KEPEMIMPINAN SUN TZU & ZHUGE LIANG : Seri Etika & Kepemimpinan (23)

Jika di pulau Jawa pada abad ke 18 – 19 lahir banyak filsuf pujangga, di Cina telah terjadi pada sekitar abad ke 5 sebelum Masehi. Di samping Lao Tzu dan Khong Hu Cu, pada masa itu ada pula Sun Tzu, ahli strategi perang yang telah menggariskan visi dan seni berperang, yang ditentukan oleh lima faktor yaitu hukum moral, langit dalam hal ini waktu dan cuaca, bumi (alam, jarak dan ukuran), pimpinan serta metode dan disiplin.
Sun Tzu dengan buku “Seni Perang” nya, telah mengilhami banyak pemikir dunia yang mengembangkan dan menerapkan seni perangnya tersebut, bukan semata-mata hanya dalam arti perang konvensional dengan para tentara dan meriamnya, tetapi juga dalam bisnis, manajemen dan pemerintahan.

Mengenai kepemimpinan, Sun Tzu membedakan antara para pemimpin politik seperti Kaisar atau penguasa dan peran komandan lapangan seperti Panglima. Pada hematnya, penguasa yang bijak merundingkan rencana, sementara panglima atau pelaksana lapangan yang mampu, melaksanakannya. Karena itu siapa yang memiliki panglima yang mampu dan tidak diganggu oleh penguasa, maka akan menang.

Wee Chow Hou, Lee Khai Sheang dan Bambang Waluyo Hidayat dalam “SUN TZU, WAR & MANAGEMENT (Elex Media Komputindo, 1992) mengulas panjang lebar Seni Perang Sun Tzu dalam perang dan manajemen modern. Seorang panglima yang mampu misalkan, harus memiliki lima sifat atau atribut penting. Sifat itu adalah kearifan, ketulusan, kebapakan, keberanian dan kekerasan.

Dengan kearifan dimaksudkan kemampuan untuk mengenali keadaan yang berubah sehinga dapat mengambil keputusan dan bertindak cepat. Ketulusan berarti kemampuan untuk dipercaya sepenuhnya oleh bawahan sehingga mereka tidak ragu-ragu akan kepastian menerima imbalan dan hukuman. Kebapakan mensyaratkan cinta kemanusiaan, kemampuan bersimpati dengan orang lain dan menghargai kerja keras serta usaha dari semua tingkatan. Keberanian berarti berani dan pasti serta mampu merebut kemenangan dengan memanfaatkan peluang tanpa ragu-ragu. Sedangkan yang dimaksud dengan kekerasan, sebenarnya lebih tepat disebut ketegasan, adalah kemampuan menanamkan disiplin serta mengundang hormat dan kekaguman anak buah tanpa disuruh apalagi dipaksakan.

Akan halnya kepemimpinan puncak, menurut Sun Tzu harus mampu menegakkan kearifan, kejujuran, kebaikan, keberanian dan ketelitian. Sebaliknya pimpinan harus menghindari lima kesalahan fatal yaitu gegabah, takut, terburu nafsu, gila hormat dan kekhawatiran yang berlebihan.

Pengaruh moral dalam perang, oleh para ahli strategi dan manajemen dapat disamakan juga dengan kepemimpinan dalam politik dan bisnis. Di sini organisasi diumpamakan divisi dalam ketentaraan. Oleh sebab itu lima kiat utama tadi bisa dimaknai sebagai berikut: Pertama, kearaifan mengilhami kecepatan dan kepastian yang penuh perhitungan, bukan gegagah, sehingga tahu bagaimana memanfaatkan berbagai peluang emas.

Kedua, ketulusan untuk mampu mempercayai bawahan dalam pekerjaan mereka, serta tidak mudah dihasut apabila terjadi kesalahan. Pimpinan harus dapat menunjukkan untuk selalu bisa memberikan penilaian dan keputusan yang obyektif dan adil.
Ketiga, kebapakan yang berorientasi pada hubungan kemanusiaan serta memahami masalah bawahan dan menghargai pekerjaan mereka. Meskipun demikian ia juga tidak boleh terlalu iba sehingga tidak mudah diusik oleh masalah kecil. Keempat, mempunyai keberanian untuk mengambil keputusan dan mengambil risiko. Dengan kata lain, ia tidak takut mempertaruhkan kedudukan untuk mengambil keputusan yang benar.

Kelima, memiliki gaya hidup yang keras dan bisa menjadi contoh, menanamkan disiplin dalam organisasi. Sejalan dengan itu seorang pemimpin bersedia belajar dan tidak takut kehilangan muka jika ada yang menunjukkan kelemahannya. Demikianlah, beberapa kiat kepemimpinan dari strategi perang SunTzu yang banyak dikembangkan serta dipakai dalam manajemen dan seni kepemimpinan modern.

Zhuge Liang.

Pada tahun 181 – 234, dalam periode yang dikenal sebagai zaman Tiga Kerajaan, hidup seorang strategi militer dan kepemimpinan Cina yang bernama Zhuge Liang. Usianya tidak panjang karena seluruh hidup dan waktunya, bahkan setelah meninggal, diabdikan bagi bagi bangsa, negara dan rakyatnya.

Zughe Liang menjabat sebagai Perdana Menteri Kerajaan Shu Han di usia 40 tahun, serta memimpin Kerajaan Shu Han dengan tegas, adil dan menegakkan hukum secara taat azaz. Apa yang dikenal dalam manajemen modern sebagai “stick and carrot” atau hukuman dan ganjaran, dilaksanakan secara sungguh-sungguh dan adil, tanpa menghindari tanggungjawabnya sendiri selaku pimpinan.
Menyadari ketergantungan hidup rakyatnya pada pertanian, dia membangun pelbagai proyek prasarana pengairan dan pertanian serta membuka area-area pertanian baru, sehingga negaranya cepat menjadi makmur dengan ketahanan dan ketersediaan pangan yang bagus lagi melimpah.

Meskipun rakyatnya hidup makmur, Zhuge Liang yang dikenal melegenda sebagai Naga Tidur itu tetap hidup sangat sederhana, yang terus berfikir dan bekerja keras sampai-sampai tidak peduli dengan asupan makanan dan kesehatannya. Guna mengetahui kehidupan rakyat dan perilaku aparat negara yang sesungguhnya serta menghindari laporan-laporan “Asal Bapak Senang”, tak jarang seperti Presiden Joko Widodo kita sekarang, Zhuge Liang senang blusukan. Sebagaimana halnya dengan Umar bin Khatab, blusukannya dilakukan secara diam-diam supaya bisa memperoleh bahan masukan dan umpan balik yang benar.

Sebagai Perdana Menteri sekaligus Panglima Perang, Zhuge Liang sangat menguasai masalah intelijen, sungguh-sungguh mengenal diri dan lawan-lawannya. Keberanian dan ketegasannya yang luar biasa, tidak semena-mena digunakan untuk membasmi musuh-musuhnya begitu saja. Sebaliknya dia mengutamakan untuk memenangkan pertempuran dengan menundukkan hati dan jiwa musuh-musuhnya, sehingga kemenangannya sangat gilang-gemilang dan menjadi kenangan.

Zhuge Liang wafat karena menderita sakit dalam usia 53 tahun tatkala sedang memimpin peperangan untuk menundukkan negeri Wu yang dipimpin Sima Yi. Menjelang wafat ia berpesan agar pasukannya tidak melakukan upacara pemakaman, tapi membuat manuver seolah-olah menarik diri. Gerakan pasukannya itu dibaca oleh Sima Yu sebagai Zhuge Liang yang fisiknya lemah itu telah benar-benar wafat, dan dengan segera memimpin tentaranya untuk mengejar pasukan negeri Shu. Tiba-tiba pasukan Shu berbalik seraya melancarkan serangan dahsyat disertai kibaran bendera pribadi Zhuge Liang yang juga nampak duduk di atas kursi tandunya.

Kemunculannya meskipun hanya berupa patung kayu telah memporak-porandakan pasukan Wei. Kisahnya yang dramatis itu diabadikan dengan mendirikan kuil penghormatan, demi mengenang serta menanamkan semangat pengabdian dan jasanya kepada bangsa dan negaranya yang luar biasa. Tak jarang para prajurit dan generasi muda yang mendengar kisahnya, membasahi pakaian mereka dengan tumpahan air mata. Memang benar ungkapan kata-kata bijak yang oleh sebagian orang dianggap sebagai hadis Kanjeng Nabi Muhammad Saw yakni, “ tuntutlah ilmu walau sampai ke negeri Cina.”
Semoga kita bangsa Indonesia juga dikarunia pemimpin-pemimpin bijak nan luar biasa seperti Zhuge Liang. Aamiin. Berikutnya: SENI & KIAT KEPEMIMPINAN AL GHAZALI.

Leave a comment

Filed under Uncategorized

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s