Tafsir Suluk Kidung Kawedar: ISLAM MENCINTAI NUSANTARA, JALAN DAKWAH SUNAN KALIJAGA

  • Pertama kali, peluncuran buku dikemas dalam pentas seni tradisional Ketoprak.
  • Buku tentang dakwah Islam yang lembut dengan pendekatan budaya.

Untuk pertama kali, sebuah peluncuran buku dilakukan serta dikemas dalam seni pertunjukkan tradisional Jawa yaitu ketoprak, dengan cerita “Sunan Kalijaga”, Minggu malam 21 Mei 2017 bertempat di Rumah Puspo Budoyo, Ciputat. Judul cerita tersebut sesuai dengan tema buku yaitu “ISLAM MENCINTAI NUSANTARA, JALAN DAKWAH SUNAN KALIJAGA: Tafsir Suluk Kidung Kawedar”. Buku ditulis oleh B.Wiwoho dengan penerbit IIMAN.

Buku tentang dakwah Islam yang lembut dengan pendekatan budaya ini relevan dengan situasi di tanah air dewasa ini. Oleh karena itu pemrakarsa peluncuran yakni Dompet Dhuafa, Rumah Nusantara Puspo Budoyo dan Penerbit IIMAN, menjadikannya sebagai kegiatan puncak Peringatan Kebangkitan Nasional 20 Mei 2017, sekaligus dengan pencanangan Jejaring Macapat Nusantara dan Saresahan Budaya serta Deklarasi Asosiasi Penari Tradisi Indonesia (APTI).

Sunan Kalijaga adalah salah satu tokoh sentral dalam penyebaran Islam di Tanah Jawa. Pendekatannya unik. Sunan Kalijaga yang melihat keadaan masyarakat pada waktu itu, yang masih kental dengan tradisi Hindu, Buddha, dan kepercayaan-kepercayaan lama, melakukan pendekatan seni dan budaya. Dia mencoba menyerap budaya dan tradisi yang sudah ada untuk menyebarkan ajaran-ajarannya. Dia berkeliling dari satu tempat ke tempat lain, memasuki daerah-daerah terpencil.

Sebagai ulama, budayawan dan seniman sekaligus, Sunan Kalijaga menciptakan banyak karya seni. Dia menciptakan dua perangkat gamelan,yang semula bernama Nagawilaga dan Guntur Madu, kemudian dikenal dengan nama Nyai Sekati (lambang dua kalimat syahadat). Wayang, yang pada zaman Majapahit dilukis di atas kertas lebar sehingga disebut wayang beber, oleh Sunan Kalijaga dijadikan satu-satu, dibuat dari kulit kambing, yang sekarang dikenal dengan nama wayang kulit. Banyak lakon-lakon yang digubah untukkepentingan ini. Di  antaranya yang terkenal adalah lakon Jimat Kalimasada,  Dewa Ruci dan Petruk Jadi Ratu.

Sunan Kalijaga melakukan penyebaran Islam dengan cara yang up to date, paling mutakhir waktu itu nut zaman kelakone (menurut semangat jaman) seperti kata Ki Dalang Narto Sabdo (alm) atau Zeitgeist, kata orang Jerman. Njeng Sunan Kali (jaga) memperkenalkan Islam selapis demi selapis melalui pendekatan budaya dan kearifan local (local wisdoms) Jawa, yang waktu itu masih didominasi oleh agama Syiwa-Buddha. Beliau yang didukung oleh para ulama lainnya, tidak sertamerta memperkenalkan Islam secara frontal, melainkan menyusup pelan-pelan, melpis tata kehidupan yang ada selapis demi selapis, memadukan istilah-istilah Islam dengan istilah-istilah dalam agama yang masih berlaku. Hasilnya, setelah selama lebih 4 (empat) abad Islam tidak bisa berkembang di Jawa, hanya dalam hitungan puluhan tahun, pada sekitar abad 15 dan 16, Islam diterima dan dipeluk secara damai, tanpa kekerasan dan perang yang memakan korban jiwa dan harta benda serta trauma.

Banyak teori yang menyatakan mudahnya orang  Jawa masuk agama Islam. Antara lain, karena Islam tidak mengenal kasta, tidak seperti agama yang mereka anut sebelumnya. Beberapa bentuk seni budaya diadopsi dan disinergikan dengan seni budaya yang berasal dan bernuansa Arab, tempat asal Islam. Pendekatan budaya yang dilakukan Njeng Sunan Kali dalam memperkenalkan Islam ibarat menyebar biji di tanah yang subur.

Ketika masyarakat Jawa sedang mengalami zaman peralihan, dari Kerajaan Majapahit ke Kesultanan Demak. Demikian pula dalam hal agama dan kepercayaan. Mereka menganut agama Hindu-Buddha atau  Syiwa-Buddha, Kapitayan, dan percaya bahkan banyak yang memuja roh-roh halus. Mereka juga sangat memercayai hal-hal gaib dan mistis, serta mengaitkan hampir semua aspek kehidupan dengan hal tersebut. Dalam suasana kehidupan yang seperti itulah agama Islam diperkenalkan oleh para pendakwah, yang kemudian dikenal sebagai para wali, dan diberi sebutan atau nama panggilan “Sunan”. Dua dari para wali itu adalah Sunan Bonang dan muridnya, Sunan Kalijaga. Mereka dikenang masyarakat sampai sekarang karena jago berdakwah menggunakan media kebudayaan, terutama musik tradisional gamelan berserta tembang-tembang Jawa dan wayang. Salah satu dari tembang tadi adalah sebuah tembang suluk atau tembang dakwah Islam, yang dikenal dengan tiga nama, yaitu Kidung Kawedar atau Kidung Rumekso Ing Wengi, atau juga Kidung Sariro Ayu.

Kepada masyarakat yang sangat memercayai hal-hal gaib dan mistis, Sunan Kalijaga menciptakan Suluk Kidung Kawedar yang didendangkan dengan irama Dhandanggula bernuansa meditatif-kontemplatif. Dikemas dan diberi sugesti sebagai mantra sakti, guna mengatasi segala problem kehidupan masyarakat sehari-hari.

Islam itu rahmatan lil alamin. Al-Quran jelas menyebutkan itu dalam banyak ayatnya. Ia mendatangi siapa saja dengan cinta dan kasih. Sejarah Nusantara pun mencatat bahwa Islam berhasil merasuk ke dalam jiwa manusia Nusantara, terutama Jawa, melalui jalur yang sangat lembut. Lelaku dakwah Sunan Kalijaga memberi kita pelajaran tentang semua itu. B. Wibowo, dalam buku ini, mengupas tuntas salah satu “jurus” Sunan Kalijaga untuk menanamkan Islam di dada orang Jawa; melalui taktik modifikasi budaya yang tak menyakiti siapapun—dengan mengajarkan tauhid melalui Kidung Kawedar. Dari buku ini kita bisa kembali belajar, bahwa sudah seharusnyalah Islam berwajah ramah. Islam tidak berantitesa dengan kearifan lokal manapun. Islam justru menyempurnakannya. Islam akan merasuk paripurna dalam hati melalui jalan yang lembut penuh cinta, bukannya dengan teriakan kemarahan dan pedang yang terhunus. Inilah DNA Islam di Nusantara, memposisikan agama sebagai jembatan perekat, bukan penyekat berbagai kehidupan sosial dan budaya.

Sangat menarik menempatkan buku Islam Mencintai Nusantara: Jalan Dakwah Sunan Kalijaga, Tafsir Suluk Kidung Kawedar ini dalam bingkai besar pemahaman ulang atas upaya penerapan Islam dalam ruang budaya (dalam hal ini Jawa terutama) yang dilakukan oleh para wali, terutama Sunan Kalijaga. Hal ini menjadi sangat penting, setidaknya mengingat fakta bahwa semakin  ke sini semakin banyak generasi baru yang bukan saja tidak memahami bagaimana para pendahulu berjuang menerapkan Islam secara bertahap lewat jalur budaya; tapi bahkan lebih jauh lagi, malah menganggap para pendahulu tersebut seolah sebagai peletak dasar dari apa yang secara  tergesa mereka kategorikan sebagai kesyirikan atau, setidaknya tradisi bid’ah.

Walhasil, “Tak ada yang abadi termasuk Nusantara. Buku yang mengajak kita tersenyum dalam beragama ini setidaknya akan menunda kepunahan itu. Biar beragama secara ‘non Sunan Kalijaga’ saja yang akan mempercepatnya.” Komentar Sujiwo Tejo, penulis buku Megabestseller Tuhan Maha Asyik terhadap buku ini.

Informasi Produk Buku

Islam Mencintai Nusantara

Jalan Dakwah Sunan Kalijaga, Tafsir Suluk Kidung Kawedar

Penulis: B. Wiwoho

 

Format: 14 X 21 cm, soft cover

ISBN: 978-602-864820-2 Jumlah halaman: 306, kertas isi book paper 57 gram
Harga: Rp 65.000,- Kode buku: XI-03
Penerbit/ terbit: Pustaka IIMaN, Mei 2017                                  Kategori: SEJARAH ISLAM
 

Sinopsis Cover:

Islam itu rahmatan lil alamin. Al-Quran jelas menyebutkan itu dalam banyak ayatnya. Ia mendatangi siapa saja dengan cinta dan kasih. Sejarah Nusantara pun mencatat bahwa Islam berhasil merasuk ke dalam jiwa manusia Nusantara, terutama Jawa, melalui jalur yang sangat lembut. Lelaku dakwah Sunan Kalijaga memberi kita pelajaran tentang semua itu. B. Wibowo, dalam buku ini, mengupas tuntas salah satu “jurus” Sunan Kalijaga untuk menanamkan Islam di dada orang Jawa; melalui taktik modifikasi budaya yang tak menyakiti siapapun—dengan mengajarkan tauhid melalui Kidung Kawedar. Dari buku ini kita bisa kembali belajar, bahwa sudah seharusnyalah Islam berwajah ramah. Islam tidak berantitesa dengan kearifan lokal manapun. Islam justru menyempurnakannya. Islam akan merasuk paripurna dalam hati melalui jalan yang lembut penuh cinta, bukannya dengan teriakan kemarahan dan pedang yang terhunus. Inilah DNA Islam di Nusantara, memposisikan agama sebagai jembatan perekat, bukan penyekat berbagai kehidupan sosial dan budaya.

 

 

Advertisements

Leave a comment

Filed under Uncategorized

MASIHKAN UMAT TAAT & MENDENGAR KEPADA PARA ULAMA SESUAI AJARAN KANJENG NABI?

Dua bulan belakangan, lebih-lebih pada hari ini, Rabu 1 Februari 2017,  baik di media masa khususnya televisi,  maupun di berbagai jejaring media sosial, berhamburan pernyataan sejumlah tokoh dan politisi yang menanggapi perdebatan antara Pak Ahok dan Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia Al Mukarrom K.H. Ma’ruf Amin dalam persidangan hari Selasa 31 Januari 2017. Para tokoh tersebut terutama yang kental latar belakang atau pun organisasi keislamannya, mengaku sebagai santri Kyai Ma’ruf Amin.

Di kalangan kaum muslimin (dan muslimat) terutama di Indonesia, lazim berlaku adab pergaulan yang mulia, yang diajarkan oleh Al Qur’an dan hadis Kanjeng Nabi Muhammad SAW, yaitu seseorang yang lebih muda, apalagi santri atau murid seorang ulama, jika berjumpa dan berpamitan selalu mencium tangan yang lebih tua atau ustadz atau ulama.

Sementara itu di dalam tata pergaulan dan hubungan yang menyangkut perbedaan pendapat serta penugasan, berlaku ungkapan “sami’na wa atho’na”, yang artinya kami dengar dan kami taat. Ungkapan ini menunjukkan  sikap hormat dan patuh yang diajarkan kepada seorang muslim untuk hormat dan patuh terhadap ulama. Ungkapan kepatuhan itu berasal dari ayat suci Al Qur’an surat Al Baqarah ayat 285.

Perihal ulama, Junjungan Kanjeng Nabi Muhammad Saw. dalam hadis yang sangat termasyhur, yang diriwayatkan oleh Abdu Dawud, bersabda, “Ulama adalah pewaris Nabi.” Karena menempatkan ulama sebagai pewaris Nabi itulah, maka para ulama sangat dimuliakan di dalam pergaulan. Tangannya dicium, doanya diharapkan, nasihat, petunjuk serta perintahnya ditaati, sami’na wa atho’na.

Doa, nasihat, petunjuk serta perintah para ulama itulah yang sekarang ini sangat dinantikan umat Islam di Indonesia, tatkala satu sama lain tengah dipertentangkan, berprasangka buruk, menzalimi dan menggibah, bahkan bukan hanya sudah saling menyindir, tetapi sudah hendak saling menerkam, dan semuanya gara-gara politik yang mengobarkan pesona harta dan kekuasaan. Karena politik, bisa menyebabkan ada diantara kita yang merasa sok tahu banyak hal, sok memonopoli kebenaran, sehingga tega mengecap buruk saudara seimannya. Naudzubillah. Padahal Rasulullah SAW bersabda sebagaimana diriwayatkan Ibnu Umar,  “Seorang muslim itu adalah saudara bagi muslim yang lain. Oleh sebab itu, jangan menzalimi dan meremehkannya dan jangan pula menykitinya.” (HR. Ahmad, Bukhori dan Muslim)

Diriwayatkan pula oleh Imam Ahmad dari Suwaid bin Hanzalah,“Kami pernah keluar bersama Rasulullah Saw dan  Wa’i bin Hujr. Waktu itu Wai  dihukum oleh musuhnya. Rupa-rupanya orang-orang merasa enggan untuk membelanya dengan bersumpah bahwa Wa’i saudaranya. Maka saya (Hanzalah) bersumpah bahwa dia (Wa’i) adalah saudara saya. Akhirnya musuh tersebut melepaskannya. Kami kemudian datang kepada Rasulullah Saw menceritakan hal itu kepada beliau, maka Rasulullah bersabda, ‘Kamu adalah orang yang paling baik dan yang paling jujur diantara mereka. Apa yang kamu lakukan adalah benar. Orang Islam adalah saudara bagi orang Islam yang lain.”

 Perihal hubungan sesama muslim, junjungan kita Nabi Muhammad SAW mempertegas,  “Perumpamaan orang-orang yang beriman dalam hal saling mencintai, saling menyayangi dan kasih mengasihi adalah seperti satu tubuh, yang apabila ada salah satu anggota tubuh mangaduh kesakitan maka anggota-anggota tubuh yang lainnya ikut merasakannya yaitu dengan tidak bisa tidur dan merasa demam.” (H.R Bukhari Muslim dari An-Nu’man bin Basyir r.a)

Begitu indahnya persaudaraan secara islami yang mengajarkan untuk saling mengasihi dan melindungi, termasuk menutup aib serta melindungi kehormatan satu sama lain.

Islam mengajarkan umatnya untuk saling tidak membuka aib yang hanya akan membuat saudaranya terhina. Dan Allah SWT pun memberikan balasan kepada umatnya yang menutupi aib saudaranya sesama muslim, diantaranya Allah akan menutupi aibnya di dunia dan di akahirat kelak. Adapun hadits yang menjelaskan adalah, “Tidaklah seseorang menutupi aib orang lain di dunia, melainkan Allah akan menutupi aibnya di hari kiamat kelak.” (HR. Muslim)

 “Barang Siapa menutupi aib seorang muslim, maka Allah akan menutupi aib orang tersebut di dunia dan akhirat.” (HR. Ibnu Majah)

Sebaliknya siapa yang mengumbar aib saudaranya maka Allah akan membuka aib hingga aib rumah tangganya. “Barang siapa yang menutupi aib saudara muslimnya, Allah akan menutupi aibnya pada hari kiamat, dan barang siapa mengumbar aib saudara muslimnya, maka Allah akan mengumbar aibnya hingga terbukalah kejelekannya di dalam rumahnya.” (HR. Ibnu Majah).

Tentang ketaatan kepada ulama tersebut, beberapa  sahabat bertanya, “tetapi, ulama mana yang harus ditaati pada zaman edan sekarang ini?” Para pemikir Islam klasik jauh-jauh hari sudah menyadari dan mengingatkan, bahwa ulama yang paling buruk adalah ulama yang datang ke penguasa, kecuali untuk memperingatkan dan menegur Sang Penguasa. Datang atau didatangi penguasa bukan untuk mengumbar pesona dunianya, bukan untuk makan enak sementara masih banyak umatnya yang kelaparan, apalagi untuk menjadi ulama kes, memperoleh oleh-oleh atau hadiah uang tunai. Oleh karena itu pula pada hemat Al Ghazali, ulama harus tegak menjaga fungsinya sebagai pemegang amanah Allah, penjaga waris Nabi-Nabi dan penegak politik keadilan. Para ulama dan cendekiawan harus bersikap waspada dan jangan menundukkan diri pada politik kezaliman, bahkan jika dianggap perlu harus mengambil sikap uzlah, menjauhkan diri dari segala soal yang berbau politik kekuasaan.

Demikianlah wahai sahabat-sahabatku, semoga kita semua dikarunia hidayah untuk senantiasa taat kepada Gusti Allah SWT dan Kanjeng Nabi Muhammad SAW, dengan mematuhi perintah serta mengikuti keteladanannya, khususnya dalam memuliakan para ulama selaku pewarisnya, memuliakan saudara-saudara kita dengan saling mengasihi dan melindungi satu sama lain. Semoga, Allahumma aamiin. (Ingin membedakan ulama baik dan buruk, lihat : ULAMA dan PENGUASA, https://islamjawa.wordpress.com/2016/10/20/ulama-dan-penguasa/).

 

Leave a comment

Filed under Uncategorized

Masihkah Para Santri Sami’na wa Atho’na Kepada Para Ulama? Semoga

Dua bulan belakangan, lebih-lebih pada hari ini, Rabu 1 Februari 2017,  baik di media masa khususnya televisi,  maupun di berbagai jejaring media sosial, berhamburan pernyataan sejumlah tokoh dan politisi yang menanggapi perdebatan antara Pak Ahok dan Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia Al Mukarrom K.H. Ma’ruf Amin dalam persidangan hari Selasa 31 Januari 2017. Para tokoh tersebut terutama yang kental latar belakang atau pun organisasi keislamannya, mengaku sebagai santri Kyai Ma’ruf Amin.

Di kalangan kaum muslimin (dan muslimat) terutama di Indonesia, lazim berlaku adab pergaulan yang mulia, yang diajarkan oleh Al Qur’an dan hadis Kanjeng Nabi Muhammad SAW, yaitu seseorang yang lebih muda, apalagi santri atau murid seorang ulama, jika berjumpa dan berpamitan selalu mencium tangan yang lebih tua atau ustadz atau ulama.

Sementara itu di dalam tata pergaulan dan hubungan yang menyangkut perbedaan pendapat serta penugasan, berlaku ungkapan “sami’na wa atho’na”, yang artinya kami dengar dan kami taat. Ungkapan ini menunjukkan  sikap hormat dan patuh yang diajarkan kepada seorang muslim untuk hormat dan patuh terhadap ulama. Ungkapan kepatuhan itu berasal dari ayat suci Al Qur’an surat Al Baqarah ayat 285.

Perihal ulama, Junjungan Kanjeng Nabi Muhammad Saw. dalam hadis yang sangat termasyhur, yang diriwayatkan oleh Abdu Dawud, bersabda, “Ulama adalah pewaris Nabi.” Karena menempatkan ulama sebagai pewaris Nabi itulah, maka para ulama sangat dimuliakan di dalam pergaulan. Tangannya dicium, doanya diharapkan, nasihat, petunjuk serta perintahnya ditaati, sami’na wa atho’na.

Doa, nasihat, petunjuk serta perintah para ulama itulah yang sekarang ini sangat dinantikan umat Islam di Indonesia, tatkala satu sama lain tengah dipertentangkan, bahkan bukan hanya sudah saling menyindir, tetapi sudah hendak saling menerkam, dan semuanya gara-gara politik yang mengobarkan pesona harta dan kekuasaan. Padahal Rasulullah SAW bersabda sebagaimana diriwayatkan Ibnu Umar,  “Seorang muslim itu adalah saudara bagi muslim yang lain. Oleh sebab itu, jangan menzalimi dan meremehkannya dan jangan pula menykitinya.” (HR. Ahmad, Bukhori dan Muslim)

Diriwayatkan pula oleh Imam Ahmad dari Suwaid bin Hanzalah,

“Kami pernah keluar bersama Rasulullah Saw dan  Wa’i bin Hujr. Waktu itu Wai  dihukum oleh musuhnya. Rupa-rupanya orang-orang merasa enggan untuk membelanya dengan bersumpah bahwa Wa’i saudaranya. Maka saya (Hanzalah) bersumpah bahwa dia (Wa’i) adalah saudara saya. Akhirnya musuh tersebut melepaskannya. Kami kemudian datang kepada Rasulullah Saw menceritakan hal itu kepada beliau, maka Rasulullah bersabda, ‘Kamu adalah orang yang paling baik dan yang paling jujur diantara mereka. Apa yang kamu lakukan adalah benar. Orang Islam adalah saudara bagi orang Islam yang lain.”

 

Perihal hubungan sesama muslim, junjungan kita Nabi Muhammad SAW mempertegas,  “Perumpamaan orang-orang yang beriman dalam hal saling mencintai, saling menyayangi dan kasih mengasihi adalah seperti satu tubuh, yang apabila ada salah satu anggota tubuh mangaduh kesakitan maka anggota-anggota tubuh yang lainnya ikut merasakannya yaitu dengan tidak bisa tidur dan merasa demam.” (H.R Bukhari Muslim dari An-Nu’man bin Basyir r.a)

Begitu indahnya persaudaraan secara islami yang mengajarkan untuk saling mengasihi dan melindungi, termasuk menutup aib serta melindungi kehormatan satu sama lain.

Islam mengajarkan umatnya untuk saling tidak membuka aib yang hanya akan membuat saudaranya terhina. Dan Allah SWT pun memberikan balasan kepada umatnya yang menutupi aib saudaranya sesama muslim, diantaranya Allah akan menutupi aibnya di dunia dan di akahirat kelak. Adapun hadits yang menjelaskan adalah, “Tidaklah seseorang menutupi aib orang lain di dunia, melainkan Allah akan menutupi aibnya di hari kiamat kelak.” (HR. Muslim)

 “Barang Siapa menutupi aib seorang muslim, maka Allah akan menutupi aib orang tersebut di dunia dan akhirat.” (HR. Ibnu Majah)

Sebaliknya siapa yang mengumbar aib saudaranya maka Allah akan membuka aib hingga aib rumah tangganya. “Barang siapa yang menutupi aib saudara muslimnya, Allah akan menutupi aibnya pada hari kiamat, dan barang siapa mengumbar aib saudara muslimnya, maka Allah akan mengumbar aibnya hingga terbukalah kejelekannya di dalam rumahnya.” (HR. Ibnu Majah).

Demikianlah wahai sahabat-sahabatku, semoga kita semua dikarunia hidayah untuk senantiasa taat kepada Gusti Allah SWT dan Kanjeng Nabi Muhammad SAW, dengan mematuhi perintah serta mengikuti keteladanannya, khususnya dalam memuliakan para ulama selaku pewarisnya, memuliakan saudara-saudara kita dengan saling mengasihi dan melindungi satu sama lain. Semoga, Allahumma aamiin.

 

Leave a comment

Filed under Uncategorized

Tasawuf di Kancah Pragmatisme dan Hedonisme Masyarakat

Tasawuf di Kancah Pragmatisme dan Hedonisme Masyarakat

Zaman Edan.

Amenangi zaman edan

Ewuh aya ing pambudi

Melu edan nora tahan

Yen tan melu anglakoni

Boya kaduman melik

Kaliren wekasanipun

Ndilalah karsa Allah

Begja-begjane kang lali

Luwih begja kang eling lan waspada.

 Artinya:

Mengalami hidup di zaman edan (gila)

Sungguh repot lagi serba sulit

Mau ikut edan tidak tahan (tidak bisa)

Jika tidak (mau) ikut menjalani (edan)

Tidak akan kebagian

Akhirnya kelaparan

Namun sudah (menjadi) ketetapan Allah

Sebesar apa pun keberuntungan orang yang lupa (diri karena edan)

Masih lebih beruntung (bahagia) orang yang ingat (Tuhan) dan waspada.

(Pujangga Ranggawarsita, Serat Kalatida bait ke 7).

 Bismillahirrahmanirrahim,

Shalawat dan salam bagi Junjungan Kanjeng Nabi Muhammad Saw, keluarga, sahabat dan pengikutnya.

Bagaimana kehidupan individu-individu dan komunitas masyarakat Indonesia sekarang, khususnya yang beragama Islam? Apakah benar kita masih patut disebut sebagai bangsa yang santun, ramah, sabar, rendah hati, hemat, menghargai idealisme, senang bergotongroyong membantu sesamanya dan menjaga tali silaturahmi? Yang islami, yang iklhas, tawadhu, tawakal dan seimbang dalam mengelola kepentingan dunia dan akhirat?

Marilah kita belajar dari kehidupan. Lihatlah gambaran keadaan di tempat-tempat umum, di mana individu-individu berinteraksi dalam suatu komunitas. Banyak gambaran kehidupan sehari-hari yang bisa dijadikan pelajaran. Ambil saja satu contoh yaitu jalanan. Perhatikan mulai dari baliho, poster dan pamflet narsis dari para elit baik tingkat kelurahan, kabupaten, propinsi sampai dengan nasional. Di pasang di mana-mana seenaknya, dipaku menyakiti serta merusak pepohonan, mengotori tembok dan jembatan, melintang sembarangan mengganggu jarak pandang pengemudi. Belum lagi isinya, pamer, membanggakan diri dan mengumbar seribu janji: ujub, riya dan mengobral amanah. Penyakit-penyakit hati yang ditakuti oleh umat Islam, yang merupakan umat mayoritas di Indonesia. Naudzubillah.

Selanjutnya amati perilaku pengemudi kendaraan bermotor dan suasana jalanannya.Trotoar untuk rakyat kecil pejalan kaki, tersita habis oleh keserakahan pemilik toko dan para pedagang, sehingga rakyat khususnya yang tak mampu harus berjalan ekstra hati-hati. Sementara banyak kendaraan yang main serobot mengambil jalan atau hak pengendara lainnya. Ada yang jalan seenaknya tak peduli menganggu pengendara di belakang dan sekitarnya, karena sambil menelpon atau memainkan telpon genggam. Ada pula yang melaju sembari membuang sampah di jalanan.

Bagaimana angkutan umum? Banyak yang berhenti mendadak seenaknya. Juga banyak yang ngetem, berhenti menunggu-menaikkan-menurunkan penumpang di tempat-tempat yang terpampang larangan berhenti. Namun demikian, hati-hati bila timbul masalah di perjalanan. Meskipun anda benar, tidak serta merta anda bisa menagih hak berlalulintas anda, salah-salah bisa berujung pada perkelahian yang berbuntut penyesalan. Naudzubillah.

Sungguh, ciri-ciri masyarakat Indonesia yang dulu diunggulkan yaitu sopan, sabar, tertib, penuh toleransi serta menghargai hak orang lain, gotongroyong, idealis, hemat dan sejumlah budi luhur lainnya, ternyata tanpa kita sadari telah berubah menjadi pragmatis, hedonis, individualis, materialis dan narsis.

Jika kita pelajari sejarah strategi pembangunan, awal pergeseran tata nilai budi luhur tersebut, dimulai pada awal Orde Baru tahun 1967, dengan digantinya secara dramatis filosofi pembangunan yang menganut faham ideologi secara ekstrim dan emosional, menjadi faham pragmatisme yang fokus pada hal-hal yang bisa membuahkan hasil nyata. Tak pelak lagi, pragmatisme telah menghasilkan perilaku “tujuan menghalalkan cara,” karena yang terpenting itu hasil dan bukan caranya. Sungguh bagai ciri-ciri “Zaman Edan”, yang tidak ikut edan tak kebagian.

Pragmatisme mengubah tata nilai idealis menjadi tata nilai yang materialis. Karena itu tidak mengherankan, bila dalam suatu pertemuan kekerabatan, tidak jarang topik pembicaraan banyak berkisar pada soal rumah, villa, kendaraan dan sejumlah masalah pesona dunia lainnya, yang di masa lalu dianggap tabu. Sungguh memprihatinkan.

Indonesia Sebagai Pasar Dengan Individu yang Konsumtif.

Namun demikian kita tidak perlu cepat kecil hati. Karena masyarakat yang pragmatis, hedonis, individualis, materialis dan narsis tersebut ternyata bukan hanya monopoli Indonesia saja, tapi juga masyarakat dunia pada umumnya dewasa ini.

Tanpa kita sadari, kita telah menjadi bagian dari Masyarakat Tata Dunia Baru yang dibentuk oleh Kapitalisme Global, baik dari Kapitalis Barat maupun Utara khususnya China, dengan Divisi-Divisi Perang Semestanya, terutama Divisi-Divisi Perang Asymetris atau non militer.

Beberapa tahun sebelum Indonesia menggelorakan faham pragmatisme, seorang filsuf Jerman , Herbert Marcuse, telah menerbitkan buku yang amat terkenal yang berjudul One Dimensional Man, Manusia Satu Dimensi, untuk menggambarkan perkembangan dari “kapitalisme lanjut” yang akan melancarkan perang dalam bentuk non militer (sekarang terkenal dengan sebutan perang asymetris), dengan mendendangkan musik jiwa yang dahsyat, yang menggalang alam pikiran manusia agar terpadu secara total pada dimensi rasionalitas yang memuja pesona dunia dengan kebutuhan-kebutuhan palsu yang menyihir.

Alunan musik jiwa itu ternyata segera terbukti menerjang bergulung-gulung berupa Gelombang Globalisasi, bak Perang Semesta, yaitu perang yang tergolong paling dahsyat, baik dalam bentuk perang asymetris (non militer) maupun Perang Militer yang konvensional (http:// bwiwoho.blogspot.co.id/2014/02/kapitalisme-global-kekuatan-perang.html).

Gambaran tentang masyarakat yang memuja pesona dunia bagi umat Islam, sesungguhnya bukan sesuatu yang baru, sebab jauh sebelumnya Kanjeng Nabi Muhammad Saw. sudah pernah memperingatkan akan datangnya hal itu.

Syahdan seusai Perang Badar yang heroik, Rasulullah meluruskan anggapan para sahabatnya yang menyatakan Perang Badar sebagai perang besar yang menghasilkan kemenangan dari segala kemenangan. Menurut beliau, kembali dari Perang Badar itu adalah kembali dari perang yang sekecil-kecilnya.”Kita ini kembali dari peperangan yang pal-ing kecil, menuju peperangan yang lebih besar, yaitu peperangan melawan hawa nafsu.” Seorang sahabat bertanya, perang apa yang paling utama. Baginda Rasul menjawab, “Engkau perangi hawa nafsumu.” Abu Daud meriwayatkan sabda beliau, “Bukanlah orang yang gagah berani itu lantaran dia cepat melompati musuhnya di dalam pertempuran, tetapi orang yang berani ialah yang bisa menahan dirinya dari kemarahan.”

Demikianlah, Perang Semesta yang menyertai Gelombang Globalisasi-II di akhir paruh abad 20, merupakan perang moderen terdahsyat, yang bukan lagi ditentukan oleh benteng-benteng batu nan kokoh dan meriam, melainkan perang dalam segala bentuk, khususnya perang budaya dan gaya hidup yang mampu menembus masuk ke ruang-ruang pribadi di dalam rumahtangga setiap penduduk dunia.

Demi memenangkan peperangannya, para Kapitalis Global, baik Barat maupun Utara yang pada umumnya non-muslim,  terus berusaha menggelorakan pesona gaya hidup beserta produk-produk konsumtifnya, dengan akibat di samping kerusakan tata nilai budi luhur dan  keagamaan, juga terkurasnya sumber daya alam dan kerusakan lingkungan hidup. Masyarakat luas hanya dijadikan sebagai pasar dengan individu-individunya yang konsumtif.

Sebagai masyarakat yang sedang mabok dalam alunan musik jiwa yang pragmatis, hedonis, individualis, materialis dan narsis, kini kita mulai berubah menjadi masyarakat yang sangat egois, yang memuja diri sendiri, yang menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuan, khususnya agar bisa “berkuasa dan kaya dalam tempo yang sesingkat-singkatnya dengan segala cara.” Hidup kita menjadi boros, keras lagi mementingkan diri sendiri. Menjadikan kesalehan hanya sekedar sebagai formalitas. Pedoman hidup halal dan thoyib menjadi kabur.

Pola hidup masyarakat sedang berkembang pesat ke pola hidup yang sangat konsumtif berlebihan, serba mewah dan gemerlap, sehingga menjadikan negeri kita senantiasa defisit dalam neraca pembiayan dan perdagangan luar negerinya. Kita telah menjadi bangsa yang tekor lantaran pola hidup kita. Cobalah perhatikan barang-barang kebutuhan kita sehari-hari, mulai dari bahan pangan yang sangat sederhana seperti garam sampai dengan peralatan elektronik yang canggih, sebagian besar berasal dari impor. Demikian pula penguasaan sumber daya alam, seperti minyak dan gas bumi, mineral dan emas, hutan dan kebun kelapa sawit bahkan air minum dalam kemasan, pabrik semen, rokok dan toko-toko kelontong serta bahan pokok di pedesaan, juga dikuasai oleh modal asing atau pengusaha besar yang bekerjasama dengan asing. Sementara rakyat di sekitarnya tetap miskin.

Karena kita tidak mungkin menghindar dari percaturan global, maka dengan memahami Perang Semesta Global, kita bisa menarik kesimpulan,  gempuran perang asymetris dengan alunan musik jiwanya masih akan terus berlangsung; sehingga agar kita bisa tetap eksis bertahan sebagai umat Islam sekaligus sebagai negara bangsa , kita harus membuat antisipasi yang memadai. Jika tidak, maka kita hanya akan menjadi kuli bagi bangsa-bangsa lain (dijajah dalam berbagai bentuk) atau kuli di negara lain (buruh di negara lain – Tenaga Kerja Indonesia di luar negeri).

Tasawuf & Revolusi Mental

Tata nilai kehidupan yang dibentuk oleh Kapitalisme Global tersebut, jika tidak segera dihentikan dan direvolusi, sudah pasti akan segera menghancurkan diri kita sendiri, bahkan meluluhlantakkan Indonesia sebagai negara bangsa. Hal itu sangat dimungkinkan sejalan dengan kekuatiran Prof.Dr.M.Sahari Besari, yang menyatakan sistem nilai serta struktur sosial masyarakat Indonesia ternyata tidak terkonstruksi untuk mengakomodasi, apalagi melawan, gelombang dahsyat globalisasi yang datang tanpa henti. (Teknologi di Nusantara, 40 Abad Hambatan Inovasi, M.Sahari Besari, Penerbit Salemba Teknika 2008, halaman 1).

Perubahan total atas tata nilai hedonis dan lain-lainnya tadi, apakah disebut sebagai Revolusi Mental, Revolusi Moral atau yang lain, sungguh sudah merupakan keharusan yang mendesak. Karena tata nilai hedonis dan sekutunya tersebut, pada hakikatnya adalah krisis moral yang akan  membawa bangsa Indonesia dan umat Islam masuk ke dalam pusaran krisis multidimensi yang besar, berat dan kompleks.

Demi menjadi bangsa dan umat yang besar, kuat, jaya dan makmur sejahtera di kancah globalisasi, baik secara individu maupun secara kolektif, kita harus mampu merevolusi mental dan moral yang merusak tadi, serta membangun kembali jatidirinya yang mulia, selaku insan kamil yang senantiasa jujur dan apa adanya, tahu diri, tahu menempatkan diri dan tahu membawa diri, yang hidup dengan prinsip-prinsip kehidupan yang diajarkan dalam tasawuf, yaitu BSM : “Bersih – Sederhana – Mengabdi”. Tasawuf tidak berarti harus hidup menyepi, tinggal di gunung, gua dan tempat-tempat sunyi dengan mengenakan pakaian amat sederhana dan makan seadanya. Tasawuf adalah jalan kehidupan yang dilandasi pada kebulatan hati pada Tuhan Yang Maha Kuasa, yang dilakukan dengan tekun ibadah dalam arti yang luas dan tidak cenderung pada kemewahan. Itulah BSM yang akan banyak dikupas dalam buku ini.

Dengan BSM maka segala macam aktivitas yang kita lakukan harus dimulai dengan kebersihan jiwa, kebersihan hati dan niat, dikembangkan dalam pola kehidupan serta perilaku kesederhanaan, dengan sasaran pengabdian kepada masyarakat banyak, kepada kemaslahatan umum dan bukan untuk kesenangan diri sendiri. Pola hidup BSM yang sudah pernah dicanangkan oleh Yayasan Amanah Umat, Jakarta dan dibacakan oleh Ketua Dewan Pembinanya Prof.K.H.Ali Yafie 12 Oktober 2005, harus dikembangkan menjadi moral ekonomi, politik, hukum dan terus dikembangkan ke sektor-sektor kehidupan lainnya terutama dalam kebudayaan.

Dalam budaya ekonomi, kita harus bisa mengobarkan perang terhadap sikap hidup yang konsumtif dan boros, dengan membudayakan sikap hidup hemat, sederhana dan menabung. Kita harus teguh memperjuangkan terwujudnya rahmatan lil alamin dengan menggalang etos dan budaya industri secara hakikat dalam makna yang luas yakni pola pikir, sikap hidup dan perilaku untuk mendayagunakan sumber daya alam, ketrampilan, peralatan dan ketekunan kerja dalam suatu mata rantai produksi yang luas, berkesinambungan serta mengutamakan nilai tambah, dan bukan dalam arti sempit sebagaimana kita kenal selama ini, yang dibatasi hanya semata-mata sebagai suatu proses pabrikasi.

Etos dan budaya industri serta semangat mengabdi pada rakyat dan komunitas, yang produktif berkesinambungan, mendayagunakan keunggulan lokal, yang melestarikan eko sistem dan melakukan konservasi itu harus dikembangkan dalam sistem kebersamaan dan kekeluargaan yang kita kenal sebagai gotongroyong, sehingga mampu menggetarkan setiap pori-pori kehidupan anak bangsa dan umat.

Dalam rangka Revolusi Mental dan Moral dengan prinsip-prinsip kehidupan yang sesuai dengan ajaran tasawuf, maka para pemimpin umat, pemimpin negara, pemimpin pemerintahan dengan segenap aparat birokrasi, penegak hukum, TNI – Polri serta para elite nasional tingkat pusat dan daerah harus terlebih dahulu merevolusi mental dan moralnya sendiri, serta menjadikan dirinya sebagai suri tauladan. Revolusi Mental dan Moral harus menggelinding bagaikan bola salju yang makin lama makin besar, dengan para pemimpin sebagai intinya. Revolusi Mental dan Moral harus dimulai dari pembersihan niat, perilaku dan cara berfikir serta moralitas pemimpin masyarakat atau pemegang kendali di sektor-sektor kehidupan masyarakat, termasuk di dalamnya para ulama dan umara.

Para tokoh masyarakat harus bangkit menghidupkan kembali budaya serta kearifan-kearifan lokal suku-suku bangsa di Nusantara yang hidup rukun, damai, penuh toleransi, gotongroyong dan unggul dalam seni dan ketrampilan. Para ulama khususnya ulama muslim harus bisa membumikan ajaran dan kesalehan formal umatnya dalam berbagai kegiatan dan perilaku amal saleh.

Apabila para pemimpin dan rakyat bisa sama-sama hidup BSM: bersih – sederhana dan mengabdi, niscaya solidaritas sosial dan saling kepercayaan yang kini kian menipis, bisa digalang kembali. Sejarah di berbagai belahan bumi telah mengajarkan, para pemimpin yang hebat adalah mereka yang senasib sepenanggungan dengan rakyat serta bisa menghayati penderitaan rakyatnya. Jangan sampai misalkan kepada umat, anak buah dan masyarakat diminta hidup hemat dan pesta sederhana, sementara pemimpinnya berpesta pora hidup bergelimang kemewahan. Jangan sampai bersemboyan sebagai abdi masyarakat, namun dalam praktek kesaharian kita minta dilayani dan memeras masyarakat. Sudah menjadi rahasia umum, di bidang usaha saja, boro-boro dilayani dengan baik, belum apa-apa, baru mengurus ijin usaha saja sudah dikenai berbagai pungutan. Padahal usahanya belum berjalan dan belum tentu memperoleh keuntungan, bahkan mungkin bisa bangkrut.

Para ulama dan pemimpin yang menghayati penderitaan rakyat dan visioner, akan dengan mudah membangkitkan harapan rakyat atas masa depan yang gemilang di kancah perang dan kompetisi global yang tak mungkin dihindari. Ulama dan pemimpin-pemimpin yang seperti itu, yang pola hidupnya bersih-sederhana-mengabdi, akan dengan mudah menggalang dukungan serta mengajak umat dan rakyatnya bersama-sama mengatasi “Zaman Edan”, mewujudkan masa depan nan gemilang.

Tetapi jangan lupa, Pemimpin itu sesungguhnya bukan hanya Presiden, Gubernur dan Bupati, melainkan kita semua, sebagaimana Sabda Kanjeng Nabi Muhammad Saw., “Semua kamu adalah pemimpin dan bertanggungjawab atas kepemimpinannya. Seorang imam adalah pemimpin dan bertanggungjawab atas rakyatnya. Seorang suami adalah pemimpin dalam keluarganya dan bertanggungjawab atas kepemimpinannya. Seorang isteri adalah pemimpin dan bertanggungjawab atas penggunaan harta suaminya. Seorang karyawan (juga pelayan) bertanggungjawab atas harta perusahaan (majikan). Seorang anak bertanggungjawab atas penggunaan harta ayahnya. (Hadis Bukhari dan Muslim).

Oleh sebab itu, marilah kita bangun kepedulian dan kebersamaan kita sebagai bangsa dengan jalan mempraktekkan pola hidup BSM. Pola hidup BSM akan membuat perekonomian Indonesia bergeser dari perekonomian yang konsumtif menjadi perekonomian yang produktif. Korupsi yang lebih berbahaya dan lebih jahat dibanding terorisme akan dapat diberantas. Ekonomi berbiaya tinggi akan dapat ditekan, sehingga daya saing In-donesia menjadi bagus. Devisa kita akan bisa banyak dihemat dan dihimpun. Lapangan kerja akan banyak tersedia karena sektor produksi tumbuh bagaikan pohon industri yang menjulang tinggi, berdahan dan berbuah lebat serta kokoh subur tertanam dalam alam Nusantara yang sesuai.

Pengangguran ditekan sekecil mungkin, sumber daya alam terkelola dengan baik dan tidak dieksploitasi secara sembarangan. Lingkungan hidup terjaga dan terpelihara, pertumbuhan sosial ekonomi akan merata ke segenap pelosok tanah air, kesenjangan sosial terjembatani, keadilan sosial dapat ditegakkan, keamanan dan ketertiban umum terpelihara baik lagi terkendali. Ekonomi rakyat, ekonomi umat dengan demikian pasti akan tumbuh dalam kehidupan masyarakat Nusantara Raya, negeri maritim di zamrud khatulistiwa, yang aman tenteram, adil makmur, sejahtera jaya sentosa. Allahumma aamiin. (Dari buku Bertasawuf di Zaman Edan, penerbit BukuRepublika, telp 081285304767)

 

Leave a comment

Filed under Uncategorized

Pembauran, Bahaya Dominasi Minoritas dan Kesenjangan Sosial Ekonomi : Catatan Kritis 25 th Bergulat dalam Pembauran.

Masalah kesenjangan sosial ekonomi di Indonesia, nampaknya dalam waktu dekat belum akan reda, apalagi teratasi. Jika pada tahun 1990-an indeks kesenjangan yang dikenal sebagai gini ratio itu ada di sekitar angka 0,3 sampai 0,33 kini semakin memburuk menjadi di atas 0,43. Pada akhir dasa warsa 1980-an sampai awal 1990-an, sentimen rasial akibat kesenjangan tersebut sangat terasa, sehingga berbagai upaya untuk mengatasinya gencar dilakukan oleh Pemerintah dan tokoh-tokoh masyarakat ada periode itu misalkan, Presiden Soeharto menggariskan kebijakan delapan jalur pemerataan, serta beberapa kali mengadakan pertemuan dengan para konglomerat keturunan Cina, yang kemudian dikenal sebagai pertemuan Tapos. Juga dilancarkan kebijakan untuk menggunakan sekitar 5% keuntungan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) buat membantu pengembangan usaha kecil dan koperasi, kebijakan bapak angkat dengan anak angkat di bidang usaha serta tambahan pungutan terhadap wajib pajak menengah atas untuk masyarakat tidak mampu.

Di kalangan masyarakat, Pimpinan Pusat Muhammadiyah yang dimotori oleh Wakil Ketua Umum, Lukman Harun, merangkul sejumlah tokoh Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM), media massa dan tokoh pembauran antara lain Junus Jahja, menyelenggarakan berbagai dialog dan kerjasama dengan pengusaha-pengusaha ke- turunan Cina, untuk bersama-sama mencari jalan keluar demi mewujudkan persatuan dan kehidupan berbangsa serta bernegara yang aman, tenteram, damai sejahtera.

Rangkaian pertemuan tersebut mengilhami sejumlah tokoh dari NU, Muhammadiyah, Al – Wasliyah, HMI, KAHMI, Al. Irsyad dan LSM untuk kemudian pada tanggal 9 April 1991 mendirikan Yayasan Haji Karim Oei Tjeng Hien, yang selanjutnya disingkat Yayasan Karim Oei atau YHKO, sebuah nama yang kental dengan nuansa Islam, Indonesia dan Cina sekaligus. Ini sejalan dengan alasan utama pendirian, yakni mewujudkan persatuan dan kesatuan bangsa melalui pembauran bisnis dan agama, terutama agama mayoritas masyarakat yaitu Islam. Para pendiri meyakini, memperkuat kehidupan sosial ekonomi masyarakat pribumi juga harus dilaksanakan secara sistemis dan keberpihakan yang nyata, kuat tapi sehat, karena pribumi yang kuat akan menjadi kunci utama bagi pembauran. Three in One (3 in 1), tiga dalam satu wadah, satu gerakan, satu perjuangan. Begitu kami sering menyebutnya.

Tak terasa, kini sudah 25 (dua puluh lima) tahun usia YHKO. Banyak dari 20 pendiri dan perintisnya yang kini sudah almarhum, uzur atau sepuh, dan hanya sekitar 3 sampai 7 orang saja yang masih aktif. Demikian pula para sahabat pendukung termasuk para pejabat tinggi negara.

Alhamdulillah selama 25 tahun, telah banyak kegiatan yang dilaksanakan dan lebih dari seribu lima ratus orang yang sudah kita bantu memeluk agama Islam. Pelbagai kegiatan yang terkait dengan 3 in 1 tadi, baik yang berskala lokal atau internal, nasional maupun internasional telah kami selenggarakan, secara sendiri atau pun bekerjasama dengan lembaga-lembaga lain. YHKO telah dan akan selalu memperjuangkan agar bisa menjadi rumah yang indah lagi nyaman bagi segenap anak bangsa, terutama bagi WNI keturunan Cina, dan lebih khusus agar menjadi muslimin dan muslimat yang taat, nasionalis sejati yang sukses dalam kehidupan sosial ekonominya.

ASING – ASENG MEREBAK KEMBALI.

Bersamaan dengan kelahiran YHKO, tata kehidupan dunia juga mengalami perubahan yang semakin mencolok. Semenjak akhir abad ke 20, sebagai dampak berpadunya kekuatan modal dengan kemajuan ilmu-teknologi yang super canggih, terjadi Gelombang Globalisasi yang mengumandangkan musik jiwa yang menggalang alam pikiran manusia, untuk terpadu secara total pada dimensi rasionalitas yang memuja pesona dunia melalui kebutuhan- kebutuhan palsu yang menyihir.

Dimensi rasionalitas yang ditata dalam tiga sistem utama yakni sistem pasar bebas, sistem sosial politik demokratis yang individualis dan sistem sosial budaya yang lepas bebas, sudah mulai kita rasakan dampaknya dengan berkembangnya sikap dan gaya hidup masyarakat yang hedonis, individualis, pragmatis, materialis dan narsis.

Musik jiwa dimensi rasionalitas dengan 3 (tiga) paket sistem utama tersebut, menyerbu secara dahsyat negara-negara bangsa, diantaranya menggempur secara langsung peradaban sesuatu bangsa termasuk Indonesia, terutama pada aspek nasionalisme, sosial budaya, kearifan lokal, adat dan tradisi, agama serta spiritualisme. Dalam hal nasionalisme, Gelombang Globalisasi berusaha melunturkan serta mendangkalkan nilai dan semangat nasionalisme sesuatu bangsa atau negara, mengobarkan separatisme dan disintegrasi, memecah-belah, menghancurkan militansi rakyat, menciptakan kesenjangan sosial ekonomi serta menyuburkan konflik horizontal dan vertikal.

Dalam aspek sosial budaya, Gelombang Globalisasi menggelora- kan sex bebas dan sex sejenis dengan apa yang sekarang kita kenal sebagai LGBT (Lesbian, Gay, Bisex dan Transexual), mengobarkan budaya hidup yang hedonistis-individualistis, pragamatis-mate- rialitis dan narsis, merusak dan menghancurkan bangunan tata nilai keluarga – kebersamaan – gotong-royong, merusak serta meng- hancurkan moral masyarakat, kebudayaan, adat, tradisi dan ke- arifan lokal,

Dalam aspek agama dan spiritualisme, Gelombang Globalisasi mendangkalkan dan menghancurkan nilai-nilai moral spiritual dan kesalehan yang hakiki, melibas tradisi dan kearifan lokal yang memperkuat spiritualisme dan agama, menciptakan dan mengembangkan aliran-aliran sesat, mengembangkan sekularisme dan secara khusus melakukan deislamisasi terhadap pemeluk agama terbesar dan militan ini.

Gempuran dahsyat tersebut kini sudah bisa kita lihat pada pola pikir, perilaku, gaya hidup dan bahkan peradaban masyarakat. Nampak jelas, masyarakat Indonesia kini sedang mabok dalam alunan musik jiwa yang pragmatis, hedonis, individualis, materialis dan narsis. Kita mulai berubah menjadi masyarakat yang sangat egois, yang memuja diri sendiri, yang menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuan, khususnya agar bisa “berkuasa dan kaya dalam tempo yang sesingkat-singkatnya dengan segala cara.” Hidup kita menjadi boros, keras lagi mementingkan diri sendiri. Menjadikan kesalehan hanya sekedar sebagai formalitas.

Pola hidup masyarakat sedang berkembang pesat ke pola hidup yang sangat konsumtif berlebihan, serba mewah dan gemerlap, sehingga menjadikan negeri kita senantiasa defisit dalam neraca pembiayan dan perdagangan luar negerinya. Kita telah menjadi bangsa yang tekor lantaran pola hidup kita. Cobalah perhatikan barang-barang kebutuhan kita sehari-hari, mulai dari bahan pangan yang sangat sederhana seperti garam sampai dengan peralatan elektronik yang canggih, sebagian besar berasal dari impor. Demikian pula penguasaan sumber daya alam, seperti minyak dan gas bumi, mineral dan emas, hutan dan kebun kelapa sawit bahkan air minum dalam kemasan, pabrik semen, rokok dan toko-toko kelontong dan bahan pokok, juga dikuasai oleh modal asing atau pengusaha besar yang bekerjasama dengan asing. Sementara rakyat di sekitarnya tetap miskin.

Tak pelak lagi, kesenjangan sosial ekonomi kembali merebak bahkan semakin melebar, sebagaimana ditunjukkan oleh indeks kesenjangan di atas tadi, yang mendekati tanda bahaya. Suhariyanto, Deputi Bidang Neraca dan Analisa Statistik BPS, dalam diskusi dengan para pemimpin redaksi media massa April 2014 menjelas- kan, angka ketimpangan sosial ekonomi Indonesia saat ini ter- cermin secara nyata dalam gini ratio Indonesia yang tidak membaik sejak 2011 silam, yang berada di level 0,41.

Rasio gini berada di angka 0 hingga 1, yang dalam pengertian awam mencerminkan seberapa besar porsi orang kaya menikmati kue ekonomi nasional. Semakin besar gini rasio, semakin besar tingkat ketimpangan.

Gini rasio hingga 0,3 dianggap masih aman, tetapi 0,4 hingga 0,6 sudah dianggap lampu kuning, sedangkan lebih dari 0,6 adalah rasio yang berbahaya, yang menunjukkan ketimpangan sosial ekonomi tak lagi bisa ditoleransi. Kondisi gini rasio yang masih relatif “hijau” terjadi hingga tahun 2010, di mana posisinya masih di angka 0,38. Di era Orde Baru, gini rasio berkisar 0,31-0,38.

Data BPS juga mengindikasikan kondisi ketimpangan sosial ekonomi yang makin melebar, jika dikonfrontasikan dengan laju pertumbuhan ekonomi yang mencapai 5%-6% dalam beberapa tahun terakhir. Kelompok kaya lebih mendapatkan manfaat dari pertumbuhan ekonomi tersebut. Pada 2008, 40% penduduk di kelompok pendapatan terendah masih menikmati PDB antara 21%- 23%. Namun porsi itu anjlok menjadi hanya 16% pada 2012.

Sebaliknya, 20% penduduk terkaya, yang pada 2008 sudah menikmati 40% produk domestik bruto atau kue ekonomi nasional, melonjak menjadi penikmat 49% kue ekonomi nasional pada 2012.

Ini terjadi, karena dari rata-rata laju pertumbuhan ekonomi 6%, penduduk miskin hanya menikmati kenaikan pendapatan maksimal 2% per tahun. Sebaliknya penduduk terkaya menikmati kenaikan pendapatan hingga 8%. Artinya kenaikan pendapatan penduduk yang kaya melonjak signifikan, sedangkan penduduk miskin meski pendapatannya naik tetapi tidak besar. (http://finansial.bisnis.com/ read/20140419/9/220506/kesenjangan-kaya-miskin-vs-indeks-kebahagiaan-biar- timpang-asal-bahagia).  Kesenjangan tersebut semakin mengkuatirkan jika kita menyimak laporan World Bank (Harian Kompas 8 Desember 2015) yang menyatakan 1% keluarga terkaya di Indonesia menguasai 50,3% kekayaan nasional. Ini berarti  sebagian besar yaitu 99% keluarga Indonesia berebut kue nasional yang 49.7% . (catatan tambahan per Januari 2017).

Ironisnya, di negeri kita tercinta Indonesia ini, yang justru memprihatinkan, kelompok-kelompok yang paling menikmati sumber daya alam dan kue pembangunan, adalah kelompok yang oleh berbagai media massa terutama media sosial yang sangat luas jaringan dan jangkauannya, dicirikan dan disebut Asing–Aseng, yang tiada lain adalah orang-orang asing dan WNI keturunan Cina, yang secara kebetulan dalam keyakinan beragama juga banyak berbeda dengan mayoritas penduduk.

Jadi berbeda dengan kaum minoritas di banyak negara lain yang hanya mengandung satu unsur minoritas misalnya suku/ras saja atau hanya agama saja, di Indonesia tidak demikian halnya. Mereka mengumpulkan dua unsur minoritas sekaligus yaitu suku/ras dan agama, sehingga dengan demikian potensi kerawanan sosialnya jauh lebih besar.

Posisi strategis Asing – Aseng khususnya WNI keturunan Cina yang non muslim pada kegiatan ekonomi, dalam praktek kehidupan adalah merupakan kekuasaan potensial dan aktual, yang selanjutnya mudah merambah ke penguasaan sumber daya alam, penguasaan media massa kemudian ke politik dan pemerintahan dan lain sebagainya, yang apabila tidak diatasi secara sistemis strategis, maka akan menjadi gurita kekuasaan yang mendominasi. Padahal dominasi hanya akan melahirkan pertentangan. Cepat atau lambat, dominasi akan membangkitkan perlawanan.

Demi ikut mewujudkan persatuan dan keharmonisan nasional antara lain dengan mengantisipasi dan mengatasi kesenjangan sosial ekonomi yang menajam, serta dominasi kekuasaan yang berbasis ekonomi yang diwarnai dengan perbedaan SARA (Suku Agama Ras dan Antar Golongan) tersebutlah maka Yayasan Haji Karim Oei (YHKO) pada tahun 1991 didirikan.

Dalam berbagai kesempatan, para pendiri YHKO disamping berusaha keras mewujudkan pembauran, juga berkeyakinan dan oleh sebab itu selalu menyatakan bahwa Indonesia harus memiliki pribumi yang kuat, karena pribumi yang kuat merupakan kunci pembauran. Untuk itu pula Pemerintah harus memiliki serta melaksanakan kebijakan strategis yang menyeluruh dan terpadu, bukan hanya bersifat tambal sulam, emosional, dan manipulatif, serta tidak pernah menyentuh persoalan utama yakni penguasaan modal yang menyebabkan peta kompetisi menjadi sangat tidak seimbang. Yang juga tidak kalah penting, adalah secara sungguh- sungguh tidak pandang bulu, memberantas KKN (Korupsi – Kolusi – Nepotisme).

KEJAYAAN & KEHANCURAN PERADABAN.

Para pendiri Yayasan Karim Oei memahami sejarah panjang dunia termasuk Indonesia, yang mengajarkan adanya siklus kejajayaan dan kehancuran nan silih berganti tanpa henti akibat bencana alam, perang dengan negara lain, perang saudara ataupun karena pergolakan-pergolakan di dalam negara bahkan juga akibat kemerosotan peradabannya. Demikian pula sejarah Nusantara.

Sejumlah peninggalan sejarah di Indonesia membuktikan pernah berlangsungnya peradaban tinggi misalkan sejumlah candi di pegunungan tinggi Dieng, candi Borobudur, puluhan candi di Prambanan dan puing-puing rerentuhan Keraton Boko, semuanya di Jawa Tengah. Sementara itu sejumlah candi serta bukti peninggalan peradaban yang sudah maju lainnya, juga terdapat di berbagai pelosok Nusantara.

Di bidang pelayaran dan perdagangan, beberapa sumber tulisan dari Barat sebagaimana dikutip Agus Sunyoto dalam Atlas Walisongo, Pustaka IIMaN, Trans Pustaka dan LTN PBNU, 2012, menyatakan pada tahun 70-an Masehi, cengkih dari kepulauan Maluku sudah diperdagangkan di Roma, dan semenjak abad ketiga Masehi, perahu-perahu dari kepulauan Nusantara telah menyinggahi anak benua India serta pantai timur Afrika, dan sebagian di antaranya bermigrasi ke Madagaskar.

Bukan hanya dari para pencatat perjalanan orang-orang Barat saja, kisah pelayaran tadi juga bisa ditemukan di relief Candi Borobudur. Pada tahun 2003, pengrajin kapal dari Madura telah membuktikan kehandalan perahu di relief candi tersebut, dengan membuat tiruannya, sekaligus napaktilas pelayarannya. Kapal yang dinamai “Samudraraksa” ini berlayar ke Afrika dengan selamat dan kini disimpan di Musium Kapal Samudraraksa di Borobudur. (http:// http://www.tempo.co/read/news/2003/07/03/05521575/Ekspedisi-Kapal-Borobudur- Dapat -Memberdayakan – Budaya dan http://setuparch.blogspot.com/2013/09/ kapal – kapal-sriwijaya.html ). Replika berikutnya diberi nama “Spirit of Majapahit”, diluncurkan menuju Jepang dari dermaga Marina, Jakarta pada 4 Juli 2010. (http://www.jpnn.com/index.php?mib=berita.detail&id=67324).

Pencatat sejarah China anak buah Fa Hsien di akhir abad III dan awal abad IV Masehi menerangkan pula bahwa pelaut-pelaut Nusantara memiliki kapal-kapal besar yang panjangnya sekitar 200 kaki (65 meter), tinggi 20 – 30 kaki (7 – 10 meter) dan mampu dimuati 600 – 700 orang ditambah muatan seberat 10.000 hou. Sementara pada masa itu panjang jung China tidak sampai 100 kaki (30 meter) dengan tinggi kurang dari 10 – 20 kaki (3 – 7 meter). Catatan yang ditulis dalam Tu Kiu Kie ini telah dikutip oleh banyak ahli yang mempelajari sejarah agama Buddha maupun Asia Tenggara di masa lalu.

Ahli Javanologi Belanda, Van Hien tahun 1920 dalam De Javansche Geestenwereld, yang disadur secara bebas oleh Capt. R.P. Suyono dalam Dunia Mistik Orang Jawa, penerbit LkiS Yogyakarta 2007 halaman 12, menerangkan Shi Fa Hian (Fa Hsien) dalam perjalanannya pulang ke China diserang badai dan terdampar di pantai Jawa. Ia berdiam lima bulan di Jawa, menunggu selesainya pembuatan sebuah kapal besar yang sama dengan kapalnya yang rusak dihantam badai (juga Atlas Walisongo halaman 20).

Berbagai catatan sejarah menyatakan, pada sekitar abad VII – XII Masehi, di pulau Sumatera juga berlangsung pemerintahan Kerajaan Sriwijaya yang kekuasaannya meliputi Asia Tenggara termasuk pulau Jawa. Puncak kejayaan Sriwijaya terjadi pada abad VIII. Sejarawan S.Q. Fatimi menyebutkan bahwa pada tahun 100 Hijriyah (718 M), seorang maharaja Sriwijaya (diperkirakan adalah Sri Indrawarman) mengirimkan sepucuk surat kepada Khalifah Umar bin Abdul Aziz dari Kekhalifahan Umayyah, yang berisi permintaan kepada khalifah untuk mengirimkan ulama yangdapat menjelaskan ajaran dan hukum Islam kepadanya.

Surat itu dikutip dalam Al-‘Iqd Al-Farid karya Ibnu Abdu Rabbih (sastrawan Kordoba, Spanyol), dan dengan redaksi sedikit berbeda dalam Al-Nujum Az-Zahirah fi Muluk Misr wa Al-Qahirah karya Ibnu Tagribirdi (sastrawan Kairo, Mesir” Dari Raja sekalian para raja yang juga adalah keturunan ribuan raja, yang isterinya pun adalah cucu dari ribuan raja, yang kebun binatangnya dipenuhi ribuan gajah, yang wilayah kekuasaannya terdiri dari dua sungai yang mengairi tanaman lidah buaya, rempah wangi, pala, dan jeruk nipis, yang aroma harumnya menyebar hingga 12 mil. Kepada Raja Arab yang tidak menyembah tuhan-tuhan lain selain Allah. Aku telah mengirimkan kepadamu bingkisan yang tak seberapa sebagai tanda persahabatan. Kuharap engkau sudi mengutus seseorang untuk menjelaskan ajaran Islam dan segala hukum-hukumnya kepadaku.” (Surat Maharaja Sriwijaya kepada Khalifah Umar bin Abdul Aziz. http://id.wikipedia.org/wiki/Sriwijaya, 1 Mei 2015 pukul 18.45 ).

Bukti tentang peradaban yang cukup maju lainnya ditemukan pula melalui berbagai prasasti dan kondisi lapangan, yang men- jelaskan mengenai setidaknya ada lima sistem irigasi yang tertata baik, yang dibangun pada rentang periode abad 9 sampai 14 di lembah Sungai Brantas, Jawa Timur (1000 Tahun Nusantara, Kompas 2000, hal 128).

Pun demikian kondisi pada sekitar abad XV – XVI, tatkala para ulama gencar berdakwah ke Nusantara. Pamor Kerajaan Nusantara Majapahit yang beribukota di Trowulan, Jawa Timur, memang sedang memudar, bahkan kekuasaannya mulai runtuh. Meskipun demikian gambaran kebesaran peradabannya dicatat oleh pengembara Portugis tahun 1512 – 1515 Tome Pires dalam karyanya yang sangat terkenal dan sering menjadi sumber rujukan sejarah Asia Tenggara, Suma Oriental (dalam Pemugaran Persada Sejarah Leluhur Majapahit oleh Prof. Dr. Slamet Mulyana, Inti Idayu Press, Jakarta 1983 halaman 282, 283 dan seterusnya). Menurut Tome Pires, Sultan Malaka yang bergelar Raja Muzaffar Syah (1450 – 1458) serta puteranya yaitu Raja Mansyur Syah (1458 – 1477), sebagai raja bawahan Jawa, memiliki hubungan yang baik dengan Jawa. Bahkan untuk keperluan menunaikan ibadah haji ke Mekah, Raja Mansyur Syah memesan jung besar dari Jawa.

Demikianlah, dari sekilas gambaran tadi kita bisa mempelajari siklus kejajayaan dan kehancuran negeri kita di masa lampau sampai menjadi negara modern Indonesia sekarang ini, yang sudah barang tentu memakan korban yang tidak sedikit. Kita tidak ingin kesenjangan sosial ekonomi yang disertai unsur-unsur SARA menerpa Indonesia yang sekarang, yang sedang mengalami ledakan penduduk menjadi sekitar 250 juta jiwa ini. Harus kita syukuri, telah banyak kemajuan dan hal-hal postif yang kita capai. Namun begitu masih banyak lagi tantangan dan ancaman di depan mata yang kita hadapi, yang semoga dengan ridho dan berkah Tuhan Yang Maha Kuasa, akan kita atasi dengan kerja keras, cepat dan tepat.

Kenyataan yang menuntut antisipasi penanganan yang cepat dan tepat tersebut, mendorong Rapat Badan Pembina dan Pengurus Karim Oei akhir 2015 yang lalu, untuk meningkatkan sumbangsihnya dengan antara lain menerbitkan buku, yang kemudian kami beri judul : “Yayasan H Karim Oei & Masjid Lautze : RUMAH BAGI MUSLIM, INDONESIA dan KETURUNAN TIONGHOA.”, sekaligus mensyukuri ulang tahun YHKO yang ke 25 (duapuluh lima), pada tanggal 9 April 2016.  (Pengantar buku:  Yayasan H.Karim Oei & Masjid Lautze : RUMAH BAGI MUSLIM, INDONESIA & KETURUNAN TIONGHOA, penerbit Teplok Prees, telp 081382896969. Yayasan Karim Oei : 0216257413 dan 085717649127)

 

 

Leave a comment

Filed under Uncategorized

Tasawuf di Zaman Edan : Kisah Perjalanan Mencari Hakikat

KISAH PERJALANAN MENCARI HAKIKAT

Oleh Parni Hadi*

Buku ini berjudul “Bertasawuf  Di Zaman Edan (Era Globalisasi)”.  Buku ini mencerminkan penulisnya adalah seorang pelaku dan pencari kebenaran dan  kesejatian. Kebenaran (yang ) Sejati, hakikat Tuhan, Allah Swt.  Ini adalah sebuah kisah dari seorang pencari  substansi sekaligus  inti kebenaran.  Kebenaran Tertinggi. Kebenaran Mutlak Tanpa Batas  (A Truth Seeker’s Story).

Bentuk, cara dan gaya penyajian kisah pencarian ini diwarnai oleh latar belakang budaya, agama dan profesi sang penulis, yakni Bambang Wiwoho,  saya biasa memanggilnya Mas Wie, seorang Jawa, beragama Islam dan berprofesi sebagai wartawan.

Namanya sudah menunjukkan ia seorang Jawa. Bambang artinya satria yang hidup, dibesarkan dan tumbuh berkembang  di pertapaan, padepokan atau  perguruan bersama  sang pertapa dan sang guru sekaligus. Wiwoho berarti dimuliakan, dihormati.

Tasawuf adalah sebuah ajaran cabang ilmu dalam agama Islam untuk mengenal dan mendekatkan diri kepada Allah. Sebuah ilmu, cara dan sekaligus jalan menuju Kebenaran Mutlak dengan laku-laku tertentu, yang  berintikan dan dimulai dengan pengenalan diri sendiri melalui  pengendalian nafsu, penataan batin dan berakhir pada pasrah kepada Allah.

Sebagai orang Jawa, yang  budayanya terkenal suka meramu segala macam ilmu dan laku menjadi satu padu, Mas Wie membingkai keislamannya dengan nama Islam Jawa. Ada yang menyebut “Islam rasa Jawa” dan atau  “Jawa rasa Islam”. Ada juga:  “ Wadah Islam rasa Jawa” dan atau “Wadah Jawa rasa Islam”.  Wadah  dan isi telah menyatu. Syariat dan hakikat telah saling mengikat. Keduanya adalah tajali (pengejawantahan) Sang Maha Hakikat.

Sebagai wartawan, Mas Wie menulis kisah perjalanannya secara sistematis, runtut, runut, kohesif, komprehensif, holistik  dengan diksi yang  gampang, jelas dan lugas. Gaya penyajiannya enak dan perlu (dibaca, lebih bagus lagi dengan membeli dulu buku ini). Konsisten dari judul sampai konklusi menuju kepada tujuan buku ini:  dapat dipahami (dengan mudah) oleh pembaca.

Seorang wartawan adalah sosok yang senang mempertanyakan segala sesuatu. “A questioning mind” atau Bathin Yang Selalu Bertanya. Tidak gampang percaya begitu saja pada segala hal, selalu resah, gelisah, ingin membuktikannya sendiri. Minimal,  ingin melakukan klarifikasi, penjelasan, dari ahlinya. Di sini sebagai pelaku, pencari dan pejalan (traveller) menuju hakikat, Mas Wie perlu pemandu yang bertindak sebagai guru.

Tanda Bakti untuk Guru

Alhamdulillah, Allah mempertemukan Mas Wie dengan Sang Guru, yakni Profesor  Kyai Haji Ali Yafie, seorang tokoh Islam nasional berasal dari Sulawesi Selatan. Karena itu, Mas Wie lebih suka memanggilnya Puang Ali Yafie, yang kebetulan tahun ini genap berusia 93 tahun. Tampilnya sang Guru yang non Jawa menunjukkan bahwa hakikat itu bersifat universal, tidak mengenal SARA (suku,   agama (aliran), Ras dan Antargolongan), istilah top jaman Pak (Presiden) Harto (Suharto) serta kebangsaan, ideologi,  apalagi partai politik.

Kyai Ali Yafie memenuhi syarat  untuk menjadi guru Mas Wie sesuai ajaran Jawa yang termaktub dalam  “Serat Wulangreh”  buku  karya Kanjeng Sinuhun Pakubuwono IV, raja Surakarta. Sang pujangga-raja atau raja-pujangga dalam Tembang Dhandhanggla menasehatkan:  jika mencari guru pilihlah manusia yang nyata, yang bagus martabatnya, tahu hukum (syariah), yang beribadah dan “wirangi” (wara),  syukur petapa, yang sudah selesai dengan dirinya sendiri, tidak berpikir lagi tentang pemberian orang lain.

Ditilik  dari usia, senioritas dengan aneka ragam pengalaman hidupnya , Kyai Ali Yafie sangat pantas menyandang gelar “mursyid” (guru tasawuf). Laku hidup Pak Kyai diperas, ringkas  dan bernas,  oleh Mas Wie, sang murid, menjadi BSM (Bersih, Sederhana dan Mengabdi).

Laku sangat penting dalam menempuh jalan (tarekat)  menuju hakikat dan makrifat  seperti ajaran Sri Mangku Negoro IV, raja Puri Mangkunegaran, Surakarta dalam karyanya “Serat Wedhatama”. Ajaran itu menyebut “ngelmu  iku kalakone kanthi  laku” (ilmu itu mewujudnya dengan laku).

BSM  sebagai laku menjiwai, menjelujuri kisah perjalanan sang murid dalam buku ini dari awal sampai akhir.  Ada yang berpendapat, mursyid dan murid adalah satu: ya mursyid, sekaligus ya murid, saling mengisi, saling melengkapi atau “tumbu oleh tutup” dalam ungkapan Jawa. Jadi klop.

Contoh menyatunya guru dan murid itu mengejawantah dalam tokoh Kresna dan Arjuna dalam kisah  Perang Bharatayudha, lakon wayang kulit Jawa.  Sang guru dan murid selalu sejalan seperti permukaan dan punggung daun sirih,  jika digigit sama rasanya (Pindha suruh,lumah lan kurebe, yen ginigit padha rasane).

Kebetulan wartawan dan guru adalah pewaris tugas kenabian, yakni menyampaikan kabar gembira dan peringatan seperti tersurat dalam Al Khafi, QS 18:56 (lihat “Jurnalisme Profetik”)  demi terwujudnya kesejahteraan  untuk seluruh alam semesta beserta isinya. Orang Jawa bilang:  “Memayu hayuning bawono”.  Semuanya diniatkan sebagai ibadah kepada Al Khalik.

Sebagai teman Mas Wie, saya ketika dimita untuk memberi kata sambutan buku ini menyarankan  agar ada kata-kata di sampul depan : “Tanda bhakti untuk Kyai Haji Ali Yafie”. Sebagai hadiah ulang tahun beliau  yang ke 93. Semoga beliau panjang usia, terus bermakna dan berbahagia. Semoga Puang diberi kesehatan dan kekuatan untuk terus menjadi obor, penyuluh, penerang perjalanan bangsa Indonesia dalam menempuh Perang Bharatayudha dalam pusaran globalisasi.

Kanjeng Nabi  Muhammad, Rasulullah Saw, telah bersabda bahwa musuh terbesar kita adalah hawa nafsu kita sendiri.  Setiap manusia pada hakikatnya setiap saat melakukan perang Bharatayudha, melawan hawa nafsunya sendiri. BSM adalah pedoman hidup yang perlu difahami dan diamalkan oleh setiap orang, terutama oleh para pemimpin negeri ini.

Islam mengajarkan pengendalian nafsu, bukan penghilangan nafsu,  karena nafsu adalah perangkat hidup sebagai sunatullah.  Berkat adanya nafsu, kehidupan dapat berkembang: maju atau rusak. Kata kuncinya  adalah pengendalian berdasar ajaran budaya dan agama sesuai tuntunan Kitab Suci yang diturunkan Allah kepada para rasul, utusannya dan orang-orang yang  dipilih-Nya .

BSM perlu menjadi pedoman setiap insan, terutama para pemimpin,  dalam mengarungi “Zaman Edan”, mengutip Pujangga Ronggowarsito, dalam era globalisasi ini.  Ini gampang diomongkan, tapi sulit diamalkan. Banyak orang mendapat gelar “Jarkoni”, bisa berujar, tidak bisa melakoni. Sederet gelar akademis dan keagamaan tidak menjamin dan mencerminkan kualitas intelektualitas dan religiusitas seseorang.

Era globalisasi yang dipicu oleh kapitalisme mempengaruhi sikap hidup hampir semua orang sejagat menjadi: individualis, egoistis, egosentris, “sopo siro, sopo ingsun”, tidak satunya kata dan perbuatan, semua memperturutkan hawa nafsunya masing-masing. Pengendalian nafsu terkait erat dengan disiplin diri yang ketat. Berlatih “sepi ing pamrih, rame ing gawe”. Tetap bekerja keras selama hidup di dunia ini, tapi niatnya semata sebagai ibadah. “Topo ngrame” (bertapa di tempat ramai).

Perang, fisik dan bathin, terbuka atau tertutup, pada galibnya adalah “purgatorio” (cleansing atau penyucian) dari unsur-unsur kebathilan menuju penyempurnaan.  Ini akan terus terjadi berulang kali  di sepanjang jaman dan tempat sesuai kodrat Tuhan sebagai Yang Maha Kuasa dan Maha Sempurna.

Seorang teman,  dosen tasawuf, baru-baru ini bilang:  Hanya sufi (pengamal Tasawuf)  yang lurus  dapat memandu menyelamatkan perjalanan bangsa ini dan seluruh umat manusia menuju kebahagiaan melewati jalan Cinta untuk semua (rahmatan lil alamin).

Prof. Dr. KH Ali Yafie adalah suri teladan untuk banyak orang dalam melakoni BSM. Beliau konsisten suci dalam pikiran, perkataan dan perbuatan (butir terakhir Dasadharma) dalam kehidupan sehari-hari.  Mas Wie, selamat atas terbitnya buku ini dan selamat menempuh perjalanan lebih lanjut! Tabik Puang Ali Yafie! (Pengantar untuk buku Bertasawuf di Zaman Edan, penerbit BukuRepublika, telp 081285304767)

Jakarta, 2 November, 2016.

*Wartawan, inisiator/pendiri/ketua Dewan Pembina Dompet Dhufa dan penulis “Jurnalisme Profetik”.

Leave a comment

Filed under Uncategorized

Pembauran Keturunan Tionghoa Relevan & Mendesak Untuk Ditingkatkan: Prof.Dr.Din Syamsuddin

Masjid Lautze, Pembauran Sejati.
Sebenarnya pertautan antara Islam dan Tionghoa bukanlah hal asing dan baru, namun keduanya telah terjalin dalam temali sejarah dan budaya yang panjang dan dalam. Hanya saja di Indonesia, hubungan antara umat Islam dan Tionghoa seolah- olah berjarak jauh dan senjang. Pandangan umum umat Islam, etnik Tionghoa adalah “orang lain”, pendatang, suka hidup eksklusif, dan bahkan harus dijauhi kalau tidak dibenci. Begitu pula sebaliknya, bagi masyarakat keturunan Tionghoa, orang-orang Islam (termasuk mereka yang dulu disebut pri- bumi) itu adalah bodoh, pemalas, tertinggal, sampai kepada sebagian mereka mudah dan suka disuap.

Mungkin penilaian tadi bisa dianggap berlebihan dan mendramatisasi, tapi agaknya relatif masih ada, walau sekarang berbeda dengan dulu.

Hubungan Islam dengan Tionghoa (Negeri China) sudah terjalin sejak masa Khalifah Kedua Umar bin Khattab, yang berhasil mengembangkan Islam ke luar Jazirah Arabia, dari Persia di sebelah Timur hingga ke Mesir di sebelah Barat. Pada masa setelah Khulafaur Rasyidin, yaitu masa Dinasti Umawiyah dan Dinasti Abbasiyah, kawasan (Dunia) Islam jauh lebih luas dan tentu mendorong kontak Islam dengan kawasan dan peradaban-peradaban lain menjadi intensif. Walau Negeri China tidak termasuk wilayah perluasan dakwah Islam, tapi hubungan budaya antara Dunia Islam dan Negeri China waktu itu berlangsung harmonis.

Pada sisi lain, Negeri China, sebagai salah satu pusat peradaban dunia sebelum Islam, telah menjadi pelaku utama perdagangan internasional yang menciptakan jalur sutera. Jalur perdagangan sutera ini melewati negeri-negeri Muslim, baik pada jalur Utara seperti Iran dan Negeri-negeri Asia Tengah, maupun pada jalur Selatan seperti India hingga Mekkah melalui Laut Merah.

Perjalanan para sahabat Nabi Muhammad SAW ke Negeri China juga terjadi, antara lain ditandai oleh adanya jejak Saad bin Waqash (seorang panglima pasukan Islam pada masa Khalifah Umar bin Khattab) di sebuah bukit di Guangzhou, berupa makam dan masjid. Kontak seperti itu sebenarnya sudah terjadi sebelum era Islam, dan Negeri China dianggap sebagai negeri maju. Mungkin hal ini yang mendorong adanya ungkapan (bukan hadits Nabi) yang berbunyi “uthlubul ‘ilma walaw bis Shin”, atau tuntutlah ilmu walau ke Negeri China.

Khusus dengan Indonesia (atau Nusantara), hubungan Negeri China dengan Indonesia (sebagai negeri Muslim) bahkan signifikan. Terdapat teori bahwa Islam masuk ke Nusantara, selain dari Gujarat/ India dan Jazirah Arabia, juga dari Negeri China. Bahkan, tidak banyak yang mengetahui, bahwa dari Sembilan Wali yang menyiarkan Islam di Tanah Jawa, ada yang berdarah Tionghoa (Sunan Ampel). Hubungan itu semakin kuat dengan kedatangan Laksamana Cheng Ho, Panglima Angkatan Laut Dinasti Ming, yang beragama Islam dan bergelar haji, ke Nusantara (mendarat antara lain di Sunda Kelapa, Semarang, dan Gresik).

Menurut cerita, sebelum berlayar dengan rombongannya Laksamana Cheng Ho berpamitan dulu kepada seorang imam di sebuah masjid tua (sudah berusia seribu tahun) di Xian, Negeri China. Di kota Xian, dan banyak kota lain di Negeri China, bahkan Beijing, terdapat banyak restoran halal yang dikelola oleh orang-orang Tionghoa Muslim. Selain juga, di Negeri China ada provinsi berpenduduk mayoritas Muslim (etnik Uighur), dan Provinsi Otonomi Khusus seperti Ningxia

Alinea di atas hanyalah sketsa sejarah yang menggambarkan bahwa Islam dan Negeri China sudah dekat sejak dahulu kala. Dengan latar semacam inilah, kita mudah memahami proses masuk Islam tokoh keturunan Tionghoa di Indonesia sebagai hal biasa, lumrah, dan sudah sering terjadi sebelumnya, karena sesungguhnya Islam bukanlah agama asing bagi orang-orang Tionghoa. Begitu pula kita memahami masuk Islamnya Haji Karim Oei sebagai kelanjutan dari proses lama dan hubungan dekat Islam dengan Tionghoa itu sendiri.

Abdul Karim Oei, bernama Tionghoa Oey Tjeng Him (1005-1988), yang mendapat hidayah masuk Islam tahun 1929 pada usia 20 tahun, tentu bukan keturunan Tionghoa pertama di Indonesia yang memeluk Islam. Sudah banyak keturunan Tionghoa sebelumnya yang masuk Islam. Tentu Sunan Ampel, satu dari Wali Songo, yang berasal dari Negeri China, memiliki pengikut-pengikut dari keturunan Tionghoa. Begitu pula, pengikut dan pengagum Cheng Ho di Nusantara dari keturunan Tionghoa banyak yang memeluk Islam.

Namun, keberislaman Haji Karim Oei mempunyai arti tersendiri. Hal ini disebabkan karena beliau adalah seorang pengusaha besar, memiliki pengaruh di kalangan warga Tionghoa, dan juga mempunyai hubungan akrab dengan Presiden Soekarno dan ulama terkemuka Buya Hamka. Hubungan dengan kedua tokoh tersebut, mungkin karena Haji Karim Oei pernah menjadi Konsul Muhammadiyah di Bengkulu, sesudah dijabat oleh Ustadz Hasan Din, mertua Bung Karno di Bengkulu, di mana Soekarno muda pernah juga menjadi Ketua Bidang Pengajaran Muhammadiyah ketika “diungsikan” di sana. Begitu pula hubungannya dengan Buya Hamka adalah karena ayahanda Buya Hamka, Prof. Karim Amrullah, adalah Konsul Muhammadiyah di Sumatera Tengah. Yang jelas, posisi Haji Karim Oei di organisasi Islam seperti itu menambah derajat hubungan umat Islam (khususnya warga Muhammadiyah) dengan warga keturunan Tionghoa. Mereka, warga keturunan Tionghoa itu, dianggap sebagai saudara sesama manusia dan sebangsa, dan apabila mereka masuk Islam maka dianggap juga sebagai saudara seiman.

Keberadaan Haji Karim Oei sebagai Muslim Tionghoa kemudian mendapat dukungan dari para tokoh Islam, seperti Lukman Harun dari Muhammadiyah, atau Prof. KH. Ali Yafi dari NU, Yunan Helmi Nasition dari Al-Washliyah, atau H.B. Wiwoho, seorang pengusaha/ aktifis Muslim. Hubungan antara Muslim Tionghoa dengan ormas- ormas Islam sangat dekat. Hal inilah yang ikut mendorong lahirnya Yayasan Karim Oei yang bertujuan membina para warga Tionghoa yang masuk Islam dan mengembangkan dakwah Islam di kalangan warga Tionghoa. Salah satu karya penting yayasan ini adalah men-dirikan Masjid “Karim Oei” Lautze di Jalan Lautze, Jakarta Pusat.

Masjid Lautze yang bisa dikatakan berada di lingkungan “China Town” (walau di Indonesia sebenarnya tidak ada China Town karena warga Tionghoa tinggal menyebar di kalangan masyarakat non Tionghoa di hampir semua kota), memang berhasil menarik perhatian warga keturunan Tionghoa. Suasana demikian telah ikut mendorong cukup banyak tokoh keturunan Tionghoa memeluk Islam, seperti pengusaha Junus Jahja pada 1979, Yusuf Hamka pada 1981, atau Max Muljadi Supangkat pada 1982. Kendati saya dengar bahwa yang masuk Islam di Masjid Lautze terakhir ini sekitar tiga orang pada setiap Jum’at, namun peran Masjid Lautze sebagai Pusat Islam (Islamic Center) sangat penting. Peran itu tidak hanya di Ibu Kota tapi sudah merambah ke kota-kota lain seperti Bandung.

Tentu, harus dikatakan, bahwa dakwah Islam di kalangan warga keturunan Tionghoa di Indonesia tidak hanya dilakukan oleh Yayasan Karim Oei, tapi juga oleh organisasi-organisasi lain, terutama Persatuan Islam Tionghoa Indonesia (PITI, dan yayasan yang didirikan oleh pengusaha keturunan Tionghoa Mas Agung yang diberi nama Yayasan Wali Songo.

Yayasan Karim Oei, alhamdulillah, masih eksis dan berkembang. Kepemimpinan yayasan sekarang sudah diestafetkan kepada generasi kedua/putra Haji Karim Oei, yakni H. Ali Karim Oei.

Salah satu peran penting dari Yayasan Karim Oei/Masjid Lauze, PITI, dan Yayasan Wali Songo, adalah mendorong proses akulturasi etnik Tionghoa dengan etnik-etnik lainnya di Indonesia.

Adalah tokoh Yayasan Karim Oei/Masjid Lautze Junus Jahja yang ikut memprakarsai gerakan ini. Pembauran adalah istilah tepat dan penting. Interaksi dua pihak yang dianggap “berseberangan”, masing-masing mewarisi trauma psikologis dari sejarah panjang bahkan sejak era penjajahan, dan masing-masing menyandang stereotipe negatif terhadap lainnya, memang harus mengambil bentuk integrasi, penyatuan, atau pensenyawaan. Itulah yang dimaksud sebagai pembauran, yakni berbaurnya dua komunitas (lebih khusus komunitas etnik Tionghoa berbaur atau membaur dengan komunitas etnik-etnik lainnya) baik lahiriah maupun batiniah.

Sebenarnya proses pembauran itu sudah pernah dimulai setelah kemerdekaan, seperti yang ditunjukkan secara simbolis oleh persahabatan akrab Haji Karim Oei dengan Bung Karno dan Buya Hamka, namun agak sedikit terganggu dengan Peristiwa G 30 S/ PKI. Kala itu banyak etnik Tionghoa yang menjadi sasaran/korban pemberantasan/pembubaran PKI, terutama karena dianggap menjadi bagian dari Poros Jakarta-Peking pada masa Presiden Soekarno.

Pada awal Orde Baru, terutama dengan adanya kebijakan setiap warga negara Indonesia harus memeluk suatu agama dan berketuhanan Yang Maha Esa sesuai Pancasila, maka mayoritas etnik Tionghoa memilih agama-agama non Islam, seperti Katolik, Kristen, atau Buddha/ Tridharma (mungkin karena menganggap kalangan Islam berperan besar dalam mengganyang PKI). Hal ini pula yang “membangkitkan” sentimen lama “Chinafobia” di kalangan umat Islam. Keadaan tentu semakin meningkat apalagi kemudian terjadi kesenjangan ekonomi di kalangan umat Islam sementara kekuasaan ekonomi berada di tangan etnik Tionghoa.

Kecenderungan ini memburukkan upaya pembauran lantaran pola hubungan antara etnik Tionghoa dan etnik-etnik non Tionghoa yang kebetulan mayoritas beragama Islam mengambil bentuk “superior-inferior” khususnya dalam bidang ekonomi. Kendati berkembang juga persepsi sebaliknya di kalangan etnik Tionghoa bahwa mereka merasa tertekan secara politik, terutama pada Era Orde Baru semua yang berbau Cina dilarang. Namun, kebebasan pada Era Reformasi dan sejalan dengan dinamika global dan kawasan Asia dengan kebangkitan China keadaan mulai membalik.

Keturunan Tionghoa di Indonesia, negeri dengan penduduk Muslim terbesar di dunia dan memiliki keturunan serta diaspora Tionghoa terbesar di dunia, menikmati kebebasan sosial, ekonomi, bahkan politik yang terbuka. Hal ini tentu positif bagi kemajuan Indonesia di masa depan, namun jika tidak dilola dengan tepat maka bisa memunculkan kondisi negatif, seperti adanya kesan “superior- inferior ekonomi” tadi. Hal ini pada giliran berikutnya dapat mendorong sentimen suku-agama-ras-antar golongan (SARA) yang tentu kontra-produktif bagi kerukunan dan kemajuan bangsa dan negara pada masa depan.

Dalam kaitan itulah, maka ide dan program pembauran menjadi tetap relevan dan mendesak untuk ditingkatkan. Tentu, pembauran yang perlu diwujudkan adalah pembauran sejati, bukan pembauran basa-basi yaitu pembauran semu. Pembauran sejati adalah bangsa yang majemuk bersedia untuk hidup berdampingan dengan damai dalam semangat saling memahami, saling menghormati, saling membantu, bahkan saling melindungi. Dalam pembauran sejati dan kerukunan sejati tidak boleh ada baik diktator mayoritas maupun tirani minoritas. Untuk itulah, perlu lahir dan hadir Haji Karim Oei-Haji Karim Oei baru, dan lembaga seperti Masjid Lautze perlu diperbanyak untuk menjadi rumah bagi Muslim Tionghoa dan jembatan bagi etnik Tionghoa untuk bersilaturahim dengan saudara- saudara sebangsa dan setanah air lainnya

(Pengantar buku: Yayasan H.Karim Oei & Masjid Lautze : RUMAH BAGI MUSLIM, INDONESIA & KETURUNAN TIONGHOA, penerbit Teplok Prees, telp 081382896969. Yayasan Karim Oei : 0216257413 dan 085717649127)

Leave a comment

Filed under Uncategorized