Perjumpaan Mesra Dengan Tuhan: Hikmah Ramadhan (7)

Perjumpaan mesra dengan Sang Maha Pencipta pasti menjadi idaman bagi setiap orang yang beriman. Namun demikian seberapa banyak orang yang mempersiapkan diri untuk perjumpaan tersebut, lebih serius dibanding mempersiapkan diri bertemu dengan pacar duniawinya, dengan penguasa dunia seperti Bupati, Gubernur, Menteri atau Presiden? Waallahualam.

Dalam penutup Surat Al-Kahfi (18:110), Allah Swt berfirman kepada Kanjeng Nabi Muhammad Saw. untuk mengingatkan manusia sebagai berikut, “Barangsiapa yang berharap perjumpaan (mesra) dengan Tuhannya, maka hendaklah ia mengerjakan amal saleh dan janganlah ia mempersekutukan dalam beribadah kepada Tuhannya sesuatu apa pun.” Allah juga menegaskan, “Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.” (Al Anbiya’: 107).

Fungsi, peran dan tugas Rasulullah, tentu saja beserta ajaran-ajarannya, telah digariskan Allah sebagai rahmat bagi seluruh alam (rahmatan lil ‘alamin), artinya, Gusti Allah mengirimnya sebagai rahmat untuk semua orang. Barangsiapa menerima rahmat ini dan berterima kasih atas berkah ini, dia akan bahagia di dunia dan akhirat. Namun, barangsiapa menolak dan mengingkarinya, dunia dan akhirat akan lepas darinya, seperti yang Allah peringatkan, “Tidakkah kamu perhatikan orang-orang yang telah menukar nikmat Allah (perintah-perintah dan ajaran-ajaran Allah) dengan kekafiran dan menjatuhkan kaumnya ke lembah kebinasaan? Yaitu neraka jahanam; mereka masuk kedalamnya; dan itulah seburuk-buruk tempat kediaman.” (Ibrahim:28-29).

Sahabat-sahabatku.
Ayat tersebut kembali menegaskan syarat perjumpaan dengan Tuhan, yakni amal saleh dan tidak mempersekutukanNya. Itulah iman dan amal saleh, yang harus ditunaikan oleh manusia sebagai khalifah fil ard yang berkiprah mengikuti junjungannya, Nabi Besar Muhammad Saw.

Perihal manusia selaku khalifah fil ard, Prof.K.H.Ali Yafie dalam buku Merintis Fiqh Lingkungan Hidup halaman 38 menyatakan, manusia adalah pengemban amanah Allah Swt. untuk menjaga atau memelihara dan mengembangkan alam demi kepentingan kemanusiaan. Dalam rangka ini ada sepotong ayat yang diulang-ulang di banyak tempat dalam Al Qur’an, yakni: ‘la tufsidu fil ardhi ba’da ishlahiha.’ Janganlah membuat kerusakan di muka bumi setelah ditata (oleh Allah) (antara lain Al-A’Raaf : 56 dan 85).

Dalam rangka mengemban amanah memelihara dan mengembangkan kehidupan itu, Prof.Ali Yafie merumuskan 4 (empat) macam penataan kehidupan sesuai kaidah fikih yaitu, pertama penataan hubungan antara manusia selaku makhluk dengan Allah Swt sebagai khaliknya. Kedua, penataan hubungan manusia dengan sesamanya. Ketiga, penataan hubungan manusia dalam lingkungan keluarganya dan keempat, penataan tertib pergaulan manusia yang menjamin keselamatan dan ketenteramannya dalam kehidupan.

Betapa rapi Allah Yang Maha Kuasa mengatur keseimbangan alam raya dan kehidupan seluruh makhluknya, ditunjukkan antara lain dalam sebuah hadis dari Abu Hurairah yang menceritakan sabda Rasulullah, “Salah seorang Nabi dari Nabi-Nabi (Allah) pernah disengat oleh seekor semut, lalu dia memerintahkan orang untuk membakar sarang semut itu, maka Allah mewahyukan kepadanya: ‘Karena seekor semut yang telah menyengatmu maka engkau membakar satu umat dari umat-umat yang bertasbih (kepada Allah)? Mengapa pula tidak seekor semut saja (yang menyengatmu yang engkau bunuh)!'” (Hadits riwayat Bukhari dan Muslim).
Sebuah contoh lain lagi mengenai pola hubungan manusia dengan binatang dikisahkan dalam sebuah hadis yang sangat terkenal, Kanjeng Nabi bertutur, “Saat seekor anjing memutari sebuah sumur hampir saja rasa haus membunuhnya, tiba-tiba salah seorang pelacur dari pelacur-pelacur Bani Israil melihatnya, maka segera dia membuka sepatunya (lalu dia mengambil air dengan sepatunya itu) kemudian dia memberi minum kepada anjing itu, maka dengan sebab tersebut diampunkan (dosanya).”
(Hadis Bukhari, Muslim dan Ahmad).

Sahabatku, kisah semut dan anjing di atas nampak begitu sepele, namun mengungkapkan ternyata begitu besar pengaruh amal saleh bagi manusia, meskipun ia hanyalah seorang pelacur yang bergelimang dosa, bahkan dari golongan Bani Israel pula. Semoga tulisan-tulisan pendek ini menginspirasi kita dalam memperbanyak amal saleh yang diridhoi Gusti Allah Yang Maha Pengasih. Aamiin. (Berikutnya: KISAH SEMUT RANGRANG & HAMA WERENG).

1 Comment

Filed under Uncategorized

One response to “Perjumpaan Mesra Dengan Tuhan: Hikmah Ramadhan (7)

  1. gunawansumo@gmail.com

    Alhamdulillah. Matur nuwun Pak Wiek… salam Suluk Nusantara.. Sent from my BlackBerry 10 smartphone on the Telkomsel network. From: B.Wiwoho : TASAWUF JAWASent: Senin, 6 Juli 2015 06.07To: gunawansumo@gmail.comReply To: B.Wiwoho : TASAWUF JAWASubject: [New post] Perjumpaan Mesra Dengan Tuhan: Hikmah Ramadhan (7)

    a:hover { color: red; } a { text-decoration: none; color: #0088cc; } a.primaryactionlink:link, a.primaryactionlink:visited { background-color: #2585B2; color: #fff; } a.primaryactionlink:hover, a.primaryactionlink:active { background-color: #11729E !important; color: #fff !important; }

    /* @media only screen and (max-device-width: 480px) { .post { min-width: 700px !important; } } */ WordPress.com

    islamjawa posted: “Perjumpaan mesra dengan Sang Maha Pencipta pasti menjadi idaman bagi setiap orang yang beriman. Namun demikian seberapa banyak orang yang mempersiapkan diri untuk perjumpaan tersebut, lebih serius dibanding mempersiapkan diri bertemu dengan pacar duniawin”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s