CARA BERTOBAT & MEMOHON MAAF MENURUT AL GHAZALI.

Dalam tulisan “BENARKAH PINTU RAHMAT & PINTU TOBAT SUDAH TERTUTUP….” yang lalu, kita telah membahas masalah permintaan maaf dan menebus dosa dengan bertobat, yang menempati kedudukan sangat penting.

Tetapi, apa pula yang disebut dosa itu? Al-Ghazali menguraikan ada 3 macam. Pertama, dosa dengan meninggalkan pekerjaan yang diwajibkan Gusti Allah Swt misalkan meninggalkan salat. Kedua, dosa antara manusia dan Allah, seperti minum minuman keras, riba dan terlalu asyik dengan masalah dunia sehingga melupakan apalagi menerjang aturan-aturan Allah. Ketiga, dosa antar manusia misalkan menyangkut urusan harta benda, urusan diri, urusan perasaan, urusan kehormatan dan urusan agama.

Nah dosa jenis ketiga inilah yang justru paling rumit, sebab Gusti Allah Yang Maha Pengampun tidak akan mengampuni kita sebelum manusia yang bersangkutan memaaafkannya. Oleh sebab itu, di awal tulisan ini saya menyatakan kebiasaan meminta maaf menjelang Puasa “sebetulnya” bagus.

Mengapa pakai embel-embel “sebetulnya”? Lantaran dalam kenyataannya, apakah begitu mudah orang memaafkan kesalahan orang lain, terutama bila menyangkut harga diri, hanya oleh sebuah pesan melalui telpon genggam, ucapan di fesbuk atau ocehan di jejaring sosial, yang bersifat umum? Karena itu janganlah kita menggampangkan permintaan maaf. Menurut Al-Ghazali, usaha menghapus dosa melalui tobat dan permintaan maaf harus memenuhi ketentuan sebagai berikut :

Pertama, menyebutkan secara khusus dosa atau kesalahan yang kita perbuat. Jangan dipukul rata sebagaimana jenis-jenis pesan telpon genggam menjelang Puasa atau kartu lebaran.

Kedua, jangan mengulangi dosa atau kesalahan lagi. Pahami dan kenali kesalahan kita, agar kita tidak mengulanginya. Apalagi yang menyangkut perasaan, harga diri dan kehormatan orang lain. Stop semua dosa, kesalahan dan perbuatan-perbuatan tercela, dulu, sekarang dan yang akan datang, dengan niat dan tekad semata-mata karena Allah Swt.

Ketiga, tebus dengan perbuatan-perbuatan baik yang sepadan dengan dosa atau kesalahan kita, sepadan dengan akibat yang ditimbulkan. Ini tentu tidak mudah, sebab tidak jarang kerusakan atau kerugian yang ditimbulkan, sudah terlalu besar. Namun toh peluang tetap ada.

Akhir kata, marilah kita senantiasa berhati-hati agar tidak sempat berbuat dosa, baik terhadap Gusti Allah maupun terhadap sesamanya. Sedangkan bagi yang sudah terlanjur ikuti tiga cara tadi, dan yakinlah Allah Maha Pengampun. Meski dosa kita bagai buih di lautan, ampunan Allah masih jauh lebih banyak, lebih besar lagi.

Tetapi janganlah lupa, mengingat dosa terhadap sesamanya harus terlebih dahulu dimaafkan oleh yang bersangkutan sebelum Gusti Allah memaafkan, maka permohonan maaf atau pun bertobat sebaiknya dilakukan secara tatap muka, dari hati ke hati dalam suasana yang enak dan tepat. Karena permintaan maaf yang disampaikan dengan tidak tepat seperti halnya dengan hanya sekedar melalui jejaring sosial ataupun telpon genggam, justru bisa memperburuk keadaan.

Demikianlah adab meminta maaf menghapus dosa. Dan lebih penting lagi, jangan mengulangi kesalahan. Kita ini bukan keledai, karena sebagaimana bunyi peribahasa, “keledai (saja) tidak akan terperosok dua kali dalam lubang yang sama.” Apalagi kita manusia. Masa sih nggak bisa?

Dengan kerendahan hati dan kebesaran jiwa dalam membangun hubungan horizontal dengan sesamanya yang seperti itu, marilah kita masuki bulan Ramadhan, guna membangun hubungan vertikal, dengan Gusti Allah Yang Maha Adil.

Subhaanallaahi wa bihamdihi
Subhaanallaahil ‘adziim
Astaghfirullaah

Leave a comment

Filed under Uncategorized

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s