KELOMPOK YANG HARUS DISINGKIRKAN DARI PEMERINTAHAN : Seri Etika & Moral Kepemimpinan (25).

Suatu Pemerintahan akan kuat dan berjaya mewujudkan visi-misinya apabila terdiri dari seorang penguasa dengan para pembantu-pembantunya, yang kompak dalam satu tim kerja. Terhadap hal ini Al Ghazali mengutip pendapat Aristoteles yang menyatakan, “Sebaik-baik penguasa adalah orang yang pandangannya tajam bak burung rajawali, sedangkan orang-orang yang berada di sekelilingnya memiliki kecerdasan serupa, bagaikan banyak burung rajawali, bukan seumpama burung pemakan bangkai.”

Dengan mengkombinasikan pandangan tokoh-tokoh lain di masa sebelumnya, Al Ghazali kemudian menegaskan adanya tiga kelompok orang yang harus disingkirkan dari sisi penguasa yaitu: (1) Orang-orang yang menodai kekuasaannya; (2) Orang-orang yang menodai kehormatannya; (3) Orang-orang yang menyebarkan rahasianya.

Tipuan yang paling berbahaya. Selain mengajarkan untuk menyingkirkan tiga kelompok orang, Al Ghazali memperingatkan pula untuk mewaspadai hal-hal yang bisa menipu penguasa, terutama tiga hal yang paling berbahaya yaitu kekuasaan, kekuatan dan kesenangan akan pendapat dan pengetahuannya. Tiga hal ini serupa dengan ajaran Sinuhun Pakubuwono IV dalam Serat Wulangreh sebagai berikut :
wonten pocapanipun,
adiguna adigang adigung,
pan adigang kidang adigung pan èsthi,
adiguna ula iku
telu pisan mati sampyuh.

Terjemahan bebasnya adalah, ada ungkapan tentang adiguna adigang adigung. Yang adigang yaitu kijang yang menyombongkan kekuatan serta kecepatannya dalam berlari. Yang adigung adalag gajah yang takabur atas kebesaran dan kehebatan fisiknya, sedangkan yang adiguna adalah ular yang merasa paling hebat dengan racun atau bisanya yang mematikan lawan. Tetapi tatkala diadu ketiganya mati bersama-sama tiada yang menang.

Secara harfiah adigang berarti takabur dengan kekuatannya, adigung dengan kebesaran dan keagungan dirinya, sementara adiguna berarti takabur dengan kepandaian dan pengetahuannya. Ketiga sifat buruk itu mudah melekat pada setiap diri manusia, terutama yang yang sedang berkuasa.

Tentang ketiga tipuan tersebut, ada baiknya juga kita merenungkan sebuah pelajaran dari kisah Oedipus dalam mitologi Yunani, tentang kecaman Antigone putri Oedipus kepada Kreon penguasa Tebes, “Kelemahan seorang tiran adalah melakukan apa saja yang dipikirkannya cocok tanpa banyak mendengarkan pikiran rakyatnya.”

Syarat Kepemimpinan. Di samping beberapa kiat kepemimpinan di atas, ada baiknya pula kita menyimak syarat-syarat kepemimpinan menurut filsuf-filsuf Islam terkemuka lainnya. Al Farabi (870 – 950M) misalkan dalam bukunya “Al Madinah al Fadilah,” menetapkan 12 (dua belas) syarat, dan syarat yang pertama adalah sempurna anggota badannya. Satu setengah abad kemudian Al Ghazali (1058 – 1111M) memerasnya menjadi 4 (empat) persyaratan utama yakni (1) Najdah, cukup memiliki kekuatan dan wibawa; (2) Kifayah, mampu menyelesaikan segala soal; (3) Wara’, bersih dan jujur sikap hidupnya; (4) Ilmu, mempunyai pengetahuan, yang dalam perwujudannya dapat dibantu oleh suatu tim.

Imam Al Mawardi, tokoh seangkatan Al Ghazali sementara itu menguraikan syarat dan sebab-sebab yang cukup kuat untuk membebastugaskan seorang Kepala Negara, ialah (1) Pelanggaran moral umum atau moral politik dan pelanggaran terhadap keyakinan agama Islam; (2) Mengalami gangguan atau cedera kesanggupannya dalam menjalankan tugas, baik karena panca indera atau anggota tubuhnya rusak, maupun karena kebebasannya untuk berbuat sudah hilang atau akalnya tidak sehat lagi.

Sahabatku, sebagaimana sabda Kanjeng Nabi Muhammad Saw., kita semua ini adalah pemimpin dalam ruang lingkup tugas dan kehidupan kita masing-masing. Sebagai pemimpin, marilah kita jaga keras agar tidak terjerumus dalam kelemahan seorang tiran, yang cenderung melakukan apa saja yang menurut kita paling benar dengan tanpa banyak mendengarkan pikiran rakyat atau anak buah kita. Lebih-lebih bagi para sahabat yang berada dalam lapisan elit kepemimpinan nasional. Janganlah kita merasa benar dan hebat sendiri. Jangan sesumbar dan jangan menggampangkan persoalan. Semoga. Berikutnya: TANTANGAN KEPEMIMPINAN DI MASA PERANG ASIMETRIS.

Leave a comment

Filed under Uncategorized

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s