JALAN TASAWUF YANG MODERAT : Helmy A.Yafie

Dari Buku BERTASAWUF DI ZAMAN EDAN.

Buku ini dibuka dengan pertanyaan atau pernyataan (?) menggelitik, ‘bertasawuf di era global, mana mungkin ?’. Bagaimana mungkin, bertasawuf di kancah globalisasi, yang menuntut orang untuk bersaing secara ketat, bekerja keras, agar bisa memperoleh fasilitas untuk dapat menikmati kenyamanan hidup sesuai dengan ukuran-ukuran modern  secara memadai (bergengsi); sedangkan jalan tasawuf mendorong untuk hidup prihatin dan sederhana. Bagaimana mungkin bertasawuf di tengah-tengah kegaduhan dan kebisingan persaingan yang sangat ketat dan menekan, yang memaksa orang untuk memikir diri sendiri dan mengutamakan kepentingan sendiri. Kehidupan modern, di era global dan tasawuf adalah dua hal yang memiliki perbedaan ekstrim, tidak bisa menyatu, seperti minyak dan air. Maka dengan gambar seperti itu  bisa mendatangkan kesimpulan bahwa tidak mungkin bertasawuf di era global sekarang. Tetapi, kata Bapak Wiwoho, penulis buku ini, mungkin, dan bisa.

Globalisasi[1] yang kita kenali sekarang ini adalah sebuah tatanan global, yang bertumpu pada apa yang disebut pasar bebas,  mempengaruhi hampir seluruh aspek kehidupan kita,  menjangkau sampai ke pelosok yang terpencil sekalipun. Tidak ada ruang tersisa, di desapun kita melihat bentuk-bentuk globalisasi. Paling tidak, disana ada layanan televisi dan internet atau warung-warung internet yang memungkin orang-orang memperoleh informasi tentang atau berinteraksi dengan kota, dengan dunia dalam waktu sekejap[2]. Jaringan toko-toko mini market sudah ada dimana-mana.   Globalisasi tidak hanya mendominasi perekonomian kita, yang  terintegrasi dalam suatu sistem perekonomian global di bawah bendera pasar bebas[3], tetapi juga telah mencengkram dan merubah kehidupan sosial dan budaya kita serta lingkungan hidup kita.

Globalisasi,  yang dikontrol melalui World Trade Organizaztion (WTO)[4], telah membawa kita kepada suatu kehidupan penuh dengan persaingan yang sangat ketat dan menekan,  mendorong sikap individualistis, pragmatis, hedonis, dan konsumtif. Secara keseluruhan kita didorong pada suatu kehidupan yang merangsang keserakahan kita, dengan suguhan suatu impian tentang kehidupan yang indah. Kita didorong berbelanja untuk terus menerus berbelanja. Semua barang yang dibutuhkan tampak tersedia, dan seperti mudah diperoleh. Tersedia layanan kredit, dan kartu kredit, dengan syarat-syarat yang tampak mudah, tetapi sesunggunya menjebak. Estetika barang-barang termanifestasikan di jendela toko, papan reklame,  iklan dan papan reklame sebagai layanan cuma-cuma dan kemewahan suasana pelayanan konsumen serta sebagai artefak atau komoditas itu sendiri. Jantung evolusi estetika komersial adalah materi-mteri visual yang penuh dengan hasrat seperti warna, kaca dan lampu. Pokoknya setiap saat kita disuguhi dengan segala macam tontonan yang merangsang keserakahan kita.

Cara memandang, sikap dan tindakan seperti itu bertentangan dengan tasawuf[5], yang mendorong orang untuk hidup prihatin dan sederhana, menjauhi kehidupan dunia yang gemerlap. Tasawuf, atau sufisme, adalah tradisi mistik yang Qur’ani dan Muhammadi[6]. Menurut sejarah tasawuf adalah usaha spiritual yang tersebar secara luas di berbagai daerah dengan perbedaan bahasa dan budaya, tetapi disatukan dengan otoritas spiritual wahyu-wahyu Qur’an dan tauladan Nabi Muhammad, yang dimulai dengan perbahan jiwa, atau perputaran, menuju Tuhan[7]. Tasawuf bisa juga dikatakan cara dan jalan bagaimana seorang muslim dapat berada sedekat mungkin dengan Allah Swt.[8]

Untuk dekat kepada Tuhan, bagi seorang sufi harus menempuh jalan panjang, yang berisi stasiun-stasiun, yang disebut maqamat dalam bahasa Arab atau stages dan stations dalam istilah Inggeris[9]. Literatur tasawuf tidak memberikan angka dan susunan yang sama. Tetapi yang paling umum dikenalkan adalah : tobat—wara—zuhud—kefakiran—sabar—tawakkal—kerelaan hati—ma’rifat. Di atas stasiun-stasiun itu ada lagi : cinta—ma’rifat—fana’ dan baka—persatuan. Persatuan mengambil dua bentuk, al hulul dan wahdat al wujud.[10] Selain istilah maqam, dalam literature tasawuf juga dikenal istilah hal. Hal  merupakan keadaan mental, seperti perasaan senang, perasaan sedih, perasaan takut, dan sebagainya. Hal yang biasa disebutkan adalah : takut—rendah hati—patuh—ihlas—rasa berteman—gembira hati—syukur.[11] Hal, berlainan dengan maqam, bukan diperoleh atas usaha manusia, tetapi diperoleh sebagai anugerahdan rahmat dari Tuhan. Dan, berlainan dengan maqam, hal bersifat sementara, datang dan pergi dalam perjalanan mendekati Tuhan.[12]

Dari literature yang ada statiun yang paling penting bagi seorang yang mau menempuh jalan tasawuf adalah al-zuhd, yaitu keadaan meninggalkan dunia dan hidup kematerian[13]. Sebelum menjadi sufi, seseorang yang ingin menjadi sufi harus terlebih dahulu menjadi zahid, atau ascetic. Dalam sejarah Islam, sebelum aliran tasawuf dikenal, terlebih dahulu ada aliran zuhud. Aliran zuhud sudah ada sejak abad pertama dan permulaan abad kedua Hijriyah[14]. Sesungguhnya, laku kehidupan asektis, seperti mengasingkan diri dari masyarakat, tidak pernah menjadi praktik yang dianjurkan selama periode awal perkembangan Islam. Nabi Muhmmaad SAW, yang kehidupannya menjadi teladan bagi umat Islam, sepenuhnya hidup dengan masyarakat; ia menikah, memiliki anak, memimpin perjuangan pembebasan umatnya, memimpin umatnya[15]. Kehidupan zuhud atau asketisme yang muncul pada abad kedua hijriyah timbul sebagai reaksi terhadap kerusakan moral,  karena  merasakan kemakmuran sebagai akibat dari semakin meluasnya wilayah Islam. Reaksi terhadap hidup mewah dari para Khalifah dan keluarganya serta pembesar-pembesar negara sebagai akibat dari kekayaan yang diperoleh setelah semakin meluasnya ke Syria, Mesir, Mesopotamia dan Persia[16].  Orang-orang melihat perbedaan yang sangat besar antara hidup sederhana dari Rasul serta para sahabatnya dan Khalifah-khalifah yang empat, terutama Abu Bakar dan Umar. Mu’awiyah hidup dalam kemewahan sebagaimana halnya dengan raja-raja Roma dan Persia. Anaknya Yazid dikenal tidak mempedulikan ajaran-ajaran agama. Dalam sejarah Yazid dikenal sebagai seorang pemabuk. Diantara penguasa Bani Umayah, hanya Khalifah Umar Abdul Aziz (717-720) yang dikenal mempunyai sifat takwa dan patuh kepada ajaran-ajaran Islam, dan hidup sederhana[17]. Begitu juga dengan Khalifah-khalifah Bani Abbas. Al Amin, anak Harun al Rasyid, kemudian menggantikan Harun al Rasyid sebagai khalifah, dikenal rusak moralnya, sehingga ibunya sendiri, Zubaidah, memilih memihak kepada al Ma’mun, ketika kedua saudara itu bertikai.[18]

Orang-orang yang kecewa dengan keadaan itu, tidak mau turut dalam hidup kemeawahan, hidup berlebihan, dan ingin mempertahankan hidup dalam kesederhanaan zaman Rasulullah dan Sahabat-sahabatnya, menjauhkan diri dari kehidupan mewah seperti itu.

Aliran zuhud itu mulai tampak di Kufah dan Basrah di Irak. Para zahid Kufalah yang pertama sekali memakai wol kasar sebagai reaksi terhadap pakian sutera halus yang dipakai para Khalifah dan pembesar Bani Umayyah. Pakaian mereka yang terbuat dari wol kasar adalah symbol penolakan dan perlawanan. Misal Sufyan al-Tsauri (wafat 190 H), Abu Hasyim (wafat 150 H) dan Jabir Ibn Hasyim (wafat 190 H). Di Basrah, kota yang tenggelam dalam kemewahan, aliran zuhd mengambil corak yang lebih ekstrim, sehingga meningkat kepada ajaran mistik. Para zahid yang terkenal disini adalah Hasan al Basri (wafat 110 H) dan Rabiyah al-Adawiyah (wafat 185 H)[19]. Dari Kufa dan Basra gerakan kezuhudan itu menyebar ke seluruh penjuru dunia. Di Khurasan Persia, kemudian muncul Ibrahim al Adham (wafat 162 H). Di Madinah muncul Ja’far al-Sadiq (wafat 148 H).[20]

Gerakan para zahid besar abad ke 2 Hijiriyah— seperti al Hasan al Basri, Abu Hasyim al-Kuf, Sufyan as-Tsauri, Fudhail bin Iyad, Rabiyah al-Adawiyah, dan Marfu al-Karhi—kemudian dilanjutkan oleh para zahid berikutnya. Muncul nama-nama seperti al-Bistami, al-Hallaj, Junaid al-Baghdadi, al-Ghazali, Ibnu Sabin, Ibnu al-Farid, Jalaludin ar-Rumy.[21]

Sebelum Rabiah al-Adawiyah, tujuan tasawuf yang diupayakan oleh para zahid, tidak dari terciptanya kehidupan yang diridoi oleh Tuhan, sehingga di akhirat nanti terlepas dari azab Allah (neraka) dan memperoleh surganya. Para zahid, seperti al-Hasan al-Basri, Abu Hasyim al-Kufi terdorong mengembangkan sikap zahid, takut pada Tuhan, menyusuaikan diri dengan emosi dan sikap yang dicontohkan oleh Nabi Muhammad dan para sahabatnya atau generasi berikutnya yang saleh dan bertakwa. Rabiah al-Adawiyah, mengembangan emosi cinta kepada Tuhan, sehingga menguasi segenap hatinya. Yang diharapkan tidak lain cintanya dibalas Tuhan dengan cinta pula. Dia dicatat dalam sejarah  sebagai tonggak peralihan dari dominasi emosi takut kepada Tuhan menjadi emosi cinta kepada Tuhan. Lalu ada masa tasawuf mengambil bentuk mistisisme, yang menekankan pada ma’rifatullah (mengenal Tuhan dengan hati nurani). Dipelopori oleh Ma’ruf al-Karkhi (wafat 815/200 H), ad-Darani (wafat 830/215 H) dan semakin tegas pada Zunnun al-Misri (815/245 H). Gerakan tasawuf bisa dikatakan mencapai puncuknya pada abad ke 9 (abad 3 H), kendali para Ulama dari kalangan fuqaha memberikan reaksi negatif, terutama karena ucapan-ucapan ganjil (syatahat) yang muncul dari lidah mereka, yang asyik-masyuk bercinta dengan kekasihnya, Tuhan. Namun Junaid al-Bagdadi, al-Quyairi,  dan lain-lain beruasaha meyakinkan kepada semua pihak bahwa tasawuf itu tidak bertentangan dengan syariat. Ia berdasarkan al-Qur’an dan sunnah Nabi, dan tidak lain bentuk pengamalan syariat secara sangat sungguh-sungguh dengan memberikan perhatian pada sikap hati atau batin. Upaya mendamaikan ketegangan antara oarng-orang tasawuf dengan para fuqaha dan teolog, akhirnya berhasil dilakukan oleh al-Gahzali (1111/505 H). Berkat al-Ghazali tasawuf diterima secara umum di kalangan umat Islam, lebih-lebih setelah mengambil bentuk (organisasi) tarekat, menguasai umat Islam selama lebih kurang enam abad, sejak abad 13 (abad ke-7 H).[22]

Dari sejak  para zahid besar yang menolak dan mengecam kehidupan duniawi yang megah dan berlebihan pada abad kedua Hijriyah, sampai kepada generasi berikutnya, karena memakai pakaian dari bulu domba yang kasar, maka digelari orang sebagai sufi,  tasawuf dan mutasawif itu memperoleh tambahan arti yang khas[23].

Meskipun dengan tekanan yang bervariasi,  mereka telah mengembangkan emosi takut pada Tuhan atau azab-Nya, sikap zuhud (tidak terikat atau tidak tertarik dengan kesenangan dunia, sikap wara (hanya mau mengambil yang halal dan pantang mengambil yang diragukan kehalalannya, apalagi yang haram), sikap qanaah (merasa cukup dengan rezeki yang halal, betapapun sedikitnya), sikap sabar dalam menahan tekanan dan menahan suka duka kehidupan di jalan Tuhan, emosi ridho pada Tuhan (senang pada-Nya dalam segala sesuatu), sikap ingat selalu kepada-Nya, sikap khusyu dan bertekun dalam beribadah (shalat, puasa, zikir), emosi cinta kepada-Nya, sedemikian rupa sehingga mereka betul-betul merasakan kehadiran Allah dalam hati mereka atau merasa sangat dekat dengan-Nya. Dengan demikian, arti khas yang menambah muatan kata tasawuf itu tidak lain dari upaya mengolah atau mengembangkan sikap dan emosi agama dalam rangka mencapai kehidupan yang diridhoi Allah, dalam rangka mencapai kedekatan dengan-Nya.[24] Kata mutasawwif kemudian difahami mengacu kepaa orang yang sedang berjuang menjalankan upaya tasawuf, dan sufi mengacu kepada mereka yang telah mencapai tujuan dari upaya tasawuf.

Kita dapat mengatakan bahwa sebagai sebuah gerakan, tasawuf atau sufisme, sesungguhnya muncul karena situasi tertentu. Gerakan ini muncul sebagai kritik terhadap situasi sosial tertentu, situasi sosial yang timpang dan tidak adil. Bahkan dalam banyak kasus, sufisme adalah gerakan perlawanan terhadap kemapanan, sehingga beberapa tokoh tasawuf atau sufi menjadi korban atau mengorbankan diri untuk menunjukkan konsistensinya terhadap apa yang diyakininya atau apa yang diperjuangkannya. Al Hallaj misalnya (di hukum mati pada tahun 309), atau Syekh Siti Jenar di Jawa, terlepas dari setuju atau tidak setuju dengan keyakinan, adalah Sufi yang harus berhadapan langsung dengan kekuasaan pada masanya, karena menolak untuk mengakui kekuasaan yang ada, maka dihukum mati.

Kembali kepada pertanyaan pembuka buku ini, apakah mungkin bertasawuf di era global? Kalau melihat sejarahnya, jawabannya adalah sangat mungkin, sebagaimana juga yang dicoba dijawab oleh penulis melalui bukunya ini. Tentu dengan prasyarat tertentu. Kalau kita melihat bahwa pada dasarnya ajaran tasawuf adalah pengendalian hawa napsu, menghapus keserakahan,  melawan atau mengendalikan kecenderungan yang bersifat badani, melepaskan diri dari ketakutan terhadap hari esok, maka itu harus secara total menyerahkan diri kepada Allah SWT. Untuk mengontrol itu maka sufi senantiasa tidak pernah melepaskan ingatannya kepada Tuhan. Mereka terus menerus berzikir. Dalam rangka itu mereka memperkuat diri dengan kesabaran dan  kesabaran. Itu bukanlah hal yang mudah, karena godaan dan jebakannya banyak, mulai dari kecenderungan yang bersifat badani, sampai kepada keterikatan kepada orang terdekat. Itu sebabnya sufi pergi menyendiri. Maka mereka menjalani kehidupan sebagai zahid. Perjalanan sebagai zahid biasanya dilakukan bertahun-tahun, sebelum sampai kepada pemahaman yang benar, sering dengan semakin meningkatnya kontrol terhadap hawa napsu, keserakahan dan kecenderungan-kecenderungan badani. Dalam perjalanan sebagai zahid, selain selalu mengingat kepada Allah, menyantuni sesama, mereka juga melakukan pembiasaan-pembiasaan. Dalam cerita-cerita tentang sufi  kita dapat menemukan tindakan-tindakan ekstrim dari seorang zahid, yang tidak normal atau melampaui batas kebiasaan menurut ukuran masyarakat manusia pada umumnya. Misalnya, ketika musim salju, ada yang secara sengaja datang ke tempat yang penuh salju, dan pada tengah malam ketika salju baru saja seleasi turun, dalam keadaan minus sekian derajat dengan rasa dingin yang menggigit dia mandi[25]. Karena adanya latihan-latihan yang dilakukan rutin periodik atau pembiasaan-pembiasaan maka pada umumnya Sufi dapat mengontrol tidak hanya pikiran, emosi, tetapi tubuh fisiknya. Misalnya, banyak kisah tentang sufi yang dapat berjalan diatas air[26]. Bahkan ada sufi, al-Muhashibi (wafat 243 H/857 M), tubuhnya seperti sudah dapat mendeteksi hal-hal (tak wajar, mengotori kebersihan mereka) yang ada disekitarnya tanpa dia harus memikirkannya. Ketika dia disodori makanan yang mengandung subhat, tanpa ada yang memberitahukan sebelumnya, tangannya menjadi kaku tidak bisa digerakkan[27].

Tegasnya tasawuf itu adalah pengetahuan yang dipraktek, bukan sekadar ilmu yang dibicarakan, dan praktek itu semakin memperdalam atau memperluas pengetahun, jika direnungkan kembali, dan pada akhirnya menyatu dengan diri. Praktek artinya  membiasakan diri dengan kebiasaan-kebiasaan tertentu atau menjalani ajaran-ajaran tertentu secara konsisten. Sabar, tawakkal, berserah diri, prihatin, sederhana, rendah hati, kerelaan, keikhlasan, mengekang diri (untuk tidak mengambil lebih, mengambil bukan hak), memberi, tidak meminta dan sebagainya bukanlah untuk dikhotbahkan tetapi dilakukan, dipraktekkan. Tentu itu tidak otomatis bisa dijalani. Tidak otomatis orang sampai kepada tingkat kesabaran yang terjaga.  Maka perlu ada proses membiasakan diri, yang mengantar kepada semakin terbiasa dan pada akhirnya menjadi kebiasaan atau menjadi sesuatu yang tampak alami. Proses membiasakan pada permulan akan berlangsung berat, karena itu  memerlukan pengorbanan. Hasilnya nanti adalah pembebasan. Bebas dari rasa takut dan khawatir terhadap apapun, yang mengikat kita, kecuali kepada murka Allah.

Menjalani kehidupan dengan jalan tasawuf memungkinkan dilakukan sekarang. Tidak perlu seekstrim para sufi zaman dahulu, pergi mengembara, atau meninggalkan jabatan penting (seperti Ibrahim al Adam, seorang raja yang kemudian meninggalkan singgana kerajaan, pergi mengembara untuk menjalani kehidupan zahid[28]). Tetapi lebih pada membiasakan diri, mulai membiasakan diri dengan dengan kebiasaan-kebiasaan dan tradisi zahid. Mencoba membebaskan diri dari kehidupan yang menekan sekarang ini.

Tetapi yang perlu mendapat catatan adalah bahwa kita hidup dalam kancah globalisasi yang menjadi bungkus  terbaru dari kapitalisme, dan kapitalisme itu hidup dari eksploitasi untuk bisa eksis. Kapitalisme mengekspoitasi dan merangsang napsu dan keserakahan manusia (untuk menguasi dan memiliki) sehingga produksi, distribusi dan perputaran barang-barang yang diproduksinya menjadi berlipat dengan jangkauan yang semakin meluas. Dengan alasan itu, kapitalisme juga mengeksploitasi alam. Semua bisa dijual. Manusia, selain dieksploitasi  sebagai konsumen dimana napsu untuk menguasai dan membeli dirangsang terus menerus melalui berbagai cara dan setiap saat, juga dieksploitasi sebagai pekerja atau orang yang dimanfaatkan jasa dan sumberdayanya.  Sedangkan tasawuf mengekang napsu dan keserakahan manusia,  semakin kecil semakin baik. Artinya ajaran atau jalan tasawuf itu bertentangan dengan kepentingan kapitalisme. Kalau jalan tasawuf menjadi gerakan, maka itu ancaman bagi kapitalisme. Dan dalam sejarah, beberapa sufi, seperti al-Hallaj, bisa dihabisi ketika dianggap sebagai ancaman  kemapanan, oleh yang berkuasa,  serta dicap sebagai sesat.

Saya kira buku ini mengajak kita untuk berefleksi dengan keadaan sekarang, yang sesungguhnya merisaukan, atau bahkan menakutkan, dan mencoba menunjukkan bahwa sebenarnya ada cara atau jalan yang bisa digunakan untuk menghadapinya, yakni apa yang disebut tasawuf. Tidak perlu menempuh cara seekstrim yang pernah ditempuh oleh para sufi zaman dahulu.  Tidak perlu menjadi sufi seperti orang-orang terdahulu. Tetapi yang perlu adalah  mengikuti jalan itu, jalan tasawuf yang lebih moderat. Itulah yang dicoba diungkapkan melalui buku ini.

Sebagian besar isi buku ini merupakan hasil nyantri Penulis dengan Prof.K.H.Ali Yafie, serta dari beberapa ceramah beliau. Penulis berinteraksi secara intensif dengan Prof.Ali Yafie sejak akhir 1980an. Isi buku ini bertumpu pada pesan “hidup bersih, sederhana dan mengabdi.”

Wamaa taufiqi illa billah ‘alaihi tawakkaltu wailaihi uniib.

Jakarta, 6 November 2016

Helmy Ali Yafie dalam buku BERTASAWUF DI ZAMAN EDAN, penerbit BUKUREPUBLIKA

[1] Globalisasi adalah proses  integrasi internasional yang terjadi karena pertukaran pandangan dunia, produk, pemikiran dan aspek-aspek kebudayaan lainnya. Kemajuan infrastruktur transportasi dan telekomunikasi, termasuk kemunculan internet, merupakan faktor utama dalam globalisasi yang semakin mendorong saling ketergantungan (interdependensi) aktivitas ekonomi dan budaya.  Lihat, Al-Rodhan, R.F. Nayef and Gérard Stoudmann. (2006). Definitions of Globalization: A Comprehensive Overview and a Proposed Definition.: Albrow, Mrtin and Elizabeth King (eds) (1990), Globalization, Knowlledge and Society London, Sage. ISBN 978-0-8039-8324-3. P. 8.   “.. all those processes by which the people of the world are incorporated into single world society. Kemajuan transportasi dan telekomunikasi, termasuk kemunculan telegraf dan internet merupakan faktor utama dalam globalisasi yang mendorong saling ketergantungan (interdependensi) aktivitas ekonomi dan budaya. Lihat, Steven H. Guyford (1972), Science, System and Society”, Journal of Cybernetics, 2(3):1-3. DOI: 10.1080/01969727208542909;  Dalam Wikipedia Indonesia, Globalisasi, Ensiklopedi Bebas, diakses tanggal 2 November 2016.

Akar Globalisasi dapat ditelusuri hingga lebih dari lima ratus tahun lalu ketika kerajaan-kerajaan Eropa saling berlomba untuk mendapatkan kontrol atas sumberdaya alam berharga seperti emas, perak, tembaga, dan kayu yang didapatkan dari  Asia, Afrika, dan Amerika. Ketika perusahaan  perkapalan raksasa seperti Hudson’s Bay Company dan East India Company diizinkan beroperasi melalui perjanjian antar kerajaaan, dimandatkan untuk menyusuri sebagian besar dunia guna mencari sumberdaya yang akan menguntungkan kerajaan mereka secara  komersial.  Meskipun sumberdaya yang ditergetkan telah berubah seiring berkembangnya teknologi, tetapi model pasar globalisasi tetap sama, yakni eksploitasi. Di masa kini globalisasi ekonomi di dorong bergerak dengan kecepatan tinggi, terutama sejak runtuhnya Tembok Berlin. Sebelum hal itu terjadi, dan selama sebagian besar abad 20, ekonomi dunia terpisah antara dua kubu: komunisme dan kapitalisme. Secara simbolis, runtuhnya Tembok Berlin dan berakhirnya Perang Dingin menandai kemenangan kapitalisme atas komunisme dan hilangnya sistem ekonomi dunia yang bipolar. Mulai saat itu, kapitalisme mendominasi ekonomi global. Sebagai institusi dominan dari kapitalisme global, perusahaan transnasional secara membabai buta membuka pasar dan meluaskan jaringan operasi mereka hingga keempat penjuru dunia. Lihat, Maude Barlow dan Tony Clarke, Blue Gold, Perampasan dan Komersialisasi Sumberdaya Air, Gramedia, 2005, halaman 101.

[2] Seorang anak di zaman sekarang ini lahir di rumah yang didalamnya televisi rata-rata menyala lebih dari tujuh jam setiap hari. Untuk pertama kalinya dalam sejarah manusia, sebagian besar kisah mengenai orang-orang, kehidupan, dan nilai-nilai bukannya diceritakan oleh orang tua, sekolah, atau orang-orang dalam komunitas yang memiliki sesuatu untuk disampaikan, tetapi oleh sekelompok konglomerasi dari kejauhan  untuk didagangkan, kata  George Garbner, dalam bukunya Marketing Mayhem Globally, 1997; Lihat,  Jost Smiers, Art Under Pressure, Insist, Yogyakarta, 2009, hlm. 200.

[3] Perekonomian global berada dibawa satu sistem yang didasarkan pada kepercayaan bahwa ekonomi global dengan peraturan universal yang dibuat oleh koorporasi dan pasar adalah hal yang tidak dapat dihindari. Kebebasan Ekonomi adalah nilai khas, bukan lagi demokrasi ataupun usaha untuk melindungi ekologi. Hasilnya, dunia kita sekarang mengalami transformasi besar-besaran yang intinya adalah penyerangan hebat terhadap seluruh segi kehidupan manusia. Dalam pasar global segalanya bisa dijual, bahkan bagian-bagian kehidupan yang sebelumnya dianggap sakral seperti kesehatan dan pendidikan, kebudayaan warisan, kode etik dan bibit tanaman, serta sumber-sumber daya alam, termasuk udara dan air. Barlow dan Tony Clarke, Blue Gold, Ibid.

[4] Globalissi yang telah menjadi keharusan masa kini, dan  karena itu tidak bisa dihindari,  mempunyai struktur, dan dipimpin oleh World Trade Organization, organisasi perdagangan dunia (WTO), didirikan pada tahun 1994, sebagai kelanjutan dari General Agreements on Tariff and Trade (GATT). Hampir semua Negara adalah anggota WTO. WTO inilah yang merumuskan aturan-aturan yang bersifat mengikat, harus dikuiti. Ricardo Parella dengan meringkas aturan-aturan itu dan menyebutnya sebagai enam firman tatanan hukum baru. Firman pertama, adalah kita semua menjadi global. Menghormati apa-apa yang menurut perspektif lokal merupakan hal penting dan apa-apa yang berhak mendapat perlindungan bukan merupakan soal yang harus dibahas; firman kedua, semua metode produksi harus tunduk pada ekonomi baru yang didukung oleh  keimanan kepada digitalisasi; firman ketiga, kondisi kemanusiaan hendaknya dipandang sebagai permainan yang didalamnya hanya ada pemenang dan pecundang; firman keempat, Negara harus meliberalkan pasarnya dan tidak diperkenankan adanya proteksi apapun untuk hal-hal yang dinilai berharga; firman kelima, semua regulasi harus dikesempingkan; firman keenam, apapun yang berada di ranah publik harus diswastanisasikan. Kepemilikan swasta menyajikan mekanisme yang lebih menjanjikan untuk memperoleh kebahagiaan dan  keburuntungan dibandingkan yang bisa ditawarkan oleh intervensi publik. Lihat Jost Smier, Art Under Pressure, Insist Press, 2009. WTO bersama IMF dan Bank dua, oleh Ho Jong-Chan disebut sebagai Trinitas Tak Suci (Unholy Trinity), karena mereka, meskipun bukan boneka negara-negara kaya, yang memikirkan dan mengimplementasikan kebijakan-kebijakan yang dimaui oleh negara-negara kaya itu. Mereka mendesakkan kebijakan-kebijakan yang justeru menguntungkan negara kaya (dan merugikan negara-negera miskin). Lihat Ho Jong-Chang, Bad Samarithan, 2007.

 

[5] Tasawuf, menurut bahasa Arab berarti memakai pakian dari suf (bulu domba yang kasar). Orang yang memakainya dapat disebut sufi atau mutasawif. Memakai pakaian dari bulu domba yang kasar itu merupakan praktik yang lumrah di kalangan orang-orang yang miskin atau mereka yang hidup dalam kesederhanaan di kawasan Arab dan sekitarnya (pada masa lalu, jauh sebelum datangnya Islam dan setelah dartangnya agama itu), Lihat, IAIN Syarif Hidayatullah, Ensiklopedi Islam, Jilid 3 Q-Z, Penerbit Jembatan, cetakan ke 2, 2002.

[6] Para Sufi periode-periode awal, ketika ditanya tentang apa itu tasawuf memberikan jawaban  yang tidak sama. Mereka memberikan batasan dengan menekankan salah satu aspek yang ingin ditekankannya. Al Junaid (wafat 297/909), orang Bagdad, sufi yang paling terkemuka pada zamannya, dielu-elukan sebagai Pemimpin Masyarakat Sufi (Sayyid al-Ta’ifah) misalnya mengatakan bahwa tasawuf  adalah ‘penyerahan dirimu kepada Allah, dan bukan untuk tujuan yang lain’. Sedangkan Sahl ibn Abdullah al Tusari (wafat 283/897), orang Persia,  yang dikenal wara’, zuhud, puasa sepanjang tahun, dan mampu menciptakan keajaiban-keajaiban, mengatakan : ‘Tasawuf adalah makan sedikit demi mencari damai dalam Allah dan menarik diri pergaulan ramai’.Sementara Abu al-Husain al-Nuri’ (wafat 295/907), mengatakan: ‘Tasawuf bukanlah gerak lahiri (rasm) atau pengetahuan (‘ilm), tetapi ia adalah kebajikan (khulq)’; lihat Farid ‘L-Dinn Attar, Tadhkirat ‘l-Awliya’, 1331 A.H., dan Al Qusyairy, al-Risalah, Dalam Dr. Muhammad Abd. Haq Ansari, Merajut Tradisi Syari’ah Sufisme, PT Rajagrafindo Oersada, 1997.

[7] Carl W. Ernest, Expresi Ekstase dalam Sufisme, Penerbit Putra Langit, Yogyakarta, 2003, halaman 13.

[8] Harun Nasution, Filsafat dan Mistisime dalam Islam, Bulan Bintang, Jakarta, 1983. Halaman 56.

[9] Ibid., Literatur tasawuf tidak selamanya memberikan angka dan dan susunan yang sama. Abu Bakr Muhammad al-Kalbadi memberikan susunan : tobat-zuhud-sabar-kefakiran-kerendahan hati-takwa-tawakkal-kerelaan-cinta-ma’difat; Abu Nasr al-Sarraj al-Tusi memenyebut dalam al-Luma : tobat-wara’-zuhud-kefakiran-sabar-tawakal-kerelaan hati; Abu Hamid al-Ghazaly dalam Ihya’ Ulum al-Din memberikan susunan : tobat-sabar-kefakiran-zuhud-tawakkal-cinta-ma’rifat-kerelaan; Menurut Abu al-Qasim Abd al-Karim al-Qusyairi, maqamat itu sebagai berikut: tobat-wara’-zuhud-tawakkal-sabar-kerelaan.

[10] Ibid.,

[11] Ibid.,

[12] Ibid.,

[13] Ibid.,

[14] Ibid, Lihat juga Michael A. Sells (eds), Sufisme Klasik, Menelusuri Tradisi Sufi, Mimbar Pustaka, Bandung, 2003

[15] Michael A. Sells (eds), Sufisme Klasik, Menelusuri Tradisi Sufi,Mimbar Pusataka, Bandung, , 2003; Earler Islamic Mysticism, Paulis Prees, New Jersey, 1999. Halaman 29

[16] Harun Nasution, opcit., Lihat Juga AJ. Arberry, Aliran Tasawwuf, Mizan, Bandung, halaman 36-37

[17] Ibid.,

[18] Harun Nasution, Opcit,

[19] AJ Arberry, Opcit

[20] Ibid..,

[21] Ibid.,

[22] Ensiklopedi Islam, Loc.cit.,

[23] Ibid.,

[24] Ibid.

[25] Lihat, Friduddin ‘Attar, Kisah-kisah Sufi Agung, Pustaka Zahrah, Jakarta 2005.

[26] Ibid.,

[27] Ibid.,

[28] Ibid.,

Leave a comment

Filed under Uncategorized

Prof.K.H.Ali Yafie : NILAI-NILAI ISLAM dan CINA SELARAS SALING MELENGKAPI

Ulama Sepuh Kyai Ali Yafie tentang Hubungan Pribumi – Non Pribumi

Bismillahirrahmanirrahi
Segala Puji dan rasa Syukur patut kita persembahkan kepada Allah SWT, Tuhan yang melimpah ruah RahmatNya dan berkesimbungan Kasih SayangNya kepada kita semua.
Saya turut berbahagia dalam usianya yang ke 25 tahun, Yayasan Karim Oei tetap dapat melanjutkan perjuangannya dalam berbagai kegiatan dakwah untuk pembinaan Keturunan Cina di Indonesia. Tepat pada hari jadinya yang ke 25 Yayasan Karim Oei dan Masjid Lautze menerbitkan sebuah Buku yang berjudul ” Rumah Bagi Muslim, Indonesia dan Keturunan Tionghoa”
Menyimak dari judul Buku tersebut, banyak hal yang menarik perhatian kita. Proses pembauran Etnis Cina yang selama ini diupayakan masih merupakan sebuah ‘pekerjaan rumah’ yang belum selesai. Tapi setidaknya Yayasan Karim Oei senantiasa hadir di tengah-tengah pusaran dan berusaha mendekatkan 2 kutub perbedaan yaitu peran dan pengaruh etnis Cina yang begitu menonjol terhadap penguasaan ekonomi dan etnis Cina juga sering menjadi sasaran pelampiasan “kemarahan” masyarakat dimana sentimen rasial menjadi sumbu pemicunya.
Terlepas dari kondisi tersebut di atas, Yayasan Kariem Oei berhasil mengubah pandangan yang selama ini memenuhi benak masyarakat secara umum bahwa etnis Cina merupakan komunitas yang terpisah oleh tembok kokoh yang tidak bisa disatukan karena perbedaan latar belakang budaya yang begitu kental. Yayasan Karim Oei, melalui berbagai aktivitasnya, berhasil membuktikan bahwa nilai-nilai Islam dan Cina adalah selaras dan saling melengkapi. Ini adalah sebuah kerja keras dan cerdas untuk menerobos tembok pemisah tersebut sehingga proses pembauran menjadi sesuatu yang lebih nyata, tidak sekedar menjadi pemanis kata atau menjadi dagangan politik semata. Setidaknya dengan berbagai kegiatan yang telah dilakukan, tidak hanya berhasil mengislamkan 1.500 etnis Cina tetapi juga melaksanakan program pembauran bisnis dengan tujuan membuat Yayasan Karim Oei menjadi rumah yang nyaman bagi segenap anak bangsa, khususnya umat Islam agar menjadi muslim yang taat, nasionalis sejati yang sukses dalam kehidupan sosial ekonominya.
Peran Yayasan Karim Oei ke depan semakin dibutuhkan mengingat tantangan kehidupan masyarakat Indonesia, khususnya kaum Muslim di era Global semakin berat. Kesenjangan ekonomi yang semakin melebar membuat daya saing dan daya tahan ekonomi kita semakin melemah, seiring dengan derasnya arus modal asing dan Pengusaha Besar terhadap penguasaan sumber daya alam dan sektor produktif. Ketahanan Budaya kita juga mengalami goncangan hebat sejalan dengan serbuan barang-barang import yang didukung oleh pertumbuhan industri media dan digital yang sangat cepat, semakin mempersubur budaya komsumerisme di kalangan masyarakat kita. Secara umum Gelombang Globalisasi telah mengubah tatanan masyarakat kita pada semua aspek, kita disibukkan dengan berbagai fenomena sosial dan budaya yang telah mengjungkir-balikan akal sehat dan nilai-nilai agama dan budaya. Seperti sebuah gelombang tsunami yang bergerak secara cepat, menghantam dan menggulung seluruh sendi dan pilar dan memporakporandakan tata nilai keluarga, kebersamaan, moral masyarakat, nasionalisme dan bahkan peradaban Bangsa.
Dalam kaitan itulah, kehadiran Buku “ Rumah Bagi Muslim, Indonesia dan Keturunan Tionghoa”, menjadi sangat penting untuk memberikan sumbangan pemikiran dan sekaligus menginspirasi gerakan untiik mengembalikan Jadi Diri Bangsa Indonesia Bersendikan Ketuhanan Yang Maha Esa dan Kemanusiaan yang adil dan beradab.
Semoga dengan adanya dukungan dari para Guru Bangsa seperti Prof.Dr.BJ.Habibie dan Jend TNI (Purn) Try Sutrisno dan lain-lain, Yayasan Karim Oei dapat terus meningkatkan peran sertanya dalam menyelamatkan peradaban Bangsa Indonesia melalui kerja dan karya yang berkesimbungan.
Semoga Allah SWT senantiasa meridhoi Perjuangan kita semua. (PENGANTAR DALAM BUKU “RUMAH BAGI MUSLIM, INDONESIA DAN KETURUNAN TIONGHOA”, penerbit Teplok Press, telp: 081382896969)

Leave a comment

Filed under Uncategorized

Prof.Dr.Muhammadiyah Amin : “BERTASAWUF DI ZAMAN EDAN”, BEKAL MENGHADAPI PERUBAHAN DUNIA

 

POTRET SOSIAL KEHIDUPAN MASYARAKAT DEWASA INI

Saya menyambut baik dan mengapresiasi penerbitan buku Bertasawuf di Zaman Edan , kumpulan catatan dari facebook tasawuf djawa full dan blog islamjawa Bapak B. Wiwoho. Saya mengenal penulis buku ini sebagai insan pers dan aktivis di sejumlah organisasi dan lembaga swadaya masyarakat. Prisma pemikiran dan pengabdian B. Wiwoho adalah cerminan kepeduliannya yang tinggi terhadap pengembangan sumber daya manusia dan pembangunan yang seimbang antara material dan spiritual.

Islam sebagai agama yang sempurna mengarahkan manusia untuk mampu memberdayakan potensi rohaniah atau unsur batinnya secara optimal. Sasarannya supaya hadir dalam tiap diri satu pola hidup yang bersih, sederhana, dan mengabdi. Pemaknaan tasawuf bagi seorang Muslim adalah kurang lebih seperti dikemukakan oleh Prof. Dr. Hamka dalam buku Tasauf Moderen, yaitu membersihkan jiwa, mendidik, dan mempertinggi derajat budi, menekan segala kelobaan dan kerakusan, memerangi syahwat yang berlebihan, demi untuk kesentosaan diri. Dengan kata lain, orang yang mempraktikkan tasawuf akan menjadi pribadi yang tercerahkan dan perilakunya terpimpin dengan akhlak islami.

Setelah membaca senarai artikel yang akan diterbitkan menjadi buku, saya mengapresiasi kepiawaian penulisnya, Bapak B. Wiwoho dalam mengemas, mengulas, dan menghadirkan potret sosial berupa fragmen-fragmen kehidupan masyarakat yang dijumpai sehari-hari di sekitar kita. Penulis buku ini mengajak pembaca agar mengambil makna, hikmah, pelajaran, dan perbandingan dari pengalaman hidup sendiri dan orang lain.

Saya menyimpulkan, buku ini lebih dari sekadar dokumentasi buah pikiran dan tulisan Bapak B. Wiwoho mengenai tasawuf. Karya ini sekaligus merefleksikan perjalanan pemikiran sang penulis dalam membaca dan menganalisis fenomena sosial. Melalui buku ini, Bapak B. Wiwoho mengajak kita untuk menyadari dan turut memikirkan, bahkan memberi solusi atas berbagai problema sosial, moral, dan kemanusiaan yang mengitari kehidupan.

Dewasa ini, modernisasi dan teknologi informasi telah mengubah pola kehidupan manusia dan mempengaruhi hubungan antar-sesama dalam arti positif atau negatif. Manusia modern di era sekarang memerlukan sandaran batin yang kuat, dan hal itu hanya bisa didapatkan dari agama. Salah satu peran agama adalah, sebagai pegangan hidup yang menguatkan manusia di tengah persaingan kehidupan yang semakin keras dan menyelamatkannya dari krisis atau konflik kejiwaan. Oleh karena itu, setiap orang perlu secara terus menerus mengasah dan meningkatkan kualitas pengamalan ajaran agama sebagai elemen pembangun mental-spitual agar manusia tidak gamang dan gentar menghadapi perubahan dunia sekelilingnya.

Dalam banyak ayat Al Quran ditegaskan, kebahagiaan dan ketenangan hidup hanya dapat dicapai melalui keimanan dan ketakwaan kepada Allah Swt yang melahirkan amal shaleh. Untuk itu, setiap muslim harus meneguhkan jatidirinya di atas keyakinan tauhid yang bersih, sehingga mampu menjadi mata air kebaikan yang mengalirkan manfaat bagi umat manusia.

Selamat menikmati pencerahan yang menarik dan bernas dalam lembar demi lembar buku ini. (Pengantar buku “BERTASAWUF DI ZAMAN EDAN”, penerbit BukuRepublika).

Leave a comment

Filed under Uncategorized

Nasihat Ulama Sepuh Kyai Ali Yafie Terhadap Demo Umat Islam 212.

 Teguh, Istiqomah.

Sami’na wa atho’na, yang berarti kami dengar dan kami taat, adalah sikap hormat dan patuh yang diajarkan di dalam Islam kepada seorang muslim untuk hormat dan patuh pada ulama. Ungkapan kepatuhan itu berasal dari ayat suci Al Qur’an surat Al Baqarah ayat 285.

Perihal ulama, Junjungan Kanjeng Nabi Muhammad Saw. dalam hadis yang sangat termasyhur, yang diriwayatkan oleh Abdu Dawud, bersabda, “Ulama adalah pewaris Nabi.”

Berdasarkan adab mulia yang diajarkan Al Qur’an dan hadis itu, saya mempunyai kebiasaan jika menghadapi keadaan yang besar dan luas pengaruhnya di masyarakat, memohon nasihat serta petunjuk dari ulama yang sudah sangat sepuh dan saya percaya sudah bisa menjalani “topo ngrame”, yaitu Prof.K.H.Ali Yafie.

Kali ini saya memohon nasihat bagaimana menyikapi “Demo Super Damai 212” ( Jumat 2 Desember 2016 di lapangan Monas Jakarta.

Kalimat pertama yang keluar dari beliau adalah, “Ya, Zaman Edan. Seperti yang sudah kita bicarakan dan bahas dalam buku Zaman Edan kita.” Maksudnya adalah buku BERTASAWUF DI ZAMAN EDAN, yang diluncurkan pada Selasa tanggal 22 Safar 1438 H (22 November 2016), menandai acara Tasyakur 93 tahun hitungan kalender Hijriah usia beliau.

“Jadi harus bagaimana Puang Kyai?”

“Teguh, istiqomah. Jalan terus. Ingat hadis yang saya kutip untuk catatan buku Zaman Edan tersebut. Itu hadis dan bukan ucapan saya.”

“Bacaan dzikir apa yang paling tepat untuk dilantunkan dan dipanjatkan dalam situasi yang jungkir balik ini?”

“Berserah diri sepenuh hati kepada Allah Yang Mahapenolong, yaitu hasbunallah wa ni’mal wakil.. Cukuplah Allah yang menjadi penolong kita.” Demikian penegasan dan nasihat beliau.

Agar kita bisa memahami lebih lengkap nasihatnya, berikut ini saya kutipkan catatan Prof.K.H.Ali Yafie yang menjadi halaman pertama, yang langsung kita jumpai apabila membuka sampul depan buku BERTASAWUF DI ZAMAN EDAN, sebagai berikut:

“Kita mengenal istilah populer Zaman Edan dari syair Pujangga Ronggowarsito. Namun sebelumnya salah satu ulama dari Walisongo, yaitu Sunan Kalijogo juga sudah mengajarkan bagaimana jika kita menghadapi suasana kehidupan dengan tata nilai “jungkir balik” seperti Zaman Edan. Sesungguhnya keadaan yang seperti itu pun sudah diingatkan dan digambarkan oleh Nabi Muhammad Saw. Kitab Mukhtarul Ahadist an-Nabawiyah karya Assayid Ahmad al-Hasyimi mengungkapkan hal tersebut antara lain: “Kelak akan datang banyak sekali fitnah. Pada waktu itu orang yang duduk lebih baik dari orang yang berdiri, orang yang berdiri lebih baik dari orang yang berjalan, serta orang yang berjalan lebih baik dari orang yang berlari”.

Hadis lain menyebutkan, Rasulullah bersabda: “ Nanti pada suatu masa akan tampil pemimpin-pemimpin yang menguasai harta benda kamu, mereka akan berbicara dengan kalian dan membohongi kalian, mereka bekerja tetapi mencela pekerjaan itu, tidak akan senang pada kalian sampai kalian menganggap baik keburukannya, dan membenarkan kebohongannya. Maka berikanlah kepada mereka apa maunya, dan kalau mereka itu melampaui batas maka siapa saja yang terbunuh dalam keadaan seperti itu dia akan mati sahid.”

Mengapa dunia ini bisa kacau? Karena terlalu banyak orang yang tidak tahu diri, tidak tahu menempatkan diri dan tidak bisa membawa diri. Dalam dunia Tasawuf sering diungkapkan “man arafa nafsahu faqad arafa rabahu” (siapa saja yang mengetahui dirinya maka akan mengetahui Tuhannya). Ada dua rumus untuk memahami siapa kita. Pertama, manusia adalah makhluk yang cerdas karenanya manusia itu adalah makhluk yang diberikan derajat yang mulia dan tinggi (terhormat), (QS al-Isra [17]: 70). Jika ada manusia yang berbuat tidak terhormat maka orang itu mengingkari hakikat dirinya atau manusia yang tidak tahu diri. Kedua, manusia adalah makhluk sosial yang beradab, dia senantiasa membutuhkan orang lain dan di sisi yang lain tidak boleh memandang remeh orang lain.”

(Penerbit BukuRepublika, 410 halaman (xxxiv+376), tlp./sms 081285304767 www.bukurepublika.com atau https://islamjawa.wordpress.com atau bwiwoho.blogspot.com atau bukusahabatwiwoho.wordpress.com).

Leave a comment

Filed under Uncategorized

Penjajah Belanda dan Islam Menyatukan Indonesia

Jangan Sakiti Hati Umat Islam.

Pewarta: Parni Hadi*

Penjajahan Belanda dan perlawanan yang dilakukan oleh penduduk di berbagi pulau di kawasan antara benua Asia dan Australia, yang mayoritas beragama Islam, telah membentuk bangsa Indonesia dan melahirkan NKRI (Negara Kesatuan Republik Inonesia).
“Imperialisme Belanda adalah penjajahan yang menyatukan (uniting imperialism),” kata Duta Besar Kerajaan Belanda untuk Indonesia Van Roijen, awal tahun 1990an.

Apa yang dikatakan Dubes Belanda itu betul, sebab wilayah Republik Indonesia seperti tertulis dalam UUD 1945 adalah seluruh bekas jajahan pemerintah Hindia Belanda.
Perlawananan terhadap penjajah Belanda dilakukan rakyat, baik Muslim maupun non-Muslim, hampir di seluruh wilayah Indonesia. Tercatat dalam  buku sejarah tokoh-tokoh pejuang nasional, antara lain Sultan Agung, Imam Bonjol, dan Pangeran Diponegoro.
Pejuang lain adalah Teuku Umar, Tjut Nya Dien, Pangeran Antasari, Sultan Hasanuddin, Martha Christina Tiahahu, Thiomas Matulessy Pattimura dan IG Ngurah Rai.

Sesuai prosentase penduduk, mayoritas perlawanan dilakukan dan dipimpin oleh umat Islam.
Pertempuran Surabaya November 1945, yang kemudian diperingati sebagai Hari Pahlawan, juga dikobarkan Bung Tomo dengan seruan “Allahu Akbar”. Orang rela mati berkat panggilan yang mengagungkan asma Allah itu. Belum lagi, jika penjajah Belanda dianggap kafir, maka berperang melawan kafir diyakini sebagai berjihad.

“Kita mencintai bangsa kita dan dengan ajaran agama kita (Islam), kita berusaha sepenuhnya untuk mempersatukan seluruh atau sebagian terbesar bangsa kita,” kata HOS Tjokroaminoto, Ketua Sarekat Islam (SI) dalam salah satu rapat akbar SI seperti diungkap buku “Jang Oetama” (Yang Utama), Jejak dan Perjuangan HOS Tjokroaminoto (1882-1934), karya Aji Dedi Mulawarman.

Sementara itu, buku “OS Tjokroaminoto, Pelopor Pejuang, Guru Bangsa dan Penggerak SI” karya HM Nasruddin Anshory Ch dan Agus Hendratno, mengungkap pendapat Tjokroaminoto bahwa Islam adalah sesuatu yang harus diperjuangkan dan dipersatukan sebagai dasar kebangsaan Indonesia.
Tjokroaminoto adalah guru dari sejumlah tokoh besar yang setelah Indonesia merdeka saling bertentangan, di antaranya Bung Karno, tokoh nasionalis yang kemudian menjadi Presiden pertama RI. Kemudian Musso, pentolan  PKI (Partai Komunis Indonesia) yang memimpin pemberontakan PKI Madiun 1948  dan SM Kartosuwiryo, pimpinan Darul Islam (DI) yang memberontak kepada pemerintah RI.
Musso tewas oleh serangan pasukan TNI dari Divisi Siliwangi. Kartosuwiryo ditangkap tahun 1962 dan dijatuhi hukuman mati sesuai keputusan pengadilan.

Jangan sakiti hati umat Islam

Hariman Siregar, pimpinan gerakan mahasiswa yang melahirkan apa yang terkenal dengan peristiwa Malari (Mala Petaka Januari), 1974, sebuah demonstrasi anti pemerintahah Presiden Soeharto, berpendapat bahwa pemerintah jangan menyakiti hati umat Islam, mayoritas penduduk Indonesia.
“Jangan sakiti hati umat Islam,” kata Hariman dalam sambutannya pada peluncuran buku “Bertasawuf Di Zaman Edan” karya Bambang Wiwoho di Jakarta pada 22 November 2016.

Hariman mengaku pengetahuannya tentang Islam baru sedikit, belajar dari mertuanya, Prof. Sarbini Sumawinta, ekonom UI, orang Sunda yang lahir di Madiun, beraliran Sosialis (PSI) dan pernah menjadi ketua tim ahli politik Jendral Suharto di awal Orde Baru .
Pembangunan, lanjut Hariman, jangan lebih berfokus untuk kepentingan golongan tertentu yang sudah kaya, melainkan untuk kepentingan rakyat, yang mayoritas beragama Islam.
Orang boleh berdebat, suara Islam tidak satu, tapi terbagi dalam berbagai aliran, mahzab dan organisasi. Tapi, bila keyakinan akan tauhid (keesaan Tuhan), kesucian Nabi Muhammad  SAW dan kebenaran Al-Quran  dilecehkan, maka mayoritas umat Islam, terlepas perbedaan aliran, mahzab dan organisasi, akan bangkit bersatu.

Tjokroaminoto, guru para tokoh  pergerakan nasionalis, komunis dan Islam sekaligus,  pun segera bangkit membentuk dan memimpin Tentara Kanjeng Nabi Muhammad SAW (TKNM) gara-gara  Rasulullah Saw dilecehkan oleh sebuah tulisan di majalah “Jawi Hisworo” yang terbit di Solo awal tahun 1918.

Artikel tersebut membuat umat Islam marah, menyulut reaksi keras dengan pembentukan TKNM tanggal 17 Februari 1918. TNKM berdiri hampir di seluruh Jawa, kecuali Semarang dan Yogyakarta, serta sebagian Sumatera.  Gerakan TKNM berhasil menghimpun aksi massa yang melibatkan  sekitar 175 ribu orang
.
Pak Tjokro, yang tercatat lahir di desa Bakur, kecamatan Sawahan Madiun adalah tokoh Islam terpelajar pada jamannya. Anggota SI disebut mencapai 2,5 juta orang, jumlah terbesar yang pernah dapat diraih sebuah organisasi waktu itu. Karena besarnya jumlah pengikutnya, ia digelari “Raja Jawa Tanpa Mahkota”.

Sebagai jago pidato atau orator ulung yang dapat memukau pendengarnya selama beberapa jam, Pak Tjokro  mendapat gelar “Singa Podium”. Kemampuan serupa dimiliki oleh sang murid, Bung Karno, yang berani menilai pidato sang guru kurang berwarna alias monoton.

Orang boleh menyebut  tingkat pendidikan mayoritas rakyat Indonesia belum tinggi dan menjadi Muslim karena sangat dipengaruhi emosi (perasaan). Tentang peranan perasaaan, ada pendapat bahwa keimanan penganut agama dan keyakinan apa pun  dipengaruhi oleh perasaan.
Dalam politik praktis, kondisi umat Islam yang mayoritas dianggap masih kurang terpelajar dan belum sejahtera  adalah sebuah realitas politik (real politik) yang harus diperhatikan secara seksama oleh para politisi dan penguasa.

Alasannya, mereka adalah sumber suara mayoritas. Jika mau sukses meraih dan mempertahankan kekuasan, umat Islam harus didekati, dirangkul dan diajak berdialog.
Generasi muda penerus Eyang Tjokro sekarang sudah jauh lebih maju. Sudah banyak yang menempuh pendidikan di negara Barat dengan menggondol gelar S3. Generasi “Y” Muslim kini juga menguasai teknologi muthakir dan sanggup menandingi serbuan  “Buzzer”  yang dianggap merugikan kepentingan umat Islam.

Tentang cinta Tanah Air dan bela negara, di kalangan umat Islam ada semboyan: “Hubbul Wathan Minal Iman” (Mencintai Tanah Air adalah bagian dari Iman).
*Penulis adalah Wartawan senior, Inisiator/Ketua Dewan Pembina Dompet Dhuafa dan Penulis “Jurnalisme Profetik”.
Editor: Mulki
COPYRIGHT © ANTARA 2016

Leave a comment

Filed under Uncategorized

Bertasawuf di Zaman Edan, Meneladani KH Ali Yafie

 

BSM: Bersih – Sederhana – Mengabdi

Oleh Parni Hadi.

Jakarta (ANTARA News) – Bertasawuf (mengenal diri untuk mengenal Tuhan) di zaman edan perlu bagi setiap insan untuk mencapai kedamaian batin dan kebahagiaan orang lain dengan melakoni hidup bersih, sederhana, mengabdi (BSM) ala ahli fiqih (hukum Islam), Prof KH Ali Yafie.

Hal itu terungkap dalam buku “Bertasawuf di Zaman Edan”, karya Bambang Wiwoho, wartawan senior, yang diluncurkan di Jakarta, 22 November 2016. Peluncuran buku sekaligus memperingati HUT mantan Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia yang tahun ini genap berusia 90 tahun.
Zaman edan adalah masa ketika tata nilai kehidupan “jungkir balik” yaitu yang salah dibenarkan dan yang benar disalahkan, yang salah dibela dan yang benar dicela. Orang yang kurang atau tidak waras pikirannya disebut edan atau gila.
Ungkapan zaman edan dipopulerkan oleh pujangga Jawa Ronggowarsito. Sebelumnya oleh Sunan Kalijogo, salah seorang Wali Songo. Bahkan, Nabi Muhammad SAW sudah menyampaikan akan datang suatu masa seperti itu, menurut kitab Mukhtarul Ahadist an-Nabawiyah seperti dikutip Puang (Eyang) KH Ali Yafie dalam buku itu.
Hadir dalam acara peluncuran buku tersebut Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin dan sejumlah tokoh nasional, termasuk Prof Dr M Quraish Shihab, Prof Dr Jimly Assidiqie, mantan Gubernur DKI Soerjadi Soedirdja, Fahmi Idris, Marzuki Usman, AM Fatwa, Hariman Siregar, dan adik almarhum Gus Dur, Hj Lilly Wahid.
Buku ini adalah sebuah kisah penulisnya, seorang pencari hakikat Tuhan, Kebenaran Tertinggi atau Kebenaran Mutlak Tanpa Batas. Bentuk, cara, dan gaya penyajian kisah pencariannya diwarnai oleh latar belakang budaya, agama, dan profesi sang penulis: seorang Jawa, beragama Islam dan wartawan.
Bambang artinya satria yang hidup dan tumbuh berkembang di pertapaan, padepokan atau perguruan bersama sang pertapa dan sang guru sekaligus. Wiwoho berarti dimuliakan. Begitu maksud sang pemberi nama.
Tasawuf adalah sebuah ajaran dalam agama Islam untuk mengenal dan mendekatkan diri kepada Allah. Sebuah ilmu, cara, dan sekaligus jalan menuju Tuhan dengan laku-laku tertentu yang berintikan dan dimulai dengan pengenalan diri sendiri melalui pengendalian nafsu, penataan batin, dan berakhir pada pasrah kepada Allah.
Sebagai orang Jawa yang budayanya terkenal suka meramu segala macam ilmu dan laku menjadi satu padu, Mas Wie, begitu orang biasa memanggilnya, membingkai keislamannya dengan nama Islam Jawa. Ada yang menyebutnya “Islam rasa Jawa” dan atau “Jawa rasa Islam”. Ada juga: “Wadah Islam, rasa Jawa” dan atau “Wadah Jawa, rasa Islam”. Wadah dan isi menyatu. Syariat dan hakikat telah saling mengikat. Keduanya adalah tajali (pengejawantahan) Sang Maha Hakikat.
Seorang wartawan adalah sosok yang senang mempertanyakan segala sesuatu. “A questioning mind” atau batin yang selalu bertanya. Tidak gampang percaya begitu saja pada segala hal, selalu resah, gelisah, ingin membuktikannya sendiri. Minimal, ingin melakukan klarifikasi dengan ahlinya. Di sini sang pelaku, pencari dan pejalan (traveller) menuju hakikat, perlu pemandu yang bertindak sebagai guru.
Praktik hidup keseharian

Allah mempertemukan Mas Wie dengan Sang Guru, yakni Puang Profesor Kyai Haji Ali Yafie, seorang tokoh Islam terkemuka dari Sulawesi Selatan, yang menurut perhitungan Hijriah, tahun ini genap berusia 93 tahun.
Tampilnya sang Guru yang non Jawa menunjukkan bahwa hakikat itu bersifat universal, tidak mengenal SARA (suku, agama/aliran, ras dan antar-golongan), istilah top zaman Pak Harto, serta kebangsaan, ideologi, apalagi partai politik.
Tasawuf tidak identik dengan ilmu “klenik” yang umumnya dianggap bertujuan untuk memiliki kekuatan supranatural, seperti kesaktian menggandakan uang. Bertasawuf tidak berarti hidup menyepi sendiri di hutan, gua atau pucuk gunung dengan hanya khusyuk berdoa (khalwat). Tetap bekerja seperti biasa, bahkan lebih keras, tapi tujuan utamanya untuk beribadah. Orang Jawa menyebutnya “topo ngrame, sepi ing pamrih rame ing gawe” (bertapa di tempat ramai).
Seorang sufi (pengikut tasawuf) tetap harus menjalani ibadah syariat, sholat, seraya menempuh tarekat menuju hakekat untuk menggapai makrifat.
Kyai Ali Yafie memenuhi syarat untuk menjadi guru sesuai ajaran Jawa yang termaktub dalam “Serat Wulangreh” buku karya Kanjeng Sinuhun Pakubuwono IV, Raja Surakarta.
Sang pujangga-raja atau raja-pujangga dalam Tembang Dhandhanggula menasehatkan: jika mencari guru pilihlah manusia yang nyata, yang bagus martabatnya, tahu hukum (syariah), yang beribadah dan “wirangi” (wara), syukur petapa, yang sudah selesai dengan dirinya sendiri, tidak berpikir lagi tentang pemberian orang lain.
Puang Ali Yafie sangat pantas menyandang gelar “mursyid” (guru tasawuf). Laku hidup Pak Kyai, yang juga tokoh Ikatan Cendekiawan Muslim se-Indonesia (ICMI), dapat diperas secara bernas menjadi BSM.

Ia terkenal bersikap tegas. Karena menolak SDSB (Sumbangan Dana Sosial Berhadiah), yang dianggapnya judi, ia memilih mundur dari jabatan Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) dan Rais Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU). Laku sangat penting dalam menempuh jalan (tarekat) menuju hakikat dan makrifat seperti ajaran Sri Mangku Negoro IV, Raja Puri Mangkunegaran, Surakarta dalam karyanya Serat Wedhatama: “ngelmu iku kalakone kanthi laku” (ilmu itu mewujudnya dengan laku).
BSM sebagai laku menjiwai buku ini dari awal sampai akhir. Kebetulan, wartawan adalah pengemban profesi mulai sebagai pewaris tugas kenabian: menyampaikan kabar gembira dan peringatan seperti tersurat dalam Al-Khafi, QS 18:56, (lihat “Jurnalisme Profetik”) demi kesejahteraan bagi seluruh alam semesta. Buku ini diterbitkan PT Buku Republika.
Islam mengajarkan pengendalian nafsu, bukan penghilangan nafsu, karena nafsu adalah perangkat hidup sebagai sunatullah. Berkat nafsu, kehidupan dapat berkembang maju. Kata kuncinya adalah pengendalian berdasar ajaran budaya dan agama sesuai tuntunan Allah melalui para rasul dan atau orang pilihan-Nya.
BSM perlu menjadi pedoman setiap insan, terutama para pemimpin, dalam mengarungi Zaman Edan di era globalisasi kini. Ini gampang diomongkan, tapi sulit diamalkan. Banyak orang mendapat gelar “Jarkoni”, bisa berujar, tidak bisa melakoni. Sederet gelar akademis dan keagamaan tidak menjamin dan mencerminkan kualitas intelektualitas dan religiusitas seseorang.
Era globalisasi yang dipicu oleh kapitalisme mempengaruhi sikap hidup hampir semua orang sejagat menjadi: individualis, egoistis, egosentris, dan hedonis. Semua cenderung memperturutkan hawa nafsunya. Pengendalian nafsu terkait erat dengan disiplin diri yang ketat.
Seorang dosen tasawuf, baru-baru ini berkata: Hanya sufi yang lurus dapat memandu menyelamatkan perjalanan bangsa ini dan seluruh umat manusia menuju kebahagiaan melewati jalan cinta untuk semua (rahmatan lil alamin).
Prof Dr KH Ali Yafie dengan BSM-nya adalah suri teladan. Beliau konsisten suci dalam pikiran, perkataan, dan perbuatan (Dasadharma Pramuka) dalam kehidupan sehari-hari. (*)
*Penulis adalah Wartawan, Inisiator/Ketua Dewan Pembina Dompet Dhuafa dan Penulis “Jurnalisme Profetik”.
Editor: Ruslan Burhani

Leave a comment

Filed under Uncategorized

PELUNCURAN BUKU BERTASAWUF DI ZAMAN EDAN MENANDAI TASYAKUR 93 TH PROF.K.H.ALI YAFIE.

PELUNCURAN BUKU BERTASAWUF DI ZAMAN EDAN MENANDAI TASYAKUR 93 TH PROF.K.H.ALI YAFIE.

Alhamdulillah, dengan ridho, rahmat dan berkah Gusti Allah Yang Mahapengasih lagi Mahapenyayang, buku BERTASAWUF DI ZAMAN EDAN telah diluncurkan menandai tasyakuran usia Prof.K.H.Ali Yafie  93 tahun, bertempat di Telaga Sampireun, Bintaro, Selasa 22 November 2016. Meski undangan baru diedarkan hanya sekitar 4 hari sebelum acara dan pada umumnya dalam bentuk kiriman media sosial What’s Ap, sekitar 150 tamu termasuk Menteri Agama RI Lukman Hakim Saaifuddin menghadiri tasyakuran tersebut. Berikut foto-fotonya

Leave a comment

Filed under Uncategorized