BENARKAH PINTU RAHMAT & PINTU TOBAT SUDAH TERTUTUP?

Dalam tulisan, Permohonan Maaf Menjelang Puasa, kita sudah membahas berbagai pesan singkat di jejaring sosial meyambut bulan Ramadhan. Menjelang nisfu sya’ban pesan yang tidak jarang hanya berupa copas/forward/share/broadcast dan sejenisnya atas sesuatu isi pesan yang sama itu, bukan hanya sekedar menyampaikan permintaan maaf, tapi plus embel-embel pintu maaf dan pintu rahmat sudah akan ditutup pada saat Nisfu Sya’ban.

Maasyaa Allaah. Saling bermaafan itu bagus, namun embel-embelnya itu yang menakutkan. Mengapa pintu maaf ditutup? Padahal Gusti Allah Yang Maha Pengampun, Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, akan selalu membuka pintu ampunan dan pintu rahmat-Nya sampai kita “menutup mata”.

Dalam kehidupan sehari-hari, sesungguhnya banyak orang yang bertindak ceroboh
dan gegabah. Gegabah dalam mencari rejeki, tak peduli halal-haram. Kerakusan, keserakahan atau pun ketakutan kita pada kesusahan kehidupan dunia, mengalahkan ketakutan kita kepada Gusti Allah, mengorbankan ketaatan kita pada Allah Swt dan Kanjeng Nabi Muhammad Saw. Itulah yang disebut syirik khafi atau syirik yang tersembunyi.

Banyak orang yang telah menjadikan kekuasaan, kedudukan, pangkat, gelar, harta benda, hadiah, komisi, order pekerjaan, dan berbagai pesona dunia lainnya sebagai berhala modern yang telah menjerumuskan kita ke dalam lembah kesalahan bahkan merusak ketauhidan kita.

Celakanya lagi, ada orang-orang yang seperti ini justru kehidupan dunianya makin hebat. Mereka tak merasa bersalah. Bahkan menganggap berkah. Setiap tahun umroh atau pergi haji. Traktir sana sini. Obral hadiah dan sedekah kiri kanan, semuanya tentu saja dengan uang ”haram”.

Mulut dan perbuatan yang ceroboh, baik secara sengaja maupun tidak, dapat pula merugikan atau menyakiti hati orang lain. Yang tidak sengaja dan sering orang tidak menyadari misalkan ia menyaksikan seseorang melakukan kesalahan bahkan perbuatan kriminal, dan ia diam saja tidak berusaha mencegahnya, sesungguhnya ia telah melakukan apa yang disebut “crime by omission”. Ikut bersalah karena membiarkan terjadinya tindakan kriminal. Secara spiritual dan moral keagamaan, tentu saja dengan kadar yang berbeda, orang yang membiarkan seseorang melakukan kesalahan terhadap orang lain tanpa berusaha mencegahnya, bisa disebut ikut bersalah. Ia tidak menegakkan nahi munkar.

Lantaran gengsi atau bisa juga karena pengecut, bahkan orang-orang yang jelas bersalah terhadap orang lain, tak mau segera meminta maaf. Nunggu saja nanti pada saat Nisfu Sya’ban atau hari raya Idul Fitri, cukup kirim pesan singkat via telpon genggam atau kartu lebaran, mohon maaf lahir batin.

Di dalam kehidupan, ada orang-orang yang melakukan kesalahan baik secara vertikal terhadap Gusti Allah, maupun secara horizontal terhadap sesamanya, tapi kehidupan dunianya terus membaik. Kehidupan yang seperti itu disebut istidraj. Ia sedang diujo, dimanjakan sekaligus dimabokkan dengan aneka ragam kesenangan, dilambungkan ke atas tinggi-tinggi sampai pada akhirnya nanti dihempaskan remuk-redam. Kecuali segera menyadari kesalahannya dan bertobat.

Sementara itu ada orang yang berbuat salah dan dosa sedikit saja langsung dihukum oleh Allah Yang Maha Adil. Hukumannya spontan. Tapi justru jenis yang terakhir inilah yang harus lebih bersyukur, karena Gusti Allah tidak rela ia menimbun dosa.

Meminta maaf dan menebus dosa dengan bertobat, dalam tasawuf menempati
kedudukan yang sangat penting. Jika diibaratkan rally mobil Sabang-Merauke, etape taubat adalah etape I. Namun sebelum start etape I, perally harus mempersiapkan diri dengan berbagai bekal dan pengetahuan permobilan serta rute perjalanan berikut halang rintangnya. Persiapan tersebut bagi penempuh jalan Tuhan disebut pemahaman tentang ilmu-makrifat.

Demikianlah, orang yang merindukan dekapan dan belaian kasih sayang Gusti Allah, sesudah mempunyai bekal yang cukup, dalam etape I harus membersihkan diri dan jiwanya dari segala macam kesalahan, baik kesalahan terhadap Gusti Allah maupun terhadap sesamanya. Orang yang mengaku Islam haruslah berani bertobat dan bertaqwa. Sedangkan orang yang bertaqwa tidaklah akan melakukan perbuatan-perbuatan tercela.(Ikuti sambungannya: CARA BERTOBAT & MEMOHON MAAF MENURUT AL GHAZALI).

2 Comments

Filed under Uncategorized

2 responses to “BENARKAH PINTU RAHMAT & PINTU TOBAT SUDAH TERTUTUP?

  1. gunawansumo@gmail.com

    Pak Wiek… Matur nuwun. Salam Nusantara. Raya… Sent from my BlackBerry 10 smartphone on the Telkomsel network. From: B.Wiwoho : TASAWUF JAWASent: Minggu, 7 Juni 2015 21.19To: gunawansumo@gmail.comReply To: B.Wiwoho : TASAWUF JAWASubject: [New post] BENARKAH PINTU RAHMAT & PINTU TOBAT SUDAH TERTUTUP?

    a:hover { color: red; } a { text-decoration: none; color: #0088cc; } a.primaryactionlink:link, a.primaryactionlink:visited { background-color: #2585B2; color: #fff; } a.primaryactionlink:hover, a.primaryactionlink:active { background-color: #11729E !important; color: #fff !important; }

    /* @media only screen and (max-device-width: 480px) { .post { min-width: 700px !important; } } */ WordPress.com

    islamjawa posted: ”

    Dalam tulisan, Permohonan Maaf Menjelang Puasa, kita sudah membahas berbagai pesan singkat di jejaring sosial meyambut bulan Ramadhan. Menjelang nisfu sya’ban pesan yang tidak jarang hanya berupa copas/forward/share/broadcast dan sejenisnya atas sesua”

  2. islamjawa

    Aswrwb. Alahamdulillah, matur nuwun Kanjeng Gun. Wonten dawuh? Salam takzim.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s