FILOSOFI KEHIDUPAN ORANG JAWA: Kandungan Makna Suluk Kidung Kawedar (2)

Memahami Tujuan Hidup.

Bait 9 Kidung, masih menunjukkan betapa besar fadilah serta hikmah dari Kidung Kawedar atau Kidung Rumekso Ing Wengi. Begitu besar manfaatnya, mulai dari untuk urusan bercocok tanam misalkan padi, sampai dengan hendak berangkat ke medan perang. Semuanya bisa diatasi dengan daya perbawa atau hikmah dan fadilah Kidung yang tiada lain merupakan berkah dari Gusti Allah Yang Maha Kuasa.

Bait 10 adalah bait yang tergolong sulit menafsirkannya, bisa banyak tafsir. Bait ini penuh tamzil, apalagi jika di benak kita sudah memiliki tujuan tersendiri tanpa bisa mengosongkannya. Apabila semata-mata menelaah berdasarkan huruf dan kata-kata, bisa jadi itu menggambarkan pengembaraan Sunan Kalijaga semenjak masih sebagai remaja yang nakal luar biasa di daerah Tuban, Jawa Timur, sampai disadarkan oleh saudaranya yakni Sunan Bonang sehingga kemudian berguru kepadanya, dan selanjutnya beruzlah bertahun-tahun di tengah hutan di pinggir sungai (kali) di daerah Cirebon, Jawa Barat, sehingga diberi sebutan Sang Penjaga Kali atau Kalijaga. Kanjeng Sunan Kali yang nama aslinya Raden Mas Said dan merupakan putera Adipati Tuban, harus banyak berjalan naik-turun gunung dengan segala daya kemampuannya, mencari jati diri dan Tuhannya. Di banyak tempat ia memiliki banyak nama panggilan, sebagaimana kebiasaan rakyat jelata di Jawa memanggil nama seseorang berdasarkan penampakan fisik, perilaku dan atau kelebihannya. Tentu saja itu semua adalah nama yang semu, nama yang samar atau samur, terutama guna menyamarkan dirinya agar tidak dikultuskan masyarakat.

Bait tersebut dimaknai sebagai penggambaran hubungan Gusti Allah dan manusia tatkala masih dalam alam ruh, serta gambaran tentang singgasana dan kediaman Allah di Baitul Makmur, Baitul Muharram dan Baitul Muqaddas.

Kembali pada pokok bahasan yaitu Kidung Kawedar, manusia yang masih berupa ruh dan berada di alam ruh digambarkan kekuatan dan perjalanannya sampai ditiupkan ke rahim ibu. Kidung Kawedar juga bisa disebut Kidung Hartati, yaitu Kidung yang memiliki karsa yang utama. Karsa adalah daya kekuatan jiwa yang mendorong makhluk hidup untuk berkehendak. Ruh ini dianugerahi arta daya, yakni kebijaksanaan dan kekuatan batin termasuk rasa belas kasih.

Setelah turun ke bumi menjadi manusia, Gusti Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, membekali manusia dengan hakikat kediamannya yaitu hakikat Baitul Makmur di kepala dan otak, Baitul Muharram di dada dan kalbu, serta Baitul Muqaddas di dalam kemaluan berupa inti sari benih kehidupan.

Sahabatku, bait 11 mengajarkan kepada manusia untuk memahami diri dan tujuan hidupnya. Siapa yang bisa memahami diri dalam bertindak, bisa tepa slira atau mencoba terlebih dahulu menerapkan pada dirinya sendiri terutama apabila mau berbuat yang kurang baik terhadap orang lain, ibarat orang yang tahu kebijaksanaan dan kekuatan hidup. Orang yang tahu tujuan perjalanan kehidupannya, ke mana dan mengapa Allah menurunkan ke dunia, berarti bagaikan orang kaya yang rumahnya berpagar besi. Di masa lalu, hanya Raja yang mampu memagari istananya dengan besi atau tembok. Rakyat kebanyakan hanya bisa membuat pagar hidup dari tetumbuhan yang hidup subur atau pagar kayu dan bambu yang dipotong-potong ditata rapi. Orang yang tahu tujuan hidupnya, akan dijaga oleh orang sejagad. Pembahasan perihal tujuan hidup ini insya Allah kita lanjutkan di seri berikutnya.

Bait kesebelas ini kembali ditutup dengan fadilah dan hikmah bagi siapa yang melantunkan dan menghafalnya. Jika dibaca tamat dalam semalam maka yang membacanya akan dihindarkan dari perbuatan jelek, baik dirinya sendiri yang tidak akan melakukan perbuatan-perbuatan buruk atapun perbuatan buruk dari orang lain kepadanya.

Di bagian atas sudah kita singgung versi lain yang menyatakan membaca selama sepuluh malam. Masalah angka dan hitungan juga disinggung dalam bait 7 baris kelima “bacalah 25 kali dengan lembut”, serta bait 8 baris ketiga “selama 40 hari saja.” Pada hemat serta pengalaman penafsir, hitungan angka seperti halnya kita sering berzikir, sangat bermanfaat guna melatih indera pendengaran dan batin kita. Tetapi yang lebih penting lagi adalah memahami serta menghayati makna dan hakikat sesuatu bacaan zikir di dalam pikiran dan perbuatan kita. Itu bisa terjadi jika kita sudah bisa melaksanakan zikir kalbu, yaitu kalbu kita senantiasa mengingat Allah, mengikuti denyut jantung serta tarikan nafas kita. Semoga.

Keutamaan Orang Yang Memahami Tujuan Hidup.

Filosofi hakikat dan tujuan hidup, sangat populer dan menjadi panduan kehidupan bagi orang-orang Islam Kejawen. Filosofi ini dinamai “sangkan paraning dumadi”, yang berarti asal mula dan tujuan dijadikannya manusia atau kehidupan manusia. Filosofi ini menggambarkan perjalanan kehidupan manusia sedari masih di dalam alam ruh sampai dengan kehidupan di akhirat kelak.

Ungkapan yang menyatakan manusia hidup ibarat sekedar singgah untuk minum, amat populer bagi orang Jawa. Sama populernya dengan ungkapan, Gusti Allah ora sare atau Gusti Allah tidak tidur. Yang pertama berasal dari sabda Kanjeng Nabi Muhammad, sedangkan yang kedua berasal dari Al Qur’an ayat Kursi. Karena hanya sekedar singgah minum dalam suatu perjalanan seorang musafir, maka waktu untuk singgah adalah pendek. Waktu yang pendek ini harus digunakan sebaik-baiknya, serta diisi dengan kegiatan dan hal-hal yang bermanfaat sebagai bekal demi sukses dan tercapainya maksud dan tujuan perjalanan.

Manusia akan bisa menghayati tujuan serta hakikat kehidupan apabila selalu ingat serta menyatukan segala potensi dirinya, terutama karsa utamanya dengan Sang Maha Pencipta. Manusia yang seperti itu akan selalu dijaga dan disayang Tuhan, sehingga keinginan-keinginannya mudah dikabulkan. Untuk bisa memahami tujuan serta hakikat hidup, tidaklah harus bisa membaca dan menuliskan Kidung Kawedar ini, namun yang paling penting adalah menyimpan di hati nuraninya pemahaman dan makna Kidung, dan selanjutnya, ini justru yang terpenting, mengamalkan dalam kehidupan (bait 12 dan 13).

Bait 13 adalah bait yang banyak menggunakan kata-kata Jawa Kuno dan Jawa Tengahan yang multi tafsir, misalkan muja semedi, sasaji ing segara, dadya ngumbareku, hartati dan sekar jempina. Muja semedi dalam kidung ini tidaklah berarti bersemedi dalam pemahaman Syiwa – Buddha, melainkan mengingat dan berdoa kepada Tuhan. Sedangkan yang dimaksud dengan sasaji ing segara adalah menyiapkan diri sebelum memasuki arena kehidupan yang amat sangat luas yang digambarkan dengan lautan.

Lautan bagi orang Jawa adalah sesuatu yang tanpa batas, yang mampu menelan serta menampung apa saja, mulai dari makhluk-makhluk yang hanya bisa dilihat dengan mikroskop sampai dengan ikan paus dan kapal-kapal raksasa. Begitu pula lautan kehidupan, bisa menampung hawa nafsu yang tak terbatas besarnya, termasuk segala kebaikan dan keburukan.
Demikianlah, meskipun Tuhan itu tidak nampak. Tetapi bila manusia bisa senantiasa ingat dan berdoa kepada-Nya, sadar serta menyiapkan dirinya dengan baik dalam kehidupan yang membentang luas, maka ia bisa menyatu dengan Tuhan, menyatukan hakikat nyanyian kehidupannya ke dalam karsa yang utama. Dalam situasi seperti itu ia bisa disebut bunga pengobatan, yang langsung bisa mengobati segala penyakit kehidupannya, sehingga tidak akan pernah merasa sakit, tidak akan pernah merasa susah dan menderita.

Bait 14 masih melanjutkan keutamaan-keutamaan yang diuraikan di bait 13. Manusia memiliki pasangan setia, yang dalam kidung disebut penjari. Penulis masih belum bisa menemukan makna yang tepat untuk kata penjari. Kata penjari atau panjari akan ditemukan lagi pada bait 16. Ki Wiryapanitra menyebut penjari itu sebagai rahsa atau inti sari ruh.

Rahsa merupakan pasangan setia manusia, yang senantiasa menyertai tatkala hidup maupun mati. Rahsa itu sempurna dan bisa disebut pula sebagai sukma nan indah-mulia, yang luar biasa, yang istimewa, yang muda dan tidak bisa menjadi tua, yang berupa cahaya dari cahaya yang bersemayam di karsa utama manusia.

Rahsa atau sirr juga berarti rahasia. Dalam kitab Wirid Hidayat Jati terbitan Dahara Prize, rahsa diartikan sebagai rahasia. Pada wejangan ketiga halaman 20 – 21 disebutkan, “Sajatine manungsa iku rahsaningsun. Lan Ingsun iki rahsaning manungsa. (Sesungguhnya manusia itu adalah rahasia-Ku. Dan Aku ini rahasia manusia). Ini sesuai bunyi Surat Al Israa ayat 85, “Dan mereka bertanya kepadamu tentang ruh. Katakanlah, ‘ruh itu urusan Rab-ku, dan tidaklah kamu diberi ilmu melainkan hanya sedikit’.

Maasyaa Allaah laa quwwata illaa billaah.

4 Comments

Filed under Uncategorized

4 responses to “FILOSOFI KEHIDUPAN ORANG JAWA: Kandungan Makna Suluk Kidung Kawedar (2)

  1. Subhanallah
    Alhamdulillah
    Wa la ilaha ilallah . . . .

    Salam hormat kepada pak Bambang Wiwoho,

    Beruntunglah saya, bahwa saya bisa memiliki akses sedekat2nya pada pak Wiwoho, sosok Jawa yang sangat islami yang memiliki kekayaan ilmu yang sulit dicari padanannya. Terlebih saya juga mendapat privilege untuk mendapatkan kiriman forward melalui email dan/atau whatsapp atas setiap karya tulisnya, matur nuwun pak.

    Kidung Kawedar adalah karya fenomenal dari Sunan Kalijaga. Oleh pak Wiwoho kidung ini telah diterjemahkan bait demi bait, dan bersamaan dengan terjemahan juga diuraikan penjelasannya yang sangat lengkap dan renyah, aktuil dan enak dibaca. Memang dunia jurnalisme adalah dunianya pak Wiwoho, dan ditambah dengan landasan Islam yang kaffah menjadikan setiap uraiannya bagaikan hidangan yang tidak bosan2nya untuk dilahapnya.

    Secara keseluruhannya, Kidung Kawedar adalah merupakan warisan karya sastra sekaligus karya filosofis yang bisa disejajarkan dengan karya2 filsuf dari Yunani atau negara2 Barat lainnya.

    Tidak pernah kita bayangkan bahwa sekitar 5 abad yang lalu, di tanah Jawa yang pada waktu itu menurut ukuran kemajuan bangsa2 di Eropa adalah merupakan daerah gelap atau terbelakang dari sisi budaya dan perekonomiannya, dengan demikian karya Kidung Kawedar ini sekaligus merupakan bantahan atas fakta2 sejarah yang belum sepenuhnya bisa mendokumentasikan semua kiprah dan geliat masyarakat Jawa (Indonesia) di periode abad 15 tersebut.

    Ibarat sebuah kearifan lokal, Kidung Kawedar ini merupakan kearifan yang ‘menyembul’ mendahului zamannya. Dikala diwilayah lain di kawasan Nusantara belum terdata literatur maupun transkrip formalnya, di kawasan pantai utara Jawa telah hadir sosok Sunan Kalijaga yang mampu memberikan suluh atau lentera yang menerangi masyarakat sekitarnya. Berbagai nasehat dan petuah, berbagai pitutur dan tatanan, berbagai ajaran akidah serta syariat Islam, semuanya dirangkum dalam bait2 yang rapi dan enak dilantunkannya.

    Betapa arifnya Kanjeng Sunan Kalijaga kala itu, ibarat sebuah sumber yang memancarkan aura nya, tentulah tidak luput dari benturan2 terhadap tatanan lama yang sudah mapan yang juga merupakan pengejawantahan penguasa pada waktu itu, yaitu sisa2 kekuasaan Majapahit dan kekuatan baru Islam yang juga membutuhkan dukungan dari masyarakat.

    Di dalam pergumulan politik modern, munculnya sosok pahlawan anyar yang mengatasnamakan rakyat (dan sejatinya mungkin juga betul2 memperjuangkan kepentingan rakyat), selalu berujung dengan kehancuran karena dilibas oleh kekuatan status quo yang memang tidak ingin adanya perubahan. Banyak sudah tokoh idealis yang lumat sebelum bisa melihat hasil perjuangannya. Bahkan, beberapa tokoh ‘idealis genius’ pun banyak yang dihabisi sebelum berhasil menyelesaikan misi perubahan yang amanah sesuai dengan ajaran2 islami. Sebut saja tiga sahabat Rasulullah Saw yang juga terbunuh saat masih memegang tampuk kepemimpinannya. Konon, Syeh Siti Jenar yang merupakan salah seorang dari Wali Sanga pun harus meregang nyawa karena mengajarkan ilmu hikmah tingkat tinggi yang tidak bisa difahami oleh masyarakat kebanyakan.

    Namun, Sunan Kalijaga dengan luwesnya meliuk-liuk diantara para santri dan pengikutnya, diantara para penguasa dan aparatnya, dan tetap melantunkan Kidung Kawedar yang berbait-bait hingga mampu memberikan ‘tombo’ bagi masyarakat Jawa yang secara struktural organik adalah masyarakat agraris. Salah satu unsur kuat yang dianut masyarakat agraris adalah perencanaan panjang dalam menjalani kehidupan. Ada masa ndeder, ada masa tandur, ada masa matun dan ada masa panen. Semua sudah ada pakem nya, dan itu adalah kehidupan yang nyaman, tenteram, ora grusa-grusu. Tidak ada orang menjadi kaya dengan cara kagetan dan lain sebagainya.

    Kini, kita yang hidup di zaman “super edan” (karena lebih edan dari pitedah nya Kanjeng Sunan maupun Ki Ronggowarsito), yang serba “to kill or to be killed”, yang sebagian mengeluh “Hari ini makan atau tidak?” namun ada sebagian yang juga mengeluh “Hari ini makan siapa?”, betapa nikmatnya di saat zaman super edan ini kita masih sempat menikmati uraian Kidung Kawedar yang penuh dengan makna dan di hadirkan oleh tokoh yang sangat Njawani.

    Jawakanlah Jawaku se Jawa-Jawanya, kalau belum Jawa ya Jawakan saja. (Jawakno wae Jowoku sak Jowo-Jowone, yen durung Jowo yo di Jawakke wae).

    Wassalam,

  2. islamjawa

    Mas Eddy Pramono yang dikasihi Allah, alhamdulillah. komentarnya membuat hati saya berbinar-binar sekaligus malu. Sungguh, komentar panjenengan makin meneguhkan keyakinan pada metode dakwah Njeng Sunan yang tepatguna dan berdayaguna pada masa itu. Semoga Gusti Allah Yang Maha Kuasa meridhoi, merahmati dan memberkahi usaha kita ini, menganaugerahi jalan untuk menerbitkan dan mensyiarkannya, serta menjadikannya bekal ibadah dan amal soleh kita. Aamin. wswrwb.

  3. Assalamualaikum wr wb Matur nuwun sanget pak Wiwoho. Saya mendapat banyak pitutur dari karya-karya bapak yang dibuat secara berseri dengan mengambil narasumber Kidung dari Kanjeng Sunan Kalijaga. Bahkan saya pun merasa ke pontal-pontal mengikuti tulisan2 bapak di karenakan sangat berat bobotnya. Belum yang satu dicerna dengan baik, eee . . .sudh muncul seri berikutnya yang lebih mendalam dan semakin mendalam.

    Dengan bergaul dengan bapak, saya menjadi semakin Jawa dan yang lebih penting adalah menjadi semakin Islam, alhamdulillah. Wassalamualaikum wr wb

  4. islamjawa

    Subhanallaah walhamdulillaah. Salam takzim mas Eddy>

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s