Karim Oei & Masjid Lautze, RUMAH BAGI MUSLIM, INDONESIA dan KETURUNAN TIONGHOA : Peluncuran Buku.

cover-depan-yhkopeluncuran-buku-2peluncuran-buku-6peluncuran-buku-1peluncuran-buku-7

.Alhamdulillah, buku Yayasan H.Karim Oei & Masjid Lautze : Rumah Bagi Muslim, Indonesia dan Keturunan Tionghoa telah diluncurkan  pada hari Selasa 4 Oktober 2016 di Gedung PP Muihammadiyah Jakarta, oleh tiga lembaga yaitu PP Muhammadiyah, Centre for Dialogue And Cooperation Among Civilisations dan Yayasan H.Karim Oei. Berikut foto-foto dan beberapa klipping media  dari banyak tulisan yang memberitakan peluncuran buku tersebut:

  1. Din: Hubungan Muslim dan Etnis Tionghoa Sudah Berlangsung Berabad-abad‎  Selasa, 04 Okt 2016 – 16:54:45 WIBAlfian Risfil Auton, TEROPONGSENAYAN

JAKARTA (TEROPONGSENAYAN) – Yayasan Karim Oei (YHKO) dan Masjid Lautze baru saja melucurkan buku berjudul ‘Rumah Bagi Muslim, Indonesia dan Keturunan Tionghoa’ di Gedung Pusat Muhammadiyah Jakarta, Selasa (4/10/2016) sore.

Prof. Din Syamsuddin Pembina YHKO yang juga menjabat sebagai Ketua Dewan Pertimbangan Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengatakan, bahwa buku ini menjelaskan tentang muslim dan etnis Tionghoa yang patut diketahui oleh masyarakat Indonesia.
“Buku ini hadir dalam isu sara yang ada di masyarakat, buku ini menjadi bukti bahwa hubungan antara muslim dan etnis Tionghoa sudah berlangsung berabad-abad,” ujar Din disela-sela peluncuran buku berjudul; Rumah Bagi Muslim, Indonesia dan Keturunan Tionghoa’ di gedung dakwah Muhammadi‎yah.

Selain itu, mantan ketum Muhammadiyah ini berpendapat bahwa peluncuran buku ini adalah tepat waktu karena menjelang Pilkada DKI yang berpotensi memunculkan isu SARA dikalangan masyarakat.
“Semoga dengan adanya buku ini, masyarakat bisa lebih paham dan sadar bahwa hubungan antara Islam dengan Tionghoa dan Tionghoa dengan Islam itu sendiri dapat dipahami,” katanya.
Sementara itu Ketua Badan Pembina Yayasan Haji Karim Oei (YHKO) Prof. Ali Yafie mengatakan dalam sambutannya bahwa, YHKO senantiasa hadir ditengah-tengah pusaran dua kutub perbedaan yaitu peran dan pengarus etnis Tionghoa yang sering menjadi pelampiasan kemarahan.
“Yayasan Karim Oei berhasil membuktikan bahwa nilai-nilai Islam dan Cina adalah selaras dan saling melengkapi. Dalam kaitan itu ini menjadi penting untuk mengembalikan jati diri bangsa Indonesia yang bersendikan Ketuhanan Yang Maha Esa dan Kemanusiaan Yang Adil dan Beradap,” ujarnya.

YHKO didirikan pada tahun 1991 demi mewujudkan persatuan dan keharmonisan nasional antara lain dengan mengantisipasi dan mengatasi kesenjangan sosial ekonomi yang menajam serta dominasi kekuasaan ekonomi yang berbau SARA.
Berkat YHKO, ada 1.500 etnis Tionghoa yang masuk Islam, selain itu YHKO juga melaksanakan program pembaruan bisnis dengan ‘rumah’ yang nyaman bagi segenap anak bangsa khususnya umat Islam. (icl)

 2). Prof Ali Yafie: Nilai-‎nilai Islam dan Cina Sejatinya SelarasRabu, 05 Okt 2016 – 07:29:57 WIBAlfian Risfil Auton, TEROPONGSENAYAN

JAKARTA (TEROPONGSENAYAN) – Ditengah kembali merebaknya isu SARA jelang Pilkada DKI 2017, sesepuh dan tokoh bangsa,‎ Prof KH Ali Yafie angkat bicara.
Menurutnya, proses pembaruan etnis Cina yang selama ini diupayakan masih merupakan sebuah ‘pekerjaan rumah’ yang belum selesai.‎

Etnis Cina, kata Rais ‘Aam PBNU periode 1991 – 1992 itu, masih sering menjadi sasaran pelampiasan kemarahan masyarakat pribumi, dimana sentimen rasial menjadi sumbu pemicunya.‎
“Terlepas dari kondisi tersebut, kita patut berterimakasih kepada Yayasan Karim Oei (YHKO) yang perlahan-lahan berhasil mengubah pandangan masyarakat umum, bahwa etnis Cina merupakan komunitas yang terpisah‎ oleh tembok kokoh yang tidak bisa disatukan karena perbedaan latar belakang budaya yang begitu kental,” kata Ali dalam sebuah diskusi dan peluncuran buku berjudul; ‘Rumah Bagi Muslim, Indonesia dan Keturunan Tionghoa’, di kantor pusat Muhammadiyah, Menteng, Jakarta Pusat, Selasa (4/10/2016)
.
Yayasan Karim Oei (YHKO) ‎merupakan sebuah perkumpulan yang sengaja dibentuk dengan nam yang kental dengan nuansa Islam, Indonesia dan Cina sekaligus.
Tujuannya, untuk mewujudkan persatuan dan kesatuan banga melalui pembaruan bisnis dan agama, terutama Agam mayoritas masyarakat yaitu Islam.
Ali yang tak lain adalah Ketua Badan Pembina YHKO ini menjelaskan, kini Yayasan tersebut melalui berbagai aktivitasnya, berhasil membuktikan bahwa nilai-‎nilai Islam dan Cina sejatinya adalah selaras dan saling melengkapi.
“Ini merupakan kerja keras dan cerdas untuk menerobos tembok pemisah antara pribumi dan etnis Cina, sehingga proses pembaruan menjadi lebih nyata. Bukan sekedar menjadi pemanis kata atau menjadi dagangan politik semata,” tegas Ketua MUI periode 1990 – 2000 itu.
“Dalam kaitan itulah, kehadiran buku ini (Rumah Bagi Muslim, Indonesia dan Keturunan Tionghoa), menjadi sangat penting untuk memberikan sumbangan pemikiran yang menginspirasi gerakan untuk mengembalikan jati diri bangsa Indonesia yang bersendikan‎ ketuhanan YME, dan kemanusiaan yang adil dan beradab,” pesan Ali yang juga mantan rektor IAIN Ujung Pandang. (icl)

3. Berbaurnya Islam dan Etnis Tionghoa di Indonesia .
Selasa 04 Oct 2016, 15:45 WIB Rini Friastuti – detikNews

Jakarta – Yayasan H. Karim Oei (YHKO) dan Masjid Lautze menerbitkan sebuah buku berjudul Rumah Bagi Muslim, Indonesia dan Keturunan Tionghoa. Buku setebal 420 halaman ini menceritakan sejarah perjuangan kesetaraan sosial dan pembauran etnis Tionghoa dengan bangsa Indonesia.

Diluncurkan di Gedung Dakwah PP Muhammadiyah, Menteng, Jakarta Pusat, Selasa (4/10/2016), buku ini diolah dari berbagai artikel, pidato, guntingan berita media massa, catatan sekretariat serta foto dokumentasi kegiatan YHKO, mengenai latar belakang, maksud dan tujuan pendirian YHKO.
Dalam sambutannya, sekjen PP Muhammadiyah Abdul Mu’ti mengatakan buku ini memiliki peranan penting untuk memahami perkembangan Islam di Indonesia tak terlepas dari dukungan bangsa Tionghoa.
“Dalam konteks etnis dan ras, kita melihat sejarah kedekatan bangsa Indonesia dan Tionghoa. Bahkan untuk perkembangan Islam di awal tidak terlepas dari dukungan bangsa China,” ujar Abdul dalam pidato sambutannya.

Dia mengatakan diskusi yang nantinya muncul dalam peluncuran buku ini dapat menjadi pemersatu, sehingga tak ada lagi batas antara satu etnis dengan etnis yang lain karena bangsa Indonesia lahir dari kesatuan.
“Diskusi ini merupakan komitmen kita bersama, sekat itu tidak boleh dibangun dalam perbedaan etnis, tapi unity, kesatuan,” ujarnya.

Din Syamsuddin dalam pidato pembukaannya mengatakan figur Karim Oei, pendiri YHKO bukanlah orang asing di tubuh Muhammadiyah. Dia pernah menjadi konsul Muhammadiyah di Bengkulu, bahkan bersahabat dengan Buya Hamka, tokoh Muslim Indonesia.
Dia juga menceritakan secara singkat hubungan erat yang terjadi antara Islam dan Tiongkok yang sudah berlangsung sejak berabad-abad yang lalu. Bahkan sudah terdeteksi pada abad ke-2 Hijriyah, di mana pasukan Islam di bawah pimpinan Khalifah Umar bin Khattab melakukan ekspansi Islam hingga merambah ke tanah Tiongkok.

“Sehingga di Guangzhou itu ada sebuah bukit dan menjadi sebuah cagar budaya, di sana ada makam Saad bin Abi Waqash, dan ada prasasti serta masjid. Itulah kira-kira kontak Islam dengan Tiongkok, apalagi pada perdagangan jalur sutera, Makkah itu menjadi jalur transit, sehingga nabi dan sahabatnya mengetahui ketinggian peradaban China sebelum peradaban Islam dan Yunani,” jelas Din.
Din berpesan kepada warga Tionghoa di Indonesia untuk tak menganggap Islam sebagai agama asing, dan jangan pula umat Islam menganggap etnis Tionghoa sebagai orang lain. Khususnya dalam kehidupan berpolitik dan demokrasi, di mana isu SARA kembali dimunculkan beberapa oknum.
“Saya menyimpan kekhawatiran dengan dinamika kehidupan nasional termasuk proses demokrasi, agaknya mengemuka kembali sentimen seperti itu antara kedua belah pihak, maka harus dicari jalan keluar. Karena kalau tidak dimanage maka akan menjadi bom waktu sehingga memerlukan kearifan kita semua,” pesan Din.

“Saya ingin menggalang gerakan orang cerdas dan waras menghadapi ekspresi bahkan eksploitasi sentimen primordialisme yang mungkin di ranah politik wajar saja. Apalagi jika keadaan seperti sekarang ini, mudah-mudahan, saya tidak bermaksud mendramatisasi, tapi inilah keprihatinan saya merajut komunikasi ini, bukan hanya dengan etnis Tionghoa, jangan sampai terganggu,” sambung Din.

Pembauran antara etnis Tionghoa dan Muslim Indonesia jangan sampai terusik dengan kekerasan yang terjadi di bidang ekonomi yang berhimpit dengan kepentingan negara. Sentimen-sentimen yang muncul harus dirajut dengan kebersamaan, sehingga tak ada lagi pembeda antara umat Muslim, Indonesia, dan keturunan Tionghoa.
“Ini bakal terganggu apabila ada capital violence, kekerasan pemodal, kekerasan dana, apalagi capital violence itu berhimpitan dengan state violence. Maka sentimen ini belum sembuh betul, jadi ini yang kita rajut, dan buku ini hadir tepat waktu untuk merajut kebersamaan itu,” tutupnya.
(rni/Hbb)

  4. Yayasan Karim Oei Wujudkan Keselarasan Berbagai Nilai Islam dan China
Kamis, 6 Oktober 2016 | 10:45

Halloapakabar.com, Jakarta – Yayasan Karim Oei melalui berbagai aktivitasnya berhasil membuktikan bahwa nilai-nilai islam dan China adalah selaras dan saling melengkapi. Guna menguatkan hakikat itu, Yayasan Karim Oei bersama Muhammadiyah meluncurkan buku berjudul Rumah Bagi Muslim Indonesia dan Keturunan Indonesia.

Prof. KH. Ali Yafie Ketua Yayasan Karim Oei mengatakan ini adalah buah sebuah kerja keras dan cerdas untuk menerobos tembok pemisah antar etnis dalam memeluk agama. “Buku ini menjadi sangat penting untuk memberikan sumbangan pemikiran dan sekaligus mengispirasi gerakan untuk mengembalikan jati diri bangsa Indonesia,” ucap Azmi di Gedung Pusat Dakwah Muhammadiyah, Jakarta.

Menimpali , Dr. Abdul Mu’ti Sekertaris Umum PP Muhammadiyah menegaskan buku ini sangat menarik untuk dibedah karena mengandung nilai lintas etnis dalam beragama islam. “Muhammadiyah cocok dirangkul karena merupakan organisasi lintas etnis dan ras,” ucap Mu’ti.
Mu’ti mengatakan islam di Indonesia tidak bisa dipisahkan dengan budaya dan perkembangan etnis Tionghoa, seperti Laksamana Cheng Ho seorang pemeluk islam yang pernah mendarat di Indonesia. “Sekat-sekat rasial yang menyudutkan etnis China sudah tidak relevan lagi untuk dibicarakan pada masa kini dan masa mendatang. Semua etnis di Indonesia telah terikat oleh Bhineka Tunggal Ika,” tegas Mu’ti

Dalam peluncuran buku itu, sejumlah tokoh NU, Muhammadiyah, Al-Wasliyah, HMI, KAHMI, Al-Irsyad dan LSM hadir pada tanggal (9/4/1991) mendirikan yayasan Haji Karim Oei Tjeng Hien didirikan pada tanggal (9/4/1991) yang selanjutnya disingkat Yayasan Karim Oei (YHKO) sebuah nama  yang kental dengan nuansa Islam dan Cina.

Alasan utama pendirian yayas tersebut, adalah untuk mewujudkan kesatuan dan persatuan bangsa melalui pembauran  bisnis dan agama, terutama agama mayoritas masyarakat yaitu Islam. Para pendiri meyakini, memperkuat kehidupan sosial ekonomi masyarakat pribumi juga harus dilaksanakan secara sistemis dan keberpihakan yang nyata.

Menurutnya, kuat dan sehat, karena pribumi yang kuat akan menjadi kunci utama bagi pembangunan, tiga dalam satu yaitu satu wadah, satu gerakan, satu perjuangan. Kini telah dua puluh lima tahun usia YHKO, telah banyak kegiatan yang dilaksanakan, dan lebih dari seribu lima ratus orang yang telah di Islamkan.

YHKO juga bertekad, akan selalu memperjuangkan agar Yayasan ini menjadi rumah yang nyaman bagi segenap anak bangsa terutama bagi WNI keturunan Cina, dan lebih khusus lagi yang beragama Islam, agar menjadi muslimin dan muslimat yang taat, nasionalis sejati yang sukses dalam kehidupan sosial dan ekonominya.

“Demi ikut mewujudkan persatuan dan keharmonisan nasional antara lain dengan mengantisipasi dan mengatasi kesenjangan sosial ekonomi yang menajam, serta dominasi kekuasaan yang berbasis ekonomi yang diwarnai dengan perbedaan SARA (Suku Agama Ras dan Antar Golongan),” jelasnya.
Sementara itu, peluncuran Buku yang di laksanakan itu, merangkum berbagai artikel, pidato, guntingan berita media massa, catatan sekretariat serta foto-foto dokumentasi kegiatan YHKO. Dua orang anggota badan pembina YHKO yaitu Prof. KH. Ali Yafie dan Prof. DR. M. Din Syamsuddin juga menulis kata sambutan dalam buku tersebut.

Menurut Prof. KH.Ali Yafie, proses pembauran Etnis Cina yang selama ini diupayakan masih merupakan sebuah pekerjaan rumah yang belum selesai, tapi setidaknya yayasan Karim Oey senantiasa hadir di tengah-tengah pusaran dan berusaha mendekatkan dua kutub perbedaan yaitu peran dan pengaruh etnis Cina yang begitu menonjol terhadap penguasaan ekonomi.

“Selain itu, etnis Cina juga sering menjadi pelampiasan kemarahan masyarakat dimana sentimen rasial menjadi sumbu pemicunya. Yayasan Karim Oey melalui berbagai aktifitasnya berhasil membuktikan bahwa nilai-nilai Islam dan Cina adalah selaras dan saling melengkapi,” ungkapnya.
Sedangkan Prof. Dr. Din Syamsuddin berpendapat, bahwa pembauran adalah interaksi dua pihak yang dianggap berseberangan, masing-masing mewarisi trauma psikologis dari sejarah panjang bahkan sejak era penjajahan, dan masing- masing menyandang stereotipe negatif terhadap lainnya.
“Antusipasinya adalah harus mengambil bentuk integrasi, penyatuan, atau persenyawaan. Pembauranyakni berbaurnya dua komunitas (khususnya komunitas etnik Tionghoa berbaur atau membaur dengan komunitas etnik lainnya) baik secara lahiriyah maupun batiniah,” jelasnya.
Dalam kesempatan yang sama, pengamat Sosial Politik asal Universitas Hasanuddin, Makassar, Imran Hanafi menegaskan perlunya keselarasan antara ummat dan suku di Indonesia. “Oleh karenanya keberadaan Yayasan Karim Oey (YHKO) menjadi penting dalam mensinergikan poros transkultural sebagai pilar dimensi Ukhuwah Wathoniyah,” pungkasnya. (fri/rdp).

 

 

 

Leave a comment

Filed under Uncategorized

Yayasan H.Karim Oei & Masjid Lautze: RUMAH BAGI MUSLIM, INDONESIA DAN KETURUNAN TIONGHOA

halaman-perancis-buku-yhkocover-depan-belakang-yhkoYayasan H.Karim Oei & Masjid Lautze :

RUMAH BAGI MUSLIM, INDONESIA  dan KETURUNAN TIONGHOA
Buku baru  420 halaman berwarna penuh (xxxiv + 386), diterbitkan oleh Teplok Press. Telp: 081382896969

buku-yhko-2

Masalah kesenjangan sosial ekonomi di Indonesia, nampaknya dalam waktu dekat belum akan reda, apalagi teratasi. Jika pada tahun 1990-an indeks kesenjangan yang dikenal sebagai gini ratio itu ada di sekitar angka 0,3 sampai 0,33 kini semakin memburuk menjadi di atas 0,43.
Pada akhir dasa warsa 1980-an sampai awal 1990-an, sentimen rasial akibat kesenjangan tersebut sangat terasa, sehingga berbagai upaya untuk mengatasinya gencar dilakukan oleh Pemerintah dan tokoh-tokoh masyarakat. Pada periode itu misalkan, Presiden Soeharto menggariskan kebijakan delapan jalur pemerataan, serta beberapa kali mengadakan pertemuan dengan para konglomerat keturunan Cina, yang kemudian dikenal sebagai pertemuan Tapos. Juga dilancarkan kebijakan untuk menggunakan sekitar 5% keuntungan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) buat membantu pengembangan usaha kecil dan koperasi, kebijakan bapak angkat dengan anak angkat di bidang usaha serta tambahan pungutan terhadap wajib pajak menengah atas untuk masyarakat tidak mampu.
Di kalangan masyarakat, Pimpinan Pusat Muhammadiyah yang dimotori oleh Wakil Ketua Umum, Lukman Harun, merangkul sejumlah tokoh Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM), media massa dan tokoh pembauran antara lain Junus Jahja, menyelenggarakan berbagai dialog dan kerjasama dengan pengusaha-pengusaha keturunan Cina, untuk bersama-sama mencari jalan keluar demi mewujudkan persatuan dan kehidupan berbangsa serta bernegara yang aman, tenteram, damai sejahtera.
Rangkaian pertemuan tersebut mengilhami sejumlah tokoh dari NU, Muhammadiyah, Al – Wasliyah, HMI, KAHMI, Al.Irsyad dan LSM untuk kemudian pada tanggal 9 April 1991 mendirikan Yayasan Haji Karim Oei Tjeng Hien, yang selanjutnya disingkat Yayasan Karim Oei atau YHKO,  sebuah nama yang kental dengan nuansa Islam, Indonesia dan Cina sekaligus. Ini sejalan dengan alasan utama pendirian, yakni mewujudkan persatuan dan kesatuan bangsa melalui pembauran bisnis dan agama, terutama agama mayoritas masyarakat yaitu Islam. Para pendiri meyakini, memperkuat kehidupan sosial ekonomi masyarakat pribumi juga harus dilaksanakan secara sistemis dan keberpihakan yang nyata, kuat tapi sehat, karena pribumi yang kuat akan menjadi kunci utama bagi pembauran. Three in One (3 in 1), tiga dalam satu wadah, satu gerakan, satu perjuangan. Begitu kami sering menyebutnya.
Tak terasa, kini sudah 25 (dua puluh lima) tahun usia YHKO. Banyak dari 20 pendiri dan perintisnya yang kini sudah almarhum, uzur atau sepuh, dan hanya sekitar 3 sampai 7 orang saja yang masih aktif. Demikian pula para sahabat pendukung termasuk para pejabat tinggi negara.
Alhamdulillah selama 25 tahun, telah banyak kegiatan yang dilaksanakan dan lebih dari seribu lima ratus orang yang sudah kita Islamkan. Pelbagai kegiatan yang terkait dengan 3 in 1 tadi, baik yang berskala lokal atau internal, nasional maupun internasional telah kami selenggarakan, secara sendiri atau pun bekerjasama dengan lembaga-lembaga lain. YHKO telah dan akan selalu memperjuangkan agar bisa menjadi rumah yang indah lagi nyaman bagi segenap anak bangsa, terutama bagi WNI keturunan Cina, dan lebih khusus lagi bagi yang beragama Islam agar menjadi muslimin dan muslimat yang taat, nasionalis sejati yang sukses dalam kehidupan sosial ekonominya.
ASING – ASENG MEREBAK KEMBALI.
Bersamaan dengan kelahiran YHKO,  tata kehidupan dunia juga mengalami perubahan yang semakin mencolok. Semenjak akhir abad ke 20, sebagai dampak berpadunya kekuatan modal dengan kemajuan ilmu-teknologi yang super canggih, terjadi Gelombang Globalisasi yang mengumandangkan musik jiwa yang menggalang alam pikiran manusia, untuk terpadu secara total pada dimensi rasionalitas yang memuja pesona dunia melalui kebutuhan-kebutuhan palsu yang menyihir.
Dimensi rasionalitas yang ditata dalam tiga sistem utama yakni sistem pasar bebas, sistem sosial politik demokratis yang individualis dan sistem sosial budaya yang lepas bebas, sudah mulai kita rasakan dampaknya dengan berkembangnya sikap dan gaya hidup masyarakat yang hedonis, individualis, pragmatis, materialis dan narsis.
Musik jiwa dimensi rasionalitas dengan 3 (tiga) paket sistem utama tersebut, menyerbu secara dahsyat negara-negara bangsa,  diantaranya menggempur secara langsung peradaban sesuatu bangsa termasuk Indonesia, terutama pada  aspek nasionalisme, sosial budaya, kearifan lokal, adat dan tradisi, agama serta spiritualisme. Dalam  hal nasionalisme, Gelombang Globalisasi berusaha melunturkan serta mendangkalkan nilai dan semangat nasionalisme sesuatu bangsa atau negara, mengobarkan separatisme dan disintegrasi, memecah-belah, menghancurkan militansi rakyat, menciptakan kesenjangan sosial ekonomi serta menyuburkan konflik horizontal dan vertikal.
Dalam aspek sosial budaya, Gelombang Globalisasi menggelorakan sex bebas dan sex sejenis dengan apa yang sekarang kita kenal sebagai LGBT (Lesbian, Gay, Bisex dan Transexual), mengobarkan budaya hidup yang hedonistis-individualistis, pragamatis-materalitis dan narsis, merusak dan menghancurkan bangunan tata nilai keluarga – kebersamaan – gotongroyong, merusak serta menghancurkan moral masyarakat, kebudayaan, adat, tradisi dan kearifan lokal,
Dalam aspek  agama dan spiritualisme, Gelombang Globalisasi mendangkalkan dan menghancurkan nilai-nilai moral spiritual dan kesalehan yang hakiki, melibas tradisi dan kearifan lokal yang memperkuat spiritualisme dan agama, menciptakan dan mengembangkan aliran-aliran sesat, mengembangkan sekularisme dan secara khusus melakukan deislamisasi terhadap pemeluk agama terbesar dan militan ini.
Gempuran dahsyat tersebut kini sudah bisa kita lihat pada pola pikir, perilaku, gaya hidup dan  bahkan peradaban masyarakat. Nampak jelas, masyarakat Indonesia kini  sedang mabok dalam alunan musik jiwa yang pragmatis, hedonis, individualis, materialis dan narsis. Kita mulai berubah menjadi masyarakat yang sangat egois, yang memuja diri sendiri, yang menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuan, khususnya agar bisa “berkuasa dan kaya dalam tempo yang sesingkat-singkatnya dengan segala cara.” Hidup kita menjadi boros, keras lagi mementingkan diri sendiri. Menjadikan kesalehan hanya sekedar sebagai formalitas.
Pola hidup masyarakat sedang berkembang pesat ke pola hidup yang sangat konsumtif berlebihan, serba mewah dan gemerlap, sehingga menjadikan negeri kita senantiasa defisit dalam neraca pembiayan dan perdagangan luar negerinya. Kita telah menjadi bangsa yang tekor lantaran pola hidup kita. Cobalah perhatikan barang-barang kebutuhan kita sehari-hari, mulai dari bahan pangan yang sangat sederhana seperti garam sampai dengan peralatan elektronik yang canggih, sebagian besar berasal dari impor. Demikian pula penguasaan sumber daya alam, seperti minyak dan gas bumi, mineral dan emas, hutan dan kebun kelapa sawit bahkan air minum dalam kemasan, pabrik semen, rokok dan toko-toko kelontong dan bahan pokok, juga dikuasai oleh modal asing atau pengusaha besar yang bekerjasama dengan asing. Sementara rakyat di sekitarnya tetap miskin.
Tak pelak lagi, kesenjangan sosial ekonomi kembali merebak bahkan semakin melebar, sebagaimana ditunjukkan oleh indeks kesenjangan di atas tadi, yang mendekati tanda bahaya. Suhariyanto, Deputi Bidang Neraca dan Analisa Statistik BPS, dalam diskusi  dengan para pemimpin redaksi media massa April 2014 menjelaskan, angka ketimpangan sosial ekonomi Indonesia saat ini tercermin secara nyata dalam gini ratio Indonesia yang tidak membaik sejak 2011 silam, yang berada di level 0,41.
Rasio gini berada di angka 0 hingga 1, yang dalam pengertian awam mencerminkan seberapa besar porsi orang kaya menikmati kue ekonomi nasional. Semakin besar gini rasio, semakin besar tingkat ketimpangan.
Gini rasio hingga 0,3 dianggap masih aman, tetapi 0,4 hingga 0,6 sudah dianggap lampu kuning, sedangkan lebih dari 0,6 adalah rasio yang berbahaya, yang menunjukkan ketimpangan sosial ekonomi tak lagi bisa ditoleransi. Kondisi gini rasio yang masih relatif “hijau” terjadi hingga tahun 2010, di mana posisinya masih di angka 0,38. Di era Orde Baru, gini rasio berkisar 0,31-0,38.
Data BPS juga mengindikasikan kondisi ketimpangan sosial ekonomi yang makin melebar, jika dikonfrontasikan dengan laju pertumbuhan ekonomi yang mencapai 5%-6% dalam beberapa tahun terakhir. Kelompok kaya lebih mendapatkan manfaat dari pertumbuhan ekonomi tersebut. Pada 2008, 40% penduduk di kelompok pendapatan terendah masih menikmati PDB antara 21%-23%. Namun porsi itu anjlok menjadi hanya 16% pada 2012.
Sebaliknya, 20% penduduk terkaya, yang pada 2008 sudah menikmati  40% produk domestik bruto atau kue ekonomi nasional, melonjak menjadi penikmat 49% kue ekonomi nasional pada 2012.
Ini terjadi, karena dari rata-rata laju pertumbuhan ekonomi 6%, penduduk miskin hanya menikmati kenaikan pendapatan maksimal 2% per tahun. Sebaliknya penduduk terkaya menikmati kenaikan pendapatan hingga 8%. Artinya kenaikan pendapatan penduduk yang kaya melonjak signifikan, sedangkan penduduk miskin meski pendapatannya naik tetapi tidak besar. (http://finansial.bisnis.com/read/20140419/9/220506/kesenjangan-kaya-miskin-vs-indeks-kebahagiaan-biar-timpang-asal-bahagia)
Ironisnya, di negeri kita tercinta Indonesia ini, yang justru memprihatinkan, kelompok-kelompok yang paling menikmati sumber daya alam dan kue pembangunan, adalah kelompok yang oleh berbagai media massa terutama media sosial yang sangat luas jaringan dan jangkauannya, dicirikan dan disebut Asing – Aseng, yang tiada lain adalah orang-orang asing dan WNI keturunan Cina, yang secara kebetulan dalam keyakinan beragama juga banyak berbeda dengan mayoritas penduduk.
Posisi strategis Asing – Aseng khususnya WNI keturunan Cina pada kegiatan ekonomi, dalam praktek kehidupan adalah merupakan kekuasaan potensial dan aktual, yang selanjutnya  mudah merambah ke penguasaan sumber daya alam, penguasaan media massa kemudian ke politik dan pemerintahan dan lain sebagainya, yang apabila tidak diatasi secara sistemis strategis, maka akan menjadi gurita kekuasaan yang mendominasi. Padahal dominasi hanya akan melahirkan pertentangan, cepat atau lambat, dominasi akan menemui perlawanan.
Demi ikut mewujudkan persatuan dan keharmonisan nasional antara lain dengan mengantisipasi dan mengatasi kesenjangan sosial ekonomi yang menajam, serta dominasi kekuasaan yang berbasis ekonomi yang diwarnai dengan perbedaan SARA (Suku Agama Ras dan Antar Golongan) tersebutlah maka Yayasan Haji Karim Oei (YHKO) pada tahun 1991 didirikan. Dalam berbagai kesempatan, para pendiri YHKO disamping berusaha keras mewujudkan pembauran, juga berkeyakinan dan oleh sebab itu selalu menyatakan bahwa Indonesia harus memiliki pribumi yang kuat, karena pribumi yang kuat merupakan kunci pembauran. Untuk itu pula Pemerintah harus memiliki serta melaksanakan kebijakan strategis yang menyeluruh dan terpadu, bukan hanya bersifat tambal sulam, emosional, dan manipulatif, serta tidak pernah menyentuh persoalan utama yakni penguasaan modal yang menyebabkan peta kompetisi menjadi sangat tidak seimbang. Yang juga tidak kalah penting, adalah secara sungguh tidak pandang bulu, memberantas KKN (Korupsi – Kolusi – Nepotisme).
KEJAYAAN & KEHANCURAN PERADABAN.
Para pendiri Yayasan Karim Oei memahami sejarah panjang dunia termasuk Indonesia,yang  mengajarkan adanya siklus kejajayaan dan kehancuran nan silih berganti tanpa henti akibat bencana alam, perang dengan negara lain, perang saudara ataupun karena pergolakan-pergolakan di dalam negara bahkan juga akibat kemerosotan peradabannya. Demikian pula sejarah Nusantara.
Sejumlah peninggalan sejarah di Indonesia membuktikan pernah berlangsungnya peradaban tinggi misalkan sejumlah candi di pegunungan tinggi Dieng, candi Borobudur, puluhan candi di Prambanan dan puing-puing rerentuhan Keraton Boko, semuanya di Jawa Tengah. Sementara itu sejumlah candi serta bukti peninggalan peradaban yang sudah maju lainnya, juga terdapat di berbagai pelosok Nusantara.
Di bidang pelayaran dan perdagangan, beberapa sumber tulisan dari Barat sebagaimana dikutip Agus Sunyoto dalam Atlas Walisongo, Pustaka Ilman, Trans Pustaka dan LTN PBNU, 2012, menyatakan pada tahun 70-an Masehi, cengkih dari kepulauan Maluku sudah diperdagangkan di Roma, dan semenjak abad ketiga Masehi, perahu-perahu dari kepulauan Nusantara telah menyinggahi anak benua India serta pantai timur Afrika, dan sebagian di antaranya bermigrasi ke Madagaskar.
Bukan hanya dari para pencatat perjalanan orang-orang Barat saja, kisah pelayaran tadi juga bisa ditemukan di relief Candi Borobudur. Pada tahun 2003, pengrajin kapal dari Madura telah membuktikan kehandalan perahu di relief candi tersebut, dengan membuat tiruannya, sekaligus napaktilas pelayarannya. Kapal yang dinamai “Samudraraksa” ini berlayar ke Afrika dengan selamat dan kini disimpan di Musium Kapal Samudraraksa di Borobudur
(http://www.tempo.co/read/news/2003/07/03/05521575/Ekspedisi-Kapal-Borobudur-Dapat-Memberdayakan-Budaya dan http://setuparch.blogspot.com/2013/09/kapal-kapal-sriwijaya.html ). Replika berikutnya diberi nama “Spirit of Majapahit”, diluncurkan menuju Jepang dari dermaga Marina, Jakarta pada 4 Juli 2010. (http://www.jpnn.com/index.php?mib=berita.detail&id=67324).
Pencatat sejarah China anak buah Fa Hsien di akhir abad III dan awal abad IV Masehi menerangkan pula bahwa pelaut-pelaut Nusantara memiliki kapal-kapal besar yang panjangnya sekitar 200 kaki (65 meter), tinggi 20 – 30 kaki (7 – 10 meter) dan mampu dimuati 600 – 700 orang ditambah muatan seberat 10.000 hou. Sementara pada masa itu panjang jung China tidak sampai 100 kaki (30 meter) dengan tinggi kurang dari 10 – 20 kaki (3 – 7 meter). Catatan yang ditulis dalam Tu Kiu Kie ini telah dikutip oleh banyak ahli yang mempelajari sejarah agama Buddha maupun Asia Tenggara di masa lalu.
Ahli Javanologi Belanda, Van Hien tahun 1920 dalam De Javansche Geestenwereld, yang disadur secara bebas oleh Capt.R.P.Suyono dalam Dunia Mistik Orang Jawa, penerbit LkiS Yogyakarta 2007 halaman 12, menerangkan Shi Fa Hian (Fa Hsien) dalam perjalanannya pulang ke China diserang badai dan terdampar di pantai Jawa. Ia berdiam lima bulan di Jawa, menunggu selesainya pembuatan sebuah kapal besar yang sama dengan kapalnya yang rusak dihantam badai (juga Atlas Walisongo halaman 20).
Berbagai catatan sejarah menyatakan, pada sekitar abad VII – XII Masehi, di pulau Sumatera juga berlangsung pemerintahan Kerajaan Sriwijaya yang kekuasaannya meliputi Asia Tenggara termasuk pulau Jawa. Puncak kejayaan Sriwijaya terjadi pada abad VIII. Sejarawan S.Q. Fatimi menyebutkan bahwa pada tahun 100 Hijriyah (718 M), seorang maharaja Sriwijaya (diperkirakan adalah Sri Indrawarman) mengirimkan sepucuk surat kepada Khalifah Umar bin Abdul Aziz dari Kekhalifahan Umayyah, yang berisi permintaan kepada khalifah untuk mengirimkan ulama yang dapat menjelaskan ajaran dan hukum Islam kepadanya. Surat itu dikutip dalam Al-‘Iqd Al-Farid karya Ibnu Abdu Rabbih (sastrawan Kordoba, Spanyol), dan dengan redaksi sedikit berbeda dalam Al-Nujum Az-Zahirah fi Muluk Misr wa Al-Qahirah karya Ibnu Tagribirdi (sastrawan Kairo, Mesir ” Dari Raja sekalian para raja yang juga adalah keturunan ribuan raja, yang isterinya pun adalah cucu dari ribuan raja, yang kebun binatangnya dipenuhi ribuan gajah, yang wilayah kekuasaannya terdiri dari dua sungai yang mengairi tanaman lidah buaya, rempah wangi, pala, dan jeruk nipis, yang aroma harumnya menyebar hingga 12 mil. Kepada Raja Arab yang tidak menyembah tuhan-tuhan lain selain Allah. Aku telah mengirimkan kepadamu bingkisan yang tak seberapa sebagai tanda persahabatan. Kuharap engkau sudi mengutus seseorang untuk menjelaskan ajaran Islam dan segala hukum-hukumnya kepadaku.” (Surat Maharaja Sriwijaya kepada Khalifah Umar bin Abdul Aziz. http://id.wikipedia.org/wiki/Sriwijaya, 1 Mei 2015 pukul 18.45 ).
Bukti tentang peradaban yang cukup maju lainnya ditemukan pula melalui berbagai prasasti dan kondisi lapangan, yang menjelaskan mengenai setidaknya ada lima sistem irigasi yang tertata baik, yang dibangun pada rentang periode abad 9 sampai 14 di lembah Sungai Brantas, Jawa Timur (1000 Tahun Nusantara, Kompas 2000, hal 128).
Pun demikian kondisi pada sekitar abad XV – XVI, tatkala para ulama gencar berdakwah ke Nusantara. Pamor Kerajaan Nusantara Majapahit yang beribukota di Trowulan, Jawa Timur, memang sedang memudar, bahkan kekuasaannya mulai runtuh. Meskipun demikian gambaran kebesaran peradabannya dicatat oleh pengembara Portugis tahun 1512 – 1515 Tome Pires dalam karyanya yang sangat terkenal dan sering menjadi sumber rujukan sejarah Asia Tenggara, Suma Oriental (dalam Pemugaran Persada Sejarah Leluhur Majapahit oleh Prof.Dr. Slamet Mulyana, Inti Idayu Press, Jakarta 1983 halaman 282, 283 dan seterusnya). Menurut Tome Pires, Sultan Malaka yang bergelar Raja Muzaffar Syah (1450 – 1458) serta puteranya yaitu Raja Mansyur Syah (1458 – 1477), sebagai raja bawahan Jawa, memiliki hubungan yang baik dengan Jawa. Bahkan untuk keperluan menunaikan ibadah haji ke Mekah, Raja Mansyur Syah memesan jung besar dari Jawa.
Demikianlah, dari sekilas gambaran tadi kita bisa mempelajari siklus kejajayaan dan kehancuran negeri kita di masa lampau sampai menjadi negara modern Indonesia sekarang ini, yang sudah barang tentu memakan korban yang tidak sedikit. Kita tidak ingin kesenjangan sosial ekonomi yang disertai unsur-unsur SARA  menerpa Indonesia yang sekarang, yang sedang mengalami ledakan penduduk menjadi sekitar 250 juta jiwa ini. Harus kita syukuri, telah banyak kemajuan  dan hal-hal postif yang kita capai. Namun begitu masih banyak lagi tantangan dan ancaman di depan mata yang kita hadapi, yang semoga dengan ridho dan berkah Tuhan Yang Maha Kuasa, akan kita atasi dengan kerja keras, cepat dan tepat.
Kenyataan yang menuntut antisipasi penanganan yang cepat dan tepat tersebut, mendorong Rapat Badan Pembina dan Pengurus Karim Oei akhir 2015 yang lalu, untuk meningkatkan sumbangsihnya dengan antara lain menerbitkan buku, yang kemudian kami beri judul sementara : “Yayasan H Karim Oei & Masjid Lautze : RUMAH BAGI MUSLIM, INDONESIA dan KETURUNAN CINA.”, sekaligus mensyukuri ulang tahun YHKO yang ke 25 (duapuluh lima), insya Allah pada tanggal 9 April 2016.
Buku ini diolah dari berbagai artikel, pidato, guntingan berita media massa, catatan sekretariat serta ribuan foto dikumentasi kegiatan YHKO, baik yang dilakukan sendiri maupun bersama lembaga lain, baik yang bersifat internal atau eksternal, nasional maupun internasional.
Sebagaimana lazimnya organisasi masyarakat, sosial dan keagamaan di Indonesia,  kesekretariatan, kearsipan dan dokumentasi yang pada umumnya ditangani oleh tenaga-tenaga sukarelawan serta dana yang terbatas, menjadi masalah tersendiri. Sungguh memerlukan upaya khusus dan ekstra buat meneliti dan mempelajarinya satu per satu. Hal itu pula yang diungkapkan  oleh salah seorang pendiri YHKO almarhum Junus Jahja, sepulang dari mengunjungi “Moslem Converts Association of Singapore (MCAS)” pada akhir Maret 1996. Ia mencita-citakan YHKO suatu saat bisa seperti MCAS yang memiliki dana besar dengan para manajer dan belasan staf profesional, serta kaderisasi kepengurusan yang terus berlangsung dan bersambung secara baik dari satu generasi ke generasi berikutnya. Semoga bisa menjadi kenyataan. Aamiin.
Berbagai artikel, pidato, catatan, guntingan berita dan foto-foto tersebut kami susun dan kelompokkan  serta disunting di sana-sini, beberapa diantaranya diberi judul baru. Agar menarik dan untuk menyingkat halaman sekaligus mengungkapkan banyak informasi dan catatan kegiatan, setiap tulisan di buku ini disertai ilustrasi foto kegiatan. Foto-foto asli yang termuat di kliping media kami ganti dengan foto-foto berwarna dokumentasi kami. Sedangkan sejumlah foto yang tidak masuk sebagai ilustrasi dalam tulisan kami muat tersendiri tanpa artikel, melainkan hanya dengan beberapa teks foto pendek, karena kami yakin foto itu sendiri sudah bisa mengungkapkan banyak hal.
Meskipun demikian ternyata tidak semua kegiatan dan foto dapat kami tampung dalam buku kecil ini, antara lain karena disamping keterbatasan halaman, juga karena kami ingat ada kegiatan atau tamu penting tertentu namun ternyata kami tidak memiliki foto dokumentasi yang layak. Untuk kerja keras, ketekunan dan ketelitian dalam membongkar, membedah serta menyusun ulang segudang arsip dan dokumentasi itu semua, penyunting dibantu dan mengucapkan terima kasih yang tak terhingga kepada Ketua Umum YHKO M.Ali Karim, Sekretaris Pelaksana YHKO Ana Kirbrandiana dan staf pribadi penyunting Purwanto.
Akhirul kalam, penyunting memohon maaf yang sebesar-besarnya, terhadap hal-hal yang mungkin membosankan lantaran ditulis berulang-ulang, terutama mengenai latar belakang, maksud dan tujuan pendirian  YHKO. Hal itu terpaksa tak bisa dihindari mengingat buku ini merupakan rangkuman kegiatan YHKO dari satu acara ke acara yang lain, dari sambutan dan atau wawancara yang satu ke yang lain. Sedangkan materi yang berulang tersebut adalah bagian yang tak terpisahkan dari acara atau pun wawancara itu sendiri.
Semoga buku yang berisi rekam jejak YHKO ini memperoleh ridho, rahmat dan berkah dari Gusti Allah Yang Maha Kuasa, serta bisa menjadi bekal yang bermanfaat bagi perjuangan kita membangun kesatuan dan persatuan sebagai bangsa Indonesia yang hidup aman tenteram, adil makmur sejahtera dan jaya sentausa. Alhamdulillah. Aamiin,
cover-depan-yhkopenfantar-yhko-1pengantar-yhko-2pengantar-yhko-3daftar-isi-yhko-1daftar-isi-yhko-2daftar-isi-yhko-3daftar-isi-yhko-4Beji, Depok 09 April 2016.

Leave a comment

Filed under Uncategorized

BUKU MUTIARA HIKMAH PUASA

BUKU MUTIARA HIKMAH PUASA

Alhamdulillah, hari ini  Selasa 24 Mei 2016 , kami memperoleh informasi dari grup penerbitan anak-anak muda : guepedia, kumpulan tulisan tentang puasa yang telah dimuat di blog ini dan disejumlah media sosial lainnya, telah diterbitkan. Penulis sendiri sampai saat ini belum memegang langsung buku tersebut. Untuk menyegarkan ingatkan menjelang bulan Ramadhan beberapa hari mendatang, berikut adalah sinopsis buku tersebut:

MEMETIK MUTIARA HIKMAH & HAKIKAT PUASA.

Setiap tahun, umat Islam di segenap penjuru dunia menjalani ibadah puasa wajib selama sebulan penuh, yaitu puasa Ramadhan. Kecuali itu juga ada lagi puasa sunah yang lazim kita sebut puasa Senin – Kamis.

Banyak hal populer yang terkait dengan puasa, yang sering menjadi bahan perbincangan sehari-hari, lebih-lebih di era global dengan media komunikasi yang luar biasa cepat dan canggih ini. Namun demikian ternyata masih banyak yang belum memahami makna dan hakikat dari hal-hal popular yang dibicarakan, sehingga ungkapan-ungkapan yang menyertai terasa hambar atau bahkan keliru.

Buku kecil yang menghimpun tulisan-tulisan pendek B.Wiwoho di berbagai media sosial antara lain facebook Tasawuf Djawa dan blok https://islamjawa.wordpress.com serta sejumlah media online ini, menjelaskan hal-hal yang terkait dengan puasa misalkan masalah taubat dan maaf memaafkan, penentuan kapan mulai puasa dan kapan berlebaran, imsak dan batas sahur, ucapan idul fitri serta berbagai mutiara kehidupan yang tersimpan di dalam hakikat dan hikmah puasa.

Puasa Ramadhan yang termasuk dalam ibadah mahdah itu sangat penting dan hukumnya wajib. Namun kalau hanya sekedar menahan makan minum dan syahwat serta tidak melakukan perbuatan maksiat selama bulan Ramadhan saja,   tidaklah cukup. Karena di samping harus melaksanakan ibadah mahdah yang seperti itu, ternyata masih banyak lagi hal-hal yang menuntut amal perbuatan, amal saleh kita melalui ibadah muamalah. Memberantas korupsi yang dampaknya luas dan sangat luar biasa jahatnya bahkan lebih jahat dibanding teroris, membasmi ketidakadilan dalam kehidupan bermasyarakat – berbangsa dan bernegara, memerangi penyebab-penyebab kemiskinan, melawan perusakan alam dan lingkungan, demikian pula melawan kezaliman, kemunafikan dan kemungkaran, yang boleh jadi bahkan sedang bersimaharajelala di diri kita, yang justru mungkin tidak kita pahami dan sadari, adalah juga ibadah.

Semoga dengan tulisan-tulisan yang disajikan secara ringan dan pendek-pendek ini, kita dengan mudah memahami serta menghayati hakikat serta hikmah puasa, baik puasa wajib di bulan Ramadhan maupun puasa-puasa sunah lainnya.Alhamdulillah, aamiin.

DI MANA BISA MEMPEROLEH?

Antara lain di jaringan pemasaran online sbb:

Tokopedia
https://www.tokopedia.com/guepedia/mutiara-hikmah-puasa?n=1
Bukalapak

https://www.bukalapak.com/p/buku/novel/1mfvjs-jual-buku-mutiara-hikmah-puasa

Elevenia

http://www.elevenia.co.id/prd-mutiara-hikmah-puasa-13786417

Jualo.com

https://www.jualo.com/jakarta/jakarta/buku-novel-dan-komik/mutiara-hikmah-puasa

olx.co.id 

http://olx.co.id/iklan/mutiara-hikmah-puasa-IDicI0D.htm

Dinomarket.com

http://www.dinomarket.com/PASARDINO/94452758/Jual-Mutiara-Hikmah-Puasa/

Popazop.com
http://www.popazop.com/merchant/products/preview/mutiara-hikmah-puasa

Hargabukuonline.com
http://hargabukuonline.com/details.php?id=757

Guepedia.com

http://store.guepedia.com/product/mutiara-hikmah-puasa/

Kaskus.co.id

http://fjb.kaskus.co.id/product/5743d3ca642eb610138b4570/mutiara-hikmah-puasa/?state=created<

Fjb.net

http://forumjualbeli.net/usernote.php?do=viewuser&u=23877

Indonesiindonesia.com

http://indonesiaindonesia.com/newthread.php?do=postthread&f=52

Dalam proses verifikasi

Shopee.com

https://seller.shopee.co.id/portal/product

 Google PlayStore

Dalam proses verifikasi

Selain beberapa website di atas, guepedia juga sedang” dalam proses mempublish” naskah  ini <br>ke berbagai website promosi lainnya.
 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Leave a comment

Filed under Uncategorized

DEMOKRASI, MEDIA SOSIAL & TELADAN NABI MUHAMMAD DALAM MENGHADAPI KEBATILAN.

Demokrasi itu punya 4 pilar penyangga. Pertama, Perangkat Undang-Undang/Hukum dan penegakkan hukumnya. Bagaimana di Indonesia? Amburadul dan wani piro? Tajam ke bawah tumpul ke atas.UU dan aturan bisa dilanggar dan diubah seenaknya oleh penguasa. Contoh aktual Kereta Api Cepat Jakarta – Bandung. Resmikan dulu ijin dan urusan-urusan lain belakangan. Demikian pula dengan  Reklamasi yang belakangan ini ramai dan sebagian sudah kebongkar karena ketangkap tangan Komisi Pemberantasan Korupsi

Kedua, Sistem Politik dengan partai politik dengan para elitnya. Bagaimana realitanya? Sudah menjadi rahasia umum, juga amburadul, dikuasai pemodal/pengusaha penguasa (dwi fungsi gaya baru), korup dan wani piro? Ketiga, media massa. Pun seperti halnya pilar 1 dan 2, dikuasai serta didominasi oleh pengusaha penguasa.
Bagaimana dengan pilar keempat yaitu masyarakat sipil? Ini yang masih bisa diandalkan. Tapi itu hanya bisa bermanfaat untuk memperbaiki pilar pertama sampai ketiga apabila  bisa terkonsolidasi menjadi gerakan dan bukan sekedar kumpulan orang-orang yang hanya bisa bermimpi, ndremimil, menggerutu,  ngegrundel, NATO (no action talk only) atau onani opini di ruang-ruang terbatas, di face book, di twitter, pesan bbm, WA, line, telegram, milis dan sejenisnya- dan sejenisnya. Habis diskusi di ruang ber ac nan nyaman dan nulis di media sosial sudah puas dan kemudian tidur nyenyak, seperti orang yang habis onani…syur sendirian tanpa bisa membuat orang lain ikutan syur.
Masyarakat sipil baru akan bisa memperbaiki kualitas demokrasi dan menyelamatkan keadaan apabila bisa bersatu menjadi gerakan sebagaimana dianjurkan junjungan mayoritas penduduk negeri ini yakni Kanjeng Nabi Muhammad Saw, mengubah kemungkaran dan kebatilan dengan perbuatan atau gerakan. Bukan hanya dengan sekedar lesan dan hati. Karena itulah selemah-lemahnyanya iman. Hal itu juga telah dicontohkan oleh perjuangan Kanjeng Nabi, yang bukan hanya dengan sekedar ndremimil dan berdoa.
Termasuk yang manakah kita? Semoga kita menjadi pengikut setia Kanjeng Nabi Muhammad dan bukan orang-rang lemah yang hanya pandai (atau berani) menggerutu apalagi onani opini. Aamiin. Selamat menunaikan shalat Jumat bagi saudara-saudara yang muslim. Wassalamualaikum wrwb.
B.Wiwoho.

2 Comments

Filed under Uncategorized

INILAH PEMIMPIN YANG KITA BUTUHKAN: PEDULI BERSIH, SEDERHANA, MENGABDI & BERANI BERMUBAHALAH: Seri Etika & Moral Kepemimpinan (27).

Tantangan yang dihadapi bangsa dan negara dewasa ini dan di masa depan, sungguh bukan main besar, berat dan kompleksnya. Dunia sedang berubah dengan cepat. Sinergi dari akumulasi modal di tangan sejumlah kecil warga dunia – dan juga Indonesia – dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang luar biasa mewarnai kehidupan kita sehari-hari dan terus berubah jauh lebih pesat dibanding yang dialami nenek moyang kita.

Kita sedang mengalami perubahan pergerakan yang menakjubkan di segala bidang baik ekonomi, sosial, budaya, teknik maupun politik. Persaingan dan peperangan yang kita hadapi telah menjelma menjadi Perang Semesta Global, yang tidak semata-mata mengandalkan tank lapis baja, senapan tempur dan peluru kendali. Sedangkan benteng-benteng kerajaan dan imperium pusat kekuasaan bukan lagi terbuat dari beton, berdinding batu, gudang senjata dan angkatan perang konvensional. Divisi-divisi Perang Semesta Global dalam tempo sekejab akan mampu menembus pertahanan sesuatu negara bahkan dinding-dinding kamar tidur pribadi segenap warga dunia, termasuk Indonesia, menggempur dan mengacu otak serta jalan pikiran penghuninya.

Dalam tulisan sebelumnya telah kita bahas betapa gempuran dahsyat tersebut kini sudah bisa kita lihat pada pola pikir, perilaku, gaya hidup dan bahkan peradaban masyarakat. Nampak jelas, masyarakat Indonesia kini sedang mabok dalam alunan musik jiwa yang pragmatis, hedonis, individualis, materialis dan narsis. Kita mulai berubah menjadi masyarakat yang sangat egois, yang memuja diri sendiri, yang menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuan, khususnya agar bisa “berkuasa dan kaya dalam tempo yang sesingkat-singkatnya dengan segala cara.” Hidup kita menjadi boros, keras lagi mementingkan diri sendiri. Menjadikan kesalehan hanya sekedar sebagai formalitas.

Pola hidup masyarakat sedang berkembang pesat ke pola hidup yang sangat konsumtif berlebihan, serba mewah dan gemerlap, sehingga menjadikan negeri kita senantiasa defisit dalam neraca pembiayan dan perdagangan luar negerinya. Kita telah menjadi bangsa yang tekor lantaran pola hidup kita. Cobalah perhatikan barang-barang kebutuhan kita sehari-hari, mulai dari bahan pangan yang sangat sederhana seperti garam sampai dengan peralatan elektronik yang canggih, sebagian besar berasal dari impor. Demikian pula penguasaan sumber daya alam, seperti minyak dan gas bumi, mineral dan emas, hutan dan kebun kelapa sawit bahkan air minum dalam kemasan, pabrik semen, rokok dan toko-toko kelontong dan bahan pokok, juga dikuasai oleh modal asing atau pengusaha besar yang bekerjasama dengan asing. Sementara rakyat di sekitarnya tetap miskin dengan tingkat kesenjangan sosial ekonomi bahkan politik yang semakin melebar.

Ironisnya, di negeri kita tercinta Indonesia ini, yang justru memprihatinkan dan mengkuatirkan, kelompok-kelompok yang paling menikmati sumber daya alam dan kue pembangunan, adalah kelompok yang oleh berbagai media massa terutama media sosial yang sangat luas jaringan dan jangkauannya, dicirikan dan disebut Asing – Aseng, yang tiada lain adalah orang-orang asing dan WNI keturunan Cina, yang secara kebetulan dalam keyakinan beragama juga banyak berbeda dengan mayoritas penduduk.

Posisi strategis Asing – Aseng khususnya WNI keturunan Cina pada kegiatan ekonomi, dalam praktek kehidupan adalah merupakan kekuasaan potensial dan aktual, yang selanjutnya mudah merambah ke penguasaan sumber daya alam, penguasaan media massa kemudian ke politik dan pemerintahan dan lain sebagainya, yang apabila tidak diatasi secara sistemis strategis, maka akan menjadi gurita kekuasaan yang mendominasi. Padahal dominasi hanya akan melahirkan pertentangan, sehingga cepat atau lambat, dominasi akan menemui perlawanan, lebih-lebih lagi karena dominasi kekuasaan yang berbasis ekonomi tersebut diwarnai dengan perbedaan SARA (Suku Agama Ras dan Antar Golongan)

Kita sungguh bagaikan memutar mundur jarum sejarah tatkala Gelombang Globalisasi Pertama yang ditandai dengan penemuan-penemuan telekomunikasi, mesin industri dan kapal uap, membawa para kapitalis dan imperialis asing yang bekerjasama dengan orang-orang Timur Asing, datang dan kemudian menguasai Nusantara; namun kini dengan daya rusak terhadap sumber daya alam dan sumber daya manusia yang jauh lebih dahsyat.

Dengan mega tantangan persoalan yang seperti itu, tidak mudah kita memilih pemimpin. Karena pemimpin kita dewasa ini dan di masa mendatang, bukan hanya dituntut kuat dan cerdas, tapi juga harus mampu memahami tantangan persoalan yang dihadapi dan selanjutnya peduli, bahkan harus sangat peduli kepada rakyatnya, terutama sebagian besar rakyatnya yang termaginalkan oleh dominasi Asing – Aseng yang kental dengan nuansa SARA-nya.

Pengalaman juga mengajarkan, omong kosong seseorang mengakui mencintai Tuhannya yang tak nampak, mengaku taat menjalankan habluminallah, jika habluminanasnya, jika mencintai sesama manusia beserta alam semesta yang nampak saja tidak. Omong kosong kita mengaku mencintai rakyat kecil yang jauh di pelosok wilayah kepemimpinnan kita, bahkan jauh di pelosok tanah air – di rimba-rimba Aceh, Jambi, Kalimantan, Sulawesi, Papua dan pelosok-pelosok lain; omong kosong kita mengaku memiliki kepedulian dan budi baik terhadap rakyat, apabila terhadap orang-orang dekat serta orang-orang yang pernah berjasa kepada kita saja, kita tidak peduli dan tidak memiliki budi baik terhadapnya.

Demi menjadi bangsa yang besar, kuat, jaya dan makmur sejahtera di kancah Perang Semesta Global yang telah mulai merusak jatidiri serta peradaban kita sebagai bangsa di negeri kepulauan Nusantara Raya ini, maka baik secara individu maupun secara kolektif kita harus mampu merevolusi mental dan moral yang merusak tadi, serta membangun kembali jatidiri selaku insan kamil yang senantiasa jujur dan apa adanya, tahu diri, tahu menempatkan diri dan tahu membawa diri, yang hidup dengan prinsip Peduli BSM, yaitu “Bersih – Sederhana – Mengabdi”.

Dengan Peduli BSM maka segala macam aktivitas yang kita lakukan harus dimulai dengan kebersihan jiwa, kebersihan hati dan niat, dikembangkan dalam pola kehidupan serta perilaku kesederhanaan, dengan sasaran pengabdian kepada masyarakat banyak. Pola hidup Peduli BSM yang sudah pernah dicanangkan oleh Yayasan Amanah Umat, Jakarta dan dibacakan oleh Ketua Dewan Pembinanya Prof.K.H.Ali Yafie 12 Oktober 2005, harus dikembangkan menjadi moral ekonomi, politik, hukum dan terus dikembangkan ke sektor-sektor kehidupan lainnya terutama dalam kebudayaan.

Dalam budaya ekonomi, kita harus bisa mengobarkan perang terhadap sikap hidup yang konsumtif dan boros, dengan membudayakan sikap hidup hemat, sederhana dan menabung. Kita harus menggalang etos dan budaya industri secara hakikat dalam makna yang luas yakni pola pikir, sikap hidup dan perilaku untuk mendayagunakan sumber daya alam, ketrampilan, peralatan dan ketekunan kerja dalam suatu mata rantai produksi yang luas, berkesinambungan serta mengutamakan nilai tambah, dan bukan dalam arti sempit sebagaimana kita kenal selama ini, yang dibatasi hanya semata-mata sebagai suatu proses pabrikasi. Etos dan budaya industri itu harus dikembangkan dalam sistem kebersamaan dan kekeluargaan yang kita kenal sebagai gotongroyong, sehingga mampu menggetarkan setiap pori-pori kehidupan anak bangsa

Dalam memaknai geo sosial – ekonomi di zamrud khatulistiwa yang secara potensial subur makmur ini, kita pun harus berani secara tegas dan berkeyakinan menyatakan bahwa Indonesia harus memiliki pribumi yang kuat, karena pribumi yang kuat merupakan kunci pembauran, integrasi dan keharmonisan bangsa yang bhineka ini. Untuk itu pula Pemerintah harus memiliki serta melaksanakan kebijakan strategis yang menyeluruh dan terpadu, bukan hanya bersifat tambal sulam, emosional, dan manipulatif, serta tidak pernah menyentuh persoalan utama yakni penguasaan modal yang menyebabkan peta kompetisi menjadi sangat tidak seimbang.

Kita juga harus berani dan tegas menggariskan kebijakan pembangunan yang peduli, memihak serta mengabdi pada rakyat dan komunitas, yang produktif berkesinambungan, mendayagunakan keunggulan lokal, yang melestarikan eko sistem dan melakukan konservasi. Yang juga tidak kalah penting, adalah secara sungguh-sungguh tidak pandang bulu, memberantas KKN (Korupsi – Kolusi – Nepotisme).

Dalam rangka Revolusi Mental dan Moral maka para Pemimpin Negara, Pemimpin Pemerintahan dengan segenap aparat birokrasi, penegak hukum, TNI – Polri serta para elite nasional tingkat pusat dan daerah harus terlebih dahulu merevolusi mental dan moralnya sendiri, serta menjadikan dirinya sebagai suri tauladan. Revolusi mental dan moral tersebut harus menggelinding bagaikan bola salju yang makin lama makin besar, dengan para pemimpin sebagai intinya. Revolusi mental dan moral harus dimulai dari pembersihan niat, perilaku dan cara berfikir serta moralitas pemimpin masyarakat atau pemegang kendali di sektor-sektor kehidupan masyarakat, termasuk di dalamnya para ulama dan umara.

Para tokoh masyarakat harus bangkit menghidupkan kembali budaya serta kearifan-kearifan lokal suku-suku bangsa di Nusantara yang hidup rukun, damai, penuh toleransi, gotongroyong dan unggul dalam seni dan ketrampilan. Para ulama harus bisa membumikan ajaran dan kesalehan formal umatnya dalam berbagai kegiatan dan perilaku amal saleh.

Apabila para pemimpin dan rakyat bisa sama-sama hidup Peduli BSM: bersih – sederhana dan mengabdi, niscaya solidaritas sosial dan saling kepercayaan yang kini kian menipis, bisa digalang kembali. Sejarah di berbagai belahan bumi telah mengajarkan, para pemimpin yang hebat adalah mereka yang senasib sepenanggungan dengan rakyat serta bisa menghayati penderitaan rakyatnya. Jangan sampai misalkan kepada anak buah dan masyarakat diminta hidup hemat dan pesta sederhana, sementara pemimpinnya berpesta pora hidup bergelimang kemewahan. Jangan sampai rakyat diharuskan taat pada hukum, perundang-undangan dan peraturan pemerintah, sementara di lain pihak para pejabat negaranya melanggar seenaknya. Jangan sampai bersemboyan sebagai abdi masyarakat, namun dalam praktek keseharian kita minta dilayani dan memeras masyarakat. Sudah menjadi rahasia umum, di bidang usaha saja, boro-boro dilayani dengan baik, belum apa-apa, baru mengurus ijin usaha saja sudah dikenai berbagai pungutan. Padahal usahanya belum berjalan dan belum tentu memperoleh keuntungan, bahkan mungkin bisa bangkrut.

Pemimpin-pemimpin yang menghayati penderitaan rakyat dan visioner, akan dengan mudah membangkitkan harapan rakyat atas masa depan yang gemilang di kancah perang dan kompetisi global yang tak mungkin dihindari. Pemimpin-pemimpin yang seperti itu, yang pola hidupnya peduli-bersih-sederhana-mengabdi, akan dengan mudah menggalang dukungan serta mengajak rakyatnya bersama-sama mewujudkan masa depan nan gemilang.

Berani Bersumpah Mubahalah.

Pemimpin yang Peduli BSM akan berani mengucapkan sumpah jabatan yang setara dengan sumpah mubahalah di zaman Kanjeng Nabi Muhammad Saw. Akan berani mengubah sumpah jabatan ecek-ecek seperti selama ini menjadi seperti sumpah mubahalah. Kejujuran dan sumpah merupakan ajaran penting yang bernilai utama, sehingga banyak disinggung dalam Al Qur’an. Kesaksian palsu misalkan, disinggung dalam Surat Al Furqaan: 72, sebagai hal yang harus dihindari. Sedangkan tentang bersumpah dalam rangka menegakkan kebenaran, ditegaskan dalam Surat Ali Imran: 61 yang mengkisahkan bagaimana Rasulullah menantang bersumpah dan berdoa sungguh-sungguh agar siapa yg berbohong beserta keluarganya segera dilaknat Allah. Sumpah seperti ini disebut mubahalah.

Di dalam sejarah dan hukum Islam, dua kelompok atau orang yang berbeda pendapat tentang sesuatu hal, dan tidak memungkinkan adanya saksi atau kalau pun ada tidak diterima pihak lain karena beda keyakinan, maka kedua pihak tersebut dapat bersama-sama melakukan mubahalah.

Dasar hukum mubahalah adalah firman Allah Swt dalam Surat Ali Imran ayat 61 tersebut, yang berbunyi: “Maka barangsiapa membantahmu tentang itu, sesudah datang pengetahuan kepadamu, katakanlah (kepada mereka): Marilah kita ajak anak-anak kami dan anak-anak kamu, isteri-isteri kami dan isteri-isteri kamu, kaum kami dan kaum kamu, kemudian kita berdoa agar Allah menjatuhkan laknat kepada orang-orang yang berdusta.”

Dalam riwayat, Kanjeng Nabi Muhammad pernah dua kali menantang mubahalah terhadap penentangnya dengan mengikutkan orang-orang yang dicintainya yaitu Ali, Fatimah serta Hasan dan Husin dalam sumpah. Ternyata lawan-lawannya tidak ada yang berani diajak bermubahalah.

Di kalangan masyarakat Jawa, mubahalah ini dikemas sedemikian rupa menjadi amat sangat seram dan disebut Sumpah Pocong, karena yang bersumpah harus dalam keadaan dikafani atau dipocong selayaknya jenazah, dan dilakukan secara khidmat di masjid atau mushola di hadapan orang banyak sebagai saksi (https://islamjawa.wordpress.com/2009/11/12/sumpah-cicak-vs-buaya/).

Tetapi jangan lupa, Pemimpin itu sesungguhnya bukan hanya Presiden, Gubernur dan Bupati, melainkan kita semua, sebagaimana Sabda Kanjeng Nabi Muhammad Saw., “Semua kamu adalah pemimpin dan bertanggungjawab atas kepemimpinannya. Seorang imam adalah pemimpin dan bertanggungjawab atas rakyatnya. Seorang suami adalah pemimpin dalam keluarganya dan bertanggungjawab atas kepemimpinannya. Seorang isteri adalah pemimpin dan bertanggungjawab atas penggunaan harta suaminya. Seorang karyawan (juga pelayan) bertanggungjawab atas harta perusahaan (majikan). Seorang anak bertanggungjawab atas penggunaan harta ayahnya. (Hadis Bukhari dan Muslim).

Oleh sebab itu, marilah kita bangun kepedulian dan kebersamaan kita sebagai bangsa dengan jalan mempraktekkan pola hidup Peduli BSM. Pola hidup peduli dan berpihak pada rakyat banyak, peduli dengan kehidupan yang bersih – sederhana dan mengabdi, akan membuat perekonomian Indonesia bergeser dari perekonomian yang konsumtif menjadi perekonomian yang produktif. Korupsi yang lebih berbahaya dan lebih jahat dibanding terorisme akan dapat diberantas. Ekonomi berbiaya tinggi akan dapat ditekan, sehingga daya saing Indonesia menjadi bagus. Devisa kita akan bisa banyak dihemat dan dihimpun. Lapangan kerja akan banyak tersedia karena sektor produksi tumbuh bagaikan pohon industri yang menjulang tinggi, berdahan dan berbuah lebat serta kokoh subur tertanam dalam alam Nusantara yang sesuai.

Pengangguran ditekan sekecil mungkin, sumber daya alam terkelola dengan baik dan tidak dieksploitasi secara sembarangan. Lingkungan hidup terjaga dan terpelihara, pertumbuhan sosial ekonomi akan merata ke segenap pelosok tanah air, kesenjangan sosial terjembatani, keadilan sosial dapat ditegakkan, keamanan dan ketertiban umum terpelihara baik lagi terkendali. Ekonomi rakyat dengan demikian pasti akan tumbuh dalam kehidupan masyarakat Nusantara Raya, negeri maritim di zamrud khatulistiwa, yang aman tenteram, adil makmur, sejahtera jaya sentosa.

Pemimpin dengan kepemimpinannya yang Peduli BSM itulah yang sangat kita perlukan dewasa ini dan di masa mendatang, yang akan membawa bangsa besar ini berjaya di kancah Perang Semesta Global. Semoga kita segera dan senantiasa dikarunia pemimpin-pemimpin yang Peduli BSM di sepanjang masa. Aamiin.

Sahabatku, semoga pula tulisan yang mencapai seri ke 27 ini tidak membosankan anda, serta diridhoii, dirahmati dan diberkahi oleh Gusti Allah Yang Maha Kuasa. Alhamdulillah Aamin.

Depok, 14 Maret 2016.

1 Comment

Filed under Uncategorized

TANTANGAN KEPEMIMPINAN NASIONAL DI MASA PERANG ASIMETRIS : Seri Etika & Moral Kepemimpinan (26).

Membahas masalah kepemimpinan dari masa ke masa, ibarat membuka kalender kehidupan yang sambung menyambung tiada henti. Sebab usia kepemimpinan itu sendiri seiring dan sejalan dengan peradaban manusia yang senantiasa bergerak dan berubah.

Apa yang telah diuraikan dalam tulisan-tulisan sebelumnya hanyalah sekelumit dari timbunan yang bak gunung, dalam gudang sejarah nan luas tak bertepi dan tak beratap. Buat kita yang penting adalah sejauh mana bisa memetik hikmah dan pelajaran darinya.

Pada tahun 1991 para pengamat sosial politik telah digemparkan oleh tulisan Sammuel P.Huntington (The Third Wave: Democratization in The Late Twentieth Century, University of Oklahoma Pers, 1991), yang menyatakan bahwa gelombang demokrasi telah terus-menerus tanpa henti menghantam pantai kediktatoran; dan untuk mewujudkan demokrasi, para elit politik di masa depan harus percaya bahwa demokrasi adalah bentuk pemerintahan yang paling sedikit keburukannya. Oleh karena itu mereka harus memiliki ketrampilan untuk mewujudkannya, terutama dalam menghadapi golongan konservatif yang pasti akan terus bertahan.

Demokrasi itu sendiri mempunyai dua dimensi yaitu, dimensi kemasyarakatan dan dimensi kekuasaan/pemerintahan. Prinsip dasar tingkat kemasyarakatan adalah, masyarakat memiliki kebebasan yang hanya dibatasi oleh konstitusi, hukum dan etika. Sebaliknya di tingkat pemerintahan, pada dasarnya terbatas, sehingga pemerintahan dalam demokrasi disebut “governing” dan bukan “rulling”. Governing adalah satu proses pengelolaan kekuasaan di mana keputusan-keputusan secara sepihak, tetapi dirundingkan melalui proses tawar-menawar yang demokratis dan transparan.

Perubahan dalam sistem ketatanegaraan tersebut membawa dampak besar dalam aturan main dan gaya kepemimpinan ataupun pemerintahan. Namun demikian bebagai literatur klasik maupun modern menunjukkan bahwa etika dan moral kepemimpinan tidaklah berubah. Etika dan moral kepemimpinan dari suatu negara yang bermoral yang mengutamakan keadilan, ketenteraman, kesejahteraan dan kemakmuran masyarakatnya merupakan suatu kebutuhan yang universal.

Memahami Permasalahan.

Namun demikian gelombang demokratisasi yang dikumandangkan Sammuel Huntingtong tadi, tidaklah berjalan sendiri. Ia bergulung bersama gulungan-gulungan Gelombang Globalisasi yang berlangsung sebagai dampak berpadunya kekuatan modal dengan kemajuan ilmu-teknologi yang super canggih. Tak jemu penulis mengingatkan, Gelombang Globalisasi tersebut telah mengumandangkan musik jiwa yang menggalang alam pikiran manusia, untuk terpadu secara total pada dimensi rasionalitas yang memuja pesona dunia melalui kebutuhan-kebutuhan palsu yang menyihir. Dimensi rasionalitas yang ditata dalam tiga sistem utama yakni sistem pasar bebas, sistem sosial politik demokratis yang individualis dan sistem sosial budaya yang lepas bebas, sudah mulai kita rasakan dampaknya dengan berkembangnya sikap dan gaya hidup masyarakat yang hedonis, individualis, pragmatis, materialis dan narsis.

Musik jiwa dimensi rasionalitas dengan 3 (tiga) paket sistem utama tersebut, menyerbu secara dahsyat negara-negara bangsa, dengan mengerahkan 17 (tujuhbelas) Divisi Perang yang menggempur setiap aspek kehidupan rakyat negara bangsa (http://bwiwoho.blogspot.co.id/2014/02/kapitalisme-global-kekuatan-perang.html).
Tiga Divisi Perang diantaranya menggempur secara langsung peradaban sesuatu bangsa termasuk Indonesia, terutama pada aspek nasionalisme, sosial budaya, kearifan lokal, adat dan tradisi, agama serta spiritualisme. Perang seperti itulah yang sekarang kita kenal sebagai perang asimetris, yaitu peperangan gaya baru secara non militer, tetapi memiliki daya hancur yang tidak kalah hebat bahkan dampaknya lebih dahsyat dari perang militer.
Perang asimetris memiliki spektrum yang sangat luas yang oleh Dewan Riset Nasional dirumuskan mencakup aspek-aspek astagatra yang merupakan paduan antara trigatra yaitu geografi, demografi, dan sumber daya alam/SDA serta pancagatra yakni ideologi, politik, ekonomi, sosial, dan budaya [Dewan Riset Nasional (DRN), 2008, Suatu Pemikiran tentang Perang Asimetris (Asymmetric Warfare), Jakarta].

Di Indonesia, kini sudah semakin disadari pula bahwa Perang Semesta itu juga telah masuk dan menguasai bidang politik dengan slogan “Demokrasi, HAM & Lingkungan Hidup”. Adalah sebuah kenyataan pahit, mereka sedang berusaha keras memporakporandakan ketahanan nasional khususnya aspek Pertahanan dan Keamanan, telah menjarah sumber daya nasional kita terutama Sumber Daya Alam serta mencoba mengendalikan Kepentingan National Indonesia.

Dalam hal nasionalisme, Gelombang Globalisasi berusaha melunturkan serta mendangkalkan nilai dan semangat nasionalisme sesuatu bangsa atau negara, mengobarkan separatisme dan disintegrasi, memecah-belah, menghancurkan militansi rakyat, menciptakan kesenjangan sosial ekonomi serta menyuburkan konflik horizontal dan vertikal.

Dalam aspek sosial budaya, Gelombang Globalisasi menggelorakan sex bebas dan sex sejenis seperti halnya LGBT (Lesbian, Gay, Bisexual dan Transgender), mengobarkan budaya hidup yang hedonistis-individualistis, pragamatis-materalitis dan narsistis, merusak dan menghancurkan bangunan tata nilai keluarga – kebersamaan – gotongroyong, merusak serta menghancurkan moral masyarakat, kebudayaan, adat, tradisi dan kearifan lokal,

Dalam aspek agama dan spiritualisme, Gelombang Globalisasi mendangkalkan dan menghancurkan nilai-nilai moral spiritual dan kesalehan yang hakiki, melibas tradisi dan kearifan lokal yang memperkuat spiritualisme dan agama, menciptakan dan mengembangkan aliran-aliran sesat, mengembangkan sekularisme dan secara khusus melakukan deislamisasi terhadap pemeluk agama terbesar dan militan ini.

Gempuran dahsyat tersebut kini sudah bisa kita lihat pada pola pikir, perilaku, gaya hidup dan bahkan peradaban masyarakat. Nampak jelas, masyarakat Indonesia kini sedang mabok dalam alunan musik jiwa yang pragmatis, hedonis, individualis, materialis dan narsis. Kita mulai berubah menjadi masyarakat yang sangat egois, yang memuja diri sendiri, yang menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuan, khususnya agar bisa “berkuasa dan kaya dalam tempo yang sesingkat-singkatnya dengan segala cara.” Hidup kita menjadi boros, keras lagi mementingkan diri sendiri. Menjadikan kesalehan hanya sekedar sebagai formalitas.

Pola hidup masyarakat sedang berkembang pesat ke pola hidup yang sangat konsumtif berlebihan, serba mewah dan gemerlap, sehingga menjadikan negeri kita senantiasa defisit dalam neraca pembiayan dan perdagangan luar negerinya. Kita telah menjadi bangsa yang tekor lantaran pola hidup kita. Cobalah perhatikan barang-barang kebutuhan kita sehari-hari, mulai dari bahan pangan yang sangat sederhana seperti garam sampai dengan peralatan elektronik yang canggih, sebagian besar berasal dari impor. Demikian pula penguasaan sumber daya alam, seperti minyak dan gas bumi, mineral dan emas, hutan dan kebun kelapa sawit bahkan air minum dalam kemasan, pabrik semen, rokok dan toko-toko kelontong dan bahan pokok, juga dikuasai oleh modal asing atau pengusaha besar yang bekerjasama dengan asing. Sementara rakyat di sekitarnya tetap miskin dengan tingkat kesenjangan sosial ekonomi bahkan politik yang semakin melebar. (http://bwiwoho.blogspot.co.id/2015/09/revolusi-mental-demi-mencegah.html , bahan seminar “Revolusi Mental Mewujudkan Ekonomi Berdikari, Fakultas Ekonomika dan Bisnis Unversitas Gajah Mada, 4 September 2015).
Revolusi Peradaban Sebagai Keharusan.

Tata nilai kehidupan yang dibentuk oleh Kapitalisme Global tersebut, apabila tidak segera dihentikan dan diantisipasi, sudah pasti akan segera menghancurkan diri kita sendiri, bahkan meluluhlantakkan Indonesia sebagai negara bangsa. Hal itu sangat dimungkinkan sejalan dengan kekuatiran Prof.Dr.M.Sahari Besari, yang menyatakan sistem nilai serta struktur sosial masyarakat Indonesia ternyata tidak terkonstruksi untuk mengakomodasi, apalagi melawan, gelombang dahsyat globalisasi yang datang tanpa henti. (Teknologi di Nusantara, 40 Abad Hambatan Inovasi, M.Sahari Besari, Penerbit Salemba Teknika 2008, halaman 1).

Perubahan total atas tata nilai hedonis dan lain-lainnya tadi, bukanlah sekedar merupakan Revolusi Mental melainkan Revolusi Budaya, Revolusi Peradaban, yang sudah merupakan keharusan yang mendesak. Karena tata nilai hedonis dan sekutunya tersebut, pada hakikatnya adalah krisis moral bahkan krisis peradaban yang akan membawa bangsa Indonesia masuk ke dalam pusaran krisis multidimensi yang besar, berat dan kompleks.

Karena kita tidak mungkin menghindar dari percaturan global, maka dengan memahami gempuran Perang Semesta dari Gelombang Globalisasi tadi, kita bisa menarik kesimpulan, gempuran perang asimetris dengan alunan musik jiwanya masih akan terus berlangsung; oleh karena itu kita harus bergerak cepat, tepat dan memadai. Jika tidak, maka eksistensi kita sebagai negara bangsa di kawasan negeri maritim Nusantara Raya ini, yang terdiri lebih dari 300 etnis dengan ragam adat budaya masing-masing, yang tersebar di lebih 17.500 pulau akan sangat terancam.

Itulah tantangan dan peperangan yang sedang dan masih akan dihadapi oleh kita bangsa Indonesia. Untuk itu kita membutuhkan Pemimpin yang bisa memimpin kita mengatasi tantangan dan memenangkan Perang Semesta Global. Pemimpin yang memahami persoalan bangsanya, yang bermoral dan bermental baja, yang mampu berpikir dan bertindak cepat, yang tidak takut dengan risiko atas diri pribadinya apalagi sekedar pencitraan, namun sangat peduli pada kehidupan dan kesejahteraan masyarakatnya. Semoga Gusti Allah Yang Maha Kuasa, menganugerahi kita pemimpin-pemimpin yang seperti itu. Aamiin. Berikutnya, Seri terakhir: KITA BUTUH PEMIMPIMPIN YANG BERSIH, SEDERHANA & MENGABDI.

Leave a comment

Filed under Uncategorized

KELOMPOK YANG HARUS DISINGKIRKAN DARI PEMERINTAHAN : Seri Etika & Moral Kepemimpinan (25).

Suatu Pemerintahan akan kuat dan berjaya mewujudkan visi-misinya apabila terdiri dari seorang penguasa dengan para pembantu-pembantunya, yang kompak dalam satu tim kerja. Terhadap hal ini Al Ghazali mengutip pendapat Aristoteles yang menyatakan, “Sebaik-baik penguasa adalah orang yang pandangannya tajam bak burung rajawali, sedangkan orang-orang yang berada di sekelilingnya memiliki kecerdasan serupa, bagaikan banyak burung rajawali, bukan seumpama burung pemakan bangkai.”

Dengan mengkombinasikan pandangan tokoh-tokoh lain di masa sebelumnya, Al Ghazali kemudian menegaskan adanya tiga kelompok orang yang harus disingkirkan dari sisi penguasa yaitu: (1) Orang-orang yang menodai kekuasaannya; (2) Orang-orang yang menodai kehormatannya; (3) Orang-orang yang menyebarkan rahasianya.

Tipuan yang paling berbahaya. Selain mengajarkan untuk menyingkirkan tiga kelompok orang, Al Ghazali memperingatkan pula untuk mewaspadai hal-hal yang bisa menipu penguasa, terutama tiga hal yang paling berbahaya yaitu kekuasaan, kekuatan dan kesenangan akan pendapat dan pengetahuannya. Tiga hal ini serupa dengan ajaran Sinuhun Pakubuwono IV dalam Serat Wulangreh sebagai berikut :
wonten pocapanipun,
adiguna adigang adigung,
pan adigang kidang adigung pan èsthi,
adiguna ula iku
telu pisan mati sampyuh.

Terjemahan bebasnya adalah, ada ungkapan tentang adiguna adigang adigung. Yang adigang yaitu kijang yang menyombongkan kekuatan serta kecepatannya dalam berlari. Yang adigung adalag gajah yang takabur atas kebesaran dan kehebatan fisiknya, sedangkan yang adiguna adalah ular yang merasa paling hebat dengan racun atau bisanya yang mematikan lawan. Tetapi tatkala diadu ketiganya mati bersama-sama tiada yang menang.

Secara harfiah adigang berarti takabur dengan kekuatannya, adigung dengan kebesaran dan keagungan dirinya, sementara adiguna berarti takabur dengan kepandaian dan pengetahuannya. Ketiga sifat buruk itu mudah melekat pada setiap diri manusia, terutama yang yang sedang berkuasa.

Tentang ketiga tipuan tersebut, ada baiknya juga kita merenungkan sebuah pelajaran dari kisah Oedipus dalam mitologi Yunani, tentang kecaman Antigone putri Oedipus kepada Kreon penguasa Tebes, “Kelemahan seorang tiran adalah melakukan apa saja yang dipikirkannya cocok tanpa banyak mendengarkan pikiran rakyatnya.”

Syarat Kepemimpinan. Di samping beberapa kiat kepemimpinan di atas, ada baiknya pula kita menyimak syarat-syarat kepemimpinan menurut filsuf-filsuf Islam terkemuka lainnya. Al Farabi (870 – 950M) misalkan dalam bukunya “Al Madinah al Fadilah,” menetapkan 12 (dua belas) syarat, dan syarat yang pertama adalah sempurna anggota badannya. Satu setengah abad kemudian Al Ghazali (1058 – 1111M) memerasnya menjadi 4 (empat) persyaratan utama yakni (1) Najdah, cukup memiliki kekuatan dan wibawa; (2) Kifayah, mampu menyelesaikan segala soal; (3) Wara’, bersih dan jujur sikap hidupnya; (4) Ilmu, mempunyai pengetahuan, yang dalam perwujudannya dapat dibantu oleh suatu tim.

Imam Al Mawardi, tokoh seangkatan Al Ghazali sementara itu menguraikan syarat dan sebab-sebab yang cukup kuat untuk membebastugaskan seorang Kepala Negara, ialah (1) Pelanggaran moral umum atau moral politik dan pelanggaran terhadap keyakinan agama Islam; (2) Mengalami gangguan atau cedera kesanggupannya dalam menjalankan tugas, baik karena panca indera atau anggota tubuhnya rusak, maupun karena kebebasannya untuk berbuat sudah hilang atau akalnya tidak sehat lagi.

Sahabatku, sebagaimana sabda Kanjeng Nabi Muhammad Saw., kita semua ini adalah pemimpin dalam ruang lingkup tugas dan kehidupan kita masing-masing. Sebagai pemimpin, marilah kita jaga keras agar tidak terjerumus dalam kelemahan seorang tiran, yang cenderung melakukan apa saja yang menurut kita paling benar dengan tanpa banyak mendengarkan pikiran rakyat atau anak buah kita. Lebih-lebih bagi para sahabat yang berada dalam lapisan elit kepemimpinan nasional. Janganlah kita merasa benar dan hebat sendiri. Jangan sesumbar dan jangan menggampangkan persoalan. Semoga. Berikutnya: TANTANGAN KEPEMIMPINAN DI MASA PERANG ASIMETRIS.

Leave a comment

Filed under Uncategorized