TANDA-TANDA PEMIMPIN YANG MEMPEROLEH WAHYU: Seri Etika & Moral Kepemimpinan (14).

Kata “wahyu” memiliki makna yang beragam. Yang paling komprehensif dan sempurna dari seluruh makna tersebut adalah perpindahan pengetahuan kepada pikiran orang yang dituju secara cepat dan rahasia sedemikian sehingga tersembunyi dan tidak nampak bagi semua orang.

Kata wahyu, secara etimologi berasal dari bahasa Arab waḥā yang berarti memberi wangsit, mengungkap, atau memberi inspirasi. Dalam pemahaman sehari-hari, kata wahyu adalah kata benda, dengan bentuk kata kerja awha-yuhi, yang berarti pemberitahuan secara tersembunyi dan cepat, terkadang dengan perkataan simbolik, terkadang dalam bentuk suara tanpa susunan, terkadang dengan isyarah anggota badan dan terkadang dengan tulisan.

Di dalam ajaran Islam, wahyu adalah qalam atau pengetahuan dari Allah, yang diturunkan kepada seluruh makhluk-Nya dengan perantara malaikat ataupun secara langsung. Sekalipun dalam al-Quran kata wahyu digunakan untuk selain para nabi, akan tetapi mayoritas kata wahyu tersebut ditujukan bagi para nabi. Sebagai contoh, Allah Swt berfirman dalam surah an-Nisa ayat 163, “Sesungguhnya kami telah memberikan wahyu kepadamu sebagaimana kami telah berikan wahyu kepada Nuh dan nabi-nabi kemudiannya, dan kami telah berikan wahyu pula kepada Ibrahim, Ismail, Ishaq, Ya’qub dan anak-anak cucunya. Isa, Ayyub, Yunus, Harun dan Sulaiman. Dan kami berikan Zabur kepada Daud.”
Demikian pula dalam surah Yusuf ayat 3, “Dan kami menceritakan kepadamu kisah yang paling baik dengan mewahyukan Al Quran kepadamu dan sesungguhnya kamu sebelum (kami mewahyukannya) adalah termasuk orang-orang yang belum mengetahui.”

Begitu pun dalam surah al-An’am ayat 19 disebutkan, “Katakanlah siapakah yang lebih kuat persaksiannya? Katakan, Allah menjadi saksi antara aku dan kamu dan al-Quran ini diwahyukan kepadaku supaya Dia dengan aku memberi peringatan kepadamu dan kepada orang-orang yang sampai Al-Quran kepadanya.”

Berdasarkan itu maka sebagian besar ulama sepakat bahwa wahyu adalah petunjuk dari Gusti Allah yang diturunkan hanya kepada nabi dan rasul. Meskipun demikian Muhammad Abduh mendefinisikan wahyu di dalam Risalah at-Tauhid sebagai pengetahuan yang didapat oleh seseorang dari dalam dirinya dengan disertai keyakinan bahwa pengetahuan itu datang dari Allah melalui perantara ataupun tidak.

Bagi masyarakat Jawa kebanyakan, kata wahyu dimaknai sejalan dengan definisi Muhammad Abduh di atas, yaitu apa-apa yang dianggap sebagai petunjuk dan hadiah dari Gusti Allah, terutama yang menyangkut pangkat dan kedudukan, misalkan wahyu kepemimpinan, wahyu keratuan, wahyu keprabon dan wahyu kepresidenan. Istilah wahyu kepemimpinan itu menjadi populer lantaran menjadi lakon atau judul dalam kisah pewayangan, yaitu ‘Wahyu Makutoromo”, yang mengkisahkan delapan ajaran kepemimpinan (hasta brata).

Begitulah, cerita wayang di Jawa banyak yang sudah berbeda dengan babon induknya di India, yaitu Ramayana dan Mahabarata. Wayang Jawa banyak mengalami akulturisasi dan oleh ulama-ulama yang disebut Walisongo, dimanfaatkan serta diisi dengan ajaran islami. Demikian pula dalam praktek hidup bermasyarakat. Raja atau Sultan atau Sunan, dalam gelar kehormatannya juga diberi tambahan Khalifatullah Ing Tanah Jawi. Ini sesungguhnya mengandung makna bahwa kepemimpinan itu bukan hadiah melainkan amanah untuk mengemban tugas selaku utusan Allah di muka bumi, khususnya di tanah Jawa.

Sayangnya, hakikat amanah tersebut sering dilupakan dan berganti makna sebagai wahyu yang merupakan hadiah dan mandat yang tidak bisa diganggu gugat oleh orang lain, dan ironisnya, karena merasa sudah memperoleh mandat dari yang Maha Kuasa, maka ia boleh berbuat apa saja tanpa perlu merasa takut bisa dijatuhkan. Akhirnya menjadilah mereka pemimpin yang takabur dan lama-kelamaan menjadi tiran.

Padahal amanah kepemimpinan dalam konsep kewahyuan, bisa juga oncat atau pergi meninggalkan yang bersangkutan, yakni apabila yang bersangkutan tidak menjalankan amanah kepemimpinannya. Hal ini dikisahkan dalam cerita “ Petruk Dadi Ratu, atau Petruk Menjadi Raja.” Wahyu Keratuan kstaria Pandawa oncat setelah mereka tidak amanah, dan jatuh ke punakawan, rakyat jelata yaitu Petruk. Tapi lantaran Petruk juga tidak memiliki pengalaman, kemampuan dan wawasan keratuan, maka dengan wahyu itu ia berbuat seenaknya sehingga wahyunya pun oncat lagi, meninggalkan Petruk dan kembali ke para ksatria yang memang memiliki wawasan dan terlatih dalam kepemimpinan serta sudah menyadari kesalahannya (Hikmah Petruk Jadi Ratu: https://islamjawa.wordpress.com/2015/02/12/hikmah-petruk-jokowi-jadi-ratu/).

Dalam belasan tahun belakangan ini setelah Presiden Soeharto lengser keprabon, salah kaprah tentang wahyu tersebut muncul berkelindan dengan salat tahajud. Beberapa kali kita mendengar seorang tokoh masyarakat yang menceritakan doa yang dipanjatkan dan pentunjuk yang diperolehnya dalam salat tahajud, sehingga kemudian yang bersangkutan maju mencalonkan diri menjadi kandidat pemimpin.

Bagi yang mau merenungkan secara seksama, empat seri awal dalam tulisan Seri Etika & Kepemimpinan ini, sesungguhnya sudah dengan gamblang menunjukkan dan membedakan mana kekuasaan yang diperoleh dengan ambisi dan mana yang diperoleh semata-mata karena amanah.

Pada seri (1) digambarkan kisah hikmah Lukman tentang bagaimana kita menyikapi amanah kekuasaan yang tanpa diminta, sementara pada alinea penutup seri (5) mengisyaratkan kekuasan yang diperoleh karena diminta, karena ambisi, yaitu: “Abah Thoyib dari Semengko, Mojokerto berpesan, ‘Jangan kamu berdoa meminta pesona dunia, meminta dijadikan kaya apalagi berambisi pada pangkat, jabatan dan kekuasaan. Sebab mungkin saja Gusti Allah mengabulkan, tapi jika seraya itu juga sekaligus memberimu banyak musuh serta mencabut keberkahan-Nya darimu, lantas apa nikmatnya?’ ”

Jadi jelas, yang karena amanah apalagi wahyu itu datang sendiri tanpa diminta, sedangkan yang karena ambisi diraih dengan segala daya upaya termasuk doa atau memohon kepada Tuhan, ke dukun dan makhluk gaib dari tempat-tempat keramat, rekayasa dan lain-lain. Meskipun demikian, tidak jarang yang ambisius pun mengemas dengan mencitrakan dirinya sebagai memperoleh hidayah bahkan amanah kewahyuan.

Sebetulnya orang-orang arif bijak Jawa juga mengajarkan, bagaimana kita membedakan antara pemimpin yang memperoleh amanah kewahyuan dan yang bukan, dengan menggunakan bisikan nurani atau batin yang dikenal sebagai kesan pertama. Sesungguhnya Gusti Allah telah membekali batin setiap hambaNya dengan ketajaman dalam melihat seseorang berupa kesan pertama tatkala baru pertama kali berjumpa atau melihatnya. Hanya sayang, kita sering tidak peka menangkap bisikan batin kita sendiri, dan kemudian berdalih dengan menyatakan tidak boleh berprasangka buruk. Padahal kesan pertama yang dibisikkan oleh batin kita bukanlah untuk berprasangka buruk kepada seseorang yang baru dikenal, melainkan untuk bersikap hati-hati, cermat, teliti dan waspada.

Demikianlah ketika saya mulai berkiprah sebagai wartawan Istana akhir 1972, orangtua saya mengajarkan hal tersebut seraya menambahkan, bagaimana kita menilai apakah Pemimpin Pemerintahan akan sukses atau tidak. “Pada saat pengumuman Kabinet, perhatikan wajah dan gerak-gerik para anggota kabinet itu, kemudian pejamkan matamu, singkirkan ambisi duniamu dan cobalah bicara dengan qalbumu. Apakah batin dan perasaan kita senang terhadap mereka, ada rasa ingin membantu secara ikhlas dan sukarela ataukah sebaliknya. Bila demikian halnya, maka bisa diyakini mereka akan sukses. Namun bila yang muncul perasaan sebaliknya, maka besar kemungkinan mereka tidak akan sukses.”

Tentu tidak mudah mengukur potensi sukses seseorang atau sesuatu kepemimpinan dengan rasa batin, karena itu sangat subyektif dan tergantung kepekaan batin seseorang, serta kemampuan meredam pesona dunia saat berbicara dengan qalbunya. Tetapi ada dua tolok ukur. Satu tolok ukur diajarkan para leluhur Jawa, dan satu lagi diajarkan langsung oleh Kanjeng Nabi Muhammad Saw. sebagaimana sabdanya, “Apabila Allah berkenan untuk munculnya kebaikan bagi seorang pemimpin, maka Allah akan memberikan baginya para menteri yang jujur, yang jika lupa (atau salah), maka menteri itu akan mengingatkannya, dan bila ia ingat (atau benar) maka mereka akan membantunya. Sebaliknya, apabila Allah berkendak selain itu, maka Allah akan menyediakannya baginya menteri yang jahat, yang bila ia lupa (atau salah), maka mereka tidak mengingatkannya, dan bila ingat (benar) maka mereka tidak membantunya” (HR. Abu Daud).

Tolok ukur yang diajarkan leluhur Jawa yang pada hakikatnya merupakan kearifan Nusantara, mengajarkan seorang pemimpin yang memperoleh amanah dari Gusti Allah tanpa meminta, memiliki tanda-tanda antara lain, (1) orangnya tawadhu, rendah hati dan sederhana bagaikan Prabu Puntadewa (https://islamjawa.wordpress.com/2014/04/22/pemimpin-ideal-versi-sunan-kalijaga/ dan https://islamjawa.wordpress.com/2013/04/11/suluk-tembang-dakwah-walisongo-3-lagu-gundul-gundul-pacul-bukti-kejenakaan-ulama/); (2) dicintai dan dihormati oleh sesamanya, didengar dan diikuti ucapannya; (3) karena ia dipilih oleh Gusti Allah dan bukan berkuasa karena kemauannya sendiri, maka segala urusannya dimudahkan dan dibantu Allah. Gusti Allah juga akan selalu membantu dia memenuhi kebutuhan rakyatnya, memberikan pertolongan dan menaklukkan musuh-musuhnya. Pemimpin yang memperoleh wahyu juga bagaikan menggenggam kunci perbendaharan bumi sehingga bumi tempatnya berpijak, bagaikan gudang pangan dan rejeki yang senantiasa terbuka lebar demi mewujudkan kemakmuran dan kesejahteraan rakyatnya. Maka berlakulah ungkapan sebagai berikut:

Negara panjang apunjung pasir wukir loh jinawi,
gemah ripah, toto tentren karto raharjo,
panjang dawa pocapane,
punjung luhur kawibawane,
tulus kang sarwo tinandur,
gemah ingkang alampah dagang layar

Terjemahan bebasnya:

Negara besar yang ternama yang dianugerahi kekayaan alam di lautan, di gunung dan buminya,masyarakatnya tertata tertib hidup damai-tenteram, adil makmur sejahtera,jadi contoh dan pembicaraan baik sampai jauh ke masa depan,dihormati dan berwibawa,apa saja yang ditanam (dan dikerjakan) tumbuh subur (terwujud),daya beli rakyatnya tinggi (barang dagangan terasa murah),perdagangan dan pelayarannya (lalu lintas dan perhubungan) berkah.

Nah begitulah saudaraku, kiat-kiat untuk membaca tanda-tanda apakah seseorang itu memperoleh amanah atau wahyu kepemimpinan atau bukan. Yang paling mudah adalah dengan mengunakan kedua tolok ukur tadi sekaligus. Hal ini sejalan dengan nasihat Luqman dalam tulisan seri (1), yakni karena Gusti Allah akan membantu dan melindungi orang yang dianugerahi amanah wahyu kepemimpinan, termasuk memudahkan segala urusannya serta memilihkan para pembantu (atau menteri) yang jujur, cakap, setia dan tulus. Bukan para pembantu yang bak burung pemakan bangkai yang selalu siap mematuk dan mengais bangkai-bangkai kesalahan pemimpinnya. Yang senantiasa mengincar bahkan membuat peluang kebijakan bagi kepentingan pribadinya. Silahkan mencoba mempraktekkan. Berikutnya: MACHIAVELLI PUN TIDAK SUKA PEMIMPIN YANG MENCLA-MENCLE.

Leave a comment

Filed under Uncategorized

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s