PERAYAAN VALENTINE, MUSIK JIWA KAPITALISME GLOBAL YANG HARUS DIWASPADA

Hari Valentine Itu Peringatan Untuk Santo Velentinus.
Tulisan ini adalah tulisan lama yang berjudul “Berhala Baru, Gaya Hidup Hedonarsis,” yang kami angkat kembali dengan judul baru, terkait dengan perayaan Hari Velentine, guna memberikan gambaran apa yang ada dibalik gegap gempitanya perayaan tersebut, agar kita tidak ikut mabuk menari mengikuti  gendang orang lain. Semoga Gusti Allah Yang Maha Kuasa, senantiasa menganugerahkan hidayahNya kepada kita bangsa Indonesia. Aamiin.

Gaya hidup hedonis dan narsis (hedonarsis) yang banal, yang memuja pesona dunia, harus kita akui tengah melanda masyarakat kita. Marilah coba kita kaji beberapa peristiwa yang sempat menjadi topik hangat pemberitaan media massa. Rita misalkan, bukan nama sebenarnya tapi dari peristiwa yang sungguh-sungguh terjadi, adalah seorang mahasiswi berusia 19 tahun. Siang itu, bukannya di perpustakaan untuk belajar, ia nongkrong di sebuah kafe di Plaza Senayan, Jakarta. Tak jauh dari mejanya, duduk beberapa orang, salah satu di antaranya pengusaha tajir bernama Abu Fatah, juga nama yang disamarkan.

Singkat kata mereka berkenalan dan berjanji malam hari bertemu di sebuah hotel berbintang lima.Tapi siapa menyangka malam itu di kamar hotelnya, mereka digerebek dan ditangkap petugas-petugas Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Rupanya Abu Fatah sedang menjadi target pengawasan atas dugaan korupsi berjamaah, yang dipantau ketat oleh KPK.

Begitulah jika Gusti Allah sudah membiarkan tabir penutup aib hamba-hamba-Nya tersingkap.Rita adalah seorang mahasiswi muda beliau dari keluarga sederhana, yang tak menyadari kemampuan ekonomi serta statusnya sebagai wanita dan mahasiswa, bergaya hidup bak orang kaya. Sementara Abu Fatah, adalah putera seorang ulama, alumni pondok pesantren dan bagian dari jaringan persahabatan tokoh-tokoh partai yang berlabel Islam, yang sedang hidup bergelimang pesona dunia.

Contoh kisah yang kedua, mahasiswa Ridho Ramanda, juga nama yang disamarkan, adalah seorang putera pejabat tinggi ternama, yang mengalami kecelakaan di jalan tol Jagorawi, pagi-pagi sekali pukul 05.45, setelah semalaman bergadang merayakan pesta tahun baru 2013 Masehi, yang tidak ada di dalam kamus kegiatan islami. Lantaran mengantuk, Ridho yang berusia 22 tahun ini menabrak mobil lain sehingga menewaskan dua orang dan mencederai tiga orang lainnya.

Kasus yang menyerupai Ridho, dialami oleh Abu Jamal, pun nama yang disamarkan, pelajar di bawah umur dengan usia 13 tahun yang ngebut dengan mobilnya di jalan tol pukul 00.45 sehingga mencelakai kendaraan lain dan merenggut tujuh nyawa manusia serta melukai sejumlah orang.

Ketiga contoh tadi, menggambarkan betapa gaya hidup generasi muda kita telah melenceng dari apa yang diajarkan oleh Islam dan Kanjeng Nabi Muhammad Saw. Bukan hanya pada keluarga mereka, tapi harus kita akui bahwa kekuasaan, kekayaan, harta benda dan pesona dunia telah menyilaukan matahati kehidupan banyak rumahtangga masyarakat kita dewasa ini. Padahal kita yakin mereka adalah keluarga-keluarga muslim yang pasti sering mengumandangkan tasbih, menyebut asma Allah nan Maha Suci serta shalawat nabi.

Namun memang tidak mudah menangkap energi api ajaran islami dibanding menangkap abunya. Sebagaimana dikisahkan perawi hadis Bukhari, suatu hari tatkala Baginda Rasul sedang berwudhu, para sahabat berebut menampung limbah atau musta’mal air tetesan wudhu yang mengalir dari sela-sela jari tangan Rasulullah. Para sahabat tersebut memanfaatkan air limbah itu buat membasuh muka masing-masing.

Kanjeng Nabi terkejut melihat air limbah wudhunya dipakai mambasuh muka para sahabat yang bersih itu.Beliau bertanya, “Wahai sahabat-sahabatku, apa yang sedang kalian lakukan? Mengapa air kotor bekas wudhuku kalian pakai membasuih muka?” Salah seorang menjawab, “Kami sedang menunjukkan rasa cinta kami kepadamu ya Rasulullah.” Kanjeng Nabi menggeleng dan bersabda, “ Tidak para sahabatku tercinta, bukan seperti itu cara kalian membuktikan cinta kepadaku. Jika memang kalian bena-benar mencintaiku, maka patuhilah ajaranku, dan kerjakan sunahku.”Beliau kemudian menegaskan, “Barangsiapa mencintai sunahku, berarti dia mencintaiku.Dan barangsiapa mencintaiku, pasti akan bersamaku di dalam surga.”

Sahabatku, kita sering secara gegap gempita merayakan hari-hari besar Islam, memperingati maulud atau hari kelahiran Nabi Muhammad Saw, bahkan mengumandangkan atau membaca shalawat setiap hari.Tentu itu semua bagus. Namun akan jauh lebih bagus lagi dan bermakna apabila kita bisa memetik hikmah dengan meneladani perilaku kehidupan mulianya, serta mentaati sabda, hadis dan sunahnya. Lebih jauh lagi, jangan sampai mulut kita mengumandangkan shalawat dan jari kita menghitungnya ratusan, bahkan ribuan, tapi perilaku kita menyimpang dan bertentangan dengan hadis serta sunahnya.

Tiga contoh peristiwa di atas, jelas-jelas menggambarkan betapa pragmatisme dan hedonarsis telah mempengaruhi kehidupan generasi muda penerus masa depan bangsa dan umat. Mereka hanyalah beberapa titik pada puncak gunung es berhala-berhala modern, penghamba pesona dunia, sebagai akibat bergesernya filosofi dan tata nilai kehidupan dari idealisme dan akhlak mulia, ke pragmatisme-materialisme yang berkembang semakin banal.Sebagian generasi muda kita telah menganut slogan kehidupan, “Kecil dimanja, muda foya-foya, tua kaya raya dan mati masuk surga.Hidup sekali, mati sudah pasti, karena itu nikmatilah dunia selagi kita hidup.”

Pergeseran filosofi dan tata nilai kehidupan ini, memang dirancang secara sengaja oleh Kapitalisme Global, yang secara sadar dan terpola, membentuk suatu tata dunia baru dengan gaya hidup masyarakat yang menekankan pentingnya kekuatan modal, ilmu dan teknologi, yang selanjutnya menghasilkan aneka produk gaya hidup moderen dalam segala bentuknya, baik yang berupa jasa maupun barang.

Dengan dukungan media massa yang berbasis teknologi canggih, mereka menggalang citra gaya hidup yang menekankan pada kebebasan individu, kepentingan diri dan pasar bebas. Sebuah contoh gaya hidup yang tidak islami namun bisa marak di Indonesia dengan penduduk mayoritas beragama Islam ini, adalah perayaan Hari Kasih Sayang setiap tanggal 14 Pebruari, yang dikenal sebagai Hari Valentine.Penggalangan citra super luar biasa ini, ditandai aneka produk dengan ciri warna dasar merah jambu, gambar simbol hati, bunga mawar dan coklat. Padahal hari Valentine adalah hari peringatan Gereja Katholik Roma untuk martir Santo Valentinus, yang digagas dan dicetuskan oleh Paus Gelacius I pada tahun 496, buat menandingi Hari Raya Lupercalia yang dilangsungkan setiap 15 Pebruari oleh Bangsa Romawi Kuno. Karena itu, untuk apa kita bangsa Indonesia terutama umat Islam harus ikut-ikutan merayakannya? Tentu bagi yang beragama Kristen Katholik silahkan saja, asalkan tidak sampai terjebak ikut mendendangkan musik jiwa Kapitalisme Global. Mengapa?

Kapitalisme Global telah menciptakan musik jiwa yang mampu membuat nilai tukar sebagai tujuan utama, dengan mengabaikan nilai-nilai kebenaran termasuk tradisi luhur bangsa-bangsa dan agama. Musik jiwa ini menurut Herbert Marcuse (One Dimensional Man,dalam berbagai tulisan di internet antara lain ungumerahmuda.blogspot.com, Abdul Muin Angkat blog dan Manusia Satu Dimensi, Yayasan Bentang Budaya, Yogyakarta 2000 ) bahkan telah menjadi sumber kekuasaan baru pasca Perang Dunia II, yaitu kekuasaan selera dan gaya hidup, yang dikemas dengan penggalangan citra, iklan dan promosi secara besar-besaran. Ia menyerbu ke segenap pelosok dunia, termasuk Indonesia, yang secara kebetulan sedang mengalami lompatan-lompatan budaya.

Kapitalisme Global dengan dalih rasionalitas, efektivitas dan produktivitas, menawarkan kebebasan berfikir, berbicara dan berkesadaran, telah menggilas nalar, budi luhur dan kearifan-kearifan tradisional, selanjutnya memobilisasi masyarakat secara total.

Kapitalisme Global telah melancakan perang semesta, sebagaimana perang yang paling dikuatirkan Rasulullah Saw, yaitu bukan perang fisik seperti Perang Badar, melainkan perang di wilayah batin dan jiwa manusia. Perang semesta merupakan perang moderen yang paling dahsyat, yang bukan lagi ditentukan oleh benteng-benteng batu nan kokoh serta meriam-meriam, melainkan perang budaya dan gaya hidup yang mampu menembus masuk ke ruang-ruang pribadi di dalam rumahtangga setiap penduduk dunia.

Perang semesta bisa dengan cepat dan tanpa disadari target sasarannya, menyingkirkan budaya, nilai-nilai agamis dan tata nilai lainnya, sekaligus membangun alam pikiran baru yang terpadu secara total, yang pada hakekatnya membangun gaya hidup yang individualistis, pragmatis, hedonis, materialistis dan narsis.

Dengan musik jiwa dan gaya hidup, Kapitalisme Global telah menciptakan kebutuhan-kebutuhan palsu yang menyihir dan menghisap individu-individu ke dalam pusaran sistem produksi dan konsumsi. Media massa, budaya termasuk film dan musik, industri periklanan, penggalangan citra, manajemen dan cara-cara berfikir sempit, semuanya diarahkan untuk memproduksi sistem represif yang melenyapkan negativitas, kritik dan perlawanan. Sistem yang seperti ini membentuk masyarakat industri maju lintas negara yang moderen, dengan pola pemikiran yang berdimensi satu, yang tidak mengenal alternatif.

Di dalam ketatanegaraan dan politik praktis, hal itu bisa dilihat dari fenomena partai-partai, yang secara ideologis tidak lagi memiliki perbedaan. Mereka seolah-olah menawarkan perbedaan dan perubahan, namun sejatinya tidak ada bedanya antara partai satu dengan yang lain.

Manusia moderen mengira dirinya benar-benar hidup bebas dalam dunia yang menawarkan aneka kemungkinan untuk dipilih, diraih dan diwujudkan, padahal kebebasan yang dikehendakinya sesungguhnya hanyalah apa yang sudah didiktekan oleh Kapitalisme Global kepadanya.

Ketiga contoh peristiwa yang mengawali tulisan ini, dengan gamblang menggambarkan serangkaian perilaku masyarakat yang mengabdi pesona dunia dengan kebebasannya. Demikian pula berbagai fakta di persidangan kasus-kasus korupsi yang hampir setiap hari digelar beberapa tahun belakangan ini, menunjukkan keterlibatan para tokoh dari lintas profesi dan pilar kekuasaan, mulai dari pengusaha, legislatif, eksekutif sampai dengan yudikatif. Mereka menunjukkan perilaku mengejar kekuasaan dan kekayaan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya dengan segala cara. Mau serba enak secara instan, sehingga mengabaikan ajaran-ajaran moral dan agama.Kesalehan hanya sebatas formalitas bahkan dijadikan sebagai topeng.Puji-pujian terhadap Yang Maha Kuasa dan Kanjeng Nabi hanyalah penghias bibir belaka.

Sahabatku, tasawuf mengajarkan para penganutnya untuk membangun akhlak luhur dan budi mulia, hidup bersih, sederhana dan mengabdi, yang tidak silau apalagi memuja pesona dunia.Islam diturunkan bukan untuk meluapkan kebebasan individual dan kepentingan diri, melainkan mengabdi pada kebersamaan dan harmonisasi dalam mewujudkan rahmat bagi semesta alam. Bukan hanya bagi manusia, bahkan bukan hanya untuk sesama muslim. Karena itu Rasulullah senantiasa menunjukkan keteladanan dalam kehidupan sehari-hari. Beliau hidup sangat sederhana, zuhud dan wara, lembut lagi penuh kasih sayang terhadap sesamanya, sampai-sampai semua benda perlengkapan hidupnya, juga binatang piaraannya diberi nama serta panggilan kesayangan. Beliau juga sangat menjaga perasaan orang lain, sebagaimana contoh sederhana yang diriwayatkan Bukhari dan Muslim, “Apabila kalian bertiga, maka janganlah dua orang berbisik-bisik dengan membiarkan, tidak mengajak yang ketiganya.”

Maka, marilah sama-sama kita renungkan dan hayati gumaman isteri beliau, Siti Aisyah, di pinggir makam Rasulullah pada malam pertama setelah pemakaman:

“ Wahai laki-laki yang tak pernah mengenakan sutera.

Wahai laki-laki yang tak pernah tidur di atas tilam nan lembut.

Wahai laki-laki yang hingga saat meninggalnya belum pernah

kenyang dengan roti gandum yang lezat-lezat.

Wahai laki-laki yang menyukai dipan kasar dibanding ranjang mewah.

Wahai laki-laki yang sering beberapa malam tidak tidur karena takutnya pada neraka (yang mengancam umatnya).”

 

(Sumber: K.H.Abdurrahman Arroisi dalam 30 Kisah Teladan dan K.H.Firdaus AN dalam Detik-Detik Terakhir Kehidupan Rasulullah).

 

 

2 Comments

Filed under Uncategorized

2 responses to “PERAYAAN VALENTINE, MUSIK JIWA KAPITALISME GLOBAL YANG HARUS DIWASPADA

  1. salam kenal dari kami http://www.nasyid.co.id/ , komunitas nasyid indonesia, mari.. bersama-sama membumikan nasyid untuk memberikan warna bagi dunia musik. salam dari nasyid indonesia

  2. islamjawa

    Salam kenal juga. Semoga sukses dan berkah. Aamiin.wswrwb.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s