SANG HYANG GURU dan SANG HYANG HAYU : Tafsir Kidung Kawedar Sunan Kalijaga (9).

Sang Hyang Guru dan
Sang Hyang Hayu

Bait 27 :

Ana kidung angidung ing wengi,
bebaratan duk amrem winaca,
Sang Hyang Guru pengadege,
lumaku Sang Hyang Hayu,
alembehan asmara hening,
ngadeg pangawak teja,
kang angidung iku,
yen kinarya angawula,
myang lulungan Gusti gething dadi asih,
sato setan sumimpang.

Artinya :

Ada kidung mengalun di kala malam,
yang didendangkan seraya memejamkan mata,
perawakan Sang Hyang Guru,
langkah Sang Hyang Hayu,
melenggang penuh kasih sayang,
tegak berperawakan cahaya,
yang melantunkan kidung ini,
bila dijadikan bekal mengabdi,
juga bekal bepergian (,) kebencian Tuhan berubah jadi sayang,
binatang maupun setan menyingkir.

Bait 28 :

Sakabehing upas tawa sami,
lara roga waluya nir mala,
tulak tanggung kang manggawe,
duduk samya kawangsul,
akawuryan sagunging sihir,
Ngadam makdum sadaya,
datan paja ngrungu,
pangucap lawan pangrasa,
myang tumingal kang sedya tumekang napi,
pangreksaning malekat.

Artinya :

Semua bisa (racun) menjadi tawar,
penderitaan dan penyakit pulih sehat sama sekali,
perbuatan jahat berbalik ke yang melakukan,
semua tikaman kejahatan tertolak,
segala sihir tak berarti,
kosong hampa sama sekali,
bagaikan tak mendengar apa-apa,
juga ucapan dan perasaan,
memusatkan perhatian ke yang tak terbandingkan,
dalam penjagaan malaikat.

Bait 27 – 28 ini masih menggambarkan hikmah, keutamaan dan perbawa dari Kidung Kawedar, dengan disisipi ajaran-ajaran Islami yang menggunakan tamzil-tamzil lama yang apabila tidak dijelaskan dengan baik, bisa membuka peluang multi tafsir yang keliru. Oleh karena itu, jika ingin mengkaji sendiri Kidung ini, pembaca perlu memahami serta menggunakan bahan acuan Al Qur’an dan hadis, sehingga bisa menghayati tujuan utama ajaran Kidung Kawedar.

Bait 27 misalkan, mengajak membaca kidung di malam hari seraya memejamkan mata, menanamkan sugesti akan sosok Sang Hyang Guru, langkah Sang Hyang Hayu dan diri kita yang bercahaya lagi penuh pancaran kasih sayang.

Sang Hyang Guru yang berarti Dzat Yang Maha Pandai lagi Maha Pemberi Petunjuk, tidak langsung menggunakan sebutan asma Rasyid (Yang Maha Pandai) dan Hadi (Yang Maha Pemberi Petunjuk), melainkan dicari padanan makna yang akrab di telinga masyarakat, yang ketika itu masih menganut agama Syiwa – Buddha. Penganut agama ini mempercayai serta menyembah Dewa-Dewa, dan Dewa yang paling utama adalah Dewa Syiwa atau Betara Guru. Dalam pementasan wayang versi Jawa, Dewa-Dewa yang berusia lebih tua, memanggilnya Sang Hyang Adi Guru. Panggilan kehormatan Sang Hyang juga lazim diberikan kepada Dewi pengatur rejeki khususnya melalui pertanian, yaitu Sang Hyang Sri.

Adi atau hadi atau edhi dalam bahasa Jawa Kuno memiliki banyak arti. Bisa berarti indah, bagus, hebat sekali dan juga bisa berarti kepala dan permulaan. Khusus untuk kata adi bisa berarti pula adik atau adinda. Sedangkan guru berarti orang yang dimuliakan, pembimbing spiritual dan pengajar. Karena ini adalah kitab dakwah agama Islam, maka pada hemat penafsir penyebutan asma Gusti Allah yang Maha Pandai dan Maha Pemberi Petunjuk dengan Sang Hyang Guru, bukanlah dimaksudkan sebagai Batara Guru atau Dewa Syiwa, melainkan hanya sebagai metode komunikasi agar terdengar akrab dan mudah diterima masyarakat. Alhamdulillah, menurut istilah dalam bahasa Jawa, digothak gathik gathuk, diotak-atik ternyata maknanya cocok juga.

Begitu pula sebutan Sang Hyang Hayu (Ayu). Hayu atau ayu dalam bahasa Jawa Kuno memiliki banyak arti, antara lain cantik, molek, baik, saleh, sejahtera, kesehatan, kebahagiaan, benar. Kata ayu juga sangat akrab bagi masyarakat sejak tempo dulu sampai sekarang. Walaupun demikian, nama sesembahan Sang Hyang Hayu tidak ada. Tetapi bila kata Hayu itu merujuk pada bahasa Arab, maka penyebutan hayu yang penulisannya menggunakan yy, yaitu Hayyu, adalah merupakan salah satu asma Gusti Allah yang berarti Yang Maha Hidup Abadi.

Baris keenam bait 27 yaitu, ngadeg pangawak teja atau tegak berperawakan cahaya, penggambaran sosok tokoh atau pun tamzil seperti itu, tidak lazim digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Akan tetapi ada penggambaran yang biasa digunakan terhadap orang yang memiliki aura hebat yakni pasuryane sumunar atau pasuryane mencorong, yang berarti wajahnya bersinar.

Sementara itu di dalam ajaran Islam, istilah cahaya itu sangat lazim dan dikaitkan denan Dzat Allah, sebagaimana ayat 35 Surat An-Nur (Cahaya) sebagai berikut: “Allah adalah cahaya bagi langit dan bumi. Perumpamaan cahaya Allah adalah seperti sebuah lubang yang didalamnya ada pelita besar. Pelita itu di dalam kaca (dan) kaca itu laksana bintang yang berkilauan, yang dinyalakan dengan minyak dari pohon yang banyak berkahnya, (yaitu) pohon zaitun yang tidak tumbuh di sebelah timur dan tidak pula di barat, yang minyaknya (saja) hampir-hampir menerangi walaupun tidak disentuh api. Cahaya di atas cahaya (berlapis-lapis), Allah membimbing cahaya-Nya kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah memperbuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia, dan Allah Maha mengetahui segala sesuatu.”

Menurut para ahli tafsir, yang dimaksud dengan cahaya dalam surat tersebut ada bermacam-macam, mulai dari cahaya matahari, bulan serta bintang-bintang yang menerangi langit dan manusia di bumi, sampai dengan yang bermakna penerangan terhadap jalan kehidupan manusia yang berupa syariat dan hukum-hukum yang mengatur tata kehidupan dan pergaulan. Dari Surat An-Nur ini, berkembang berbagai tamzil tentang cahaya. Demikianlah perumpamaan yang terkait dengan cahaya, menjadi baris keenam dalam bait 27 Kidung Kawedar.

Baris terakhir bait 28, kembali menyebut kata malaikat, yang menjaga manusia sehingga memperoleh berkah dan perlindungan dari Tuhan sebagaimana diuraikan dalam Kidung ini semenjak bait pertama. Berbagai berkah, karomah, hikmah serta keutamaan yang banyak disinggung, seperti mengatasi binatang buas, gangguan nyata dari jin serta aneka jenis sihir dan magis, mungkin agak janggal bagi masyarakat zaman sekarang. Tetapi tidak demikian halnya pada zaman dahulu. Keseharian mereka memang tidak lepas dari hal-hal tersebut, termasuk berbagai penyakit gawat yang pada masa itu belum diketahui penyebab dan obatnya. Mereka sangat percaya dengan kesaktian mantera-mantera untuk mengatasinya. Oleh karena itu sangat wajar apabila Sunan Kalijaga menanamkan sugesti mantera dalam Kidung Kawedar sebagai daya tarik dalam berdakwah.

Semua jenis karomah, hikmah dan keutamaan itu dalam dunia tasawuf sangat wajar, namun diibaratkan permen yang amat menarik bagi kanak-kanak tapi tidak bagi orang dewasa. Maksudnya sebagai hadiah daya tarik bagi salik pemula, yaitu orang yang baru belajar ilmu tasawuf. Sedangkan bagi yang sudah mencapai tingkat hakikat apalagi makrifat, segala hadiah daya tarik itu tidak ada artinya. Hubungannya dengan Gusti Allah bukan lagi berdasarkan hadiah, melainkan kerinduan kepada Sang Kekasih yang tak ternilai.
Subhanallaah walhamdulillaah.

Leave a comment

Filed under Uncategorized

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s