KEPEMIMPINAN TAO & KHONG HU CU : Seri Etika & Moral Kepemimpinan (22).

Jika dalam uraian-uraian terdahulu banyak dikemukakan contoh dan referensi dari Barat, Islam dan Jawa, mungkin menarik juga untuk melihat pembanding dari Cina, sebuah bangsa, sebuah negeri dan budaya yang amat tua.

Setidaknya ada empat ahli filsafat yang terkait dengan kehidupan, kepemimpinan dan juga peperangan Cina kuno, yang melegenda sampai sekarang. Falsafah dan buah pikirnya ditulis entah dalam berapa banyak buku, mungkin tak terhitung, dalam berbagai bahasa, dalam berbagai versi mulai dari buku teks yang serius sampai dalam bentuk komik ilmiah populer. Mereka adalah Lao Tzu atau Lautze, Khong Hu Cu, Sun Tzu dan Zhuge Liang.

Lao Tzu (570 – 470 SM) dengan Tao Te Ching-nya, telah mempersembahkan karya sastra dan moral keagamaan klasik yang dikenal amat indah, yang telah menjadi sumber kebijakan selama lebih dari 2500 tahun. Tao Te Ching atau buku Tao ini mengajarkan Kepemimpinan Tao, antara lain menyatakan, pemimpin bijak hendaknya seperti air, membersihkan dan menyegarkan semua makhluk tanpa pandang bulu. Air dengan bebas tanpa rasa takut menembus ke dalam permukaan suatu benda. Air bersifat cair dan responsif. Air mengikuti hukum secara bebas.

Sebagaimana juga dalam falsafah Hasta Brata, hakikat filsafat air ini luar biasa. Apalagi jika kita menyadari dan dikaitkan dengan kenyataan bahwa tubuh manusia itu sesungguhnya 60 – 70 persen dari berat badannya terdiri dari air.

Kepemimpinan yang benar menurut Lao Tzu selanjutnya, adalah pelayan, bukan mementingkan diri sendiri. Pemimpin dapat tumbuh dan berakhir lebih lama apabila dapat menghilangkan pamrih pribadi, serta menempatkan kesejahteraan semua di atas kesejahteraan sendiri (bandingkan dengan berbagai hadis dan sunah Kanjeng Nabi Muhammad Saw). Pemimpin juga harus memegang teguh tiga hal yaitu, mengasihi semua makhluk, sederhana dan hemat, rasa persamaan dan sopan. Pemimpin bijak pada hematnya, juga wajib mencontoh perilaku spiritual dan hidup dalam harmoni bersama nilai-nilai spiritual.

Agar seseorang bisa hidup harmonis dan sukses memimpin orang banyak, kecuali menguasai hal-hal di atas maka terlebih dahulu harus bisa mengenal serta memahami dirinya sendiri, baru kemudian mengenal dan memahami orang lain dan masyarakatnya. Dengan memahami masyarakatnya, seorang pemimpin akan bisa menjaga ketenangan masyarakat dan negaranya, dan tidak bising. Negara dengan masyarakatnya yang tenang akan mudah diajak mewujudkan cita-cita bersama.

Khong Hu Cu.

Pada kurun waktu yang hampir sama, Tuhan juga menurunkan Khong Hu Cu (551 – 479 SM). Khong Hu Cu disebut dalam sejarah pernah menjumpai Lao Tzu untuk belajar tentang kesopanan dan kesantunan. Dalam hal kerendahan hati, Khong Hu Cu memang jagonya. Ia mengajarkan pada murid-muridnya, agar dengan rendah hati sudi belajar dari siapa saja. “Jika engkau bepergian dengan dua orang, salah satu pasti bisa jadi gurumu.” Saya bersyukur mengenal salah satu keturunan langsung Khong Hu Cu, yaitu Prof Kong Huan Zhe, yang pada tahun 1993 bahkan sempat berkunjung ke rumah saya di Depok.

Dari sekian banyak buku mengenai ajaran-ajaran Khong Hu Cu, saya menemukan sebuah buku populer, amat sederhana dan mudah dipahami, yang berjudul “Loyalty” yang disusun oleh Profesor Song Shouxiang dari Chongqing Jianzhu University, Cina. Ajaran dan falsafah Khong Hu Cu yang dikenal sebagai Confucianisme adalah aliran pemikiran etika yang menempatkan kepentingan bersama di atas kepentingan lainnya.

Etika menurut Khong Hu Cu berpusat pada makna dasar kebaikan, berisikan bentuk-bentuk nilai moral utama, dengan bagian yang paling penting bakti pada orang tua serta tugas-tugas luhur, kesetiaan dan kebajikan. Dua yang terakhir tadi, yakni kesetiaan dan kebajikan, adalah prinsip penuntun dalam hubungan antar manusia. Lebih khusus tentang kesetiaan, Khong Hu Cu berujar, “Kepada siapa pun kamu mengabdi, bertindaklah loyal.” Terlepas itu kepada negara, masyarakat atau teman, seseorang harus tetap teguh dalam memegang prinsip kesetiaan dan kejujuran.

Dengan mengacu pada kebajikan, ia memberikan suatu nasihat yang kemudian menjadi kata-kata mutiara yang mendunia, yakni “Jangan melakukan sesuatu kepada orang lain apa yang tidak kamu inginkan dperbuat orang lain kepadamu.”

Mencius, murid tersohor Khong Hu Cu mengembangkan falsafah kebajikan tersebut lebih lanjut. Ia mengajar setiap orang agar berupaya mewujudkan kesejahteraan umat manusia, menempatkan kebajikan dan kebenaran moral sebagai kualitas tertinggi dalam standar moral. Kebajikan pada hematnya adalah perhatian afektif terhadap orang lain, kebenaran moral adalah memiliki perasaan malu, kesopanan adalah hormat pada orang yang lebih tua, dan kebijaksanaan adalah kemampuan untuk mengucapkan kebenaran atas kesalahan.

Uraian Mencius dikembangkan lagi oleh Guanzi dengan menyatakan kesopanan, kebenaran moral, integritas dan kehormatan sebagai empat nilai luhur yang membentuk kerekatan sosial. Sebuah negara akan hancur jika keempat nilai luhur tersebut tidak dipegang teguh.

Sejarah di berbagai belahan bumi memang menunjukkan, integritas suatu pemerintahan, keteraturan dan harmoni sosial adalah faktor-faktor yang memiliki dampak langsung terhadap hukum dan moralitas masyarakat. Apakah negeri kita Indonesia sekarang ini memiliki dan memegang teguh keempat nilai luhur di atas? Dan apakah kita khususnya saudara-saudara sebangsa dan setanah air yang berasal dari keturunan Cina dan lebih khusus lagi para pemeluk “agama Khong Hu Cu” juga memahami dan menghayati ajaran-ajaran Lao Tzu dan Kong Hu cu yang mulia itu? Semoga. Berikutnya: KEPEMIMPINAN SUN TZU & ZHUGE LIANG.

Leave a comment

Filed under Uncategorized

KEPEMIMPINAN VERSI PUJANGGA RONGGOWARSITO : Seri Etika & Moral Kepemimpinan (21).

Ronggowarsito adalah pujangga ternama yang oleh para pengamat sosial politik dan kebudayaan, dikenal dengan tulisannya tentang “Zaman Edan”. Ia adalah bangsawan Jawa yang lahir di Surakarta 23 Maret 1802 dan wafat 24 Desember 1873, yang sejak berumur 12 tahun telah masuk menjadi santri di Pesantren Gebang Tinatar, Tegalsari, Ponorogo (tetangga desa Gontor). Menjadi santri yang cemerlang, ia sangat disayang sang kyai, yaitu Kyai Hasan Besari. Di kemudian hari para pengagumnya percaya, Ronggowarsito memperoleh anugerah dari Yang Maha Kuasa berupa kemampuan menyingkap tirai, hijab, yang membatasi antara hamba dan Sang Pencipta, sehingga mampu melukiskan keadaan-keadaan masa depan melalui beberapa tulisannya, Wallaahu ‘alam (Pengembaraan Batin Orang Jawa di Lorong Kehidupan, B.Wiwoho, Bina Rena Pariwara2009, halaman 24).

Ronggowarsito yang bernama kecil Bagus Burhan adalah ulama pujangga yang sangat produktif, yang karya sastra yang ditulis atas namanya sendiri berjumlah tidak kurang dari 27 (dua puluh tujuh). Para ahli sastra Jawa memperkirakan karya sesungguhnya lebih dari itu, mungkin lebih dari 56 (lima puluh enam), namun ditulis dengan nama samaran atau orang lain. Yang luar biasa, sebagian dari karya sastranya mampu jauh menembus zaman, sering dikutip dan menjadi sumber referensi sampai sekarang. Bahkan Ramalan Jayabaya versi yang sering dikutip orang, menilik gaya bahasanya juga diduga karya Ronggowarsito. Sungguh bersyukur, saya memperoleh anugerah sempat mengunjungi bekas pesantrennya yang tak jauh dari Pesantren Gontor di Ponorogo, serta berziarah ke makamnya di desa Palar, kecamatan Trucuk, Klaten.

Di masa lalu, banyak orang tua yang mengajarkan kepada anak-anaknya semenjak kecil beberapa falsafah ilmu kepemimpinan seperti (1) hasta brata; (2) sastra jendra hayuningrat pangruwating diyu; (3) suro diro joyoningrat lebur dening pangastuti, yang diajarkan oleh beberapa pujangga Keraton Surakarta.

Ajaran hasta brata sudah kita bahas dalam tulisan terdahulu, sedangkan mengenai sastra jendra, bermula dari istilah Sastra Harjendra Yuning Rat yang bersumber dari serat Arjuna-Sasra Bau karya pujangga R.Ng.Sindusastra (Van Den Broek, 1870:31,33). Sastra jendra mengajarkan bagaimana seorang pemimpin harus menjaga kselematan dan kelestarian alam semesta dengan menguasai dirinya dari pengaruh kekuasan hawa nafsu, terutama hawa nafsu yang dikuasai iblis baik yang berwujud raksasa maupun makhluk halus lainnya.

Adapun ilmu kepemimpinan suro diro joyoningrat lebur dening pangastuti, berasal dari Serat Witaradya yang merupakan ajaran kehidupan yang dikemas dalam sebuah novel fiktif, yang mengisahkan gemblengan Prabu Aji Pamasa dari Kerajaan Witaradya kepada Putera Mahkotanya yaitu Raden Citrasoma. Lantaran menggunakan nama yang sama, yakni Aji Pamasa, orang juga sering rancu atas Serat Witaradya dan Serat Aji Pamasa yang mengajarkan hasta brata.

Sura dira jayaningrat lebur dening pangastuti yang bermakna kedigdayaan dan keangkaramurkaan dapat dihancurkan oleh kesabaran dan kelembutan, disajikan dalam bentuk tembang sebagai berikut:

jagra angkara winangun;
sudira marjayeng westhi;
puwaka kasub kawasa;
sastraning jro wedha muni;
sura dira jayaningrat;
lebur dening pangastuti.

Dalam Serat tersebut, ajaran itu dilukiskan dalam suatu kisah tentang berkobarnya nafsu Raden Citrasoma nan sakti mandraguna, kepada isteri anak buahnya, Tumenggung Suralathi yang bernama Nyi Pamekas, seorang wanita cantik jelita yang berhati suci. Dengan kelembutan dan kesabaran namun teguh dalam menjaga kesuciannya sebagai seorang isteri, Nyi Pamekas berhasil menolak dan menundukkan nafsu jalang Putera Mahkota junjungannya, tanpa mempermalukan dan melukai perasaan sang Pangeran. Bahkan dengan itu Raden Citrasoma berterima kasih karena memperoleh hikmah, yang kemudian dinamakan ajaran sastra jendra hayuningrat lebur dening pangastuti.

Dalam buku Kepemimpinan Jawa, Falsafah dan Aktualisasi yang kami sunting (Penerbit Bina Rena Pariwara, Februari 1998 halaman 18 – 19, pakar kebudayaan Jawa Karkono Kamajaya Partakusumo mengupas nasihat Prabu Aji Pamasa sebelum lengser keprabon atau turun tahta, kepada Raden Citrasoma yang disebut Panca Pratama (lima yang terbaik) yaitu:

Pertama, mulat (awas, hati-hati), agar seksama dalam memberi tugas kepada punggawanya. Yang keahliannya pekerjaan halus, jangan sampai diberi pekerjaan kasar dan demikian pula sebaliknya. Dalam kata lain, serahkanlah segala sesuatu kepada ahlinya. Juga waspadalah terhadap anak buah dengan mengetahui yang baik dan yang buruk.

Kedua, amilala (memelihara, memanjakan), mengganjar dan menaikkan pangkat anak buah yang baik pekerjaannya. Ketiga, amiluta (membujuk, membelai, menyayangi), mendekati punggawa dengan kata-kata yang menyenangkan, membangkitkan kecintaan dan pengabdian kepada raja (negara).

Keempat, miladarma (menghendaki kebijakan), mengajarkan hal-hal yang demi terwujudnya keselamatan dan kesejahteraan rakyat lahir batin. Kelima, parimarma (belas kasih), bersifat pemaaf demi terjaga ketenteraman negara.

Sementara itu kepada Patih Sukarta, Prabu Aji Pamasa mengajarkan Panca Guna (lima faedah), yakni: Pertama, rumeksa atau menjaga negara seisinya bagaikan milik sendiri, terutama apabila terjadi marabahaya. Janganlah menunggu perintah untuk mengamankannya, dan segeralah bertindak demi keselamatan bangsa dan negaranya.

Kedua, menjaga (a) ilat (lidah), dengan berkata sopan dan berperilaku santun, menyenangkan hati orang; (b) ulat (air muka), menjaga air muka atau wajah supaya selalu nampak menyenangkan, menyesuaikan dengan tempat dan keadaan. Karena itu akan mendatangkan kebahagiaan; (c) ulah (tingkah laku), agar membawa diri dan berperilaku mantap (jangan peragu) sehingga memperoleh kasih sayang raja.

Ketiga, rumasuk (meresap), artinya penjagaan kepada negara dilakukan dengan seia-sekata, serta menjaga kekompakan di antara sesame punggawa. Keempat, rumesep (menyenangkan), bakti kepada raja harus mantap dan tidak renggang serambut pun. Demikian pula jangan berhenti mengasuh punggawa yang lebih rendah. Kelima, rumangsa (merasa), tetap merasa sebagai abdi raja dan kerajaan, dan jangan sekali-kali sombong dan tak mau kalah.

Sahabarku, demikianlah ajaran kepemimpinan versi pujangga tersohor Ronggowarsito, sebagai penutup ajaran kepemimpinan yang bersumber dari kearifan Jawa. Insya Allah berikutnya sebagai pelengkap, kita coba bahas KEPEMIMPINAN TAO & KHONG HU CU.

Leave a comment

Filed under Uncategorized

AJARAN KEPEMIMPINAN RAJA-RAJA MATARAM : Seri Etika & Moral Kepemimpinan (20).

Abad ke 19 atau periode tahun 1800an adalah puncak produktivitas dan kemashuran karya-karya sastra Jawa, khususnya yang berasal dari lingkungan keraton-keraton Mataram II yang meliputi Keraton Kasunanan Surakarta, Kadipaten Mangkunegaran, Kadipaten Pakualaman dan Kesultanan Yogyakarta. Dari seorang pujangga saja misalkan Raden Ngabehi Ronggo Warsito, tercatat paling sedikit ada 27 (dua puluh tujuh) serat atau kitab, di antaranya yang paling populer dan sering dikutip orang sampai sekarang adalah Serat Kalatidha yang menguraikan tentang Zaman Edan. Satu lagi karyanya yang menjadi rujukan aliran Islam Kejawen yaitu Serat Wirid Hidayat Jati.

Selain Ronggo Warsito, pada abad ini juga muncul sejumlah pujangga lain yang menghasilkan karya-karya monumental misalkan Serat Nitimani yang ditulis selama lima tahun (1883 – 18888) oleh Aryosugodo, yang kemudian menjadi rujukan utama kitab-kitab lain yang menulis tentang hubungan seks. Di Kesultanan Yogyakarta, Patih atau Perdana Menteri Kanjeng Pangeran Harya (KPH) Cakraningrat, juga menulis kitab induk Primbon Jawa, yang terus menjadi rujukan dari berbagai kitab primbon sampai sekarang.

Tetapi keahlian menuangkan buah pikiran ke dalam karya tulis ternyata bukan hanya pada para pujangga biasa, melainkan juga pada tiga orang raja. Yang pertama adalah Raja Kasunanan Surakarta, Susuhunan Paku Buwono IV (1768 – 1820) yang menulis kitab Wulangreh (Ajaran Tentang Perilaku).

Kedua, Susuhunan Paku Buwono V (1785 – 1823) yang menghasilkan Serat atau Kitab Centhini, yang oleh para ahli kebudayaan dianggap sebagai ensiklopedi Jawa. Centhini ditulis oleh sebuah tim yang langsung dipimpin oleh Adipati Anom, yaitu gelar sebelum naik tahta menjadi Sinuhun Pakubuwono V. Ensiklopedi yang ditulis selama lima tahun (1809 – 1814) itu, dikemas atau sesungguhnya berupa novel percintaan dengan latar belakang suasana kehidupan pada masa kekuasaan Sultan Agung tahun 1613 – 1645. Hampir semua tata nilai dan pernik kehidupan, dituangkan secara indah menawan oleh Centhini, mulai dari tasawuf, kuliner, arsitektur, obat-obatan bahkan perilaku seks binal lagi liar. Baik Paku Buwono IV maupun Paku Buwono V, adalah pemeluk Islam yang taat, sangat dekat dengan para ulama dan oleh masyarakat dianggap sakti.

Raja ketiga yang juga budayawan adalah Kangjeng Gusti Pangeran Adipati Aryo (KGPAA) Mangkunegoro IV (1811 – 1881) yang mengarang Serat Tripama dan Serat Wedhatama. Serat Tripama mengajarkan kesetiaan dan kerelaan berkorban jiwa-raga dari tiga orang kesatria dalam cerita wayang kepada Raja dan Kerajaannya. Mereka adalah (1) Patih Suwondo kepada Prabu Arjuna Sasrabahu, (2) Kumbokarno kepada kerajaan Alengka, dan (3) Adipati Karno kepada Prabu Duryudono ( Cermin Diri Orang Jawa, B.Wiwoho, Bina Rena Pariwara 1998, halaman 30).

Wedhatama atau Ajaran Tentang Keutamaan, berupa syair-syair macapat yang terdiri dari 100 bait (mengenai apa dan bagaimana macapat bisa dibuka di link: https://islamjawa.wordpress.com/2014/10/03/tafsir-kidung-kawedar-sunan-kalijaga-2-orang-jawa-mulai-mempelajari-sejarah-para-nabi-sahabat-dan-keluarganya/). Ia mengajarkan bagaimana kita harus menjalani dan mencapai kehidupan yang utama, dengan budi pekerti luhur dan mengamalkan ajaran agama Islam jangan hanya syariatnya saja, tapi juga harus secara tarekat, hakikat dan makrifat. Jangan hanya raga atau fisik kita saja yang menyembah Gusti Allah, tapi cipta-jiwa dan rasa kita pun harus ikut menyembahNya.

Tentang perilaku utama seorang kesatria, Wedhatama mengajarkan dalam bait 15 dan 16 sebagai berikut :

Nulada laku utama
tumraping wong tanah Jawi
wong agung ing Ngeksiganda
Panembahan Senopati
kapati amarsudi
sudaning hawa lan nafsu
pinesu tapa brata
tanapi ing siyang ratri
amamangun karyenak tyasing sasami

Samangsane pasamuwan
mamangun marta martani
sinambi ing saben mangsa
kala-kalaning ngasepi
lalana teki-teki
nggayuh geyonganing kayun
kayungyun eninging tyas
sanityasa pinrihatin
pungguh panggah cegah dhahar lawang guling

Terjemahan bebasnya adalah, bagi orang-orang Jawa tirulah perilaku utama, Panembahan Senopati pendiri Mataram. Orang yang siang malam senantiasa mengendalikan hawa nafsunya, serta membangun kebahagiaan hati sesama. Dalam berbagai pertemuan, yang diperbincangkan adalah bagaimana menciptakan kebahagiaan secara merata. Beliau juga sering meninggalkan istana pergi ke tempat-tempat yang sunyi sepi, memadukan cipta-rasa dan karsanya, dengan selalu prihatin, mengurangi makan dan tidur. (https://islamjawa.wordpress.com/2011/02/08/nafsu-pangkal-kemaksiatan-dan-kelalaian/).

Sebagaimana halnya Paku Buwono IV dan Pakubuwono V, Mangkunogoro IV dikenal pula sebagai pemeluk Islam yang taat, sakti, menyenangi tasawuf dan sangat menjunjung tinggi kebudayaan Jawa serta mengecam orang-orang Jawa yang kearab-araban, yang meninggalkan budaya bangsanya.

Akan halnya kitab Wulangreh, mengajarkan perilaku dengan falsafah kehidupan yang berlandaskan dalil (Qur’an), kadis (Hadis) dan ijemak atau kesesuaian pendapat dari para ulama, yang dipadukan dan dikemas dengan keaifan-kearifan Jawa. Wulangreh terdiri dari 283 syair macapat yang dikelompokkan dalam 13 bab yaitu:

1.Pelajaran tentang cara memilih guru.
2. Pelajaran tentang cara memilih teman.
3. Pelajaran agar manusia memegang teguh kejujuran serta menjauhi watak adigang, adigung dan adiguna (mentang-mentang kuasa, mentang-mentang pandai dan mentang-mentang banyak jasa lagi berani).
4. Pelajaran tentang tatakrama, budi pekerti serta cara membedakan baik dan buruk.
5. Pelajaran tentang bagaimana menghormati;
5.1. Allah
5.2. Orang tua
5.3. Mertua
5.4. Saudara
5.5. Guru
6. Pelajaran tentang kepemimpinan dan mengabdi pada kerajaan.
7. Pelajaran tentang pengendalian hawa nafsu.
8. Pelajaran tentang budi pekerti luhur dan tercela.
9. Pelajaran tentang menjalin persaudaraan serta surat-menyurat.
10. Pelajaran tentang tawakal, sabar, mengamalkan rasa syukur dan rendah hati.
11. Pelajaran tentang agama Islam dan pengabdian kepada negara.
12. Tentang suri tauladan para leluhur.
13. Nasihat Sang Pujangga.
Mengenai Raja atau Pemimpin, Wulangreh menekankan ajaran moral untuk menjunjung tinggi kebenaran dan keadilan, yang diuraikan pada Bab atau Pupuh V, bait 30 dan 31 sebagai berikut: ”Mapan Ratu tan duwe kadang myang siwi, sanak prasanakan, tanapi garwa kekasih, amung bener agemira. Kukum adil adat waton kang den esthi…… Artinya, memang raja ibarat tak memiliki saudara dan anak, sanak saudara dan isteri terkasih, yang dianutnya hanyalah kebenaran. Hukum keadilan dan adat istiadat yang diopegangnya…..”.

Bagaimana menjalankan ajaran tersebut dalam kehidupan sehari-hari di lingkungan Keraton? Puteri Sinuhun Pakubuwono XII (almarhum PB XII), Gusti Raden Ayu (GRA) Koes Indriyah dalam suatu diskusi yang diselenggarakan Yayasan Bina Pembangunan 13 November 1997, yang kemudian dibukukan dalam ”Kepemimpinan Jawa, Falsafah dan Aktualisasi, B.Wiwoho – Hasan Basri – Januar Jatnika, Bina Rena Pariwara 1998, dirinya beserta saudara-saudaranya yang lain hidup sehari-hari bersama ibu. Raja pada dasarnya tidak mengenal anak dan isteri, yang dimaksudkan agar semua orang di mata Raja adalah sama. Oleh sebab itu dirinya dididik untuk tak boleh terlalu mengenal Bapak (PB XII). ”Setelah lulus SD saya baru menyadari bahwa yang tiap hari saya sembah, harus jongkok, duduk dan tidak boleh melihat itu ternyata Bapak saya. Saya tanyakan pada ibu, mengapa saya tidak boleh dekat dengan Bapak, sementara teman-teman saya yang lain bisa memeluk, mencium dan segala macam. Ibu saya hanya bicara, bahwa nanti jika terlalu dekat, Bapak tidak bisa berlaku bijaksana, baik pada anaknya sendiri maupun pada semua kerabat di sini. Jadi tidak boleh terlalu dekat kepada siapa pun.”

Sebelum ketiga raja budayawan tersebut, KGPAA Mangkunegoro I (1725 – 1796) juga sudah mengajarkan tiga dasar pengabdian para kesatria yang disebut sebagai Tridharma, yaitu : (1) mulat sariro hangroso wani, keberanian untuk selalu mawas diri, (2) rumongso melu handarbeni, membangun rasa ikut memiliki dalam hal ini kerajaan, (3) wajib melu hanggondeli, berkewajiban ikut membela dan mempertahankan kerajaan.

Konsep Tripama dan Tridharma pernah menjadi salah satu acuan dalam penataran-penataran Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila di masa Orde Baru, tetapi karena dalam prakteknya kehidupan berbangsa dan bernegara penuh dengan perilaku KKN (Korupsi Kolusi dan Nepotisme), maka konsep tersebut terutama Tridharma sering jadi bahan olok-olok masyarakat (https://bukusahabatwiwoho.wordpress.com/2015/09/14/cermin-diri-orang-jawa/).

Sahabatku, demikianlah inti dari ajaran kepemimpinan Raja-Raja Mataram II, yang dalam bentuk tembang-tembang macapat masih sering didendangkan oleh orang-orang Jawa yang menyenangi seni tembang Jawa. Apakah makna dan hakikat ajaran dari tembang-tembang tersebut dihayati serta diamalkan atau tidak, tentu terpulang pada diri masing-masing. Dan apakah para elit yang berasal dari suku Jawa terutama Presiden Joko Widodo yang kebetulan berasal dari Surakarta juga menghayati dan mengamalkan, menjunjung tinggi hukum atau aturan dan keadilan, marilah kita sama-sama menjadi saksi sejarah. Berikutnya: AJARAN KEPEMIMPINAN VERSI PUJANGGA RONGGO WARSITO).

Leave a comment

Filed under Uncategorized

KEPEMIMPINAN GAJAH MADA, PARARATON dan KIDUNG SUNDA : Seri Etika & Moral Kepemimpinan.

Orang Indonesia siapakah yang tidak mengenal nama Gajah Mada? Dari semenjak Sekolah Dasar, nama Mahapatih Gajah Mada sudah masuk dalam pelajaran sejarah yang harus dihafal dan dipahami. Di Yogyakarta diabadikan menjadi nama Universitas yang merupakan salah satu universitas unggulan Indonesia. Di Markas Besar Kepolisian Republik Indonesia kejuangannya diabadikan dalam patung (tapi ada yang berpendapat dengan wajah salah seorang tokoh kepolisian), sedangkan di korps Polisi Militer Angkatan Darat, dijadikan lambang kebanggaan. Sementara itu sumpah ”Palapa” yang dicanangkannya, diabadikan menjadi nama satelit yang mempersatukan komunikasi se Nusantara.

Ada pun keberadaan makamnya diklaim oleh lima masyarakat di berbagai daerah, antara lain di Situs Wadu Nocu di Desa Padende, Donggo, Bima, Nusa Tenggara Barat. Menurut keyakinan masyarakat setempat, Wadu Nocu adalah makam Gajah Mada. Keyakinan ini diungkapkan secara turun temurun oleh penjaga makam tersebut. (http://daerah.sindonews.com/read/1041185/29/misteri-lima-makam-gajah-mada-1441483605).

Di Selaparang, Lombok, Provinsi Nusa Tenggara Barat juga terdapat makam yang dipercayai sebagai makam Gajah Mada. Makam tersebut dapat ditempuh perjalanan 2 (dua) jam dari Mataram. Bentuk makam seperti sumur bundar dengan susunan batu sungai berukuran sedang yang tertata rapi tanpa tulisan apa pun.

Masyarakat Tuban, Jawa Timur pun menyakini jika Gajah Mada dimakamkan di daerah mereka tepatnya di Desa Bejagung, Kecamatan Semanding, Kabupaten Tuban. Makam tersebut dikenal dengan nama Makam Barat Ketiga. Barat Ketiga merupakan istilah dari bahasa Jawa yang jika dialihbahasakan berarti angin kemarau.

Di Provinsi Lampung juga ada makam yang diyakini sebagai tempat peristirahatan yang terakhir bagi Patih Gajah Mada. Makam itu terletak di Pugung Tampak, Kabupaten Liwa, Provinsi Lampung. Konon dahulu kala Kapal yang ditumpangi Patih Gajah Mada tenggelam di Perairan Pugung, setelah tiba di Pugung Patih Gajah Mada jatuh sakit hingga akhirnya meninggal dan dimakamkan di Pekon Pugung. Keyakinan itu dikuatkan dengan adanya pusara makam serta peninggalan berupa keris, mahkota, pedang, tombak, ikat pinggang, ikat kepala, dan peninggalan lainnya. Sejak dulu, tempat yang diyakini sebagai lokasi makam Gajah Mada itu hanya berupa gundukan tanah merah.
Baru pada 1981 dibangun pagar keliling. Setelah itu diperbaiki kembali dengan membuat lantai di sekitar lokasi makam pada 2010.

Di Buton, awal tahun 1974 penulis pernah berkunjung dan menjumpai masyarakat yang meyakini sebagai keturunan pasukan Gajah Mada. Mereka memiliki lagu-lagu pujian yang mengagungkan nama Gajah Mada dan Majapahit serta menghormati bendera merah putih yang warnanya dibuat dari kulit tumbuh-tumbuhan. Mereka adalah warga pesisir pantai antara Pelabuhan Sempo Liya dan Pulau Simpora, tepatnya di Kampung Mada, Desa Matiri, Batauga, Kepulauan Wangi-wangi, Buton, Sulawesi Tenggara.
Hal ini dibuktikan dengan adanya batu prasasti yang dinamakan Batu Mada. Konon Gajah Mada yang memiliki banyak kesaktian memilih salah satu gua di wilayah Togo Moori untuk bertapa. Di gua daratan Pulau Karang Wangiwangi yang bersambung ke laut lepas inilah konon Patih Gajah Mada moksa (menghilang dalam arti masuk surga dengan segenap jiwa raganya) saat semadi.

Mahapatih dari abad XIV yang terkenal karena Sumpah Palapanya demi menyatukan Nusantara ini banyak dikenang dan dimuliakan oleh banyak ahli sejarah, kecuali oleh tiga kitab yang tidak jelas pengarangnya dan sangat lemah kesahihannya. Dua kitab diantaranya adalah Kidung Sunda dan Kidung Sundayana (lebih pendek), yang konon ditemukan di Bali pada tahun 1920-an. Kitab yang ketiga adalah Pararaton.

Baik Kidung Sunda dan Sundayana maupun Pararaton mengisahkan perang yang tidak layak antara rombongan dari kerajaan Sunda di daerah Bubat dengan pasukan Majapahit atas perintah Gajah Mada, yang terjadi pada tahun 1357 M. Ketiga kitab tersebut tidak ditulis dalam bahasa Jawa Kuno atau Kawi sebagaimana lazimnya kitab dan prasasti sebelum abad XV, melainkan dalam bahasa Jawa Madya atau Pertengahan yang mulai digunakan pada abad XVI bahkan XVII. Kejanggalan lain dari ketiga kitab tersebut adalah naskah asli tidak diketahui, demikian pula tidak ada nama penulisnya. Khusus untuk Pararaton bahkan konon baru selesai ditulis pada 3 Agustus 1613 M, pada awal masa pemerintahan Sultan Agung yang sangat dibenci Belanda, atau jangan-jangan bahkan baru pada awal abad ke 20. Ini berarti baru ditulis 4 abad atau bisa jadi 7 abad kemudian, dan tanpa dukungan fakta-fakta sejarah.

Sungguh sangat memprihatinkan, selama ini para ahli sejarah hanya menggunakan versi salinan dan bahkan pada umumnya hanya terjemahan, dan percaya begitu saja hanya dengan alasan itu hasil penemuan Belanda. Padahal di masa lalu, sebagai contoh kitab Kakawin Arjunawiwaha yang ditulis jauh sebelumnya, yaitu tahun 1030 M pada masa pemerintahan Raja Airlangga oleh Mpu Kanwa, berbahasa Jawa Kuno. Juga kitab Negarakartagama atau Kakawin Desawarnana yang menceritakan masa pemerintahan Raja Hayam Wuruk (Majapahit), ditulis dalam bahsa Jawa Kuno dengan tahun serta nama pengarang yang jelas yaitu Mpu Prapanca atau Dang Acarya Nadendra pada tahun 1365 M, dan ada naskah aslinya.

Di samping kejanggalan-kejanggalan tersebut, juga masih terdapat lagi sejumlah kejanggalan dan ketidakcocokan terutama dengan Kitab Negarakertagama dan Kutara Manawadharmasastra (Undang-Undang Majapahit) yang sangat rapi, tegas dan keras. Demikian pula jika menilik tiada legenda atau pun cerita rakyat yang mengisahkan perang besar di suatu desa di Jawa Timur tersebut. Jika betul-betul ada bisa dibayangkan betapa dahsyat tragedi pertempuran, mengingat rombongan dari Pasundan disebut datang dengan menggunakan sekitar 2000 kapal. Suatu kisah kecil saja bagi masyarakat Jawa tempo dulu, sudah bisa menjadi legenda atau cerita rakyat yang menandai atau kemudian diabadikan menjadi nama sesuatu tempat. Padahal perang antara pasukan Pajajaran dan Majapahit yang disebutkan dalam Pararaton dan Kidung Sunda tersebut melibatkan ribuan orang.

Sayang sekali baik para ahli sejarah Indonesia dan lebih-lebih Pemerintah, sampai sekarang belum tergerak untuk melakukan penelitian dan kajian yang mendalam terhadap ketiga kitab tersebut, serta membiarkan menjadi bahan olok-olok, penghinaan dan sentimen kesukuan.

Karena itu berdasarkan data-data sementara yang ada, pada hemat penulis ketiga kitab tadi bukan tidak mungkin sengaja dibuat oleh Belanda, pertama demi mengadudomba dan memecah belah orang Jawa dengan orang Sunda. Tujuan kedua khususnya melalui Pararaton, adalah untuk menghina para bangsawan Jawa terutama keluarga kerajaan Mataram termasuk Sultan Agung, dengan menyatakan sebagai keturunan Ken Arok yang rekam jejak sejarahnya jelek, yang kelicikannya melebihi Machiavelli, yang mengakibatkan terjadinya “kutukan Mpu Gandring.” Sementara itu belum ada bukti dan fakta sejarah yang mendukung kebenaran kisah Pararaton (dan juga Kidung Sunda) tersebut.

Tapi biarlah itu menjadi tanggungjawab para ahli dan Pemerintah untuk mencari kebenaran sejarah. Kita kembali pada kebesaran nama Gajah Mada di sisi lain (lepas dari kekurangannya seandainya kelak ketiga kitab di atas memang benar). Sebagai anak bangsa, kita baru sekedar mengabadikan abu atau arang dari sesuatu peristiwa pembakaran, dan belum sampai pada melestarikan nyala api atau semangat juangnya.

Rakawi Prapanca dalam kitab Negarakartagama, merumuskan semangat tersebut ke dalam 15 sifat atau kiat kepemimpinan Gajah Mada yang menghantarkannya menjadi Mahapatih besar (Gajah Mada, Muhammad Yamin, Penerbit Balai Pustaka, cetakan VII – 1972, halaman 90 – 94).

Pertama, Gajah Mada itu wijnya, artinya mampu melihat jauh ke depan dan bijaksana penuh hikmah dalam menghadapi berbagai macam kesukaran, sehingga akhirnya selalu berhasil menciptakan ketenteraman.

Kedua, mantriwira, artinya pembela negara yang berani tiada tara.
Ketiga, wicaksaneng naya, bijaksana penuh perhitungan yang senantiasa terpancar dalam setiap tindakan, baik ketika menghadapi lawan maupun kawan, bangsawan atau pun rakyat jelata.

Keempat, matanggwan, memperoleh kepercayaan karena rasa tanggungjawabnya yang besar sekali dan selalu menjunjung tinggi kepercayaan yang dilimpahkan kepadanya.
Kelima, satya bhakti aprabhu, setia dengan hati yang tulus kepada negara dan Raja. Selama empatpuluh lima tahun ia setia mengabdi. Padahal jika mau, dengan sedikit tenaga saja ia sudah bisa merebut mahkota dan menduduki singgasana. Setia bakti telah mendarah daging dalam hidupnya, sehingga segenap pikiran dan tenaganya ditumpahkan buat mewujudkan Majapahit dan mempersatukan Nusantara, diabdikan kepada tiga raja berturut-turut sejak 1319 sampai ajalnya tiba tahun 1364.

Keenam, wagmi wak, pandai berbicara dan berdiplomasi mempertahankan atau meyakinkan sesuatu.
Ketujuh, sarjjawo pasama, rendah hati, berbudi pekerti luhur, berhati emas, bermuka manis dan penyabar. Sifat ini pada umumnya hanya ditemukan pada ahli politik serta diplomat ulung.

Kedelapan, dhirotsaha, artinya terus-menerus bekerja rajin dan sungguh-sungguh.
Kesembilan, tan lalana, selalu nampak gembira walaupun pedalamannya sedang gundah atau pun terluka.
Kesepuluh, diwyacitta, mau mendengarkan pendapat orang lain dan bermusyawarah.

Kesebelas, tan satrisna, yaitu tidak mempunyai pamrih pribadi untuk menikmati kesenangan yang berisi girang dan birahi.
Keduabelas, sih-samastabhuwana, menyayangi sesamanya yang ada di dunia, sesuai atau dalam konteks falsafah hidup bahwa segala yang ada di dunia ini adalah fana dan bersifat sementara. Karena itu kehidupan dunia harus dijaga demi kehidupan abadi.

Ketigabelas, ginong pratidina, selalu mengerjakan yang baik dan membuang yang buruk. Setiap saat Gajah Mada mawas diri apakah sudah mengutamakan ginong pratidina. Ini sejalan dengan amar ma’ruf nahi munkar di dalam Islam, mengerjakan kebaikan dan menjauhi kemungkaran.

Keempatbelas, sumantri, menjadi pegawai kerajaan (pegawa negeri) yang senonoh dan sempurna kelakuannya. Gajah Mada mengabdi kerajaan selama 45 tahun, 33 tahun di antaranya menjabat pangkat Patih Mangkubumi dan Perdana Menteri. Selama itu pula ia terpuji sebagai pegawai yang berjasa dan selalu berkelakuan baik.

Kelimabelas atau yang terakhir, anayaken musuh, bertindak tegas memusnahkan musuh negara. Ia selalu menjalankan politik kasih sayang kepada siapa pun yang setia kepada negara, namun tak pernah gentar dan ragu dalam mengambil tindakan membasmi musuh-musuh negara (kerajaan), termasuk tak gentar menewaskan lawan. Kebesaran Majapahit ditegakkan atas dasar perdamaian, dan tak takut menumpahkan darah dalam membelanya.

Sahabatku, demikianlah iktibar atau pelajaran yang dapat kita petik dari kepemimpinan Gajah Mada, peletak dasar kebesaran Nusantara II. Sebagai manusia tentu tidak luput dari kekurangan dan kesalahan. Marilah kita pandai-pandai memiliahnya. Semoga. Berikutnya: AJARAN KEPEMIMPINAN RAJA-RAJA MATARAM .

Leave a comment

Filed under Uncategorized

FALSAFAH KEPEMIMPINAN HASTA BRATA : Seri Etika & Moral Kepemimpinan (18).

Tipe ideal kepemimpinan Jawa yang dituangkan ke dalam suluk pewayangan sebagaimana Seri (17), lebih lanjut diajarkan secara terinci dalam falsafah Hasta Brata yang berarti Delapan Sifat atau Laku Kepemimpinan.

Dalam cerita wayang versi Jawa, Hasta Brata telah diajarkan pertama kali dalam kisah atau lakon Rama Tundung, oleh Raden Rama Regawa yang merupakan titisan Dewa Wisnu kepada adiknya Raden Barata sebelum dinobatkan menjadi raja di Ayodya bergelar Prabu Barata. Yang kedua diajarkan pula oleh Raden Rama Regawa kepada Raden Wibisono sebelum dinobatkan menjadi raja di Alengka yang berganti nama menjadi Kerajaan Sindelo bergelar Prabu Wibisono dalam lakon Bedah Alengko.

Yang ketiga diajarkan Parabu Kresna yang juga merupakan titisan Dewa Wisnu kepada Raden Arjuna, dalam lakon Wahyu Makutoromo. Berbeda dengan babon cerita aslinya yang dari India, antara epos Ramayana dan Mahabarata tidak ada hubungannya. Tetapi dalam versi Jawa, kedua epos tersebut dikaitkan satu sama lain oleh lakon Wahyu Makutoromo ini, yang mengisahkan adanya petunjuk dari para dewa mengenai diturunkannya wahyu kerajaan ke dunia berupa mahkota kerajaan yang disebut “Wahyu Makutoromo”. Syahdan, barangsiapa memiliki wahyu tersebut, akan menjadi sakti, dan kelak akan menurunkan raja-raja yang memerintah di marcapada atau di dunia. Di sini muncul dan berinteraksi satu sama lain, sejumlah tokoh dari epos Ramayana yaitu Wibisono dan Hanoman, serta tokoh dari epos Mahabarata antara lain Kresna, Arjuna, Bima dan Karna.

Dikisahkan, Wahyu Makutarama bukanlah berwujud benda, melainkan berupa ajaran mulia yang patut dihayati dan dijadikan pedoman kehidupan oleh manusia, terutama bagi para pemimpin. Ajaran inilah yang disebut Hasta Brata. Ajaran ini selanjutnya diturunkan kepada tokoh Angkawijaya dan Prabu Parikesit. Tokoh yang terakhir ini di dalam cerita wayang versi Jawa merupakan leluhur para ksatria Jawa.

Dalam perkembangannya, gubahan Hasta Brata diajarkan dalam bahasa Jawa Tengahan oleh pujangga Keraton Kasunanan Surakarta, Yasadipura I ((1729-1803 M), kemudian oleh cucunya, yaitu pujangga Ranggawarsita dituangkan kembali dalam Serat Aji Pamasa. Di masa kepemimpinan Presiden Republik Indonesia yang kedua, Presiden Soeharto, Hasta Brata sering dijadikan bahan dalam penataran Pancasila serta dipahatkan dalam relief di dinding lobi gedung utama Sekretariat Negara di Jakarta.

Hasta Brata adalah ajaran mengenai seni kepemimpinan yang didasarkan pada sifat-sifat unsur alam. Nampaknya unsur alam seperti tanah, air, api, kayu, angin, logam dan ruang, telah menjadi pedoman dasar penilaian kehidupan manusia bagi bangsa-bangsa di Asia seperti India, Cina, Jepang, Korea dan Indonesia.

Demikianlah Hasta Brata mengajarkan falsafah sekaligus seni kepemimpinan dengan meneladani ciri serta sifat utama delapan unsur alam. Dalam versi wayang, unsur alam diwakili oleh Dewa yang mengelola alam tersebut, yaitu (1) matahari oleh Dewa Surya, (2) bulan oleh Dewa Candra, (3) bintang oleh Dewa Kartika, (4) angin oleh Dewa Bayu, (5) awan atau mendung oleh Dewa Himando, (6) api oleh Dewa Brama, (7) samudera atau lautan oleh Dewa Baruna, (8) bumi oleh Dewa Pratala.

Kedelapan unsur alam tadi harus dipahamai, dihayati dan dijadikan pegangan manajemen kepemimpinan, yang dijabarkan sebagai berikut:

Pertama, matahari atau Dewa (Betara atau Sang Hyang) Surya. Matahari mempunyai sifat panas dan berfungsi sebagai pemberi sarana kehidupan. Maka seorang pemimpin haruslah berperilaku bagaikan matahari yang dapat memberikan semangat dan kehidupan bagi rakyatnya. Tetapi di lain pihak matahari juga mampu membasmi anasir-anasir ataupun virus-virus jahat dalam kehidupan.

Kedua, bulan atau Dewa Candra. Bulan itu indah dipandang serta mampu menerangi kegelapan malam. Seorang pemimpin harus berperilaku seperti bulan, memberikan penerangan dan membimbing rakyatnya yang berada dalam kegelapan, dan bukan sebaliknya membingungkan apalagi menyesatkan.

Ketiga, bintang atau Dewa Kartika. Bintang memiliki bentuk yang manis serta dapat menjadi pedoman bagi mereka yang kehilangan arah. Dalam hal ini pemimpin harus bisa menjadi pedoman perilaku rakyatnya, menjadi teladan serta panutan masyarakat.

Keempat, angin atau udara atau Betara Bayu. Angin bersifat mengisi ruangan kosong. Angin bertiup ke semua arah sampai ke lubang-lebung sekecil apapun. Seorang pemimpin harus dapat bertindak secara teliti dan bijaksana, disamping harus juga bisa menyelami kehidupan seluruh masyarakat.

Kelima, awan, mendung atau Sang Hyang Himando. Mendung tampak menakutkan dan angker, akan tetapi bila telah turun menjadi hujan dapat bermanfaat bagi masyarakat, dapat menyuburkan tanah-tanah yang gersang. Maka seorang pemimpin harus berwibawa sehingga tidak mudah dipermainkan orang, namun juga sekaligus memberikan pengayoman, kesejukan dan kemanfaatan. Kewibawaan pemimpin harus ditunjukkan baik secara fisik, non fisik maupun dalam bentuk pemikiran, tindakan, perilaku dan kebijakan. Dalam hal penampilan fisik misalkan, sedari kecil seorang ksatria sudah dilatih untuk tidak sembarangan bersiul apalagi di depan umum, dilarang mengeluh kepanasan di kala panas dan kedinginan di kala cuaca dingin, dilarang tertawa keras, dilarang minum minuman yang memabokkan agar senantiasa memiliki kesadaran diri secara penuh, tidak mudah kagum dan tidak mudah terkejut.

Keenam, api atau Betara Brama (Bromo). Api mempunyai sifat teguh serta dapat membakar apa saja. Seorang pemimpin harus dapat bertindak adil, memiliki prinsip, dispilin, tegas dalam bertindak tanpa pandang bulu. Api bisa memasak atau mematangkan hidangan bagi kesejahteraan rakyatnya, tapi sanggup juga membakar sampah kehidupan yang mengancam masyarakat, bangsa dan negaranya.

Ketujuh, samudera atau lautan atau Dewa Baruna. Samudera bersifat luas dan mampu menampung segala jenis materi. Seorang pemimpin harus memiliki wawasan yang luas bagaikan samudara raya nan tanpa batas, serta sanggup menerima segala macam persoalan, sanggup menerima saran, kritik bahkan kecaman dan pandai mengendalikan diri. Namun demikian jika diperlukan samudera bisa pula menggulung, menelan serta menenggelamkan segala bentuk ancaman terhadap ketenteraman, keadilan dan kesejahteraan masyarakat, bangsa dan negaranya.

Kedelapan, bumi atau Hyang Pratala. Bumi memiliki sifat suci, kokoh sentosa serta menjadi pijakan kehidupan. Meski terus digali dan dikuras isinya, bumi senantiasa rela, tanpa menuntut balik. Bumi senantiasa mengabdi kepada makhluk hidup khususnya manusia. Dalam hal ini seorang pemimpin harus mempunyai sifat jujur, berbudi luhur serta ikhlas dalam mengabdi kepada masyarakat, bangsa dan negaranya. Bumi juga bisa mengguncang, meruntuhkan apa pun bahkan menelan dan menyimpan bangkai beracun. Maka seorang pemimpin harus bisa memberikan hadiah bagi siapa saja baik punggawa negeri maupun rakyat jelata yang telah berjasa kepada negara. Sebaliknya juga seperti matahari, angin, api dan samudera, bumi berani pula menghukum dan menggulung segala ancaman dan pengganggu kehidupan masyarakat, bangsa dan negaranya.

Sahabatku, itulah sekilas mengenai falsafah kepemimpinan Hasta Brata. Semoga kita memiliki para pemimpin yang menghayati falsafah kepemimpinan tersebut. Insya Allah berikutnya : Kepemimpinan Gajah Mada, Pararaton dan Kidung Sunda.

Leave a comment

Filed under Uncategorized

TIPE PEMIMPIN IDEAL DALAM WAYANG: Seri Etika & Moral Kepemimpinan (17).

Gambaran ideal perihal sifat dan nilai-nilai kepemimpinan, terutama pucuk kepemimpinan seperti Raja di zaman dahulu dan Presiden di masa sekarang, sudah bersemai di masyarakat Jawa semenjak berabad-abad silam. Gambaran itu diperoleh dari cerita-cerita wayang Ramayana dan Mahabarata dari India, yang diperkirakan mulai masuk dan digubah menjadi versi Jawa Kuno dalam bentuk tembang pada abad ke 9 M.

Kakawin Ramayana adalah kakawin (syair) berisi cerita Ramayana. Ditulis dalam bentuk tembang berbahasa Jawa Kuno, diduga dibuat di jaman Mataram Hindu pada masa pemerinthan Dyah Balitung sekitar tahun 820-832 Saka atau sekitar tahun 870 M. kakawin ini disebut-sebut sebagai adikakawin karena dianggap yang pertama, terpanjang, dan terindah gaya bahasanya dari periode Hindu-Jawa.

Sebagai relief, Ramayana dipahatkan di Candi Prambanan (abad 9) dan Candi Panataran (abad 14). Sedangkan Mahabarata dipahatkan sebagai relief pemandian Jalatunda abad 10. Sebagai kakawin, Bharatayuda digubah oleh Empu Sedah dan Empu Panuluh pada jaman pemerintahan raja Jayabaya di kerajaan Panjalu (Kediri) tahun 1157. Dalam perkembangannya, kedua kakawin tersebut digubah kembali oleh beberapa pujangga ke dalam bahasa Jawa Pertengahan (Madya) dan Jawa Baru.

Yang sangat menarik, kedua kakawin tadi berkembang di masyarakat dalam bentuk pertunjukkan wayang, mulai dari wayang beber yang seluruh kisahnya dilukiskan dalam satu atau beberapa lembar kain sebagaimana masih bisa kita jumpai di Bali sekarang, sampai ke bentuk wayang kulit, wayang golek dan seni pertunjukkan opera wayang orang seperti yang kita kenal dewasa ini.

Dalam seni pertunjukkan wayang, Sang Dalang mengawali dan bahkan memulai setiap babak baru dengan menembang, guna menggambarkan keadaan dalam babak yang akan dikisahkan. Oleh penyebar agama Islam, Walisongo, di abad ke 15 dan 16, kisah pewayangan diisi dengan ruh Islam, diperkenalkan cerita-cerita yang baru sama sekali, sedangkan tembang di awal babak juga diberi nama baru yaitu tembang suluk, yang berarti jalan atau cara menuju Gusti Allah, Tuhan Yang Maha Esa lagi Maha Kuasa (SULUK, TEMBANG DAKWAH WALISONGO: https://islamjawa.wordpress.com/2013/03/28/suluk-tembang-dakwah-walisongo-1-dari-suluk-tasawuf-ke-suluk-wayang/).

Salah satu suluk yang sangat terkenal di kalangan masyarakat penggemar wayang semenjak dahulu kala sampai sekarang, mengungkapkan gambaran ideal seorang pemimpin atau raja yang diharapkan oleh rakyat, sekaligus di lain pihak juga sebagai ajaran bagi para pemimpin, yaitu sebagai berikut:
Dèning utamaning nata ,
bêrbudi bawa laksana ,
liré bêrbudi mangkana ,
lila lêgawa ing driya ,
agung dènnya paring dêdana ,
anggêganjar sabên dina ,
liré kang bawa laksana ,
anêtêpi pangandika.

Terjemahan bebasnya:

Ada pun nilai-nilai keutamaan seorang raja ,
yaitu berbudi luhur, berwibawa dalam tindakan ,
contohnya berbudi luhur adalah ,
selalu ikhlas berbesar hati ,
banyak memberikan bantuan (dan sumbangan)
memberi anugerah (kesejahteraan) setiap hari ,
contoh berwibawa dalam tindakan ,
teguh melaksanakan apa yang telah diucapkan.

Selain menuangkan gambaran ideal seorang pemimpin, wali penyebar agama Islam yakni Sunan Kalijaga, pada abad ke XV juga menciptakan lakon atau cerita wayang khas Jawa dengan nafas Islami yaitu “Jamus Kalimasadha atau Pusaka Kalimat Syahadat” Lakon ini mengisahkan tentang pusaka yang paling hebat, paling sakti, ampuh tiada tara yang tiada lain adalah dua kalimat syahadat.

Jamus Kalimasadha dimiliki oleh Raja Kerajaan Amarta, Prabu Puntadewa, yang oleh Sunan Kalijaga dilukiskan dengan ciri khas tidak memakai mahkota serta perlengkapan pakaian kebesaran lainnya yang lazim dikenakan oleh seorang raja. Ia hidup dan berpenampilan sederhana sebagaimana seorang ksatria biasa dengan rambut digelung di atas kepalanya. Muka dan kepalanya pun dilukiskan menunduk sebagai cerminan kerendahaan hati. Kecuali pernah melakukan kesalahan dengan berjudi mempertaruhkan kerajaannya sampai kalah dan terusir terlunta-lunta, kehidupan selebihnya suci bersih. Demikian pula hatinya, selalu ikhlas, jujur dan tidak pernah berbohong sehingga karena itu darahnya diceritakan berwarna putih.

Puntadewa adalah contoh pemimpin yang sudah dan harus mencapai maqam seorang hamba Allah yang hidup sederhana, amanah, jujur, rendah hati, tawadhu, tidak ujub – riya, ikhlas, taat dan tawakal. Tidak sombong, tidak suka pamer dan tidak suka dipuji. Hidup dan tampil amat sederhana, bagaikan rakyat jelata, sangat jujur, hati tulus, tidak culas dan tidak suka mengadu domba dan adil bijaksana. Semua kelebihannya itu dipersembahkan demi mengabdi bagi semata-mata kesejahteraan rakyat.

Pemimpin yang seperti itulah yang oleh Sunan Kalijaga, digambarkan sebagai pemimpin yang selalu diridhoi, diberkahi dan dirahmati Gusti Allah. Pemimpin yang seperti inilah yang dapat melindungi, menyejahterakan dan memakmurkan rakyatnya. Pemimpin yang bisa membuat negeri dan rakyatnya disegani serta dihormati oleh para raja dan rakyat negeri-negeri tetangga. (Pusaka Tauhid Dalam Wayang dan Tipe Pemimpin Ideal
https://islamjawa.wordpress.com/2011/03/17/pusaka-tauhid-dalam-cerita-wayang-tipe-ideal-pemimpin/ dan Lagu Gundul-Gundul Pacul, Jenaka Tapi Penuh Makna: https://islamjawa.wordpress.com/2013/04/11/suluk-tembang-dakwah-walisongo-3-lagu-gundul-gundul-pacul-bukti-kejenakaan-ulama/ ).

Tokoh wayang Prabu Puntadewa yang islami serta suluk yang menuangkan gambaran ideal seorang pemimpin seperti di atas, di masa lalu dihafal (dan menjadi harapan) oleh hampir semua orang Jawa, dari kaum bangsawan sampai rakyat jelata di pelosok desa, karena wayang telah menjadi cerita rakyat. Apakah para pemimpin sekarang adalah tipe satria pinandita yang hidup sederhana, berbudi luhur, berwibawa, ikhlas dan tidak suka pamer, besar hati, sungguh-sungguh bekerja demi kesejahteraan rakyat, teguh pendirian dan satunya kata dengan perbuatan? Melaksanakan apa yang telah diucapkan? Semoga. BERIKUTNYA: FALSAFAH KEPEMIMPINAN HASTA BRATA.

Leave a comment

Filed under Uncategorized

FALSAFAH KEPEMIMPINAN JAWA : Seri Etika & Moral Kepemimpinan(16).

Mayoritas bangsa Indonesia adalah suku Jawa. Bahkan sebagian besar penduduk Indonesia tinggal di Pulau Jawa. Pemuda-pemudi dari luar Jawa banyak yang datang ke pula Jawa semenjak sebelum kemerdekaan, sebagian untuk mengadu nasib mencari pekerjaan dan sebagian lagi menuntut ilmu di sekolah-sekolah menengah, pesantren dan perguruan tinggi.

Tidak jarang di antara mereka yang kemudian menikah dengan pria atau wanita Jawa. Karena itu tidak mengherankan bila selanjutnya terjadi peleburan budaya antar suku. Namun lantaran mayoritas tinggal di pulau Jawa, tak pelak lagi apabila budaya dan falsafah Jawa cukup besar pengaruhnya dalam kehidupan bermasyarakat dan dalam gaya kepemimpinan.

Falsafah kepemimpinan Jawa semakin merasuk tatkala banyak dijadikan bahan penataran Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila di masa Orde Baru. Sayang sekali, pemilihannya kurang tepat karena terlalu menitikberatkan dari sumber Kadipaten Puro Mangkunegaran di Surakarta dan falsafah Hasta Brata.

Gaya Jawa yang sering dikemas sebagai falsafah kepemimpinan dan satria Jawa, tentulah tidak sebatas rentang serat atau naskah Tridarma karya Mangkunegoro I, Tripama karya Mangkunegoro IV dan Hasta Brata saja.
Konsep Hasta Brata atau Delapan Sifat Kepemimpinan, sesungguhnya merupakan konsep yang sangat baik dan sudah memasyarakat melalui kisah-kisah pewayangan.

Tetapi konsep Tridarma dan Tripama pada hemat saya meskipun bagus, merupakan falsafah perjuangan yang bersifat situasional, serta lebih sebagai tuntutan pengabadian anak buah (kawulo atau prajurit) kepada pemimpinnya atau Raja dan negaranya, dan bukan tuntunan bagaimana seharusnya seorang pemimpin melayani dan mengabdi kepada anak buah atau rakyatnya (Cermin Diri Orang Jawa, B.Wiwoho, Bina Rena Pariwara, April 1998).

Gaya kepemimpinan Jawa dapat dibagi dalam tiga aliran. Pertama, aliran keraton atau kesatria Jawa. Kedua, aliran pesisiran yang bersifat lebih terbuka, lebih demokratis dan dinamis. Ketiga, aliran pesantren yang Islami. Ketiga aliran pada dasarnya memiliki benang merah yang sama yakni kearifan Jawa serta nilai-nilai etika dan moral yang universal.

Dari ketiga aliran tersebut, aliran pesisiran atau kawasan pantai utara Jawa, belum dijumpai memiliki konsep tertulis yang bernilai sejarah. Sedangkan aliran pesantren lebih banyak berpegang pada karya-karya Al Ghazali antara lain Ihya Ulumuddin dan Nasihat Bagi Penguasa (al-Tibbr Al-Masbuk fi Nasihat Al Muluk), yang berpadu dengan kearifan-kearifan Jawa.

Sementara itu aliran keraton memiliki tapak sejarah yang panjang. Sejarah mencatat kisah keutamaan Ratu Shima dari Kalingga yang tega memotong kaki puteranya karena merusak sejumlah barang dan harta pusaka yang sengaja diletakkan di jalanan guna menguji kejujuran serta ketertiban masyarakat. Bandingkan persamaannya dengan hadis Kanjeng Nabi Muhammad Saw, yang sangat terkenal yang menyatakan, “Seandainya Fatimah binti Muhammad mencuri, niscaya aku potong tangannya.”

Berbagai prasasti dan naskah kuno Jawa banyak menceritakan nilai-nilai kepemimpinan dan keutamaam, misalkan Prasasti Mantuasih, Wan Wantengah, naskah karya Mpu Tantular, Raja Kapa-Kapa dan Negarakertagama di zaman Majapahit serta Hasta Brata yang menjadi suri tauladan dalam kisah-kisah pewayangan. Demikian pula naskah-naskah Keraton Kasunan Surakarta antara lain Serat Witaradya karangan Raden Ngabehi Ronggowarsito, Serat Wulangreh karya Pakubuwono IV, Serat Centini karya Paku Buwono V. Juga naskah-naskah dari Puro Mangkunegaran seperti Tripama, Tridarma dan Serat Wedhatama karya Mangkunegoro IV.

Sifat-sifat kepemimpinan seorang raja digambarkan oleh Raja Majapahit – Hayam Wuruk melalui Raja Kapa-Kapa, yaitu sebagai berikut:
“Orang yang diharapkan petunjuknya yang pantas dilaksanakan. Maka ia dipuji dihargai karena perintahnya benar dan memenuhi maksud agar selamat sejahtera. Peraturannya bermanfaat merata, bukan sesuka hatinya dan tidak mengenal pilih kasih, senantiasa menetapkan benar atau salah, artinya menghukum. Meskipun ia hanya menganggur tak menyentuh cangkul, ia dijunjung tinggi, karena ia dapat dimohon sabdanya. Maka ia disebut narendra atau narpati. Artinya ia paling luhur, dihargai setinggi-tingginya oleh para punggawa, dimohon doa restunya agar tetap menjadi tempat bertanya dan wajib memberi petunjuk. Artinya rakyat seluruhnya besar kecil, laki perempuan diakuinya sebagai anak cucu dan kulit daging tunggal ayah ibu….” (Karkono K.Partakusumo, Kepemimpinan Jawa, Falsafah dan Aktualisasi, PT.Bina Rena Pariwara, Februari 1998, halaman 5 – 8).

Sahabatku, dari sifat kepemimpinan yang digambarkan dalam Raja Kapa-Kapa, ditambah lagi sistem hukum yang baik sebagaimana dituangkan dalam kitab Perundang-Undangan Majapahit atau Kutara-Manawadharmasastra (Prof.Dr.Slamet Muljana, penerbit Bhratara, 1967), tak pelak lagi telah menghantarkan Majapahit menjadi kerajaan besar yang menguasai bukan saja Nusantara, tapi juga beberapa negara yang kini kita kenal sebagai negara tetangga.

Bagaimana halnya dengan sifat-sifat kepemimpinan para elit Indonesia sekarang? Semoga mereka dianugerahi kesadaran dan gairah untuk meneladaninya. Aamiin. Berikutnya: TIPE PEMIMPIN IDEAL DALAM WAYANG.

Leave a comment

Filed under Uncategorized