FALSAFAH KEPEMIMPINAN HASTA BRATA : Seri Etika & Moral Kepemimpinan (18).

Tipe ideal kepemimpinan Jawa yang dituangkan ke dalam suluk pewayangan sebagaimana Seri (17), lebih lanjut diajarkan secara terinci dalam falsafah Hasta Brata yang berarti Delapan Sifat atau Laku Kepemimpinan.

Dalam cerita wayang versi Jawa, Hasta Brata telah diajarkan pertama kali dalam kisah atau lakon Rama Tundung, oleh Raden Rama Regawa yang merupakan titisan Dewa Wisnu kepada adiknya Raden Barata sebelum dinobatkan menjadi raja di Ayodya bergelar Prabu Barata. Yang kedua diajarkan pula oleh Raden Rama Regawa kepada Raden Wibisono sebelum dinobatkan menjadi raja di Alengka yang berganti nama menjadi Kerajaan Sindelo bergelar Prabu Wibisono dalam lakon Bedah Alengko.

Yang ketiga diajarkan Parabu Kresna yang juga merupakan titisan Dewa Wisnu kepada Raden Arjuna, dalam lakon Wahyu Makutoromo. Berbeda dengan babon cerita aslinya yang dari India, antara epos Ramayana dan Mahabarata tidak ada hubungannya. Tetapi dalam versi Jawa, kedua epos tersebut dikaitkan satu sama lain oleh lakon Wahyu Makutoromo ini, yang mengisahkan adanya petunjuk dari para dewa mengenai diturunkannya wahyu kerajaan ke dunia berupa mahkota kerajaan yang disebut “Wahyu Makutoromo”. Syahdan, barangsiapa memiliki wahyu tersebut, akan menjadi sakti, dan kelak akan menurunkan raja-raja yang memerintah di marcapada atau di dunia. Di sini muncul dan berinteraksi satu sama lain, sejumlah tokoh dari epos Ramayana yaitu Wibisono dan Hanoman, serta tokoh dari epos Mahabarata antara lain Kresna, Arjuna, Bima dan Karna.

Dikisahkan, Wahyu Makutarama bukanlah berwujud benda, melainkan berupa ajaran mulia yang patut dihayati dan dijadikan pedoman kehidupan oleh manusia, terutama bagi para pemimpin. Ajaran inilah yang disebut Hasta Brata. Ajaran ini selanjutnya diturunkan kepada tokoh Angkawijaya dan Prabu Parikesit. Tokoh yang terakhir ini di dalam cerita wayang versi Jawa merupakan leluhur para ksatria Jawa.

Dalam perkembangannya, gubahan Hasta Brata diajarkan dalam bahasa Jawa Tengahan oleh pujangga Keraton Kasunanan Surakarta, Yasadipura I ((1729-1803 M), kemudian oleh cucunya, yaitu pujangga Ranggawarsita dituangkan kembali dalam Serat Aji Pamasa. Di masa kepemimpinan Presiden Republik Indonesia yang kedua, Presiden Soeharto, Hasta Brata sering dijadikan bahan dalam penataran Pancasila serta dipahatkan dalam relief di dinding lobi gedung utama Sekretariat Negara di Jakarta.

Hasta Brata adalah ajaran mengenai seni kepemimpinan yang didasarkan pada sifat-sifat unsur alam. Nampaknya unsur alam seperti tanah, air, api, kayu, angin, logam dan ruang, telah menjadi pedoman dasar penilaian kehidupan manusia bagi bangsa-bangsa di Asia seperti India, Cina, Jepang, Korea dan Indonesia.

Demikianlah Hasta Brata mengajarkan falsafah sekaligus seni kepemimpinan dengan meneladani ciri serta sifat utama delapan unsur alam. Dalam versi wayang, unsur alam diwakili oleh Dewa yang mengelola alam tersebut, yaitu (1) matahari oleh Dewa Surya, (2) bulan oleh Dewa Candra, (3) bintang oleh Dewa Kartika, (4) angin oleh Dewa Bayu, (5) awan atau mendung oleh Dewa Himando, (6) api oleh Dewa Brama, (7) samudera atau lautan oleh Dewa Baruna, (8) bumi oleh Dewa Pratala.

Kedelapan unsur alam tadi harus dipahamai, dihayati dan dijadikan pegangan manajemen kepemimpinan, yang dijabarkan sebagai berikut:

Pertama, matahari atau Dewa (Betara atau Sang Hyang) Surya. Matahari mempunyai sifat panas dan berfungsi sebagai pemberi sarana kehidupan. Maka seorang pemimpin haruslah berperilaku bagaikan matahari yang dapat memberikan semangat dan kehidupan bagi rakyatnya. Tetapi di lain pihak matahari juga mampu membasmi anasir-anasir ataupun virus-virus jahat dalam kehidupan.

Kedua, bulan atau Dewa Candra. Bulan itu indah dipandang serta mampu menerangi kegelapan malam. Seorang pemimpin harus berperilaku seperti bulan, memberikan penerangan dan membimbing rakyatnya yang berada dalam kegelapan, dan bukan sebaliknya membingungkan apalagi menyesatkan.

Ketiga, bintang atau Dewa Kartika. Bintang memiliki bentuk yang manis serta dapat menjadi pedoman bagi mereka yang kehilangan arah. Dalam hal ini pemimpin harus bisa menjadi pedoman perilaku rakyatnya, menjadi teladan serta panutan masyarakat.

Keempat, angin atau udara atau Betara Bayu. Angin bersifat mengisi ruangan kosong. Angin bertiup ke semua arah sampai ke lubang-lebung sekecil apapun. Seorang pemimpin harus dapat bertindak secara teliti dan bijaksana, disamping harus juga bisa menyelami kehidupan seluruh masyarakat.

Kelima, awan, mendung atau Sang Hyang Himando. Mendung tampak menakutkan dan angker, akan tetapi bila telah turun menjadi hujan dapat bermanfaat bagi masyarakat, dapat menyuburkan tanah-tanah yang gersang. Maka seorang pemimpin harus berwibawa sehingga tidak mudah dipermainkan orang, namun juga sekaligus memberikan pengayoman, kesejukan dan kemanfaatan. Kewibawaan pemimpin harus ditunjukkan baik secara fisik, non fisik maupun dalam bentuk pemikiran, tindakan, perilaku dan kebijakan. Dalam hal penampilan fisik misalkan, sedari kecil seorang ksatria sudah dilatih untuk tidak sembarangan bersiul apalagi di depan umum, dilarang mengeluh kepanasan di kala panas dan kedinginan di kala cuaca dingin, dilarang tertawa keras, dilarang minum minuman yang memabokkan agar senantiasa memiliki kesadaran diri secara penuh, tidak mudah kagum dan tidak mudah terkejut.

Keenam, api atau Betara Brama (Bromo). Api mempunyai sifat teguh serta dapat membakar apa saja. Seorang pemimpin harus dapat bertindak adil, memiliki prinsip, dispilin, tegas dalam bertindak tanpa pandang bulu. Api bisa memasak atau mematangkan hidangan bagi kesejahteraan rakyatnya, tapi sanggup juga membakar sampah kehidupan yang mengancam masyarakat, bangsa dan negaranya.

Ketujuh, samudera atau lautan atau Dewa Baruna. Samudera bersifat luas dan mampu menampung segala jenis materi. Seorang pemimpin harus memiliki wawasan yang luas bagaikan samudara raya nan tanpa batas, serta sanggup menerima segala macam persoalan, sanggup menerima saran, kritik bahkan kecaman dan pandai mengendalikan diri. Namun demikian jika diperlukan samudera bisa pula menggulung, menelan serta menenggelamkan segala bentuk ancaman terhadap ketenteraman, keadilan dan kesejahteraan masyarakat, bangsa dan negaranya.

Kedelapan, bumi atau Hyang Pratala. Bumi memiliki sifat suci, kokoh sentosa serta menjadi pijakan kehidupan. Meski terus digali dan dikuras isinya, bumi senantiasa rela, tanpa menuntut balik. Bumi senantiasa mengabdi kepada makhluk hidup khususnya manusia. Dalam hal ini seorang pemimpin harus mempunyai sifat jujur, berbudi luhur serta ikhlas dalam mengabdi kepada masyarakat, bangsa dan negaranya. Bumi juga bisa mengguncang, meruntuhkan apa pun bahkan menelan dan menyimpan bangkai beracun. Maka seorang pemimpin harus bisa memberikan hadiah bagi siapa saja baik punggawa negeri maupun rakyat jelata yang telah berjasa kepada negara. Sebaliknya juga seperti matahari, angin, api dan samudera, bumi berani pula menghukum dan menggulung segala ancaman dan pengganggu kehidupan masyarakat, bangsa dan negaranya.

Sahabatku, itulah sekilas mengenai falsafah kepemimpinan Hasta Brata. Semoga kita memiliki para pemimpin yang menghayati falsafah kepemimpinan tersebut. Insya Allah berikutnya : Kepemimpinan Gajah Mada, Pararaton dan Kidung Sunda.

Leave a comment

Filed under Uncategorized

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s