ZIKIR YA HU ALLAH dan KEUTAMAAN SURAT AL IKHLAS: Tafsir Suluk Kidung Kawedar Sunan Kalijaga (11)

Bait 30 :

Ya Hu Dat myang pamujining wengi,
bale aras sasakane mulya,
Kirun saka tengen nggone,
Wana Kirun kang tunggu,
saka kiwa gadane wesi,
nulak panggawe ala,
satru lawan mungsuh,
pengeret tenajul rijal,
ander-ander kolhu balik kang linuwih,
ambalik lara roga.

Artinya :

Ya Hu Dzat (Ya Hu Allah) sebagai puji-pujian di kala malam,
balai nan terpadu indah dengan lantai kemuliaan,
Kirun (Qarin?) berada di sebelah kanan,
Wana Kirun yang menjaga,
di sebelah kiri (,) dengan gada besi,
menolak perbuatan buruk,
para seteru dan musuh,
menguatkan manusia yang mengenal Allah melalui hati yang terbuka,
dengan uraian Surat Qulhu (Al Ikhlas) (,) membalikkan dengan hebat,
memulihkan segala penyakit dan penderitaan.

Bait 30 ini adalah bait yang luar biasa. Sarat kandungan makna dan keutamaan. Diawali dengan ajaran zikir, keberadaan malaikat yang menjaga kita dan menolak segala perbuatan buruk, kemudian bagaimana mengenal Gusti Allah dan keutamaan surat Qulhu atau Al Ikhlas. Bait ini juga menjadi landasan ulah batin bagi para penganut kejawen, baik yang muslim maupun yang bukan.

Baris pertama adalah mengajarkan berzikir di kala malam. Zikir artinya mengingat atau menyebut. Ingat dalam bahasa Jawa adalah eling. Dalam buku Pengembaraan Batin Orang Jawa di Lorong Kehidupan halaman 113 sampai dengan 122, penafsir telah mengulas masalah ini dengan judul “Eling Dalam Tasawuf Jawa.” Orang Jawa sering menasihati sanak saudara yang sedang stres akibat sesuatu musibah agar eling dan nyebut. Eling atau ingat apa? Nyebut apa? Ingat kepada Gusti Allah. Menyebut asma Allah Yang Maha Kuasa atas segala sesuatu, termasuk kejadian yang sedang kita hadapi. Ingat bahwa segala sesuatu yang kita alami itu sudah merupakan skenario Allah, Sutradara Yang Maha Agung. Oleh karena itu kita harus ikhlas, harus berbesar jiwa untuk menerimanya.

Jadi eling atau ingat itu sama maknanya dengan zikir, dan zikir yang terbaik adalah zikrullah atau mengingat Allah, sebagaimana firman-Nya dalam surat Al Ahzab (33: 41-42) : “Wahai orang-orang yang beriman, ingatlah kamu sekalian kepada Allah dengan zikir yang banyak dan bertasbihlah kamu sekalian pada-Nya di waktu pagi dan petang.”

Dalam rangka mengajarkan zikir itulah, maka Sunan Kalijaga memulai bait ini dengan kalimat Ya Hu Dat myang pamujining wengi, yang bermakna berzikirlah di kala malam kepada Dzat Allah. Kalimat ini di dalam masyarakat Jawa berlanjut dengan ajaran zikir Ya Hu Allah. Kalimat zikir Ya Hu Allah, Hu Allah dan Allahu sampai sekarang banyak dijumpai di kalangan para penganut dan praktisi spiritual muslim Asia Tenggara khususnya Nusantara.

Allah adalah salah satu bahkan merupakan asma yang utama yang menggenapkan sembilan puluh sembilan (99) asma-asma Allah yang mulia (asma’ul husna) menjadi seratus. Penggunaan asma Allah sering dijumpai secara berdiri sendiri, dan sering pula bersama kata lain seperti Akbar dan Nur, sehingga menjadi Allahu Akbar (Allah Maha Besar) dan Allahu Nur (Allah adalah Cahaya dari segala Cahaya). Tak jarang dalam berzikir, kata Allah diberi tambahan Hu, sehingga menjadi Hu Allah yang berarti Dialah Allah.

Ada sementara aliran yang memiliki pandangan berbeda mengenai ketiga kalimat zikir tadi, terutama antara Hu Allah dan Allahu. Namun lebih banyak lagi yang tidak mempersoalkan perbedaannya. Imbuhan kata ya, banyak dipakai oleh masyarakat muslim Jawa sesuai dengan ajaran Sunan Kalijaga sebagaimana bait ini.

Aliran yang berpendapat ada perbedaan menyatakan, zikir Hu Allah akan melahirkan kekuaan supranatural yang kasar dengan energi yang mudah dideteksi. Di samping itu zikir ini seringkali memunculkan khodim (tunggal) dan khodam (jamak), yaitu pembantu yang berupa roh gaib, yang bisa jadi bermaksud baik tapi bisa juga buruk. Sedangkan zikir Allahu menurut mereka menghasilkan kekuatan supranatural yang halus dengan energi yang sulit dideteksi bahkan oleh sang pengamal. Kekuatan ini lambat datangnya tetapi dahsyat.

Bagi penganut tasawuf yang sudah mencapai tahap hakikat dan lebih-lebih makrifat, tidak merpersoalkan perbedaan tersebut. Perihal khodim misalkan, pada hemat mereka wajar muncul setiap saat pada manusia, terutama yang sedang mengikuti jalan tasawuf atau para salik. Sebagaimana kisah terkenal yang dialami Penghulu Tasawuf Syeh Abdul Qadir Jailani, khodim itu bukan mau membantu para salik, melainkan menggoda dan mengganggu. Oleh karena itu kita tidak perlu menanggapi serta meladeni kehadirannya, termasuk apabila mereka menawarkan berbagai hadiah dan bantuan.

Ada dua versi cerita mengenai kisah godaan iblis terhadap Syeh Abdul Qadir Jailani, yang sering dikemukakan oleh mursyid atau guru tasawuf kepada para saliknya. Versi pertama mengisahkan, pada suatu hari tiba-tiba muncul suatu makhluk yang memperkenalkan diri sebagai malaikat Jibril, dan berkata: “Aku membawa buraq dari Allah. Engkau diundang Allah untuk menghadap-Nya di langit tertinggi.” Sang Syeh menjawab, baik Jibril maupun buraq takkan pernah lagi datang ke dunia selain hanya untuk Nabi Suci Muhammad Saw.

Meskipun demikian makhluk yang tiada lain adalah iblis itu masih tetap menggoda dengan cara lain. Ia berkata, “Baiklah Abdul Qadir, engkau telah menyelamatkan diri dengan keluasan ilmumu.”

“Enyahlah!”, bentak Syeh, “Percuma kau menggodaku. Aku selamat bukan karena ilmuku, tapi rahmat Allahlah yang telah menyelamatkanku dari perangkapmu.”

Versi kedua mengisahkan, tatkala sang wali sedang berada di hutan tanpa makanan dan minuman untuk jangka waktu yang lama, tiba-tiba pada suatu waktu awan menggelayut di angkasa dan turunlah hujan. Beliau meredakan dahaganya dengan tetesan air hujan. Mendadak muncul sosok cahaya terang di cakrawala seraya berseru, “Akulah Tuhanmu. Hari ini kuhalalkan bagimu segala yang telah kuharamkan.” Spontan sang wali berucap, “Aku berlindung kepada Allah dari godaan setan yang terkutuk.” Maka sosok itupun segera berubah menjadi awan, dan berkata, “Dengan ilmumu dan rahmat Allah engkau selamat dari tipuanku. Bagaimana kamu mengenaliku, padahal sudah ribuan orang aku jebak dan sesatkan dengan cara seperti ini?” Lalu Syeh menjawab, Allah tidak pernah mengubah hukumnya. Apa yang telah diharamkan tidak akan mungkin dihalalkan. (Kisah Nyata & Ajaran Para Sufi halaman 37-38, Mb.Rahimsyah AR, Penerbit Indah Surabaya, 1998)

Akan halnya kekuatan supranatural, para salik yang berkhidmat menekuni suluk-suluk tasawuf pun berpendapat, tidak peduli dengan hal itu, lantaran bukan itu tujuannya dalam berzikir mengingat Allah. Yang mereka harapkan adalah dapat bertawajuh, melepaskan kerinduan dengan memperoleh belaian kasih sayang Allah. Baik Hu Allah atau pun Allahu pada hematnya akan menghasilkan bunyi serta pemaknaan yang sama saja, jika kita zikirkan secara ritmis berulang-ulang.

Berzikir kepada Allah sesuai dengan firman Allah dalam Surat A Ra’du ayat 28, adalah untuk membersihkan hati. Allah juga telah berfirman dalam hadis qudsi,“Tidak dapat memuat dzat-Ku bumi dan langit-Ku, kecuali hati hamba-Ku yang mukmin, lunak dan tenang “(HR Abu Dawud ). Sungguh tepat ungkapan, hati yang bersih yang dimiliki orang-orang mukmin adalah istana Allah.

Baris ketiga dan keempat bait 30, menyebutkan tentang adanya dua malaikat yaitu Kirun di sebelah kanan kita dan Wana Kirun di sebelah kiri, membawa gada besi dan bertugas menolak semua perbuatan buruk pada diri kita. Nama malaikat Kirun tidak dijumpai di dalam Qur’an maupun hadis. Melihat tugasnya terhadap manusia, kemungkinan besar mereka adalan Qorin dari golongan setan yang senantiasa menggoda dan mengajak manusia untuk berbuat buruk, serta Qorin dari golongan malaikat yang mengajak pada kebajikan. Pada hemat penafsir, Sunan Kalijaga dalam kidung menyebut Qorin, tapi pada pendengaran masyarakat adalah Kirun.

Hal itu dikuatkan dengan baris kedelapan yang menguraikan tugas Qirun membuka hati manusia agar bisa mengenal Allah. Tenajul berasal dari kata tanazul yang berarti mengenal Allah melalui hati yang terbuka bersih. Sedangkan rijal memiliki beberapa makna yaitu lelaki, orang yang berani, tulus, taat azas, berani berkorban untuk berdakwah. Dalam kaitan bait ini tenajul rijal bisa dimaknai menjadi orang yang bisa mengenal Allah melalui hati yang bersih yang sudah terbuka untuk itu.

Semua hal baik yang diuraikan dalam bait-bait Kidung Kawedar, adalah berkat keutamaan kolhu. Kolhu adalah pengucapan orang Jawa terhadap Surat Qulhu atau Surat Al Ikhlas, sebagaimana juga menyebut Patekah untuk Al Fatihah.

Kandungan makna dan keutamaan Surat Al Ikhlas dari berbagai hadis dan riwayat, bisa disebut istimewa. Mari coba kita segarkan kembali pemahaman atas surat ini:

“Bismillaahir rahmaanir rahiim.
Qul huwallaahu ahad.
Allaahush shamad.
Lam yalid wa lam yuulad.
Wa lam yakul lahuu kufuwan ahad.

Artinya:

Dengan asma Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.
Katakanlah: Dialah Allah, Yang Maha Esa.
Allah tempat bergantung segala sesuatu
Dia tidak beranak dan tidak diperanakkan.
Dan tiada seorang pun yang setara dengan Dia.”

Surat Al Ikhlas menegaskan ketulusan pengakuan umat atas kemurnian keesaan dan kekuasaan Gusti Allah Swt, menolak segala macam kemusyrikan dan menerangkan tiada sesuatu pun yang menyamai-Nya. Semua pengakuan dan keyakinan atas keesaan beserta kekuasaan Tuhan itulah yang dinamai tauhid, yang merupakan induk atau inti sari dari ajaran Islam.

Buya Hamka dalam Tafsir Al Azhar yang termasyhur menyatakan, Surat ini turun karena pernah ada orang musyrikin yang meminta kepada Nabi untuk menjelaskan “ macam apa Tuhanmu itu, emaskah dia atau tembaga atau loyangkah?” (Juz XXIX – XXX halaman 303). Menurut hadis riwayat Tarmidzi, memang ada orang yang meminta kepada Nabi agar menguraikan nasab, yaitu keturunan atau sejarah Tuhannya. Maka datanglah surat yang tegas ini tentang Tuhan.

Ayat 1 dan ayat 2 menjelaskan keesaan, kesempurnaan serta kekuasaan Tuhan, sekaligus menegaskan bahwa yang tidak mempunyai kedua sifat tersebut bukan Tuhan, tidak pantas dan tidak bisa disebut Tuhan. Sedangkan ayat ketiga dan keempat menegaskan perbedaan Tuhan dengan manusia dan makhluknya. Dia sudah ada sebelum yang lain ada, bukan anak siapa-siapa dan tidak memiliki seorang anak pun. Begitu sempurnanya sifat dan kekuasaan Allah, sehingga tiada siapa pun dan tiada sesuatu pun menyamainya.

“Qul Huwallaahu Ahad, katakanlah: Dialah Allah, Yang Maha Esa”, adalah puncak ilmu tentang akidah. Oleh sebab itu pula ada sejumlah hadis yang menyatakan sabda Rasulullah bahwa nilai Surat Al Ikhlas sama dengan sepertiga Al Qur’an. Sejumlah hadis yang cukup sahih sebagaimana diuraikan antara lain dalam Tasir Al Azhar, mengungkapkan berbagai keutamaan surat ini, misalkan siapa yang membacanya akan disenangi Allah (Hadis Riwayat Bukhari), dan “wajib orang itu masuk surga” (Hadis Riwayat Tarmidzi).

Dengan keutamaan-keutamaan Surat Ikhlas tadi, maka tidak berlebihan apabila Sunan Kalijaga memberikan kabar gembira kepada siapa yang mempercayainya, ambalik lara roga. Kembali atau tertolak semua penyakit dan penderitaannya.

Allahumma aamiin.

2 Comments

Filed under Uncategorized

2 responses to “ZIKIR YA HU ALLAH dan KEUTAMAAN SURAT AL IKHLAS: Tafsir Suluk Kidung Kawedar Sunan Kalijaga (11)

  1. islamjawa

    Alhamdulillah, salam takzim.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s