PEMAHAMAN TENTANG KAROMAH dan MALAIKAT : Kandungan Makna Suluk Kidung Kawedar (5).

Sang Hyang Guru dan Sang Hyang Hayu.

Bait 27 – 28 masih menggambarkan hikmah, keutamaan dan perbawa dari Kidung Kawedar, dengan disisipi ajaran-ajaran Islami yang menggunakan tamzil-tamzil lama yang apabila tidak dijelaskan dengan baik, bisa membuka peluang multi tafsir yang keliru. Oleh karena itu, jika ingin mengkaji sendiri Kidung ini, pembaca perlu memahami serta menggunakan bahan acuan Al Qur’an dan hadis, sehingga bisa menghayati tujuan utama ajaran Kidung yang juga sering disebut Kidung Rumekso Ing Wengi atau Kidung Sariro Ayu.

Bait 27 misalkan, mengajak membaca kidung di malam hari seraya memejamkan mata, menanamkan sugesti akan sosok Sang Hyang Guru, langkah Sang Hyang Hayu dan diri kita yang bercahaya lagi penuh pancaran kasih sayang.

Nama Sang Hyang Guru yang berarti Dzat Yang Maha Pandai lagi Maha Pemberi Petunjuk, tidak langsung menggunakan sebutan asma Rasyid (Yang Maha Pandai) dan Hadi (Yang Maha Pemberi Petunjuk), melainkan dicari padanan makna yang akrab di telinga masyarakat, yang ketika itu masih menganut agama Syiwa – Buddha. Penganut agama ini mempercayai serta menyembah Dewa-Dewa, dan Dewa yang paling utama adalah Dewa Syiwa atau Betara Guru. Dalam pementasan wayang versi Jawa, Dewa-Dewa yang berusia lebih tua, memanggilnya Sang Hyang Adi Guru. Panggilan kehormatan Sang Hyang juga lazim diberikan kepada Dewi pengatur rejeki khususnya melalui pertanian, yaitu Sang Hyang Sri.

Adi atau hadi atau edhi dalam bahasa Jawa Kuno memiliki banyak arti. Bisa berarti indah, bagus, hebat sekali dan juga bisa berarti kepala dan permulaan. Khusus untuk kata adi bisa berarti pula adik atau adinda. Sedangkan guru berarti orang yang dimuliakan, pembimbing spiritual dan pengajar. Karena ini adalah kitab dakwah agama Islam, maka pada hemat penafsir penyebutan asma Gusti Allah yang Maha Pandai dan Maha Pemberi Petunjuk dengan Sang Hyang Guru, bukanlah dimaksudkan sebagai Batara Guru atau Dewa Syiwa, melainkan hanya sebagai metode komunikasi agar terdengar akrab dan mudah diterima masyarakat. Alhamdulillah, menurut istilah dalam bahasa Jawa, digothak gathik gathuk, diotak-atik ternyata maknanya cocok juga.

Begitu pula sebutan Sang Hyang Hayu (Ayu). Hayu atau ayu dalam bahasa Jawa Kuno memiliki banyak arti, antara lain cantik, molek, baik, saleh, sejahtera, kesehatan, kebahagiaan, benar. Kata ayu juga sangat akrab bagi masyarakat sejak tempo dulu sampai sekarang. Walaupun demikian, nama sesembahan Sang Hyang Hayu tidak ada. Tetapi bila kata Hayu itu merujuk pada bahasa Arab, maka penyebutan hayu yang penulisannya menggunakan yy, yaitu Hayyu, adalah merupakan salah satu asma Gusti Allah yang berarti Yang Maha Hidup Abadi.

Baris keenam bait 27 yaitu, ngadeg pangawak teja atau tegak berperawakan cahaya, penggambaran sosok tokoh atau pun tamzil seperti itu, tidak lazim digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Akan tetapi ada penggambaran yang biasa digunakan terhadap orang yang memiliki aura hebat yakni pasuryane sumunar atau pasuryane mencorong, yang berarti wajahnya bersinar.

Sementara itu di dalam ajaran Islam, istilah cahaya itu sangat lazim dan dikaitkan dengan Dzat Allah, sebagaimana ayat 35 Surat An-Nur (Cahaya) sebagai berikut: “Allah adalah cahaya bagi langit dan bumi. Perumpamaan cahaya Allah adalah seperti sebuah lubang yang didalamnya ada pelita besar. Pelita itu di dalam kaca (dan) kaca itu laksana bintang yang berkilauan, yang dinyalakan dengan minyak dari pohon yang banyak berkahnya, (yaitu) pohon zaitun yang tidak tumbuh di sebelah timur dan tidak pula di barat, yang minyaknya (saja) hampir-hampir menerangi walaupun tidak disentuh api. Cahaya di atas cahaya (berlapis-lapis), Allah membimbing cahaya-Nya kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah memperbuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia, dan Allah Maha mengetahui segala sesuatu.”

Menurut para ahli tafsir, yang dimaksud dengan cahaya dalam surat tersebut ada bermacam-macam, mulai dari cahaya matahari, bulan serta bintang-bintang yang menerangi langit dan manusia di bumi, sampai dengan yang bermakna penerangan terhadap jalan kehidupan manusia yang berupa syariat dan hukum-hukum yang mengatur tata kehidupan dan pergaulan. Dari Surat An-Nur ini, berkembang berbagai tamzil tentang cahaya. Demikianlah perumpamaan yang terkait dengan cahaya, menjadi baris keenam dalam bait 27 Kidung Kawedar.

Baris terakhir bait 28, kembali menyebut kata malaikat, yang menjaga manusia sehingga memperoleh berkah dan perlindungan dari Tuhan sebagaimana diuraikan dalam Kidung ini semenjak bait pertama. Berbagai berkah, karomah, hikmah serta keutamaan yang banyak disinggung, seperti mengatasi binatang buas, gangguan nyata dari jin serta aneka jenis sihir dan magis, mungkin agak janggal bagi masyarakat zaman sekarang. Tetapi tidak demikian halnya pada zaman dahulu. Keseharian mereka memang tidak lepas dari hal-hal tersebut, termasuk berbagai penyakit gawat yang pada masa itu belum diketahui penyebab dan obatnya. Mereka sangat percaya dengan kesaktian mantera-mantera untuk mengatasinya. Oleh karena itu sangat wajar apabila Sunan Kalijaga menanamkan sugesti mantera dalam Kidung Kawedar sebagai daya tarik dalam berdakwah.

Semua jenis karomah, hikmah dan keutamaan itu dalam dunia tasawuf sangat wajar, namun diibaratkan permen yang amat menarik bagi kanak-kanak tapi tidak bagi orang dewasa. Maksudnya sebagai hadiah daya tarik bagi salik pemula, yaitu orang yang baru belajar ilmu tasawuf. Sedangkan bagi yang sudah mencapai tingkat hakikat apalagi makrifat, segala hadiah daya tarik itu tidak ada artinya. Hubungannya dengan Gusti Allah bukan lagi berdasarkan hadiah, melainkan kerinduan kepada Sang Kekasih yang tak ternilai. Alhamdulillaah.
Empat Malaikat Pendamping Manusia.

Malaikat yang dituturkan dalam bait 29, bagi masyarakat Jawa pada masa itu tentu merupakan sesuatu hal yang baru dan asing sama sekali. Makhluk gaib yang mereka kenal sebelumnya adalah roh-roh leluhur, roh-roh gaib penunggu gunung-batu-pepohonan-sungai-tempat serta benda-benda keramat. Sedangkan sesembahan yang sangat dimuliakan adalah para dewa atau batara terutama Batara Syiwa, Batara Wisnu, Batara Brama dan sepasang dewa yang bertugas membagai rejeki kepada umat manusia. Nama dewa pembagi rejeki tersebut sangat akrab bagi masyarakat, lantaran dianggap bersentuhan langsung dengan kebutuhan hidup sehari-hari. Mereka adalah Dewi Sri dan Dewa Sadana, yang kemudian disebut sebagai satu nama saja yaitu Dewa Sri Sadana.

Kepada masyarakat, Kidung Kawedar memperkenalkan sesembahan baru yang memiliki pasukan gaib terdiri dari para roh suci yang disebut malaikat. Malaikat menurut hadis Kanjeng Nabi Muhammad saw. yang bersumber dari Aisyah, diciptakan dari nur atau cahaya. Di dalam Kitab Suci Al Qur’an, masalah malaikat dibahas tidak kurang dalam 136 ayat, yang secara garis besar menyatakan bahwa malaikat adalah hamba yang dimuliakan Allah, tidak sombong, patuh melaksanakan perintah Gusti Allah, melarang perbuatan maksiat dan membacakan wahyu Allah.

Malaikat juga bertugas menjadi utusan Allah kepada hamba yang dikehendaki-Nya, namun demikian mereka bukanlah nabi atau pun rasul. Malaikat bertugas sebagai kawan, penjaga dan pembantu manusia yang ikut mendoakan dan memohonkan ampunan-Nya. Malaikat senantiasa bertasbih kepada Allah serta bershalawat untuk Kanjeng Nabi Muhammad.

Di samping mengilhami manusia untuk berbuat baik sekaligus sebagai saksi dan mencatat amal perbuatan manusia, malaikat juga menyiksa serta melaksanakan hukuman Allah kepada manusia. Malaikat mencabut nyawa manusia, menjaga neraka dan menyiksa penghuninya. Sementara itu ada pula yang bertugas menjaga surga.

Jumlah malaikat tak terbilang banyaknya. Mengingat peranannya sebagai rukun iman yang kedua, banyak para ulama termasuk sahabat-sahabat Rasulullah yang mendalami perihal malaikat ini. Namun dari berbagai riwayat, tidak dijumpai nama-nama khusus kecuali yang tersebut di dalam Al Qur’an dan hadis. Kepada malaikat yang tidak memiliki nama khusus itu diberi sebutan sesuai dengan tugasnya. Adapun nama malaikat Izrail yang disebut dalam Kidung bait 29 tadi, yang juga dikenal sebagai malaikat maut atau pencabut nyawa, tidak diketemukan sumbernya baik dalam Al Qur’an maupun hadis. Oleh sejumlah ulama, nama itu diduga berasal dari riwayat-riwayat yang termasuk kategori Israiliyat yang menyesatkan. Di dalam Al Qur’an, malaikat pencabut nyawa hanya disebutkan uraian tugasnya saja (Al An’am 06: 61, 93, Al A’raaf 07:37 dan An Naazi’aat 79:01-02).

Adapun empat malaikat yang disebut dalam bait 29 Kidung ini, yang tidak tepat betul dengan sumber rujukan Qur’an dan hadis, pada hemat penafsir tidak perlu dimasalahkan, tetapi cukup dipahami saja. Pada abad 15 – 16 itu, budaya tulis dan cetak di Nusantara masih jauh terkebelakang. Sejumlah naskah tua ditemukan ditulis di atas media rontal (daun tal), bambu, rotan, daun nipah, labu hutan, tanduk, kulit kayu, tulang, kulit binatang dan belakangan di atas dluwang (kertas), kertas eropa, kain dan lain-lain, yang hanya bisa dilakukan serta dimiliki oleh orang-orang tertentu, dan tidak oleh orang kebanyakan. Sejumlah ajaran baik Qur’an, hadis maupun kitab-kitab ulama-ulama awal, kebanyakan dihafal di luar kepala. Sudah barang tentu tiada gading yang tak retak, dan itu menurut penafsir sama sekali tidak mengurangi keistimewaan Kidung Kawedar ini.

Subhanallaah.

2 Comments

Filed under Uncategorized

2 responses to “PEMAHAMAN TENTANG KAROMAH dan MALAIKAT : Kandungan Makna Suluk Kidung Kawedar (5).

  1. gunawansumo@gmail.com

    Terima Kasih. Pak Wiek….Salam Nusantara Raya…. Sent from my BlackBerry 10 smartphone on the Telkomsel network. From: B.Wiwoho : TASAWUF JAWASent: Minggu, 8 Maret 2015 11.44To: gunawansumo@gmail.comReply To: B.Wiwoho : TASAWUF JAWASubject: [New post] PEMAHAMAN TENTANG KAROMAH dan MALAIKAT : Kandungan Makna Suluk Kidung Kawedar (5).

    a:hover { color: red; } a { text-decoration: none; color: #0088cc; } a.primaryactionlink:link, a.primaryactionlink:visited { background-color: #2585B2; color: #fff; } a.primaryactionlink:hover, a.primaryactionlink:active { background-color: #11729E !important; color: #fff !important; }

    /* @media only screen and (max-device-width: 480px) { .post { min-width: 700px !important; } } */ WordPress.com

    islamjawa posted: “Sang Hyang Guru dan Sang Hyang Hayu.

    Bait 27 – 28 masih menggambarkan hikmah, keutamaan dan perbawa dari Kidung Kawedar, dengan disisipi ajaran-ajaran Islami yang menggunakan tamzil-tamzil lama yang apabila tidak dijelaskan dengan baik, bisa membuka pe”

  2. islamjawa

    Salam takzim, Kanjeng.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s