TANDA-TANDA PEMIMPIN YANG MEMPEROLEH WAHYU: Seri Etika & Moral Kepemimpinan (14).

Kata “wahyu” memiliki makna yang beragam. Yang paling komprehensif dan sempurna dari seluruh makna tersebut adalah perpindahan pengetahuan kepada pikiran orang yang dituju secara cepat dan rahasia sedemikian sehingga tersembunyi dan tidak nampak bagi semua orang.

Kata wahyu, secara etimologi berasal dari bahasa Arab waḥā yang berarti memberi wangsit, mengungkap, atau memberi inspirasi. Dalam pemahaman sehari-hari, kata wahyu adalah kata benda, dengan bentuk kata kerja awha-yuhi, yang berarti pemberitahuan secara tersembunyi dan cepat, terkadang dengan perkataan simbolik, terkadang dalam bentuk suara tanpa susunan, terkadang dengan isyarah anggota badan dan terkadang dengan tulisan.

Di dalam ajaran Islam, wahyu adalah qalam atau pengetahuan dari Allah, yang diturunkan kepada seluruh makhluk-Nya dengan perantara malaikat ataupun secara langsung. Sekalipun dalam al-Quran kata wahyu digunakan untuk selain para nabi, akan tetapi mayoritas kata wahyu tersebut ditujukan bagi para nabi. Sebagai contoh, Allah Swt berfirman dalam surah an-Nisa ayat 163, “Sesungguhnya kami telah memberikan wahyu kepadamu sebagaimana kami telah berikan wahyu kepada Nuh dan nabi-nabi kemudiannya, dan kami telah berikan wahyu pula kepada Ibrahim, Ismail, Ishaq, Ya’qub dan anak-anak cucunya. Isa, Ayyub, Yunus, Harun dan Sulaiman. Dan kami berikan Zabur kepada Daud.”
Demikian pula dalam surah Yusuf ayat 3, “Dan kami menceritakan kepadamu kisah yang paling baik dengan mewahyukan Al Quran kepadamu dan sesungguhnya kamu sebelum (kami mewahyukannya) adalah termasuk orang-orang yang belum mengetahui.”

Begitu pun dalam surah al-An’am ayat 19 disebutkan, “Katakanlah siapakah yang lebih kuat persaksiannya? Katakan, Allah menjadi saksi antara aku dan kamu dan al-Quran ini diwahyukan kepadaku supaya Dia dengan aku memberi peringatan kepadamu dan kepada orang-orang yang sampai Al-Quran kepadanya.”

Berdasarkan itu maka sebagian besar ulama sepakat bahwa wahyu adalah petunjuk dari Gusti Allah yang diturunkan hanya kepada nabi dan rasul. Meskipun demikian Muhammad Abduh mendefinisikan wahyu di dalam Risalah at-Tauhid sebagai pengetahuan yang didapat oleh seseorang dari dalam dirinya dengan disertai keyakinan bahwa pengetahuan itu datang dari Allah melalui perantara ataupun tidak.

Bagi masyarakat Jawa kebanyakan, kata wahyu dimaknai sejalan dengan definisi Muhammad Abduh di atas, yaitu apa-apa yang dianggap sebagai petunjuk dan hadiah dari Gusti Allah, terutama yang menyangkut pangkat dan kedudukan, misalkan wahyu kepemimpinan, wahyu keratuan, wahyu keprabon dan wahyu kepresidenan. Istilah wahyu kepemimpinan itu menjadi populer lantaran menjadi lakon atau judul dalam kisah pewayangan, yaitu ‘Wahyu Makutoromo”, yang mengkisahkan delapan ajaran kepemimpinan (hasta brata).

Begitulah, cerita wayang di Jawa banyak yang sudah berbeda dengan babon induknya di India, yaitu Ramayana dan Mahabarata. Wayang Jawa banyak mengalami akulturisasi dan oleh ulama-ulama yang disebut Walisongo, dimanfaatkan serta diisi dengan ajaran islami. Demikian pula dalam praktek hidup bermasyarakat. Raja atau Sultan atau Sunan, dalam gelar kehormatannya juga diberi tambahan Khalifatullah Ing Tanah Jawi. Ini sesungguhnya mengandung makna bahwa kepemimpinan itu bukan hadiah melainkan amanah untuk mengemban tugas selaku utusan Allah di muka bumi, khususnya di tanah Jawa.

Sayangnya, hakikat amanah tersebut sering dilupakan dan berganti makna sebagai wahyu yang merupakan hadiah dan mandat yang tidak bisa diganggu gugat oleh orang lain, dan ironisnya, karena merasa sudah memperoleh mandat dari yang Maha Kuasa, maka ia boleh berbuat apa saja tanpa perlu merasa takut bisa dijatuhkan. Akhirnya menjadilah mereka pemimpin yang takabur dan lama-kelamaan menjadi tiran.

Padahal amanah kepemimpinan dalam konsep kewahyuan, bisa juga oncat atau pergi meninggalkan yang bersangkutan, yakni apabila yang bersangkutan tidak menjalankan amanah kepemimpinannya. Hal ini dikisahkan dalam cerita “ Petruk Dadi Ratu, atau Petruk Menjadi Raja.” Wahyu Keratuan kstaria Pandawa oncat setelah mereka tidak amanah, dan jatuh ke punakawan, rakyat jelata yaitu Petruk. Tapi lantaran Petruk juga tidak memiliki pengalaman, kemampuan dan wawasan keratuan, maka dengan wahyu itu ia berbuat seenaknya sehingga wahyunya pun oncat lagi, meninggalkan Petruk dan kembali ke para ksatria yang memang memiliki wawasan dan terlatih dalam kepemimpinan serta sudah menyadari kesalahannya (Hikmah Petruk Jadi Ratu: https://islamjawa.wordpress.com/2015/02/12/hikmah-petruk-jokowi-jadi-ratu/).

Dalam belasan tahun belakangan ini setelah Presiden Soeharto lengser keprabon, salah kaprah tentang wahyu tersebut muncul berkelindan dengan salat tahajud. Beberapa kali kita mendengar seorang tokoh masyarakat yang menceritakan doa yang dipanjatkan dan pentunjuk yang diperolehnya dalam salat tahajud, sehingga kemudian yang bersangkutan maju mencalonkan diri menjadi kandidat pemimpin.

Bagi yang mau merenungkan secara seksama, empat seri awal dalam tulisan Seri Etika & Kepemimpinan ini, sesungguhnya sudah dengan gamblang menunjukkan dan membedakan mana kekuasaan yang diperoleh dengan ambisi dan mana yang diperoleh semata-mata karena amanah.

Pada seri (1) digambarkan kisah hikmah Lukman tentang bagaimana kita menyikapi amanah kekuasaan yang tanpa diminta, sementara pada alinea penutup seri (5) mengisyaratkan kekuasan yang diperoleh karena diminta, karena ambisi, yaitu: “Abah Thoyib dari Semengko, Mojokerto berpesan, ‘Jangan kamu berdoa meminta pesona dunia, meminta dijadikan kaya apalagi berambisi pada pangkat, jabatan dan kekuasaan. Sebab mungkin saja Gusti Allah mengabulkan, tapi jika seraya itu juga sekaligus memberimu banyak musuh serta mencabut keberkahan-Nya darimu, lantas apa nikmatnya?’ ”

Jadi jelas, yang karena amanah apalagi wahyu itu datang sendiri tanpa diminta, sedangkan yang karena ambisi diraih dengan segala daya upaya termasuk doa atau memohon kepada Tuhan, ke dukun dan makhluk gaib dari tempat-tempat keramat, rekayasa dan lain-lain. Meskipun demikian, tidak jarang yang ambisius pun mengemas dengan mencitrakan dirinya sebagai memperoleh hidayah bahkan amanah kewahyuan.

Sebetulnya orang-orang arif bijak Jawa juga mengajarkan, bagaimana kita membedakan antara pemimpin yang memperoleh amanah kewahyuan dan yang bukan, dengan menggunakan bisikan nurani atau batin yang dikenal sebagai kesan pertama. Sesungguhnya Gusti Allah telah membekali batin setiap hambaNya dengan ketajaman dalam melihat seseorang berupa kesan pertama tatkala baru pertama kali berjumpa atau melihatnya. Hanya sayang, kita sering tidak peka menangkap bisikan batin kita sendiri, dan kemudian berdalih dengan menyatakan tidak boleh berprasangka buruk. Padahal kesan pertama yang dibisikkan oleh batin kita bukanlah untuk berprasangka buruk kepada seseorang yang baru dikenal, melainkan untuk bersikap hati-hati, cermat, teliti dan waspada.

Demikianlah ketika saya mulai berkiprah sebagai wartawan Istana akhir 1972, orangtua saya mengajarkan hal tersebut seraya menambahkan, bagaimana kita menilai apakah Pemimpin Pemerintahan akan sukses atau tidak. “Pada saat pengumuman Kabinet, perhatikan wajah dan gerak-gerik para anggota kabinet itu, kemudian pejamkan matamu, singkirkan ambisi duniamu dan cobalah bicara dengan qalbumu. Apakah batin dan perasaan kita senang terhadap mereka, ada rasa ingin membantu secara ikhlas dan sukarela ataukah sebaliknya. Bila demikian halnya, maka bisa diyakini mereka akan sukses. Namun bila yang muncul perasaan sebaliknya, maka besar kemungkinan mereka tidak akan sukses.”

Tentu tidak mudah mengukur potensi sukses seseorang atau sesuatu kepemimpinan dengan rasa batin, karena itu sangat subyektif dan tergantung kepekaan batin seseorang, serta kemampuan meredam pesona dunia saat berbicara dengan qalbunya. Tetapi ada dua tolok ukur. Satu tolok ukur diajarkan para leluhur Jawa, dan satu lagi diajarkan langsung oleh Kanjeng Nabi Muhammad Saw. sebagaimana sabdanya, “Apabila Allah berkenan untuk munculnya kebaikan bagi seorang pemimpin, maka Allah akan memberikan baginya para menteri yang jujur, yang jika lupa (atau salah), maka menteri itu akan mengingatkannya, dan bila ia ingat (atau benar) maka mereka akan membantunya. Sebaliknya, apabila Allah berkendak selain itu, maka Allah akan menyediakannya baginya menteri yang jahat, yang bila ia lupa (atau salah), maka mereka tidak mengingatkannya, dan bila ingat (benar) maka mereka tidak membantunya” (HR. Abu Daud).

Tolok ukur yang diajarkan leluhur Jawa yang pada hakikatnya merupakan kearifan Nusantara, mengajarkan seorang pemimpin yang memperoleh amanah dari Gusti Allah tanpa meminta, memiliki tanda-tanda antara lain, (1) orangnya tawadhu, rendah hati dan sederhana bagaikan Prabu Puntadewa (https://islamjawa.wordpress.com/2014/04/22/pemimpin-ideal-versi-sunan-kalijaga/ dan https://islamjawa.wordpress.com/2013/04/11/suluk-tembang-dakwah-walisongo-3-lagu-gundul-gundul-pacul-bukti-kejenakaan-ulama/); (2) dicintai dan dihormati oleh sesamanya, didengar dan diikuti ucapannya; (3) karena ia dipilih oleh Gusti Allah dan bukan berkuasa karena kemauannya sendiri, maka segala urusannya dimudahkan dan dibantu Allah. Gusti Allah juga akan selalu membantu dia memenuhi kebutuhan rakyatnya, memberikan pertolongan dan menaklukkan musuh-musuhnya. Pemimpin yang memperoleh wahyu juga bagaikan menggenggam kunci perbendaharan bumi sehingga bumi tempatnya berpijak, bagaikan gudang pangan dan rejeki yang senantiasa terbuka lebar demi mewujudkan kemakmuran dan kesejahteraan rakyatnya. Maka berlakulah ungkapan sebagai berikut:

Negara panjang apunjung pasir wukir loh jinawi,
gemah ripah, toto tentren karto raharjo,
panjang dawa pocapane,
punjung luhur kawibawane,
tulus kang sarwo tinandur,
gemah ingkang alampah dagang layar

Terjemahan bebasnya:

Negara besar yang ternama yang dianugerahi kekayaan alam di lautan, di gunung dan buminya,masyarakatnya tertata tertib hidup damai-tenteram, adil makmur sejahtera,jadi contoh dan pembicaraan baik sampai jauh ke masa depan,dihormati dan berwibawa,apa saja yang ditanam (dan dikerjakan) tumbuh subur (terwujud),daya beli rakyatnya tinggi (barang dagangan terasa murah),perdagangan dan pelayarannya (lalu lintas dan perhubungan) berkah.

Nah begitulah saudaraku, kiat-kiat untuk membaca tanda-tanda apakah seseorang itu memperoleh amanah atau wahyu kepemimpinan atau bukan. Yang paling mudah adalah dengan mengunakan kedua tolok ukur tadi sekaligus. Hal ini sejalan dengan nasihat Luqman dalam tulisan seri (1), yakni karena Gusti Allah akan membantu dan melindungi orang yang dianugerahi amanah wahyu kepemimpinan, termasuk memudahkan segala urusannya serta memilihkan para pembantu (atau menteri) yang jujur, cakap, setia dan tulus. Bukan para pembantu yang bak burung pemakan bangkai yang selalu siap mematuk dan mengais bangkai-bangkai kesalahan pemimpinnya. Yang senantiasa mengincar bahkan membuat peluang kebijakan bagi kepentingan pribadinya. Silahkan mencoba mempraktekkan. Berikutnya: MACHIAVELLI PUN TIDAK SUKA PEMIMPIN YANG MENCLA-MENCLE.

Leave a comment

Filed under Uncategorized

WAHYU DAN SENI KEPEMIMPINAN : Seri Etika & Moral Kepemimpinan (13).

Seni kepemimpinan telah banyak diajarkan orang dari masa ke masa, mulai dari rangkaian mitologi Yunani yang amat terkenal, Tao dan Sun Tzu dari Cina, Nasihat Bagi Penguasa-nya Al Ghazali, Sang Penguasa-nya Niccolo Machiavelli, serta sejumlah ajaran Jawa seperti Hasta Brata, Raja Kapa-Kapa, Wulangreh dan Wedhatama, sampai ratusan mungkin ribuan buku-buku teks kepemimpinan abad 20 misalkan The Art of The Leader-nya William A.Cohen dan The Charismatic Leader-nya Jay A.Conger dan sebagainya.

Dari berbagai buku dan riwayat hidup para pemimpin besar dunia, kita bisa mempelajari bahwa kemampuan kepemimpinan itu tidak jatuh dari langit, melainkan merupakan suatu proses panjang, tempaan keras dan jatuh bangun dalam kehidupan seseorang sebelum menjadi pemimpin. Bagaikan membuat senjata, sang pemimpin tidaklah diperoleh tiba-tiba langsung jadi dari bongkahan tanah, tetapi dikumpulkan dari sejumlah bijih logam, kemudian dibakar api sampai membara dan ditempa terus menerus, sambil sesekali dimasukkan ke dalam air, sampai terbentuk sebuah senjata andalan.

Dalam kamus kehidupan, mereka kenyang menghadapi ujian-ujian kehidupan, diterpa berbagai badai dahsyat serta gelombang pasang surut, sehingga dari waktu ke waktu kearifan, pengalaman dan kapasitasnya sebagai pemimpin semakin meningkat. Mereka terus menerus mengalami pengayaan hidup, dan bukanlah tipe orang yang selalu hidup senang bermanja-manja. Perjalanan dan pengayaan kemampuan kepemimpinannya bisa diibaratkan lingkaran spiral, yang dimulai dari lingkaran paling luar yang paling besar, yang secara bertahap semakin masuk ke dalam menjadi lingkaran yang semakin mengecil, sampai kemudian menjadi inner circle atau lingkaran terdalam dan pada akhirnya menjadi ujung akhir lingkaran terdalam.

Sejarah dunia dan juga Indonesia mengajarkan, para pemimpin yang tidak mengalami tempaan mengikuti spiral kehidupan yang seperti itu, pada umumnya akan gagal. Mereka akan menjadi pemimpin boneka atau pemimpin yang hanya mengumbar pesona dunia, serakah, tamak, penuh curiga, licik dan kejam. Dalam sejarah Cina misalkan, banyak dijumpai kaisar-kaisar boneka. Sebagai contoh adalah Kaisar Xian atau Liu Xie (181 – 234) yang merupakan Kaisar terakhir dari Dinasti Han yang memerintah dari tahun 189 sampai 220. Contoh lain adalah Kaisar Puyi (1906 – 1967) yaitu Kaisar Cina terakhir yang kisahnya diangkat ke dalam film layar lebar yang amat terkenal yaitu film The Last Emperor. The Last Emperor versi Hongkong diproduksi tahun 1986 oleh sutradara Li Han-hsing, sedangkan versi Hollywood diproduksi tahun 1987 oleh sutradara Bernardo Bertolucci dan memenangkan penghargaan Academy Award.

Di Indonesia, baru-baru ini saya memperoleh kiriman catatan dari sahabat Agus Sunyoto (penulis buku Atlas Walisongo). Catatan itu sebetulnya untuk menunjukkan peristiwa kejatuhan sesuatu rezim yang ditandai dengan amuk atau amok massa, namun semuanya tidak terlepas dari perilaku dan kepemimpinan penguasanya.

Menurut mas Agus Sunyoto, pejabat serakah, rakus, tamak, dalam sejarah kekuasaan di Nusantara selalu jadi pemicu amok massa yang merusak-binasakan segalanya. Tahun 1400 Saka, Majapahit karam dalam lautan darah – yang ditandai sebagai sirna ilang kertaning bhumi. Tahun 1546 Demak karam dalam lautan darah bahkan bekas keratonnya pun hilang. Tahun 1579 Pangeran Banowo sah saking kedhaton Pajang, pergi meninggalkan keraton Pajang, mendirikan pesantren di Parakan. Tahun 1670 Amangkurat l lari ke Tegal dan wafat di sana setelah Kotagede dijarah pemberontak. Selanjutnya sang pengganti, Amangkurat ll pindah ke Kartosuro. Tahun 1743 Kartosuro pun karam dalam kekisruhan akibat geger Pacinan. Deretan kerusuhan yg melibatkan amok massa terus jadi penanda pergantian rezim. Tahun 1942 saat Jepang masuk, pecah kasus “penggedoran” di Tangerang-Jakarta- Bekasi dengan korban 6000 org tewas. Tahun 1945 amok massa pecah di Surabaya, tentara Jepang yang ditawan di penjara militer Koblen, diseret massa untuk disembelih dan darahnya diminum rame-rame. Tahun 1965 saat Soekarno runtuh massa mengamuk menyerang PKI. Demikian pula amok massa yang terjadi pada saat kejatuhan rezim Orde Baru tahun 1998.

Yang cukup mengkuatirkan dan wajib diantisipasi adalah, Orde Baru tidak membangun sistem kaderisasi kepemimpinan secara terpola terencana dan membiarkan berjalan secara alami, sehingga kejatuhannya secara mendadak mematahkan pola alami spiral kepemimpinan. Akibatnya pola rekrutmennya berlangsung secara bebas sembarangan, sehingga siapa saja termasuk kaum marginal yang semula berada di lingkaran spiral terluar, bisa tiba-tiba saja masuk ke dalam spiral terdalam. Yang memprihatinkan dalam situasi seperti ini adalah munculnya kekuataan uang yang membajak sistem demokrasi yang sehat. Munculnya para pengusaha yang sekaligus menjadi penguasa. Tujuan mereka berkuasa bukanlah untuk menjalankan fungsi kewahyuannya, fungsi menyejahterakan masyarakat dan mewujudkan rahmat bagi semesta alam, melainkan memang semata-mata untuk berkuasa dengan mengumbar nafsu pesona dunia yang tak kan pernah bisa terpuaskan.

Ciri-ciri penguasa yang tidak mengemban amanah kewahyuannya di samping ketidaktulusan dan ketidakikhlasan, antara lain adalah mereka gegabah dalam melakukan sesuatu, tidak konsisten dan ucapannya tidak bisa dipegang bahkan sering berbantahan satu sama lain. Padahal sebagaimana nasihat Al Ghazali di awal bukunya Nasihat Untuk Penguasa, seorang penguasa akan dapat mempertahankan kekuasaannya dengan baik dan bisa menyejahterakan rakyatnya, apabila ia tidak pernah melakukan sesuatu tanpa perhitungan dalam arti tidak gegabah, selalu konsisten dan tak pernah meralat.

Yang terakhir itu merupakan benang merah yang kuat dalam seni kepemimpinan Jawa, yaitu agar berwibawa, maka seorang penguasa atau raja harus memegang teguh Sabda Pandhita Ratu, tan kena wolak-walik. Artinya, seorang penguasa harus memegang teguh satu kata dan perbuatan. Ucapannya bagaikan ucapan seorang pendeta sakti nan manjur, yang segera menjadi kenyataan. Ludahnya ludah api yang sekali dilontarkan langsung mewujudkan keinginannya. Ucapannya istiqomah dan tidak mencla mencle. Tidak pagi tempe sore dele. Pagi sudah menjadi tempe, sore hari mentah kembali menjadi kedelai. Ini juga sekaligus mengajarkan bahwa seorang pemimpin tidak boleh berkata atau bertindak semaunya sendiri, menggampangkan persoalan apalagi ngawur, karena dampaknya sangat luas bagi rakyat banyak yang tak berdosa.

Seorang pemimpin tertinggi dalam suatu negara atau kerajaan, dalam bahasa Jawa disebut Ratu, yang berasal dari kata rat yang berarti jagat atau alam raya. Seseorang bisa menjadi raja atau ratu menurut kepercayaan Jawa, karena ia memperoleh wahyu keratuan atau wahyu kedaton atau lebih tepatnya amanah selaku utusan Allah di jagad raya (khalifah fil ard), guna mewujudkan rahmat bagi alam semesta dan seisinya. Tempat tinggal seorang ratu disebut keraton atau kedaton yang berasal dari kata dzat sing katon, maksudnya tempat tinggal wakil dzat Allah yang kelihatan.

Karena mengemban tugas sebagai utusan dan wakil Gusti Allah di muka bumi, maka si penerima wahyu juga harus bisa mencerminkan berbagai sifat mulai Allah, meneladani Kanjeng Nabi Muhammad Saw. menjauhi perilaku tercela, meninggalkan ujub dan riya, jujur, adil serta sungguh-sungguh ikhlas dalam mengemban amanah mewujudkan rahmat bagi jagat raya seisinya.

Seorang penerima wahyu juga harus memegang teguh sifat-sifat satria utama yaitu “Sumungkem ing Pangeran, bekti ing bapa biyung, welas asih ing sapada-pada. Berbudi bawa leksana, ambeg adil para marta ing liyan, dosa lara diapura, dosa pati diuripi, kuat drajat kuat pangkat. Artinya, sujud dan taat kepada Gusti Allah, berbakti kepada ayah-bunda, belas kasih kepada sesamanya. Berbudi luhur yang diamalkan dalam kehidupan, bersikap adil dan menyejahterakan tanpa membeda-bedakan orang, memaafkan orang yang menyebabkan kita sakit (dalam arti luas termasuk menderita), memberikan hak hidup orang yang menyebabkan kematian (terutama kematian pada keluarga kita). Kuat mengemban derajat dan pangkat.” Jika tidak, maka wahyu kedaton bisa oncat atau pergi meninggalkannya, menjadi orang yang tidak kuat memikul derajat dan amanah, bahkan bukan tidak mungkin tercampakkan luluh lantak. Naudzubillah.

Semoga kita bangsa Indonesia khususnya para elit penguasa, diampuni dan dianugerahi kesadaran dan kemampuan untuk bisa menjadi pemimpin yang amanah dalam mengemban wahyu kepemimpinannya, yakni mewujudkan rahmat bagi semesta alam, khususnya dalam membasmi kezaliman, mewujudkan ketenteraman dan menegakkan keadilan serta menyejahterakan rakyat. Dan bukan pemimpin boneka yang jadi obyek permainan orang-orang di sekelilingnya nan zalim. Aamiin. Berikutnya : TANDA-TANDA PEMIMPIN YANG MEMPEROLEH WAHYU.

1 Comment

Filed under Uncategorized

PEMIMPIN, DILAHIRKAN ATAUKAH DARI PENDIDIKAN: Seri Etika & Moral Kepemimpinan (12).

Seni Hubungan Suami – Isteri ala Jawa Untuk Mempunyai Anak yang Berbakat Jadi Pemimpin.

Pokok bahasan yang menarik tentang kepemimpinan adalah seni kepemimpinan. Namun sebelum sampai ke hal tersebut, penulis ingin mengupas masalah yang selama ini banyak dipertanyakan orang di berbagai belahan bumi, yakni apakah seorang pemimpin itu dilahirkan artinya sudah bakat dari lahir, ataukah hasil dari suatu pendidikan. Apakah sepenuhnya sudah dipastikan oleh Tuhan ataukah masih ada ruang usaha bagi manusia?

Dalam kearifan lokal Jawa, sebagaimana diuraikan sejumlah kitab tua seperti Serat Centhini, Serat Nitimani, Serat Kawruh Sanggama dan Primbon KPH Cakraningrat, masalah seks dalam kaitan dan makna memahami serta mempersiapkan hubungan intim pria – wanita supaya bisa menurunkan anak yang baik, juga banyak dikupas. Salah satu hal yang menarik adalah nasihat bagaimana sepasang suami-isteri harus mempersiapkan diri menjelang berhubungan intim, dan apa yang harus dilakukannya pada saat sanggama, terutama apabila mengharapkan keturunan yang baik.

Secara hakikat, ajaran ini sama dengan ajaran di dalam Islam, yaitu hubungan intim tidak boleh dipaksakan, dilakukan dalam kondisi badan sehat, sebelumnya mandi dan gosok gigi atau bersih-bersih badan supaya aroma tubuhnya harum, serta dilangsungkan dalam suasana yang tenang dan nyaman. Selanjutnya berdoa atau salat hajat dua rekaat, memohon ijin dan pertolongan Gusti Allah, agar hubungan suami isteri yang akan dilakukan diridhoi, dirahmati dan diberkahi, diberi kekuatan lahir batin sehingga berlangsung harmonis, serta dijadikan sebagai bekal ibadah dan amal saleh. Doa yang paling terkenal yang diajarkan Kanjeng Nabi Muhammad adalah, “Dengan Nama Allah, Ya Allah! Jauhkan kami dari syetan, dan jauhkan syetan agar tidak mengganggu apa (anak) yang Engkau rezekikan kepada kami” (HR. Bukhari dan Muslim)

Yang lebih penting lagi menurut ajaran kearifan Jawa, selama bersanggama hawa nafsu tidak boleh dibiarkan melesat lepas bebas tanpa kendali agar pada saat sedang mencapai orgasme, baik tatkala terjadi pada isteri atau pun suami, masing-masing lebih utama jika bisa keduanya, mampu hening sejenak sembari berdoa di dalam hati, agar benih yang dipancarkan bisa menjadi anak yang soleh atau solehah dan sejumlah harapan baik lainnya bagi sang anak, termasuk menjadi pemimpin yang diberkahi Allah.

Suasana batin pasangan pria – wanita pada detik-detik saat tengah orgasme itulah yang diyakini akan menentukan watak anak yang lahir dari persetubuhan tadi. Apatah berwatak ksatria Pandawa seperti Puntadewa, Bima, Arjuna dan Kresna ataukah para Kurawa seperti Duryudana, Dursasana, Burisrawa dan Sengkuni bahkan Rahwana; berwatak Gajah Mada, Sunan Kalijaga, Bung Karno, ulama, seniman, pedagang ataukah Ken Arok, Damarwulan ataukah berandal ataukah koruptor?

Ibarat sebuah lukisan, suasana batin orang tua sewaktu mencapai puncak hubungan seksual sangat menentukan kualitas kain bahan lukisan. Apatah kain yang tipis menerawang, yang mudah robek ataukah yang tebal, kuat dan bersahabat dengan berbagai jenis cat. Adapun cat, corak, jenis dan gambar lukisan tergantung pada orangtua, guru dan masyarakat setelah sang anak lahir. Maka seperti suasana batin Begawan Wisrawa dan Dewi Sukesi yang lupa diri lantaran nafsu syahwatnya berkobar tanpa kendali menerjang pagar ayu atau kesusilaan, lahirlah raksasa perkasa nan angkara murka yakni Rahwana atau Dasamuka.

Di dalam legenda dan kepercayaan masyarakat Jawa, ada sejumlah tokoh besar yang lahir akibat hubungan gelap atau pun pemerkosaan. Orang yang melanggar kesusilaan dengan melakukan hubungan gelap, pada umumnya dikuasai dorongan nafsu, semangat dan tekad atau lebih tepat nekad dengan sangat kuat terutama pihak lekaki, meski tidak jarang juga pada kedua pelakunya, sehingga lahirlah anak yang memiliki semangat dan berani nekad. Lebih-lebih apabila setelah lahir, anak hasil kumpul kebo ini dibesarkan serta dididik oleh ibunya selaku orangtua tunggal dengan keprihatinan tinggi. Maka jadilah tokoh-tokoh hasil lembu peteng yang mengukir sejarah seperti halnya Ken Arok dan Bondan Kejawan, serta sejumlah tokoh lainnya yang diyakini masyarakat memiliki latar belakang hasil hubungan seks yang sama.

Tentu saja penulis tidak menganjurkan para sahabat melakukan hal yang seperti itu demi memiliki keturunan yang perkasa dan bisa menjadi penguasa ternama. Karena toh kalau anggapan seperti itu benar, berapa persen dari anak-anak hasil hubungan gelap yang bisa berkuasa, dan berapa persen yang gagal total dalam kehidupannya. Saya yakin yang gagal jauh lebih banyak. Lagi pula, keberhasilan menjadi penguasa, tidaklah menjamin yang bersangkutan mencapai ending atau akhir karier yang baik. Bahkan tidak jarang kehidupannya berakhir dengan tragis. Naudzubillah. (https://islamjawa.wordpress.com/2015/02/19/hubungan-seks-pengaruhnya-pada-anak-seks-dalam-peradaban-kebudayaan-jawa-3/ ).

Sahabatku, kita semua menyakini, seluruh kehidupan ini sudah tertulis dalam lauh mahfudz, kitab skenario atau catatan kejadian di alam semesta termasuk nasib, amal dan perbuatan manusia. Namun demikian Allah Yang Maha Agung juga masih memberikan ruang ikhtiar dan doa kepada umat manusia. Dari hikmah dan hakikat doa Rasulullah Saw serta untaian nasihat kearifan Jawa tadi, kita bisa menarik pelajaran adanya peluang ikhtiar manusia untuk memberikan pondasi kokoh pada anak keturunannya, semenjak benih dipancarkan dari sela tulang sulbinya, agar menjadi insan kamil dalam suatu peradaban nan mulia.

Insan yang sejak pembentukannya sudah diniatkan oleh kedua orang tuanya, akan bagaikan bahan baku kain lukisan kehidupan yang baik. Selanjutnya cat, corak, jenis dan gambar lukisan tergantung pada orangtua, guru dan masyarakat setelah sang anak lahir. Itulah pendidikan dan gemblengan kehidupan, yang akan menjadi lukisan pada kain. Semuanya saling terkait, saling mengisi dan melengkapi. Tentu saja, sebaik apapun bahan catnya, dan sehebat bagaimanapun pelukisnya, tapi apabila bahan kainnya buruk, tidaklah mungkin bisa dibuat lukisan kepemimpinan yang mumpuni, yang hebat dan diberkahi.

Oleh karena itu marilah kita niatkan dan siapkan anak keturunan kita, generasi masa depan untuk menjadi pemimpin-pemimpin umat yang mulia dan diberkahi, semenjak belum terjadi pembuahan. Mari kita siapkan anak keturunan kita untuk memahami seni kearifan ini. Aamiin. Berikutnya: WAHYU DAN SENI KEPEMIMPINAN.

Leave a comment

Filed under Uncategorized

Benarkah Presiden Jokowi Menerima Wahyu dari Tuhan?

Benarkah Presiden Jokowi Menerima Wahyu dari Tuhan?
Minggu, 22 Nov 2015 – 11:32:45 WIB
Bambang Wiwoho, TEROPONGSENAYAN

Belakangan ini saya mendengar dan atau membaca dari beberapa tokoh, bahwa Pak Jokowi itu menjadi Presiden karena memperoleh wahyu dari Tuhan, sehingga kedudukannya sangat kokoh dan tidak mungkin dijatuhkan.

Yang terbaru, kemarin (Sabtu 21 November 2015) di sebuah grup What’s App (WA), Menteri Dalam Negeri Tjahjo Kumolo juga menyatakan serupa, antara lain:
“Catatan pemahaman saya, NKRI sekarang ini dalam tahap ‘Ngerubuhaken Pagere Batin’(arti secara umum : Merubuhkan/Merombak Pagar Batin yang Tidak Benar-Kodratnya). Jabatan Presiden RI Nusantara IND menurut kepercayaan Jawa adalah Wahyu…Wahyu akan berbicara melalui pikiran dan batin orang yang di naungi Wahyu terlebih dahulu sebelum orang itu menjadi Presiden. Seperti Presiden Bapak Jokowi sekarang ini sedang bergerak atas perintah Batin Wahyu tsb (amanah dari TuhanYang Maha Kuasa) karena beliau pemegang amanah dan Beliau penerima Wahyu memimpin Nusantara, walaupun Bp Jokowi sendiri mungkin tanpa menyadarinya awalnya -semua mengalir dengan sendirinya dan Bp Jokowi dengan pendukungnya mengalir bergerak -hingga menang Pilpres 2014-)
(Terkait polemik Angg’DPR VS Angg’DPR, DPR VS Lembaga Pemerintahan, Menteri VS Menteri dan opini serta Persepsi Publik yang beragam adalah wujud awal bergeraknya sebuah REVOLUSI MENTAL. Ini akan terus berlangsung sampai 2(dua) tahun mendatang. Jadi perwujudan konsep Revolusi Mental adalah yang terjadi sekarang ini & tidak bisa dicegah karena konsep tersebut yang berbicara ‘Wahyu’, melalui Bapak Presiden dan Bp Jokowi pegang amanah dan beliau Mampu mengendalikan Nusantara dengan kekuatan Batin beliau dan dukungan Masyarakat yg paham dan keyakinan bersma Bp Jokowi akan mampu membangun NUSANTARA IND RAYA- terima kasih(TjahjoKumolo)”

Media online Liputan6.com kemarinn juga menurunkan berita yang kurang lebih sama dengan judul “Curhat Tjahjo dan Sudirman Said soal ‘Robohkan Pagar Batin” –https://www.liputan6.com/read/2371432
Saya tak hendak membahas apakah benar atau tidak jabatan pak Jokowi sebagai Presiden itu karena wahyu atau lantaran semata-mata keinginan dan upaya manusia (hawa nafsu) atau juga istidraj dari Gusti Allah dan lain-lain kemungkinan.

Sebagai orang Jawa, saya hanya ingin menyampaikan pemahaman dan filosofi wahyu dalam kepercayaan Jawa, khususnya Islam Kejawen.
Seorang pemimpin tertinggi dalam suatu negara atau kerajaan, dalam bahasa Jawa disebut Ratu, yang berasal dari kata rat yang berarti jagat atau alam raya. Seseorang bisa menjadi raja atau ratu menurut kepercayaan Jawa, karena ia memperoleh wahyu keratuan atau wahyu kedaton atau amanah selaku utusan Allah di jagad raya (khalifah fil ard), guna mewujudkan rahmat bagi alam semesta dan seisinya.
Tempat tinggal seorang ratu disebut keraton atau kedaton yang berasal dari kata dzat sing katon, maksudnya tempat tinggal wakil dzat Allah yang kelihatan.

Karena mengemban tugas sebagai utusan dan wakil Gusti Allah di muka bumi, maka si penerima wahyu juga harus bisa mencerminkan berbagai sifat mulai Allah, meneladani Kanjeng Nabi Muhammad SAW. menjauhi perilaku tercela, meninggalkan ujub dan riya, jujur, adil serta sungguh-sungguh ikhlas dalam mengemban amanah mewujudkan rahmat bagi jagat raya seisinya.

Seorang penerima wahyu juga harus memegang teguh sifat-sifat satria utama yaitu “Sumungkem ing Pangeran, bekti ing bapa biyung, welas asih ing sapada-pada. Berbudi bawa leksana, ambeg adil para marta ing liyan, dosa lara diapura, dosa pati diuripi, kuat drajat kuat pangkat.
Artinya, sujud dan taat kepada Gusti Allah, berbakti kepada ayah-bunda, belas kasih kepada sesamanya. Berbudi luhur yang diamalkan dalam kehidupan, bersikap adil dan menyejahterakan tanpa membeda-bedakan orang, memaafkan orang yang menyebabkan kita sakit (dalam arti luas termasuk menderita), memberikan hak hidup orang yang menyebabkan kematian (terutama kematian pada keluarga kita). Kuat mengemban derajat dan pangkat.” Jika tidak, maka wahyu kedaton bisa oncat atau pergi meninggalkannya, menjadi orang yang tidak kuat memikul derajat dan amanah, bahkan bukan tidak mungkin tercampakkan luluh lantak. Naudzubillah.

Semoga kita bangsa Indonesia khususnya para elit penguasa, diampuni dan dianugerahi kesadaran dan kemampuan untuk bisa menjadi pemimpin yang amanah dalam mengemban wahyu kepemimpinannya, yakni mewujudkan rahmat bagi semesta alam, khususnya dalam membasmi kezaliman mewujudkan ketenteraman dan menegakkan keafilan serta menyejahterakan rakyat. Aamiin.(*)

Leave a comment

Filed under Uncategorized

PERANG MELAWAN PENGUASA ZALIM ADALAH KETAATAN KEPADA Allah SWT : Seri Etika & Moral Kepemimpinan (11).

Di dalam Seri ke 7 yang berjudul Nasihat Al Ghazali Tentang Negara Bermoral, kita membahas bahwa Islam telah banyak mengatur etika kepemimpinan, baik langsung di dalam Al Qur’an maupun hadis dan sunah Rasulullah Saw. serta ijma’ para ulama. Semua ajaran etika dan moral dalam kehidupan bermasyarakat adalah juga merupakan etika dan moral kepemimpinan. Namun inti dari semua itu adalah amanah dan keadilan, sebagaimana firman-Nya: “Sesungguhnya Allah menyuruh kamu berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberikan kepada kaum kerabat, dan Allah melarang perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pengajaran.” (An Nahl:90).

Perintah tersebut dipertegas oleh Rasulullah Saw. dengan menyatakan, sehari keadilan seorang penguasa jauh lebih baik dari 70 tahun beribadah. Bahkan diperkuat lagi, kekuasaan dapat kekal beserta kekufuran, tapi tidak bisa kekal bersama kezaliman. Perawi hadis Ad-Dailami dan At Tabrani juga mengisahkan sabda Kanjeng Nabi, “Pemimpin suatu kelompok adalah pelayan kelompok tersebut. Oleh karena itu pemimpin hendaklah melayani dan menolong orang lain untuk maju.”

Sahabatku, dengan mengkaji firman Tuhan dan sabda Rasulullah tadi, maka kita menjadi paham mengapa Khalifah Umar bin Khattab sampai hidup secara sangat sederhana, bahkan rela menolong seseorang yang melahirkan, serta memikul gandum dan memasakkan sendiri makanan untuk rakyatnya yang miskin.
Meskipun firman Allah sudah jelas, hadis nabi sudah tegas, dan contoh pelaksanaannya oleh empat khalifah pertama terutama Umar pun sudah terang benderang, ternyata di dalam praktek kehidupan dan kekuasaan, tidaklah demikian.

Sudah menjadi rahasia umum, tidak jarang justru di negara-negara yang mayoritas penduduknya beragama Islam, kezaliman kaum elite terjadi. Ketimpangan dan kesenjangan hidup antara penguasa dengan rakyatnya berlangsung terang-terangan. Ketika subsidi untuk rakyat miskin dikurangi bahkan dicabut, di lain pihak berbagai tunjangan misalkan hadiah lebaran untuk para birokratnya dinaikkan. Padahal Baginda Rasul sudah mengingatkan, kekuasaan dapat kekal beserta kekufuran, tapi tidak bisa kekal bersama kezaliman.

Dalam menyikapi kezaliman ini, sangat menarik mencermati slogan perjuangan kemerdekaan rakyat Amerika Serikat tahun 1776, yang diusulkan oleh Benyamin Franklin yaitu “Rebellion to tyrants is obedience to God.” Rasanya slogan tersebut tepat sekali apabila juga kita jadikan slogan untuk mengobarkan perang melawan kezaliman, baik kezaliman yang kita lakukan sendiri maupun terhadap kezaliman yang dilakukan oleh orang lain, termasuk oleh para penguasa. Paling sedikit, marilah kita perangi dengan doa-doa kita, jangan hanya dengan menggerutu atau ndremimil saja. karena doa orang yang dizalami itu mustajab dan tidak tertolak. Syukur-syukur bisa kita lakukan dengan mulut dan tangan atau perbuatan kita. Sungguh, “Perang melawan kezaliman (termasuk melawan penguasa zalim) adalah kepatuhan (ketaatan) kepada Allah Swt.”

Yaa Qowiyyu yaa Matin ikfi syarro adz-dzolimin. Artinya: Wahai Dzat yang Maha Kuat, Wahai Dzat yang Maha Kokoh, hentikanlah segala kejahatan dari orang-orang yang zalim (dibaca 3x). Berikutnya : PEMIMPIN, DILAHIRKAN ATAUKAH DARI PENDIDIKAN?

Leave a comment

Filed under Uncategorized

JENIS-JENIS KEZALIMAN PENGUASA : Seri Etika & Moral Kepemimpinan (10).

Sahabatku, dalam seri-seri terdahulu kita sudah membahas nasihat Al Ghazali tentang negara yang bermoral dan keteladanan pemimpin, tentang gaya blusukan dan ketakutan Khalifah Umar atas kepemimpinannya yang membiarkan rakyatnya hidup melarat serta makna kezaliman.

Al Ghazali mengingatkan, peranan kepemimpinan sangat menentukan kehidupan masyarakat. Pada hematnya rusak rakyat karena rusak penguasa, dan rusak penguasa karena rusak ulamanya. Ternyata pangkal dari segala kerusakan tersebut adalah para ulama. Oleh karena itu para ulama harus tegak menjaga fungsinya sebagai pemegang amanah Allah, penjaga waris Nabi-Nabi dan penegak politik keadilan.
Para ulama dan cendekiawan harus bersikap waspada dan jangan menundukkan diri kepada politik kezaliman, bahkan jika dianggap perlu harus mengambil sikap uzlah, menjauhkan diri dari segala soal yang berbau politik dan pemerintahan.

Perihal kezaliman penguasa, Al Ghazali membagi dalam 3 macam yaitu (1). Zalim terhadap kehormatan dan hak-hak manusia; (2). Zalim terhadap harta benda rakyat; (3). Zalim terhadap jiwa rakyat.
Betapa keras Allah memperingatkan hamba-hambanya agar jangan berbuat zalim, sampai-sampai dituangkan ke dalam 192 ayat suci Al Qur’an. Marilah kita kutip kembali salah satu perintah-Nya: “Sesungguhnya Allah menyuruh kamu berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberikan kepada kaum kerabat, dan Allah melarang perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pengajaran.” (An Nahl:90).

Perintah tersebut kemudian dipertegas oleh Rasulullah Saw. dengan menyatakan bahwa sehari keadilan seorang penguasa jauh lebih baik dari 70 tahun beribadah. Bahkan diperkuat lagi, kekuasaan dapat kekal beserta kekufuran, tapi tidak bisa kekal bersama kezaliman. Hadis ini menguatkan kenyataan yang menunjukkan betapa negara-negara yang mayoritas penduduknya bukan muslim, namun bisa bertahan sejahtera ratusan tahun, lantaran penguasa dan kehidupan masyarakatnya mengutamakan keadilan serta tegas dalam memberantas kezaliman. Tidak jarang diantara kita menyebut mereka bukan islam tapi islami.

Uraian tentang berbagai nash dalam ajaran Islam berikut Sunnah Rasulullah Saw., menunjukkan bahwa Islam telah mengajarkan kepada umatnya bagaimana bersikap dan berperilaku sebagai pemimpin, baik pemimpin negara, masyarakat maupun agama. Namun mengapa kenyataan yang kita hadapi sehari-hari dewasa ini seolah-olah bertolak belakang?

Para politisi Indonesia, sering menyatakan negara kita sebagai negara demokrasi, dan seperti yang lazim kita pahami, demokrasi itu ditopang oleh empat pilar. Pertama, penegakan hukum. Sudahkan berjalan dengan baik dan adil. Dari berbagai media massa kita harus jujur masih jauh panggang dari api. Kedua, partai politik. Bagaimana pula kenyataannya? Sudah menjadi rahasia umum, politik kita adalah “politik wani piro.” Artinya uang lebih berkuasa dan berperan dari norma serta aturan main yang seharusnya. Akibatnya, panggung perpolitikan nasional dikuasai pengusaha-penguasa yang memang menguasai kekuatan uang. Ketiga, media massa. Siapa yang menguasai dan bagaimana keberpihakannya? Juga tak jauh dari pilar kedua.

Keempat, masyarakat sipil. Inilah tumpuan harapan masyarakat luas. Masyarakat banyak yang menderita karena bencana asap yang berbulan memenuhi paru-parunya. Masyarakat yang tidak mampu ikut menikmati kesejukan udara serta kelezatan makanan di mall-mall nan mewah. Masyarakat yang hidup di bawah garis kemiskinan, bahkan masih mengenakan koteka di tanah kelahirannya yang memiliki gunung emas. Tetapi, sebagaimana firman Gusti Allah Swt.: “Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum kecuali mereka mengubah diri mereka sendiri ” (Surat Ar Ra’du:11).

Maka wahai para sahabat, marilah kita saling bahu-membahu, berjuang, bergerak bersatu mengubah nasib masyarakat, nasib kita sendiri, dan bukan hanya sekedar ndremimil ataupun menggerutu. Yakinlah, Allah Yang Maha Kuasa, Penguasa dari Segala Penguasa, Pemilik Perbendaharaan Langit dan Bumi akan menolong kita, menegakkan keadilan dan menganugerahkan kesejahteraan kepada kita bangsa Indonesia. Aamiin. Berikutnya: PERANG MELAWAN PENGUASA ZALIM ADALAH KETAATAN KEPADA ALLAH SWT.

Leave a comment

Filed under Uncategorized

PAHAMKAH ANDA TENTANG MAKNA ZALIM : Seri Etika & Moral Kepemimpinan (9).

Kata zalim atau lalim sering kali kita ucapkan. Bahkan jika ada seseorang atau pihak yang menyakiti hati kita, membuat rugi atau menderita, dengan mudah kita mengatakan orang tersebut zalim. Tapi sungguhkan anda, kita semua, paham akan makna zalim?

Di dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata lalim atau zalim itu luas maknanya. Ia bisa berarti bengis, kejam, tidak adil, sewenang-wenang, menindas atau juga tidak menaruh belas kasihan. Betapa pentingnya kata ini harus dipahami oleh umat manusia khususnya umat Islam, Gusti Allah Yang Maha Adil menuangkannya tidak kurang dalam 192 ayat Al Qur’an. Bandingkan dengan dua kata yang juga bermakna jelek seperti munafik dengan 28 ayat dan munkar dengan 15 ayat.
Meskipun demikian banyak lagi keras peringatan Allah Swt atas perbuatan zalim, masih saja banyak orang yang tetap berlaku zalim, bahkan jangan-jangan diri kita sendiri juga. Naudzubillah. Mari coba kita camkan beberapa peringatanNya, “ Dan Allah tidak menyukai orang-orang zalim (3:140)……Tempat kembali mereka adalah neraka dan itulah seburuk-buruk tempat tinggal orang-orang yang zalim (3:151)….. Dan tidak ada bagi orang-orang zalim seorang penolongpun (3: 192…..Alangkah dahsyatnya sekiranya kamu melihat di waktu orang-orang zalim dalam tekanan-tekanan sakaratul maut (6:93)…. Sesungguhnya orang-orang zalim itu tidak akan mendapat keberuntungan (6:135)….Kutukan Allah ditimpakan kepada orang-orang zalim (7:41)…..Ingatlah, kutukan Allah ditimpakan atas orang-orang zalim (11:18).” Sungguh mengerikan. Naudzubillah.

Karena itu wahai sahabatku terutama para pemimpin yang memperoleh amanah dari orang banyak, marilah kita saling mengingatkan dan saling menjaga agar kita tidak berlaku zalim seperti tidak adil, menahan hak orang lain misalkan hak karyawan atau hak teman yang ada dan diamanahkan pada kita, menyakiti atau menganiaya orang lain baik fisik maupun non fisik. Sebab tanpa mereka mendoakan buruk pada kita pun, Allah yang Tidak Pernah Tidur lagi Maha Adil, sudah akan mengutuk kita. Apalagi jika orang yang kita zalimi tersebut mengadukan persoalannya kepada Allah, maka berlipatgandalah hukuman dan kutukan Allah kepada kita. Naudzubillah.

Meski Allah melarang kita mendoakan orang lain agar celaka, namun khusus terhadap orang-orang yang dizalimi Allah membolehkannya. Jadi saat seseorang dizalimi dan disakiti dan dia mendoakan orang yang menyakitinya agar ditimpa musibah, Allah akan mengabulkannya, sebagaimana firmanNya: ” Allah tidak menyukai kata-kata jahat yang diucapkan dengan terus terang, kecuali dari orang yang teraniaya. Allah adalah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui (4: 148).”

Sahabatku, oleh karena itu sikap adil harus tetap ditegakkan kepada siapa pun baik dia muslim, kafir ataupun orang jahat. Sebab doa orang yang teraniaya meski mereka itu kafir dan jahat, tetap dikabulkan oleh Allah Swt, sebagaimana hadis yang diriawayatkan oleh Mu’az: “Aku diutus oleh Rasulullah saw. lalu Beliau saw. bersabda:
‘Sesungguhnya engkau akan mendatangi sesuatu kaum dari ahli kitab, maka ajaklah mereka untuk bersaksi bahwa tiada Tuhan melainkan Allah dan bahwa aku adalah utusan Allah. Jika mereka telah patuh untuk melakukan itu, maka beritahukanlah bahwa Allah telah mewajibkan atas mereka salat lima waktu dalam setiap sehari semalam. Jika mereka telah patuh untuk melakukan itu, maka beritahukanlah kepada mereka bahwa Allah mewajibkan atas mereka zakat yang diambil dari orang-orang kaya di antara mereka, kemudian diberikan kepada yang miskin. Jika mereka telah patuh untuk melakukan itu, jauhilah harta mereka. Peliharalah diri kalian dari doa orang yang terzalimi, karena sesungguhnya tidak ada penghalang antara doa tersebut dengan Allah.’ “ (Muttafaq ‘alaih)

Sementara itu Abu Hurairah juga mengisahkan sabda Kanjeng Nabi : “Ada tiga doa mustajab (dikabulkan) yang tidak ada keraguan di dalamnya, yaitu: doa orang yang teraniaya, doa musafir, dan doa buruk orang tua kepada anaknya. (HR Abu Daud dan al-Tirmizi)”.

Hal tersebut diperkuat oleh Anas yang mengungkapkan peringatan keras Rasulullah : “Hendaklah kamu waspada terhadap doa orang yang dizalimi sekalipun dia adalah orang kafir. Maka sesungguhnya tidak ada penghalang diantaranya untuk diterima oleh Allah.” (Hadis riwayat Ahmad). Kemudian dipertegas lagi oleh kisah Abu Hurairah, Rasulullah saw bersabda: “Doa orang yang dizalimi itu diterima sekalipun doa dari orang yang jahat. Kejahatannya itu memudaratkan dirinya dan tidak memberi kesan pada doa tadi.” (Hadis hasan riwayat at-Tayalasi). Demikian pula dari Ibnu Umar r.a, Rasulullah saw mengingatkan : “Hendaklah kamu waspada terhadap doa orang yang dizalimi. Sesungguhnya doa itu akan naik ke langit amat pantas seumpama api marak ke udara.” (Hadis riwayat Hakim – sanad sahih).

Seorang sahabat pernah bertanya tentang sahabat yang lain yang kehidupannya berkelimpahan dengan pesona dunia, padahal suka bermaksiat termasuk zalim sebagai abdi negara. Sahaya jawab itulah yang disebut istidraj. Maka kemudian sahaya kutipkan nasihat Baginda Rasul seperti yang diceritakan Ubah bin ‘Amir radhiyallahu ‘anhu sebagai berikut: “Bila kamu melihat Allah memberi seorang hamba dari (perkara) dunia yang diinginkannya, padahal dia terus berada dalam kemaksiatan kepada-Nya, maka (ketahuilah) bahwa hal itu adalah istidraj (jebakan berupa nikmat yang disegerakan) dari Allah.” (HR. Ahmad).

Selanjutnya Kanjeng Nabi membacakan firman Allah Swt: “Maka tatkala mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kamipun membukakan semua pintu-pintu kesenangan untuk mereka; sehingga apabila mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka dengan sekonyong-konyong, maka ketika itu mereka terdiam berputus asa.” (QS. Al An’am: 44)

Oleh sebab itu wahai sahabatku, dalam rangka kewaspadaan dan kehati-hatian, marilah kita sering mawas diri dan bermuhasabah, apakah kita sudah sungguh-sungguh hidup bahagia, tenteram dan bersih dalam arti yang luas? Lebih-lebih jika pesona dunia datang bertubi-tubi, benarkah ini hadiah Allah, ujian ataukah justru istidraj? Jangan-jangan ada sesuatu dalam perjalanan hidup kita, ada sesuatu di dalam rezeki kita, yang tidak berkenan bagi Allah terutama yang terkait dengan perbuatan zalim. Adakah hak fakir miskin, yatim piatu dan orang lain yang kita tahan bahkan kita rampas, kita tipu, kita curi? Adakah hak rakyat banyak yang kita korupsi sebagaimana dikecam oleh Kanjeng Nabi Muhammad Saw dalam seri tulisan no 5 yang lalu, yakni : “Sejahat-jahat penguasa adalah siapa yang melahap harta yang bukan haknya. Sebab, ia membuat rusaknya tata cara dan menjadi penyebab penderitaan, meluasnya kesulitan serta meratanya kesusahan.”

Semoga kita dijauhkan dari perbuatan terkutuk itu. Aamiin. Berikutnya: Jenis-Jenis Kezaliman Penguasa.

1 Comment

Filed under Uncategorized