HIKMAH PETRUK (JOKOWI) JADI RATU

Banyak orang yang mengibaratkan Presiden Jokowi, yang memang juga berpostur sama, bagaikan Petruk Jadi Ratu (PRT). Kisah atau lakon PRT adalah carangan atau ranting cerita khas Jawa, yang dikarang oleh Sunan Kalijaga sebagai sarana dakwah. Lantaran hanya carangan, maka lakon itu tidak dijumpai dalam pakem atau babon induk cerita Mahabarata.
Petruk yang kurus tinggi, kampungan-ndeso katruk, adalah seorang rakyat biasa, bahkan jongos atau abdi dalem dari para ksatria Pandawa. Pandawa adalah para ksatria istimewa yang dipimpin oleh seorang raja yang tidak mau mengenakan mahkota serta berbagai atribut kebesaran seorang raja.

Sang Raja yakni Puntadewa, dilukiskan oleh Sunan Kalijaga dalam wayang kulit, sebagai raja yang rambutnya digelung sederhana tanpa mahkota. Mukanya senantiasa menunduk. Perilakunya lemah lembut bagaikan orang yang tiada daya, sehingga terkesan tidak mampu berperang, tidak bisa berkelahi. Ia tidak pernah marah, hatinya suci bersih sehingga digambarkan darahnya tidak berwarna merah melainkan putih. Namun tatkala pasukannya terdesak dan tiada satu pun perwira perangnya yang mampu menandingi Panglima Perang musuh, Puntadewa maju ke medan laga, turun dari kereta perang berjalan kaki menyerbu lawan dengan menenteng busur panah beserta keyakinan mutlak terhadap hikmah kekuatan dua kalimat syahadat. Akibatnya para jin setan peri perayangan yang membantu musuhnya, seketika musnah. Sementara anak panahnya melesat bagaikan kilat menembus Prabu Salya sang lawan sehingga tewas.

Puntadewa dalam versi dakwah Sunan Kalijaga, adalah ciri seorang pemimpin satria pinandita, seorang satria atau umara yang berjiwa pendeta atau ulama. Ia memimpin negeri Amarta dengan pusaka andalan Jamus Kalimasada, yang tiada lain adalah dua kalimat syahadat. Itu berarti ia senantiasa taat kepada Gusti Allah dan Kanjeng Nabi Muhammad, dengan menghayati segala perintah dan ajarannya, termasuk memegang teguh empat bekal utama kepemimpinan Kanjeng Nabi yang diringkas sebagai STAF yaitu (1) Sidiq atau benar, jujur baik dalam pikiran, perkataan maupun perbuatan; (2) Tabligh atau memberikan pencerahan dan pentunjuk; (3) Amanah atau bisa dipercaya dan bertanggungjawab; (4) Fatonah atau cerdas, meskipun beliau buta huruf.

Puntadewa adalah contoh pemimpin ideal yang rendah hati, tawadu, ikhlas, tidak riya dan tidak ujub. Tidak sombong, tidak suka pamer dan tidak suka dipuji. Hidup dan tampil amat sederhana, bagaikan rakyat jelata, sangat jujur dan adil serta mengabdi untuk kesejahteraan rakyat. Semua akhlak mulia itu ditularkan serta menjadi pegangan hidup para ksatria Pandawa lainnya, sehingga negara dan rakyatnya hidup tenteram, makmur sejahtera.

Namun demikian pada suatu masa, ketenteraman, kemakmuran dan kesejahteraan rakyat terguncang hebat. Semua itu lantaran para elite kehilangan pusaka Jamus Kalimasada, artinya ketaatannya kepada Gusti Allah dan Kanjeng Nabi lenyap. Ini berarti semua keseimbangan kehidupan dengan tatanan baiknya porak poranda. Para elite negeri Amarta tidak STAF lagi. Perkataan dan perbuatannya tidak bisa dipegang, suka bohong dan tidak jujur. Perilakunya membingungkan rakyat dan tidak bisa dijadikan panutan, menyesatkan dan tidak bisa lagi memberikan pencerahan. Para punggawa kerajaan, yaitu birokrat sipil, militer dan polisinya tidak bisa dipercaya serta tidak bertanggungjawab. Korupsi merajalela, hak-hak rakyat dilibas. Kezoliman dan ketidakdilan merajalela. Pedang keadilan tajam ke bawah tapi tumpul ke atas. Keadilan hanya bagi para elite dan keluarganya. Mereka juga kehilangann hidayah dan tidak cerdas lagi. Kebijakan dan langkah-langkahnya konyol lagi tumpul, salah melulu bahkan meresahkan rakyat.

Para elite dan punggawa kerajaan, bahkan para pendeta, brahmana dan ulama sudah menurunkan derajatnya sendiri ke kasta para pedagang. Apa saja kewenangan yang diamanahkan pada diri mereka diperdagangkan. Politik uang bersimaharajalela. Semua urusan harus dengan uang tunai. Rasuah, hadiah atau gratifikasi yang dilarang keras oleh Kanjeng Nabi, dihalalkan. Sementara mulutnya rajin bersholawat memuji Kanjeng Nabi, namun kelakuannya bertolak belakang.

Adalah seorang rakyat jelata, bahkan seorang jongos abdi dalem kstaria Pendawa, yang tergugah melancarkan revolusi membongkar habis tatanan kehidupan yang penuh kemungkaran dan kemunafikan tersebut. Dialah Petruk, anak Semar, yang kemudian bersekutu dengan ruh tokoh kstaria pewayangan nan sakti mandraguna lagi lurus, yakni Hanoman dan Wisanggeni. Adapun nama Petruk, berasal dari kata fat-ruk, artinya tinggalkanlah. Fat-ruk kullu man siiwallahi, tinggalkanlah segala apa yang selain Allah.

Dengan bekal Jamus Kalimasada yang tidak dirawat secara baik oleh Pandawa dan kemudian dikuasainya, Petruk menobatkan dirinya sebagai Ratu bergelar Wel Keduwelbeh, merebut terlebih dulu Kerajaan Astina dari para Kurawa yang derajat kemungkarannya jauh lebih tinggi dibanding Pandawa. Selanjutnya menundukkan para ksatria Pandawa, serta menjadikan mereka bagai rakyat jelata yang harus bekerja keras mengolah sumber daya alam, dan membagikan hasilnya kepada rakyat banyak. Tatanan kenegaraan yang anarkis secara sistem, dirombak, para punggawa yang zolim dan tidak mau bertobat dihukum sekeras-kerasnya.

Bagaimana kelakuan dan penampilan sang Petruk sesudah menjadi Ratu itu? Walaupun ia mengenakan berbagai atribut kebesaran seorang ratu, tetap saja penampilan dan kelakuannya tidak berubah. Mahkota yang bertengger di kepalanya nampak kebesaran. Baju rompi atau jasnya kedodoran, bahkan memasangkan kancingnya saja tidak beraturan. Kancing atas dimasukkan ke lobang kancing bawah. Sementara itu kakinya lecet tatkala mengenakan terompah keratuan. Ia merasa lebih nyaman tanpa terompah. Bahkan tidurnya tidak pula di kamar kstaria dengan kasur nan empuk, melainkan di kompleks kandang ternak dengan bau khas kotoran hewannya yang menyengat. Makanannya pun tetap kampungan, sampai-sampai juru masak istana kewalahan mencari jengkol dan pete kesukaannya. Belum lagi para protokol dan petugas keamanan kerajaan, seringkali harus tungganglanggang lantaran Sang Ratu Petruk bertingkah dan berperilaku tidak mengikuti adat kebiasaan dan protokoler keratuan. Pokoknya semua aturan yang mengesankan kejumawaan kaum elite dijungkirbalikan. Sekat-sekat protokoler yang membuat jarak, yang memisahkan kaum elite dengan rakyatnya dibongkar dan dibuang.

Satu hal yang meresahkan Petruk adalah, ternyata ia tidak mampu duduk di singgasana atau kursi kerajaan. Berulangkali ia coba selalu terjungkal jatuh. Sampai kemudian ia memperoleh bisikan gaib, yaitu ia bisa duduk di singgasana asalkan sambil memangku bayi ksatria Abimanyu. Siapakah Abimanyu? Ia adalah anak Arjuna yang sudah digariskan para Dewa akan menurunkan para raja.

Masa keratuan Petruk tidaklah lama. Setelah sumber daya alam yang diolah para ksatria menghasilkan dan dibagi merata secara adil demi kesejahteraan rakyat, setelah kezoliman dan kepongahan para elite kerajaan runtuh, maka Sri Kresna yang waskita memanggil Semar, yaitu dewa sakti yang hidup di dunia untuk mengawal dharma kekesatriaan, turun tangan mengakhiri tugas revolusioner Petruk, anaknya sendiri. Revolusi menurut Kresna, hanya boleh berlangsung singkat, cepat dan tidak boleh berlarut-larut apalagi melebar kemana-mana. Selanjutnya harus cepat ditata kembali mengikuti kaidah dan tata kenegaraan serta tata kelola pemerintahan yang baik, yang menempatkan ketenteraman negeri dan kesejahteraan rakyat sebagai dharma utama para ksatria. Para elita harus mampu hamemayu hayuning bawana atau mewujudkan rahmatan lil alamin, yaitu mewujudkan rahmat bagi semesta alam secara lestari berkelanjutan.

Sahabat-sahabatku, itulah pada hemat saya, hakikat dari lakon Petruk Jadi Ratu, cerita dakwah yang penuh hikmah karangan ulama tasawuf Sunan Kalijaga. Petruk Jadi Ratu adalah simbol dari suatu revolusi spiritual keagamaan yang sarat ilmu hikmah. Sayang sekali kisahnya terlanjur banyak dikemas menjadi cerita konyol, lucu-lucuan yang banal.

Karena itu kalau toh lakon ini mau dianalogikan dengan Presiden Jokowi sebagaimana banyak dijadikan bahan omongan dan ditulis di berbagai media massa terutama media sosial, marilah kita melihatnya dengan prasangka baik, dengan mencoba mengambil hikmah-hikmahnya tadi. Tanpa suratan takdir Allah Yang Maha Kuasa, tak mungkin Jokowi sang pedagang mebel yang ndeso tinggi kurus seperti Petruk, yang jauh dari lingkaran dalam spiral kekuasaan, tiba-tiba dalam tempo singkat bisa menjadi Presiden dari negeri maritim yang besar dengan penduduk sekitar 260 juta jiwa ini. Seperti meteor, dalam sekejab melesat masuk ke pusat terdalam lingkaran spiral kekuasaan.

Satu hikmah lagi yang patut direnungkan adalah adegan Petruk memangku bayi Abimanyu, pewaris keratuan. Adegan ini mengajarkan hakikat adanya kaitan erat antara rakyat yaitu Petruk dan para elite kepemimpinan yaitu Abimanyu. Rakyat bisa hidup tenang jika menghargai dan menghormati pemimpinnya, demikian pula pemimpinnya bisa duduk di singgasana kekuasaan karena dipangku, karena bertumpu pada rakyatnya. Itulah hakikat keterkaitan hubungan rakyat dengan pemimpinnya, yang harus dijaga baik dan tidak boleh dipisahkan.

Apakah Pak Jokowi betul-betul bagaikan Petruk yang hanya memerintah sementara? Waallahualam. Hanya Gusti Allah Sang Pemilik Kerajaan dan Kemuliaan yang tahu. Tugas dan kewajiban kita hanyalah kecuali berprasangka baik tanpa harus meninggalkan kewaspadaan, juga harus berusaha dengan cepat memetik berbagai buah hikmah dari peristiwa ini. Janganlah kita hanya selalu berprasangka buruk dalam kekeruhan batin dan suasana, sehingga tak pernah bisa tercerahkan, tak mampu melihat kehadiran apalagi memetik buah-buah hikmah, sampai datangnya revolusi peradaban yang sesungguhnya dari Gusti Allah, Sang Maha Raja di Raja Lagi Maha Kuasa. Naudzubillah.
Beji 12 Februari 2015.

Leave a comment

Filed under Uncategorized

SEKS DALAM PERADABAN & KEBUDAYAAN JAWA : Urun Rembug Kelirumologi Institut Jaya Suprana

Pusat Studi Kelirumologi dan Jaya Suprana School of Performing Art. akan menyelenggarakan urun rembug tentang

Seks Dalam Peradaban & Kebudayaan Jawa, insya Allah:
Hari, tanggal: Sabtu, 14 Februari 2015
Waktu : mulai jam 15.00 wib
Tempat : Balairung Jaya Suprana Institut, Mall of Indonesia, Kelapa Gading. Jakarta.
Yang berminat bisa menghubungi: 02145868303 atau 02145867870

 poster saresehan seks dalam budaya Jawa

Leave a comment

Filed under Uncategorized

FILOSOFI KEHIDUPAN ORANG JAWA: Kandungan Makna Suluk Kidung Kawedar (2)

Memahami Tujuan Hidup.

Bait 9 Kidung, masih menunjukkan betapa besar fadilah serta hikmah dari Kidung Kawedar atau Kidung Rumekso Ing Wengi. Begitu besar manfaatnya, mulai dari untuk urusan bercocok tanam misalkan padi, sampai dengan hendak berangkat ke medan perang. Semuanya bisa diatasi dengan daya perbawa atau hikmah dan fadilah Kidung yang tiada lain merupakan berkah dari Gusti Allah Yang Maha Kuasa.

Bait 10 adalah bait yang tergolong sulit menafsirkannya, bisa banyak tafsir. Bait ini penuh tamzil, apalagi jika di benak kita sudah memiliki tujuan tersendiri tanpa bisa mengosongkannya. Apabila semata-mata menelaah berdasarkan huruf dan kata-kata, bisa jadi itu menggambarkan pengembaraan Sunan Kalijaga semenjak masih sebagai remaja yang nakal luar biasa di daerah Tuban, Jawa Timur, sampai disadarkan oleh saudaranya yakni Sunan Bonang sehingga kemudian berguru kepadanya, dan selanjutnya beruzlah bertahun-tahun di tengah hutan di pinggir sungai (kali) di daerah Cirebon, Jawa Barat, sehingga diberi sebutan Sang Penjaga Kali atau Kalijaga. Kanjeng Sunan Kali yang nama aslinya Raden Mas Said dan merupakan putera Adipati Tuban, harus banyak berjalan naik-turun gunung dengan segala daya kemampuannya, mencari jati diri dan Tuhannya. Di banyak tempat ia memiliki banyak nama panggilan, sebagaimana kebiasaan rakyat jelata di Jawa memanggil nama seseorang berdasarkan penampakan fisik, perilaku dan atau kelebihannya. Tentu saja itu semua adalah nama yang semu, nama yang samar atau samur, terutama guna menyamarkan dirinya agar tidak dikultuskan masyarakat.

Bait tersebut dimaknai sebagai penggambaran hubungan Gusti Allah dan manusia tatkala masih dalam alam ruh, serta gambaran tentang singgasana dan kediaman Allah di Baitul Makmur, Baitul Muharram dan Baitul Muqaddas.

Kembali pada pokok bahasan yaitu Kidung Kawedar, manusia yang masih berupa ruh dan berada di alam ruh digambarkan kekuatan dan perjalanannya sampai ditiupkan ke rahim ibu. Kidung Kawedar juga bisa disebut Kidung Hartati, yaitu Kidung yang memiliki karsa yang utama. Karsa adalah daya kekuatan jiwa yang mendorong makhluk hidup untuk berkehendak. Ruh ini dianugerahi arta daya, yakni kebijaksanaan dan kekuatan batin termasuk rasa belas kasih.

Setelah turun ke bumi menjadi manusia, Gusti Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, membekali manusia dengan hakikat kediamannya yaitu hakikat Baitul Makmur di kepala dan otak, Baitul Muharram di dada dan kalbu, serta Baitul Muqaddas di dalam kemaluan berupa inti sari benih kehidupan.

Sahabatku, bait 11 mengajarkan kepada manusia untuk memahami diri dan tujuan hidupnya. Siapa yang bisa memahami diri dalam bertindak, bisa tepa slira atau mencoba terlebih dahulu menerapkan pada dirinya sendiri terutama apabila mau berbuat yang kurang baik terhadap orang lain, ibarat orang yang tahu kebijaksanaan dan kekuatan hidup. Orang yang tahu tujuan perjalanan kehidupannya, ke mana dan mengapa Allah menurunkan ke dunia, berarti bagaikan orang kaya yang rumahnya berpagar besi. Di masa lalu, hanya Raja yang mampu memagari istananya dengan besi atau tembok. Rakyat kebanyakan hanya bisa membuat pagar hidup dari tetumbuhan yang hidup subur atau pagar kayu dan bambu yang dipotong-potong ditata rapi. Orang yang tahu tujuan hidupnya, akan dijaga oleh orang sejagad. Pembahasan perihal tujuan hidup ini insya Allah kita lanjutkan di seri berikutnya.

Bait kesebelas ini kembali ditutup dengan fadilah dan hikmah bagi siapa yang melantunkan dan menghafalnya. Jika dibaca tamat dalam semalam maka yang membacanya akan dihindarkan dari perbuatan jelek, baik dirinya sendiri yang tidak akan melakukan perbuatan-perbuatan buruk atapun perbuatan buruk dari orang lain kepadanya.

Di bagian atas sudah kita singgung versi lain yang menyatakan membaca selama sepuluh malam. Masalah angka dan hitungan juga disinggung dalam bait 7 baris kelima “bacalah 25 kali dengan lembut”, serta bait 8 baris ketiga “selama 40 hari saja.” Pada hemat serta pengalaman penafsir, hitungan angka seperti halnya kita sering berzikir, sangat bermanfaat guna melatih indera pendengaran dan batin kita. Tetapi yang lebih penting lagi adalah memahami serta menghayati makna dan hakikat sesuatu bacaan zikir di dalam pikiran dan perbuatan kita. Itu bisa terjadi jika kita sudah bisa melaksanakan zikir kalbu, yaitu kalbu kita senantiasa mengingat Allah, mengikuti denyut jantung serta tarikan nafas kita. Semoga.

Keutamaan Orang Yang Memahami Tujuan Hidup.

Filosofi hakikat dan tujuan hidup, sangat populer dan menjadi panduan kehidupan bagi orang-orang Islam Kejawen. Filosofi ini dinamai “sangkan paraning dumadi”, yang berarti asal mula dan tujuan dijadikannya manusia atau kehidupan manusia. Filosofi ini menggambarkan perjalanan kehidupan manusia sedari masih di dalam alam ruh sampai dengan kehidupan di akhirat kelak.

Ungkapan yang menyatakan manusia hidup ibarat sekedar singgah untuk minum, amat populer bagi orang Jawa. Sama populernya dengan ungkapan, Gusti Allah ora sare atau Gusti Allah tidak tidur. Yang pertama berasal dari sabda Kanjeng Nabi Muhammad, sedangkan yang kedua berasal dari Al Qur’an ayat Kursi. Karena hanya sekedar singgah minum dalam suatu perjalanan seorang musafir, maka waktu untuk singgah adalah pendek. Waktu yang pendek ini harus digunakan sebaik-baiknya, serta diisi dengan kegiatan dan hal-hal yang bermanfaat sebagai bekal demi sukses dan tercapainya maksud dan tujuan perjalanan.

Manusia akan bisa menghayati tujuan serta hakikat kehidupan apabila selalu ingat serta menyatukan segala potensi dirinya, terutama karsa utamanya dengan Sang Maha Pencipta. Manusia yang seperti itu akan selalu dijaga dan disayang Tuhan, sehingga keinginan-keinginannya mudah dikabulkan. Untuk bisa memahami tujuan serta hakikat hidup, tidaklah harus bisa membaca dan menuliskan Kidung Kawedar ini, namun yang paling penting adalah menyimpan di hati nuraninya pemahaman dan makna Kidung, dan selanjutnya, ini justru yang terpenting, mengamalkan dalam kehidupan (bait 12 dan 13).

Bait 13 adalah bait yang banyak menggunakan kata-kata Jawa Kuno dan Jawa Tengahan yang multi tafsir, misalkan muja semedi, sasaji ing segara, dadya ngumbareku, hartati dan sekar jempina. Muja semedi dalam kidung ini tidaklah berarti bersemedi dalam pemahaman Syiwa – Buddha, melainkan mengingat dan berdoa kepada Tuhan. Sedangkan yang dimaksud dengan sasaji ing segara adalah menyiapkan diri sebelum memasuki arena kehidupan yang amat sangat luas yang digambarkan dengan lautan.

Lautan bagi orang Jawa adalah sesuatu yang tanpa batas, yang mampu menelan serta menampung apa saja, mulai dari makhluk-makhluk yang hanya bisa dilihat dengan mikroskop sampai dengan ikan paus dan kapal-kapal raksasa. Begitu pula lautan kehidupan, bisa menampung hawa nafsu yang tak terbatas besarnya, termasuk segala kebaikan dan keburukan.
Demikianlah, meskipun Tuhan itu tidak nampak. Tetapi bila manusia bisa senantiasa ingat dan berdoa kepada-Nya, sadar serta menyiapkan dirinya dengan baik dalam kehidupan yang membentang luas, maka ia bisa menyatu dengan Tuhan, menyatukan hakikat nyanyian kehidupannya ke dalam karsa yang utama. Dalam situasi seperti itu ia bisa disebut bunga pengobatan, yang langsung bisa mengobati segala penyakit kehidupannya, sehingga tidak akan pernah merasa sakit, tidak akan pernah merasa susah dan menderita.

Bait 14 masih melanjutkan keutamaan-keutamaan yang diuraikan di bait 13. Manusia memiliki pasangan setia, yang dalam kidung disebut penjari. Penulis masih belum bisa menemukan makna yang tepat untuk kata penjari. Kata penjari atau panjari akan ditemukan lagi pada bait 16. Ki Wiryapanitra menyebut penjari itu sebagai rahsa atau inti sari ruh.

Rahsa merupakan pasangan setia manusia, yang senantiasa menyertai tatkala hidup maupun mati. Rahsa itu sempurna dan bisa disebut pula sebagai sukma nan indah-mulia, yang luar biasa, yang istimewa, yang muda dan tidak bisa menjadi tua, yang berupa cahaya dari cahaya yang bersemayam di karsa utama manusia.

Rahsa atau sirr juga berarti rahasia. Dalam kitab Wirid Hidayat Jati terbitan Dahara Prize, rahsa diartikan sebagai rahasia. Pada wejangan ketiga halaman 20 – 21 disebutkan, “Sajatine manungsa iku rahsaningsun. Lan Ingsun iki rahsaning manungsa. (Sesungguhnya manusia itu adalah rahasia-Ku. Dan Aku ini rahasia manusia). Ini sesuai bunyi Surat Al Israa ayat 85, “Dan mereka bertanya kepadamu tentang ruh. Katakanlah, ‘ruh itu urusan Rab-ku, dan tidaklah kamu diberi ilmu melainkan hanya sedikit’.

Maasyaa Allaah laa quwwata illaa billaah.

4 Comments

Filed under Uncategorized

METODE DAKWAH WALI SONGO DI JAWA: Kandungan Makna Suluk Kidung Kawedar (1)

Suluk Sebagai Mantera Penolak Bala.
Jumlah penduduk Indonesia awal tahun 2014 mencapai 305 juta, separuh di antaranya atau lebih dari 150 juta tinggal di pulau Jawa. Padahal menurut catatan pemerintah kolonial, pada awal abad XIX penduduk pulau Jawa diperkirakan baru sekitar 5 juta jiwa (Java island, Indonesia, Encyclopædia Britannica, http://id.wikipedia.org/wiki/Jawa). Belum diketemukan catatan sejarah, berapa jumlah penduduk pada abad XV – XVI, tatkala sebagian besar pulau Jawa masih berupa hutan belantara dan semak belukar, namun telah memiliki peninggalan sejarah yang luar biasa, antara lain candi Borobudur dan candi Prambanan.

Pada abad XV – XVI itu, kehidupan masyarakat pulau Jawa sedang mengalami zaman peralihan dari Kerajaan Majapahit ke Kesultanan Demak. Demikian pula dalam hal agama dan kepercayaan. Mereka menganut agama Hindu – Buddha atau Syiwa – Buddha dan percaya bahkan banyak yang memuja ruh-ruh halus. Mereka juga sangat mempercayai hal-hal gaib dan mistis, serta mengkaitkan hampir semua aspek kehidupan dengan hal tersebut.

Dalam suasana kehidupan yang seperti itulah agama Islam diperkenalkan oleh para pendakwah, yang kemudian dikenal sebagai para wali dan diberi sebutan atau nama panggilan Sunan. Dua dari para wali itu adalah Sunan Bonang dan muridnya yaitu Sunan Kalijaga, dikenang masyarakat sampai sekarang karena jago berdakwah dengan menggunakan media kesenian, terutama berupa musik tradisional gamelan berserta tembang-tembang Jawa. Salah satu dari tembang tadi adalah sebuah tembang suluk atau tembang dakwah Islam, yang dikenal dengan tiga nama yaitu Kidung Kawedar atau Kidung Rumekso Ing Wengi atau juga Kidung Sariro Ayu.

Kepada masyarakat yang sangat mempercayai hal-hal gaib dan mistis tadi, Sunan Kalijaga menciptakan Suluk Kidung Kawedar yang didendangkan dengan irama dhandanggula yang bernuansa meditatif-kontemplatif, yang dikemas bagaikan sebuah mantera sakti guna mengatasi segala problem kehidupan masyarakat sehari-hari.

Dengan daya tarik itulah Sunan Kalijaga memulai Suluk Kidung Kawedar sebagaimana 3 (tiga) bait yang dibahas dalam bab ini. Kanjeng Sunan Kali, demikian panggilan kehormatan beliau, langsung menawarkan mantera pelindung kehidupan, yang mampu menjaga siapa yang membaca dan yang mempercayainya dari segala marabahaya, serta bisa membuat hidup menjadi sejahtara.

Bait pertama menggambarkan kehebatan tembang pujian, yang enak didengar namun sekaligus sakti mandera guna, yang menjaga kita di malam hari, yang melindungi kita dari segala macam penyakit dan hal-hal buruk, melindungi dari gangguan jin dan setan, menangkal ilmu hitam dan segala hal buruk yang bisa mencelakai kita, sampai-sampai diibaratkan dapat mengubah api yang panas menjadi air nan sejuk bila menghampiri kita, seperti kisah Kanjeng Nabi Ibrahim ketika dibakar. Demikian pula para pencuri menjauh, tidak ada yang berani mengganggu hak milik kita.

Bait kedua masih menggambarkan kehebatan kidung mantera ini. Hama dan penyakit menyingkir, karena siapa pun makhluk Allah yang melihat kita menjadi iba dan menaruh kasih sayang. Pun segala ilmu kesaktian, tiada yang bisa mencelakai kita, lantaran akan bagai kapuk yang sangat ringan lagi lembut, jatuh ke atas besi yang keras lagi kuat. Semua racun menjadi tawar, semua binatang buas menjadi jinak. Segala jenis tumbuh-tumbuhan, pohon, kayu, tanah sangar atau angker serta sarang-sarang binatang yang dilindungi aura gaib, tiada perlu ditakuti lagi.

Bait ketiga masih diawali dengan pameran kekuatan sang kidung yang luar biasa bak bisa membuat air lautan menjadi asat atau mengering, yang dilanjutkan dengan iming-iming, pesona gambaran kehidupan serba nyaman dan selamat sejahtera. Kepada masyarakat Jawa yang percaya akan adanya para dewa dengan para bidadarinya, Sunan Kalijaga mulai memasukkan daya tarik dan istilah-istilah baru secara lepas-lepas, yakni butir-butir ajaran Islam.

Siapa yang percaya kidung ini, kehidupannya akan dikelilingi oleh para bidadari, akan dijaga oleh para malaikat dan rasul yang bahkan telah menyatu pada diri kita. Nabi Adam akan manjing, merasuk ke dalam batin kita. Nabi Sis berada di otak sedangkan Nabi Musa di tuturkata kita. Malaikat, rasul, Adam, Sis (Syith atau Seth) dan Musa adalah hal-hal baru bagi orang-orang Jawa baik yang animis, mempercayai ruh leluhur, makhluk gaib mau pun yang Syiwa-Buddha. Hal-hal baru itulah yang sesungguhnya menjadi inti kekuatan kidung mantera pujian ini.

Orang Jawa Mulai Mempelajari Sejarah Para Nabi, Sahabat & Keluarganya.

Dalam tafsir sebelumnya telah kita bahas, Sunan Kalijaga mulai memperkenalkan istilah dan nama-nama baru kepada masyarakat, yaitu malaikat, rasul, Adam, Sis dan Musa. Pengenalan istilah, tokoh dan sejarah Islam tersebut dilanjutkan dalam bait keempat dan kelima, dengan sekaligus menjelaskan hikmah dan karomahnya di dalam diri manusia, apabila kita mempercayai dan mampu menghayatinya.

Dalam kedua bait tadi, kata linuwih dipakai untuk mengakhiri baris pertama. Linuwih arti sebenarnya adalah kemampuan lebih atau di atas rata-rata orang pada umumnya, atau bisa juga berarti utama. Namun demikian tidak berarti Nabi Isa (Ngisa) dan Fatimah, puteri Kanjeng Nabi Muhammad lebih utama dibanding tokoh-tokoh yang disebut di bawahnya termasuk Nabi Muhammad saw. sendiri, melainkan sekedar sebagai daya tarik serta untuk memenuhi rumus atau ketentuan dalam membuat puisi Jawa yang berupa tembang macapat itu.

Demikanlah, Sunan Kalijaga menceriterakan tentang sejarah Islam dan para nabi sebagaimana dikisahkan dalam Al Qur’an, serta para sahabat dan keluarga Kanjeng Nabi Muhammad. Nama-nama mereka disebutkan seraya mengikuti pola pikir orang Jawa yang menyenangi cerita wayang, terutama tentang tokoh-tokoh sakti yang manjing, merasuk menyatu dalam jiwa raga seorang tokoh wayang yang lain, sehingga tokoh yang dirasuki menjadi sakti mandraguna.

Para Nabi dengan keutamaan masing-masing mulai dari Nabi Adam, Nabi Ibrahim yang merupakan bapak dari para nabi agama samawi, agama langit dan pencetus monoteisme, sampai ke Nabi Muhammad dan para sahabat serta keluarganya, diperkenalkan melalui suatu tembang Dhandanggula nan indah memukau, kontemplatif meditatif yang disugestikan menjadi mantera sakti.

Bisa dibayangkan, pasti banyak pertanyaan dari masyarakat tentang hal-hal baru tersebut. Jika selama ini mereka hanya mengenal para dewa dan roh gaib sebagai sesembahan mereka, dengan Kidung Kawedar mereka diperkenalkan kepada sesembahan baru, yang tunggal lagi maha kuasa, yang para utusannya saja sudah sakti luar biasa.

Namun demikian, Kanjeng Sunan Kalijaga tidak langsung mengecam dan membuang nilai-nilai agama dan kepercayaan lama masyarakat, terutama yang sudah menjadi kebiasaan hidup sehari-hari. Beliau menyusupkan nilai-nilai baru ke dalam agama, kepercayaan, tatacara dan adat kebiasaan hidup yang sudah ada sebelumnya. Nilai-nilai lama, dibungkus selapis demi selapis, digeser sedikit demi sedikit. Dengan metode dakwah yang seperti itulah maka Nusantara khususnya pulau Jawa diislamkan, sehingga sekarang menjadi negara dengan penganut agama Islam terbesar di dunia.

Memperkenalkan Istilah Insya Allah.

Dalam bait ketiga sampai dengan kelima, Sunan Kalijaga memperkenalkan istilah dan nama-nama tokoh yang bagi orang Jawa betul-betul baru sama sekali. Ada malaikat, rasul, Adam, Syith, Musa, Isa, Yakob, Yusuf, Dawud, Sulaeman, Ibrahim, Idris, Ayub, Nuh, Yunus, Muhammad, Abubakar, Umar, Usman, Ali dan Fatimah.

Memang Kidung Kawedar tidak menjelaskan secara terinci sejarah dari para nabi, sahabat dan keluarga Kanjeng Nabi Muhammad tersebut. Tetapi marilah kita coba menerapkan pada diri kita sendiri, baik dalam posisi sebagai penutur atau pun sebagai pendengar. Selaku pendengar, kita pasti ingin tahu lebih jauh tentang tokoh yang disebut penutur memiliki kemampuan dan karomah luar biasa, sehingga patut menyatu dalam diri kita, yang selanjutnya akan kita jadikan sebagai senjata andalan dalam kehidupan.

Sebaliknya sebagai penutur, kita pun akan berusaha menjelaskan lebih terperinci siapa tokoh-tokoh atau orang-orang yang kita jagokan, dan mengapa patut kita jadikan panutan serta andalan.

Pengetahuan terhadap agama baru dengan para tokoh panutannya tersebut, menjadi benih keyakinan. Meskipun baru atau hanya sebutir, benih itu akan tumbuh sumbur beranak pinak menyebar ke segenap penjuru dunia, ke jagad raya, karena memperoleh berkah dari Dzat Yang Maha Kuasa. Keyakinan itu akan membuahkan keselamatan kepada siapa saja yang membaca, yang menyimak mendengarkan, yang menuliskan dan yang menyimpannya. Bahkan bisa menjadi sumber segala doa, yang bila dibacakan di air dan airnya dipakai mandi oleh seorang perawan tua, maka sang perawan akan segera menemukan jodohnya dan segera menikah. Jika diberikan kepada orang gila maka akan segera sembuh (bait 6).

Dalam bait 6 terdapat kata sesembur, yaitu salah satu cara pengobatan atau pemberian doa restu, yang biasa dilakukan oleh orang yang dituakan atau yang dianggap memiliki kemampuan batin yang tinggi. Setelah berdoa, si orang tua kemudian dengan mulutnya meniup sampai mengeluarkan bunyi desis ke ubun-ubun atau dahi atau bagian-bagian tertentu si sakit atau orang yang didoakan.

Dengan berkah Dzat Yang Maha Kuasa itu pula, keyakinan yang ditanamkan oleh Kidung Kawedar, mampu menolong orang-orang yang sedang berperkara, yang dihukum, ditahan dan yang terbebani hutang (bait 7). Persis seperti Gusti Allah menolong para nabi dan rasul yang menghadapi kesulitan betapa pun beratnya. Api yang dinyalakan oleh punggawa Raja Namrud untuk membakar Nabi Ibrahim, dengan pertolongan Dzat Yang Maha Esa, Yang Maha Gaib, berubah sedingin air; bahtera Nabi Nuh mampu menampung dan menyelamatkan makhluk-makhlukNya demi meneruskan kehidupan di bumi; Nabi Yunus yang ditelan ikan bisa keluar dengan selamat; demikian pula pertolongan Allah Swt kepada para Nabi yang lain termasuk Nabi Muhammad saw. dan para sahabatnya.

Dalam upaya menghayati dan memperoleh hakikat dari Kidung ini, Sunan Kalijaga tidak langsung mengajarkan tatacara peribadatan yang baru, melainkan mengikuti adat kebiasaan masyarakat terlebih dulu (bait 8).

Kembali dalam bait 8 ini, Sunan Kalijaga memperkenalkan dua istilah baru yakni subuh dan insya Allah. Pembahasan secara lebih rinci tentang insya Allah, juga bisa dilihat di buku Pengembaraan Batin Orang Jawa di Lorong Kehidupan halaman 142 – 143. Bagi kita sekarang, 5 – 6 abad kemudian, dua istilah itu bukanlah sesuatu yang baru lagi asing, lantaran sudah menyatu dalam kehidupan kita sehari-hari. Tetapi bagi masyarakat abad ke XV – XVI, tentu menimbulkan pertanyaan dan memancing rasa ingin tahu.

Subhanallaah.

Leave a comment

Filed under Uncategorized

DI ZAMAN EDAN INI, APA YANG HARUS KITA LAKUKAN?

Banyak orang yang berpendapat, sekarang ini kita sedang hidup di zaman edan sebagaimana yang digambarkan oleh ulama pujangga Keraton Surakarta, Ranggawarsita (Ronggowarsito) abad XIX. Zaman di mana tata nilai jungkir balik. Tata nilai buruk merajalela mengalahkan tata nilai yang baik. Mari kita segarkan sebentar ingatan kita tentang zaman edan karya Ranggawarsita yang lahir tahun 1802 M tersebut melalui dua bait tembang puisinya ini:

Amenangi jaman edan, ewuh aya ing pambudi, melu edan nora tahan,  yen tan melu anglakoni,  boya keduman melik, kaliren wekasanipun, dilalah kersaning Allah, begja-begjane kang lali,  luwih begja kang eling lawan waspada.

Terjemahan bebasnya:

“Mengalami zaman edan, betapa susah mengambil sikap, ikut edan tidak tahan, bila tidak ikut (edan), tidak akan kebagian apa-apa, akhirnya kelaparan, tapi atas kehendak Allah, seberuntung apa pun yang lupa (edan), masih lebih beruntung yang ingat dan waspada.”

Ratune ratu utama, patihe patih linuwih, pra nayaka tyas raharja,  panekare becik-becik,  parandene tan dadi,  paliyasing kalabendu,  malah sangkin andadra,  Rrbeda kang angribedi,  beda-beda hardane wong sanagara.

Terjemahan bebasnya:

“ Raja (pemimpin)nya Raja utama, patih (orang kedua)nya patih istimewa, para pejabatnya hidup makmur, punggawanya baik-baik, meskipun demikian pemerintahannya, tidak berdaya menangkal bencana, bahkan semakin menjadi-jadi, malapetaka nan merintangi, karena angkara dan kehendak orang di seluruh negeri berbeda-beda.”

Jauh sebelum Ranggawarsita lahir, wali kasyaf Sunan Kalijaga yang hidup di abad XV – XVI (diperkirakan lahir sekitar tahun 1450M), telah menduga akan datangnya zaman edan tersebut, dengan mengajarkan sebuah tembang yang sekarang sering didendangkan para dalang wayang kulit untuk menggambarkan situasi “goro-goro” atau kekacauan, sebagai berikut:

Ooooooo……. Kali ilang kedunge,  pasar ilang kumandange,  wong wadon ilang wirange wong lanang ilang wibawane, wong jujur tambah kojur , wong clutak tambah galak,  Oooooooo…….

Terjemahan bebasnya:

“ Sungai sudah tidak berlubuk (karena kerusakan alam),  pasar sudah kehilangan gaungnya (karena sistem ekonomi sudah berubah sehingga rakyat hidup susah),  kaum perempuan sudah tidak punya malu (karena rusak moralnya),  para pria hilang kewibawaannya,  orang jujur justru celaka, orang serakah semakin menjadi-jadi (karena budi baik dikalahkan oleh kejahatan, ketidakadilan merajalela, tatanan hukum kacau balau).”

Para sahabat, silahkan anda menilai sendiri secara jujur, apakah keadaan sekarang ini sesuai dengan yang digambarkan baik oleh Sunan Kalijaga maupun Ranggawarsita atau tidak? Jika memang betul demikian keadaannya. Mari kita berusaha mengikuti petuah Kanjeng Sunan tersebut sebagai berikut:

Ooooooo…… Mulo enggal-enggalo topo lelono,  njajah deso milangkori Goleko wisik soko Hyang Widhi/Illahi….

Terjemahan bebasnya:

“ Maka segeralah pergi bertapa dengan cara berkelana ke desa-desa (daerah-daerah), melewati tak terhitung pintu rumah, seraya mencari petunjuk atau hidayah dari Gusti Allah, Tuhan Yang Maha Esa.”

Berdasarkan petuah tadi, di tempo dulu banyak para santri di daerah Pantai Utara Jawa, berdakwah secara lembut, bijak dan bil hikmah dari rumah ke rumah, dari desa ke desa, terutama untuk menyemai serta menumbuhkembangkan akhlakul kharimah, akhlak nan mulia. Dan dengan niat itu pulalah wahai sahabatku, ijankan sahaya mengetuk pintu hati anda, assalaamualaikum wa rahmatullah wabarakatuh, salam sejahtera dan bahagia penuh berkah dan hidayahNYA. Aamiin.

Leave a comment

Filed under Uncategorized

MENGGANTI SESAJI DENGAN SEDEKAH : Tafsir Suluk Kidung Kawedar Sunan Kalijaga (17).

Bait 44 :

Yen angidung poma den memetri,
memuleya sego golong lima,
takir ponthang wewadhae,
ulam-ulamanipun,
ulam tasik rawa lan kali,
ping pat iwak bengawan,
mawa gantal iku,
rong supit winungkusan,
apan dadi nyawungkus arta sadhuwit,
sawungkuse punika.

Artinya :

Bila mengidung hendaklah dipahami,
muliakanlah (dengan bersedekah) lima nasi bulat (dibentuk seperti bola), ditempatkan dalam takir ponthang (seperti box kardus sekarang tapi terbuat dari daun pisang dengan dihias pita dua warna),
lauk pauknya,
ikan laut-rawa dan dari sungai kecil,
yang keempat ikan dari sungai besar (bengawan),
disertai gulungan daun sirih,
dua jepit dibungkus,
setiap bungkus ada uangnya juga,
itulah isi sebungkusnya.

Bait 45 :

Tumpangena neng ponthangnya sami,
dadya limang wungkus ponthang lima,
simung sekar cepakane,
loro saponthangipun,
kembang boreh dupa ywa lali,
memetri ujubira,
donganira mahmut,
poma dipun lakonana,
saben dina nuju kalahiraneki,
agung sawabe ika.

Artinya :

Taruhlah semuanya di dalam (takir) pontang,
lima bungkus dalam lima takir,
dihiasi bunga cempaka,
dua setiap pontangnya,
jangan lupa bedak basah yang harum bunga,
diniatkan untuk kemuliaan,
dengan doa-doa yang baik (terpuji),
seyogyanya lakukan,
pada setiap hari kelahiran,
akan besar pengaruh manfaatnya.

Bait 46 :

Balik lamun ora den lakoni,
kadangira pan padha ngrencana,
temah ura saciptane,
sasedyanira wurung,
lawan luput pangarah neki,
sakarepira wigar,
gagar datan antuk,
saking kurang temenira,
madhep laku iku den awas den eling,
tamat ingkang kidungan.

Artinya :

Sebaliknya bila tidak dilaksanakan,
saudara-saudaramu (para malaikat) yang bertugas menjaga dan mendampingimu,
tak kan bertugas dengan baik,
akibatnya keinginanmu tak terwujud,
tujuanmu lepas,
cabar dan tak tercapai,
lantaran kurang bersungguh-sungguh (dan kurang tekun),
menghayati (agama) itu harus selalu ingat dan waspada,
tamatlah kidung ini.

Masyarakat Jawa abad XV yang memeluk agama Syiwa-Buddha, yang memuja roh-roh gaib dan roh leluhur, lazim memberikan sesaji berupa bunga, kemenyan, buah-buahan dan telor rebus, kadang-kadang juga segelas kopi pahit, demi memuja dan berkomunikasi dengan sesembahan atau roh gaib yang ditakuti. Sesaji tersebut diletakkan di perempatan dekat rumah, di sudut-sudut rumah, di bawah pohon dan batu besar dan lain-lain. Kepada Dewa pengatur rejeki termasuk pertanian, yaitu Dewi Sri dan Dewa Sadono, sesaji ditaruh di sudut-sudut pematang sawah atau ladang. Sesaji-sesaji itu tidak boleh dimakan manusia, dan dibiarkan membusuk atau dimakan binatang.

Adat kepercayaan seperti itu tidak langsung dibuang oleh Walisongo yang gencar menyiarkan agama Islam, melainkan disisipi dengan ruh ajaran keislaman. Istilah sesaji diganti menjadi selamatan, dari asal kata islam itu sendiri, yang memang berarti damai dan selamat sejahtera. Niatnya diubah dari dipersembahkan kepada roh gaib atau dewa sesambahan, menjadi sedekah berupa makanan kepada sesamanya, dalam hal ini tetangga, kerabat, fakir miskin dan anak-anak yatim piatu. Sesaji kepada Dewa Sri-Sadono diganti menjadi sedekah bumi. Sesaji kepada Dewa Laut diganti menjadi sedekah laut.

Pada masa kanak-kanak tahun 1950-an kami sangat menyenangi acara sedekah bumi tersebut. Dalam acara yang diselenggarakan sehabis musim panen raya, para petani atau pemilik sawah, membawa sebagian hasil bumi dan makanan matang berupa nasi dengan lauk pauk serta kue ke balai desa. Semuanya dikumpulkan, dibacakan tahlil dan doa-doa, kemudian dibagi dan dimakan oleh penduduk desa bersama-sama. Sesudah itu dilanjutkan menonton pertunjukkan wayang kulit semalam suntuk, dengan cerita khas Islam Jawa antara lain Jamus Kalimasadha (Kalimat Syahadat), Dewa Ruci dan Petruk Jadi Ratu. Cerita khas ini disebut cerita carangan atau ranting cerita, dan tidak ditemukan dalam babon induk Mahabharata serta Ramayana, karena memang dikarang oleh para wali khusus untuk dakwah agama Islam.

Tentu saja adat kepercayaan memberikan sesaji itu tidak otomatis hilang. Pada masa kanak-kanak, penafsir masih banyak menjumpai sesaji untuk roh gaib dan roh leluhur. Tetapi lambat laun semakin berkurang, dan sekarang bahkan hampir hilang, meskipun belum sama sekali. Perbedaan pokok antara sesaji dan sedekah adalah pada niat dan peruntukannya, yang bisa dilihat dari jenis-jenis benda sesajiannya. Benda atau materi sesajian pada umumnya bukan makanan pokok yang enak dimakan manusia seperti nasi dengan lauk-pauknya.

Untuk beberapa jenis materi sesajian, meskipun tidak bisa dimakan misalkan bunga, para Wali juga tidak langsung membuangnya, namun dijadikan penghias makanan seperti halnya bunga, irisan buah dan dedaunan yang dijadikan sebagai hiasan pada sajian makanan dan minuman di hotel-hotel berbintang dan restoran mewah.

Tidak jarang jenis-jenis materi sedekah dan hiasannya juga diberi makna. Bunga misalnya dimaksudkan sebagai tamzil bahwa kehidupan itu harus harum bagaikan bunga. Bunga setaman melambangkan hidup damai dengan sesamanya bagai aneka tanaman bunga di dalam satu taman. Bunga pitu atau tujuh jenis bunga, demi menanamkan keyakinan kuat akan mendapat pitulungan atau pertolongan dari Gusti Allah. Boreh atau bedak dingin yang dulu lazim digunakan kaum wanita, dimaksudkan sebagai hadiah sekaligus melambangkan agar di dalam kehidupan, kita selalu menampilkan wajah yang sejuk dan menarik. Dauh sirih, sebagai persembahan kehormatan kepada kaum ibu yang ketika itu pada umumnya menginang, yaitu mengulum tembakau beserta pinang-sirih, disamping sebagai tamzil menyatunya segala daya upaya dalam mencapai cita-cita, sebagaimana menyatunya urat-urat daun sirih. Sedangkan nasi golong, yakni nasi yang dibentuk bulat bagai bola, adalah tamzil kebulatan tekad.

Jenis-jenis bahan baku sedekah tersebut juga ditemukan dalam bait 44 – 45. Yang bagi masyarakat zaman sekarang sangat asing adalah takir, yaitu wadah makanan yang terbuat dari daun pisang yang dibentuk seperti kotak segi empat. Di masa lalu sebelum periode Orde Baru, tatkala industri di Indonesia belum berkembang seperti sekarang, berbagai kemasan dibuat secara tradisional dari bahan baku alami. Wadah kemasan untuk menaruh makanan, dibuat dari daun tumbuh-tumbuhan antara lain pisang serta aneka bentuk anyaman bambu. (lihat Jatuh – Bangun Strategi Pembangunan: Pertumbuhan atau Pemerataan, pada buku “34 Wartawan Istana Bicara Tentang Pak Harto” dan blog http://b wiwoho.blogspot.com/2012/09/jatuh-bangun-strategi-pembangunan.html).

Dalam bait 44 – 45 disebutkan jenis lauk-pauk berupa ikan. Ikan adalah tamzil untuk mengajarkan agar orang pandai menyelam bagaikan ikan, dalam hal ini menyelami kehidupan. Di samping itu ikan adalah juga jenis lauk pauk yang sangat mudah diperoleh masyarakat Jawa khususnya di wilayah Pantai Utara. Di kala itu orang yang sehat bisa dengan gampang menjala, menangkap dengan bubu atau memancing ikan di laut, tambak dan hutan bakau. Juga menangkap ikan di sungai kecil, rawa-rawa yang dahulu masih banyak di sekeliling kita serta di sungai-sungai besar yang bermuara di laut Jawa, yang membentang sepanjang pantai pulau Jawa. Dengan demikian anjuran memberikan sedekah pada setiap hari kelahiran tidaklah akan menyulitkan, karena bagi yang mampu bisa membeli dan bagi yang tidak mampu bisa menangkap sendiri.

Bagi orang Jawa, pengetahuan mengenai hari kelahiran sangat penting, terutama weton (berasal dari kata metu yang berarti keluar), yaitu gabungan antara hari yang terdiri dari tujuh mulai Senin sampai Minggu, dengan apa yang disebut pasaran yang terdiri dari lima yaitu Legi, Pahing, Pon Wage dan Kliwon. Sebagai contoh Kanjeng Nabi Muhammad, lahir pada hari Senin dengan pasaran Pon, maka weton Nabi Muhammad saw adalah Senin Pon. Lantaran merupakan gabungan dari tujuh dan lima, weton tersebut berulang setiap selapan dino atau setiap tigapuluh lima hari sekali.

Kebiasaan orang Jawa dahulu kala, untuk melakukan ritual atau peringatan khusus pada wetonannya, pada umumnya dengan memberikan berbagai sesaji kepada dewa sesembahan atau roh-roh gaib. Kebiasaan itulah yang diubah oleh Sunan Kalijaga melalui Kidung Kawedar, dengan mengajarkan memberikan sedekah, dan di kemudian hari diajarkan pula berpuasa sebagaimana dilakukan oleh Baginda Rasul sesuai hadis Muslim berdasarkan riwayat Syu’bah dan Abu Qatadah Al Anshari. Rasulullah saw pernah ditanya tentang puasanya setiap hari Senin, yang beliau jawab: “Itu adalah hari kelahiranku, dan pada hari itu pula Al Qur’an diturunkan kepadaku.” Dari hadis tersebut berkembang kebiasaan puasa sunah Senin – Kamis, yang sampai sekarang masih dilakukan oleh masyarakat Jawa, baik yang Islam maupun bukan.

Perihal sedekah, dalam bait 45 baris keenam dan ketujuh harus diniatkan demi kemuliaan dengan diiringi doa-doa mahmut. Pengunaan kata mahmut yang berasal dari bahasa Arab dan berarti terpuji ini, pada hemat penafsir sengaja dimaksudkan untuk menegaskan pilihan menggunakan doa secara Islami, dan bukan dengan cara yang lain.

Kidung Kawedar terdiri dari 46 (empat puluh enam) bait. Jika bait pertama sampai empat puluh lima berisi keutamaan-keutamaan, pengenalan agama Islam, berbagai tamzil, ajaran dan petunjuk, bait terakhir dan merupakan satu-satunya, mengemukakan risiko bagi siapa yang tidak mau mengikuti ajarannya. Bait 45 mengemukakan kemuliaan bagi yang taat mengikuti ajaran berkat memperoleh pengaruh aura gaib Allah Yang Maha Agung, atau disebut mendapat sawab atau berkah. Sedangkan bait 46 terjadi hal sebaliknya bagi yang kurang tekun apalagi yang tidak mau menjalaninya. Mereka tidak akan dibantu oleh para malaikat penjaga dan pendamping. Karena malaikat hanya mau membantu apabila ada ridho dari Yang Maha Agung. Akibatnya, semua keinginan kita bisa gagal tak terwujud, cita-cita dan tujuan kita lepas, cabar tak tercapai, lantaran kurang bersungguh-sungguh dan kurang tekun dalam menghayati (agama Islam).

Kidung ini diakhiri dengan sebuah petuah agar dalam menghayati ajaran agama (Islam), kita senantiasa awas dan eling. Eling berarti ingat atau zikir, sebagaimana sudah dikemukakan dalam pembahasan bait 30, agar setiap saat selalu mengingat Gusti Allah. Mengingat-Nya dalam setiap tarikan nafas, dalam keadaan apa saja, bahkan selagi di kamar kecil membuang hajat. Dengan senantiasa mengingat-Nya maka kita pun akan menjadi pandai bersyukur, taat dan mematuhi firman-firman-Nya.

Kata ingat juga dikaitkan dengan kata awas atau waspada. Maknanya dalam mengingat serta mentaati Gusti Allah, kita tetap harus terus awas, terus-menerus waspada, lantaran setan yang sudah mendapatkan mandat dari Tuhan untuk menggoda manusia, tidak akan pernah menyerah sedikit pun. Setiap saat setan akan selalu menggoda manusia, mencari celah dan peluang meski hanya sepersekian mili, sepersekian detik bahkan hanya secercah cahaya, buat menggelincirkan iman manusia. Nasihat agar awas dan eling ini sekarang menjadi sebuah ungkapan yang terkenal, yaitu eling lan waspada, ingat dan waspada.

Demikianlah nasihat penutup dari Sunan Kalijaga melalui Suluk Kidung Kawedar. Semoga dengan ajaran dan nasihatnya, kita bisa menjadi kekasih-kekasih Gusti Allah Yang Maha Pengasih, serta dimasukkan ke dalam golongan hamba-hamba-Nya yang senantiasa beriman dan beramal saleh.

Subhanallaah walhamdulillaah, aamiin.

1 Muharram 1436 H (25 Oktober 2014).

2 Comments

Filed under Uncategorized

ILMU MAKDUM SARPIN SEDULUR PAPAT LIMA PANCER : Tafsir Suluk Kidung Kawedar Sunan Kalijaga (16)

Ilmu Makdum Sarpin
Sedulur Papat Lima Pancer

Bait 41 :

Ana kidung akadang premati,
among tuwuh ing kawasanira,
nganakaken saciptane,
kakang kawah punika,
kang rumeksa ing ngawak mami,
anekakaken sedya,
ing kawasanipun,
adhi ari-ari ika,
kang mayungi ing laku kawasaneki,
anekakaken pangarah.

Artinya :

Ada kidung yang berhubungan erat dengan penjagaan diri,
bertugas mengatur kehidupan,
mewujudkan apa yang dikehendaki,
itulah dia Kanda Ketuban (kakang kawah),
yang menjaga diriku,
memenuhi kehendakku,
merupakan kewenangannya,
Adinda Ari-Ari (plasenta),
berwenang menaungi segala perbuatan,
memberikan arahan.

Bait 42 :

Ponang getih ing rina wengi,
ngrewangi Allah kang kuwasa,
andadekaken karsane,
puser kawasanipun,
nguyu-uyu sabawa mami,
nuruti ing panedha,
kawasanireki,
jangkep kadang ingsun papat,
kalimane pancer wus dadi sawiji,
tunggal sawujuding wang.

Artinya :

Adapun darah, siang malam bertugas,
membantu Gusti Allah Yang Maha Kuasa,
mewujudkan keinginan,
sedangkan tentang pusar (tali pusar),
memperhatikan setiap gerak-gerikku,
memenuhi permohonan,
itulah kewenangannya,
lengkap sudah empat saudaraku,
yang kelima yang lurus langsung sudah menjadi satu,
menyatu dalam wujudku.

Bait 43 :

Yeku kadangingsun kang umijil,
saking marga ina (versi lain hina) sareng samya,
sadina awor enggone,
sekawan kadangingsun,
ingkang ora umijil saking,
marga ina (hina) punika,
kumpule lan ingsun,
dadya makdum sarpin sira,
wewayanganing dat samya dadya kanthi,
saparan datan pisah.

Artinya :

Yaitu saudaraku yang keluar,
dari jalan ibu (jalan yang buruk atau kotor) bersama-sama,
sehari tinggal bersama,
keempat saudaraku,
yang tidak keluar,
dari jalan ibu (jalan yang buruk atau kotor) itu ,
berkumpul denganku,
menjadi makdum sarpin (pemimpin yang dihormati),
bayangan dzat yang menyertai,
ke mana pun tiada berpisah.

Bait 41 – 43 ini adalah bait-bait yang cukup fenomenal bagi orang Jawa, terutama yang mengikuti faham Kejawen. Dari sini berkembang kepercayaan akan adanya empat saudara gaib yang selalu menyertai kelahiran setiap manusia. Meskipun zaman sudah berkembang pesat, minat orang untuk mengetahuinya masih terus berlangsung. Perihal sedulur papat lima pancer sesungguhnya sudah pernah penafsir tulis dan dimuat di blog Tasawuf Jawa (https://islamjawa.wordpress.com/2012/05/30/sedulur-papat-lima-pancer/).

Alhamdulillah, sungguh luar biasa, semenjak kami sampaikan ke publik 30 Mei 2012 sampai dengan sekarang, artikel tersebut setiap hari selalu dibaca belasan bahkan sampai puluhan pengunjung.

Bersumber dari kidung tersebut muncul berbagai penafsiran beserta amalan-amalannya. Penulis mencatat selama ini ada lima penafsiran yakni, pertama, penafsiran fisik ragawi persis sebagaimana yang disebut dalam kidung. Artinya, sedulur papat lima pancer yaitu ketuban, ari-ari, darah (yang tumpah atau keluar menyertai kelahiran kita) dan tali pusar, sedangkan yang kelima adalah ruh yang menyatu di diri kita. Keempat saudara yaitu ketuban, ari-ari (plasenta), darah dan tali pusar, setia mendampingi dan menyertai kita semasa bayi, baik tatkala masih di dalam perut maupun sewaktu lahir ke dunia. Meskipun sesudah kita lahir secara fisik keempat saudara itu sudah tidak berguna lagi, sesungguhnya secara spiritual tidaklah demikian. Apalagi secara zat, mereka telah merasuk ke dalam diri kita. Secara spiritual mereka akan menyertai kita dengan kemampuan dan kewenangan seperti diuraikan tembang tadi. Sebagaimana layaknya sebuah hubungan, mereka akan setia membantu apabila kita juga senantiasa peduli terhadapnya.

Penafsiran versi kedua ialah berupa empat macam nafsu yang berada di dalam diri manusia, yaitu (1). Nafsu supiyah, berhubungan dengan masalah kesenangan, yang jika tidak dikendalikan akan menyesatkan jalan hidup kita. (2). Nafsu amarah yang berkaitan dengan emosi. Jika tidak dikendalikan, ia sangat berbahaya karena akan mengarahkan manusia kepada perbuatan dan perilaku yang keji dan rendah. (3). Nafsu aluamah, yaitu nafsu yang sudah mengenal baik dan buruk. (4) Nafsu mutmainah, yaitu nafsu yang telah dikendalikan oleh keimanan, yang membawa sang pemilik menjadi berjiwa tenang, ridho dan tawakal. Sedangkan saudara yang kelima (5) yaitu hati nurani.

Penafsiran versi ketiga adalah empat unsur atau anasir alam yang membentuk jasad manusia, yaitu tanah, air, api dan angin. Sedangkan unsur yang kelima adalah diri dan jiwa manusia itu sendiri.

Penafsiran keempat, yaitu cipta, rasa, karsa, karya dan jati diri manusia. Hal itu disimbolkan dengan tokoh-tokoh dalam cerita wayang. Cipta disimbolkan sebagai tokoh Semar, rasa sebagai tokoh Gareng, karsa sebagai Petruk, karya sebagai Bagong dan jati diri manusia sebagai tokoh ksatria Arjuna.

Penafsiran kelima yaitu 4 (empat) malaikat yang menjaga setiap orang. Malaikat Jibril menjaga keimanan, malaikat Izrail menjaga kita agar senantiasa berbuat baik dan menghindari perbuatan buruk, malaikat Israfil menerangi qalbu dan malaikat Mikail mencukupi kebutuhan hidup kita sehari-hari. Sedangkan yang kelima adalah Sang Guru Sejati yang tiada lain adalah Gusti Allah Yang Maha Kuasa. Penafsiran versi kelima ini merunut ajaran Sunan Kalijaga sendiri sebagaimana diuraikan dalam Kidung Kawedar, khususnya bait ke 28 dan 29. Bait tersebut menuturkan adanya keempat malaikat tadi beserta tugasnya dalam menjaga setiap manusia. Tentang Sang Guru Sejati, juga berkembang dua penafsiran. Yang pertama adalah Gusti Allah yang bersemayam di kalbu kita, sedangkan versi lain berpendapat Sang Guru Sejati adalah sang pembawa pesan dari Allah kepada rahsa sejati manusia. Pembawa pesan itu bisa berupa malaikat, tapi bisa pula ruh suci lainnya.

Dari kelima versi tersebut, versi pertama adalah yang paling berkembang dan diyakini masyarakat sampai sekarang. Sementara itu karena wilayah dakwah Sunan Kalijaga merentang terutama di sepanjang pantai utara Jawa, bahkan tempat uzlahnya selama bertahun-tahun berada di wilayah Cirebon, maka versi pertama juga dipercaya oleh sebagian masyarakat Jawa semenjak dari Banten, Jawa Barat sampai dengan Jawa Timur. Ciri khas dari penganut pemahaman ini adalah keyakinan terhadap amalan ilmu gaib makdum sarpin.

Kata makdum sarpin disebut dalam baris kedelapan bait 43. Sulit mengartikan kedua kata tersebut. Makdum berasal dari bahasa Arab yang berarti tuan atau majikan, tapi juga bisa berarti kosong atau tiada, sebagaimana makna yang sudah kita bahas dalam bait ke 28 (Tafsir seri ke 9: Sang Hyang Guru dan Sang Hyang Hayu), yang juga dapat dijumpai dalam Serat Wirid Hidayat Jati bab 2 perihal Wedharan Wahananing Dzat). Sementara itu kata sarpin belum bisa penulis artikan secara pas, karena belum diketemukan baik dalam bahasa Arab, Sansekerta, Jawa Kuno apalagi Baru sekarang. Boleh jadi itu berasal dari bahasa Arab: (1) syafiq belas kasih atau penyayang. (2) syafir atau terhormat, istimewa dan (3) syafina atau mutiara. Namun dari mempelajari Serat Wirid Hidayat Jati, penafsir menyimpulkan yang dimaksud Jawa dengan makdum sarpin adalah jati diri manusia yang mampu mengenali sangkan paraning dumadi atau asal mula dan tujuan kehidupan.

Berikut ini penafsir sajikan tiga contoh amalan ajian ilmu gaib makdum sarpin, agar kita bisa mengetahui lebih jauh tentang versi pertama tersebut. Contoh kesatu adalah amalan ajian yang biasa dibaca oleh penganutnya apabila sudah merasa dekat dengan ajalnya, untuk mengajak bersama-sama empat saudara (sedulur papat) memohon maaf kepada Gusti Allah, dan kemudian pulang kembali ke hadirat-Nya sesuai kodrat-Nya, secara bersama-sama pula dengan lancar dan enak. “Ingsun angruwat kadangingsun papat kalima pancer kang dumunung ana ing badaningsun dewe. Mar marti Kakang Kawah Adi Ari-ari Getih Puser, sakehing kadangingsun kang ora katon, lan kang ora karawatan, utawa kadangingsun kang metu saka marga hina lan ora metu saka ing marga hina, sarta kadangingsun kang metu bareng sadina kabeh pada sampurna nirmala waluya ing kahanan jati, dening kudratingsun”.

Contoh amalan ajian atau mantra yang kedua di bawah nanti, selain dimaksudkan oleh para penganutnya agar kelak bila sudah saatnya dipanggil kembali oleh Gusti Allah, bisa memperoleh kemudahan menjalani sakaratul maut bersama sedulur papatnya, juga diyakini dapat memanggil sedulur papat dan ruh sejati kita, serta membuat sakti yang mengamalkan dan segala keinginannya mudah dikabulkan oleh Gusti Allah Yang Maha Kuasa. Mantra itu adalah sebagai berikut:

“Bismillahirrahmanirrahim sang guru putih nu herang nu lenggang muga katona sang rupa maya putih. Kun dzat kun aja angalingi ing dzat, suksma atapa sajroning wewayangan, rahsa suksma angemban wewayangan, sira metuwa ingsun arep weruh sejatining urip.”

Selanjutnya mereka membaca:

“Sang reka maya rupa maya asih.
Bur cahya rupa cahya rupa sapalinggihaning cahya bur dzat sang kaleter putih, dzat sa dzat les.
Rupa cahya sang ngindel putih mulya kang langgeng cahya sampurna, iya ingsun sajatining tajallullah kang luwih sampurna, sah dzat sah sifate sadege salinggihe saosike, hu wa iya Allah
Si wellada anake tan ana ndeleng sirik, dhewek hahak langak ya aki kasumaran
Bismillahirrahmanirrahim, bur cahya rupa cahya sapalungguhaning cahya sang pelatuk putih bur dzat lar dzat les hu
Bur tan ana putih dzat sucine lagi ana ing suci, bur putih nu gumeter putih bala putih ider putih les putih
Suksma mulya cahya putih alingana ingsun, ya ingsun reksanen kang abecik, sira angreksa ingsun
Suksma mulya cengeng alingana ingsun, rereksanira den abecik, sira ngreksa ingsun makdum sarpin, alingana ingsun, ingsun rereksanira, den abecik sira angreksa ingsun.

Contoh amalan lain yang para penghayatnya juga menyebut sebagai amalan atau wiridan ilmu makdum sarpin adalah sebagai berikut:

Bismillahirrahmaanirrahiim ….2x
bismillahi laa illaaha illallah anta,
laa illaaha illallah anta,
laa illaaha illallah inni uhro
laa illaaha illallah amana billahi
laa illaaha illallah amanatan min indillahi
laa illaaha illallahu muhammadun rasuulullaah shallallaahu ‘alaihi wa sallam
allahuma ya jibrillu, wa mikaillu, wa isrofillu, wa ijroillu
kollu hairil min sulthoni washrif ‘anna syarrihi
kaf, ha, ya, ‘ain, shod
ha, mim, ‘ain, sin, khof
ya allah ‘ain, sin, khof
ya muhammad ‘ain, sin khof
ya mustafa ‘ain, sin khof
shallallahu ‘alaihi wasallam birrohmatika ya ‘arhamar rohimin

Sahabatku, dengan menuliskan mantra atau pun wiridan tersebut, penafsir tidak bermaksud mengajari pembaca mengamalkan sesuatu ajian ilmu gaib, namun sekedar untuk memberikan wawasan dan pengetahuan.

Demikianlah, selain kelima versi penafsiran di atas, mungkin masih ada lagi penafsiran yang lain. Tapi yang sudah penafsir ketahui baru lima itu tadi. Sementara penafsir sendiri memberikan catatan atas tafsir kelima. Penafsir cenderung memilih tafsir ini tapi malaikatnya bukan Jibril, Izrail, Israfil dan Mikail, melainkan malaikat Hafazhah atau malaikat Penjaga sesuai firman Gusti Allah dalam Al Qur’an Surat Ar-Ra’ad ayat 11 dan Surat Al Infithar ayat 10 – 12, tentang adanya malaikat-malaikat yang menjaga dan memelihara manusia secara bergiliran.

Dalam Tafsir Al Azhar mengenai Surat Ar-Ra’ad ayat 11, Buya Hamka menulis giliran tugas malaikat-malaikat tersebut sesuai hadis adalah pada waktu subuh dan sehabis waktu asar. Dalam suatu riwayat yang lain (namun saya belum menemukan sumber rujukan yang sahih, kecuali dalam kisah-kisah), diceritakan jumlah malaikat Hafazhah yang menjaga dan memelihara kita sebanyak 5 (lima) orang. Dua bertugas di siang hari, dua di malam hari dan yang satu lagi tidak pernah berpisah dengan diri kita.

Mengenai malaikat ini, Kanjeng Nabi Muhammad Saw dalam hadis yang diriwayatkan Imam Ahmad dan Imam Muslim bersabda kepada Abdullah Mas’ud: “Setiap kamu ada Qarin daripada bangsa jin, dan juga Qarin daripada bangsa malaikat. Sahabat bertanya: ‘Engkau juga Ya Rasulullah.’ Sabdanya: ‘Ya aku juga ada, tetapi Allah telah membantuku sehingga Qarin itu dapat kuislamkan dan hanya menyuruh aku dalam hal kebajikan saja”.

Kepedulian yang bagaimana dan apa yang harus kita lakukan agar malaikat “sedulur” kita, menjaga kita dengan sebaik-baiknya? Buya Hamka menjelaskan dengan mengingatkan Surat Az-Zukhruf ayat 36, yaitu “Barangsiapa yang berpaling dari mengingat Allah Yang Maha Pengasih, niscaya Kami sertakan setan sebagai temannya (yang selalu menyertainya).” Maka menurut Buya, selama zikir kita kepada Allah masih kuat dan ibadah masih teguh, pengawalan dari malaikatlah yang bertambah banyak, dan jika kita lalai dari jalan Tuhan, datanglah teman dari iblis, jin dan setan.

Selain itu, pada hemat panafsir, janganlah lupa sewaktu membaca salam di akhir shalat, untuk bermurah hati dengan meniatkan menyedekahkan salam yang pada hakikatnya adalah doa, di samping kepada makhluk-makhluk Allah yang nampak mata, juga kepada yang tak nampak mata termasuk para malaikat penjaga kita.

Demikianlah, beberapa penafsiran terhadap sedulur papat lima pancer. Mana yang paling tepat, yang paling benar? Hanya Gusti Allah Yang Maha Tahu.

Subhaanallaah walhamdulillaah.

2 Comments

Filed under Uncategorized