SEKS DALAM PERADABAN & KEBUDAYAAN JAWA (1) : Untuk Membentuk Insan Kamil Nan Mulia.

Kitab Pararaton.

1. “Demikianlah Bhatara Brahma mencari-cari pasangan untuk bersetubuh, maka adalah sepasang pengantin baru, sedang saling mencintai dengan mesra, yang pria bernama Gajahpara, yang wanita bernama Ken Endok, mata pencahariannya bertani. Ken Endok pergi ke sawah mengirim makanan suaminya Gajahpara, nama sawahnya Ayuga, sedangkan tempat kediamannya bernama Pangkur.

Turunlah Bhatara Brahma menyetubuhi Ken Endok, tempat persetubuhan itu bernama Tegal Lalateng.Dewa Brahma berpesan kepada Ken Endok, ‘Janganlah engkau bersetubuh dengan suamimu lagi. Jika engkau bersetubuh dengan suamimu, suamimu akan meninggal, karena kecampuran dengan anakku itu. Nama dari anakku nanti Ken Arok. Dialah yang kelak membawa perubahan besar di Pulau Jawa.”

2. “Adalah seorang pencari tuak di hutan milik penduduk desa Kapundungan, dia mempunyai seorang anak perempuan cantik. Anak ini ikut ayahnya ke hutan. Oleh Ken Arok gadis ini diperkosa di tengah hutan, nama hutan itu Adiyuga.”

3. “kebetulan bertemulah Ken Arok dengan anak gadis penghulu desa Tugaran yang sedang bertanam kacang di ladang. Maka anak gadis itu diperkosa oleh Ken Arok. Lamalah hal ini berlangsung. Itulah sebabnya biji-biji kacang di Tugaran besar-besar dan enak rasanya.”

Petikan di atas mengisahkan tiga peristiwa hubungan seks dari enam masalah yang terkait dengan seks dalam kitab Pararaton, yaitu kitab yang menceritakan tentang Ken Arok, Kerajaan Singasari dan Kerajaan Majapahit, abad XIII sampai dengan XV.

Para sahabat, topik pembicaraan kita kali ini adalah “Seks Dalam Peradaban & Kebudayaan Jawa. ” Pengertian seks di sini tentu bukanlah semata-mata terbatas pada makna jenis atau alat kelamin, melainkan segala hal yang berkaitan dengan masalah seks, baik itu masalah seksual, seksualitas atau pun kehidupan seks masyarakat Jawa, yang sudah menjadi adat istiadat dan membudaya.

Pengetahuan tentang sesuatu budaya dan peradaban yang berlangsung jauh di masa silam, pada umumnya diperoleh dari bukti-bukti sejarah, baik yang tertulis dalam suatu kitab, prasasti, peninggalan benda sejarah seperti relief candi maupun cerita yang dituturkan dari mulut ke mulut. Demikianlah, kisah perilaku seseorang dalam memenuhi hasrat seksualnya di abad XIII, dalam hal ini Ken Arok, Tunggul Ametung dan bahkan Dewa Brahma, dikisahkan dalam kitab Pararaton di atas.

Sejarah tentang seks, adalah sama panjangnya dengan kisah kehidupan dan perdababan manusia, semenjak penciptaan Adam-Hawa, disambung perseteruan Habil dan Khabil putera Adam, dan terus berlanjut sampai di awal tahun 2015 sekarang yang mewarnai kasus perseteruan POLRI vs KPK.

Kuda liar yang harus dikendalikan.

Ulama-ulama tasawuf menggambarkan hasrat seks sebagai nafsu yang bak kuda perkasa. Nafsu itu diperlukan agar manusia hidup dinamis hamemayu hayuning bawono atau rahmatan lil alamien, namun ia tidak boleh bagaikan kuda liar yang melonjak-melonjak, berlarian tiada arah tujuan menerjang serta merusak apa saja. Oleh karena itu nafsu termasuk nafsu seks harus dikendalikan secara baik lagi tepat guna.

Hasrat seks yang seperti kuda liar di masa Kerajaan Singasari tersebut oleh raja-raja Majapahit yang merupakan keturunan dari Ken Arok, dikendalikan melalui Perundang-Undangan Majapahit (Prof.Dr.Slamet Muljana, penerbit Bhratara, 1967). Ada enam kejahatan yang disebut tatayi, salah satunya adalah merusak kehormatan wanita, yang pelakunya diancam dengan pidana mati. Demikian pula masalah perkawinan, warisan dan gangguan terhadap perempuan yang sudah bersuami, diatur serta dilindungi oleh Undang-Undang.

Bukti sejarah tentang gambaran kehidupan seks dalam peradaban dan kebudayaan Jawa, sudah ada semenjak abad IX, sebagaimana terpahat dalam relief Candi Borobudur di Jawa Tengah. Candi Borobudur memiliki 1460 panel relief dan 504 stupa. Dari panel relief sebanyak itu, ada 160 panel yang sengaja ditimbun tanah karena reliefnya dianggap vulgar dan cabul. Panel-panel itu terletak di bagian paling bawah, yang disebut Kamadhatu, yang sekaligus dijadikan sebagai pondasi candi. Panel relief yang tersembunyi ini menggambarkan adegan Sutra Karmawibhangga atau hukum sebab-akibat kehidupan, yakni gambaran perbuatan yang mengikuti hawa nafsu manusia, seperti bergosip, membunuh, menyiksa dan memperkosa. Juga ada adegan-adegan seks dalam berbagai posisi.

Kehidupan seks di masyarakat mana pun di dunia ini semenjak zaman baheula sampai kini, pada hemat saya sama saja. Ada yang berlangsung bebas, ada yang binal dan liar, namun secara umum dan formal ditempatkan sebagai sesuatu yang sakral. Gambaran campur aduk tersebut dijumpai juga di Jawa, sebagaimana dikisahkan dalam kitab Serat Centhini (Centini) yang oleh para sastrawan dianggap sebagai ensiklopedi Jawa.

Serat Centhini yang ditulis oleh para pujangga Keraton Kasunanan Surakarta selama lima tahun dari semenjak 1809 sampai 1814 setebal lebih 4000 halaman, mengisahkan berbagai aspek kehidupan dengan latar belakang kehidupan masyarakat pada masa kekuasaan Sultan Agung tahun 1613 – 1645.

Sekitar tiga puluh tahun sebelumnya, Raden Rangga Prawiradirja, seorang pejabat Keraton Yogyakarta yang ditugaskan menjadi wedana di Madiun pada 1755 – 1784, menggubah cerita roman sejarah yang menjadi sangat legendaris, dengan latar belakang situasi di kerajaan Majapahit pada sekitar terjadinya Perang Paregreg awal 1400. Cerita roman sejarah itu dinamakan Serat Damarwulan, yang disusun dalam bentuk tembang-tembang macapat nan merdu. Di dalamnya disisipkan sejumlah adegan seks antara lain sebagai berikut:

“Swarga nraka sampun pisah gusti, dhuh mas mirah atma jiwaningwang, pupujan ingsun mas angger, sagunging para arum, samya sanget ageng kang brangti, harjasa luwih, Raden Damarsantun, amatek asmaragama, para putri wus marem kadya saresmi, kena asmaragama.”

Bait itu mengisahkan bagaimana Raden Damarwulan memenuhi dahaga seks semua isterinya, yaitu permaisuri dan para selirnya sekaligus dengan menggunakan ajian asmaragama, yaitu suatu ajian yang membuat semua isterinya merasa sudah melakukan hubungan seks secara memuaskan, padahal yang disetubuhi hanya salah seorang saja, bahkan bisa tidak seorangpun.

Pada bagian lain dikisahkan pula bagaimana Sang Raja menggauli pertama kali gadis pingitannya dari desa, yang semula agak takut-takut, tapi kemudian berlangsung sampai mandi keringat sambil sang gadis mendesah mesra:

“Ken Warsiti mingser semu ajrih, glis sinambut pan kanuswa-kuswa, binekta tilam sarine, Nata ndhatengken kayun, lan Warsiki karon ing resmi, angga tan padya muga, cipta lir binanjut, riwe kumyus aturasan, ngesah asih Warsiki sesambat mati, Sang Nata wlas tumingal.”

Meskipun mengisahkan persanggamaan, kedua bait di atas didendangkan dalam irama tembang Dandhanggula yang bernuansa meditatif kontemplatif, sehingga tidak terkesan vulgar.

Kitab Kawruh Sanggama yang ditulis oleh Raden Bratakesawa tahun 1926 menyebutkan, salah satu tanda yang menunjukkan seorang wanita mencapai kepuasan seks adalah “pratandhanipun malih manawi wanita wau sampun madhar prasa, sariranipun ngalumpruk marlupa kados oncat yitmanipun sarta asasambat ingkang damel trenyuh ing manahipun priya. Tumrap wanodya ingkang sampun asring-asring leledhang ing taman lambang sari, asring sambat pejah, boten purun pisah, sasaminipun kados inggih-inggiha. Tubuhnya terpuruk tiada daya, nyawanya bagaikan melesat meninggalkan raga, mendesah mengeluh minta pertolongan sehingga membuat terharu hati lelaki. Bagi wanita yang sudah terbiasa melepas birahi di taman cinta, bahkan sering mengeluh rasanya seperti hendak mati, tak mau berpisah seperti sungguh-sungguh saja.”

Cara memuaskan pasangan wanita dan tanda-tanda tatkala mencapai klimaks hubungan seks, menjadi kewajiban dan harus dipahami oleh seorang lelaki. Karena itu maka diajarkan dalam kitab Kawruh Sanggama (Pengetahuan tentang Sanggama) dan Serat Nitimani dengan cara yang indah dan tidak vulgar. Serat Nitimani menurut pengarang kitab Kawruh Sanggama, juga menjadi salah satu sumber rujukannya.(bersambung).

Leave a comment

Filed under Uncategorized

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s