KEUTAMAAN AYAT KURSI : Tafsir Suluk Kidung Kawedar Sunan Kalijaga (12)

Bait 31 :

Dudur molo teng ayatul kursi,
lungguh neng atining surah ngam-ngam,
pangleburan lara kabeh,
usuk-usuk ing luhur,
ingkang aran wesi ngalarik,
nenggih nabi Muhammad,
kang wekasan iku,
atunggu ratri lan siang,
kinedhepan ing tumuwuh padha asih,
tundhuk mendhak maring wang.

Artinya :

Penyangga bubungan (rumah) adalah ayat Kursi,
di dalam inti surat Al Anaam,
pelebur segala penyakit,
usuk (kasau) yang di atas,
yang disebut deretan jalur besi,
yaitu Kanjeng Nabi Muhammad,
nabi yang terakhir,
menjaga siang malam,
menghadap umat yang tumbuh rasa sayang,
tunduk merunduk padaku (Nabi Muhammad saw).

Seperti halnya bait sebelumnya, bait 31 ini juga sarat makna dan keutamaan. Namun demikian ada dua versi untuk kalimat pada baris pertama. Satu versi menyebut dudur molo sedangkan versi lain dudut molo. Kata dudur tidak ditemukan pada kamus bahasa Jawa Kuno maupun bahasa Jawa pergaulan sehari-hari pada umumnya, namun Raden Wiryapanitra dalam Serat Kidungan Kawedar terbitan Dahara Prize menyebut dudur molo sebagai kayu penyangga bubungan rumah. Sedangkan versi dudut molo, bisa berarti mencabut atau membersihkan (dudut) molo yang bisa berarti noda, penyakit atau dosa. Jika melihat baris keempat yang berbunyi usuk-usuk ing luhur, yaitu kayu kasau penyangga genting yang di atas, nampaknya yang benar adalah dudur molo. Disambung baris kelima yaitu ingkang aran wesi ngalarik, semakin memperkuat tafsir pemakaian tamzil bangunan rumah untuk menyebutkan kedudukan ayat Kursi dan Surat Al Anaam.

Meskipun terdapat dua versi, pemakaian ayat Kursi bisa diterima pada keduanya. Ia bisa saja diibaratkan balok penyangga bubungan rumah, tapi bisa juga sebagai pembersih penyakit dan noda kehidupan. Mari kita coba pahami ayat ke 255 Surat Al Baqarah ini:

“Allaahu laa ilaaha illaa huwal hayyul qayyuumu, laa ta’khudzuhuu sinatuw walaa nauum, lahuu maa fis samaawaati wa maa fil ardhi, man dzal ladzii yasyfa’u ‘indahuu illaa bi idznihii, ya’lamu maa baina aidiihim wa maa khalfahum, wa laa yuhiithuuna bi syai-im min ‘ilmihii illaa bi maa syaa-a, wasi’a kursiyyuhus samaawaati wal ardha, wa laa ya-uuduhuu hifzhuhumaa wa huwal ‘aliyyul ‘azhiim.”

Mengenai ayat ini, Prof.Dr.Quraish Shihab dalam Tafsir Al-Mishbah menulis sebagai berikut: “Allah (1); Tidak ada Tuhan (penguasa Mutlak dan yang berhak disembah) kecuali Dia (2); Yang Maha Hidup (3); Maha Kekal (4); yang terus-menerus mengurus makhluk-Nya (5); Dia (6); tidak dikalahkan oleh kantuk dan tidak tidur. Kepunyaan-Nya (7); apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi, tiada yang dapat memberi syafaat di sisi-Nya (8); tanpa izin-Nya (9); Dia (Allah) (10); mengetahui apa-apa yang di hadapan mereka dan di belakang mereka, dan mereka tidak mengetahui sesuatu dari ilmu-Nya (11); melainkan apa yang dikehendaki-Nya (12); Kursi (ilmu/kekuasaan)-Nya (13); meliputi langit dan bumi. Dia (14); tidak lelah memelihara keduanya dan Dia (15); Maha Tinggi (16); lagi Maha Besar (17).”

Ayat Kursi menurut Prof.Dr.Quraish Shihab adalah ayat yang paling agung di antara seluruh ayat-ayat Al Qur’an. Karena dalam ayat ini disebutkan tidak kurang enam belas kali, bahkan tujuh belas kali, kata yang menunjuk kepada Allah swt, Tuhan Yang Maha Esa.

Angka-angka di dalam tanda kurung yang tercantum pada terjemahan di atas, adalah kata-kata yang menunjuk kepada Allah swt. Jumlahnya, jika redaksi ayatnya dibaca, hanya enam belas. Tetapi sebenarnya berjumlah tujuh belas, sebab yang satu tersirat, yaitu pada kalimat : laa ya-uuduhuu hifzhuhumaa atau angka (15).

Pada bait 30 kita telah dikenalkan dengan bacaan zikir Ya Hu Allah dan Surat Al Ikhlas. Melalui ayat Kursi, bait ini memperkenalkan lebih jauh tentang siapa Allah yang dikidungkan sebelumnya itu. Dalam satu ayat yang terdiri dari lima puluh kata ini, terdapat tujuh belas kata yang menunjuk kepada Allah.

Dari ayat Kursi pula keluar ungkapan yang sangat terkenal di dalam bahasa Jawa yaitu Gusti Allah ora sare, Gusti Allah tidak tidur. Artinya Gusti Allah mengetahui apa saja, meskipun manusia mencoba menyembunyikan sesuatu terhadap manusia yang lain. Ungkapan ini lazim dikeluarkan oleh seseorang yang tidak berdaya terhadap perbuatan zalim orang lain kepada dirinya. Maknanya sangat luas, terutama untuk menenangkan dirinya sendiri dengan meyakinkan hatinya, bahwa Gusti Allah pasti akan menolongnya dengan menegakkan kebenaran dan keadilan.

Menurut para ahli tafsir Al Qur’an, yang dimaksudkan dengan “kursi Allah” dalam ayat ini ialah gambaran tentang kekuasaan-Nya Yang Maha Besar dan kerajaan-Nya Yang Maha Luas. Jadi bukanlah kursi seperti yang kita kenal sehari-hari.

Kitab Al Qur’an dan Tafsirnya yang disusun dan diterbitkan oleh Departemen Agama Republik Indonesia 1989/1990 menyatakan, dalam ayat Kursi ini Allah swt menjelaskan bahwa Dia adalah Tuhan Yang Maha Esa, dan tiada Tuhan selain Dia, hanya Dia sajalah yang berhak disembah. Adapun tuhan-tuhan yang lain yang disembah oleh sebagian umat manusia dengan alasan yang tidak benar, memang banyak jumlahnya. Akan tetapi Tuhan yang sebenarnya hanyalah Allah semata-mata. Hanya Dialah yang hidup abadi, yang ada dengan sendiri-Nya, dan Dia pulalah yang selalu mengatur makhluk-Nya tanpa ada kelalaian sedikit pun.

Kemudian ditegaskan lagi, bahwa Allah swt. tidak pernah mengantuk. Orang yang berada dalam keadaan mengantuk tentu hilang kesadarannya, sehingga tidak akan dapat melakukan perkerjaannya dengan baik, padahal Allah swt. senantiasa mengurus dan memelihara makhluk-Nya dengan baik, tidak pernah kehilangan kesadaran atau pun lalai. Karena Allah tidak pernah mengantuk, sudah tentu Ia tak pernah tidur, karena mengantuk adalah permulaan dari proses tidur. Dan orang yang tidur akan lebih banyak kehilangan kesadaran dibanding orang yang mengantuk.

Sifat Allah yang lain yang disebutkan dalam ayat ini ialah Dia yang mempunyai kekuasaan dan yang memiliki apa yang ada di langit dan di bumi. Dialah yang mempunyai kekuatan dan kekuasaan yang tak terbatas, sehingga Dia dapat berbuat apa saja yang dikehendakinya. Semuanya ada ada dalam kekuasaan-Nya, sehingga tidak ada sesuatu pun dari makhluknya meski pun nabi-nabi dan para malaikat dapat memberikan pertolongan kecuali dengan izin-Nya, apalagi patung-patung yang oleh orang-orang kafir dianggap sebagai penolong mereka.

Tentang ayat Kursi, Buya Hamka dalam Tafsir Al Azhar menulis, maka kalau banyak kita dengar keterangan para ahli agama yang selalu menganjurkan membaca ayat ini, maksudnya adalah untuk meningkatkan ibadah kita, dengan langsung menghadapkan jiwa raga kepada-Nya, tanpa perlu memakai syafaat dan perantaraan. Memang berpahala siapa yang membaca dan memahami maksudnya, sebab di dalamnya tersimpul tauhid yang sedalam-dalamnya. Adapun kalau hanya dibaca-baca saja, untuk obat sakit kepala, untuk menjadi jimat penangkal bahaya, maka samalah artinya dengan kata pepatah: “Asing biduk kalang diletak”. Artinya menjawab sesuatu hal yang tidak ditanyakan.

Sementara itu Prof.Dr.Quraish Shihab berpendapat, pengulangan tujuh belas kata yang menunjuk nama Allah, bila dicamkan dan dihayati akan memberi kekuatan batin tersendiri bagi pembacanya. Ibrahim Ibnu Umar al-Biqa’i menurutnya, memberi penafsiran “supra rasional” menyangkut ayat Kursi. Pada hemat ulama ini dalam tafsirnya, Nazhm ad-Durar, “Lima puluh kata adalah lambang dari lima puluh kali shalat yang pernah diwajibkan Allah kepada Nabi Muhammad saw. ketika beliau berada di tempat yang maha tinggi dan saat dimi’rajkan. Lima puluh kali itu diringankan menjadi lima kali dengan tujuh belas rekaat sehari semalam. Di sisi lain, perjalanan menuju Allah ditempuh oleh malaikat dalam lima puluh ribu tahun menurut perhitungan manusia ( Surat Al Ma’arij 70:4)” Dari sinilah pakar tafsir itu mengaitkan bilangan ayat Kursi dengan perlindungan Allah. “Kalau di hadirat Allah gangguan tidak mungkin akan menyentuh seseorang, dan setan tidak akan mampu mendekat, bahkan akan menjauh, maka menghadirkan Allah dalam benak dan jiwa melalui bacaan ayat Kursi, yang sifatnya seperti diuraikan di atas, dapat menghindarkan manusia dari gangguan setan, serta memberinya perlindungan dari segala macam yang ditakutinya.

Demikian penjelasan ulama ahli tafsir al-Biqa’i, yang sekaligus penulis jadikan penegas atas hikmah dan keutamaan sebagaimana yang diajarkan Sunan Kalijaga melalui Kidung Kawedar.

Setelah mengajarkan ayat Kursi, baris kedua sampai dengan keempat bait 31 Kidung Kawedar mengajarkan Surah Ngam-ngam yang tiada lain adalah Surat Al An’aam. Surat keenam dalam Al Qur’an yang arti katanya adalah binatang ternak ini, dinamakan seperti itu karena di dalamnya disebut kata “an ‘aam” yang berhubungan dengan adat istiadat kaum musyrikin, yang mempercayai bahwa binatang ternak dapat dipergunakan buat mendekatkan diri kepada tuhan mereka.

Kitab Al Qur’an dan Terjemahannya, yang diterbitkan oleh Departemen Agama Republik Indonesia 1990/1991 menyatakan, kandungan Surat Al An’aam terdiri dari empat pokok masalah yaitu:

Pertama: keimanan, memuat bukti-bukti keesaan Allah serta kesempurnaan sifat-sifat-Nya; kebenaran kenabian Nabi Muhammad saw; penyaksian Allah atas kenabian Ibrahim, Ishaq, Ya’qub, Nuh, Daud, Sulaiman, Ayyub, Yusuf, Musa, Harun, Zakaria, Yahya, Isa, Ilyas, Alyasa’, Yunus dan Luth. Juga penegasan tentang risalah, wahyu serta hari pembalasan dan kebangkitan, kepalsuan kepercayaan orang-orang musyrik dan keingkaran mereka terhadap hari kiamat.

Kedua: hukum-hukum, berisi larangan mengikuti adat-istiadat yang dibuat-buat oleh kaum Jahiliyah; makanan yang halal dan yang haram; wasiat-wasiat Al Qur’an, tentang tauhid, keadilan dan hukum-hukum yang lain. Juga menegaskan larangan mencaci-maki berhala orang musyrik demi mencegah agar mereka tidak membalas dengan mencaci-maki Allah.

Ketiga: kisah-kisah, menceritakan kisah umat-umat yang menentang para rasul; kisah pengalaman Nabi Muhammad saw. dan para nabi pada umumnya; serta cerita Nabi Ibrahim as. membimbing kaumnya tentang tauhid.

Keempat: lain-lain, memuat sikap kepala batu kaum musyrikin, cara seorang nabi memimpin umatnya; bidang-bidang kerasulan dan tugas para rasul; tantangan kaum musyrikin untuk melemahkan rasul; kepercayaan orang-orang musyrik terhadap jin, setan dan malaikat; beberapa prinsip keagamaan dan kemasyarakatan serta nilai hidup dunia.

Begitu tinggi kandungan ajaran Surah Ngam-ngam (Al An’aam) dan relevansinya dengan keadaan masyarakat Jawa pada saat itu, sehingga Sunan Kalijaga mengajarkannya sesudah Surat Al Ikhlas dan ayat Kursi. Apa yang diungkapkan semenjak bait pertama, menjadi gamblang setelah mempelajari dan memahami zikir Ya Hu Allah, Surat Al Ikhlas, ayat Kursi dan Surat Al An’aam.

Dari ajaran berzikir Ya Hu Allah itu pula, bersemai ajaran shalat daim pada masyarakat Islam di Jawa, yaitu zikir yang tidak pernah berhenti, bahkan terus menerus menyertai tarikan nafas, yang iramanya dilatih sesuai kata hati (Pengembaraan Batin Orang Jawa di Lorong Kehidupan halaman 118). Shalat daim dimaksudkan buat melatih agar kalbu kita senantiasa dipenuhi dengan ingatan terhadap Gusti Allah, sehingga selanjutnya pikiran dan perbuatan kita selalu mengikuti jalan yang diridhoi-Nya, selalu dalam ketaatan dan bimbingan-Nya. Aamiin.

Baris keenam sampai dengan kesepuluh bait 31, adalah penegasan atas kenabian Kanjeng Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa salam, yang sudah diungkapkan dalam Surat Al An’aam, beserta segala keagungan dan keutamaannya.

Shollu ‘ala Nabi,
Ya Nabi salam alayka,
Ya Rasul salam alayka,
Ya Habib salam alayka.

2 Comments

Filed under Uncategorized

2 responses to “KEUTAMAAN AYAT KURSI : Tafsir Suluk Kidung Kawedar Sunan Kalijaga (12)

  1. gunawansumo@gmail.com

    Matur nuwun Pak Wiek. Salam. Sent from my BlackBerry 10 smartphone on the Telkomsel network. From: B.Wiwoho : TASAWUF JAWASent: Jumat, 12 Desember 2014 10.48To: gunawansumo@gmail.comReply To: B.Wiwoho : TASAWUF JAWASubject: [New post] KEUTAMAAN AYAT KURSI : Tafsir Suluk Kidung Kawedar Sunan Kalijaga (12)

    a:hover { color: red; } a { text-decoration: none; color: #0088cc; } a.primaryactionlink:link, a.primaryactionlink:visited { background-color: #2585B2; color: #fff; } a.primaryactionlink:hover, a.primaryactionlink:active { background-color: #11729E !important; color: #fff !important; }

    /* @media only screen and (max-device-width: 480px) { .post { min-width: 700px !important; } } */ WordPress.com

    islamjawa posted: “Bait 31 :

    Dudur molo teng ayatul kursi, lungguh neng atining surah ngam-ngam, pangleburan lara kabeh, usuk-usuk ing luhur, ingkang aran wesi ngalarik, nenggih nabi Muhammad, kang wekasan iku, atunggu ratri lan siang, kinedhepan ing tumuwuh padh”

  2. islamjawa

    Sami-sami Kanjeng, semoga berkenan dan berkah. Aamiin. Salam takzim kami.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s