DONGENG TENTANG KELUARGA RASULULLAH ALA JAWA: Kandungan Makna Suluk Kidung Kawedar (7).

Serat Menak, Kisah Kepahlawanan Amir Hamzah.
Bait 32 yang menjadi bahasan bab ini merupakan kelanjutan dari bait 31, yang menceritakan tentang Baginda Rasul Kanjeng Nabi Muhammad Saw. Sebagai tembang puisi, kita memang tidak bisa menerjemahkan apalagi menafsirkan Kidung Kawedar ini secara kata per kata, melainkan harus memahami bait demi bait secara keseluruhan, termasuk memahami latar belakang serta keadaan masyarakat pada saat tembang itu digubah. Sebagai contoh, penggunaan kata marang wang (kepada saya) pada baris terakhir bait 31, dan penggunaan kata awak mami (kepada saya) pada baris kelima bait 32. Wang dan mami yang berarti saya, pada hemat penafsir merujuk kepada Nabi Muhammad saw., dan bukan kepada penulis Kidung dalam hal ini Sunan Kalijaga atau pun pembaca kidung. Begitulah, barang siapa yang mengikuti jalan Rasulullah Saw. secara hakikat dipercaya bisa ikut memperoleh hikmah keutamaannya.

Demikian pula penafsiran atas baris keempat dan kelima yang menyebutkan, pan nabi patang puluh, paring wahyu mring awak mami (karena 40 nabi memberikan wahyu kepada saya), tidak berarti Kanjeng Nabi Muhammad menerima wahyu dari nabi-nabi sebelumnya sebagaimana ia menerima wahyu dari Gusti Allah Swt., tetapi dimaksudkan ia menerima limpahan atau meneruskan tugas kewahyuan dari para nabi tersebut. Hal ini dipertegas dengan baris berikutnya yang menyatakan karena ia sebagai nabi terakhir.
Dengan kekuatan kewahyuan yang seperti itu maka kaum beriman akan dengan mudah menduduki Baitul Muqadas atau Masjidil Aqsa.

Kembali pada bait 32 Kidung Kawedar atau disebut juga Kidung Sarira Ayu, baris ketujuh dan kedelapan mengemukakan wibawa Nabi Dawud dan Hamzah, yaitu paman Rasulullah, sehingga bahkan para jin dan setan pun ketakutan, tiada yang berani mendekat. Menilik keperkasaan dan keberaniannya, penyebutan nama Nabi Dawud dan Sayidina Hamzah, diharapkan dapat menarik serta memberikan sugesti keberanian kepada pemeluk-pemeluk Islam yang masih baru dan belum banyak jumlahnya.

Nabi Dawud adalah perintis pembangunan wilayah di mana Betal Mukadas (Baitul Muqadas atau Masjidil Aqsa) yang disebut pada baris kedua bait ini berada. Ia adalah ayah dari Nabi Sulaiman, seorang nabi yang dianugerahi Allah banyak keistimewaan antara lain jago berperang, bisa memahami bahasa burung, serta diamanahi kitab suci Zabur. Di samping seorang nabi, ia juga sekaligus seorang raja yang memimpin kerajaan yang besar dan kuat. Di dalam Kidung Kawedar, disebut sabda Nabi Dawud, karena kecuali ditakuti musuh-musuhnya, ia pun dikaruniani suara nan merdu, sehingga sampai sekarang menjadi kiasan, apabila ada orang yang memiliki suara merdu diibaratkan ia memperoleh suara Nabi Dawud, sebagaimana juga disinggung di bait keempat.

Perihal Baginda Ambyah atau Sayidina Hamzah, namanya memang amat tersohor di semenanjung Melayu semenjak awal abad 16, dan terus menyebar ke Nusantara termasuk Jawa, mengikuti penyebaran agama Islam. Di kalangan Rumpun Melayu, cerita keberanian dan kepahlawanannya yang heroik dalam berperang melawan kaum musyrikin dituangkan dalam Hikayat Amir Hamzah, sedangkan di Jawa dikisahkan dalam Serat Menak.
Serat Menak dengan tokoh utama Hamzah, yaitu paman Kanjeng Nabi Muhammad Saw, mengisahkan perjuangan umat Islam sebelum masa kerasulan Nabi Muhammad saw. Di tengah kekafiran dan kejahiliyahan yang berkembang di sejumlah negeri di Timur Tegah, terdapat kaum hanif yang tetap menjalankan ajaran dari millah Nabi Ibrahim, yaitu Agama Islam. Jadi Agama Islam yang dimaksud dalam cerita Menak sebenarnya adalah ajaran Allah yang telah dimulai sejak masa kehidupan Nabi Adam. Cerita ini secara tersirat juga menegaskan bahwa Agama Allah satu-satunya hanyalah Islam. Sementara itu terdapat agama yang lain yang muncul sebagai bentuk distorsi dari ajaran nabi-nabi sebelumnya. Kaum hanif ini terus berjuang menegakkan kalimat Allah dengan menghadapi tantangan kaum kafir, sambil menantikan kedatangan Nabi akhir zaman yang akan segera tiba, bernama Nabi Muhammad

Di masa kanak-kanak kami tahun 1950an, pertunjukan seni bertutur atau mendongeng yang disebut kentrung, serta wayang dan ketoprak dengan lakon Wong Agung Menak, merupakan tontonan yang digemari masyarakat. Dua tokoh yang penafsir kagumi adalah Umarmaya yang kocak tapi sakti, serta Wong Agung Menak itu sendiri, yang sakti tak terkalahkan lagi disenangi banyak puteri cantik. Di zaman sekarang kepahlawanan mereka tak kalah bila disandingkan dengan Superman, Batman, Spiderman, Cat Women dan para hero dunia maya lainnya.(Untuk versi kajian bait per bait, lihat link tulisan: https://islamjawa.wordpress.com/2014/12/19/serat-menak-kisah-kepahlawanan-amir-hamzah-tafsir-suluk-kidung-kawedar-sunan-kalijaga-13/).

Maasyaa Allaah.

Leave a comment

Filed under Uncategorized

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s