UMAR BIN KHATTAB, PEMIMPIN YANG GAYA BLUSUKANNYA MELEGENDA: Seri Etika & Moral Kepemimpinan (8).

Republik Indonesia memiliki dua Presiden yang senang berkunjung dan berdialog dengan rakyat kecil. Presiden sekarang yaitu Jokowi, senang dengan gaya blusukan dengan rombongan besar dan diekspos media massa. Presiden Soeharto menerapkan gaya turba atau turun ke bawah dengan dua versi. Versi pertama dilakukan sekali-sekali dalam rombongan kecil dan tidak diekspose media massa. Turba diam-diam ini biasanya baru diketahui oleh media massa setelah peristiwanya berlalu. Bahkan pada awal-awal Orde Baru, konon beberapa kali dilakukan hanya dengan ditemani sekitar tiga orang kepercayaan saja dan tidak diekspose sama sekali. Versi kedua dengan rombongan besar termasuk wartawan, dan sering dikemas dalam acara temu wicara yang disebut Kelompencapir atau kelompok pendengar, pembaca dan pemirsa (media massa).

Sekitar lima belas abad sebelumnya, gaya pemimpin blusukan ini sudah dipraktekkan oleh Umar bin Khattab, Khalifah Islam Kedua yang hidup pada 583 – 644 M. Bedanya, Umar hanya betul-betul ditemani oleh seorang sahabat, staf atau ajudannya, diam-diam dan hemat biaya. Dari blusukannya tersebut lahir dua kisah blusukan yang terus melegenda sampai sekarang, yang secara garis besar banyak dihafal oleh umat Islam.

Kisah pertama menggambarkan karena blusukan, Umar beserta isterinya menolong seorang perempuan miskin melahirkan. Isterinya menangani persalinan sedangkan Umar merebus air dan mempersiapkan segala peralatan persalinan.

Yang kedua mengisahkan bagaimana Umar di suatu hari blusukan melihat kehidupan rakyatnya dari rumah ke rumah, mendengar isak tangis kanak-kanak di sebuah rumah sangat sederhana. Setelah diperhatikan dan didengarkan secara seksama, ternyata di rumah itu hidup seorang janda miskin yang sembari menangis pula, merebus air berisi batu sambil membujuk dan menghibur anak-anaknya yang tengah menangis kelaparan. Sang ibu mengulur waktu merebus batu, berharap anaknya tertidur sendiri lantaran capai menangis. Betapa terpukul hati Khalifah Umar, menjumpai rakyatnya yang hidup miskin, bahkan membeli makanan pun tidak sanggup.

Berikut sebagian dialog dari peristiwa yang sangat tersohor itu: “Boleh aku mendekat?” pinta Umar kepada sang janda. “Silakan jika kau membawa kebaikan” jawabnya. “Kenapa anak-anakmu mengangis?” “Mereka lapar.” “Apa yang ada di periuk itu?”. “Air. Aku berusaha menghibur mereka sehingga mereka tertidur. Allah yang akan mengadili Umar karena kesusahan kami.” “Saudaraku!” teriak ajudan Umar memotong yang serentak diberi isyarat oleh Umar agar diam. “Semoga Allah menyayangimu. Bagaimana Umar bisa mengetahuimu?” kata Umar. “Ia pemimpin kami tapi tak memperhatikan kami.”

Maka Umar segera pergi ke gudang pangan, mengambil sekarung gandum dan sebagai hukuman terhadap dirinya sendiri yang belum mampu menyejahterakan rakyatnya, ia menolak ajudan atau sahabatnya yang mau membantu membawakan gandum itu. “Biar aku yang membawanya,” pinta sang ajudan. “Apa kau akan membawakan bebanku di hari kiamat nanti?” sanggah Umar seraya memanggul sendiri gandum tersebut dan bahkan memasakkan untuk mereka.

Selanjutnya dengan muka penuh corengan jelaga dan badan bau asap, ia membantu menyuapi makan anak-anak tadi tanpa diketahui oleh si empunya rumah bahwa tamu yang baik hati itu adalah khalifah junjungannya. “Kau lebih baik dari Amirul Mukminin (Umar),” kata janda beranak tiga itu. “Temui saja Amirul Mukminin besok, dan aku akan hadir juga. Insya Allah dia akan mencukupimu,” balas Umar.

Sahabatku, sungguh sulit membayangkan bagaimana mungkin ada seorang penguasa besar hidup seperti Umar, yang selama masa pemerintahannya, kekuasaan Islam tumbuh amat pesat. Islam mengambil alih Mesopotamia dan sebagian Persia dari tangan dinasti Sassanid dari Persia (yang mengakhiri masa kekaisaran sassanid) serta mengambil alih Mesir, Palestina, Syria, Afrika Utara dan Armenia dari kekaisaran Romawi (Byzantium). Saat itu ada dua negara adi daya yaitu Persia dan Romawi. Namun keduanya telah ditaklukkan oleh kekhalifahan Islam dibawah pimpinan Umar.

Sejarah mencatat banyak pertempuran besar yang menjadi awal penaklukan ini. Pada pertempuran Yarmuk, yang terjadi di dekat Damaskus pada tahun 636, duapuluh ribu pasukan Islam mengalahkan pasukan Romawi yang berjumlah tujuhpuluhan ribu dan mengakhiri kekuasaan Romawi di Asia Kecil bagian selatan. Pasukan Islam lainnya dalam jumlah kecil mendapatkan kemenangan atas pasukan Persia dalam jumlah yang lebih besar pada pertempuran Qadisiyyah (th 636), di dekat sungai Eufrat. Pada pertempuran itu, jenderal pasukan Islam yakni Sa`ad bin Abi Waqqas mengalahkan pasukan Sassanid dan berhasil membunuh jenderal Persia yang terkenal, Rustam Farrukhzad.

Pada tahun 637, setelah pengepungan yang lama terhadap Yerusalem, pasukan Islam akhirnya mengambil alih kota tersebut. Umar diberikan kunci untuk memasuki kota oleh pendeta Sophronius dan diundang untuk salat di dalam gereja (Church of the Holy Sepulchre). Umar memilih untuk salat ditempat lain agar tidak membahayakan gereja tersebut. Lima puluh lima tahun kemudian, Masjid Umar didirikan ditempat ia salat.

Umar melakukan banyak reformasi secara administratif dan mengontrol dari dekat kebijakan publik, termasuk membangun sistem administrasi untuk daerah yang baru ditaklukkan. Ia juga memerintahkan diselenggarakannya sensus di seluruh wilayah kekuasaan Islam. Tahun 638, ia memperluas dan merenovasi Masjidil Haram di Mekkah dan Masjid Nabawi di Medinah. Ia juga memulai proses kodifikasi hukum Islam (https://id.wikipedia.org/wiki/Umar_bin_Khattab).

Sebagai seorang penguasa besar, sesungguhnya wajar bagi Umar untuk hidup mewah minimal cukup. Namun apa yang terjadi sehingga pada suatu malam di saat peceklik ia tak bisa tidur, gelisah membolak-balikkan badan di pembaringan? Ternyata, ia sangat kelaparan, lantaran semua makanan milik pribadinya telah habis dibagikan kepada rakyatnya. Padahal sehari-harinya pun ia hanya makan seadanya mengikuti keteladanan Kanjeng Nabi Muhammad Saw. yaitu roti yang terbuat dari tepung kasar, dicelupkan dalam kaleng minyak makan tatkala panas. Itulah santapannya, yang membuat seorang sahabatnya menangis dan kemudian menawarkan tepung dengan kualitas yang bagus. Apa jawaban Umar: “Apakah semua rakyatku sudah bisa makan dengan roti dari tepung halus seperti itu?” Tentu saja belum, bahkan tidak.

Demikian pula pakaiannya. Juga seperti Rasulullah, hanya dua. Satu diantaranya dengan 12 tambalan. Melihat kehidupannya nan menderita karena gajinya yang kecil yang sama dengan prajurit kebanyakan, sahabat yang lain mengusulkan untuk meningkatkan gaji Umar. Bagaimana reaksi Umar? Persis seperti Khalifah Abubakar tatkala menghadapi urusan yang sama, yakni marah besar kepada pengusulnya. Bahkan Umar mengancam akan menghukum sahabat-sahabat yang mengusulkan kenaikan gajinya.

Sungguh kontras dengan suasana kehidupan kita di Indonesia dewasa ini, di mana para elit penguasa saling berlomba menaikkan gaji, aneka tunjangan dan fasilitas, serta hidup dalam gelimang pesona dunia dan kemewahan, sementara masih banyak rakyatnya yang hidup papa, miskin lagi menderita. Padahal mayoritas dari elite kita adalah muslim juga. Yang juga sering melantunkan shalawat puja-puji dan doa untuk Kanjeng Nabi Muhammad Saw, serta untuk empat khalifah pertama yakni Abubakar, Umar, Usman dan Ali.
Semoga Gusti Allah Yang Maha Agung senantiasa mengasihi Umar, mengampuni serta menganugerahi kita semenjak sekarang sampai di sepanjang zaman kelak, para pemimpin yang amanah seperti Umar. Aamiin. Berikutnya: Pahamkan Anda Tentang Makna Zalim?

Leave a comment

Filed under Uncategorized

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s