Hakikat Puasa dan Lebaran Bagi Orang Jawa : Hikmah Ramadhan (13).

Masyarakat Jawa mengenal beberapa tembang atau kidung tentang upaya melatih diri mengasah kalbu, dengan jalan berpuasa serta aneka cara mengurangi makan dan tidur. Salah satu tembang itu, ada dalam Serat Wulangreh yang sudah penulis kutip untuk sub judul Orang Jawa Berlatih Mengasah Kalbu, dan satunya lagi berasal dari Serat Wedhatama juga sudah penulis kutip untuk sub judul Nafsu, Pangkal Kemaksiatan dan Kelalaian. Marilah coba kita renungkan kembali tembang yang berasal dari Serat Wulangreh tersebut:

Padha gulangen ing kalbu
ing sasmita amrih lantip
aja pijer mangan nendra
ing kaprawiran den kesti
pesunen sariranira
sudanen dhahar lan guling

terjemahan bebasnya adalah :

Berlatihlah mengasah kalbu
agar kita menjadi waskita (atau arief)
jangan banyak makan dan tidur
keperwiraan harus menjadi cita-cita
latihlah dengan tekun dirimu
dengan mengurangi makan dan tidur

Kewajiban melaksanakan ibadah puasa di bulan Ramadhan bagi orang Jawa tempo dulu tidak bisa dipisahkan dari hakikat tembang di atas, yaitu dalam rangka melatih diri mengasah kalbu, memohon rida Gusti Allah, agar kita diberi kewaskitaan atau kemampuan menembus hijab sebagai bekal mewujudkan cita-cita keperwiraan, hamemayu hayuning bawono, mensyukuri, melestarikan dan menjaga harmoni alam semesta dengan segenap isinya.

Hakikat tembang itu sendiri, jauh sebelumnya sudah diajarkan oleh Walisongo, kepada masyarakat Jawa yang sebelumnya sudah gemar bertapa dan berlatih menempa diri dengan banyak mengurani makan dan tidur. Latihan seperti itu disebut “tirakat atau prihatin, dari asal kata perih (pedih)nya batin. Sedangkan orang yang senang melaksanakan tirakat disebut sebagai orang yang “gentur tapane”.

Gusti Allah itu, dalam faham Jawa, Maha Adil. Rahmat Allah meliputi segala hal namun tidak pernah menjadikan hamba-Nya betul-betul sempurna. Masing-masing diberi kelebihan dan kekurangan. Hanya sayang, kita sering tidak bisa melihat kelebihan maupun kekurangan tersebut. Padahal kehidupan telah mengajarkan bahwa segala sesuatu selalu diwarnai dua hal yang nampak saling bertentangan. Sedih dan bahagia, suka dan duka, kenyang dan lapar, gelap dan terang.

Hidup tidak selamanya suka, senang dan bahagia. Oleh sebab itu agar kita tahan serta terlatih menghadapi dua hal yang bertentangan dalam kehidupan yang bisa datang setiap saat, maka kita harus menggembleng diri kita dengan sering melakukan tirakat, salah satunya adalah puasa. Dari pada kita memperoleh cobaan susah dan prihatin dari Gusti Allah, maka lebih baik kita sendiri yang memilih jenis prihatin, yaitu dengan jalan tirakat, mengurangi makan tidur, menarik diri dari keramaian dan sejumlah cara pengendalian hawa nafsu, kadang sampai 40 bahkan 100 hari.

Dengan berbagai jenis tirakat, anak-anak Jawa dilatih ikut merasakan penderitaan rakyat kecil, penderitaan fakir miskin. Tirakat disamping membuat hati lembut penuh kasih sayang, pandai mensyukuri nikmat, juga sebaliknya dilatih tegar dan kokoh bagai karang di samudra nan ganas, dilatih menghadapi berbagai tantangan guna mewujudkan keperwiraan. Tirakat melatih hidup di tengah gemerlap pesona dunia, namun dapat membuat jarak dengannya, tidak mengikuti kebiasaan-kebiasaan buruknya, dan selanjutnya terbebas dari jeratan-jeratan hasrat rendahnya.

Orang Jawa yang memeluk Islam menambahkan tujuan puasa sebagai latihan menundukkan dan mengendalikan hawa nafsu, serta mengalahkan setan khususnya setan yang berada di dalam diri kita sendiri.

Karena itu puasa bukanlah tujuan melainkan sarana atau latihan. Bulan Ramadhan bagi kstaria Jawa adalah ibarat kawah Candradimuka, yaitu kawah pendadaran dalam cerita wayang, atau semacam Pusat Pendidikan dan Latihan (Pusdiklat). Maka bulan Ramadhan atau bulan Puasa adalah sama dengan bulan pendadaran, agar sebelas bulan berikutnya kita menjadi hamba Allah yang tangguh, ulet, sabar, senantiasa taat dan tawakal. Menjadi manusia yang memiliki kesadaran diri serta mengenal dirinya sendiri dengan baik. Oleh sebab itu paling sedikit sebulan dalam setahun, kita harus masuk Pusdiklat seperti itu, yaitu Pusdiklat Ramadhan, disamping membersihkan kotoran jiwa dan raga, juga untuk meningkatkan maqam kita selaku hamba Allah. Di dalam Pusdiklat, fisik kita dilatih menahan penderitaan, dilatih menghadapi lapar dan haus. Sedangkan batin kita diasah agar menjadi tajam, tajam kalbunya, tajam mata hatinya, setajam kalbu dan mata hati orang-orang yang arif.

Selama Ramadhan kita harus berusaha memahami dengan sungguh-sungguh peringatan Kanjeng Nabi Muhammad Saw, “Banyak orang yang berpuasa tetapi tidak mendapatkan apa pun dari puasanya kecuali lapar dan haus. Banyak orang yang bangun malam, tetapi tidak mendapatkan apa pun dari bangunnya kecuali terjaga.”

Kalam hikmah yang merupakan hadis Rasulullah tersebut diungkapkan kembali dalam bahasa yang sederhana, dan karena itu kadang-kadang disalahartikan, apatah artinya puasa sehari penuh jika cuma memperoleh lapar dan haus? Apalah artinya salat jengkang jengking jika cuma memperoleh capek? Apalah artinya mengurangi tidur, mata melotot tapi pikiran mengembara tak menentu? Sebab itu yang terpenting bukanlah semata-mata berpuasa secara fisik dan harfiah, tetapi yang jauh lebih utama adalah maknawiyah, hakikatnya. Supaya dapat memetik buah hakikat dan hikmah puasa, di samping mengerjakan apa-apa yang selama ini sudah diajarkan seperti memperbanyak salat sunah terutama tarawih, membaca Al-Qur’an, sedekah dan lain-lain, juga memperbanyak tafakur, mawas diri dan bersyukur.

Melalui tafakur, mawas diri dan banyak bersyukur, kalbu diasah ketajamannya. Digembleng agar kokoh kuat, senantiasa bangun, berjaga dan waspada. Meskipun badan jasmani tergolek di pembaringan, kalbu tidak boleh ikut tidur, apalagi membiarkan badan jasmani dengan pikiran berikut perbuatannya melakukan hal-hal buruk dan kemungkaran.

Dengan demikian, insya Allah kita bisa menjadi hamba Allah, menjadi wakil atau utusan sekaligus balantentara-Nya, yang di samping bisa melaksanakan amar ma’ruf, yang anak kecil pun bisa melakukan, terlebih lagi,ini yang tidak sembarang orang bisa melakukannya, yaitu juga berani nahi munkar.

Tirakat yang disertai dengan banyak tafakur, mawas diri dan bersyukur, harus terus dilakukan meskipun tidak dalam bulan puasa, sehingga secara bertahap kita menuju dan mencapai tingkatan kehidupan yang tidak lagi terpengaruh oleh pasang surut gelombang kehidupan dan keadaan, serta mampu merasakan kaya tanpa harta – menyerbu tanpa pasukan dan menang tanpa harus mengalahkan. Allaahumma aamiin.

Pusdiklat Ramadhan diakhiri dengan apa yang disebut Lebaran, yaitu Hari Raya Idul Fitri. Lebaran, artinya kita sudah selesai mengikuti penggemblengan dan selanjutnya memasuki syawal, siap mengawali perjuangan panjang sebelas bulan ke depan selaku khalifah fil ard-Nya, yang harus senantiasa beriman dan beramal saleh dalam “hamemayu hayuning bawono”, mewujudkan rahmat bagi seisi alam semesta.

Karena beratnya medan perjuangan, masih dalam bulan syawal, dianjurkan lagi untuk menjalani puasa penyempurnaan selama 6 hari. Puasa Syawal ditutup dengan sebuah syukuran yang disebut Lebaran Ketupat atau Hari Raya Ketupat. Ketupat adalah bekal perjalanan yang awet dan bulat, makna hakikatnya yaitu bulatkan tekad bukan hanya sekedar atau semata-mata sebagai hamba Allah, tapi juga sekaligus sebagai Balatentara Allah.

Adakah semua itu masih kita temukan sekarang ini? Mari kita masing-masing menjawabnya sendiri.
Subhaanallaah. (Dikutip dari buku Mutiara Hikmah Ramadhan oleh B.Wiwoho, halaman 32 dari judul asli : Cara Jawa Memetik Hikmah Puasa). Berikutnya: Perayaan dan Ucapan Idul Fitri.

Leave a comment

Filed under Uncategorized

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s