SHALAT DAIM : Kandungan Makna Suluk Kidung Kawedar (6).

Zikir Ya Hu Allah dan Keutamaan Surat Al Ikhlas.

Kandungan isi bait 30 Kidung Kawedar sungguh luar biasa. Sarat makna dan keutamaan. Diawali dengan ajaran zikir, keberadaan malaikat yang menjaga kita dan menolak segala perbuatan buruk, kemudian bagaimana mengenal Gusti Allah dan keutamaan Surat Kolhu atau Al Ikhlas. Bait ini juga menjadi landasan ulah batin bagi para penganut kejawen, baik yang muslim maupun yang bukan.

Baris pertama adalah mengajarkan berzikir di kala malam. Zikir artinya mengingat atau menyebut. Ingat dalam bahasa Jawa adalah eling. Jadi eling atau ingat itu sama maknanya dengan zikir, dan zikir yang terbaik adalah zikrullah atau mengingat Allah

Dalam rangka mengajarkan zikir mengingat Gusti Allah itulah, maka Sunan Kalijaga memulai bait ini dengan kalimat Ya Hu Dat myang pamujining wengi, yang bermakna berzikirlah di kala malam kepada Dzat Allah. Kalimat ini di dalam masyarakat Jawa berlanjut dengan ajaran zikir Ya Hu Allah. Kalimat zikir Ya Hu Allah, Hu Allah dan Allahu sampai sekarang banyak dijumpai di kalangan para penganut dan praktisi spiritual muslim Asia Tenggara khususnya Nusantara.

Allah adalah salah satu bahkan merupakan asma yang utama yang menggenapkan sembilan puluh sembilan (99) asma-asma Allah yang mulia (asma’ul husna) menjadi seratus. Penggunaan asma Allah sering dijumpai secara berdiri sendiri, dan sering pula bersama kata lain seperti Akbar dan Nur, sehingga menjadi Allahu Akbar (Allah Maha Besar) dan Allahu Nur (Allah adalah Cahaya dari segala Cahaya). Tak jarang dalam berzikir, kata Allah diberi tambahan Hu, sehingga menjadi Hu Allah yang berarti Dialah Allah.

Baris ketiga dan keempat bait 30, menyebutkan tentang adanya dua malaikat yaitu Kirun di sebelah kanan kita dan Wana Kirun di sebelah kiri, membawa gada besi dan bertugas menolak semua perbuatan buruk pada diri kita. Nama malaikat Kirun tidak dijumpai di dalam Qur’an maupun hadis. Melihat tugasnya terhadap manusia, kemungkinan besar mereka adalan Qorin dari golongan setan yang senantiasa menggoda dan mengajak manusia untuk berbuat buruk, serta Qorin dari golongan malaikat yang mengajak pada kebajikan. Pada hemat penafsir, Sunan Kalijaga dalam kidung menyebut Qorin, tapi pada pendengaran masyarakat adalah Kirun. Inilah salah satu kelemahan dari sastra tutur, yang disebarkan secara lesan dari mulut ke mulut.

Tafsiran penulis dikuatkan dengan baris kedelapan yang menguraikan tugas Qirun membuka hati manusia agar bisa mengenal Allah. Tenajul berasal dari kata tanazul yang berarti mengenal Allah melalui hati yang terbuka bersih. Sedangkan rijal memiliki beberapa makna yaitu lelaki, orang yang berani, tulus, taat azas, berani berkorban untuk berdakwah. Dalam kaitan bait ini tenajul rijal bisa dimaknai menjadi orang yang bisa mengenal Allah melalui hati yang bersih yang sudah terbuka untuk itu.

Semua hal baik yang diuraikan dalam bait-bait Kidung Kawedar, adalah berkat keutamaan kolhu. Kolhu adalah pengucapan orang Jawa terhadap Surat Qulhu atau Surat Al Ikhlas, sebagaimana juga menyebut Patekah untuk Al Fatihah.

Kandungan makna dan keutamaan Surat Al Ikhlas dari berbagai hadis dan riwayat, bisa disebut istimewa. Surat Al Ikhlas menegaskan ketulusan pengakuan umat atas kemurnian keesaan dan kekuasaan Gusti Allah Swt, menolak segala macam kemusyrikan dan menerangkan tiada sesuatu pun yang menyamai-Nya. Semua pengakuan dan keyakinan atas keesaan beserta kekuasaan Tuhan itulah yang dinamai tauhid, yang merupakan induk atau inti sari dari ajaran Islam.

Ayat 1 dan ayat 2 menjelaskan keesaan, kesempurnaan serta kekuasaan Tuhan, sekaligus menegaskan bahwa yang tidak mempunyai kedua sifat tersebut bukan Tuhan, tidak pantas dan tidak bisa disebut Tuhan. Sedangkan ayat ketiga dan keempat menegaskan perbedaan Tuhan dengan manusia dan makhluk-Nya. Dia sudah ada sebelum yang lain ada, bukan anak siapa-siapa dan tidak memiliki seorang anak pun. Begitu sempurnanya sifat dan kekuasaan Allah, sehingga tiada siapa pun dan tiada sesuatu pun menyamai-Nya.

“Qul huwallaahu ahad, katakanlah: Dialah Allah, Yang Maha Esa”, adalah puncak ilmu tentang akidah. Oleh sebab itu pula ada sejumlah hadis yang menyatakan sabda Rasulullah bahwa nilai Surat Al Ikhlas sama dengan sepertiga Al Qur’an. Sejumlah hadis yang cukup sahih sebagaimana diuraikan antara lain dalam Tasir Al Azhar, mengungkapkan berbagai keutamaan surat ini, misalkan siapa yang membacanya akan disenangi Allah (Hadis Riwayat Bukhari), dan “wajib orang itu masuk surga” (Hadis Riwayat Tarmidzi).

Dengan keutamaan-keutamaan Surat Ikhlas tadi, maka tidak berlebihan apabila Sunan Kalijaga memberikan kabar gembira kepada siapa yang mempercayainya, ambalik lara roga. Kembali atau tertolak semua penyakit dan penderitaannya. Allaahush shamad, Allah tempat bergantung segala sesuatu. Tempat, maksudnya satu-satunya sesembahan kita yang Maha Kuasa, kepada siapa kita berharap memohon pertolongan atas segala masalah, termasuk segala penyakit dan penderitaan.

Allahu Akbar.
Keutamaan Ayat Kursi.

Seperti halnya bait sebelumnya, bait 31 juga sarat makna dan keutamaan. Namun demikian ada dua versi untuk kalimat pada baris pertama. Satu versi menyebut dudur molo sedangkan versi lain dudut molo. Kata dudur tidak ditemukan pada kamus bahasa Jawa Kuno maupun bahasa Jawa pergaulan sehari-hari pada umumnya, namun Raden Wiryapanitra dalam Serat Kidungan Kawedar terbitan Dahara Prize menyebut dudur molo sebagai kayu penyangga bubungan rumah. Dalam buku “Joglo, Arsitektur Rumah Tradisional Jawa” karangan R.Ismunandar K, penerbit Dahara Prize 1997, Semarang, bagian bangunan yang disebut molo dan dudur molo itu dijumpai di halaman 57 dan 83. Sedangkan versi dudut molo, bisa berarti mencabut atau membersihkan (dudut) molo yang bisa berarti noda, penyakit atau dosa. Jika melihat baris keempat yang berbunyi usuk-usuk ing luhur, yaitu kayu kasau penyangga genting yang di atas, nampaknya yang benar adalah dudur molo. Disambung baris kelima yaitu ingkang aran wesi ngalarik, semakin memperkuat tafsir pemakaian tamzil bangunan rumah untuk menyebutkan kedudukan ayat Kursi dan Surat Al Anaam.

Meskipun terdapat dua versi, pemakaian ayat Kursi bisa diterima pada keduanya. Ia bisa saja diibaratkan balok penyangga bubungan rumah, tapi bisa juga sebagai pembersih penyakit dan noda kehidupan.

Mari kita coba pahami ayat ke 255 Surat Al Baqarah ini:
“Allaahu laa ilaaha illaa huwal hayyul qayyuumu, laa ta’khudzuhuu sinatuw walaa nauum, lahuu maa fis samaawaati wa maa fil ardhi, man dzal ladzii yasyfa’u ‘indahuu illaa bi idznihii, ya’lamu maa baina aidiihim wa maa khalfahum, wa laa yuhiithuuna bi syai-im min ‘ilmihii illaa bi maa syaa-a, wasi’a kursiyyuhus samaawaati wal ardha, wa laa ya-uuduhuu hifzhuhumaa wa huwal ‘aliyyul ‘azhiim.”

Ayat Kursi menurut Prof.Dr.Quraish Shihab adalah ayat yang paling agung di antara seluruh ayat-ayat Al Qur’an. Karena dalam ayat ini disebutkan tidak kurang enam belas kali, bahkan tujuh belas kali, kata yang menunjuk kepada Allah swt, Tuhan Yang Maha Agung. Dalam Tafsir Al-Mishbah ia menulis sebagai berikut: “Allah (1); Tidak ada Tuhan (penguasa Mutlak dan yang berhak disembah) kecuali Dia (2); Yang Maha Hidup (3); Maha Kekal (4); yang terus-menerus mengurus makhluk-Nya (5); Dia (6); tidak dikalahkan oleh kantuk dan tidak tidur. Kepunyaan-Nya (7); apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi, tiada yang dapat memberi syafaat di sisi-Nya (8); tanpa izin-Nya (9); Dia (Allah) (10); mengetahui apa-apa yang di hadapan mereka dan di belakang mereka, dan mereka tidak mengetahui sesuatu dari ilmu-Nya (11); melainkan apa yang dikehendaki-Nya (12); Kursi (ilmu/kekuasaan)-Nya (13); meliputi langit dan bumi. Dia (14); tidak lelah memelihara keduanya dan Dia (15); Maha Tinggi (16); lagi Maha Besar (17).”

Pada bait 30 kita telah dikenalkan dengan bacaan zikir Ya Hu Allah dan Surat Al Ikhlas. Melalui ayat Kursi, bait ini memperkenalkan lebih jauh tentang siapa Allah yang dikidungkan sebelumnya itu. Dalam satu ayat yang terdiri dari lima puluh kata ini, terdapat tujuh belas kata yang menunjuk kepada Allah.

Dari ayat Kursi pula keluar ungkapan yang sangat terkenal di dalam bahasa Jawa yaitu Gusti Allah ora sare, Gusti Allah tidak tidur. Artinya Gusti Allah mengetahui apa saja, meskipun manusia mencoba menyembunyikan sesuatu terhadap manusia yang lain. Ungkapan ini lazim dikeluarkan oleh seseorang yang tidak berdaya terhadap perbuatan zalim orang lain kepada dirinya. Maknanya sangat luas, terutama untuk menenangkan dirinya sendiri dengan meyakinkan hatinya, bahwa Gusti Allah pasti akan menolongnya dengan menegakkan kebenaran dan keadilan.

Menurut para ahli tafsir Al Qur’an, yang dimaksudkan dengan “kursi Allah” dalam ayat ini ialah gambaran tentang kekuasaan-Nya Yang Maha Besar dan kerajaan-Nya Yang Maha Luas. Jadi bukanlah kursi seperti yang kita kenal sehari-hari.

Prof.Dr.Quraish Shihab berpendapat, pengulangan tujuh belas kata yang menunjuk nama Allah, bila dicamkan dan dihayati akan memberi kekuatan batin tersendiri bagi pembacanya. Ibrahim Ibnu Umar al-Biqa’i menurutnya, memberi penafsiran “supra rasional” menyangkut ayat Kursi. Pada hemat ulama ini dalam tafsirnya, Nazhm ad-Durar, “Lima puluh kata adalah lambang dari lima puluh kali shalat yang pernah diwajibkan Allah kepada Nabi Muhammad saw. ketika beliau berada di tempat yang maha tinggi dan saat dimi’rajkan. Lima puluh kali itu diringankan menjadi lima kali dengan tujuh belas rekaat sehari semalam. Di sisi lain, perjalanan menuju Allah ditempuh oleh malaikat dalam lima puluh ribu tahun menurut perhitungan manusia ( Surat Al Ma’arij 70:4)” Dari sinilah pakar tafsir itu mengaitkan bilangan ayat Kursi dengan perlindungan Allah. “Kalau di hadirat Allah gangguan tidak mungkin akan menyentuh seseorang, dan setan tidak akan mampu mendekat, bahkan akan menjauh, maka menghadirkan Allah dalam benak dan jiwa melalui bacaan ayat Kursi, yang sifatnya seperti diuraikan di atas, dapat menghindarkan manusia dari gangguan setan, serta memberinya perlindungan dari segala macam yang ditakutinya.”
Demikian penjelasan ulama ahli tafsir al-Biqa’i, yang sekaligus penulis jadikan penegas atas hikmah dan keutamaan sebagaimana yang diajarkan Sunan Kalijaga melalui Kidung Kawedar

Setelah mengajarkan ayat Kursi, baris kedua sampai dengan keempat bait 31 Kidung ini mengajarkan Surah Ngam-ngam yang tiada lain adalah Surat Al An’aam. Surat keenam dalam Al Qur’an yang arti katanya adalah binatang ternak, dinamakan seperti itu karena di dalamnya disebut kata “an ‘aam” yang berhubungan dengan adat istiadat kaum musyrikin, yang mempercayai bahwa binatang ternak dapat dipergunakan buat mendekatkan diri kepada tuhan mereka.

Begitu tinggi kandungan ajaran Surah Ngam-ngam (Al An’aam) dan relevansinya dengan keadaan masyarakat Jawa pada saat itu, sehingga Sunan Kalijaga mengajarkannya sesudah Surat Al Ikhlas dan ayat Kursi. Apa yang diungkapkan semenjak bait pertama, menjadi gamblang setelah mempelajari dan memahami zikir Ya Hu Allah, Surat Al Ikhlas, ayat Kursi dan Surat Al An’aam.

Dari ajaran berzikir Ya Hu Allah itu pula, bersemai ajaran shalat daim pada masyarakat Islam di Jawa, yaitu zikir yang tidak pernah berhenti, bahkan terus menerus menyertai tarikan nafas, yang iramanya dilatih sesuai kata hati (Pengembaraan Batin Orang Jawa di Lorong Kehidupan halaman 118). Shalat daim dimaksudkan buat melatih agar kalbu kita senantiasa dipenuhi dengan ingatan terhadap Gusti Allah, sehingga selanjutnya pikiran dan perbuatan kita selalu mengikuti jalan yang diridhoi-Nya, selalu dalam ketaatan dan bimbingan-Nya. Aamiin.

Baris keenam sampai dengan kesepuluh bait 31, adalah penegasan atas kenabian Kanjeng Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa salam, yang sudah diungkapkan dalam Surat Al An’aam, beserta segala keagungan dan keutamaannya.

Allaahumma shalli ‘alaa sayyidinaa Muhammad.

Leave a comment

Filed under Uncategorized

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s