Prof.K.H.Ali Yafie : NILAI-NILAI ISLAM dan CINA SELARAS SALING MELENGKAPI

Ulama Sepuh Kyai Ali Yafie tentang Hubungan Pribumi – Non Pribumi

Bismillahirrahmanirrahi
Segala Puji dan rasa Syukur patut kita persembahkan kepada Allah SWT, Tuhan yang melimpah ruah RahmatNya dan berkesimbungan Kasih SayangNya kepada kita semua.
Saya turut berbahagia dalam usianya yang ke 25 tahun, Yayasan Karim Oei tetap dapat melanjutkan perjuangannya dalam berbagai kegiatan dakwah untuk pembinaan Keturunan Cina di Indonesia. Tepat pada hari jadinya yang ke 25 Yayasan Karim Oei dan Masjid Lautze menerbitkan sebuah Buku yang berjudul ” Rumah Bagi Muslim, Indonesia dan Keturunan Tionghoa”
Menyimak dari judul Buku tersebut, banyak hal yang menarik perhatian kita. Proses pembauran Etnis Cina yang selama ini diupayakan masih merupakan sebuah ‘pekerjaan rumah’ yang belum selesai. Tapi setidaknya Yayasan Karim Oei senantiasa hadir di tengah-tengah pusaran dan berusaha mendekatkan 2 kutub perbedaan yaitu peran dan pengaruh etnis Cina yang begitu menonjol terhadap penguasaan ekonomi dan etnis Cina juga sering menjadi sasaran pelampiasan “kemarahan” masyarakat dimana sentimen rasial menjadi sumbu pemicunya.
Terlepas dari kondisi tersebut di atas, Yayasan Kariem Oei berhasil mengubah pandangan yang selama ini memenuhi benak masyarakat secara umum bahwa etnis Cina merupakan komunitas yang terpisah oleh tembok kokoh yang tidak bisa disatukan karena perbedaan latar belakang budaya yang begitu kental. Yayasan Karim Oei, melalui berbagai aktivitasnya, berhasil membuktikan bahwa nilai-nilai Islam dan Cina adalah selaras dan saling melengkapi. Ini adalah sebuah kerja keras dan cerdas untuk menerobos tembok pemisah tersebut sehingga proses pembauran menjadi sesuatu yang lebih nyata, tidak sekedar menjadi pemanis kata atau menjadi dagangan politik semata. Setidaknya dengan berbagai kegiatan yang telah dilakukan, tidak hanya berhasil mengislamkan 1.500 etnis Cina tetapi juga melaksanakan program pembauran bisnis dengan tujuan membuat Yayasan Karim Oei menjadi rumah yang nyaman bagi segenap anak bangsa, khususnya umat Islam agar menjadi muslim yang taat, nasionalis sejati yang sukses dalam kehidupan sosial ekonominya.
Peran Yayasan Karim Oei ke depan semakin dibutuhkan mengingat tantangan kehidupan masyarakat Indonesia, khususnya kaum Muslim di era Global semakin berat. Kesenjangan ekonomi yang semakin melebar membuat daya saing dan daya tahan ekonomi kita semakin melemah, seiring dengan derasnya arus modal asing dan Pengusaha Besar terhadap penguasaan sumber daya alam dan sektor produktif. Ketahanan Budaya kita juga mengalami goncangan hebat sejalan dengan serbuan barang-barang import yang didukung oleh pertumbuhan industri media dan digital yang sangat cepat, semakin mempersubur budaya komsumerisme di kalangan masyarakat kita. Secara umum Gelombang Globalisasi telah mengubah tatanan masyarakat kita pada semua aspek, kita disibukkan dengan berbagai fenomena sosial dan budaya yang telah mengjungkir-balikan akal sehat dan nilai-nilai agama dan budaya. Seperti sebuah gelombang tsunami yang bergerak secara cepat, menghantam dan menggulung seluruh sendi dan pilar dan memporakporandakan tata nilai keluarga, kebersamaan, moral masyarakat, nasionalisme dan bahkan peradaban Bangsa.
Dalam kaitan itulah, kehadiran Buku “ Rumah Bagi Muslim, Indonesia dan Keturunan Tionghoa”, menjadi sangat penting untuk memberikan sumbangan pemikiran dan sekaligus menginspirasi gerakan untiik mengembalikan Jadi Diri Bangsa Indonesia Bersendikan Ketuhanan Yang Maha Esa dan Kemanusiaan yang adil dan beradab.
Semoga dengan adanya dukungan dari para Guru Bangsa seperti Prof.Dr.BJ.Habibie dan Jend TNI (Purn) Try Sutrisno dan lain-lain, Yayasan Karim Oei dapat terus meningkatkan peran sertanya dalam menyelamatkan peradaban Bangsa Indonesia melalui kerja dan karya yang berkesimbungan.
Semoga Allah SWT senantiasa meridhoi Perjuangan kita semua. (PENGANTAR DALAM BUKU “RUMAH BAGI MUSLIM, INDONESIA DAN KETURUNAN TIONGHOA”, penerbit Teplok Press, telp: 081382896969)

Leave a comment

Filed under Uncategorized

Prof.Dr.Muhammadiyah Amin : “BERTASAWUF DI ZAMAN EDAN”, BEKAL MENGHADAPI PERUBAHAN DUNIA

 

POTRET SOSIAL KEHIDUPAN MASYARAKAT DEWASA INI

Saya menyambut baik dan mengapresiasi penerbitan buku Bertasawuf di Zaman Edan , kumpulan catatan dari facebook tasawuf djawa full dan blog islamjawa Bapak B. Wiwoho. Saya mengenal penulis buku ini sebagai insan pers dan aktivis di sejumlah organisasi dan lembaga swadaya masyarakat. Prisma pemikiran dan pengabdian B. Wiwoho adalah cerminan kepeduliannya yang tinggi terhadap pengembangan sumber daya manusia dan pembangunan yang seimbang antara material dan spiritual.

Islam sebagai agama yang sempurna mengarahkan manusia untuk mampu memberdayakan potensi rohaniah atau unsur batinnya secara optimal. Sasarannya supaya hadir dalam tiap diri satu pola hidup yang bersih, sederhana, dan mengabdi. Pemaknaan tasawuf bagi seorang Muslim adalah kurang lebih seperti dikemukakan oleh Prof. Dr. Hamka dalam buku Tasauf Moderen, yaitu membersihkan jiwa, mendidik, dan mempertinggi derajat budi, menekan segala kelobaan dan kerakusan, memerangi syahwat yang berlebihan, demi untuk kesentosaan diri. Dengan kata lain, orang yang mempraktikkan tasawuf akan menjadi pribadi yang tercerahkan dan perilakunya terpimpin dengan akhlak islami.

Setelah membaca senarai artikel yang akan diterbitkan menjadi buku, saya mengapresiasi kepiawaian penulisnya, Bapak B. Wiwoho dalam mengemas, mengulas, dan menghadirkan potret sosial berupa fragmen-fragmen kehidupan masyarakat yang dijumpai sehari-hari di sekitar kita. Penulis buku ini mengajak pembaca agar mengambil makna, hikmah, pelajaran, dan perbandingan dari pengalaman hidup sendiri dan orang lain.

Saya menyimpulkan, buku ini lebih dari sekadar dokumentasi buah pikiran dan tulisan Bapak B. Wiwoho mengenai tasawuf. Karya ini sekaligus merefleksikan perjalanan pemikiran sang penulis dalam membaca dan menganalisis fenomena sosial. Melalui buku ini, Bapak B. Wiwoho mengajak kita untuk menyadari dan turut memikirkan, bahkan memberi solusi atas berbagai problema sosial, moral, dan kemanusiaan yang mengitari kehidupan.

Dewasa ini, modernisasi dan teknologi informasi telah mengubah pola kehidupan manusia dan mempengaruhi hubungan antar-sesama dalam arti positif atau negatif. Manusia modern di era sekarang memerlukan sandaran batin yang kuat, dan hal itu hanya bisa didapatkan dari agama. Salah satu peran agama adalah, sebagai pegangan hidup yang menguatkan manusia di tengah persaingan kehidupan yang semakin keras dan menyelamatkannya dari krisis atau konflik kejiwaan. Oleh karena itu, setiap orang perlu secara terus menerus mengasah dan meningkatkan kualitas pengamalan ajaran agama sebagai elemen pembangun mental-spitual agar manusia tidak gamang dan gentar menghadapi perubahan dunia sekelilingnya.

Dalam banyak ayat Al Quran ditegaskan, kebahagiaan dan ketenangan hidup hanya dapat dicapai melalui keimanan dan ketakwaan kepada Allah Swt yang melahirkan amal shaleh. Untuk itu, setiap muslim harus meneguhkan jatidirinya di atas keyakinan tauhid yang bersih, sehingga mampu menjadi mata air kebaikan yang mengalirkan manfaat bagi umat manusia.

Selamat menikmati pencerahan yang menarik dan bernas dalam lembar demi lembar buku ini. (Pengantar buku “BERTASAWUF DI ZAMAN EDAN”, penerbit BukuRepublika).

Leave a comment

Filed under Uncategorized

Nasihat Ulama Sepuh Kyai Ali Yafie Terhadap Demo Umat Islam 212.

 Teguh, Istiqomah.

Sami’na wa atho’na, yang berarti kami dengar dan kami taat, adalah sikap hormat dan patuh yang diajarkan di dalam Islam kepada seorang muslim untuk hormat dan patuh pada ulama. Ungkapan kepatuhan itu berasal dari ayat suci Al Qur’an surat Al Baqarah ayat 285.

Perihal ulama, Junjungan Kanjeng Nabi Muhammad Saw. dalam hadis yang sangat termasyhur, yang diriwayatkan oleh Abdu Dawud, bersabda, “Ulama adalah pewaris Nabi.”

Berdasarkan adab mulia yang diajarkan Al Qur’an dan hadis itu, saya mempunyai kebiasaan jika menghadapi keadaan yang besar dan luas pengaruhnya di masyarakat, memohon nasihat serta petunjuk dari ulama yang sudah sangat sepuh dan saya percaya sudah bisa menjalani “topo ngrame”, yaitu Prof.K.H.Ali Yafie.

Kali ini saya memohon nasihat bagaimana menyikapi “Demo Super Damai 212” ( Jumat 2 Desember 2016 di lapangan Monas Jakarta.

Kalimat pertama yang keluar dari beliau adalah, “Ya, Zaman Edan. Seperti yang sudah kita bicarakan dan bahas dalam buku Zaman Edan kita.” Maksudnya adalah buku BERTASAWUF DI ZAMAN EDAN, yang diluncurkan pada Selasa tanggal 22 Safar 1438 H (22 November 2016), menandai acara Tasyakur 93 tahun hitungan kalender Hijriah usia beliau.

“Jadi harus bagaimana Puang Kyai?”

“Teguh, istiqomah. Jalan terus. Ingat hadis yang saya kutip untuk catatan buku Zaman Edan tersebut. Itu hadis dan bukan ucapan saya.”

“Bacaan dzikir apa yang paling tepat untuk dilantunkan dan dipanjatkan dalam situasi yang jungkir balik ini?”

“Berserah diri sepenuh hati kepada Allah Yang Mahapenolong, yaitu hasbunallah wa ni’mal wakil.. Cukuplah Allah yang menjadi penolong kita.” Demikian penegasan dan nasihat beliau.

Agar kita bisa memahami lebih lengkap nasihatnya, berikut ini saya kutipkan catatan Prof.K.H.Ali Yafie yang menjadi halaman pertama, yang langsung kita jumpai apabila membuka sampul depan buku BERTASAWUF DI ZAMAN EDAN, sebagai berikut:

“Kita mengenal istilah populer Zaman Edan dari syair Pujangga Ronggowarsito. Namun sebelumnya salah satu ulama dari Walisongo, yaitu Sunan Kalijogo juga sudah mengajarkan bagaimana jika kita menghadapi suasana kehidupan dengan tata nilai “jungkir balik” seperti Zaman Edan. Sesungguhnya keadaan yang seperti itu pun sudah diingatkan dan digambarkan oleh Nabi Muhammad Saw. Kitab Mukhtarul Ahadist an-Nabawiyah karya Assayid Ahmad al-Hasyimi mengungkapkan hal tersebut antara lain: “Kelak akan datang banyak sekali fitnah. Pada waktu itu orang yang duduk lebih baik dari orang yang berdiri, orang yang berdiri lebih baik dari orang yang berjalan, serta orang yang berjalan lebih baik dari orang yang berlari”.

Hadis lain menyebutkan, Rasulullah bersabda: “ Nanti pada suatu masa akan tampil pemimpin-pemimpin yang menguasai harta benda kamu, mereka akan berbicara dengan kalian dan membohongi kalian, mereka bekerja tetapi mencela pekerjaan itu, tidak akan senang pada kalian sampai kalian menganggap baik keburukannya, dan membenarkan kebohongannya. Maka berikanlah kepada mereka apa maunya, dan kalau mereka itu melampaui batas maka siapa saja yang terbunuh dalam keadaan seperti itu dia akan mati sahid.”

Mengapa dunia ini bisa kacau? Karena terlalu banyak orang yang tidak tahu diri, tidak tahu menempatkan diri dan tidak bisa membawa diri. Dalam dunia Tasawuf sering diungkapkan “man arafa nafsahu faqad arafa rabahu” (siapa saja yang mengetahui dirinya maka akan mengetahui Tuhannya). Ada dua rumus untuk memahami siapa kita. Pertama, manusia adalah makhluk yang cerdas karenanya manusia itu adalah makhluk yang diberikan derajat yang mulia dan tinggi (terhormat), (QS al-Isra [17]: 70). Jika ada manusia yang berbuat tidak terhormat maka orang itu mengingkari hakikat dirinya atau manusia yang tidak tahu diri. Kedua, manusia adalah makhluk sosial yang beradab, dia senantiasa membutuhkan orang lain dan di sisi yang lain tidak boleh memandang remeh orang lain.”

(Penerbit BukuRepublika, 410 halaman (xxxiv+376), tlp./sms 081285304767 www.bukurepublika.com atau https://islamjawa.wordpress.com atau bwiwoho.blogspot.com atau bukusahabatwiwoho.wordpress.com).

Leave a comment

Filed under Uncategorized

Penjajah Belanda dan Islam Menyatukan Indonesia

Jangan Sakiti Hati Umat Islam.

Pewarta: Parni Hadi*

Penjajahan Belanda dan perlawanan yang dilakukan oleh penduduk di berbagi pulau di kawasan antara benua Asia dan Australia, yang mayoritas beragama Islam, telah membentuk bangsa Indonesia dan melahirkan NKRI (Negara Kesatuan Republik Inonesia).
“Imperialisme Belanda adalah penjajahan yang menyatukan (uniting imperialism),” kata Duta Besar Kerajaan Belanda untuk Indonesia Van Roijen, awal tahun 1990an.

Apa yang dikatakan Dubes Belanda itu betul, sebab wilayah Republik Indonesia seperti tertulis dalam UUD 1945 adalah seluruh bekas jajahan pemerintah Hindia Belanda.
Perlawananan terhadap penjajah Belanda dilakukan rakyat, baik Muslim maupun non-Muslim, hampir di seluruh wilayah Indonesia. Tercatat dalam  buku sejarah tokoh-tokoh pejuang nasional, antara lain Sultan Agung, Imam Bonjol, dan Pangeran Diponegoro.
Pejuang lain adalah Teuku Umar, Tjut Nya Dien, Pangeran Antasari, Sultan Hasanuddin, Martha Christina Tiahahu, Thiomas Matulessy Pattimura dan IG Ngurah Rai.

Sesuai prosentase penduduk, mayoritas perlawanan dilakukan dan dipimpin oleh umat Islam.
Pertempuran Surabaya November 1945, yang kemudian diperingati sebagai Hari Pahlawan, juga dikobarkan Bung Tomo dengan seruan “Allahu Akbar”. Orang rela mati berkat panggilan yang mengagungkan asma Allah itu. Belum lagi, jika penjajah Belanda dianggap kafir, maka berperang melawan kafir diyakini sebagai berjihad.

“Kita mencintai bangsa kita dan dengan ajaran agama kita (Islam), kita berusaha sepenuhnya untuk mempersatukan seluruh atau sebagian terbesar bangsa kita,” kata HOS Tjokroaminoto, Ketua Sarekat Islam (SI) dalam salah satu rapat akbar SI seperti diungkap buku “Jang Oetama” (Yang Utama), Jejak dan Perjuangan HOS Tjokroaminoto (1882-1934), karya Aji Dedi Mulawarman.

Sementara itu, buku “OS Tjokroaminoto, Pelopor Pejuang, Guru Bangsa dan Penggerak SI” karya HM Nasruddin Anshory Ch dan Agus Hendratno, mengungkap pendapat Tjokroaminoto bahwa Islam adalah sesuatu yang harus diperjuangkan dan dipersatukan sebagai dasar kebangsaan Indonesia.
Tjokroaminoto adalah guru dari sejumlah tokoh besar yang setelah Indonesia merdeka saling bertentangan, di antaranya Bung Karno, tokoh nasionalis yang kemudian menjadi Presiden pertama RI. Kemudian Musso, pentolan  PKI (Partai Komunis Indonesia) yang memimpin pemberontakan PKI Madiun 1948  dan SM Kartosuwiryo, pimpinan Darul Islam (DI) yang memberontak kepada pemerintah RI.
Musso tewas oleh serangan pasukan TNI dari Divisi Siliwangi. Kartosuwiryo ditangkap tahun 1962 dan dijatuhi hukuman mati sesuai keputusan pengadilan.

Jangan sakiti hati umat Islam

Hariman Siregar, pimpinan gerakan mahasiswa yang melahirkan apa yang terkenal dengan peristiwa Malari (Mala Petaka Januari), 1974, sebuah demonstrasi anti pemerintahah Presiden Soeharto, berpendapat bahwa pemerintah jangan menyakiti hati umat Islam, mayoritas penduduk Indonesia.
“Jangan sakiti hati umat Islam,” kata Hariman dalam sambutannya pada peluncuran buku “Bertasawuf Di Zaman Edan” karya Bambang Wiwoho di Jakarta pada 22 November 2016.

Hariman mengaku pengetahuannya tentang Islam baru sedikit, belajar dari mertuanya, Prof. Sarbini Sumawinta, ekonom UI, orang Sunda yang lahir di Madiun, beraliran Sosialis (PSI) dan pernah menjadi ketua tim ahli politik Jendral Suharto di awal Orde Baru .
Pembangunan, lanjut Hariman, jangan lebih berfokus untuk kepentingan golongan tertentu yang sudah kaya, melainkan untuk kepentingan rakyat, yang mayoritas beragama Islam.
Orang boleh berdebat, suara Islam tidak satu, tapi terbagi dalam berbagai aliran, mahzab dan organisasi. Tapi, bila keyakinan akan tauhid (keesaan Tuhan), kesucian Nabi Muhammad  SAW dan kebenaran Al-Quran  dilecehkan, maka mayoritas umat Islam, terlepas perbedaan aliran, mahzab dan organisasi, akan bangkit bersatu.

Tjokroaminoto, guru para tokoh  pergerakan nasionalis, komunis dan Islam sekaligus,  pun segera bangkit membentuk dan memimpin Tentara Kanjeng Nabi Muhammad SAW (TKNM) gara-gara  Rasulullah Saw dilecehkan oleh sebuah tulisan di majalah “Jawi Hisworo” yang terbit di Solo awal tahun 1918.

Artikel tersebut membuat umat Islam marah, menyulut reaksi keras dengan pembentukan TKNM tanggal 17 Februari 1918. TNKM berdiri hampir di seluruh Jawa, kecuali Semarang dan Yogyakarta, serta sebagian Sumatera.  Gerakan TKNM berhasil menghimpun aksi massa yang melibatkan  sekitar 175 ribu orang
.
Pak Tjokro, yang tercatat lahir di desa Bakur, kecamatan Sawahan Madiun adalah tokoh Islam terpelajar pada jamannya. Anggota SI disebut mencapai 2,5 juta orang, jumlah terbesar yang pernah dapat diraih sebuah organisasi waktu itu. Karena besarnya jumlah pengikutnya, ia digelari “Raja Jawa Tanpa Mahkota”.

Sebagai jago pidato atau orator ulung yang dapat memukau pendengarnya selama beberapa jam, Pak Tjokro  mendapat gelar “Singa Podium”. Kemampuan serupa dimiliki oleh sang murid, Bung Karno, yang berani menilai pidato sang guru kurang berwarna alias monoton.

Orang boleh menyebut  tingkat pendidikan mayoritas rakyat Indonesia belum tinggi dan menjadi Muslim karena sangat dipengaruhi emosi (perasaan). Tentang peranan perasaaan, ada pendapat bahwa keimanan penganut agama dan keyakinan apa pun  dipengaruhi oleh perasaan.
Dalam politik praktis, kondisi umat Islam yang mayoritas dianggap masih kurang terpelajar dan belum sejahtera  adalah sebuah realitas politik (real politik) yang harus diperhatikan secara seksama oleh para politisi dan penguasa.

Alasannya, mereka adalah sumber suara mayoritas. Jika mau sukses meraih dan mempertahankan kekuasan, umat Islam harus didekati, dirangkul dan diajak berdialog.
Generasi muda penerus Eyang Tjokro sekarang sudah jauh lebih maju. Sudah banyak yang menempuh pendidikan di negara Barat dengan menggondol gelar S3. Generasi “Y” Muslim kini juga menguasai teknologi muthakir dan sanggup menandingi serbuan  “Buzzer”  yang dianggap merugikan kepentingan umat Islam.

Tentang cinta Tanah Air dan bela negara, di kalangan umat Islam ada semboyan: “Hubbul Wathan Minal Iman” (Mencintai Tanah Air adalah bagian dari Iman).
*Penulis adalah Wartawan senior, Inisiator/Ketua Dewan Pembina Dompet Dhuafa dan Penulis “Jurnalisme Profetik”.
Editor: Mulki
COPYRIGHT © ANTARA 2016

Leave a comment

Filed under Uncategorized

Bertasawuf di Zaman Edan, Meneladani KH Ali Yafie

 

BSM: Bersih – Sederhana – Mengabdi

Oleh Parni Hadi.

Jakarta (ANTARA News) – Bertasawuf (mengenal diri untuk mengenal Tuhan) di zaman edan perlu bagi setiap insan untuk mencapai kedamaian batin dan kebahagiaan orang lain dengan melakoni hidup bersih, sederhana, mengabdi (BSM) ala ahli fiqih (hukum Islam), Prof KH Ali Yafie.

Hal itu terungkap dalam buku “Bertasawuf di Zaman Edan”, karya Bambang Wiwoho, wartawan senior, yang diluncurkan di Jakarta, 22 November 2016. Peluncuran buku sekaligus memperingati HUT mantan Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia yang tahun ini genap berusia 90 tahun.
Zaman edan adalah masa ketika tata nilai kehidupan “jungkir balik” yaitu yang salah dibenarkan dan yang benar disalahkan, yang salah dibela dan yang benar dicela. Orang yang kurang atau tidak waras pikirannya disebut edan atau gila.
Ungkapan zaman edan dipopulerkan oleh pujangga Jawa Ronggowarsito. Sebelumnya oleh Sunan Kalijogo, salah seorang Wali Songo. Bahkan, Nabi Muhammad SAW sudah menyampaikan akan datang suatu masa seperti itu, menurut kitab Mukhtarul Ahadist an-Nabawiyah seperti dikutip Puang (Eyang) KH Ali Yafie dalam buku itu.
Hadir dalam acara peluncuran buku tersebut Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin dan sejumlah tokoh nasional, termasuk Prof Dr M Quraish Shihab, Prof Dr Jimly Assidiqie, mantan Gubernur DKI Soerjadi Soedirdja, Fahmi Idris, Marzuki Usman, AM Fatwa, Hariman Siregar, dan adik almarhum Gus Dur, Hj Lilly Wahid.
Buku ini adalah sebuah kisah penulisnya, seorang pencari hakikat Tuhan, Kebenaran Tertinggi atau Kebenaran Mutlak Tanpa Batas. Bentuk, cara, dan gaya penyajian kisah pencariannya diwarnai oleh latar belakang budaya, agama, dan profesi sang penulis: seorang Jawa, beragama Islam dan wartawan.
Bambang artinya satria yang hidup dan tumbuh berkembang di pertapaan, padepokan atau perguruan bersama sang pertapa dan sang guru sekaligus. Wiwoho berarti dimuliakan. Begitu maksud sang pemberi nama.
Tasawuf adalah sebuah ajaran dalam agama Islam untuk mengenal dan mendekatkan diri kepada Allah. Sebuah ilmu, cara, dan sekaligus jalan menuju Tuhan dengan laku-laku tertentu yang berintikan dan dimulai dengan pengenalan diri sendiri melalui pengendalian nafsu, penataan batin, dan berakhir pada pasrah kepada Allah.
Sebagai orang Jawa yang budayanya terkenal suka meramu segala macam ilmu dan laku menjadi satu padu, Mas Wie, begitu orang biasa memanggilnya, membingkai keislamannya dengan nama Islam Jawa. Ada yang menyebutnya “Islam rasa Jawa” dan atau “Jawa rasa Islam”. Ada juga: “Wadah Islam, rasa Jawa” dan atau “Wadah Jawa, rasa Islam”. Wadah dan isi menyatu. Syariat dan hakikat telah saling mengikat. Keduanya adalah tajali (pengejawantahan) Sang Maha Hakikat.
Seorang wartawan adalah sosok yang senang mempertanyakan segala sesuatu. “A questioning mind” atau batin yang selalu bertanya. Tidak gampang percaya begitu saja pada segala hal, selalu resah, gelisah, ingin membuktikannya sendiri. Minimal, ingin melakukan klarifikasi dengan ahlinya. Di sini sang pelaku, pencari dan pejalan (traveller) menuju hakikat, perlu pemandu yang bertindak sebagai guru.
Praktik hidup keseharian

Allah mempertemukan Mas Wie dengan Sang Guru, yakni Puang Profesor Kyai Haji Ali Yafie, seorang tokoh Islam terkemuka dari Sulawesi Selatan, yang menurut perhitungan Hijriah, tahun ini genap berusia 93 tahun.
Tampilnya sang Guru yang non Jawa menunjukkan bahwa hakikat itu bersifat universal, tidak mengenal SARA (suku, agama/aliran, ras dan antar-golongan), istilah top zaman Pak Harto, serta kebangsaan, ideologi, apalagi partai politik.
Tasawuf tidak identik dengan ilmu “klenik” yang umumnya dianggap bertujuan untuk memiliki kekuatan supranatural, seperti kesaktian menggandakan uang. Bertasawuf tidak berarti hidup menyepi sendiri di hutan, gua atau pucuk gunung dengan hanya khusyuk berdoa (khalwat). Tetap bekerja seperti biasa, bahkan lebih keras, tapi tujuan utamanya untuk beribadah. Orang Jawa menyebutnya “topo ngrame, sepi ing pamrih rame ing gawe” (bertapa di tempat ramai).
Seorang sufi (pengikut tasawuf) tetap harus menjalani ibadah syariat, sholat, seraya menempuh tarekat menuju hakekat untuk menggapai makrifat.
Kyai Ali Yafie memenuhi syarat untuk menjadi guru sesuai ajaran Jawa yang termaktub dalam “Serat Wulangreh” buku karya Kanjeng Sinuhun Pakubuwono IV, Raja Surakarta.
Sang pujangga-raja atau raja-pujangga dalam Tembang Dhandhanggula menasehatkan: jika mencari guru pilihlah manusia yang nyata, yang bagus martabatnya, tahu hukum (syariah), yang beribadah dan “wirangi” (wara), syukur petapa, yang sudah selesai dengan dirinya sendiri, tidak berpikir lagi tentang pemberian orang lain.
Puang Ali Yafie sangat pantas menyandang gelar “mursyid” (guru tasawuf). Laku hidup Pak Kyai, yang juga tokoh Ikatan Cendekiawan Muslim se-Indonesia (ICMI), dapat diperas secara bernas menjadi BSM.

Ia terkenal bersikap tegas. Karena menolak SDSB (Sumbangan Dana Sosial Berhadiah), yang dianggapnya judi, ia memilih mundur dari jabatan Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) dan Rais Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU). Laku sangat penting dalam menempuh jalan (tarekat) menuju hakikat dan makrifat seperti ajaran Sri Mangku Negoro IV, Raja Puri Mangkunegaran, Surakarta dalam karyanya Serat Wedhatama: “ngelmu iku kalakone kanthi laku” (ilmu itu mewujudnya dengan laku).
BSM sebagai laku menjiwai buku ini dari awal sampai akhir. Kebetulan, wartawan adalah pengemban profesi mulai sebagai pewaris tugas kenabian: menyampaikan kabar gembira dan peringatan seperti tersurat dalam Al-Khafi, QS 18:56, (lihat “Jurnalisme Profetik”) demi kesejahteraan bagi seluruh alam semesta. Buku ini diterbitkan PT Buku Republika.
Islam mengajarkan pengendalian nafsu, bukan penghilangan nafsu, karena nafsu adalah perangkat hidup sebagai sunatullah. Berkat nafsu, kehidupan dapat berkembang maju. Kata kuncinya adalah pengendalian berdasar ajaran budaya dan agama sesuai tuntunan Allah melalui para rasul dan atau orang pilihan-Nya.
BSM perlu menjadi pedoman setiap insan, terutama para pemimpin, dalam mengarungi Zaman Edan di era globalisasi kini. Ini gampang diomongkan, tapi sulit diamalkan. Banyak orang mendapat gelar “Jarkoni”, bisa berujar, tidak bisa melakoni. Sederet gelar akademis dan keagamaan tidak menjamin dan mencerminkan kualitas intelektualitas dan religiusitas seseorang.
Era globalisasi yang dipicu oleh kapitalisme mempengaruhi sikap hidup hampir semua orang sejagat menjadi: individualis, egoistis, egosentris, dan hedonis. Semua cenderung memperturutkan hawa nafsunya. Pengendalian nafsu terkait erat dengan disiplin diri yang ketat.
Seorang dosen tasawuf, baru-baru ini berkata: Hanya sufi yang lurus dapat memandu menyelamatkan perjalanan bangsa ini dan seluruh umat manusia menuju kebahagiaan melewati jalan cinta untuk semua (rahmatan lil alamin).
Prof Dr KH Ali Yafie dengan BSM-nya adalah suri teladan. Beliau konsisten suci dalam pikiran, perkataan, dan perbuatan (Dasadharma Pramuka) dalam kehidupan sehari-hari. (*)
*Penulis adalah Wartawan, Inisiator/Ketua Dewan Pembina Dompet Dhuafa dan Penulis “Jurnalisme Profetik”.
Editor: Ruslan Burhani

Leave a comment

Filed under Uncategorized

PELUNCURAN BUKU BERTASAWUF DI ZAMAN EDAN MENANDAI TASYAKUR 93 TH PROF.K.H.ALI YAFIE.

PELUNCURAN BUKU BERTASAWUF DI ZAMAN EDAN MENANDAI TASYAKUR 93 TH PROF.K.H.ALI YAFIE.

Alhamdulillah, dengan ridho, rahmat dan berkah Gusti Allah Yang Mahapengasih lagi Mahapenyayang, buku BERTASAWUF DI ZAMAN EDAN telah diluncurkan menandai tasyakuran usia Prof.K.H.Ali Yafie  93 tahun, bertempat di Telaga Sampireun, Bintaro, Selasa 22 November 2016. Meski undangan baru diedarkan hanya sekitar 4 hari sebelum acara dan pada umumnya dalam bentuk kiriman media sosial What’s Ap, sekitar 150 tamu termasuk Menteri Agama RI Lukman Hakim Saaifuddin menghadiri tasyakuran tersebut. Berikut foto-fotonya

Leave a comment

Filed under Uncategorized

BUKU BERTASAWUF DI ZAMAN EDAN

Penerbit BukuRepublika, 410 halaman (xxxiv+376), tlp./sms 081285304767 www.bukurepublika.com atau https://islamjawa.wordpress.com atau bwiwoho.blogspot.com atau bukusahabatwiwoho.wordpress.com

Leave a comment

29 November 2016 · 2:59 pm