Kisah Semut Rangrang & Hama Wereng: Hikmah Ramadhan (8)

Pernahkah anda digigit semut rangrang yang berwarna coklat kemerahan itu? Yang jika menggigit sulit dilepaskan? Sakit dan panas rasanya. Bagi yang suka berkebun atau setidaknya bermain-main di kebun dengan memanjat pepohonan, gigitan semut rangrang sudah tidak asing lagi.

Di kebun kami semula banyak semut rangrang, sehingga sering diminta orang untuk diambil kroto yaitu telur dan anakannya sebagai makanan burung atau umpan memancing. Sementara itu wabah demam berdarah, mendorong pengurus Rukun Tetangga sering melakukan pembasmian nyamuk penyebab demam berdarah dengan melakukan pengasapan di rumah-rumah dan kebun. Sejalan dengan itu, hama-hama tumbuh-tumbuhan seperti belalang, walang sangit, ulat, kutu dengan lalat putihnya berkembang pesat, sedangkan gigitan semut rangrang makin lama makin berkurang.

Merebaknya hama tanaman tadi sering kami bicarakan dengan para sahabat yang senang berkebun di wilayah Jabodetabek (Jakarta – Bogor – Depok – Tangerang – Bekasi) serta dari daerah lain seperti Yogyakarta dan Malang, yang mengeluhkan hal yang sama. Pada musim panen rambutan dan alpukat baru-baru ini, kami baru sadar ternyata sudah lebih setahun tidak pernah lagi mengalami gigitan semut rangrang. Tatkala hal itu kami sampaikan kepada sahabat-sahabat sehobi, mereka juga baru menyadari hal yang sama. Semut rangrang yang semula banyak, musnah akibat pengasapan dan anak serta telornya yang diambil secara terus-menerus. Kini kami menjadi pemburu semut rangrang untuk kembali kami piara di kebun sendiri.

Kenyataan tersebut menyadarkan kepada kami akan manfaat semut rangrang sebagai predator tidak kurang dari 16 spesies hama tumbuh-tumbuhan, antara lain ulat, serangga pemakan buah, kutu daun serta penyakit-penyakut yang disebabkan virus dan jamur.

Kisah merebaknya hama padi yakni hama wereng atau kepik sejati, pernah juga terjadi pada tahun 1980-an, sehingga menjadi masalah nasional karena dalam tempo singkat memusnahkan ribuan hektar tanaman padi. Hama wereng merajalela lantaran ekosistem terganggu oleh sistem tanam monokultur, dalam hal ini padi yang terus-menerus disertai penggunaan pestisida pembasmi hama yang kian meningkat. Hal itu mengakibatkan predator hama wereng menjadi musnah. Predator atau musuh alami tadi antara lain laba-laba pemburu, kumbang, kepik permukaan air, belalang bertanduk panjang, capung jarum dan jenis jamur tertentu (Lecanicillium lecanii). Saya masih ingat, pada masa itu, Indonesia terpaksa harus mengimpor kepik predator hama wereng dari Hawaii.

Kisah-kisah tentang pelacur Bani Israel yang diampuni dosanya karena memberi minum seekor anjing yang hampir mati kehausan, larangan membakar sarang semut, merebaknya hama tumbuh-tumbuhan akibat musnahnya semut rangrang dan merajalelanya hama wereng, menjadi bukti betapa Allah Swt menciptakan alam semesta secara sangat seimbang tanpa cacat sedikit pun (Surat Al Mulk: 3 – 4) dan bukan untuk main-main (Surat Al Anbiyaa’ : 16) , melainkan dengan sejumlah maksud dan tujuan (Surat Al ‘Ankabuut: 44). Oleh sebab itu Allah mengatur pola hubungan sesama makhluk dan ciptaanNya, demi tetap menjaga keseimbangan alam semesta.

Dalam kaitan inilah maka ahli fikih Prof.K.H.Ali Yafie menegaskan, pelestarian dan pengamanan lingkungan hidup dari kerusakan dan ketidakseimbangan adalah bagian dari iman. Kualitas iman seseorang pada hematnya bisa diukur salah satunya dari sejauh mana sensitivitas dan kepedulian orang tersebut terhadap kelangsungan lingkungan hidup. Melestarikan dan melindungi lingkungan hidup dengan demikian merupakan kewajiban setiap orang yang berakal dan baligh (dewasa); sehingga melakukannya adalah ibadah, terhitung sebagai bentuk kebaktian manusia kepada Tuhan. (Merintis Fiqh Lingkungan Hidup, halaman 14 – 15).

Semoga kita dikarunia bisa memetik hikmah puasa, sehingga sungguh-sungguh kembali kepada fitrah kita nan suci, selaku hamba-hambaNya yang senantiasa mematuhi dan mentaati perintah-perintahNya, termasuk dalam menjaga kelestarian dan keseimbangan ciptaanNya, baik yang berupa hewan, tumbuh-tumbuhan maupun alam raya. Aamiin. (Berikutnya: Mungkinkah Anda Hidup Tanpa Air & Udara ?).

3 Comments

Filed under Uncategorized

Perjumpaan Mesra Dengan Tuhan: Hikmah Ramadhan (7)

Perjumpaan mesra dengan Sang Maha Pencipta pasti menjadi idaman bagi setiap orang yang beriman. Namun demikian seberapa banyak orang yang mempersiapkan diri untuk perjumpaan tersebut, lebih serius dibanding mempersiapkan diri bertemu dengan pacar duniawinya, dengan penguasa dunia seperti Bupati, Gubernur, Menteri atau Presiden? Waallahualam.

Dalam penutup Surat Al-Kahfi (18:110), Allah Swt berfirman kepada Kanjeng Nabi Muhammad Saw. untuk mengingatkan manusia sebagai berikut, “Barangsiapa yang berharap perjumpaan (mesra) dengan Tuhannya, maka hendaklah ia mengerjakan amal saleh dan janganlah ia mempersekutukan dalam beribadah kepada Tuhannya sesuatu apa pun.” Allah juga menegaskan, “Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.” (Al Anbiya’: 107).

Fungsi, peran dan tugas Rasulullah, tentu saja beserta ajaran-ajarannya, telah digariskan Allah sebagai rahmat bagi seluruh alam (rahmatan lil ‘alamin), artinya, Gusti Allah mengirimnya sebagai rahmat untuk semua orang. Barangsiapa menerima rahmat ini dan berterima kasih atas berkah ini, dia akan bahagia di dunia dan akhirat. Namun, barangsiapa menolak dan mengingkarinya, dunia dan akhirat akan lepas darinya, seperti yang Allah peringatkan, “Tidakkah kamu perhatikan orang-orang yang telah menukar nikmat Allah (perintah-perintah dan ajaran-ajaran Allah) dengan kekafiran dan menjatuhkan kaumnya ke lembah kebinasaan? Yaitu neraka jahanam; mereka masuk kedalamnya; dan itulah seburuk-buruk tempat kediaman.” (Ibrahim:28-29).

Sahabat-sahabatku.
Ayat tersebut kembali menegaskan syarat perjumpaan dengan Tuhan, yakni amal saleh dan tidak mempersekutukanNya. Itulah iman dan amal saleh, yang harus ditunaikan oleh manusia sebagai khalifah fil ard yang berkiprah mengikuti junjungannya, Nabi Besar Muhammad Saw.

Perihal manusia selaku khalifah fil ard, Prof.K.H.Ali Yafie dalam buku Merintis Fiqh Lingkungan Hidup halaman 38 menyatakan, manusia adalah pengemban amanah Allah Swt. untuk menjaga atau memelihara dan mengembangkan alam demi kepentingan kemanusiaan. Dalam rangka ini ada sepotong ayat yang diulang-ulang di banyak tempat dalam Al Qur’an, yakni: ‘la tufsidu fil ardhi ba’da ishlahiha.’ Janganlah membuat kerusakan di muka bumi setelah ditata (oleh Allah) (antara lain Al-A’Raaf : 56 dan 85).

Dalam rangka mengemban amanah memelihara dan mengembangkan kehidupan itu, Prof.Ali Yafie merumuskan 4 (empat) macam penataan kehidupan sesuai kaidah fikih yaitu, pertama penataan hubungan antara manusia selaku makhluk dengan Allah Swt sebagai khaliknya. Kedua, penataan hubungan manusia dengan sesamanya. Ketiga, penataan hubungan manusia dalam lingkungan keluarganya dan keempat, penataan tertib pergaulan manusia yang menjamin keselamatan dan ketenteramannya dalam kehidupan.

Betapa rapi Allah Yang Maha Kuasa mengatur keseimbangan alam raya dan kehidupan seluruh makhluknya, ditunjukkan antara lain dalam sebuah hadis dari Abu Hurairah yang menceritakan sabda Rasulullah, “Salah seorang Nabi dari Nabi-Nabi (Allah) pernah disengat oleh seekor semut, lalu dia memerintahkan orang untuk membakar sarang semut itu, maka Allah mewahyukan kepadanya: ‘Karena seekor semut yang telah menyengatmu maka engkau membakar satu umat dari umat-umat yang bertasbih (kepada Allah)? Mengapa pula tidak seekor semut saja (yang menyengatmu yang engkau bunuh)!'” (Hadits riwayat Bukhari dan Muslim).
Sebuah contoh lain lagi mengenai pola hubungan manusia dengan binatang dikisahkan dalam sebuah hadis yang sangat terkenal, Kanjeng Nabi bertutur, “Saat seekor anjing memutari sebuah sumur hampir saja rasa haus membunuhnya, tiba-tiba salah seorang pelacur dari pelacur-pelacur Bani Israil melihatnya, maka segera dia membuka sepatunya (lalu dia mengambil air dengan sepatunya itu) kemudian dia memberi minum kepada anjing itu, maka dengan sebab tersebut diampunkan (dosanya).”
(Hadis Bukhari, Muslim dan Ahmad).

Sahabatku, kisah semut dan anjing di atas nampak begitu sepele, namun mengungkapkan ternyata begitu besar pengaruh amal saleh bagi manusia, meskipun ia hanyalah seorang pelacur yang bergelimang dosa, bahkan dari golongan Bani Israel pula. Semoga tulisan-tulisan pendek ini menginspirasi kita dalam memperbanyak amal saleh yang diridhoi Gusti Allah Yang Maha Pengasih. Aamiin. (Berikutnya: KISAH SEMUT RANGRANG & HAMA WERENG).

1 Comment

Filed under Uncategorized

Siapakah Teman Anda Yang Paling Setia: Hikmah Ramadhan (6)

Memiliki teman setia menjadi idaman setiap orang. Teman setia adalah teman yang akan senantiasa hadir pada saat kita membutuhkan, bukan saat dia butuh. Jika kita memerlukan teman-teman yang setia, sudahkan anda juga menempatkan diri sebagai teman yang setia bagi orang lain? Jujur saja, dalam kenyataan kita sering tidak peduli akan hal itu. Apalagi bila sedang bergelimang harta dan tahta. Banyak orang yang menjadi lupa segalanya dan tergelincir, lantaran dunia serasa milik kita. Semua ibarat bisa dibeli dan diperintah. Orang lain kita nilai seharga pemberian yang kita kirimkan kepadanya. Semua persoalan termasuk kesalahan dan dosa seolah bisa kita tebus cukup hanya dengan harta benda. Setiap saat kita bisa mengumpulkan banyak orang yang berlomba memuji kita. Naudzubillah.

Namun bumi itu bulat. Demikian pula kehidupan dalam tamzil orang Jawa bagaikan “cokro manggilingan”, roda bulat yang terus berputar, sehingga suatu titik kehidupan tidak selamanya ada di atas dan tidak selamanya pula ada di bawah. Gusti Allah itu memang Maha Adil, dengan menciptakan segala sesuatu secara berpasangan. Ada pria dan wanita. Ada panas dan dingin. Ada atas dan bawah. Ada kenyang dan lapar. Ada siang dan malam. Ada suka dan duka. Ada manis dan pahit. Semua ada hikmah dan fadilah masing-masing.

Nah, sekarang kembali pada pertanyaan semula. Sudah punyakah kita teman setia, yang bukan saja akan mendampingi dalam suka dan duka, namun juga mendampingi kita sampai di Kampung Akhirat kelak? Isteri atau suami yang kita sayangi semasa hidup? Anak cucu yang kita timang dan manjakan? Teman-teman pesta dan hura-hura? Anak buah dan orang-orang yang sering kita gelontor hadiah? Ataukah mobil dan rumah mewah kita? Isteri, suami, anak-cucu, teman dan handai tolan, paling jauh hanya akan menemani di pemakaman. Sesudah itu pelan-pelan akan berusaha melupakan kita dan mengenangnya sesekali saja. Mobil dan rumah mewah, boro-boro menemani di liang lahat, jangan-jangan belum sampai tanah kubur kita kering sudah jadi biang permasalahan. Naudzubillah.

Sahabatku. Saya yakin anda pasti sudah pernah membaca atau paling tidak memegang buku Tahlil dan Yassin, yang biasa digunakan dalam pengajian-pengajian memperingati wafat seseorang. Pada umumnya di halaman depan atau bahkan di kulit halaman dalam, dituliskan kutipan sebuah hadis yang sangat tersohor yang diriwayatkan oleh
Imam Bukhari dan Muslim sebagai berikut, “Rasulullah Saw bersabda: ‘Bila seseorang telah meninggal, maka terputuslah baginya pahala segala amal, kecuali tiga hal yang tetap kekal yaitu sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat dan anak yang saleh yang senantiasa mendoakannya’”.

Dalam bahasa gaulnya, jika kita, jika anda meninggal, semuanya sudah tidak ada artinya kecuali tiga hal, ulangi, semuanya sudah tidak ada artinya kecuali tiga hal yaitu pertama, sedekah jariyah yang sudah kita berikan selama hidup kita. Kedua, ilmu kita yang bermanfaat bagi sesamanya, sesama makhluk Allah, baik yang berupa manusia maupun bukan. Ketiga, anak saleh yang senantiasa mendoakan kita.

Jadi ternyata yang setia serta diijinkan mendampingi kita khususnya dalam peradilan akhirat bukan jenis-jenis ibadah yang lain, melainkan tiga jenis ibadah amal saleh yang digariskan Baginda Rasul tadi. Apakah itu berarti jenis ibadah yang lain tidak perlu? Tidak juga. Jenis ibadah yang lain terutama ibadah mahdah seperti salat dan puasa mutlak kita perlukan, karena akan menjadi iman, menjadi ruh yang menjiwai, akan menjadi cahaya yang menerangi ibadah-ibadah amal saleh kita. Namun tidak cukup hanya itu, sebab ruh yang menjiwai atau cahaya yang menerangi tersebut tidak akan nampak apabila tidak ada wadahnya, tidak ada perwujudannya. Wujud amal saleh yang dijiwai serta diterangi ibadah-ibadah mahdah itulah yang kemudian dikelompokkan menjadi tiga sahabat setia dalam hadis Kanjeng Nabi Muhammad di atas. Semoga ibadah puasa kita diterima dan dijadikan oleh Gusti Allah Swt, lokomotif penarik gerbong-gerbong amal saleh yang akan menjadi teman setia di akhirat kelak. Aamiin. (Berikutnya: PERJUMPAAN MESRA DENGAN TUHAN).

1 Comment

Filed under Uncategorized

Berkebun Pohon Iman: Hikmah Ramadhan (5)

Sahabat-sahabatku yang budiman.
Dalam catatan yang lalu telah kita bahas “Beriman, Apakah Otomatis Saleh?”. Dalam bahasa gaul sekarang, “Percaya kepada Allah, apakah otomatis kita orang baik? Apakah otomatis masuk surga?” Ternyata belum cukup. Harus ditambah dengan bukti perbuatan berupa amal saleh. Boleh saja kita rajin salat, puasa, zakat dan berkali-kali menunaikan ibadah haji bahkan umroh setiap tahun, tetapi jika hakikat dari semua jenis ibadah tadi tidak tercermin dalam perilaku dan perbuatan kita sehari-hari, apalah artinya. Apalagi jika kemudian puasa atau haji “tomat”, berangkat tobat pulangnya kumat. Maksudnya habis bulan Ramadhan atau pulang haji kembali bermaksiat.

Mengakui kemahasucian Allah, tapi sementara itu dengan enaknya kita mencampuradukkan yang halal dengan yang haram, yang hak dengan yang batil, melakukan aneka perbuatan yang melanggar laranganNya, berlaku zalim terhadap sesamanya termasuk pada alam raya. Mengakui kemahakuasaan Allah, tetapi sementara itu kita menghamba pada harta dan tahta, sehingga untuk meraihnya kita terjang semua laranganNya, menghalalkan cara demi mencapai tujuan. Dengan enak kita main komisi, suap, sogok, hadiah dan segala macam jenis rasuah lainnya, membiarkan kemungkaran di depan mata bahkan bergelut dengannya, bergelimang keharaman, dengan seribu satu dalih. Apalah artinya.

Demikianlah, iman sangat penting meski tidak cukup hanya itu. Karena pangkal dan bibit tumbuhnya berbagai amalan pekerjaan atau pun usaha dan perjuangan adalah iman. Al Qur’an Surat Ibrahim ayat 24 – 25 menggambarkan pohon keimanan itu tumbuh dari bibit keyakinan di dalam kalbu masing-masing. Iman yang tumbuh mekar itu laksana pohon yang menjulang ke angkasa, bercabang-cabang, berbuah sepanjang tahun.

Mempertegas tamzil tersebut Kanjeng Nabi Muhammad Saw menambahkan, “Iman itu bagaikan pohon yang besar lagi tinggi dan memiliki tujuh puluh cabang; yang paling puncak adalah laa ilaaha illaa Allaah, dan yang paling rendah adalah menyingkirkan duri dari jalanan.”

Dengan penegasan tersebut Baginda Rasul telah memberikan gambaran hubungan antara iman dan amal saleh, melalui sebuah contoh yang amat sederhana dan bisa dilakukan oleh semua orang yang sehat, yaitu menyingkirkan duri dari jalanan agar tidak mencelakakan orang lain.

Maka wahai sahabatku, jika kita mengaku memiliki iman yang berfungsi dengan baik di dalam diri kita, maka kita harus tidak akan tinggal diam. Harus aktif dan dinamis berbuat sesuatu guna membuktikan keimanan kita dalam kehidupan sehari-hari, yang kita sebut amal perbuatan.

Mengenai jenis-jenis amalan, guru kita Prof.K.H.Ali Yafie mengajarkan ada tiga. Pertama, amalan atau pekerjaan hati nurani. Amalan hati nurani banyak sekali hubungannya dengan pekerjaan pemikiran, karena gejolak hati itu memantul ke pemikiran. Amal saleh dalam hal ini ialah memikirkan hal-hal yang baik, berguna dan bermanfaat, yang bisa menyelamatkan serta membantu orang lain. Bukan sebaliknya membiarkan orang lain dalam kesulitan apalagi mempersulit orang lain.

Kedua, pekerjaan lidah yang lazim disebut omongan. Ini yang paling aktif karena banyak sekali omongan manusia yang tidak terkontrol oleh batin dan pikirannya. Lidah ini bagaikan pisau bermata seribu yang amat sangat tajam di semua sisi matanya. Ia bisa bermanfaat tapi bisa juga merusak. Oleh sebab itu marilah kita kontrol dan kelola dengan baik agar memberikan kemaslahatan yang sebesar-besarnya bagi sesamanya.
Ketiga, pekerjaan seluruh fisik kita. Gerak-gerik mata, hidung, kaki, tangan dan seluruh anggota tubuh kita itu termasuk amal.

Tiga jenis amalan di atas harus dilaksanakan sesuai petunjuk agama, agar amalan-amalan batin kita, amalan lisan serta seluruh anggota tubuh menjadi amalan yang mulia dan baik sehingga memperoleh ridho dan berkah dari Gusti Allah Yang Maha Pengasih. Bukan mentang-mentang merasa yakin tujuan kita baik, misalkan membangun masjid, maka tidak peduli bagaimana caranya, apatah menggunakan uang hasil korupsi dan uang hasil maksiat. Betapa tega kita membangun rumah Allah, memberikan persembahan kepada Allah Yang Maha Suci dengan barang-barang yang kotor. Naudzubillah.
Semoga dengan puasa kita di bulan Ramadhan ini kita bisa berkebun pohon iman yang berbuah amal saleh nan lebat. Aamiin. (Berikutnya: SIAPAKAH TEMAN ANDA YANG PALING SETIA?)

1 Comment

Filed under Uncategorized

Beriman Apakah Otomatis Saleh : Hikmah Ramadhan (4).

Apakah orang yang rajin berpuasa baik puasa wajib maupun sunah, bisa otomatis disebut orang yang saleh? Nanti dulu. Apa sih yang dimaksud dengan saleh itu? Kamus Besar Bahasa Indonesia yang disusun oleh Departemen Pendidikan dan Kebudayaan menyatakan, saleh adalah taat dan sungguh-sungguh menjalankan ibadah, suci dan beriman. Jadi orang yang saleh adalah orang yang suci dan beriman, yang taat dan sungguh-sungguh dalam menjalankan ibadah.

Perihal orang yang beriman dan orang saleh, saya telah beberapa kali menulisnya, antara lain dalam dua buku kecil saya Memaknai Kehidupan (halaman 53 – 56) dan Memetik Hikmah Kejadian Sehari-hari (halaman 39 – 43). Insya Allah saya tidak akan pernah bosan menulis hal tersebut, sebagaimana juga Al Qur’an mengulang-ulang sesuatu masalah, karena minimal hal itu bermanfaat untuk mengingatkan diri saya sendiri, syukur alhamdulillah jika bermanfaat pula bagi bagi orang lain khususnya para sahabat.

Di dalam Al Qur’an, kata iman pada umumnya digandengkan dengan amal. Misalnya dalam surat Al Bayyinah:7, “Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh, mereka itu adalah sebaik-baik makhluk”. Contoh lain lagi adalah surat An Nahl:97, “Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik”.

Mengapa cukup banyak kata iman yang dikaitkan dengan kata amal, karena amal merupakan realisasi dari iman. Iman tanpa amal, tidak banyak arti dan kemaslahatannya, dan hanya Tuhan serta diri kita saja yang tahu benar tidaknya kita sungguh-sungguh beriman. Sebagai contoh adalah ibadah puasa, yang dalam hadis qudsi disebutkan, “ kecuali puasa itu untukKu dan Aku yang langsung membalasnya. Ia telah meninggalkan syahwat, makan dan minumnya karena Aku.’“ (HR.Bukhari dan Muslim). Benarkah puasa kita telah kita niatkan dan jalankan semata-mata karena Allah Swt, ataukah bukan karena kita malu dan takut pada orangtua, pada pimpinan kita di kantor dan lain-lain sebab yang terkait hubungan dengan sesamanya?
Amal saleh atau perbuatan yang mulia dan baik seringkali hanya ditafsirkan secara sempit, terbatas pada ibadah mahdah atau ritual-ritual ibadah yang kita kenal sehari-hari seperti salat, puasa, zakat dan haji. Bahkan yang belakangan ini sangat memprihatinkan, ada yang sekedar menggunakan ukuran formalitas misalkan berkopiah putih atau bersorban bagi pria dan berjilbab bagi wanita, sudah bisa langsung diberi predikat orang beriman yang saleh.

Berbeda halnya apabila iman dikaitkan dengan amal, maka akan nampak wujudnya dalam perilaku sehari-hari. Dengan demikian iman baru akan sempurna jika dibuktikan atau diwujudkan dalam amal perbuatan dan perilaku, yang tercermin pada kehidupan kita sehari-hari, dalam bermuamalat, yaitu pergaulan kita terhadap sesamanya termasuk pada lingkungan, pada alam, pada hewan dan tumbuh-tumbuhan. Semoga ibadah puasa, salat, zakat dan haji kita tidak putus hanya pada sekedar ritual ibadah, melainkan terus bersambung ke ibadah-ibadah muamalah yang bermanfaat pada terwujudnya rahmat bagi alam semesta. Itu semua bisa terjadi apabila kita tidak lalai dalam menghayati hakikat ibadah-ibadah tersebut sekaligus pandai memetik hikmahnya. Aamiin. (Berikutnya: BERKEBUN POHON IMAN).

Leave a comment

Filed under Uncategorized

Memahami Kedudukan Puasa Dalam Ibadah: Hikmah Ramadhan (3)

Puasa oleh para ulama fikih, dimasukkan ke dalam kelompok ibadah mahdah bersama jenis-jenis ibadah lain seperti salat dan haji. Ibadah berasal dari kata al ‘ibadah yang berarti pengabdian, penyembahan, ketaatan, menghinakan, merendahkan diri dan doa. Dengan demikian ibadah adalah segala hal yang dilakukan, diniatkan dan dipersembahkan sebagai usaha menghubungkan dan mendekatkan diri kepada Allah Swt sebagai Tuhan yang disembah. (Ensiklopedi Hukum Islam).

Seorang budak disebut al-‘abd karena rendahnya martabat yang bersangkutan di depan sang tuan. Seorang manusia di depan Allah Swt disebut sebagai al-‘abd karena manusia harus mengabdikan diri kepada Allah Swt. Maka hakikat ibadah adalah ketundukan, kepatuhan dan kecintaan yang sempurna kepada Allah Swt. Tindakan merendahkan diri di mata Allah ini lazim dilakukan oleh para pengamal tasawuf, yang sering menyebut dirinya fakir dan bodoh, karena memang pada hakikatnya manusia itu lahir polos tanpa membawa dan memiliki apa-apa, tanpa bisa apa-apa kecuali menangis. Harta benda, keluarga, ilmu dan segala yang ada padanya di kemudian hari sesungguhnya adalah milik Gusti Allah Yang Maha Agung, yang dititipkan dan diamanahkan kepadanya, yang sewaktu-waktu akan diminta kembali olehNya.

Masyarakat awam selama ini mengenal ada dua macam ibadah, yaitu ibadah mahdah dan ibadah muamalah. Namun ulama-ulama fikih sesungguhnya membagi ibadah dalam 3 macam:
1. Ibadah mahdah, yaitu ibadah yang mengandung hubungan dengan Allah semata-mata, yakni hubungan vertikal. Ciri-ciri ibadah mahdah adalah semua ketentuan dan aturan pelaksanaannya telah ditetapkan secara rinci melalui Al Qur’an dan hadis. Contoh: salat, puasa, zakat dan haji.

2. Ibadah gair mahdah atau lebih populer disebut ibadah muamalah, yang berarti ibadah yang berkaitan dengan pergaulan, adalah ibadah yang tidak hanya sekedar menyangkut hubungan dengan Allah, tetapi juga berkaitan dengan hubungan sesama makhluk (habl min Allah wa habl min an-nas). Jadi di samping hubungan vertikal sebagaimana ibadah mahdah, juga ada hubungan horizontal. Hubungan sesama makhluk ini tidak hanya terbatas pada hubungan antar manusia, tetapi juga hubungan manusia dengan lingkungannya, seperti ayat yang artinya : “Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi sesudah (Allah) memperbaikinya …” (Surat Al A’Raaf:56).

Ibadah muamalah sangat diperlukan guna mengatur kegiatan manusia dalam menemukan kebaikan bersama dan mengurangi kezaliman atas manusia lain, termasuk melalui penguasaan dan pemanfaatan alam raya secara semena-mena.
Berbeda dengan teks dalil dalam ibadah mahdah yang bersifat tetap, khusus dan sudah terinci, teks dalil ibadah muamalah bersifat umum, sehingga membuka peluang untuk ijtihad, menafsirkan secara lebih rinci dan berkembang sesuai dengan zaman dan tempat. Hal itu sesuai dengan sabda Kanjeng Nabi Muhammad Saw., “Bila dalam urusan agama ( para ulama menafsirkan sebagai aqidah dan ibadah mahdah) contohlah aku. Tapi, dalam urusan duniamu (teknis mu’amalah), kamu lebih tahu tentang duniamu.” (HR.Muslim).

3. Ibadah zi al-wajhain, yaitu ibadah yang memiliki dua sifat sekaligus yakni mahdah dan gair mahdah. Dalam ibadah ini, sebagian maksud dan tujuan persyariatannya dapat diketahui dan sebagian lainnya tidak dapat diketahui. Contohnya adalah nikah dan idah.

Demikianlah wahai sahabatku, puasa yang termasuk dalam ibadah mahdah itu sangat penting dan hukumnya wajib. Namun kalau hanya sekedar menahan makan minum dan syahwat serta tidak melakukan perbuatan maksiat selama bulan Ramadhan saja, tidaklah cukup. Karena di samping harus melaksanakan ibadah mahdah yang seperrti itu, ternyata masih banyak lagi hal-hal yang menuntut amal perbuatan, amal saleh kita melalui ibadah muamalah. Memberantas korupsi yang dampaknya luas dan sangat luar biasa jahatnya bahkan lebih jahat dibanding teroris, membasmi ketidakadilan dalam kehidupan bermasyarakat – berbangsa dan bernegara, memerangi penyebab-penyebab kemiskinan, melawan perusakan alam dan lingkungan, demikian pula melawan kezaliman, kemunafikan dan kemungkaran, yang boleh jadi bahkan sedang bersimaharajelala di diri kita, yang justru mungkin tidak kita pahami dan sadari, adalah juga ibadah. Semoga dengan ridho Allah Yang Maha Kuasa kita bisa melaksanakan. Aamiin.
(Berikutnya: BERIMAN, APAKAH OTOMATIS SALEH?).

2 Comments

Filed under Uncategorized

Puasa itu Bukan Tujuan, Tapi Sarana: Hikmah Ramadhan (2)

Puasa itu Bukan Tujuan, Tapi Sarana: Hikmah Ramadhan (2)

Dalam tulisan sebelumnya yang berjudul “Asal Kata dan Hakikat Puasa”, telah kami kutipkan uraian Al Ghazali perihal puasa sebagai membangun benteng atau perisai kehidupan. Mengapa? Karena dengan puasa maka secara lahiriah kita berlatih sabar dan kuat mengelola panca indera serta seluruh anggota tubuh agar menaati Gusti Allah dan tidak melakukan hal-hal yang dilarangNya, sekaligus membangun semangat kepedulian dan setiakawan kepada fakir miskin.

Secara batiniah, puasa akan melatih kita dalam mencegah cita-cita rendah dan fikiran keduniaan, mencegah hati dari apa-apa yang selain Allah, sejalan dengan firman Allah dalam hadist qudsi dalam tulisan yang lalu, “puasa itu untukKu”. Contoh kecil, jika kita memberikan sesuatu hadiah kepada sesorang atau menahan hak seseorang yang kebetulan berada dalam kewenangan kita, sudahkan itu dilakukan dengan niat dan semata-mata karena Allah, ataukah karena kita ingin dipuji dan dihargai orang lain termasuk si penerima hadiah, atau ingin sok kuasa dengan seribu satu alasan apalagi dendam dan sakit hati dalam hal menahan hak seseorang? Jika demikian, maka yang pertama disebut riya dan yang kedua disebut zalim. Keduanya boro-boro karena Allah, bahkan sebaliknya dibenci Allah.

Mengenai hikmah puasa, ulama ahli tafsir Muhammad Ali as-Sabuni dalam kitabnya Rawa’i al Bayan Tafsir Ayat al-Ahkam nin Al-Qur’an (uraian yang menarik tentang tafsir ayat-ayat hukum di dalam Al Qur’an) juga menyatakan, sekurang-kurangnya ada empat hikmah puasa.

Pertama, sarana pendidikan agar bertakwa kepada Allah Swt, patuh pada perintahNya dan menghambakan diri kepadaNya. Kedua, pendidikan jiwa dengan melatih kesabaran serta tahan menghadapi segala penderitaan dalam menaati perintah-perintahNya. Ketiga, sarana menumbuhkan rasa kasih sayang, persaudaraan dan kesadaran menolong sesamanya, terutama orang-orang yang menderita dan kekurangan. Keempat, menanamkan pada diri kita rasa takwa kepada Gusti Allah dengan senantiasa melaksanakan perintahnya baik secara terang-terangan maupun tersembunyi, serta meninggalkan segala yang dilarangNya.

Demikianlah sahabat-sahabatku, puasa itu memang bukan tujuan, bukan terminal akhir, melainkan sarana. Sarana guna mewujudkan atau meraih hikmah sebagaimana yang diuraikan guru kita Al Ghazali dan Muhammad Ali as-Sabuni tadi. Karena itu marilah kita camkan sungguh-sungguh sabda Kanjeng Nabi Muhammad Saw. ini, “Banyak orang yang berpuasa tetapi tidak mendapatkan apa pun dari puasanya kecuali lapar dan haus. Banyak orang yang bangun malam, tetapi tidak mendapatkan apa pun dari bangunnya kecuali terjaga.” (Hadis Ibnu Majah dari Abu Hurairah ra).

Marilah sedari awal puasa kita melatih diri agar selama bulan Ramadhan dan juga selama sebelas bulan sesudahnya, nafas kita senantiasa mendendangkan tasbih dan tidur kita sebagai ibadah. Semoga kemahasucian Allah, senantiasa menyertai seluruh denyut kehidupan kita, memenuhi hati nurani, melandasi setiap lintasan pikiran, menjadi untaian perkataan dan sulaman emas nan indah atas perbuatan kita, baik selama bulan Ramadhan maupun sebelas bulan lainnya, bahkan selamanya. Aamiin.
(Berikutnya: MEMAHAMI KEDUDUKAN PUASA DALAM IBADAH).

Leave a comment

Filed under Uncategorized