Tafsir Kidung Kawedar Sunan Kalijaga (8) : DEWA RUCI, JAGAD BESAR – JAGAD KECIL.

Bait 23 :
Bumi gunung segara myang kali,
sagunging kang sesining bawana,
kasor ing arta dayane,
sagara sat kang gunung,
guntur sirna guwa samyo nir,
singawruh arta daya,
dadya teguh timbul,
lan dadi paliyasing prang,
yen lelungan kang kapapag widi asih,
sato galak suminggah.
Artinya :
Bumi gunung lautan dan sungai,
segenap isi dunia,
tunduk kepada arta daya,
lautan mengering (,) itu gunung,
dan guntur sirna (,) goa lenyap,
siapa yang paham arta daya,
menjadi manusia tangguh,
dan mampu mencegah peperangan,
siapa yang berjumpa dalam perjalanan menjadi segan dan sayang, binatang buas menyingkir.

Bait 24 :
Jim peri prayangan padha wedi,
mendhak asih sakehing drubiksa,
rumeksa siyang dalune,
singa anempuh lumpuh,
tan tumama ing ngawak mami,
kang nedya tan raharja,
kabeh pan linebur,
sakehe kang nedya ala,
larut sirna (,) kang nedya becik basuki,
kang sinedya waluya.

Artinya :
Jin setan semua takut,
semua hantu takluk,
karena dilindungi siang malam,
siapa yang melawan akan tak berdaya,
tidak akan mengenai (mencederai) diriku,
siapa yang berniat merusak kesejahteraan (berniat jahat),
semua akan lebur,
semua yang berniat buruk,
larut lenyap (,) yang berniat baik mulia,
yang diinginkan keselamatan.
Bait 25 :
Siyang dalu rineksa ing Widhi,
dinulur saking karseng Hyang Suksma,
kaidhep ing janma akeh,
aran wikuning wiku,
wikan liring mudya semedi,
dadi sasedyanira,
mangunah linuhung,
paparab Hyang Tegalana,
kang asimpen yen tawajuh jroning ngati,
kalising panca baya.

Artinya :
Siang malam dilindungi Tuhan,
segala urusannya lancar karena kehendak Yang Maha Menguasai Jiwa
dihormati oleh banyak manusia,
disebut pendetanya para pendeta,
menguasai cara berkomunikasi dengan Tuhan,
terwujud segala kehendaknya,
berkat pertolongan Allah karena keteguhan imannya,
memiliki sebutan sebagai orang yang ikhlas dan tulus,
pandai menyimpan dalam hati kemampuannya bertatapan wajah dengan Allah,
terhindar dari mara bahaya.

Bait 26 :
Yen kinaryan atunggu wong sakit,
ejim setan datan wani ngambah,
rineksa malaekate,
nabi wali angepung,
sakeh lara padha sumingkir,
ingkang sedya mitenah,
marang awak ingsun,
rinusak dening Pangeran,
eblis lanat sato mara mara mati,
tumpes tapis sadaya.
Artinya :
Jika digunakan buat menunggui orang sakit,
jin setan tiada yang berani mendekat,
dijaga malaikat,
nabi dan wali mengepung melindungi,
segala penyakit menyingkir,
yang hendak memfitnah,
kepada diriku,
dirusak oleh Tuhan,
iblis laknat dan binatang yang mendekat
(,) datang untuk mati,
semuanya tumpas tiada bersisa.

Sebelum mulai pembahasan, dalam terjemahan bait 23 – 26 terdapat beberapa tanda (,). Ini dimaksudkan sebagai tambahan tanda baca koma, untuk memudahkan membaca serta memahami maknanya . Tanda baca koma tersebut dalam naskah asli sesungguhnya memang ada meskipun tidak ditulis, sesuai kaidah membaca macapat.
Bait 23 – 26 menguraikan apa yang disebut dalam filosofi Jawa, “jagad gede – jagad cilik atau jagad besar – jagad kecil”, yang tiada lain merupakan ajaran tasawuf tentang bagaimana mengendalikan hawa nafsu manusia agar bisa mencapai tahap manunggaling kawula – Gusti.

Bumi, gunung, lautan, sungai dan alam raya dengan segenap isinya, dalam pandangan orang awam adalah jagad atau dunia atau alam raya. Alam raya ini dalam tasawuf bisa tunduk kepada seseorang, apabila orang tersebut mampu mendayagunakan arta dayanya. Orang yang seperti ini akan diangkat derajatnya menjadi kekasih Gusti Allah yang dianugerahi segala macam kelebihan, walaupun yang bersangkutan tidak meminta bahkan sudah tidak memiliki keinginan apa-apa kecuali menempatkan diri sepenuhnya sebagai hamba sekaligus kekasih Allah, yang senantiasa taat, tunduk dan patuh kepada-Nya.

Dalam ajaran tasawuf, diri manusia pada umumnya diibaratkan sebagai jagad kecil yang merupakan copy dan miniatur dari alam raya, sedangkan alam raya disebut jagad besar. Manusia akan tetap menjadi jagad kecil apabila kerohaniannya tidak dapat mengalahkan kemanusiaannya yang dipenuhi hawa nafsu. Sebaliknya jika rohaninya bisa menundukkan unsur kemanusiaan atau unsur lahiriahnya, sehingga hakikat dirinya lebih menonjol dibandingkan jangkauan pancainderanya, maka masuklah ia ke dalam “alam malakut yang jabarut”, yaitu alam yang dihuni para malaikat dan ruh suci. Dalam keadaan yang seperti itu manusia menjadi jagad besar, sedangkan alam raya yang kita lihat justru berbalik menjadi jagad kecil. Begitu besar rohani kita sehingga tidak dapat ditampung oleh bumi dan langit. Sementara itu bumi, langit dan seisinya menjadi kecil bagi manusia. Mereka semua tunduk dan takluk kepada manusia yang seperti itu.

Dalam filosofi Jawa, hubungan jagad besar – jagad kecil diajarkan secara indah melalui cerita wayang dengan kisah Dewa Ruci, yaitu kisah khas Jawa yang disisipkan dalam babon kisah induk Mahabarata. Kisah ini menurut penelitian Prof.Dr.RM.Ngabehi Purbotjaroko dan Dr.Stutterheim (kariyan.wordpress.com, diunduh pada 8 Oktober 2014), dikarang oleh Mpu Syiwamurti dalam bahasa Jawa Kuno pada masa peralihan kerajaan Majapahit ke Demak. Oleh Sunan Bonang kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa peralihan Jawa Kuno – Jawa Tengahan, dan selanjutnya oleh pujangga Keraton Surakarta, Yasadipura yang hidup pada abad 18, digubah lagi dengan bahasa Jawa Tengahan – Jawa Baru, sebagaimana naskah Serat Suluk Dewa Ruci yang selama ini dikenal masyarakat.

Kisah Dewa Ruci adalah sebuah ajaran tasawuf mengenai manunggaling kawula – Gusti, yang akan bisa dicapai apabila manusia dalam hal ini tokoh wayang Bima, bisa mengendalikan dan menguasai sepenuhnya hawa nafsunya, sehinga bisa menemukan jati diri atau hakikat kemanusiaanya. Sedangkan Dewa Ruci yang berarti Dewa Cerdik, digambarkan sebagai Dewa yang kerdil, yang hanya sebesar telapak tangan Bima, dan merupakan miniatur dari Bima. Dewa Ruci sesungguhnya adalah jati diri Bima yang meskipun secara fisik kecil, namun bisa menelan Bima; karena jatidiri Bima (yaitu Dewa Ruci) telah berubah menjadi jagad besar, yang mampu menundukkan alam raya sesisinya termasuk kemanusiaan Bima, yang menjadi jagad kecil di dalam diri Dewa Ruci.

Oleh Sunan Kalijaga yang merupakan murid Sunan Bonang, kisah Dewa Ruci bersama kisah Jimat Kalimasada (Ajimat Sakti Dua Kalimat Syahadat) dan kisah-kisah carangan (ranting) khas Jawa lainnya seperti Petruk Jadi Ratu, dipopulerkan ke masyarakat dalam bentuk pertunjukkan wayang kulit, sebagai sarana dakwah agama Islam. Kisah-kisah wayang dakwah tersebut masih sangat populer di kalangan penggemar wayang sampai sekarang.

Serupa dengan kisah Dewa Ruci, cucu pujangga Ranggawarsita yang juga cicit Yasadipura, yaitu Iman Anom, pada tahun 1884 M, menggubah Suluk Ling Lung Sunan Kalijaga (Syeh Malaya). Suluk Ling Lung secara jelas merupakan ajaran tasawuf yang dituangkan dalam kisah pencarian jati diri Sunan Kalijaga, semenjak dari pemuda berandalan, kemudian disadarkan dan berguru ke Sunan Bonang, sampai akhirnya berjumpa dengan Nabi Khidir. Perjumpaan Sunan Kalijaga dengan Nabi Khidir dilukiskan hampir sama dengan perjumpaan Bima dengan Dewa Ruci, namun dalam bentuk ajaran tasawuf yang cukup kental.

Dalam tasawuf, manusia digambarkan terdiri dari dua unsur yaitu ruh atau roh dan tubuh. Dari kinerja keduanya menghasilkan apa yang kita sebut dengan jiwa. Jiwa manusia ini apabila suci dari segala kekeruhan yang datang dari alam lahiriah, maka naiklah kedudukan dan status jiwa tersebut ke alam malakut-jabarut. Dalam keadaan seperti itu manusia bisa bertawajuh, membulatkan hati dan menghadapkan diri sepenuhnya kepada Allah (bait 25), sehingga tiada lagi dinding penghalang antara sang jiwa dengan Sang Pencipta. Di mata orang ini, alam raya dengan segala pesona dunianya menjadi nampak begitu kecil bagaikan sebutir biji sawi. Alam atau jagad raya yang tertangkap oleh mata batinnya menjadi jagad kecil, karena dirinya telah berubah menjadi jagad besar.

Manusia yang seperti itu memperoleh sebutan rohaniyin malakutiyin, manusia-manusia rohani yang berada dalam alam malaikat, yang tak dapat dijangkau oleh pancaindera manusia. Meskipun tubuhnya bergaul berada di tengah sesama manusia lainnya, tetapi jiwanya sedang melakukan perjalanan yang tak terbatas lagi tiada ujung, senantiasa berada di sisi Gusti Allah Yang Maha Agung. Ia telah mencapai tingkat yang oleh orang Jawa disebut tapa ngrame, mati sak jeroning urip dan urip sak jeroning mati. Hidup bagaikan bertapa di tengah keramaian, dan menjalani kematian di dalam kehidupan serta hidup di dalam kematian.

Al Ghazali dalam Raudhatut Thalibien wa ‘Umdatus Saalikien (Raudah, Taman Jiwa Kaum Sufi) menyatakan, orang tersebut sudah mencapai tingkatan mati dari nafsunya dalam keadaan masih hidup di dunia, dan menghidupkan hatinya yang mati, sampai kedudukannya kokoh dalam penyaksiaannya terhadap yang Qadim (yang ada terus menerus tanpa awal dan tanpa akhir), serta menempatkan selain Dia pada tempat ketiadaan.                                                                                                 Secara sederhana bisa dikatakan ia telah mematikan, sebetulnya lebih tepat mampu mengendalikan sepenuhnya nafsu pesona dunianya, dan sebaliknya menghidupkan atau mengutamakan kemuliaan rohaninya.

Tidak sembarang orang bisa menghadap Presiden lebih-lebih selalu berada di sisinya. Apalagi berhadapan dengan Gusti Allah tanpa penghalang sama sekali. Hanya orang-orang yang disayang lagi dikasihi Gusti Allahlah yang bisa. Sebagai kekasih Allah, kalau mau ia bisa dianugerahi banyak hal dan segala keinginannya akan dipenuhi. Ia memperoleh mangunah linuhung sebagaimana diuraikan dalam bait 25, juga bait-bait awal serta bait-bait selanjutnya. Betapa tidak. Kalaulah kita menjadi kesayangan seorang Raja, Presiden atau konglomerat, banyak kesenangan yang bisa kita dapat. Apalagi menjadi kekasih Gusti Allah, menjadi wali Allah. Hanya sayang, orang yang menjadi kekasih Gusti Allah adalah justru orang-orang yang sudah mati sak jeroning urip, sehingga bisa disebut sudah tidak punya keinginan apa-apa lagi bagi dirinya sendiri, kecuali semata-mata mengabdi kepada Gusti Allah.

Orang yang senantiasa taat dan ikhlas kepada Allah, yang sudah bisa mengendalikan hawa nafsunya , akan sampai ke maqam makrifat, bisa berhadapan dengan Gusti Allah tanpa penghalang, menurut Al Gazhali dalam kitab Minhajul ‘Abidin, bisa memperoleh anugerah 40 kemuliaan, dua puluh ketika masih di dunia dan dua puluh lagi di akhirat. Mulai dari yang berbentuk pujian, kekayaan hati, keberkahan, sampai pun tatkala sudah wafat masih diijinkan memberikan syafaat kepada orang lain di padang mahsyar dan lain-lain.

Lantas apa yang harus dilakukan lagi di dunia ini oleh orang-orang yang sudah mencapai maqam makrifat? Seperti Bima dalam cerita Dewa Ruci, harus kembali ke kerajaan Amarta, kembali ke masyarakat mewujudkan rahmatan lil alamin, hamemayu hayuning bawono, mewujudkan rahmat bagi alam semesta dengan segenap isinya, bukan hanya bagi keluarga Pandawa, apalagi bagi diri Bima pribadi. Bima harus kembali ke tengah rakyatnya untuk tegar memberantas kebatilan dan menegakkan kebenaran, serta melindungi dan menyejahterakan mereka. Ketegaran memberantas kemungkaran dan kebatilan tanpa kompromi sedikit jua itulah, yang menimbulkan ungkapan bagi orang-orang yang tegar, kokoh dan lurus dalam membasmi kemungkaran dan kebatilan, bagaikan Bima yang tidak peduli tembok kokoh pun akan ditabrak demi kebaikan dan kebenaran.

Manusia sebagai abdullah atau hamba Allah, mengemban tugas khalifah fil ard, atau wakil dan utusan Gusti Allah untuk mengelola alam raya demi terwujudnya rahmatan lil alamin. Bukan dengan lantas berzuhud pergi uzlah, menyepi lari dari hiruk pikuk masyarakat. Dia harus tapa ngrame, berzuhud dan wara di tengah keramaian dunia, menjalankan tugasnya sebagai khalifah fil ard, yang semuanya semata-mata demi Allah, seperti dilakukan Kanjeng Nabi Muhammad Saw, Sunan Bonang, Sunan Kalijaga dan para wali lainnya. Selaku duta Allah yang menjalankan tugas-tugas kemanusiaan semata-mata demi Allah, maka segala tindak-tanduk dan caranya pun harus betul-betul taat dan sesuai dengan aturan Allah, antara lain berani membasmi kemungkaran dan menegakkan kebenaran, ikhlas, tulus, jujur dan tawadhu. Hidupnya harus bersih, sederhana serta mengabdi pada kemaslahatan umat dan alam raya.

Marilah kita berdoa, semoga kita khususnya penulis dan para pembaca, dianugerahi masuk ke dalam golongan hamba-hambaNya yang seperti itu, yang senantiasa beriman dan beramal saleh.
Alhamdulillaah, aamiin

2 Comments

Filed under Uncategorized

2 responses to “Tafsir Kidung Kawedar Sunan Kalijaga (8) : DEWA RUCI, JAGAD BESAR – JAGAD KECIL.

  1. gunawansumo@gmail.com

    Matur nuwun Pak Wiek. Salam. Sent from my BlackBerry 10 smartphone on the Telkomsel network. From: B.Wiwoho : TASAWUF JAWASent: Jumat, 14 November 2014 06.55To: gunawansumo@gmail.comReply To: B.Wiwoho : TASAWUF JAWASubject: [New post] Tafsir Kidung Kawedar Sunan Kalijaga (8) : DEWA RUCI, JAGAD BESAR – JAGAD KECIL.

    a:hover { color: red; } a { text-decoration: none; color: #0088cc; } a.primaryactionlink:link, a.primaryactionlink:visited { background-color: #2585B2; color: #fff; } a.primaryactionlink:hover, a.primaryactionlink:active { background-color: #11729E !important; color: #fff !important; }

    /* @media only screen and (max-device-width: 480px) { .post { min-width: 700px !important; } } */ WordPress.com

    islamjawa posted: “Bait 23 : Bumi gunung segara myang kali, sagunging kang sesining bawana, kasor ing arta dayane, sagara sat kang gunung, guntur sirna guwa samyo nir, singawruh arta daya, dadya teguh timbul, lan dadi paliyasing prang, yen lelungan “

  2. islamjawa

    Aswrwb. Sami-sami Kanjeng. Mugi berkenan dan berkah. Aamiin.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s