SEKS DALAM PERADABAN & KEBUDAYAAN JAWA (2): Zaman Dulu, Seks Diajarkan Secara Tertulis

Serat Nitimani, secara kata-kata apa adanya bisa diterjemahkan sebagai Memahami Sperma, ditulis selama lima tahun oleh Aryasugada dan selesai pada tahun 1888. Meskipun namanya seperti itu, bahkan dalam bahasa Jawa pun terkesan vulgar, namun isinya tidaklah demikian. Bagian yang menjelaskan salah satu tanda yang menunjukkan pasangan wanita mencapai puncak olah asmara, yang sebagian juga dikutip dalam kitab Kawruh Sanggama, aslinya adalah, “sinenggol pucuking pasta, ing kono dipun turuta, sakarsanireng wanodya, yen pinareng datan lami, wanita amudar prasa, yekti ana wataranya, gara-gara jroning baga, anyendhol pucuking pasta, iku saka kira-kira laraping reca gupala, kabukaning kang wiwara, jenenging Hyang Kamajaya, aliya tandha mangkana, kang sayekti kawistara, kawawas sawarnanira, ing hangga sakojur wanda, angler kaoncatan yitma, lesu ngalumpruk marlupa, kadi-kadi tan kuwawa, anyandhang enaking rahsa, sesambate melas arsa, karya trenyuh ing wardaya. ”Sebuah gambaran tentang wanita yang tengah mencapai klimaks hubungan seks, tetapi diungkapkan dalam bahasa Jawa halus atau kromo inggil, melalui berbagai kiasan. Padahal isinya sederhana, pokoknya tubuhnya lunglai bagaikan pakaian basah yang jatuh dari jemuran, nglumpruk – nglempreg, mendesah-desah bahkan mengeluh tidak karuan seolah-olah hendak mati.

Serat Nitimani yang disajikan dalam bentuk tanya jawab, sesungguhnya adalah sebuah ajaran kehidupan manusia yang dimulai semenjak alam ruh, diturunkan untuk hidup di bumi melalui sepasang manusia, yaitu ibu-bapaknya, untuk suatu tujuan mulia yakni hamemayu hayuning bawana, melestarikan sekaligus membangun alam raya. Hidup di dunia itu hanya sekedar singgah minum sejenak. Lebih sepertiga dari isi kitab ini merupakan kajian tasawuf yang sudah pada tahap hakikat dan makrifat. Sebagian besar di antaranya membahas isi kitab Wirid Hidayat Jati karya Raden Ngabehi Ranggawarsita. Sementara itu hampir dua pertiga bagian membahas hubungan pria – wanita. Sebagian dari itu pada hemat penulis mengambil dari Serat Centhini yang selesai ditulis 64 tahun sebelumnya. Sebagai kitab tasawuf, maka hubungan pria – wanita yang hampir dua pertiga bagian tersebut ditempatkan dalam rangka menyiapkan benih anak manusia menjadi seorang insan kamil nan mulia.

Erotika, seks dan mistis.

Perihal Serat Centhini, ini memang sungguh kitab yang luar biasa, yang berisi mengenai berbagai pernik kehidupan masyarakat Jawa, ada tentang penanggalan Jawa, rumah, makanan, obat-obatan, kebiasaan hidup sehari-hari termasuk seks yang dikupas tuntas mulai dari bagaimana mengenal serta memahami perilaku seks seorang perempuan berdasarkan ciri-ciri fisiknya, sampai bagaimana melakukan adegan sanggama secara liar dan nakal dengan berbagai posisi dan cara, adegan sesama lelaki, satu lelaki dengan dua bahkan tiga perempuan sampai ke adegan sanggama secara mistis dan sakral. Karena itu maka banyak para pengamat sastra Jawa yang menyebut Centhini lebih dahsyat dibanding kitab seks Kamasutra dari India yang sangat mendunia.

“Memang ada yang menyebut seperti itu, tapi saya kira Centhini bercerita tentang banyak hal. Lebih luas daripada Kamasutra,” kata Elizabeth D. Inandiak, seorang Perancis yang menggubah dan menerjemahkan Serat Centhini ke Bahasa Indonesia dan Perancis. “Saya tak pernah membayangkan sama sekali bahwa seks bisa bergabung dengan mistik, dan itu ada di Centhini” katanya dalam kuliah umum “Erotika Nusantara: Serat Centhini” di Teater Salihara, Jakarta, 10 Maret 2012 (http://historia.co.id/artikel/3/978/Majalah-Historia/Meleburkan_Seks_dan_Mistik).

Sebagai lelaki Jawa yang dibesarkan di daerah Pantai Utara, sedari kecil penulis sering mendengar tentang kesenian tayub, ledhek, ronggeng dan sejenisnya, baik di Jawa terutama di daerah Jawa Timur, Blora, Surakarta, Banyumas dan Jakarta.Namun saya belum pernah dengan mata kepala sendiri menyaksikan secara langsung. Saya hanya tahu dari surat kabar dan majalah serta cerita dari mulut ke mulut. Pada benak saya kesenian jenis itu sangat seronok dan biasanya disertai mabuk-mabukan.

Secara kebetulan pada sekitar akhir 1980-an, di suatu tengah malam, dengan dua orang teman, penulis bepergian dari Pati menuju Solo menembus pegunungan Kendeng melewati daerah Grobogan dan Purwadadi. Di tengah jalan kami menjumpai ada suatu pertunjukkan tayub yang agak ramai. Lantaran belum pernah melihat, tak pelak lagi kami berhenti menonton tiga perempuan penari tayub mengibing di atas panggung dikerubuti sejumlah lelaki, sambil sesekali para lelaki menyawer, memberikan uang saweran kepada para penari perempuannya. Sementara itu masyarakat di bawah panggung, menonton dengan kadang-kadang bersorak sorai menyemangati para penari. Walau begitu, seluruh suasana berlangsung tertib, tidak nampak ada yang minum bermabuk-mabukkan, tidak ada nuansa vulgar, jorok apalagi tidak senonoh. Sungguh berbeda jauh dengan gambaran acara tayuban yang dikisahkan hampir di sepanjang Serat Centhini.

Dalam Serat Centhini, pertunjukkan tayub dengan ronggengnya, bahkan sendratari Panji dengan iringan rebana di rumah Bupati dan di lingkungan pesantren pun, diwarnai tingkah polah beberapa orang untuk mengumbar nafsu seksnya secara liar menerjang norma-norma kesusilaan dan agama yang berlaku.

Lantaran diungkapkan dalam bentuk tembang-tembang puisi macapat, serta dalam bahasa peralihan Jawa Tengahan ke Jawa Baru, bagi masyarakat sekarang, Centhini tidak mudah dipahami. Namun jika sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, dan penulis belum pernah membacanya, sulit membayangkan bagaimana mengungkapkan aneka macam adegan serta perilaku seks dan sanggama yang benar-benar vulgar sesuai apa adanya itu, ke dalam bahasa Indonesia yang mudah dimengerti oleh orang kebanyakan termasuk anak-anak. Apalagi bila dipengggal-penggal diambil hanya bagian adegan-adegan sanggamanya saja, niscaya menjadi bacaan yang amat sangat porno.

Tetapi bagi orang dewasa, jika disajikan secara utuh disertai ulasan yang membahas segi-segi buruk dan baiknya, Centhini patut dibaca. Terutama apabila sebagaimana diungkapkan Elizabeth Inandiak, kecabulan dan kekotoran bahasa Serat Centhini terhapus lewat keindahan tembang dengan paduan gamelan dan pesinden. “Pembacaan Serat Centhini sejatinya memang ditembangkan. Dengan demikian, para pembaca tak tenggelam ke lautan kata-kata kotor dan cabul sehingga keindahan erotika Serat Centhini tetap dapat ditangkap.”

Beberapa pelajaran dan hikmah akibat seks bebas misalkan, digambarkan pada diri tokoh penganut seks bebas Kulawirya, yang menderita penyakit kelamin raja singa atau syphilis. Sementara itu kecerobohan orangtua dalam melakukan hubungan-hubungan seks, sehingga menjadi bahan intipan dan tontonan rutin tiga anak gadisnya yakni Banem, Banikem dan Baniyah, membuat ketiga anak gadisnya liar tak mengenal rasa malu. Akibatnya, mereka langsung bernafsu mencoba mempraktekkan persanggamaan kedua orangtuanya, tatkala menerima tamu pria yang menginap di rumahnya.

Sebagaimana kelaziman yang berlangsung semenjak runtuhnya Kerajaan Majapahit dan berdirinya Kesultanan Demak, pengajaran-pengajaran dari orangtua ke anak atau dari pandita dan ulama kepada para santrinya, dilakukan dengan menggubah serat atau kitab, bahkan juga suluk, dalam bentuk tembang-tembang macapat. Isi kandungan serat atau kitab adalah bebas, bisa langsung berupa ajaran-ajaran, tapi bisa pula merupakan kisah roman sejarah seperti halnya Serat Damarwulan. Sedangkan suluk, yang berasal dari bahasa Arab, yang berarti cara atau jalan, berisi ajaran mengenai cara mendekatkan diri kepada Gusti Allah (berbagai tulisan mengenai suluk, bisa dilihat dalam https://islamjawa.wordpress.com). Dengan aneka tembang macapat yang digubah oleh para wali, berbagai hal dan tata nilai kehidupan, diajarkan kepada masyarakat secara halus lagi indah, mengikuti rasa seni di kedalaman batin setiap insan.

Kisah asmara paling halus dalam Serat Centhini menjadi milik pasangan Amongraga dan Tambangraras. Amongraga, putra tertua Sunan Giri, duduk berhadapan dengan Tambangraras, istrinya, di kamar pengantin pada malam pertama pernikahannya. Amongraga berada di buritan ranjang pengantin, sedangkan Tambangraras duduk di haluan. Jarak antara keduanya cukup jauh. Riuh-rendah tetamu yang masih berpesta dan mabuk di luar kamar masih terdengar, sedangkan suasana di dalam kamar sangat tenang dan damai.

Amongraga tak lantas bersanggama dengan istrinya. Dan terus begitu hingga malam keempat puluh. Selama itu, Amongraga mengajarkan sejumlah rahasia kepada istrinya agar persanggamaan mereka mencapai penyatuan sejati. Sebelum tibanya malam itu, keduanya hanya saling menatap dan berbicara. Mereka bertelanjang secara bertahap sesuai dengan tingkatan mistiknya. Semakin tinggi tingkatan mistiknya, semakin tinggi pulalah ketelanjangannya.

Tingkatan mistik tercapai berkat ajaran-ajaran Amongraga yang diambil dari mistisisme Islam dan asmaragama (seni bercinta Jawa). Ajaran Islamnya bersumber dari buah pikir sufi Timur Tengah seperti Al-Jili, Abdul Qadir al-Jailani, Al-Ghazali, dan Rumi. Sedangkan ajaran asmaragama bersumber dari tradisi tantrisme dan falsafah Jawa Kuno. Karena asmaragama, banyak yang menganggap Serat Centhini sebagai Kamasutra Jawa. “Memang ada yang menyebut seperti itu, tapi saya kira Centhini bercerita tentang banyak hal. Lebih luas daripada Kamasutra, ”kata Elizabeth Inandiak.

Amongraga menyadari sepenuhnya apa yang diajarkannya selama empat puluh malam, pun juga dengan Tambangraras. Jiwa mereka terbakar dalam api asmara. Dan mencapai puncaknya pada malam ke empatpuluh. Saat itulah, mereka menyatukan tubuh. Tak ada laki-laki, tak ada perempuan. Manunggal. Demikianlah puncak erotika. Inandiak menyebut itu sebagai paduan sir (nafsu dalam bahasa Jawa) dan sir (rahasia dalam bahasa Arab). “Nafsu yang mengangkat asmaragama ke alam gaib (rahasia),”. Sesuatu yang pada hematnya menjadi padanan kata paling tepat untuk erotika dan tidak ditemukan dalam alam pikiran orang Barat melalui pembacaannya terhadap karya sastra mereka. “Sepanjang pengetahuan saya, mudah-mudahan saya salah, tak ada kesusastraan Eropa yang menggabungkan seks dan mistik seperti ini,” katanya menutup diskusi. (BERSAMBUNG)

2 Comments

Filed under Uncategorized

SEKS DALAM PERADABAN & KEBUDAYAAN JAWA (1) : Untuk Membentuk Insan Kamil Nan Mulia.

Kitab Pararaton.

1. “Demikianlah Bhatara Brahma mencari-cari pasangan untuk bersetubuh, maka adalah sepasang pengantin baru, sedang saling mencintai dengan mesra, yang pria bernama Gajahpara, yang wanita bernama Ken Endok, mata pencahariannya bertani. Ken Endok pergi ke sawah mengirim makanan suaminya Gajahpara, nama sawahnya Ayuga, sedangkan tempat kediamannya bernama Pangkur.

Turunlah Bhatara Brahma menyetubuhi Ken Endok, tempat persetubuhan itu bernama Tegal Lalateng.Dewa Brahma berpesan kepada Ken Endok, ‘Janganlah engkau bersetubuh dengan suamimu lagi. Jika engkau bersetubuh dengan suamimu, suamimu akan meninggal, karena kecampuran dengan anakku itu. Nama dari anakku nanti Ken Arok. Dialah yang kelak membawa perubahan besar di Pulau Jawa.”

2. “Adalah seorang pencari tuak di hutan milik penduduk desa Kapundungan, dia mempunyai seorang anak perempuan cantik. Anak ini ikut ayahnya ke hutan. Oleh Ken Arok gadis ini diperkosa di tengah hutan, nama hutan itu Adiyuga.”

3. “kebetulan bertemulah Ken Arok dengan anak gadis penghulu desa Tugaran yang sedang bertanam kacang di ladang. Maka anak gadis itu diperkosa oleh Ken Arok. Lamalah hal ini berlangsung. Itulah sebabnya biji-biji kacang di Tugaran besar-besar dan enak rasanya.”

Petikan di atas mengisahkan tiga peristiwa hubungan seks dari enam masalah yang terkait dengan seks dalam kitab Pararaton, yaitu kitab yang menceritakan tentang Ken Arok, Kerajaan Singasari dan Kerajaan Majapahit, abad XIII sampai dengan XV.

Para sahabat, topik pembicaraan kita kali ini adalah “Seks Dalam Peradaban & Kebudayaan Jawa. ” Pengertian seks di sini tentu bukanlah semata-mata terbatas pada makna jenis atau alat kelamin, melainkan segala hal yang berkaitan dengan masalah seks, baik itu masalah seksual, seksualitas atau pun kehidupan seks masyarakat Jawa, yang sudah menjadi adat istiadat dan membudaya.

Pengetahuan tentang sesuatu budaya dan peradaban yang berlangsung jauh di masa silam, pada umumnya diperoleh dari bukti-bukti sejarah, baik yang tertulis dalam suatu kitab, prasasti, peninggalan benda sejarah seperti relief candi maupun cerita yang dituturkan dari mulut ke mulut. Demikianlah, kisah perilaku seseorang dalam memenuhi hasrat seksualnya di abad XIII, dalam hal ini Ken Arok, Tunggul Ametung dan bahkan Dewa Brahma, dikisahkan dalam kitab Pararaton di atas.

Sejarah tentang seks, adalah sama panjangnya dengan kisah kehidupan dan perdababan manusia, semenjak penciptaan Adam-Hawa, disambung perseteruan Habil dan Khabil putera Adam, dan terus berlanjut sampai di awal tahun 2015 sekarang yang mewarnai kasus perseteruan POLRI vs KPK.

Kuda liar yang harus dikendalikan.

Ulama-ulama tasawuf menggambarkan hasrat seks sebagai nafsu yang bak kuda perkasa. Nafsu itu diperlukan agar manusia hidup dinamis hamemayu hayuning bawono atau rahmatan lil alamien, namun ia tidak boleh bagaikan kuda liar yang melonjak-melonjak, berlarian tiada arah tujuan menerjang serta merusak apa saja. Oleh karena itu nafsu termasuk nafsu seks harus dikendalikan secara baik lagi tepat guna.

Hasrat seks yang seperti kuda liar di masa Kerajaan Singasari tersebut oleh raja-raja Majapahit yang merupakan keturunan dari Ken Arok, dikendalikan melalui Perundang-Undangan Majapahit (Prof.Dr.Slamet Muljana, penerbit Bhratara, 1967). Ada enam kejahatan yang disebut tatayi, salah satunya adalah merusak kehormatan wanita, yang pelakunya diancam dengan pidana mati. Demikian pula masalah perkawinan, warisan dan gangguan terhadap perempuan yang sudah bersuami, diatur serta dilindungi oleh Undang-Undang.

Bukti sejarah tentang gambaran kehidupan seks dalam peradaban dan kebudayaan Jawa, sudah ada semenjak abad IX, sebagaimana terpahat dalam relief Candi Borobudur di Jawa Tengah. Candi Borobudur memiliki 1460 panel relief dan 504 stupa. Dari panel relief sebanyak itu, ada 160 panel yang sengaja ditimbun tanah karena reliefnya dianggap vulgar dan cabul. Panel-panel itu terletak di bagian paling bawah, yang disebut Kamadhatu, yang sekaligus dijadikan sebagai pondasi candi. Panel relief yang tersembunyi ini menggambarkan adegan Sutra Karmawibhangga atau hukum sebab-akibat kehidupan, yakni gambaran perbuatan yang mengikuti hawa nafsu manusia, seperti bergosip, membunuh, menyiksa dan memperkosa. Juga ada adegan-adegan seks dalam berbagai posisi.

Kehidupan seks di masyarakat mana pun di dunia ini semenjak zaman baheula sampai kini, pada hemat saya sama saja. Ada yang berlangsung bebas, ada yang binal dan liar, namun secara umum dan formal ditempatkan sebagai sesuatu yang sakral. Gambaran campur aduk tersebut dijumpai juga di Jawa, sebagaimana dikisahkan dalam kitab Serat Centhini (Centini) yang oleh para sastrawan dianggap sebagai ensiklopedi Jawa.

Serat Centhini yang ditulis oleh para pujangga Keraton Kasunanan Surakarta selama lima tahun dari semenjak 1809 sampai 1814 setebal lebih 4000 halaman, mengisahkan berbagai aspek kehidupan dengan latar belakang kehidupan masyarakat pada masa kekuasaan Sultan Agung tahun 1613 – 1645.

Sekitar tiga puluh tahun sebelumnya, Raden Rangga Prawiradirja, seorang pejabat Keraton Yogyakarta yang ditugaskan menjadi wedana di Madiun pada 1755 – 1784, menggubah cerita roman sejarah yang menjadi sangat legendaris, dengan latar belakang situasi di kerajaan Majapahit pada sekitar terjadinya Perang Paregreg awal 1400. Cerita roman sejarah itu dinamakan Serat Damarwulan, yang disusun dalam bentuk tembang-tembang macapat nan merdu. Di dalamnya disisipkan sejumlah adegan seks antara lain sebagai berikut:

“Swarga nraka sampun pisah gusti, dhuh mas mirah atma jiwaningwang, pupujan ingsun mas angger, sagunging para arum, samya sanget ageng kang brangti, harjasa luwih, Raden Damarsantun, amatek asmaragama, para putri wus marem kadya saresmi, kena asmaragama.”

Bait itu mengisahkan bagaimana Raden Damarwulan memenuhi dahaga seks semua isterinya, yaitu permaisuri dan para selirnya sekaligus dengan menggunakan ajian asmaragama, yaitu suatu ajian yang membuat semua isterinya merasa sudah melakukan hubungan seks secara memuaskan, padahal yang disetubuhi hanya salah seorang saja, bahkan bisa tidak seorangpun.

Pada bagian lain dikisahkan pula bagaimana Sang Raja menggauli pertama kali gadis pingitannya dari desa, yang semula agak takut-takut, tapi kemudian berlangsung sampai mandi keringat sambil sang gadis mendesah mesra:

“Ken Warsiti mingser semu ajrih, glis sinambut pan kanuswa-kuswa, binekta tilam sarine, Nata ndhatengken kayun, lan Warsiki karon ing resmi, angga tan padya muga, cipta lir binanjut, riwe kumyus aturasan, ngesah asih Warsiki sesambat mati, Sang Nata wlas tumingal.”

Meskipun mengisahkan persanggamaan, kedua bait di atas didendangkan dalam irama tembang Dandhanggula yang bernuansa meditatif kontemplatif, sehingga tidak terkesan vulgar.

Kitab Kawruh Sanggama yang ditulis oleh Raden Bratakesawa tahun 1926 menyebutkan, salah satu tanda yang menunjukkan seorang wanita mencapai kepuasan seks adalah “pratandhanipun malih manawi wanita wau sampun madhar prasa, sariranipun ngalumpruk marlupa kados oncat yitmanipun sarta asasambat ingkang damel trenyuh ing manahipun priya. Tumrap wanodya ingkang sampun asring-asring leledhang ing taman lambang sari, asring sambat pejah, boten purun pisah, sasaminipun kados inggih-inggiha. Tubuhnya terpuruk tiada daya, nyawanya bagaikan melesat meninggalkan raga, mendesah mengeluh minta pertolongan sehingga membuat terharu hati lelaki. Bagi wanita yang sudah terbiasa melepas birahi di taman cinta, bahkan sering mengeluh rasanya seperti hendak mati, tak mau berpisah seperti sungguh-sungguh saja.”

Cara memuaskan pasangan wanita dan tanda-tanda tatkala mencapai klimaks hubungan seks, menjadi kewajiban dan harus dipahami oleh seorang lelaki. Karena itu maka diajarkan dalam kitab Kawruh Sanggama (Pengetahuan tentang Sanggama) dan Serat Nitimani dengan cara yang indah dan tidak vulgar. Serat Nitimani menurut pengarang kitab Kawruh Sanggama, juga menjadi salah satu sumber rujukannya.(bersambung).

Leave a comment

Filed under Uncategorized

PERAYAAN VALENTINE, MUSIK JIWA KAPITALISME GLOBAL YANG HARUS DIWASPADA

Hari Valentine Itu Peringatan Untuk Santo Velentinus.
Tulisan ini adalah tulisan lama yang berjudul “Berhala Baru, Gaya Hidup Hedonarsis,” yang kami angkat kembali dengan judul baru, terkait dengan perayaan Hari Velentine, guna memberikan gambaran apa yang ada dibalik gegap gempitanya perayaan tersebut, agar kita tidak ikut mabuk menari mengikuti  gendang orang lain. Semoga Gusti Allah Yang Maha Kuasa, senantiasa menganugerahkan hidayahNya kepada kita bangsa Indonesia. Aamiin.

Gaya hidup hedonis dan narsis (hedonarsis) yang banal, yang memuja pesona dunia, harus kita akui tengah melanda masyarakat kita. Marilah coba kita kaji beberapa peristiwa yang sempat menjadi topik hangat pemberitaan media massa. Rita misalkan, bukan nama sebenarnya tapi dari peristiwa yang sungguh-sungguh terjadi, adalah seorang mahasiswi berusia 19 tahun. Siang itu, bukannya di perpustakaan untuk belajar, ia nongkrong di sebuah kafe di Plaza Senayan, Jakarta. Tak jauh dari mejanya, duduk beberapa orang, salah satu di antaranya pengusaha tajir bernama Abu Fatah, juga nama yang disamarkan.

Singkat kata mereka berkenalan dan berjanji malam hari bertemu di sebuah hotel berbintang lima.Tapi siapa menyangka malam itu di kamar hotelnya, mereka digerebek dan ditangkap petugas-petugas Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Rupanya Abu Fatah sedang menjadi target pengawasan atas dugaan korupsi berjamaah, yang dipantau ketat oleh KPK.

Begitulah jika Gusti Allah sudah membiarkan tabir penutup aib hamba-hamba-Nya tersingkap.Rita adalah seorang mahasiswi muda beliau dari keluarga sederhana, yang tak menyadari kemampuan ekonomi serta statusnya sebagai wanita dan mahasiswa, bergaya hidup bak orang kaya. Sementara Abu Fatah, adalah putera seorang ulama, alumni pondok pesantren dan bagian dari jaringan persahabatan tokoh-tokoh partai yang berlabel Islam, yang sedang hidup bergelimang pesona dunia.

Contoh kisah yang kedua, mahasiswa Ridho Ramanda, juga nama yang disamarkan, adalah seorang putera pejabat tinggi ternama, yang mengalami kecelakaan di jalan tol Jagorawi, pagi-pagi sekali pukul 05.45, setelah semalaman bergadang merayakan pesta tahun baru 2013 Masehi, yang tidak ada di dalam kamus kegiatan islami. Lantaran mengantuk, Ridho yang berusia 22 tahun ini menabrak mobil lain sehingga menewaskan dua orang dan mencederai tiga orang lainnya.

Kasus yang menyerupai Ridho, dialami oleh Abu Jamal, pun nama yang disamarkan, pelajar di bawah umur dengan usia 13 tahun yang ngebut dengan mobilnya di jalan tol pukul 00.45 sehingga mencelakai kendaraan lain dan merenggut tujuh nyawa manusia serta melukai sejumlah orang.

Ketiga contoh tadi, menggambarkan betapa gaya hidup generasi muda kita telah melenceng dari apa yang diajarkan oleh Islam dan Kanjeng Nabi Muhammad Saw. Bukan hanya pada keluarga mereka, tapi harus kita akui bahwa kekuasaan, kekayaan, harta benda dan pesona dunia telah menyilaukan matahati kehidupan banyak rumahtangga masyarakat kita dewasa ini. Padahal kita yakin mereka adalah keluarga-keluarga muslim yang pasti sering mengumandangkan tasbih, menyebut asma Allah nan Maha Suci serta shalawat nabi.

Namun memang tidak mudah menangkap energi api ajaran islami dibanding menangkap abunya. Sebagaimana dikisahkan perawi hadis Bukhari, suatu hari tatkala Baginda Rasul sedang berwudhu, para sahabat berebut menampung limbah atau musta’mal air tetesan wudhu yang mengalir dari sela-sela jari tangan Rasulullah. Para sahabat tersebut memanfaatkan air limbah itu buat membasuh muka masing-masing.

Kanjeng Nabi terkejut melihat air limbah wudhunya dipakai mambasuh muka para sahabat yang bersih itu.Beliau bertanya, “Wahai sahabat-sahabatku, apa yang sedang kalian lakukan? Mengapa air kotor bekas wudhuku kalian pakai membasuih muka?” Salah seorang menjawab, “Kami sedang menunjukkan rasa cinta kami kepadamu ya Rasulullah.” Kanjeng Nabi menggeleng dan bersabda, “ Tidak para sahabatku tercinta, bukan seperti itu cara kalian membuktikan cinta kepadaku. Jika memang kalian bena-benar mencintaiku, maka patuhilah ajaranku, dan kerjakan sunahku.”Beliau kemudian menegaskan, “Barangsiapa mencintai sunahku, berarti dia mencintaiku.Dan barangsiapa mencintaiku, pasti akan bersamaku di dalam surga.”

Sahabatku, kita sering secara gegap gempita merayakan hari-hari besar Islam, memperingati maulud atau hari kelahiran Nabi Muhammad Saw, bahkan mengumandangkan atau membaca shalawat setiap hari.Tentu itu semua bagus. Namun akan jauh lebih bagus lagi dan bermakna apabila kita bisa memetik hikmah dengan meneladani perilaku kehidupan mulianya, serta mentaati sabda, hadis dan sunahnya. Lebih jauh lagi, jangan sampai mulut kita mengumandangkan shalawat dan jari kita menghitungnya ratusan, bahkan ribuan, tapi perilaku kita menyimpang dan bertentangan dengan hadis serta sunahnya.

Tiga contoh peristiwa di atas, jelas-jelas menggambarkan betapa pragmatisme dan hedonarsis telah mempengaruhi kehidupan generasi muda penerus masa depan bangsa dan umat. Mereka hanyalah beberapa titik pada puncak gunung es berhala-berhala modern, penghamba pesona dunia, sebagai akibat bergesernya filosofi dan tata nilai kehidupan dari idealisme dan akhlak mulia, ke pragmatisme-materialisme yang berkembang semakin banal.Sebagian generasi muda kita telah menganut slogan kehidupan, “Kecil dimanja, muda foya-foya, tua kaya raya dan mati masuk surga.Hidup sekali, mati sudah pasti, karena itu nikmatilah dunia selagi kita hidup.”

Pergeseran filosofi dan tata nilai kehidupan ini, memang dirancang secara sengaja oleh Kapitalisme Global, yang secara sadar dan terpola, membentuk suatu tata dunia baru dengan gaya hidup masyarakat yang menekankan pentingnya kekuatan modal, ilmu dan teknologi, yang selanjutnya menghasilkan aneka produk gaya hidup moderen dalam segala bentuknya, baik yang berupa jasa maupun barang.

Dengan dukungan media massa yang berbasis teknologi canggih, mereka menggalang citra gaya hidup yang menekankan pada kebebasan individu, kepentingan diri dan pasar bebas. Sebuah contoh gaya hidup yang tidak islami namun bisa marak di Indonesia dengan penduduk mayoritas beragama Islam ini, adalah perayaan Hari Kasih Sayang setiap tanggal 14 Pebruari, yang dikenal sebagai Hari Valentine.Penggalangan citra super luar biasa ini, ditandai aneka produk dengan ciri warna dasar merah jambu, gambar simbol hati, bunga mawar dan coklat. Padahal hari Valentine adalah hari peringatan Gereja Katholik Roma untuk martir Santo Valentinus, yang digagas dan dicetuskan oleh Paus Gelacius I pada tahun 496, buat menandingi Hari Raya Lupercalia yang dilangsungkan setiap 15 Pebruari oleh Bangsa Romawi Kuno. Karena itu, untuk apa kita bangsa Indonesia terutama umat Islam harus ikut-ikutan merayakannya? Tentu bagi yang beragama Kristen Katholik silahkan saja, asalkan tidak sampai terjebak ikut mendendangkan musik jiwa Kapitalisme Global. Mengapa?

Kapitalisme Global telah menciptakan musik jiwa yang mampu membuat nilai tukar sebagai tujuan utama, dengan mengabaikan nilai-nilai kebenaran termasuk tradisi luhur bangsa-bangsa dan agama. Musik jiwa ini menurut Herbert Marcuse (One Dimensional Man,dalam berbagai tulisan di internet antara lain ungumerahmuda.blogspot.com, Abdul Muin Angkat blog dan Manusia Satu Dimensi, Yayasan Bentang Budaya, Yogyakarta 2000 ) bahkan telah menjadi sumber kekuasaan baru pasca Perang Dunia II, yaitu kekuasaan selera dan gaya hidup, yang dikemas dengan penggalangan citra, iklan dan promosi secara besar-besaran. Ia menyerbu ke segenap pelosok dunia, termasuk Indonesia, yang secara kebetulan sedang mengalami lompatan-lompatan budaya.

Kapitalisme Global dengan dalih rasionalitas, efektivitas dan produktivitas, menawarkan kebebasan berfikir, berbicara dan berkesadaran, telah menggilas nalar, budi luhur dan kearifan-kearifan tradisional, selanjutnya memobilisasi masyarakat secara total.

Kapitalisme Global telah melancakan perang semesta, sebagaimana perang yang paling dikuatirkan Rasulullah Saw, yaitu bukan perang fisik seperti Perang Badar, melainkan perang di wilayah batin dan jiwa manusia. Perang semesta merupakan perang moderen yang paling dahsyat, yang bukan lagi ditentukan oleh benteng-benteng batu nan kokoh serta meriam-meriam, melainkan perang budaya dan gaya hidup yang mampu menembus masuk ke ruang-ruang pribadi di dalam rumahtangga setiap penduduk dunia.

Perang semesta bisa dengan cepat dan tanpa disadari target sasarannya, menyingkirkan budaya, nilai-nilai agamis dan tata nilai lainnya, sekaligus membangun alam pikiran baru yang terpadu secara total, yang pada hakekatnya membangun gaya hidup yang individualistis, pragmatis, hedonis, materialistis dan narsis.

Dengan musik jiwa dan gaya hidup, Kapitalisme Global telah menciptakan kebutuhan-kebutuhan palsu yang menyihir dan menghisap individu-individu ke dalam pusaran sistem produksi dan konsumsi. Media massa, budaya termasuk film dan musik, industri periklanan, penggalangan citra, manajemen dan cara-cara berfikir sempit, semuanya diarahkan untuk memproduksi sistem represif yang melenyapkan negativitas, kritik dan perlawanan. Sistem yang seperti ini membentuk masyarakat industri maju lintas negara yang moderen, dengan pola pemikiran yang berdimensi satu, yang tidak mengenal alternatif.

Di dalam ketatanegaraan dan politik praktis, hal itu bisa dilihat dari fenomena partai-partai, yang secara ideologis tidak lagi memiliki perbedaan. Mereka seolah-olah menawarkan perbedaan dan perubahan, namun sejatinya tidak ada bedanya antara partai satu dengan yang lain.

Manusia moderen mengira dirinya benar-benar hidup bebas dalam dunia yang menawarkan aneka kemungkinan untuk dipilih, diraih dan diwujudkan, padahal kebebasan yang dikehendakinya sesungguhnya hanyalah apa yang sudah didiktekan oleh Kapitalisme Global kepadanya.

Ketiga contoh peristiwa yang mengawali tulisan ini, dengan gamblang menggambarkan serangkaian perilaku masyarakat yang mengabdi pesona dunia dengan kebebasannya. Demikian pula berbagai fakta di persidangan kasus-kasus korupsi yang hampir setiap hari digelar beberapa tahun belakangan ini, menunjukkan keterlibatan para tokoh dari lintas profesi dan pilar kekuasaan, mulai dari pengusaha, legislatif, eksekutif sampai dengan yudikatif. Mereka menunjukkan perilaku mengejar kekuasaan dan kekayaan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya dengan segala cara. Mau serba enak secara instan, sehingga mengabaikan ajaran-ajaran moral dan agama.Kesalehan hanya sebatas formalitas bahkan dijadikan sebagai topeng.Puji-pujian terhadap Yang Maha Kuasa dan Kanjeng Nabi hanyalah penghias bibir belaka.

Sahabatku, tasawuf mengajarkan para penganutnya untuk membangun akhlak luhur dan budi mulia, hidup bersih, sederhana dan mengabdi, yang tidak silau apalagi memuja pesona dunia.Islam diturunkan bukan untuk meluapkan kebebasan individual dan kepentingan diri, melainkan mengabdi pada kebersamaan dan harmonisasi dalam mewujudkan rahmat bagi semesta alam. Bukan hanya bagi manusia, bahkan bukan hanya untuk sesama muslim. Karena itu Rasulullah senantiasa menunjukkan keteladanan dalam kehidupan sehari-hari. Beliau hidup sangat sederhana, zuhud dan wara, lembut lagi penuh kasih sayang terhadap sesamanya, sampai-sampai semua benda perlengkapan hidupnya, juga binatang piaraannya diberi nama serta panggilan kesayangan. Beliau juga sangat menjaga perasaan orang lain, sebagaimana contoh sederhana yang diriwayatkan Bukhari dan Muslim, “Apabila kalian bertiga, maka janganlah dua orang berbisik-bisik dengan membiarkan, tidak mengajak yang ketiganya.”

Maka, marilah sama-sama kita renungkan dan hayati gumaman isteri beliau, Siti Aisyah, di pinggir makam Rasulullah pada malam pertama setelah pemakaman:

“ Wahai laki-laki yang tak pernah mengenakan sutera.

Wahai laki-laki yang tak pernah tidur di atas tilam nan lembut.

Wahai laki-laki yang hingga saat meninggalnya belum pernah

kenyang dengan roti gandum yang lezat-lezat.

Wahai laki-laki yang menyukai dipan kasar dibanding ranjang mewah.

Wahai laki-laki yang sering beberapa malam tidak tidur karena takutnya pada neraka (yang mengancam umatnya).”

(Sumber: K.H.Abdurrahman Arroisi dalam 30 Kisah Teladan dan K.H.Firdaus AN dalam Detik-Detik Terakhir Kehidupan Rasulullah).

2 Comments

Filed under Uncategorized

HIKMAH PETRUK (JOKOWI) JADI RATU

Banyak orang yang mengibaratkan Presiden Jokowi, yang memang juga berpostur sama, bagaikan Petruk Jadi Ratu (PRT). Kisah atau lakon PRT adalah carangan atau ranting cerita khas Jawa, yang dikarang oleh Sunan Kalijaga sebagai sarana dakwah. Lantaran hanya carangan, maka lakon itu tidak dijumpai dalam pakem atau babon induk cerita Mahabarata.
Petruk yang kurus tinggi, kampungan-ndeso katruk, adalah seorang rakyat biasa, bahkan jongos atau abdi dalem dari para ksatria Pandawa. Pandawa adalah para ksatria istimewa yang dipimpin oleh seorang raja yang tidak mau mengenakan mahkota serta berbagai atribut kebesaran seorang raja.

Sang Raja yakni Puntadewa, dilukiskan oleh Sunan Kalijaga dalam wayang kulit, sebagai raja yang rambutnya digelung sederhana tanpa mahkota. Mukanya senantiasa menunduk. Perilakunya lemah lembut bagaikan orang yang tiada daya, sehingga terkesan tidak mampu berperang, tidak bisa berkelahi. Ia tidak pernah marah, hatinya suci bersih sehingga digambarkan darahnya tidak berwarna merah melainkan putih. Namun tatkala pasukannya terdesak dan tiada satu pun perwira perangnya yang mampu menandingi Panglima Perang musuh, Puntadewa maju ke medan laga, turun dari kereta perang berjalan kaki menyerbu lawan dengan menenteng busur panah beserta keyakinan mutlak terhadap hikmah kekuatan dua kalimat syahadat. Akibatnya para jin setan peri perayangan yang membantu musuhnya, seketika musnah. Sementara anak panahnya melesat bagaikan kilat menembus Prabu Salya sang lawan sehingga tewas.

Puntadewa dalam versi dakwah Sunan Kalijaga, adalah ciri seorang pemimpin satria pinandita, seorang satria atau umara yang berjiwa pendeta atau ulama. Ia memimpin negeri Amarta dengan pusaka andalan Jamus Kalimasada, yang tiada lain adalah dua kalimat syahadat. Itu berarti ia senantiasa taat kepada Gusti Allah dan Kanjeng Nabi Muhammad, dengan menghayati segala perintah dan ajarannya, termasuk memegang teguh empat bekal utama kepemimpinan Kanjeng Nabi yang diringkas sebagai STAF yaitu (1) Sidiq atau benar, jujur baik dalam pikiran, perkataan maupun perbuatan; (2) Tabligh atau memberikan pencerahan dan pentunjuk; (3) Amanah atau bisa dipercaya dan bertanggungjawab; (4) Fatonah atau cerdas, meskipun beliau buta huruf.

Puntadewa adalah contoh pemimpin ideal yang rendah hati, tawadu, ikhlas, tidak riya dan tidak ujub. Tidak sombong, tidak suka pamer dan tidak suka dipuji. Hidup dan tampil amat sederhana, bagaikan rakyat jelata, sangat jujur dan adil serta mengabdi untuk kesejahteraan rakyat. Semua akhlak mulia itu ditularkan serta menjadi pegangan hidup para ksatria Pandawa lainnya, sehingga negara dan rakyatnya hidup tenteram, makmur sejahtera.

Namun demikian pada suatu masa, ketenteraman, kemakmuran dan kesejahteraan rakyat terguncang hebat. Semua itu lantaran para elite kehilangan pusaka Jamus Kalimasada, artinya ketaatannya kepada Gusti Allah dan Kanjeng Nabi lenyap. Ini berarti semua keseimbangan kehidupan dengan tatanan baiknya porak poranda. Para elite negeri Amarta tidak STAF lagi. Perkataan dan perbuatannya tidak bisa dipegang, suka bohong dan tidak jujur. Perilakunya membingungkan rakyat dan tidak bisa dijadikan panutan, menyesatkan dan tidak bisa lagi memberikan pencerahan. Para punggawa kerajaan, yaitu birokrat sipil, militer dan polisinya tidak bisa dipercaya serta tidak bertanggungjawab. Korupsi merajalela, hak-hak rakyat dilibas. Kezoliman dan ketidakdilan merajalela. Pedang keadilan tajam ke bawah tapi tumpul ke atas. Keadilan hanya bagi para elite dan keluarganya. Mereka juga kehilangann hidayah dan tidak cerdas lagi. Kebijakan dan langkah-langkahnya konyol lagi tumpul, salah melulu bahkan meresahkan rakyat.

Para elite dan punggawa kerajaan, bahkan para pendeta, brahmana dan ulama sudah menurunkan derajatnya sendiri ke kasta para pedagang. Apa saja kewenangan yang diamanahkan pada diri mereka diperdagangkan. Politik uang bersimaharajalela. Semua urusan harus dengan uang tunai. Rasuah, hadiah atau gratifikasi yang dilarang keras oleh Kanjeng Nabi, dihalalkan. Sementara mulutnya rajin bersholawat memuji Kanjeng Nabi, namun kelakuannya bertolak belakang.

Adalah seorang rakyat jelata, bahkan seorang jongos abdi dalem kstaria Pendawa, yang tergugah melancarkan revolusi membongkar habis tatanan kehidupan yang penuh kemungkaran dan kemunafikan tersebut. Dialah Petruk, anak Semar, yang kemudian bersekutu dengan ruh tokoh kstaria pewayangan nan sakti mandraguna lagi lurus, yakni Hanoman dan Wisanggeni. Adapun nama Petruk, berasal dari kata fat-ruk, artinya tinggalkanlah. Fat-ruk kullu man siiwallahi, tinggalkanlah segala apa yang selain Allah.

Dengan bekal Jamus Kalimasada yang tidak dirawat secara baik oleh Pandawa dan kemudian dikuasainya, Petruk menobatkan dirinya sebagai Ratu bergelar Wel Keduwelbeh, merebut terlebih dulu Kerajaan Astina dari para Kurawa yang derajat kemungkarannya jauh lebih tinggi dibanding Pandawa. Selanjutnya menundukkan para ksatria Pandawa, serta menjadikan mereka bagai rakyat jelata yang harus bekerja keras mengolah sumber daya alam, dan membagikan hasilnya kepada rakyat banyak. Tatanan kenegaraan yang anarkis secara sistem, dirombak, para punggawa yang zolim dan tidak mau bertobat dihukum sekeras-kerasnya.

Bagaimana kelakuan dan penampilan sang Petruk sesudah menjadi Ratu itu? Walaupun ia mengenakan berbagai atribut kebesaran seorang ratu, tetap saja penampilan dan kelakuannya tidak berubah. Mahkota yang bertengger di kepalanya nampak kebesaran. Baju rompi atau jasnya kedodoran, bahkan memasangkan kancingnya saja tidak beraturan. Kancing atas dimasukkan ke lobang kancing bawah. Sementara itu kakinya lecet tatkala mengenakan terompah keratuan. Ia merasa lebih nyaman tanpa terompah. Bahkan tidurnya tidak pula di kamar kstaria dengan kasur nan empuk, melainkan di kompleks kandang ternak dengan bau khas kotoran hewannya yang menyengat. Makanannya pun tetap kampungan, sampai-sampai juru masak istana kewalahan mencari jengkol dan pete kesukaannya. Belum lagi para protokol dan petugas keamanan kerajaan, seringkali harus tungganglanggang lantaran Sang Ratu Petruk bertingkah dan berperilaku tidak mengikuti adat kebiasaan dan protokoler keratuan. Pokoknya semua aturan yang mengesankan kejumawaan kaum elite dijungkirbalikan. Sekat-sekat protokoler yang membuat jarak, yang memisahkan kaum elite dengan rakyatnya dibongkar dan dibuang.

Satu hal yang meresahkan Petruk adalah, ternyata ia tidak mampu duduk di singgasana atau kursi kerajaan. Berulangkali ia coba selalu terjungkal jatuh. Sampai kemudian ia memperoleh bisikan gaib, yaitu ia bisa duduk di singgasana asalkan sambil memangku bayi ksatria Abimanyu. Siapakah Abimanyu? Ia adalah anak Arjuna yang sudah digariskan para Dewa akan menurunkan para raja.

Masa keratuan Petruk tidaklah lama. Setelah sumber daya alam yang diolah para ksatria menghasilkan dan dibagi merata secara adil demi kesejahteraan rakyat, setelah kezoliman dan kepongahan para elite kerajaan runtuh, maka Sri Kresna yang waskita memanggil Semar, yaitu dewa sakti yang hidup di dunia untuk mengawal dharma kekesatriaan, turun tangan mengakhiri tugas revolusioner Petruk, anaknya sendiri. Revolusi menurut Kresna, hanya boleh berlangsung singkat, cepat dan tidak boleh berlarut-larut apalagi melebar kemana-mana. Selanjutnya harus cepat ditata kembali mengikuti kaidah dan tata kenegaraan serta tata kelola pemerintahan yang baik, yang menempatkan ketenteraman negeri dan kesejahteraan rakyat sebagai dharma utama para ksatria. Para elita harus mampu hamemayu hayuning bawana atau mewujudkan rahmatan lil alamin, yaitu mewujudkan rahmat bagi semesta alam secara lestari berkelanjutan.

Sahabat-sahabatku, itulah pada hemat saya, hakikat dari lakon Petruk Jadi Ratu, cerita dakwah yang penuh hikmah karangan ulama tasawuf Sunan Kalijaga. Petruk Jadi Ratu adalah simbol dari suatu revolusi spiritual keagamaan yang sarat ilmu hikmah. Sayang sekali kisahnya terlanjur banyak dikemas menjadi cerita konyol, lucu-lucuan yang banal.

Karena itu kalau toh lakon ini mau dianalogikan dengan Presiden Jokowi sebagaimana banyak dijadikan bahan omongan dan ditulis di berbagai media massa terutama media sosial, marilah kita melihatnya dengan prasangka baik, dengan mencoba mengambil hikmah-hikmahnya tadi. Tanpa suratan takdir Allah Yang Maha Kuasa, tak mungkin Jokowi sang pedagang mebel yang ndeso tinggi kurus seperti Petruk, yang jauh dari lingkaran dalam spiral kekuasaan, tiba-tiba dalam tempo singkat bisa menjadi Presiden dari negeri maritim yang besar dengan penduduk sekitar 260 juta jiwa ini. Seperti meteor, dalam sekejab melesat masuk ke pusat terdalam lingkaran spiral kekuasaan.

Satu hikmah lagi yang patut direnungkan adalah adegan Petruk memangku bayi Abimanyu, pewaris keratuan. Adegan ini mengajarkan hakikat adanya kaitan erat antara rakyat yaitu Petruk dan para elite kepemimpinan yaitu Abimanyu. Rakyat bisa hidup tenang jika menghargai dan menghormati pemimpinnya, demikian pula pemimpinnya bisa duduk di singgasana kekuasaan karena dipangku, karena bertumpu pada rakyatnya. Itulah hakikat keterkaitan hubungan rakyat dengan pemimpinnya, yang harus dijaga baik dan tidak boleh dipisahkan.

Apakah Pak Jokowi betul-betul bagaikan Petruk yang hanya memerintah sementara? Waallahualam. Hanya Gusti Allah Sang Pemilik Kerajaan dan Kemuliaan yang tahu. Tugas dan kewajiban kita hanyalah kecuali berprasangka baik tanpa harus meninggalkan kewaspadaan, juga harus berusaha dengan cepat memetik berbagai buah hikmah dari peristiwa ini. Janganlah kita hanya selalu berprasangka buruk dalam kekeruhan batin dan suasana, sehingga tak pernah bisa tercerahkan, tak mampu melihat kehadiran apalagi memetik buah-buah hikmah, sampai datangnya revolusi peradaban yang sesungguhnya dari Gusti Allah, Sang Maha Raja di Raja Lagi Maha Kuasa. Naudzubillah.
Beji 12 Februari 2015.

Leave a comment

Filed under Uncategorized

SEKS DALAM PERADABAN & KEBUDAYAAN JAWA : Urun Rembug Kelirumologi Institut Jaya Suprana

Pusat Studi Kelirumologi dan Jaya Suprana School of Performing Art. akan menyelenggarakan urun rembug tentang

Seks Dalam Peradaban & Kebudayaan Jawa, insya Allah:
Hari, tanggal: Sabtu, 14 Februari 2015
Waktu : mulai jam 15.00 wib
Tempat : Balairung Jaya Suprana Institut, Mall of Indonesia, Kelapa Gading. Jakarta.
Yang berminat bisa menghubungi: 02145868303 atau 02145867870

 poster saresehan seks dalam budaya Jawa

Leave a comment

Filed under Uncategorized

FILOSOFI KEHIDUPAN ORANG JAWA: Kandungan Makna Suluk Kidung Kawedar (2)

Memahami Tujuan Hidup.

Bait 9 Kidung, masih menunjukkan betapa besar fadilah serta hikmah dari Kidung Kawedar atau Kidung Rumekso Ing Wengi. Begitu besar manfaatnya, mulai dari untuk urusan bercocok tanam misalkan padi, sampai dengan hendak berangkat ke medan perang. Semuanya bisa diatasi dengan daya perbawa atau hikmah dan fadilah Kidung yang tiada lain merupakan berkah dari Gusti Allah Yang Maha Kuasa.

Bait 10 adalah bait yang tergolong sulit menafsirkannya, bisa banyak tafsir. Bait ini penuh tamzil, apalagi jika di benak kita sudah memiliki tujuan tersendiri tanpa bisa mengosongkannya. Apabila semata-mata menelaah berdasarkan huruf dan kata-kata, bisa jadi itu menggambarkan pengembaraan Sunan Kalijaga semenjak masih sebagai remaja yang nakal luar biasa di daerah Tuban, Jawa Timur, sampai disadarkan oleh saudaranya yakni Sunan Bonang sehingga kemudian berguru kepadanya, dan selanjutnya beruzlah bertahun-tahun di tengah hutan di pinggir sungai (kali) di daerah Cirebon, Jawa Barat, sehingga diberi sebutan Sang Penjaga Kali atau Kalijaga. Kanjeng Sunan Kali yang nama aslinya Raden Mas Said dan merupakan putera Adipati Tuban, harus banyak berjalan naik-turun gunung dengan segala daya kemampuannya, mencari jati diri dan Tuhannya. Di banyak tempat ia memiliki banyak nama panggilan, sebagaimana kebiasaan rakyat jelata di Jawa memanggil nama seseorang berdasarkan penampakan fisik, perilaku dan atau kelebihannya. Tentu saja itu semua adalah nama yang semu, nama yang samar atau samur, terutama guna menyamarkan dirinya agar tidak dikultuskan masyarakat.

Bait tersebut dimaknai sebagai penggambaran hubungan Gusti Allah dan manusia tatkala masih dalam alam ruh, serta gambaran tentang singgasana dan kediaman Allah di Baitul Makmur, Baitul Muharram dan Baitul Muqaddas.

Kembali pada pokok bahasan yaitu Kidung Kawedar, manusia yang masih berupa ruh dan berada di alam ruh digambarkan kekuatan dan perjalanannya sampai ditiupkan ke rahim ibu. Kidung Kawedar juga bisa disebut Kidung Hartati, yaitu Kidung yang memiliki karsa yang utama. Karsa adalah daya kekuatan jiwa yang mendorong makhluk hidup untuk berkehendak. Ruh ini dianugerahi arta daya, yakni kebijaksanaan dan kekuatan batin termasuk rasa belas kasih.

Setelah turun ke bumi menjadi manusia, Gusti Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, membekali manusia dengan hakikat kediamannya yaitu hakikat Baitul Makmur di kepala dan otak, Baitul Muharram di dada dan kalbu, serta Baitul Muqaddas di dalam kemaluan berupa inti sari benih kehidupan.

Sahabatku, bait 11 mengajarkan kepada manusia untuk memahami diri dan tujuan hidupnya. Siapa yang bisa memahami diri dalam bertindak, bisa tepa slira atau mencoba terlebih dahulu menerapkan pada dirinya sendiri terutama apabila mau berbuat yang kurang baik terhadap orang lain, ibarat orang yang tahu kebijaksanaan dan kekuatan hidup. Orang yang tahu tujuan perjalanan kehidupannya, ke mana dan mengapa Allah menurunkan ke dunia, berarti bagaikan orang kaya yang rumahnya berpagar besi. Di masa lalu, hanya Raja yang mampu memagari istananya dengan besi atau tembok. Rakyat kebanyakan hanya bisa membuat pagar hidup dari tetumbuhan yang hidup subur atau pagar kayu dan bambu yang dipotong-potong ditata rapi. Orang yang tahu tujuan hidupnya, akan dijaga oleh orang sejagad. Pembahasan perihal tujuan hidup ini insya Allah kita lanjutkan di seri berikutnya.

Bait kesebelas ini kembali ditutup dengan fadilah dan hikmah bagi siapa yang melantunkan dan menghafalnya. Jika dibaca tamat dalam semalam maka yang membacanya akan dihindarkan dari perbuatan jelek, baik dirinya sendiri yang tidak akan melakukan perbuatan-perbuatan buruk atapun perbuatan buruk dari orang lain kepadanya.

Di bagian atas sudah kita singgung versi lain yang menyatakan membaca selama sepuluh malam. Masalah angka dan hitungan juga disinggung dalam bait 7 baris kelima “bacalah 25 kali dengan lembut”, serta bait 8 baris ketiga “selama 40 hari saja.” Pada hemat serta pengalaman penafsir, hitungan angka seperti halnya kita sering berzikir, sangat bermanfaat guna melatih indera pendengaran dan batin kita. Tetapi yang lebih penting lagi adalah memahami serta menghayati makna dan hakikat sesuatu bacaan zikir di dalam pikiran dan perbuatan kita. Itu bisa terjadi jika kita sudah bisa melaksanakan zikir kalbu, yaitu kalbu kita senantiasa mengingat Allah, mengikuti denyut jantung serta tarikan nafas kita. Semoga.

Keutamaan Orang Yang Memahami Tujuan Hidup.

Filosofi hakikat dan tujuan hidup, sangat populer dan menjadi panduan kehidupan bagi orang-orang Islam Kejawen. Filosofi ini dinamai “sangkan paraning dumadi”, yang berarti asal mula dan tujuan dijadikannya manusia atau kehidupan manusia. Filosofi ini menggambarkan perjalanan kehidupan manusia sedari masih di dalam alam ruh sampai dengan kehidupan di akhirat kelak.

Ungkapan yang menyatakan manusia hidup ibarat sekedar singgah untuk minum, amat populer bagi orang Jawa. Sama populernya dengan ungkapan, Gusti Allah ora sare atau Gusti Allah tidak tidur. Yang pertama berasal dari sabda Kanjeng Nabi Muhammad, sedangkan yang kedua berasal dari Al Qur’an ayat Kursi. Karena hanya sekedar singgah minum dalam suatu perjalanan seorang musafir, maka waktu untuk singgah adalah pendek. Waktu yang pendek ini harus digunakan sebaik-baiknya, serta diisi dengan kegiatan dan hal-hal yang bermanfaat sebagai bekal demi sukses dan tercapainya maksud dan tujuan perjalanan.

Manusia akan bisa menghayati tujuan serta hakikat kehidupan apabila selalu ingat serta menyatukan segala potensi dirinya, terutama karsa utamanya dengan Sang Maha Pencipta. Manusia yang seperti itu akan selalu dijaga dan disayang Tuhan, sehingga keinginan-keinginannya mudah dikabulkan. Untuk bisa memahami tujuan serta hakikat hidup, tidaklah harus bisa membaca dan menuliskan Kidung Kawedar ini, namun yang paling penting adalah menyimpan di hati nuraninya pemahaman dan makna Kidung, dan selanjutnya, ini justru yang terpenting, mengamalkan dalam kehidupan (bait 12 dan 13).

Bait 13 adalah bait yang banyak menggunakan kata-kata Jawa Kuno dan Jawa Tengahan yang multi tafsir, misalkan muja semedi, sasaji ing segara, dadya ngumbareku, hartati dan sekar jempina. Muja semedi dalam kidung ini tidaklah berarti bersemedi dalam pemahaman Syiwa – Buddha, melainkan mengingat dan berdoa kepada Tuhan. Sedangkan yang dimaksud dengan sasaji ing segara adalah menyiapkan diri sebelum memasuki arena kehidupan yang amat sangat luas yang digambarkan dengan lautan.

Lautan bagi orang Jawa adalah sesuatu yang tanpa batas, yang mampu menelan serta menampung apa saja, mulai dari makhluk-makhluk yang hanya bisa dilihat dengan mikroskop sampai dengan ikan paus dan kapal-kapal raksasa. Begitu pula lautan kehidupan, bisa menampung hawa nafsu yang tak terbatas besarnya, termasuk segala kebaikan dan keburukan.
Demikianlah, meskipun Tuhan itu tidak nampak. Tetapi bila manusia bisa senantiasa ingat dan berdoa kepada-Nya, sadar serta menyiapkan dirinya dengan baik dalam kehidupan yang membentang luas, maka ia bisa menyatu dengan Tuhan, menyatukan hakikat nyanyian kehidupannya ke dalam karsa yang utama. Dalam situasi seperti itu ia bisa disebut bunga pengobatan, yang langsung bisa mengobati segala penyakit kehidupannya, sehingga tidak akan pernah merasa sakit, tidak akan pernah merasa susah dan menderita.

Bait 14 masih melanjutkan keutamaan-keutamaan yang diuraikan di bait 13. Manusia memiliki pasangan setia, yang dalam kidung disebut penjari. Penulis masih belum bisa menemukan makna yang tepat untuk kata penjari. Kata penjari atau panjari akan ditemukan lagi pada bait 16. Ki Wiryapanitra menyebut penjari itu sebagai rahsa atau inti sari ruh.

Rahsa merupakan pasangan setia manusia, yang senantiasa menyertai tatkala hidup maupun mati. Rahsa itu sempurna dan bisa disebut pula sebagai sukma nan indah-mulia, yang luar biasa, yang istimewa, yang muda dan tidak bisa menjadi tua, yang berupa cahaya dari cahaya yang bersemayam di karsa utama manusia.

Rahsa atau sirr juga berarti rahasia. Dalam kitab Wirid Hidayat Jati terbitan Dahara Prize, rahsa diartikan sebagai rahasia. Pada wejangan ketiga halaman 20 – 21 disebutkan, “Sajatine manungsa iku rahsaningsun. Lan Ingsun iki rahsaning manungsa. (Sesungguhnya manusia itu adalah rahasia-Ku. Dan Aku ini rahasia manusia). Ini sesuai bunyi Surat Al Israa ayat 85, “Dan mereka bertanya kepadamu tentang ruh. Katakanlah, ‘ruh itu urusan Rab-ku, dan tidaklah kamu diberi ilmu melainkan hanya sedikit’.

Maasyaa Allaah laa quwwata illaa billaah.

4 Comments

Filed under Uncategorized

METODE DAKWAH WALI SONGO DI JAWA: Kandungan Makna Suluk Kidung Kawedar (1)

Suluk Sebagai Mantera Penolak Bala.
Jumlah penduduk Indonesia awal tahun 2014 mencapai 305 juta, separuh di antaranya atau lebih dari 150 juta tinggal di pulau Jawa. Padahal menurut catatan pemerintah kolonial, pada awal abad XIX penduduk pulau Jawa diperkirakan baru sekitar 5 juta jiwa (Java island, Indonesia, Encyclopædia Britannica, http://id.wikipedia.org/wiki/Jawa). Belum diketemukan catatan sejarah, berapa jumlah penduduk pada abad XV – XVI, tatkala sebagian besar pulau Jawa masih berupa hutan belantara dan semak belukar, namun telah memiliki peninggalan sejarah yang luar biasa, antara lain candi Borobudur dan candi Prambanan.

Pada abad XV – XVI itu, kehidupan masyarakat pulau Jawa sedang mengalami zaman peralihan dari Kerajaan Majapahit ke Kesultanan Demak. Demikian pula dalam hal agama dan kepercayaan. Mereka menganut agama Hindu – Buddha atau Syiwa – Buddha dan percaya bahkan banyak yang memuja ruh-ruh halus. Mereka juga sangat mempercayai hal-hal gaib dan mistis, serta mengkaitkan hampir semua aspek kehidupan dengan hal tersebut.

Dalam suasana kehidupan yang seperti itulah agama Islam diperkenalkan oleh para pendakwah, yang kemudian dikenal sebagai para wali dan diberi sebutan atau nama panggilan Sunan. Dua dari para wali itu adalah Sunan Bonang dan muridnya yaitu Sunan Kalijaga, dikenang masyarakat sampai sekarang karena jago berdakwah dengan menggunakan media kesenian, terutama berupa musik tradisional gamelan berserta tembang-tembang Jawa. Salah satu dari tembang tadi adalah sebuah tembang suluk atau tembang dakwah Islam, yang dikenal dengan tiga nama yaitu Kidung Kawedar atau Kidung Rumekso Ing Wengi atau juga Kidung Sariro Ayu.

Kepada masyarakat yang sangat mempercayai hal-hal gaib dan mistis tadi, Sunan Kalijaga menciptakan Suluk Kidung Kawedar yang didendangkan dengan irama dhandanggula yang bernuansa meditatif-kontemplatif, yang dikemas bagaikan sebuah mantera sakti guna mengatasi segala problem kehidupan masyarakat sehari-hari.

Dengan daya tarik itulah Sunan Kalijaga memulai Suluk Kidung Kawedar sebagaimana 3 (tiga) bait yang dibahas dalam bab ini. Kanjeng Sunan Kali, demikian panggilan kehormatan beliau, langsung menawarkan mantera pelindung kehidupan, yang mampu menjaga siapa yang membaca dan yang mempercayainya dari segala marabahaya, serta bisa membuat hidup menjadi sejahtara.

Bait pertama menggambarkan kehebatan tembang pujian, yang enak didengar namun sekaligus sakti mandera guna, yang menjaga kita di malam hari, yang melindungi kita dari segala macam penyakit dan hal-hal buruk, melindungi dari gangguan jin dan setan, menangkal ilmu hitam dan segala hal buruk yang bisa mencelakai kita, sampai-sampai diibaratkan dapat mengubah api yang panas menjadi air nan sejuk bila menghampiri kita, seperti kisah Kanjeng Nabi Ibrahim ketika dibakar. Demikian pula para pencuri menjauh, tidak ada yang berani mengganggu hak milik kita.

Bait kedua masih menggambarkan kehebatan kidung mantera ini. Hama dan penyakit menyingkir, karena siapa pun makhluk Allah yang melihat kita menjadi iba dan menaruh kasih sayang. Pun segala ilmu kesaktian, tiada yang bisa mencelakai kita, lantaran akan bagai kapuk yang sangat ringan lagi lembut, jatuh ke atas besi yang keras lagi kuat. Semua racun menjadi tawar, semua binatang buas menjadi jinak. Segala jenis tumbuh-tumbuhan, pohon, kayu, tanah sangar atau angker serta sarang-sarang binatang yang dilindungi aura gaib, tiada perlu ditakuti lagi.

Bait ketiga masih diawali dengan pameran kekuatan sang kidung yang luar biasa bak bisa membuat air lautan menjadi asat atau mengering, yang dilanjutkan dengan iming-iming, pesona gambaran kehidupan serba nyaman dan selamat sejahtera. Kepada masyarakat Jawa yang percaya akan adanya para dewa dengan para bidadarinya, Sunan Kalijaga mulai memasukkan daya tarik dan istilah-istilah baru secara lepas-lepas, yakni butir-butir ajaran Islam.

Siapa yang percaya kidung ini, kehidupannya akan dikelilingi oleh para bidadari, akan dijaga oleh para malaikat dan rasul yang bahkan telah menyatu pada diri kita. Nabi Adam akan manjing, merasuk ke dalam batin kita. Nabi Sis berada di otak sedangkan Nabi Musa di tuturkata kita. Malaikat, rasul, Adam, Sis (Syith atau Seth) dan Musa adalah hal-hal baru bagi orang-orang Jawa baik yang animis, mempercayai ruh leluhur, makhluk gaib mau pun yang Syiwa-Buddha. Hal-hal baru itulah yang sesungguhnya menjadi inti kekuatan kidung mantera pujian ini.

Orang Jawa Mulai Mempelajari Sejarah Para Nabi, Sahabat & Keluarganya.

Dalam tafsir sebelumnya telah kita bahas, Sunan Kalijaga mulai memperkenalkan istilah dan nama-nama baru kepada masyarakat, yaitu malaikat, rasul, Adam, Sis dan Musa. Pengenalan istilah, tokoh dan sejarah Islam tersebut dilanjutkan dalam bait keempat dan kelima, dengan sekaligus menjelaskan hikmah dan karomahnya di dalam diri manusia, apabila kita mempercayai dan mampu menghayatinya.

Dalam kedua bait tadi, kata linuwih dipakai untuk mengakhiri baris pertama. Linuwih arti sebenarnya adalah kemampuan lebih atau di atas rata-rata orang pada umumnya, atau bisa juga berarti utama. Namun demikian tidak berarti Nabi Isa (Ngisa) dan Fatimah, puteri Kanjeng Nabi Muhammad lebih utama dibanding tokoh-tokoh yang disebut di bawahnya termasuk Nabi Muhammad saw. sendiri, melainkan sekedar sebagai daya tarik serta untuk memenuhi rumus atau ketentuan dalam membuat puisi Jawa yang berupa tembang macapat itu.

Demikanlah, Sunan Kalijaga menceriterakan tentang sejarah Islam dan para nabi sebagaimana dikisahkan dalam Al Qur’an, serta para sahabat dan keluarga Kanjeng Nabi Muhammad. Nama-nama mereka disebutkan seraya mengikuti pola pikir orang Jawa yang menyenangi cerita wayang, terutama tentang tokoh-tokoh sakti yang manjing, merasuk menyatu dalam jiwa raga seorang tokoh wayang yang lain, sehingga tokoh yang dirasuki menjadi sakti mandraguna.

Para Nabi dengan keutamaan masing-masing mulai dari Nabi Adam, Nabi Ibrahim yang merupakan bapak dari para nabi agama samawi, agama langit dan pencetus monoteisme, sampai ke Nabi Muhammad dan para sahabat serta keluarganya, diperkenalkan melalui suatu tembang Dhandanggula nan indah memukau, kontemplatif meditatif yang disugestikan menjadi mantera sakti.

Bisa dibayangkan, pasti banyak pertanyaan dari masyarakat tentang hal-hal baru tersebut. Jika selama ini mereka hanya mengenal para dewa dan roh gaib sebagai sesembahan mereka, dengan Kidung Kawedar mereka diperkenalkan kepada sesembahan baru, yang tunggal lagi maha kuasa, yang para utusannya saja sudah sakti luar biasa.

Namun demikian, Kanjeng Sunan Kalijaga tidak langsung mengecam dan membuang nilai-nilai agama dan kepercayaan lama masyarakat, terutama yang sudah menjadi kebiasaan hidup sehari-hari. Beliau menyusupkan nilai-nilai baru ke dalam agama, kepercayaan, tatacara dan adat kebiasaan hidup yang sudah ada sebelumnya. Nilai-nilai lama, dibungkus selapis demi selapis, digeser sedikit demi sedikit. Dengan metode dakwah yang seperti itulah maka Nusantara khususnya pulau Jawa diislamkan, sehingga sekarang menjadi negara dengan penganut agama Islam terbesar di dunia.

Memperkenalkan Istilah Insya Allah.

Dalam bait ketiga sampai dengan kelima, Sunan Kalijaga memperkenalkan istilah dan nama-nama tokoh yang bagi orang Jawa betul-betul baru sama sekali. Ada malaikat, rasul, Adam, Syith, Musa, Isa, Yakob, Yusuf, Dawud, Sulaeman, Ibrahim, Idris, Ayub, Nuh, Yunus, Muhammad, Abubakar, Umar, Usman, Ali dan Fatimah.

Memang Kidung Kawedar tidak menjelaskan secara terinci sejarah dari para nabi, sahabat dan keluarga Kanjeng Nabi Muhammad tersebut. Tetapi marilah kita coba menerapkan pada diri kita sendiri, baik dalam posisi sebagai penutur atau pun sebagai pendengar. Selaku pendengar, kita pasti ingin tahu lebih jauh tentang tokoh yang disebut penutur memiliki kemampuan dan karomah luar biasa, sehingga patut menyatu dalam diri kita, yang selanjutnya akan kita jadikan sebagai senjata andalan dalam kehidupan.

Sebaliknya sebagai penutur, kita pun akan berusaha menjelaskan lebih terperinci siapa tokoh-tokoh atau orang-orang yang kita jagokan, dan mengapa patut kita jadikan panutan serta andalan.

Pengetahuan terhadap agama baru dengan para tokoh panutannya tersebut, menjadi benih keyakinan. Meskipun baru atau hanya sebutir, benih itu akan tumbuh sumbur beranak pinak menyebar ke segenap penjuru dunia, ke jagad raya, karena memperoleh berkah dari Dzat Yang Maha Kuasa. Keyakinan itu akan membuahkan keselamatan kepada siapa saja yang membaca, yang menyimak mendengarkan, yang menuliskan dan yang menyimpannya. Bahkan bisa menjadi sumber segala doa, yang bila dibacakan di air dan airnya dipakai mandi oleh seorang perawan tua, maka sang perawan akan segera menemukan jodohnya dan segera menikah. Jika diberikan kepada orang gila maka akan segera sembuh (bait 6).

Dalam bait 6 terdapat kata sesembur, yaitu salah satu cara pengobatan atau pemberian doa restu, yang biasa dilakukan oleh orang yang dituakan atau yang dianggap memiliki kemampuan batin yang tinggi. Setelah berdoa, si orang tua kemudian dengan mulutnya meniup sampai mengeluarkan bunyi desis ke ubun-ubun atau dahi atau bagian-bagian tertentu si sakit atau orang yang didoakan.

Dengan berkah Dzat Yang Maha Kuasa itu pula, keyakinan yang ditanamkan oleh Kidung Kawedar, mampu menolong orang-orang yang sedang berperkara, yang dihukum, ditahan dan yang terbebani hutang (bait 7). Persis seperti Gusti Allah menolong para nabi dan rasul yang menghadapi kesulitan betapa pun beratnya. Api yang dinyalakan oleh punggawa Raja Namrud untuk membakar Nabi Ibrahim, dengan pertolongan Dzat Yang Maha Esa, Yang Maha Gaib, berubah sedingin air; bahtera Nabi Nuh mampu menampung dan menyelamatkan makhluk-makhlukNya demi meneruskan kehidupan di bumi; Nabi Yunus yang ditelan ikan bisa keluar dengan selamat; demikian pula pertolongan Allah Swt kepada para Nabi yang lain termasuk Nabi Muhammad saw. dan para sahabatnya.

Dalam upaya menghayati dan memperoleh hakikat dari Kidung ini, Sunan Kalijaga tidak langsung mengajarkan tatacara peribadatan yang baru, melainkan mengikuti adat kebiasaan masyarakat terlebih dulu (bait 8).

Kembali dalam bait 8 ini, Sunan Kalijaga memperkenalkan dua istilah baru yakni subuh dan insya Allah. Pembahasan secara lebih rinci tentang insya Allah, juga bisa dilihat di buku Pengembaraan Batin Orang Jawa di Lorong Kehidupan halaman 142 – 143. Bagi kita sekarang, 5 – 6 abad kemudian, dua istilah itu bukanlah sesuatu yang baru lagi asing, lantaran sudah menyatu dalam kehidupan kita sehari-hari. Tetapi bagi masyarakat abad ke XV – XVI, tentu menimbulkan pertanyaan dan memancing rasa ingin tahu.

Subhanallaah.

Leave a comment

Filed under Uncategorized