
candi segara wetan,
ingobar karuhun,
kayangane sang Hyang Tunggal,
sapareke kang jumeneng mung Hartati,
katon tengahing tawang.

Artinya :
Bermula tatkala menemukan candi (bangunan suci),
gedung-gedung dan pestanya (versi lain : kandang),
kasih sayang Tuhan dibakar semua,
tiada makhluk yang tahu,
bila tahu akan lebih dulu jadi,
candi lautan timur,
berkobar lebih dulu,
kayangan (istana langit) Sang Maha Esa,
ternyata yang ada hanya karsa utama,
nampak di tengah angkasa.

Bait 21 :
Gunung Agung segara Serandil,
langit ingkang amengku buwana,
kawruhana ing artine,
gunung segara umung,
guntur sirna amangku bumi,
duk kang langit buwana,
dadya weruh iku,
mudya madyaning ngawiyat,
mangrasama ing gunung Agung sabumi,
candi-candi segara.

Artinya :
Gunung Agung laut Serandil,
langit yang menyelimuti bumi,
pahamilah artinya,
gunung lautan gaduh,
guntur lenyap memenuhi bumi,
tatkala langit dan bumi,
jadi ketahuilah itu,
memuja tengahnya (pusat) langit,
membangun pondok satu negeri di gunung Agung,
candi-candi lautan.

Bait 22 :
Gunung luhure kagiri-giri,
sagara agung datanpa sama,
pan sampun kawruhan reke,
arta daya puniku,
datan kena cinakreng budi,
nanging kang sampun prapta ,
ing kuwasanipun ,
angadeg tengahing jagad,
wetan kulon lor kidul ngandhap myang nginggil,
kapurba kawisesa.

Artinya :
Gunung tinggi nan luar biasa,
laut pasang yang tiada tara,
semua sudah diketahui,
arta daya itu,
tak terbayangkan oleh akal,
namun yang sudah sampai,
pada kuasanya,
berdiri di tengah jagad,
timur barat utara selatan atas bawah,
semua atas kuasaNya.

Bait 19 sampai 22 ini menunjukkan betapa Sunan Kalijaga sebagai penggubah kidung, memiliki pengetahuan yang luas dan perasaan yang peka terhadap alam semesta. Karena itu ia bisa menuangkan nuansanya secara indah ke dalam kiasan-kiasan yang memiliki daya sugesti spiritual yang tinggi. Ia juga bisa bertutur tentang Gunung Agung di Bali dan segara Serandil yang ada di daerah Cilacap. Keduanya pada saat itu cukup jauh jaraknya dari daerah Pantai Utara Jawa, dan bagi penganut kepercayaan dan kebatinan, dipercaya memiliki kekuatan magis alam semesta yang dahsyat.

Ia memulai bait 19 dengan gambaran sebuah pohon keyakinan yang bersumber dari sawiji yang bisa berarti satu, tapi bisa juga berarti dari sebuah biji. Maknanya sama saja yakni berasal dari Yang Satu. Pohon keyakinan itu tumbuh subur dan menyebar ke segenap penjuru mata angin. Pohon keyakinan yang berpijak berakar kokoh di bumi, menjulang tinggi ke angkasa menembus langit.

Bait 20 sampai 22 menceritakan pencarian seorang hamba pada keyakinan terhadap yang Maha Kuasa dari waktu ke waktu. Untuk itu ia bisa meninggalkan kehidupan yang penuh pesona dunia. Tak ada yang tahu di mana istana Tuhan. Namun akhirnya ia menemukan Hartati atau karsa yang utama, yaitu daya kekuatan jiwa yang luar biasa, yang mendorong makhluk hidup untuk berkehendak.

Hartati yang berasal sekaligus merupakan manifestasi dari Tuhan pada setiap diri manusia itu, tidak mudah diketemukan, apabila sang manusia tidak bisa menaklukan hawa nafsunya yang setinggi gunung, bergelora bak laut pasang dan menggelegar bagaikan guntur, meskipun ia berada di dalam rumah peribadatan yang disucikan.

Manusia yang bisa memahami, menaklukkan serta mengendalikan hawa nafsunya juga akan memiliki arta daya, yaitu kebijaksanaan dan kekuatan batin yang luar biasa. Orang yang seperti itu akan berdiri kokoh di dunia, serta dihormati manusia sejagad lantaran sudah memperoleh berkah kekuasaan Yang Maha Kuasa. Arta daya akan menuntunnya di dalam kehidupan di dunia. Manusia yang seperti itu oleh para penganut tasawuf disebut sudah menguasai ilmu hikmah, dan bagi para penghayat Kejawen akan selalu dibimbing oleh Sang Guru Sejati.

Perihal Sang Guru Sejati, ada dua pendapat. Satu pendapat meyakini Sang Guru Sejati itu tiada lain adalah Gusti Allah yang bersemayam di dalam rahsa manusia. Sedangkan bagi yang lain, Sang Guru Sejati itu hanyalah utusan atau pembawa pesan Gusti Allah kepada rahsa manusia. Si pembawa pesan itu adalah malaikat atau ruh suci yang ditugasi Gusti Allah untuk menyampaikan pesan, dan bukan Gusti Allah itu sendiri. Sungguh hal-hal gaib seperti itu, sebaiknyalah kita kembalikan pada firman-Nya dalam Surat Al Israa ayat 85, “Dan mereka bertanya kepadamu tentang ruh. Katakanlah, ‘ruh itu urusan Rab-ku, dan tidaklah kamu diberi ilmu melainkan hanya sedikit’.

Subhanallaah, maasyaa Allaah.

6 Comments

Filed under Uncategorized

6 responses to “Tafsir Kidung Kawedar Sunan Kalijaga (7) : SANG GURU SEJATI, HARTATI dan ARTA DAYA.

  1. gunawansumo@gmail.com

    Matur nuwun Pak Wiek. Salam. Sent from my BlackBerry 10 smartphone on the Telkomsel network. From: B.Wiwoho : TASAWUF JAWASent: Jumat, 7 November 2014 14.25To: gunawansumo@gmail.comReply To: B.Wiwoho : TASAWUF JAWASubject: [New post] Tafsir Kidung Kawedar Sunan Kalijaga (7) : SANG GURU SEJATI, HARTATI dan ARTA DAYA.

    a:hover { color: red; } a { text-decoration: none; color: #0088cc; } a.primaryactionlink:link, a.primaryactionlink:visited { background-color: #2585B2; color: #fff; } a.primaryactionlink:hover, a.primaryactionlink:active { background-color: #11729E !important; color: #fff !important; }

    /* @media only screen and (max-device-width: 480px) { .post { min-width: 700px !important; } } */ WordPress.com

    islamjawa posted: “Bait 19 : Ana kayu apurwa sawiji, wit buwana epang keblat papat, agodong mega rumembe, apradapa kukuwung, kembang lintang salaga langit, semi andaru kilat, woh surya lantengsu, asirat bun lan udan, apepucuk akasa bungkah pratiwi, oyode “

  2. gunawansumo@gmail.com

    Matur nuwun Pak Wiek. Sent from my BlackBerry 10 smartphone on the Telkomsel network. From: B.Wiwoho : TASAWUF JAWASent: Jumat, 7 November 2014 14.25To: gunawansumo@gmail.comReply To: B.Wiwoho : TASAWUF JAWASubject: [New post] Tafsir Kidung Kawedar Sunan Kalijaga (7) : SANG GURU SEJATI, HARTATI dan ARTA DAYA.

    a:hover { color: red; } a { text-decoration: none; color: #0088cc; } a.primaryactionlink:link, a.primaryactionlink:visited { background-color: #2585B2; color: #fff; } a.primaryactionlink:hover, a.primaryactionlink:active { background-color: #11729E !important; color: #fff !important; }

    /* @media only screen and (max-device-width: 480px) { .post { min-width: 700px !important; } } */ WordPress.com

    islamjawa posted: “Bait 19 : Ana kayu apurwa sawiji, wit buwana epang keblat papat, agodong mega rumembe, apradapa kukuwung, kembang lintang salaga langit, semi andaru kilat, woh surya lantengsu, asirat bun lan udan, apepucuk akasa bungkah pratiwi, oyode “

  3. Sunan Kalijaga yg hidup di abad ke 15 sebetulnya sudah melewati sekitar 1000 tahun setelah Rasulullah. Dari segi kurun waktu, seharusnya rembesan ilmu Tauhid Keislaman sudah cukup lumer untuk bisa diterima pada waktu itu.

    Namun, faktor waktu yang panjang tersebut belum memungkinkan seseorang di tanah Jawa untuk dengan mudah menimba berbagai ilmu makrifat maupun syariah Islam yang diajarkan Rasulullah dikarenakan faktor-faktor jarak, media komunikasi dan alat transportasi tidak semudah seperti jaman sekarang. Bahkan orang Eropa termasuk Belanda pun belum sempat menginjakkan kakinya di Nusantara kecuali hanya beberapa gelintir para pionir seperti Marcopolo.

    Hanya dengan kemampuan inteligensia yang tinggi serta matahati yang tajam yang dimiliki Sunan Kalijaga, sehingga dia mampu merangkai kearifan lokal untuk kemudian dianyam dan dirajut dengan ilmu Tauhid ajaran Rasulullah sehingga kita semua bisa mengenyam kenikmatan yang maha tinggi yaitu sebagai insan muslimin.

    Alhamdulillah, matur nuwun duh Gusti Allah . . .

  4. islamjawa

    Aswrwb. Mas Eddypramono, matur nuwun komentarnya yang melengkapi gambaran keadaan pada masa Kidung Kawedar digubah. Sebagai sesama hamba Allah yang dibesarkan di wilayah Pantura Jawa, kita sangat merasakan betapa dalam pengaruh ajaran Kanjeng Sunan Kalijaga. Karena jasa2 beliau dan para wali lainnya, kita bisa ikut mereguk dan menikmati, meskipun mungkin baru sepersekian tetes, air dari telaga makrifatNya.Semoga kita dianugerahi lebih banyak lagi. Aamiin. Salam takzim. BW.

  5. islamjawa

    Terima kasih sudah ikut berkenan menyebarluaskan tafsir pemahaman ini. Semoga diridhoi,dirahmati dan diberkahi oleh Gusti Allah Yang Maha Agung. Aamiin. Salam takzim.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s