Kisah Semut Rangrang & Hama Wereng: Hikmah Ramadhan (8)

Pernahkah anda digigit semut rangrang yang berwarna coklat kemerahan itu? Yang jika menggigit sulit dilepaskan? Sakit dan panas rasanya. Bagi yang suka berkebun atau setidaknya bermain-main di kebun dengan memanjat pepohonan, gigitan semut rangrang sudah tidak asing lagi.

Di kebun kami semula banyak semut rangrang, sehingga sering diminta orang untuk diambil kroto yaitu telur dan anakannya sebagai makanan burung atau umpan memancing. Sementara itu wabah demam berdarah, mendorong pengurus Rukun Tetangga sering melakukan pembasmian nyamuk penyebab demam berdarah dengan melakukan pengasapan di rumah-rumah dan kebun. Sejalan dengan itu, hama-hama tumbuh-tumbuhan seperti belalang, walang sangit, ulat, kutu dengan lalat putihnya berkembang pesat, sedangkan gigitan semut rangrang makin lama makin berkurang.

Merebaknya hama tanaman tadi sering kami bicarakan dengan para sahabat yang senang berkebun di wilayah Jabodetabek (Jakarta – Bogor – Depok – Tangerang – Bekasi) serta dari daerah lain seperti Yogyakarta dan Malang, yang mengeluhkan hal yang sama. Pada musim panen rambutan dan alpukat baru-baru ini, kami baru sadar ternyata sudah lebih setahun tidak pernah lagi mengalami gigitan semut rangrang. Tatkala hal itu kami sampaikan kepada sahabat-sahabat sehobi, mereka juga baru menyadari hal yang sama. Semut rangrang yang semula banyak, musnah akibat pengasapan dan anak serta telornya yang diambil secara terus-menerus. Kini kami menjadi pemburu semut rangrang untuk kembali kami piara di kebun sendiri.

Kenyataan tersebut menyadarkan kepada kami akan manfaat semut rangrang sebagai predator tidak kurang dari 16 spesies hama tumbuh-tumbuhan, antara lain ulat, serangga pemakan buah, kutu daun serta penyakit-penyakut yang disebabkan virus dan jamur.

Kisah merebaknya hama padi yakni hama wereng atau kepik sejati, pernah juga terjadi pada tahun 1980-an, sehingga menjadi masalah nasional karena dalam tempo singkat memusnahkan ribuan hektar tanaman padi. Hama wereng merajalela lantaran ekosistem terganggu oleh sistem tanam monokultur, dalam hal ini padi yang terus-menerus disertai penggunaan pestisida pembasmi hama yang kian meningkat. Hal itu mengakibatkan predator hama wereng menjadi musnah. Predator atau musuh alami tadi antara lain laba-laba pemburu, kumbang, kepik permukaan air, belalang bertanduk panjang, capung jarum dan jenis jamur tertentu (Lecanicillium lecanii). Saya masih ingat, pada masa itu, Indonesia terpaksa harus mengimpor kepik predator hama wereng dari Hawaii.

Kisah-kisah tentang pelacur Bani Israel yang diampuni dosanya karena memberi minum seekor anjing yang hampir mati kehausan, larangan membakar sarang semut, merebaknya hama tumbuh-tumbuhan akibat musnahnya semut rangrang dan merajalelanya hama wereng, menjadi bukti betapa Allah Swt menciptakan alam semesta secara sangat seimbang tanpa cacat sedikit pun (Surat Al Mulk: 3 – 4) dan bukan untuk main-main (Surat Al Anbiyaa’ : 16) , melainkan dengan sejumlah maksud dan tujuan (Surat Al ‘Ankabuut: 44). Oleh sebab itu Allah mengatur pola hubungan sesama makhluk dan ciptaanNya, demi tetap menjaga keseimbangan alam semesta.

Dalam kaitan inilah maka ahli fikih Prof.K.H.Ali Yafie menegaskan, pelestarian dan pengamanan lingkungan hidup dari kerusakan dan ketidakseimbangan adalah bagian dari iman. Kualitas iman seseorang pada hematnya bisa diukur salah satunya dari sejauh mana sensitivitas dan kepedulian orang tersebut terhadap kelangsungan lingkungan hidup. Melestarikan dan melindungi lingkungan hidup dengan demikian merupakan kewajiban setiap orang yang berakal dan baligh (dewasa); sehingga melakukannya adalah ibadah, terhitung sebagai bentuk kebaktian manusia kepada Tuhan. (Merintis Fiqh Lingkungan Hidup, halaman 14 – 15).

Semoga kita dikarunia bisa memetik hikmah puasa, sehingga sungguh-sungguh kembali kepada fitrah kita nan suci, selaku hamba-hambaNya yang senantiasa mematuhi dan mentaati perintah-perintahNya, termasuk dalam menjaga kelestarian dan keseimbangan ciptaanNya, baik yang berupa hewan, tumbuh-tumbuhan maupun alam raya. Aamiin. (Berikutnya: Mungkinkah Anda Hidup Tanpa Air & Udara ?).

3 Comments

Filed under Uncategorized

3 responses to “Kisah Semut Rangrang & Hama Wereng: Hikmah Ramadhan (8)

  1. gunawansumo@gmail.com

    Matur nuwun Pak Wiek.. salam Nusantara Raya.. Sent from my BlackBerry 10 smartphone on the Telkomsel network. From: B.Wiwoho : TASAWUF JAWASent: Rabu, 8 Juli 2015 12.53To: gunawansumo@gmail.comReply To: B.Wiwoho : TASAWUF JAWASubject: [New post] Kisah Semut Rangrang & Hama Wereng: Hikmah Ramadhan (8)

    a:hover { color: red; } a { text-decoration: none; color: #0088cc; } a.primaryactionlink:link, a.primaryactionlink:visited { background-color: #2585B2; color: #fff; } a.primaryactionlink:hover, a.primaryactionlink:active { background-color: #11729E !important; color: #fff !important; }

    /* @media only screen and (max-device-width: 480px) { .post { min-width: 700px !important; } } */ WordPress.com

    islamjawa posted: “Pernahkah anda digigit semut rangrang yang berwarna coklat kemerahan itu? Yang jika menggigit sulit dilepaskan? Sakit dan panas rasanya. Bagi yang suka berkebun atau setidaknya bermain-main di kebun dengan memanjat pepohonan, gigitan semut rangrang sudah “

  2. kawulo

    terimakasih…inspiring

  3. islamjawa

    Alhamdulillah dan terima kasih. Salam takzim.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s