PERMOHONAN MAAF JELANG RAMADHAN

Nisfu Sya’ban baru saja kita lewati beberapa hari yang lalu. Sebagaimana beberapa tahun belakangan ini, di masyarakat berkembang kebiasaan baru yang sebetulnya bagus. Yaitu mengirim pesan dari telpon genggam, SMS, BBM, WA,twitter, menulis di fesbuk dan sejenisnya kepada kaum kerabat dan handai tolan, berisi permohonan maaf sehubungan dengan datangnya bulan Puasa atau Ramadhan.

Permohonan maaf menjelang Puasa sungguh beralasan sesuai hadis yang menyatakan bahwa pada bulan Puasa, Gusti Allah akan menganugerahi umat-Nya dengan menurunkan rahmat, menghapuskan dosa-dosa dan doa-doa dikabulkan. Sementara hadis yang lain mengkisahkan penuturan Kanjeng Nabi Muhammad Saw akan ucapan Jibril sebagai berikut, “Celakalah orang yang mendapatkan bulan Ramadhan tetapi ia tidak diampuni”.

Rasulullah juga memberikan petunjuk, barang siapa dibukakan pintu kebaikan maka hendaklah menggunakan kesempatan itu, sebab tidak diketahui kapan pintu kebaikan itu akan ditutup. Terhadap hadis ini, Syekh Abdul Qadir Jailani mengingatkan kepada para murid dan pengikutnya agar segera memasuki pintu tersebut dengan bertobat.

Tentang orang yang terlanjur berbuat salah dan dosa, Al-Hikam dari Imam Attaillah Askandary mengajarkan, jika kita terlanjur berbuat dosa, maka janganlah dijadikan alasan untuk berputus asa dalam menggapai istiqomah dengan Gusti Allah, karena bukan tidak mungkin dosa kita tersebut adalah justru dosa terakhir yang ditakdirkan kepada kita. (Ikuti sambungannya: BENARKAH PINTU MAAF & PINTU RAHMAT SUDAH TERTUTUP?).

Tentang orang yang terlanjur berbuat salah dan dosa, Al-Hikam dari Imam Attaillah Askandary mengajarkan, jika kita terlanjur berbuat dosa, maka janganlah dijadikan alasan untuk berputus asa dalam menggapai istiqomah dengan Gusti Allah, karena bukan tidak mungkin dosa kita tersebut adalah justru dosa terakhir yang ditakdirkan kepada kita. (Ikuti sambungannya: BENARKAH PINTU MAAF & PINTU RAHMAT SUDAH TERTUTUP?).

Leave a comment

Filed under Uncategorized

Berguru Pada Sunan Kalijaga, Memandang Nusantara.

 Pulau Jawa & Nusantara Sebelum Islam.

Tatkala agama Islam mulai gencar didakwahkan pada abad XV – XVI, pulau Jawa yang masih banyak hutan belantara dan semak belukarnya, bukanlah negeri jahiliyah yang rendah peradabannya. Di balik dan di antara hutan-hutan belantara tersebut, terdapat sejumlah monumen-monumen bukti pernah berlangsungnya peradaban tinggi misalkan sejumlah candi di pegunungan tinggi Dieng, candi Borobudur, puluhan candi di Prambanan dan puing-puing rerentuhan Keraton Boko, semuanya di Jawa Tengah. Sementara itu sejumlah candi serta bukti peninggalan peradaban yang sudah maju lainnya, juga terdapat di berbagai pelosok Nusantara.

Di bidang pelayaran dan perdagangan, beberapa sumber tulisan dari Barat sebagaimana dikutip Agus Sunyoto dalam Atlas Walisongo, Pustaka Ilman, Trans Pustaka dan LTN PBNU, 2012, menyatakan pada tahun 70-an Masehi, cengkih dari kepulauan Maluku sudah diperdagangkan di Roma, dan semenjak abad ketiga Masehi, perahu-perahu dari kepulauan Nusantara telah menyinggahi anak benua India serta pantai timur Afrika, dan sebagian di antaranya bermigrasi ke Madagaskar.

Bukan hanya dari para pencatat perjalanan orang-orang Barat saja, kisah pelayaran tadi juga bisa ditemukan di relief Candi Borobudur. Pada tahun 2003, pengrajin kapal dari Madura telah membuktikan kehandalan perahu di relief candi tersebut, dengan membuat tiruannya, sekaligus napaktilas pelayarannya. Kapal yang dinamai “Samudraraksa” ini berlayar ke Afrika dengan selamat dan kini disimpan di Musium Kapal Samudraraksa di Borobudur (http://www.tempo.co/read/news/2003/07/03/05521575/Ekspedisi-Kapal-Borobudur-Dapat-Memberdayakan-Budaya dan http://setuparch.blogspot.com/2013/09/kapal-kapal-sriwijaya.html ). Replika berikutnya diberi nama “Spirit of Majapahit”, diluncurkan menuju Jepang dari dermaga Marina, Jakarta pada 4 Juli 2010. (http://www.jpnn.com/index.php?mib=berita.detail&id=67324).

Pencatat sejarah China anak buah Fa Hsien di akhir abad III dan awal abad IV Masehi menerangkan pula bahwa pelaut-pelaut Nusantara memiliki kapal-kapal besar yang panjangnya sekitar 200 kaki (65 meter), tinggi 20 – 30 kaki (7 – 10 meter) dan mampu dimuati 600 – 700 orang ditambah muatan seberat 10.000 hou. Sementara pada masa itu panjang jung China tidak sampai 100 kaki (30 meter) dengan tinggi kurang dari 10 – 20 kaki (3 – 7 meter). Catatan yang ditulis dalam Tu Kiu Kie ini telah dikutip oleh banyak ahli yang mempelajari sejarah agama Buddha maupun Asia Tenggara di masa lalu.

Ahli Javanologi Belanda, Van Hien tahun 1920 dalam De Javansche Geestenwereld, yang disadur secara bebas oleh Capt.R.P.Suyono dalam Dunia Mistik Orang Jawa, penerbit LkiS Yogyakarta 2007 halaman 12, menerangkan Shi Fa Hian (Fa Hsien) dalam perjalanannya pulang ke China diserang badai dan terdampar di pantai Jawa. Ia berdiam lima bulan di Jawa, menunggu selesainya pembuatan sebuah kapal besar yang sama dengan kapalnya yang rusak dihantam badai (juga Atlas Walisongo halaman 20).

Berbagai catatan sejarah menyatakan, pada sekitar abad VII – XII Masehi, di pulau Sumatera juga berlangsung pemerintahan Kerajaan Sriwijaya yang kekuasaannya meliputi Asia Tenggara termasuk pulau Jawa. Puncak kejayaan Sriwijaya terjadi pada abad VIII. Sejarawan S.Q. Fatimi menyebutkan bahwa pada tahun 100 Hijriyah (718 M), seorang maharaja Sriwijaya (diperkirakan adalah Sri Indrawarman) mengirimkan sepucuk surat kepada Khalifah Umar bin Abdul Aziz dari Kekhalifahan Umayyah, yang berisi permintaan kepada khalifah untuk mengirimkan ulama yang dapat menjelaskan ajaran dan hukum Islam kepadanya. Surat itu dikutip dalam Al-‘Iqd Al-Farid karya Ibnu Abdu Rabbih (sastrawan Kordoba, Spanyol), dan dengan redaksi sedikit berbeda dalam Al-Nujum Az-Zahirah fi Muluk Misr wa Al-Qahirah karya Ibnu Tagribirdi (sastrawan Kairo, Mesir

” Dari Raja sekalian para raja yang juga adalah keturunan ribuan raja, yang isterinya pun adalah cucu dari ribuan raja, yang kebun binatangnya dipenuhi ribuan gajah, yang wilayah kekuasaannya terdiri dari dua sungai yang mengairi tanaman lidah buaya, rempah wangi, pala, dan jeruk nipis, yang aroma harumnya menyebar hingga 12 mil. Kepada Raja Arab yang tidak menyembah tuhan-tuhan lain selain Allah. Aku telah mengirimkan kepadamu bingkisan yang tak seberapa sebagai tanda persahabatan. Kuharap engkau sudi mengutus seseorang untuk menjelaskan ajaran Islam dan segala hukum-hukumnya kepadaku.” (Surat Maharaja Sriwijaya kepada Khalifah Umar bin Abdul Aziz. http://id.wikipedia.org/wiki/Sriwijaya, 1 Mei 2015 pukul 18.45 ).

Bukti tentang peradaban yang cukup maju lainnya ditemukan pula melalui berbagai prasasti dan kondisi lapangan, yang menjelaskan mengenai setidaknya ada lima sistem irigasi yang tertata baik, yang dibangun pada rentang periode abad 9 sampai 14 di lembah Sungai Brantas, Jawa Timur (1000 Tahun Nusantara, Kompas 2000, hal 128).

Pun demikian kondisi pada sekitar abad XV – XVI itu, tatkala para ulama gencar berdakwah ke Nusantara. Pamor Kerajaan Nusantara Majapahit yang beribukota di Trowulan, Jawa Timur, memang sedang memudar, bahkan kekuasaannya mulai runtuh. Meskipun demikian gambaran kebesaran peradabannya dicatat oleh pengembara Portugis tahun 1512 – 1515 Tome Pires dalam karyanya yang sangat terkenal dan sering menjadi sumber rujukan sejarah Asia Tenggara, Suma Oriental (dalam Pemugaran Persada Sejarah Leluhur Majapahit oleh Prof.Dr. Slamet Mulyana, Inti Idayu Press, Jakarta 1983 halaman 282, 283 dan seterusnya). Menurut Tome Pires, Sultan Malaka yang bergelar Raja Muzaffar Syah (1450 – 1458) serta puteranya yaitu Raja Mansyur Syah (1458 – 1477), sebagai raja bawahan Jawa, memiliki hubungan yang baik dengan Jawa. Bahkan untuk keperluan menunaikan ibadah haji ke Mekah, Raja Mansyur Syah memesan jung besar dari Jawa.

Sejarah panjang peradaban Jawa dan juga daerah-daerah lain di Nusantara, banyak dikupas oleh para penulis sejarah asing, yang daftar rincian penulisnya bisa dilihat antara lain di buku Atlas Walisongo.

Dalam halaman 374 buku tadi bahkan digambarkan secara ekstrem kesombongan orang Jawa Majapahit. Diogo Do Couto yang datang ke Jawa tahun 1526, yaitu setahun sebelum balatentara Demak menyerbu Girindrawardhana di Majapahit, mencatat antara lain sebagai berikut:

“Pulau Jawa melimpah atas segala sesuatu yang terkait dengan kebutuhan hidup manusia. Begitu berlimpahnya sehingga Malaka, Aceh dan semua negeri tetangga memperoleh pasokan kebutuhan dari situ. Penduduk pribuminya disebut orang Jawa (Jaos); mereka orang-orang yang sombong, selalu memandang orang bukan Jawa lebih rendah.”

Bersamaan dengan masa peralihan kekuasaan dari Kerajaan Majapahit yang memudar ke Kadipaten Demak yang semakin membesar, berlangsung pula suasana peralihan di bidang keagamaan dan kepercayaan. Pada masa kejayaan Majapahit, masyarakat menganut agama Hindu yang mengutamakan pemujaan pada Dewa Syiwa serta agama Buddha. Kedua agama tadi berjalan seiring dengan kepercayaan masyarakat terhadap ruh-ruh halus. Mereka juga sangat mempercayai hal-hal gaib dan mistis, serta mengkaitkan hampir semua aspek kehidupan dengan hal tersebut.

Kesenian, Salah Satu Media Dakwah Para Wali.

Dalam suasana kehidupan yang seperti itulah agama Islam yang sudah bersemi di pusat kerajaan Majapahit, semakin disebarkan secara meluas oleh para ulama, yang kemudian dikenal sebagai para wali dan diberi sebutan atau nama panggilan Sunan. Dua dari para wali itu adalah Sunan Bonang dan muridnya yaitu Sunan Kalijaga, dikenang masyarakat sampai sekarang karena jago berdakwah dengan menggunakan media kesenian, terutama berupa musik tradisional gamelan berserta tembang-tembang Jawa.

Para ulama yang hidup sederhana, zuhud dan wara, mengenalkan agama Islam antara lain dengan cara menembang, bersenandung merdu aneka irama, mulai dari irama ceria yang ditujukan sebagai pengiring permainan anak-anak, irama menggelora pengobar semangat sampai irama sentimental menyertai ajaran-ajaran menyongsong kematian ke alam kelanggengan di haribaan Ilahi. Ajaran tembang-tembang islami itu diberi nama Suluk, sesuai tujuannya yaitu mendekatkan diri kepada Allah, Tuhan Yang Maha Esa lagi Maha Kuasa.

Kata suluk, berasal dari bahasa Arab yang secara etimologis berarti cara atau jalan. Tapi bisa juga berarti kelakuan atau tingkah laku. Dalam tasawuf, suluk berarti jalan atau cara untuk mendekatkan diri kepada Gusti Allah Swt. Menurut buku Ensiklopedi Islam yang diterbitkan PT.Ichtiar Baru Van Hoeve – Jakarta, istilah suluk digunakan untuk suatu kegiatan tertentu oleh seseorang agar ia dapat mencapai suatu ihwal (keadaan mental) atau makam tertentu.

Dengan memanfaatkan serta mengembangkan kesenian Jawa yang ada, disertai berbagai contoh perikehidupan sehari-hari yang menarik dan senang menolong sesamanya, mereka menyusup halus secara bijak dalam kehidupan masyarakat luas, mempengaruhi, menggeser setapak demi setapak atau membungkus selapis demi selapis agama, kepercayaan dan adat istiadat lama.(https://islamjawa.wordpress.com/2013/03/28/suluk-tembang-dakwah-walisongo-1-dari-suluk-tasawuf-ke-suluk-wayang/ dan http://bwiwoho.blogspot.com/2013/03/suluk-tembang-dakwah-walisongo-1-dari.html ).

Salah satu dari sejumlah tembang yang dipercaya masyarakat sebagai ciptaan para wali, adalah sebuah tembang suluk atau tembang dakwah Islam, yang dikenal dengan tiga nama yaitu Kidung Kawedar atau Kidung Sarira Ayu, sesuai dengan bunyi teks dalam bait ketiga, dan Kidung Rumekso Ing Wengi, sesuai bunyi teks di awal Kidung, sebagaimana kita lazim menyebut Surat Al Ikhlas dengan nama Surat Qulhu atau Surat Al Insyiraah dengan sebutan Surat Alam Nasyrah.

Kepada masyarakat yang sangat mempercayai hal-hal gaib dan mistis tadi, Sunan Kalijaga menciptakan Suluk Kidung Kawedar yang didendangkan dengan irama dhandanggula yang bernuansa meditatif-kontemplatif, yang dikemas bagaikan sebuah mantera sakti guna mengatasi segala problem kehidupan masyarakat sehari-hari.

Kecuali Suluk Kidung Kawedar, masyarakat Jawa khususnya di daerah Pantai Utara Jawa, meyakini Sunan Kalijaga baik secara sendiri maupun dengan berkolaborasi bersama para wali lainnya, juga menciptakan sejumlah suluk tembang dakwah seperti Gundul-Gundul Pacul, Ilir-Ilir dan Singgah-Singgah. Ketiganya memiliki ciri yang berbeda.

Gundul-Gundul Pacul.

Gundul-Gundul Pacul berirama jenaka namun penuh makna filosofis. Makna ajaran yang terkandung dalam tembang “Gundul-Gundul Pacul” yaitu, seorang pemimpin yang ideal adalah pemimpin tanpa mahkota, ibarat kepala gundul tanpa rambut. Pemimpin yang tak peduli dengan pesona dunia demi mengemban amanah bagi alam dan kehidupan rakyatnya, yang dilambangkan dengan pacul sebagai alat pertanian,  serta kesejahteraan rakyatnya yang dilambangkan dengan bakul berisi nasi.

Pemimpin tidak boleh gembelengan, besar kepala – congkak lagi sombong. Karena kesombongan itu bagaikan mengambil selendang kebesaran Gusti Allah. Jika itu dilakukan, maka hilanglah keberkahan yang menaungi amanah kepemimpinan, sehingga   bakul terguling dan hakekat kesejahteraan tumpah tak berguna bagi rakyat. Mau bagaimana lagi jika nasi sudah tumpah tersebar di jalanan?

Di samping melambangkan rakyat kecil, pacul juga merupakan akronim dari papat kang ucul atau empat hal yang terlepas. Empat hal itu merupakan kunci utama untuk mencapai derajat ketaqwaan, oleh sebab itu harus dikendalikan dan tidak boleh lepas atau ucul. Ini sesuai dengan ajaran Al Ghazali dalam kitab Minhajul Abidin (Menuju Mukmin Sejati). Empat itu ialah (1) mata dan telinga (2) mulut dengan lidahnya (3) perut dan (4) hati. Guna mencapai maqam ini, Al Ghazali nmengajarkan kita harus menghayati serta mengamalkan tiga hal yaitu takut dengan sebenar-benarnya takut kepada Allah, bakti dan tunduk kepadaNya serta membersihkan hati dari segala dosa. Ketiganya itu bisa kita capai asalkan kita bisa menahan diri dari mengerjakan yang haram, dan juga bisa menahan diri dari mengerjakan perbuatan halal yang berlebih-lebihan.(https://islamjawa.wordpress.com/2013/04/11/suluk-tembang-dakwah-walisongo-3-lagu-gundul-gundul-pacul-bukti-kejenakaan-ulama/ )

Ilir-Ilir.

Ilir-Ilir adalah tembang pengobar semangat dalam berdakwah yang sangat dinamis, yang merupakan hasil kolaborasi Islam Putihan dengan Islam Abangan. Tembang ini bagi kami masyarakat Pantura (Pantai Utara) Jawa pada tahun 1950-an, dianggap sebagai produk kolaborasi tokoh Islam Putihan yaitu Sunan Giri dengan tokoh Islam Abangan yaitu Sunan Kalijaga. Sunan Giri bersama Sunan Ampel dan Sunan Drajat adalah tokoh-tokoh Islam Putihan dalam Walisongo, sedangkan Sunan Kalijaga bersama Sunan Bonang, Sunan Kudus dan Sunan Muria merupakan tokoh-tokoh Islam Abangan.

Islam Abangan berdakwah dengan  cara menyusupkan secara halus simbol dan nilai-nilai keislaman ke dalam adat-istiadat dan budaya kehidupan sehari – hari masyarakat. Mereka memakai tamzil – tamzil dan simbol adat – kebudayaan yang masih bercorak Syiwa atau Hindu – Budha, yang bisa multi tafsir, bersama dengan kebudayaan Arab, Persi, China dan Melayu. Mereka memasukkan nilai – nilai keislaman secara bertahap agar mudah dipahami dan tidak menimbulkan gejolak.

Sementara itu Islam Putihan berpendapat Islam harus disyiarkan  sebagaimana aslinya secara lurus. Oleh sebab itu adat – istiadat yang tidak sesuai harus langsung dibuang, agar di kemudian hari tidak timbul salah persepsi yang membingungkan. Sejak awal Islam harus diajarkan secara bersih dari segala tata nilai yang mengotorinya, bagaikan kain putih yang bersih dari segala kotoran.  Pendapat ini dipatahkan oleh Sunan Bonang dan kawan-kawan, yang khawatir dakwah akan gagal jika dilakukan dengan memaksakan kehendak tanpa mau memahami kondisi nyata sasaran dakwahnya. Dakwah haruslah komunikatif dan kontekstual. Bahwa ada kekurangan dan kelemahan, biarlah waktu dan generasi-generasi berikutnya yang menyempurnakan.

Yang sungguh patut dicontoh, meskipun berbeda pendapat tidaklah menyebabkan mereka berpisah jalan apalagi bermusuhan. Tidak ada di antara mereka, semenjak dahulu sampai dengan para pengikutnya di masa sekarang, yang merasa dirinya paling hebat dan paling suci. Istilah anak muda zaman sekarang, tidak ada di antara mereka yang mengklaim sebagai pemegang kunci surga. Mereka tetap bersahabat dan bersaudara, namun berdakwah dengan cara dan metode masing-masing. Meskipun demikian tidak berarti mereka tidak memiliki persamaan sama sekali. Dalam hal berdakwah menggunakan media kesenian, mereka menemukan titik temu bahkan sepakat mengembangkan gamelan Jawa serta menciptakan tembang-tembang dengan irama khas, mulai dari jenis tembang mainan atau tembang dolanan anak-anak, sampai dengan yang berirama meditatif – kontemplatif seperti tembang-tembang macapat yang terus kita kenal dan lestarikan sekarang ini.

Sebagaimana telah saya singgung dalam berbagai tulisan terdahulu, memang tidak banyak data sejarah yang bisa dijadikan pegangan 100 persen tentang kisah perjuangan mereka. Hal itu justru berbeda dengan masa sebelumnya yang banyak meninggalkan prasasti-prasasti baik dalam bentuk batu bertulis maupun lempengan-lempengan logam. Sebagian besar bahkan bertolak dari cerita-cerita yang dituturkan secara lesan dari generasi ke generasi menjadi legenda. Sebagai contoh adalah suluk tembang “Ilir-Ilir”, sebagian masyarakat menyebut “Lir-Ilir”, yang dipercaya merupakan karangan Sunan Giri namun disempurnakan serta dipopulerkan oleh Sunan Kalijaga. Menilik kelaziman masa kini, kemungkinan besar Sunan Giri itu penciptanya, sedangkan Sunan Kalijaga yang pandai mendalang itu menjadi penyanyinya. Sungguh keteladanan yang perlu dilestarikan, meskipun berbeda namun mereka tetap bisa berkolaborasi dalam bidang musik, dan jalan seiring serta saling melengkapi dalam berdakwah. (https://islamjawa.wordpress.com/2013/04/26/suluk-tembang-dakwah-walisongo-5-ilir-ilir-kolaborasi-tokoh-islam-abangan-dengan-islam-putihan/)

Singgah-Singgah.

Sangat berbeda dengan Gundul-Gundul Pacul dan Ilir-Ilir , yang iramanya bisa disebut sebagai irama “tembang dolanan” atau tembang untuk permainan kanak-kanak, Singgah-Singgah bernuansa magis . Di kalangan masyarakat Jawa, suluk ini dipercaya memiliki kekuatan magis yang besar, yang biasa ditembangkan untuk mengawali sesuatu hajat atau upacara penting, atau mengiringi pemberangkatan jenazah dari rumah menuju pemakaman. Dalam keseharian, suluk dengan nama Singgah-Singgah Kala Singgah ini juga biasa didendangkan oleh seorang calon ayah yang isterinya sedang hamil, di antara waktu maghrib dan isyak.

Tokoh nasional yang pemberangkatan jenazahnya dari rumah ke masjid diiringi tembang Singgah-Singgah antara lain adalah Si Burung Merak almarhum WS.Rendra, Jumat 7 Agustus 2009, di Cipayung, Depok, Jawa Barat.

Suluk karya Sunan Kalijaga ini ditembangkan dengan irama Sekar Pangkur Gedhong Kuning yang mengalun mendayu-dayu, penuh nuansa sugestif-kontemplatif. Kata-kata, kalimat dan iramanya dimaksudkan untuk menggalang kekuatan batin dan rasa percaya diri yang tinggi guna menundukkan segala kekuatan di luar diri sang penembang, terutama segala kekuatan jahat dari segala jenis makhluk, baik makhluk halus maupun bukan.(https://islamjawa.wordpress.com/2013/04/04/suluk-tembang-dakwah-walisongo-2-singgah-singgah-suluk-bernuansa-magis/).

Berikut contoh beberapa bait dari salah satu versi Suluk Singgah-Singgah tersebut:

Singgah-singgah kala singgah
Tan suminggah Durgakala sumingkir
Sing asirah sing asuku
Sing atan kasat mata
Sing atenggak sing awulu sing abahu
Kabeh pada sumingkira
Hing telenging jalanidi

Aja anggodha lan ngrencana
Apaningsun ya sun jatining urip
Dumadiku saka henu
Heneng henenging cipta
Singgangsana hing tawang-tawang prajaku
Sinebut pura kencana
Bebetenging rajeg wesi (ada yg menyebut “rajah wesi”).

Ana kanung saka wetan
Nunggang gajah telale elar singgih
Kullahu marang bali kul
Jim setan brekasakan
Amuliha mring tawang-tawang prajamu
Eblise ywa kari karang
Kulhu bolak-balik.

Geger setan wetan samya
Anerus jagad kulon playuning dhemit
Ing tengah Bathara Guru
Tinutup Nabi Suleman
Daya setan brekasakan ajur luluh
Ki jabang bayi wus mulya
Liwat siratal mustakim.

Sun langgeng amuja mantra
Pan jaswadi putra ing kodratmanik
Laa ilaaha illallaah
Muhammad Rasulullah
Sallallahu ngalaihi wasallam
Wangalaekumsalam
Puniku pupuji mami.
Terjemahan bebasnya kuranglebih sebagai berikut:

Menyingkirlah wahai segala hal yang jahat
Tidakkah kalian mau menyingkar, padahal dewa kejahatan kalian yaitu Betari Durga dan Betara Kala pun sudah menyingkir
Wahai kalian segala makhluk, baik yang memiliki kepala maupun yang memiliki kaki
Yang tak nampak mata
Yang memiliki leher, yang berbulu dan yang memiliki bahu
Kalian semua menyingkirlah
Pergi ke dasar samodra.

Jangan kalian menggoda dan merencanakan kejahatan
Karena saya ini adalah hakekat kehidupan
Yang terbentuk dari dzat yang bersifat dewa
Yang dalam diam tafakur mampu melakukan apa saja
Berasal dari langit itulah kerajaan asalku
Yang disebut istana emas
Dibentengi pagar besi yang kokoh kuat (kalau rajah artinya pertahanan gaib).

Ada kekuatan gaib kuno dari timur
Mengendarai gajah dengan belalai dan sungguh memiliki sayap
Bacakan surat kulhu untuk menolak agar kembali
Semua jin dan setan yang menyeramkan
Pulanglah, kembali ke asal mulamu di langit
Iblis sudah lenyap tinggal bagaikan remukan batu karang
Berkat bacaan kulhu yang diulang-ulang (yang dimaksud dengan kulhu adalah surat Al Ikhlas).

Semua setan yang berasal dari timur geger semuanya
Lari ke barat ke wilayah para dhemit (jenis makhluk halus)
Karena di tengah kita berjaga Betara Guru (Pimpinan para Dewa)
Yang didukung penuh oleh Nabi Sulaeman (nabi para manusia, binatang dan makhluk halus).
Segala daya kekuatan setan yang mengerikan itu hancur luluh
Sang Bayi sudah mulia (bisa berarti bayi sesungguhnya yang di dalam kandungan atau bayi kiasan dari Islam sebagai agama baru di pulau Jawa),
Lewat jalan yang lurus (yang diridhoi).

Saya akan terus-menerus memanjatkan mantera
Pembungkus putra atas kuasa akal budi
Tiada Tuhan kecuali Allah
Semoga Gusti Allah menganugerahkan keselamatan dan kesejahteraan untuk Baginda (Kanjeng Nabi Muhammad).
Dan semoga kalian terselamatkan dari duka nestapa dan kesulitan
Inilah doa andalan saya.

Demikianlah, bagi yang memahami maknanya, Suluk ini jelas mengajarkan kepada kita untuk membangkitkan kekuatan bawah sadar kita, membangun sugesti diri menghadapi semua bentuk kekuatan buruk, serta ditutup dengan kalimat tauhid yang merupakan hakikat dari syahadat tauhid dan syahadat rasul.

Dengan kesenian dan tembang-tembang itu, Islam diperkenalkan bukan sebagai suatu gerakan yang agresif mengobarkan kekerasan dan pemaksaan kehendak. Islam sesuai dengan arti katanya, adalah suatu agama yang penuh dengan penyerahan diri kepada Tuhan Yang Maha Esa, yang justru berusaha menyelamatkan manusia dengan perilaku silm atau salam atau damai. Islam diturunkan guna menebarkan cinta dan kasih sayang, menggalang perdamaian serta kesejahteraan, bukan untuk perang dan mengalirkan darah.

Hal itu sesuai dengan firman Allah dalam surat An Nahl (16) ayat 125: “Serulah ke jalan Tuhanmu dengan bijaksana dan nasihat yang baik, dan bantahlah mereka dengan cara yang lebih baik pula.” Sungguh luas kandungan ayat ini. Sangat mulia nilainya namun sering dilupakan. Bersama beberapa ayat yang lain, ayat ini menunjukkan bahwa Islam menghormati sepenuhnya kemerdakaan berpendapat dan berkepercayaan.

Gusti Allah berfirman dalam Surat Al Baqarah (2) ayat 256 : “Tiada paksaan untuk memasuki agama. Sesungguhnya telah jelas jalan yang benar dibanding jalan yang salah. Karena itu barangsiapa yang ingkar kepada yang disembah selain Allah dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang kuat, yang tidak akan putus.”

Lebih jauh ditegaskan dalam Surat Yunus (10) ayat 99 : “Apakah kamu hendak memaksa manusia supaya semuanya menjadi orang-orang yang beriman?”. Kemudian Al Kafirun (109) ayat 6 : “Bagimu agamamu dan bagiku agamaku”.

Suluk Kidung Kawedar.

Kembali mengenai Suluk Kidung Kawedar, dengan karomah, wibawa serta keteladanan perilaku dan kehidupannya yang baik, Sunan Kalijaga meyakinkan masyarakat akan fadilah dan keutamaan Kidung Kawedar, yang sesungguhnya tiada lain adalah sebuah kidung dakwah.

Yang menarik dari urutan kandungan isi Kidung ini, Sunan Kalijaga tidak langsung mengajarkan Rukun Islam khususnya syahadat dan shalat, melainkan dengan terlebih dulu menanamkan sugesti kehidupan sesuai dengan situasi dan kondisi masyarakat kala itu, kemudian memperkenalkan tokoh-tokoh panutan di dalam Islam serta beberapa istilah penting. Sesudah sugesti yang bernuansa magis masuk ke dalam filosofi kehidupan masyarakat, pengenalan terhadap tokoh-tokoh panutan terus ditambah. Selanjutnya barulah diperkenalkan Rukun Iman, Rukun Islam dan pokok-pokok ajaran tasawuf dengan kebiasaan berzikirnya. Sebagai contoh:

Bait 1:

Ana kidung rumeksa ing wengi

teguh ayu luputa ing lara,

luputa bilahi kabeh,

jim setan datan purun,

paneluhan tan ana wani,

miwah penggawe ala,

guna ning wong luput,

geni temahan tirta,

maling adoh tan wani ngarah ing mami,

tuju duduk pan sirna.

 

Artinya:

Ada tembang pujian menjaga di kala malam,

membuat kita selamat dan jauh dari segala penyakit,

terbebas dari segala mara bahaya,

jin dan setan tidak berani,

guna-guna (atau teluh) tidak mempan,

juga perbuatan buruk,

dari orang-orang jahat,

api menjadi dingin bagaikan air,

pencuri menjauh tiada yang berani mengincar saya,

segala mara bahaya sirna.

Bait 2:

Sakehing lara pan samya bali,

sakeh ama pan samya mirunda,

welas asih pandulune,

sakehing braja luput,

kadi kapuk tiba neng wesi,

sakehing wisa tawa,

sato galak lulut,

kayu aeng lemah sangar,

songing landak guwaning wong lemah miring,

myang pakiponing merak.

Artinya:

Segala jenis penyakit akan kembali,

semua jenis hama menyingkir,

matanya memancarkan kasih sayang,

semua senjata (atau ajian) tidak ada yang bisa mengenainya,

bagai kapuk yang jatuh ke besi,

segenap racun menjadi tawar,

binatang-binatang buas menjadi jinak,

pepohonan yang aneh (karena penuh daya magis) dan tanah angker,

sarang landak goa tempat tinggal tanah miring,

serta sarang tempat burung merak mendekam.

Bait 3:

Pagupakaning warak sakalir,

yen winaca ing segara asat,

temahan rahayu kabeh,

sarwo sarira ayu,

ingideran ing widodari,

rineksa malaekat,

sakathahing rosul,

pan dadyo sarira tunggal,

ati Adam utekku Baginda Esis,

pangucapku ya Musa.

Artinya:

Di tempat badak berkubang,

maupun jika dibaca di lautan bisa membuat air laut surut,

membuat kita semua selamat sejahtera,

diri kita menjadi serba cantik (elok),

di kelilingi para bidadari,

dijaga oleh para malaikat,

dan semua  rasul,

pada hakekatnya sudah menyatu dalam diri kita,

di hati kita ada Nabi Adam, di otak kita ada Baginda Sis,

jika berucap bagaikan ucapan Nabi Musa.

Sampai sekarang sebagian masyarakat Indonesia termasuk suku Jawa, masih percaya dan menyenangi hal-hal gaib. Secara sederhana hal itu bisa dilihat dari bertahannya kehadiran sejumlah media massa seperti majalah, tabloid bahkan acara-acara televisi yang menayangkan hal-hal gaib. Lebih-lebih lagi suasana kehidupan masa kecil saya di daerah Pantura (Pantai Utara) Jawa Tengah – Jawa Timur periode 1950 – 1960-an.

Hampir setiap hari pembicaraan kami kanak-kanak, tidak pernah tanpa bicara masalah makhluk halus, kesaktian dan kanuragan, Gusti Allah serta masalah-masalah gaib dan supranatural. Ada saja yang dibicarakan mengenai sepak terjang belasan jenis makhluk halus. Ada yang disebut gendruwo, wewe, banaspati, jrangkong, hantu pocong, glundung pecengis, lampor, sundel bolong dan lain-lain.

Setiap pohon beringin atau pohon-pohon besar berusia puluhan bahkan ratusan tahun serta tempat-tempat angker yang belum disentuh dan diolah manusia, dipercaya dihuni makhluk halus. Padahal pohon dan tempat seperti itu pada masa itu banyak sekali dan hampir ada di setiap pekarangan rumah. Penduduk masih jarang dan hunian tidak sepadat sekarang. Jarak satu rumah dengan yang lain lebar-lebar. Kebun dan halaman rumah luas-luas, bisa ribuan meter persegi sehingga banyak yang belum terolah dan menjadi semak belukar, atau berupa rumpun rumbia, enau dan rumpun bambu.

Demikian pula pepohonannya yang tumbuh alami dari biji, berbatang besar-besar lagi tinggi, jauh lebih besar dari pelukan pemiliknya. Sementara listrik belum masuk desa, belum ada radio, televisi, apalagi telpon. Jalan-jalan desa masih berupa jalan tanah dan jumlah mobil di setiap kabupaten bisa dihitung dengan jari. Jadi bisa dibayangkan, sunyi sepinya suasana sehari-hari, lebih-lebih bila hari sudah mulai gelap.

Di tengah kesunyian itulah kami bermain aneka permainan tradisional termasuk permainan mengundang ruh halus yang disebut jaelangkung dan jaelangsih. Kami juga harus belajar silat untuk bekal membela diri jika bepergian, mempelajari ilmu kesaktian dan kanuragan, tenaga dalam serta berbagai olah batin agar bisa selamat lagi berjaya dalam kehidupan.

Itu adalah gambaran suasana pertengahan abad XX. Bisa dibayangkan betapa lebih sunyi dan seramnya suasana abad XV – XVI dengan hutan belantara di mana-mana, suasana serta kehidupan di zaman peralihan dari Kerajaan Majapahit ke Kesultanan Demak, tatkala agama Islam baru mulai disebarkan ke penduduk Jawa yang menganut agama Syiwa-Buddha dan percaya bahkan banyak yang memuja ruh-ruh halus. Maka topik pembicaraan apa yang paling menarik untuk disampaikan jikalau bukan tentang bagaimana menghadapi godaan makhluk halus, menangkal ilmu hitam, memperoleh kesaktian serta menundukkan kawasan-kawasan angker dan keramat demi kesejahteraan hidup.

Dengan daya tarik itulah Sunan Kalijaga memulai Suluk Kidung Kawedar sebagaimana 3 (tiga) bait di atas. Kanjeng Sunan Kali, demikian panggilan kehormatan beliau, langsung menawarkan mantera pelindung kehidupan, yang mampu menjaga siapa yang membaca dan yang mempercayainya dari segala marabahaya, serta bisa membuat hidup menjadi sejahtara.

Bait pertama menggambarkan kehebatan tembang pujian, yang enak didengar namun sekaligus sakti mandera guna, yang menjaga kita di malam hari, yang melindungi kita dari segala macam penyakit dan hal-hal buruk, melindungi dari gangguan jin dan setan, menangkal ilmu hitam dan segala hal buruk yang bisa mencelakai kita, sampai-sampai diibaratkan dapat mengubah api yang panas menjadi air nan sejuk bila menghampiri kita, seperti kisah Kanjeng Nabi Ibrahim ketika dibakar. Demikian pula para pencuri menjauh, tidak ada yang berani mengganggu hak milik kita.

Bait kedua masih menggambarkan kehebatan kidung mantera ini. Hama dan penyakit menyingkir, karena siapa pun makhluk Allah yang melihat kita menjadi iba dan menaruh kasih sayang. Pun segala ilmu kesaktian, tiada yang bisa mencelakai kita, lantaran akan bagai kapuk yang sangat ringan lagi lembut, jatuh ke atas besi yang keras lagi kuat. Semua racun menjadi tawar, semua binatang buas menjadi jinak. Segala jenis tumbuh-tumbuhan, pohon, kayu, tanah sangar atau angker serta sarang-sarang binatang yang dilindungi aura gaib, tiada perlu ditakuti lagi.

Bait ketiga masih diawali dengan pameran kekuatan sang kidung yang luar biasa bak bisa membuat air lautan menjadi asat atau mengering, yang dilanjutkan dengan iming-iming, pesona gambaran kehidupan serba nyaman dan selamat sejahtera. Kepada masyarakat Jawa yang percaya akan adanya para dewa dengan para bidadarinya, Sunan Kalijaga mulai memasukkan daya tarik dan istilah-istilah baru secara lepas-lepas, yakni butir-butir ajaran Islam.

Siapa yang percaya kidung ini, kehidupannya akan dikelilingi oleh para bidadari, akan dijaga oleh para malaikat dan rosul yang bahkan telah menyatu pada diri kita. Nabi Adam akan manjing, merasuk ke dalam batin kita. Nabi Sis berada di otak sedangkan Nabi Musa di tuturkata kita. Malaikat, rasul, Adam, Sis (Syith atau Seth) dan Musa adalah hal-hal baru bagi orang-orang Jawa baik yang animis, mempercayai ruh leluhur, makhluk gaib mau pun yang Syiwa-Buddha. Hal-hal baru itulah yang sesungguhnya menjadi inti kekuatan kidung mantera pujian ini.

Subhanallaah.

Zikir Ya Hu Allah dan Keutamaan Surat Al Ikhlas

Bait 30 :

Ya Hu Dat myang pamujining wengi,

bale aras sasakane mulya,

Kirun saka tengen nggone,

Wana Kirun kang tunggu,

saka kiwa gadane wesi,

nulak panggawe ala,

satru lawan mungsuh,

pengeret tenajul rijal,

ander-ander kolhu balik kang linuwih,

ambalik lara roga.

Artinya :

Ya Hu Dzat (Ya Hu Allah) sebagai puji-pujian di kala malam,

balai nan terpadu indah dengan lantai kemuliaan,

Kirun (Qarin?) berada di sebelah kanan,

Wana Kirun yang menjaga,

di sebelah kiri (,) dengan gada besi,

menolak perbuatan buruk,

para seteru dan musuh,

menguatkan manusia yang mengenal Allah melalui hati yang terbuka,

dengan uraian Surat Qulhu (Al Ikhlas) (,) membalikkan dengan hebat,

memulihkan segala penyakit dan penderitaan.

Bait 30 ini adalah bait yang luar biasa. Sarat kandungan makna dan keutamaan. Diawali dengan ajaran zikir, keberadaan malaikat yang menjaga kita dan menolak segala perbuatan buruk, kemudian bagaimana mengenal Gusti Allah dan keutamaan surat Qulhu atau Al Ikhlas. Bait ini juga menjadi landasan ulah batin bagi para penganut kejawen, baik yang muslim maupun yang bukan.

Baris pertama adalah mengajarkan berzikir di kala malam. Zikir artinya mengingat atau menyebut. Ingat dalam bahasa Jawa adalah eling. Dalam buku Pengembaraan Batin Orang Jawa di Lorong Kehidupan halaman 113 sampai dengan 122, penulis telah mengulas masalah ini dengan judul “Eling Dalam Tasawuf Jawa.” Orang Jawa sering menasihati sanak saudara yang sedang stres akibat sesuatu musibah agar eling dan nyebut. Eling atau ingat apa? Nyebut apa? Ingat kepada Gusti Allah. Menyebut asma Allah Yang Maha Kuasa atas segala sesuatu, termasuk kejadian yang sedang kita hadapi. Ingat bahwa segala sesuatu yang kita alami itu sudah merupakan skenario Allah, Sutradara Yang Maha Agung. Oleh karena itu kita harus ikhlas, harus berbesar jiwa untuk menerimanya.

Jadi eling atau ingat itu sama maknanya dengan zikir, dan zikir yang terbaik adalah zikrullah atau mengingat Allah, sebagaimana firman-Nya dalam surat Al Ahzab (33: 41-42) : “Wahai orang-orang yang beriman, ingatlah kamu sekalian kepada Allah dengan zikir yang banyak dan bertasbihlah kamu sekalian pada-Nya di waktu pagi dan petang.”

Dalam rangka mengajarkan zikir itulah, maka Sunan Kalijaga memulai bait ini dengan kalimat Ya Hu Dat myang pamujining wengi, yang bermakna berzikirlah di kala malam kepada Dzat Allah. Kalimat ini di dalam masyarakat Jawa berlanjut dengan ajaran zikir Ya Hu Allah. Kalimat zikir Ya Hu Allah, Hu Allah dan Allahu sampai sekarang banyak dijumpai di kalangan para penganut dan praktisi spiritual muslim Asia Tenggara khususnya Nusantara.

Allah adalah salah satu bahkan merupakan asma yang utama yang menggenapkan sembilan puluh sembilan (99) asma-asma Allah yang mulia (asma’ul husna) menjadi seratus. Penggunaan asma Allah sering dijumpai secara berdiri sendiri, dan sering pula bersama kata lain seperti Akbar dan Nur, sehingga menjadi Allahu Akbar (Allah Maha Besar) dan Allahu Nur (Allah adalah Cahaya dari segala Cahaya). Tak jarang dalam berzikir, kata Allah diberi tambahan Hu, sehingga menjadi Hu Allah yang berarti Dialah Allah.

Ada sementara aliran yang memiliki pandangan berbeda mengenai ketiga kalimat zikir tadi, terutama antara Hu Allah dan Allahu. Namun lebih banyak lagi yang tidak mempersoalkan perbedaannya. Imbuhan kata ya, banyak dipakai oleh masyarakat muslim Jawa sesuai dengan ajaran Sunan Kalijaga sebagaimana bait ini.

Aliran yang berpendapat ada perbedaan menyatakan, zikir Hu Allah akan melahirkan kekuatan supranatural yang kasar dengan energi yang mudah dideteksi. Di samping itu zikir ini seringkali memunculkan khodim (tunggal) dan khodam (jamak), yaitu pembantu yang berupa roh gaib, yang bisa jadi bermaksud baik tapi bisa juga buruk. Sedangkan zikir Allahu menurut mereka menghasilkan kekuatan supranatural yang halus dengan energi yang sulit dideteksi bahkan oleh sang pengamal. Kekuatan ini lambat datangnya tetapi dahsyat.

Bagi penganut tasawuf yang sudah mencapai tahap hakikat dan lebih-lebih makrifat, perbedaan tersebut tidak menjadi persoalan. Perihal khodim misalkan, pada hemat mereka wajar muncul setiap saat pada manusia, terutama yang sedang mengikuti jalan tasawuf atau para salik. Sebagaimana kisah terkenal yang dialami Penghulu Tasawuf Syeh Abdul Qadir Jailani, khodim itu bukan mau membantu para salik, melainkan menggoda dan mengganggu. Oleh karena itu kita tidak perlu menanggapi serta meladeni kehadirannya, termasuk apabila mereka menawarkan berbagai hadiah dan bantuan.

Ada dua versi cerita mengenai kisah godaan iblis terhadap Syeh Abdul Qadir Jailani, yang sering dikemukakan oleh mursyid atau guru tasawuf kepada para saliknya. Versi pertama mengisahkan, pada suatu hari tiba-tiba muncul suatu makhluk yang memperkenalkan diri sebagai malaikat Jibril, dan berkata: “Aku membawa buraq dari Allah. Engkau diundang Allah untuk menghadap-Nya di langit tertinggi.” Sang Syeh menjawab, baik Jibril maupun buraq takkan pernah lagi datang ke dunia selain hanya untuk Nabi Suci Muhammad Saw.

Meskipun demikian makhluk yang tiada lain adalah iblis itu masih tetap menggoda dengan cara lain. Ia berkata, “Baiklah Abdul Qadir, engkau telah menyelamatkan diri dengan keluasan ilmumu.”

“Enyahlah!”, bentak Syeh, “Percuma kau menggodaku. Aku selamat bukan karena ilmuku, tapi rahmat Allahlah yang telah menyelamatkanku dari perangkapmu.”

Versi kedua mengisahkan, tatkala sang wali sedang berada di hutan tanpa makanan dan minuman untuk jangka waktu yang lama, tiba-tiba pada suatu waktu awan menggelayut di angkasa dan turunlah hujan. Beliau meredakan dahaganya dengan tetesan air hujan. Mendadak muncul sosok cahaya terang di cakrawala seraya berseru, “Akulah Tuhanmu. Hari ini kuhalalkan bagimu segala yang telah kuharamkan.” Spontan sang wali berucap, “Aku berlindung kepada Allah dari godaan setan yang terkutuk.” Maka sosok itupun segera berubah menjadi awan, dan berkata, “Dengan ilmumu dan rahmat Allah engkau selamat dari tipuanku. Bagaimana kamu mengenaliku, padahal sudah ribuan orang aku jebak dan sesatkan dengan cara seperti ini?” Lalu Syeh menjawab, Allah tidak pernah mengubah hukumnya. Apa yang telah diharamkan tidak akan mungkin dihalalkan. (Kisah Nyata & Ajaran Para Sufi halaman 37-38, Mb.Rahimsyah AR, Penerbit Indah Surabaya, 1998)

Akan halnya kekuatan supranatural, para salik yang berkhidmat menekuni suluk-suluk tasawuf pun berpendapat, tidak peduli dengan hal itu, lantaran bukan itu tujuannya dalam berzikir mengingat Allah. Yang mereka harapkan adalah dapat bertawajuh, melepaskan kerinduan dengan memperoleh belaian kasih sayang Allah. Baik Hu Allah atau pun Allahu pada hematnya akan menghasilkan bunyi serta pemaknaan yang sama saja, jika kita zikirkan secara ritmis berulang-ulang.

Berzikir kepada Allah sesuai dengan firman Allah dalam Surat A Ra’d ayat 28, adalah untuk membersihkan hati. Allah juga telah berfirman dalam hadis qudsi,“Tidak dapat memuat dzat-Ku bumi dan langit-Ku, kecuali hati hamba-Ku yang mukmin, lunak dan tenang “(HR Abu Dawud ). Sungguh tepat ungkapan, hati yang bersih yang dimiliki orang-orang mukmin adalah istana Allah.

Baris ketiga dan keempat bait 30 Kidung Kawedar, menyebutkan tentang adanya dua malaikat yaitu Kirun di sebelah kanan kita dan Wana Kirun di sebelah kiri, membawa gada besi dan bertugas menolak semua perbuatan buruk pada diri kita. Nama malaikat Kirun tidak dijumpai di dalam Qur’an maupun hadis. Melihat tugasnya terhadap manusia, kemungkinan besar mereka adalan Qarin dari golongan setan yang senantiasa menggoda dan mengajak manusia untuk berbuat buruk, serta Qarin dari golongan malaikat yang mengajak pada kebajikan. Pada hemat penafsir, Sunan Kalijaga dalam kidung menyebut Qarin, tapi pada pendengaran masyarakat adalah Kirun.

Hal itu dikuatkan dengan baris kedelapan yang menguraikan tugas Kirun membuka hati manusia agar bisa mengenal Allah. Tenajul berasal dari kata tanazul yang berarti mengenal Allah melalui hati yang terbuka bersih. Sedangkan rijal memiliki beberapa makna yaitu lelaki, orang yang berani, tulus, taat azas, berani berkorban untuk berdakwah. Dalam kaitan bait ini tenajul rijal bisa dimaknai menjadi orang yang bisa mengenal Allah melalui hati yang bersih yang sudah terbuka untuk itu.

Semua hal baik yang diuraikan dalam bait-bait Kidung Kawedar, adalah berkat keutamaan kolhu. Kolhu adalah pengucapan orang Jawa terhadap Surat Qulhu atau Surat Al Ikhlas, sebagaimana juga menyebut Patekah untuk Al Fatihah.

Kandungan makna dan keutamaan Surat Al Ikhlas dari berbagai hadis dan riwayat, bisa disebut istimewa. Mari coba kita segarkan kembali pemahaman atas surat ini:

“Bismillaahir rahmaanir rahiim.

Qul huwallaahu ahad.

Allaahush shamad.

Lam yalid wa lam yuulad.

Wa lam yakul lahuu kufuwan ahad.

 

Artinya:

Dengan asma Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.

Katakanlah: Dialah Allah, Yang Maha Esa.

Allah tempat bergantung segala sesuatu

Dia tidak beranak dan tidak diperanakkan.

Dan tiada seorang pun yang setara dengan Dia.”

Surat Al Ikhlas menegaskan ketulusan pengakuan umat atas kemurnian keesaan dan kekuasaan Gusti Allah Swt, menolak segala macam kemusyrikan dan menerangkan tiada sesuatu pun yang menyamai-Nya. Semua pengakuan dan keyakinan atas keesaan beserta kekuasaan Tuhan itulah yang dinamai tauhid, yang merupakan induk atau inti sari dari ajaran Islam.

Buya Hamka dalam Tafsir Al Azhar yang termasyhur menyatakan, Surat ini turun karena pernah ada orang musyrikin yang meminta kepada Nabi untuk menjelaskan “ macam apa Tuhanmu itu, emaskah dia atau tembaga atau loyangkah?” (Juz XXIX – XXX halaman 303). Menurut hadis riwayat Tarmidzi, memang ada orang yang meminta kepada Nabi agar menguraikan nasab, yaitu keturunan atau sejarah Tuhannya. Maka datanglah surat yang tegas ini tentang Tuhan.

Ayat 1 dan ayat 2 menjelaskan keesaan, kesempurnaan serta kekuasaan Tuhan, sekaligus menegaskan bahwa yang tidak mempunyai kedua sifat tersebut bukan Tuhan, tidak pantas dan tidak bisa disebut Tuhan. Sedangkan ayat ketiga dan keempat menegaskan perbedaan Tuhan dengan manusia dan makhluknya. Dia sudah ada sebelum yang lain ada, bukan anak siapa-siapa dan tidak memiliki seorang anak pun. Begitu sempurnanya sifat dan kekuasaan Allah, sehingga tiada siapa pun dan tiada sesuatu pun menyamainya.

Qul Huwallaahu Ahad, katakanlah: Dialah Allah, Yang Maha Esa”, adalah puncak ilmu tentang akidah. Oleh sebab itu pula ada sejumlah hadis yang menyatakan sabda Rasulullah bahwa nilai Surat Al Ikhlas sama dengan sepertiga Al Qur’an. Sejumlah hadis yang cukup sahih sebagaimana diuraikan antara lain dalam Tasir Al Azhar, mengungkapkan berbagai keutamaan surat ini, misalkan siapa yang membacanya akan disenangi Allah (Hadis Riwayat Bukhari), dan “wajib orang itu masuk surga” (Hadis Riwayat Tarmidzi).

Dengan keutamaan-keutamaan Surat Ikhlas tadi, maka tidak berlebihan apabila Sunan Kalijaga memberikan kabar gembira kepada siapa yang mempercayainya, ambalik lara roga. Kembali atau tertolak semua penyakit dan penderitaannya.

Allahumma aamiin.

Itulah contoh beberapa bait dari Suluk Kidung Kawedar yang seluruhnya berjumlah 46 bait. Sedangkan Suluk Kidung Kawedar itu sendiri hanya merupakan salah satu dari sejumlah Suluk Demak, yakni Suluk-Suluk Dakwah yang berkembang di masa Kesultanan Demak, yang dirintis oleh Sunan Bonang.(Tafsir dan kajian tentang Suluk Kidung Kawedar, sudah kami bahas secara cukup mendalam dan berseri dalam blog https://islamjawa.wordpress.com dan http://bwiwoho.blogspot.com serta facebook Tasawuf Djawa Full).

Menata Ulang Kebudayaan Nusantara.

Dari uraian serta suluk-suluk di atas, generasi sekarang dan mendatang bisa menarik pelajaran yang sangat berharga, yakni keberhasilan para ulama abad XV – XVI dalam mengislamkan pulau Jawa, demikian pula nampaknya ulama-ulama lain di Nusantara, bukanlah dengan membongkar total sekaligus ataupun menendang agama, kepercayaan, adat istiadat lama apalagi budaya dan kearifan lokal, tetapi dengan secara bijak menyusup halus, menggeser setapak demi setapak dan membungkus selapis demi selapis dengan agama dan tata nilai baru. Hal itu bisa kita lihat dari adat budaya berbagai suku di Nusantara yang beragama Islam, yang tidak dijumpai dalam adat budaya bangsa-bangsa Arab, misalkan upacara adat tepung tawar di Aceh dan Melayu, serta persembahan kapur sirih yang dilakukan oleh suku-suku lain. Demikian pula berbagai upacara adat perkawinan yang syarat dengan makna-makna simbolik tentang petuah-petuah kehidupan berumahtangga. Pada sebagian besar suku-suku Melayu terutama di pulau Sumatera, semua adat-istiadat yang nampak indah dan memuat budaya serta kearifan lokal tersebut, sudah ditata ulang mengikuti ungkapan “Adat bersendi syara’ (hukum-hukum Islam) dan syara’ bersendi kitabullah (Al Qur’an).

Tak pelak lagi, para wali yang berdakwah di Nusantara sangat menghayati hakikat dari Surat Al Hujuraat (49) ayat 13 : “ Hai sekalian manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, dan Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling mengenal. Sesungguhnya semulia-mulia kamu di sisi Allah ialah yang lebih taqwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Teliti.”

Jelas bahwa Allah Yang Maha Kuasa tidak menciptakan umat manusia sejagat raya hanya menjadi satu suku, satu bangsa dan satu agama, melainkan bersuku-suku dan berbangsa-bangsa, tentu saja dengan adat budaya masing-masing sebagai ciri sesuatu suku atau pun sesuatu bangsa.

Kembali kepada keberhasilan dakwah para ulama dalam mengislamkan Nusantara khususnya Jawa, tentu tiada gading yang tak retak. Tiada sesuatu yang langsung sempurna paripurna. Kewajiban kita dan generasi-generasi mendatang untuk terus memperbaiki dan menyempurnakan. Bahkan bila perlu melakukan pembaharuan-pembaharuan dengan cara yang bijaksana dan lebih baik pula. Dari bahasan di atas setidaknya kita bisa berguru, bisa mengambil hikmah dari Sunan Kalijaga dalam memandang Nusantara. Dengan bercermin pada kearifan para wali, para ulama penyebar Islam di Nusantara, kita akan bisa menata ulang kebudayaan Nusantara yang damai sejahtera, sebagaimana tema acara Suluk Maleman kita di Pati – Jawa Tengah malam ini, Sabtu 16 Mei 2015 (28 Rajab 1436H): “Berguru Pada Sunan Kalijaga, Berguru Pada Kearifan Nusantara”.

Alhamdulillah aamiin.

B.Wiwoho

 

 

Leave a comment

Filed under Uncategorized

DENGAN TEMBANG-TEMBANG SULUK, CINTA & KASIH SAYANG, PARA ULAMA MENGISLAMKAN JAWA: Kesimpulan Tafsir Suluk Kidung Kawedar.

Peradaban Jawa Pra Islam.

Tatkala agama Islam mulai gencar didakwahkan pada abad XV – XVI, pulau Jawa yang masih banyak hutan belantara dan semak belukarnya, bukanlah negeri jahiliyah yang rendah peradabannya. Di balik dan di antara hutan-hutan belantara tersebut, terdapat sejumlah monumen-monumen bukti pernah berlangsungnya peradaban tinggi misalkan sejumlah candi di pegunungan tinggi Dieng, candi Borobudur, puluhan candi di Prambanan dan puing-puing rerentuhan Keraton Boko, semuanya di Jawa Tengah.

Di bidang pelayaran dan perdagangan, berbagai sumber tulisan dari Barat sebagaimana dikutip Agus Sunyoto dalam Atlas Walisongo, Pustaka Ilman, Trans Pustaka dan LTN PBNU, 2012, menyatakan pada tahun 70-an Masehi, cengkih dari kepulauan Maluku sudah diperdagangkan di Roma, dan semenjak abad keiga Masehi, perahu-perahu dari kepulauan Nusantara telah menyinggahi anak benua India serta pantai timur Afrika, dan sebagian di antaranya bermigrasi ke Madagaskar.

Bukan hanya dari para pencatat perjalanan orang-orang Barat saja, kisah pelayaran tadi juga bisa ditemukan di relief Candi Borobudur. Pada tahun 2003, pengrajin kapal dari Madura telah membuktikan kehandalan perahu di relief candi tersebut, dengan membuat tiruannya. Kapal yang dinamai “Samudraraksa” ini berlayar ke Afrika dengan selamat dan kini disimpan di Musium Kapal Samudraraksa di Borobudur (http://www.tempo.co/read/news/2003/07/03/05521575/Ekspedisi-Kapal-Borobudur-Dapat-Memberdayakan-Budaya dan http://setuparch.blogspot.com/2013/09/kapal-kapal-sriwijaya.html ). Replika berikutnya diberi nama “Spirit of Majapahit”, diluncurkan menuju Jepang dari dermaga Marina, Jakarta pada 4 Juli 2010. (http://www.jpnn.com/index.php?mib=berita.detail&id=67324).

Pencatat sejarah China anak buah Fa Hsien di akhir abad III dan awal abad IV Masehi menerangkan pula bahwa pelaut-pelaut Nusantara memiliki kapal-kapal besar yang panjangnya sekitar 200 kaki (65 meter), tinggi 20 – 30 kaki (7 – 10 meter) dan mampu dimuati 600 – 700 orang ditambah muatan seberat 10.000 hou. Sementara pada masa itu panjang jung China tidak sampai 100 kaki (30 meter) dengan tinggi kurang dari 10 – 20 kaki (3 – 7 meter). Catatan yang ditulis dalam Tu Kiu Kie ini telah dikutip oleh banyak ahli yang mempelajari sejarah agama Buddha maupun Asia Tenggara di masa lalu.

Ahli Javanologi Belanda, Van Hien tahun 1920 dalam De Javansche Geestenwereld, yang disadur secara bebas oleh Capt.R.P.Suyono dalam Dunia Mistik Orang Jawa, penerbit LkiS Yogyakarta 2007 halaman 12, menerangkan Shi Fa Hian (Fa Hsien) dalam perjalanannya pulang ke China diserang badai dan terdampar di pantai Jawa. Ia berdiam lima bulan di Jawa, menunggu selesainya pembuatan sebuah kapal besar yang sama dengan kapalnya yang rusak dihantam badai (juga Atlas Walisongo halaman 20).

Bukti tentang peradaban yang cukup maju lainnya ditemukan pula melalui berbagai prasasti dan kondisi lapangan, yang menjelaskan mengenai setidaknya ada lima sistem irigasi yang tertata baik, yang dibangun pada rentang periode abad 9 sampai 14 di lembah Sungai Brantas, Jawa Timur (1000 Tahun Nusantara, Kompas 2000, hal 128).

Pun demikian kondisi pada sekitar abad XV – XVI itu. Pamor Kerajaan Nusantara Majapahit yang beribukota di Trowulan, Jawa Timur, sedang memudar, bahkan kekuasaannya mulai runtuh. Meskipun demikian gambaran kebesaran peradabannya dicatat oleh pengembara Portugis tahun 1512 – 1515 Tome Pires dalam karyanya yang sangat terkenal dan sering menjadi sumber rujukan sejarah Asia Tenggara, Suma Oriental (dalam Pemugaran Persada Sejarah Leluhur Majapahit oleh Prof.Dr. Slamet Mulyana, Inti Idayu Press, Jakarta 1983 halaman 282, 283 dan seterusnya). Menurut Tome Pires, Sultan Malaka yang bergelar Raja Muzaffar Syah (1450 – 1458) serta puteranya yaitu Raja Mansyur Syah (1458 – 1477), sebagai raja bawahan Jawa, memiliki hubungan yang baik dengan Jawa. Bahkan untuk keperluan menunaikan ibadah haji ke Mekah, Raja Mansyur Syah memesan jung besar dari Jawa.

Sejarah panjang peradaban Jawa dan juga daerah-daerah lain di Nusantara, banyak dikupas oleh para penulis sejarah asing, yang daftar rincian penulisnya bisa dilihat antara lain di buku Atlas Walisongo.

Dalam halaman 374 buku tadi bahkan digambarkan secara ekstrem kesombongan orang Jawa Majapahit. Diogo Do Couto yang datang ke Jawa tahun 1526, yaitu setahun sebelum balatentara Demak menyerbu Girindrawardhana di Majapahit, mencatat antara lain sebagai berikut:

“Pulau Jawa melimpah atas segala sesuatu yang terkait dengan kebutuhan hidup manusia. Begitu berlimpahnya sehingga Malaka, Aceh dan semua negeri tetangga memperoleh pasokan kebutuhan dari situ. Penduduk pribuminya disebut orang Jawa (Jaos); mereka orang-orang yang sombong, selalu memandang orang bukan Jawa lebih rendah.”

Islam menghormati kemerdakaan berpendapat dan berkepercayaan.

Bersamaan dengan masa peralihan kekuasaan dari Kerajaan Majapahit yang memudar ke Kadipaten Demak yang semakin membesar, berlangsung pula suasana peralihan di bidang keagamaan dan kepercayaan. Pada masa kejayaan Majapahit, masyarakat menganut agama Hindu yang mengutamakan pemujaan pada Dewa Syiwa serta agama Buddha. Kedua agama tadi berjalan seiring dengan kepercayaan masyarakat terhadap ruh-ruh halus. Mereka juga sangat mempercayai hal-hal gaib dan mistis, serta mengkaitkan hampir semua aspek kehidupan dengan hal tersebut.

Dalam suasana kehidupan yang seperti itulah agama Islam yang sudah bersemi di pusat kerajaan Majapahit, semakin disebarkan secara meluas oleh para ulama, yang kemudian dikenal sebagai para wali dan diberi sebutan atau nama panggilan Sunan. Dua dari para wali itu adalah Sunan Bonang dan muridnya yaitu Sunan Kalijaga, dikenang masyarakat sampai sekarang karena jago berdakwah dengan menggunakan media kesenian, terutama berupa musik tradisional gamelan berserta tembang-tembang Jawa.

Para ulama mengenalkan agama Islam antara lain dengan cara menembang, bersenandung merdu aneka irama, mulai dari irama ceria yang ditujukan sebagai pengiring permainan anak-anak, irama menggelora pengobar semangat sampai irama sentimental menyertai ajaran-ajaran menyongsong kematian ke alam kelanggengan di haribaan Ilahi. Ajaran tembang-tembang islami itu diberi nama Suluk, sesuai tujuannya yaitu mendekatkan diri kepada Allah, Tuhan Yang Maha Esa lagi Maha Kuasa.

Dengan memanfaatkan serta mengembangkan kesenian Jawa yang ada, disertai berbagai contoh perikehidupan sehari-hari yang menarik, mereka menyusup halus secara bijak dalam kehidupan masyarakat luas, mempengaruhi, menggeser setapak demi setapak atau membungkus selapis demi selapis agama, kepercayaan dan adat istiadat lama.

Salah satu dari sejumlah tembang yang dipercaya masyarakat sebagai ciptaan para wali, adalah sebuah tembang suluk atau tembang dakwah Islam, yang dikenal dengan tiga nama yaitu Kidung Kawedar atau Kidung Rumekso Ing Wengi atau juga Kidung Sariro Ayu.

Kepada masyarakat yang sangat mempercayai hal-hal gaib dan mistis tadi, Sunan Kalijaga menciptakan Suluk Kidung Kawedar yang didendangkan dengan irama dhandanggula yang bernuansa meditatif-kontemplatif, yang dikemas bagaikan sebuah mantera sakti guna mengatasi segala problem kehidupan masyarakat sehari-hari.

Dengan kesenian dan tembang-tembang itu, Islam diperkenalkan bukan sebagai suatu gerakan yang agresif mengobarkan kekerasan dan pemaksaan kehendak. Islam sesuai dengan arti katanya, adalah suatu agama yang penuh dengan penyerahan diri kepada Tuhan Yang Maha Esa, yang justru berusaha menyelamatkan manusia dengan perilaku silm atau salam atau damai. Islam diturunkan guna menebarkan cinta dan kasih sayang, menggalang perdamaian serta kesejahteraan, bukan untuk perang dan mengalirkan darah.

Hal itu sesuai dengan firman Allah dalam surat An Nahl (16) ayat 125: “Serulah ke jalan Tuhanmu dengan bijaksana dan nasihat yang baik, dan bantahlah mereka dengan cara yang lebih baik pula.” Sungguh luas kandungan ayat ini. Sangat mulai nilainya namun sering dilupakan. Bersama beberapa ayat yang lain, ayat ini menunjukkan bahwa Islam menghormati sepenuhnya kemerdakaan berpendapat dan berkepercayaan.

Gusti Allah berfirman dalam Surat Al Baqarah (2) ayat 256 : “Tiada paksaan untuk memasuki agama. Sesungguhnya telah jelas jalan yang benar dibanding jalan yang salah. Karena itu barangsiapa yang ingkar kepada yang disembah selain Allah dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang kuat, yang tidak akan putus.”

Lebih jauh ditegaskan dalam Surat Yunus (10) ayat 99 : “Apakah kamu hendak memaksa manusia supaya semuanya menjadi orang-orang yang beriman?”. Kemudian Al Kafirun (109) ayat 6 : “Bagimu agamamu dan bagiku agamaku”.

 Demikianlah, sudah barang tentu dengan karomah, wibawa serta keteladanan perilaku dan kehidupannya yang baik, Sunan Kalijaga meyakinkan masyarakat akan fadilah dan keutamaan Kidung Kawedar, yang sesungguhnya tiada lain adalah sebuah kidung dakwah.

Yang menarik dari urutan kandungan isi Kidung ini, Sunan Kalijaga tidak langsung mengajarkan Rukun Islam khususnya syahadat dan shalat, melainkan dengan memperkenalkan terlebih dulu tokoh-tokoh panutan di dalam Islam serta beberapa istilah penting. Sesudah itu menyusup masuk ke dalam filosofi kehidupan masyarakat. Bersamaan dengan itu pengenalan terhadap tokoh-tokoh panutan terus ditambah. Selanjutnya barulah diperkenalkan Rukun Iman, Rukun Islam dan pokok-pokok ajaran tasawuf dengan kebiasaan berzikirnya.

Menjadi pelajaran berharga bagi kita generasi sekarang dan mendatang, keberhasilan para ulama abad XV – XVI dalam mengislamkan pulau Jawa, demikian pula nampaknya ulama-ulama lain di Nusantara, bukanlah dengan membongkar total sekaligus ataupun menendang agama, kepercayaan, adat istiadat lama apalagi budaya dan kearifan lokal, tetapi dengan secara bijak menyusup halus, menggeser setapak demi setapak dan membungkus selapis demi selapis dengan agama dan tata nilai baru. Hal itu bisa kita lihat dari adat budaya berbagai suku di Nusantara yang beragama Islam, yang tidak dijumpai dalam adat budaya bangsa-bangsa Arab, misalkan upacara adat tepung tawar di Aceh dan Melayu, serta persembahan kapur sirih yang dilakukan oleh suku-suku lain.

Tak pelak lagi, para wali yang berdakwah di Nusantara sangat menghayati hakikat dari Surat Al Hujuraat (49) ayat 13 : “ Hai sekalian manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, dan Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling mengenal. Sesungguhnya semulia-mulia kamu di sisi Allah ialah yang lebih taqwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Teliti.”

Jelas bahwa Allah Yang Maha Kuasa tidak menciptakan umat manusia sejagat raya hanya menjadi satu suku, satu bangsa dan satu agama, melainkan bersuku-suku dan berbangsa-bangsa, tentu saja dengan adat budaya masing-masing sebagai ciri sesuatu suku atau pun sesuatu bangsa.

Kembali kepada keberhasilan dakwah para ulama dalam mengislamkan Nusantara khususnya Jawa, tentu tiada gading yang tak retak. Tiada sesuatu yang langsung sempurna paripurna. Kewajiban kita dan generasi-generasi mendatang untuk terus memperbaiki dan menyempurnakan. Bahkan bila perlu melakukan pembaharuan-pembaharuan dengan cara yang bijaksana dan lebih baik pula.

 Allaahumma aamiin.

 

2 Comments

Filed under Uncategorized

HAKIKAT SEDULUR PAPAT LIMA PANCER & SEDEKAH : Kandungan Makna Suluk Kidung Kawedar (9).

Ilmu Makdum Sarpin Sedulur Papat Lima Pancer.

Bait 41 – 43 adalah bait-bait yang cukup fenomenal bagi orang Jawa, terutama yang mengikuti faham Kejawen. Dari sini berkembang kepercayaan akan adanya empat saudara gaib yang selalu menyertai kelahiran setiap manusia. Meskipun zaman sudah berkembang pesat, minat orang untuk mengetahuinya masih terus berlangsung.
Bersumber dari kidung tersebut muncul berbagai penafsiran beserta amalan-amalannya. Penulis mencatat selama ini ada lima penafsiran, sebagaimana telah dimuat di blog Tasawuf Jawa (https://islamjawa.wordpress.com/2012/05/30/sedulur-papat-lima-pancer/).

Dari kelima versi tersebut, versi pertama adalah yang paling berkembang dan diyakini masyarakat sampai sekarang. Sementara itu karena wilayah dakwah Sunan Kalijaga merentang terutama di sepanjang pantai utara Jawa, bahkan tempat uzlahnya selama bertahun-tahun berada di wilayah Cirebon, maka versi pertama juga dipercaya oleh sebagian masyarakat Jawa semenjak dari Banten, Jawa Barat sampai dengan Jawa Timur. Ciri khas dari penganut pemahaman ini adalah keyakinan terhadap amalan ilmu gaib makdum sarpin.

Kata makdum sarpin disebut dalam baris kedelapan bait 43. Sulit mengartikan kedua kata tersebut. Makdum berasal dari bahasa Arab yang berarti tuan atau majikan, tapi juga bisa berarti kosong atau tiada, sebagaimana makna yang sudah kita bahas dalam bait ke 28 (Tafsir seri ke 9: Sang Hyang Guru dan Sang Hyang Hayu), yang juga dapat dijumpai dalam Serat Wirid Hidayat Jati bab 2 perihal Wedharan Wahananing Dzat). Sementara itu kata sarpin belum bisa penulis artikan secara pas, karena belum diketemukan baik dalam bahasa Arab, Sansekerta, Jawa Kuno apalagi Baru sekarang. Boleh jadi itu berasal dari bahasa Arab: (1) syafiq belas kasih atau penyayang. (2) syafir atau terhormat, istimewa dan (3) syafina atau mutiara. Namun dari mempelajari Serat Wirid Hidayat Jati, penafsir menyimpulkan yang dimaksud dengan makdum sarpin adalah jati diri manusia yang mampu mengenali sangkan paraning dumadi atau asal mula dan tujuan kehidupan.

Selain kelima versi penafsiran di atas, mungkin masih ada lagi penafsiran yang lain. Tapi yang sudah penafsir ketahui baru lima itu tadi. Sementara penafsir sendiri memberikan catatan atas tafsir kelima. Penafsir cenderung memilih tafsir ini tapi malaikatnya bukan Jibril, Izrail, Israfil dan Mikail, melainkan malaikat Hafazhah atau malaikat Penjaga sesuai firman Gusti Allah dalam Al Qur’an Surat Ar-Ra’ad ayat 11 dan Surat Al Infithar ayat 10 – 12, tentang adanya malaikat-malaikat yang menjaga dan memelihara manusia secara bergiliran.

Kepedulian yang bagaimana dan apa yang harus kita lakukan agar malaikat “sedulur” kita, menjaga kita dengan sebaik-baiknya? Buya Hamka menjelaskan dengan mengingatkan Surat Az-Zukhruf ayat 36, yaitu “Barangsiapa yang berpaling dari mengingat Allah Yang Maha Pengasih, niscaya Kami sertakan setan sebagai temannya (yang selalu menyertainya).” Maka menurut Buya, selama zikir kita kepada Allah masih kuat dan ibadah masih teguh, pengawalan dari malaikatlah yang bertambah banyak, dan jika kita lalai dari jalan Tuhan, datanglah teman dari iblis, jin dan setan.

Di samping itu, pada hemat panafsir, janganlah lupa sewaktu membaca salam di akhir shalat, untuk bermurah hati dengan meniatkan menyedekahkan salam yang pada hakikatnya adalah doa, di samping kepada makhluk-makhluk Allah yang nampak mata, juga kepada yang tak nampak mata termasuk para malaikat penjaga kita.

Subhanallaah.

Mengganti Sesaji Dengan Sedekah.
Masyarakat Jawa abad XV yang memeluk agama Syiwa-Buddha, yang memuja roh-roh gaib dan roh leluhur, lazim memberikan sesaji berupa bunga, kemenyan, buah-buahan dan telor rebus, kadang-kadang juga segelas kopi pahit, demi memuja dan berkomunikasi dengan sesembahan atau roh gaib yang ditakuti. Sesaji tersebut diletakkan di perempatan dekat rumah, di sudut-sudut rumah, di bawah pohon, batu besar dan lain-lain. Kepada Dewa pengatur rejeki termasuk pertanian, yaitu Dewi Sri dan Dewa Sadono, sesaji ditaruh di sudut-sudut pematang sawah atau ladang. Sesaji-sesaji itu tidak boleh dimakan manusia, dan dibiarkan membusuk atau dimakan binatang.

Adat kepercayaan seperti itu tidak langsung dibuang oleh Walisongo yang gencar menyiarkan agama Islam, melainkan disisipi dengan ruh ajaran keislaman. Istilah sesaji diganti menjadi selamatan, dari asal kata islam itu sendiri, yang memang berarti damai dan selamat sejahtera. Niatnya diubah dari dipersembahkan kepada roh gaib atau dewa sesembahan, menjadi sedekah berupa makanan kepada sesamanya, dalam hal ini tetangga, kerabat, fakir miskin dan anak-anak yatim piatu. Sesaji kepada Dewa Sri-Sadono diganti menjadi sedekah bumi. Sesaji kepada Dewa Laut diganti menjadi sedekah laut.

Tentu saja adat kepercayaan memberikan sesaji itu tidak otomatis hilang. Pada masa kanak-kanak, penafsir masih banyak menjumpai sesaji untuk roh gaib dan roh leluhur. Tetapi lambat laun semakin berkurang, dan sekarang bahkan hampir hilang, meskipun belum sama sekali. Perbedaan pokok antara sesaji dan sedekah adalah pada niat dan peruntukannya, yang bisa dilihat dari jenis-jenis benda sesajiannya. Benda atau materi sesajian pada umumnya bukan makanan pokok yang enak dimakan manusia seperti nasi dengan lauk-pauknya, melainkan antara lain dari yang paling sederhana seperti kemenyan, sampai yang bernilai cukup mahal seperti kepala kerbau yang mentah tanpa diolah sama sekali.

Untuk beberapa jenis materi sesajian, meskipun tidak bisa dimakan misalkan bunga, para Wali juga tidak langsung membuangnya, namun dijadikan penghias makanan seperti halnya bunga, irisan buah dan dedaunan yang dijadikan sebagai hiasan pada sajian makanan dan minuman di hotel-hotel berbintang dan restoran mewah.

Tidak jarang jenis-jenis materi sedekah dan hiasannya juga diberi makna. Bunga misalnya dimaksudkan sebagai tamzil bahwa kehidupan itu harus harum bagaikan bunga. Bunga setaman melambangkan hidup damai dengan sesamanya bagai aneka tanaman bunga di dalam satu taman. Bunga pitu atau tujuh jenis bunga, demi menanamkan keyakinan kuat akan mendapat pitulungan atau pertolongan dari Gusti Allah. Boreh atau bedak dingin yang dulu lazim digunakan kaum wanita, dimaksudkan sebagai hadiah sekaligus melambangkan agar di dalam kehidupan, kita selalu menampilkan wajah yang sejuk dan menarik. Dauh sirih, sebagai persembahan kehormatan kepada kaum ibu yang ketika itu pada umumnya menginang, yaitu mengulum tembakau beserta pinang-sirih, disamping sebagai tamzil menyatunya segala daya upaya dalam mencapai cita-cita, sebagaimana menyatunya urat-urat daun sirih. Sedangkan nasi golong, yakni nasi yang dibentuk bulat bagai bola, adalah tamzil kebulatan tekad.

Jenis-jenis bahan baku sedekah tersebut juga ditemukan dalam bait 44 – 45. Yang bagi masyarakat zaman sekarang sangat asing adalah takir, yaitu wadah makanan yang terbuat dari daun pisang yang dibentuk seperti kotak segi empat.

Dalam bait 44 – 45 disebutkan jenis lauk-pauk berupa ikan. Ikan adalah tamzil untuk mengajarkan agar orang pandai berenang dan menyelam bagaikan ikan, dalam hal ini mengarungi dan menyelami kehidupan. Di samping itu ikan adalah juga jenis lauk pauk yang sangat mudah diperoleh masyarakat Jawa khususnya di wilayah Pantai Utara. Di kala itu orang yang sehat bisa dengan gampang menjala, menangkap dengan bubu atau memancing ikan di laut, tambak dan hutan bakau. Juga menangkap ikan di sungai kecil, rawa-rawa yang dahulu masih banyak di sekeliling kita serta di sungai-sungai besar yang bermuara di laut Jawa, yang membentang sepanjang pantai pulau Jawa. Dengan demikian anjuran memberikan sedekah pada setiap hari kelahiran tidaklah akan menyulitkan, karena bagi yang mampu bisa membeli dan bagi yang tidak mampu bisa menangkap sendiri.

Bagi orang Jawa, pengetahuan mengenai hari kelahiran sangat penting, terutama weton (berasal dari kata metu yang berarti keluar), yaitu gabungan antara hari yang terdiri dari tujuh mulai Senin sampai Minggu, dengan apa yang disebut pasaran yang terdiri dari lima yaitu Legi, Pahing, Pon Wage dan Kliwon. Sebagai contoh Kanjeng Nabi Muhammad, lahir pada hari Senin dengan pasaran Pon, maka weton Nabi Muhammad saw adalah Senin Pon. Lantaran merupakan gabungan dari tujuh dan lima, weton tersebut berulang setiap selapan dino atau setiap tigapuluh lima hari sekali.

Kebiasaan orang Jawa dahulu kala, untuk melakukan ritual atau peringatan khusus pada saat wetonannya, umumnya dengan memberikan berbagai sesaji kepada dewa sesembahan atau roh-roh gaib. Kebiasaan itulah yang diubah oleh Sunan Kalijaga melalui Kidung Kawedar, dengan mengajarkan memberikan sedekah, dan di kemudian hari diajarkan pula berpuasa sunah.
Perihal sedekah, dalam bait 45 baris keenam dan ketujuh harus diniatkan demi kemuliaan dengan diiringi doa-doa mahmut. Pengunaan kata mahmut yang berasal dari bahasa Arab dan berarti terpuji ini, pada hemat penafsir sengaja dimaksudkan untuk menegaskan pilihan menggunakan doa secara Islami, dan bukan dengan cara yang lain.

Kidung Kawedar terdiri dari 46 (empat puluh enam) bait. Jika bait pertama sampai empat puluh lima berisi keutamaan-keutamaan, pengenalan agama Islam, berbagai tamzil, ajaran dan petunjuk, bait terakhir dan merupakan satu-satunya, mengemukakan risiko bagi siapa yang tidak mau mengikuti ajarannya. Bait 45 mengemukakan kemuliaan bagi yang taat mengikuti ajaran berkat memperoleh pengaruh aura gaib Allah Yang Maha Agung, atau disebut mendapat sawab atau berkah. Sedangkan bait 46 terjadi hal sebaliknya bagi yang kurang tekun apalagi yang tidak mau menjalaninya. Mereka tidak akan dibantu oleh para malaikat penjaga dan pendamping. Karena malaikat hanya mau membantu apabila ada ridho dari Yang Maha Agung. Akibatnya, semua keinginan kita bisa gagal tak terwujud, cita-cita dan tujuan kita lepas, cabar tak tercapai, lantaran kurang bersungguh-sungguh dan kurang tekun dalam menghayati (agama Islam).

Kidung ini diakhiri dengan sebuah petuah agar dalam menghayati ajaran agama (Islam), kita senantiasa awas dan eling. Eling berarti ingat atau zikir, sebagaimana sudah dikemukakan dalam pembahasan bait 30, agar setiap saat selalu mengingat Gusti Allah. Mengingat-Nya dalam setiap tarikan nafas, dalam keadaan apa saja, bahkan selagi di kamar kecil membuang hajat. Dengan senantiasa mengingat-Nya maka kita pun akan menjadi pandai bersyukur, taat dan mematuhi firman-firman-Nya.

Kata ingat juga dikaitkan dengan kata awas atau waspada. Maknanya dalam mengingat serta mentaati Gusti Allah, kita tetap harus terus awas, terus-menerus waspada, lantaran setan yang sudah mendapatkan mandat dari Tuhan untuk menggoda manusia, tidak akan pernah menyerah sedikit pun. Setiap saat setan akan selalu menggoda manusia, mencari celah dan peluang meski hanya sepersekian mili, sepersekian detik bahkan hanya secercah cahaya, buat menggelincirkan iman manusia. Nasihat agar awas dan eling ini sekarang menjadi sebuah ungkapan yang terkenal, yaitu eling lan waspodo, ingat dan waspada.

Demikianlah nasihat penutup dari Sunan Kalijaga melalui Suluk Kidung Kawedar. Ada pun kesimpulan penafsir atas Kidung ini, insya Allah disajikan dalam kesempatan berikutnya.

Subhanallaah walhamdulillaah

2 Comments

Filed under Uncategorized

KAROMAH WALI ALLAH UNTUK MENGISLAMKAN PULAU JAWA : Kandungan Makna Suluk Kidung Kawedar (8).

40 Anugerah Karomah atau Kemuliaan Bagi Orang Yang Taat.

Bait 33 sampai dengan 37 kembali mengemukakan berbagai faedah yang dianugerahkan Gusti Allah kepada siapa yang menghayati hakikat Kidung Kawedar, terutama faedah dan keutamaan menghadapi aneka ancaman serta bahaya yang lazim timbul pada masa itu. Sesuatu faedah dan ancaman terasa diulang-ulang dari satu bait ke bait lainnya. Hal itu wajar pada suatu kitab tembang puisi seperti ini. Apalagi bila masalah yang dibahas memang merupakan masalah penting untuk zamannya. Bahkan Al Qur’an pun mengulang-ulang beberapa masalah yang sama.

Keutamaan-keutamaan dilukiskan dalam tamzil alam, binatang dan adat kebiasaan secara indah. Melambangkan dukungan alam semesta kepada umat yang telah menganut agama baru, yang memperoleh rahmat dari Gusti Allah. Sementara kepercayaan masyarakat terhadap Dewi Sri dan Dewa Sadana yang dianggap sebagai sepasang dewa pengatur rejeki manusia, tidak serta merta dicela dan dibuang, melainkan diturunkan derajatnya di bawah Allah swt. dan namanya hanya dipakai sekedar sebagai perlambang rejeki saja.

Ulama Besar Imam Al Ghazali yang lahir tahun 1058 dan wafat 1111, dalam kitab tasawufnya yang tersohor yaitu Minhajul ‘Abidin atau Menuju Mukmin Sejati menulis, orang yang senantiasa taat kepada Allah swt. dan Rasulullah saw. akan selamat dari godaan pesona dunia dan dimasukkan dalam golongan ahli surga. Mereka dikasihi dan disayang Allah, dan oleh karena itu bisa disebut sebagai aulia atau wali atau kekasih Allah, yang jika memiliki keinginan apa saja akan selalu dikabulkan. Apa yang dikehendaki akan terjadi, karena orang seperti itu selalu senang hati menerima segala ketentuan Allah. Daratan, lautan dan seisi bumi bagi mereka hanyalah setapak, yang ditundukkan oleh Allah kepadanya.

Begitu pula jin, manusia, binatang, semua ditaklukkan oleh Allah swt untuk para wali. Ingin apa saja, para wali yang sudah tidak berminat pada pesona dunia itu, akan terlaksana. Namun demikian mereka tidak pernah menginginkan apa-apa bagi dirinya kecuali yang dikehendaki Allah.

Menurut Al Ghazali, ada empat puluh (40) jenis anugerah kemuliaan dan keutamaan atau karomah yang dianugerahkan Allah kepada orang-orang muslim yang selalu taat dan berkhidmat kepada-Nya. Dua puluh merupakan anugerah di dunia sedangkan yang dua puluh lagi anugerah di akhirat.

Jika kita dicermati, berbagai kemuliaan yang dinyatakan Kidung Kawedar sudah termasuk dalam 40 kemuliaan yang digambarkan Al Ghazali tersebut. Tentu saja sugesti keutamaan kidung ini tidak akan dipercaya masyarakat, apabila para wali khususnya Sunan Kalijaga itu sendiri tidak memperoleh karomah kemuliaan dari Gusti Allah Yang Maha Agung lagi Maha Kuasa.

Maasyaa Allaah laa quwwata illaa billaah.

Ulama-Ulama Tasawuf Mengislamkan Jawa.

Benang merah kandungan isi Kidung Kawedar ini, secara jelas menunjukkan sebagai kidung dakwah mengenai agama Islam, dan lebih khusus lagi tentang tasawuf. Oleh karena itu dalam memahaminya kita harus berpedoman pada Al Qur’an, hadis, ijma’ dan qiyas atau kesepakatan serta penjelasan para ulama, agar kita tidak menjadi bingung dan kemudian tersesat.

Kecuali itu, mengingat dakwah Islam di pulau Jawa juga dilakukan secara menyusup dan melapisi agama serta kepercayaan yang sudah lebih dulu ada selapis demi selapis, maka kita pun harus memahami situasi, agama, kepercayaan serta adat istiadat yang berlaku pada saat itu. Hal seperti ini juga dilakukan oleh para penafsir Al Qur’an dan hadis. Mereka pun harus memahami latar belakang mengapa sesuatu ayat dan sesuatu hadis diturunkan.

Dengan memahami latar belakang keadaan yang meliputi berbagai aspek tersebut, kita akan bisa mengetahui apa saja yang merupakan substansi atau pokok ajaran dan apa saja yang sekedar merupakan ilustrasi, mana yang merupakan selubung sementara, mana yang disusupi bahkan mana yang dimanfaatkan. Semua itu muncul pada bait 38 sampai dengan 40 ini, sehingga apabila tidak cermat dalam memilah-milah, kita bisa bingung sendiri. Sementara itu kandungan pokok ajarannya juga terbilang banyak, saling isi saling silang dalam tiga bait.

Secara umum, mula-mula agama Islam diibaratkan sebagai burung yang memangku bumi dan langit, kemudian anatomi burung tersebut diuraikan dan masing-masing diberi padanan hal-hal yang perlu dipahami di dalam Islam terutama yang berkaitan dengan ilmu tasawuf. Selanjutnya diberi ilustrasi dari gambaran alam raya serta tapak-tapak sejarah dan alam di kawasan Timur Tengah yaitu bukit Tursina dan gunung Arafah, dipadu dengan kiasan alam dari legenda wayang khas Jawa yakni gunung Manikmaya.

Pokok-pokok ajaran yang dikemukakan dalam ketiga bait ini ialah empat warna dan delapan kaki dalam Islam, syariat, tarekat, hakikat, makrifat, syahadat, tauhid serta empat macam nafsu yaitu supiyah, amarah, mutmainah dan aluamah. Kemudian ada empat nyawa dan tauhid uluhiyyah. Begitu pula halnya dengan bukit Tursina atau bukit Sinai yang disebut dalam Surat At Tiin, dan gunung Arafah dengan padang Arafahnya yang menjadi pusat area dari puncak ibadah haji. Sungguh merupakan tiga bait nan sarat makna.

Kesulitan dalam memahami tamzil-tamzil Kidung Kawedar adalah karena tidak ada catatan-catatan tertulis lain pada masanya, terutama yang menjelaskan tentang tamzil tersebut. Memang di masyarakat dijumpai beberapa penafsiran, namun jika kita harus menggunakan rujukan Al Qur’an, hadis, ijma dan qiyas, maka kita harus berani menyatakan bahwa beberapa penafsiran yang ada tidak diketemukan acuannya.

Dari memahami bait demi bait Kidung Kawedar dan berbagai suluk dakwah yang ada, kita bisa mengetahui dalam berdakwah para Wali tidak langsung mengajarkan ibadah mahdah seperti shalat, puasa dan haji, melainkan memperkenalkan serta mengajarkan terlebih dulu sejarah para nabi, malaikat dan olah batin yang biasa dilakukan oleh para penganut tasawuf. Bahkan syahadat dan tauhid juga baru disinggung setelah syariat, tarekat, hakikat dan makrifat. Tak pelak lagi, jejak langkah dan tonggak-tonggak penyebaran agama Islam di pulau Jawa, nampak jelas menunjukkan jejak langkah para ulama tasawuf yang telah dianugerahi berbagai karomah oleh Gusti Allah.

Syahadat dan tauhid di dalam Islam adalah dua ungkapan yang menyatu. Syahadat berasal dari kata syahida atau persaksian, sedangkan tauhid adalah pengakuan keyakinan akan keesaan Tuhan dengan segala kekuasaan dan sifatnya. Seseorang sudah boleh disebut atau diberi label Islam, apabila sudah mengakui, dalam bahasa umum mengucapkan dua kalimat syahadat, yaitu syahadat tauhid yang berbunyi: “Asyhadu al-laa ilaaha illallaah (saya bersaksi bahwa tiada sesembahan selain Allah)”, serta syahadat rasul: “wa asyhadu anna Muhammadar rasuulullaah (dan saya bersaksi bahwa Muhammad adalah rasul atau utusan Allah)”.

Namun demikian, jika diibaratkan kehidupan sekarang ini, pengucapan syahadat itu bagaikan bendera dari sesuatu kapal. Di dalam dunia pelayaran, kita menjumpai banyak kapal-kapal dagang antar benua yang menggunakan bendera negara-negara Amerika Latin dan Afrika Barat, misalkan Liberia. Ini berarti status hukum kepemilikan kapal tersebut adalah mengikuti hukum negara Liberia. Apakah pemilik yang sesungguhnya terutama para awak kapalnya adalah bangsa Liberia? Belum tentu. Begitu pula orang yang sudah mengucapkan dua kalimah syahadat, belum otomatis perilaku serta iman dan amal salehnya sesuai dengan tuntunan Islam. Oleh sebab itulah, seseorang yang sudah meneguhkan keimanannya dengan mengucapkan dua kalimat syahadat, harus pula menindaklanjuti dengan melaksanakan rukun iman dan rukun islam lainya, beserta berbagai perbuatan dan amal saleh yang diajarkan di dalam Al Qur’an dan hadis Kanjeng Nabi Muhammad saw.

Mengenai kalimat uluhiyah di dalam kitab lauh mahfuzh qalam yang merupakan baris kesembilan, Islam meyakini tiga jenis tauhid, yaitu tauhid rububiyah, tauhid uluhiyah (dalam bait 39 disebut uluwiyah) dan tauhid asma’ wash-shifat. Tauhid rububiyah adalah meyakini kekuasaan Allah dalam menciptakan serta mengatur alam semesta dan dunia akhirat. Tauhid uluhiyyah mengakui Allah sebagai sesembahan yang harus senantiasa dipatuhi, sedangkan tahud asma’ wash-shifat meyakini berbagai nama dan sifat Allah yang mulia.

Pokok bahasan lain yang cukup penting dalam bait 39 adalah empat macam nafsu yang ditamzilkan sebagai bagian dalam tubuh. Empat nafsu yang berada dalam diri manusia yaitu: (1) Nafsu supiyah, berhubungan dengan masalah kesenangan, yang jika tidak dikendalikan akan menyesatkan jalan hidup kita. (2). Nafsu amarah yang berkaitan dengan emosi. Jika tidak dikendalikan, ia sangat berbahaya karena akan mengarahkan manusia kepada perbuatan dan perilaku yang keji dan rendah. (3). Nafsu aluamah, yaitu nafsu yang sudah mengenal baik dan buruk. (4). Nafsu mutmainah, yaitu nafsu yang telah dikendalikan oleh keimanan, yang membawa sang pemilik menjadi berjiwa tenang, ridho dan tawakal.

Bait 38 yang menyebut masalah syariat, tarekat, hakikat dan makrifat, sangat menarik dan merupakan pokok bahasan ilmu tasawuf. Pelajaran tasawuf banyak pula diungkapkan dalam suluk-suluk lain. Bahkan guru Sunan Kalijaga yaitu Sunan Bonang, menggubah sejumlah suluk yang secara gamblang mengajarkan tasawuf.

Makna tasawuf adalah jalan untuk mendekatkan diri kepada Gusti Allah dengan tiga inti ajaran pokok yakni bulat hati kepada Allah, tekun ibadah dan berpaling dari godaan pesona dunia atau tidak cenderung pada kemewahan dan pesona dunia. Sedangkan suluk juga berarti cara untuk mendekatkan diri kepada Gusti Allah swt. mengikuti tuntunan jalan tasawuf.

Itulah jejak dan tapak-tapak sejarah yang menandai penyebaran Islam di Pulau Jawa oleh para wali Allah, yaitu ulama-ulama tasawuf yang telah memahami serta mengamalkan ilmu agama, karomah dan keteladan perilaku.

Subhanallaah walhamdulillaah.

Leave a comment

Filed under Uncategorized

DONGENG TENTANG KELUARGA RASULULLAH ALA JAWA: Kandungan Makna Suluk Kidung Kawedar (7).

Serat Menak, Kisah Kepahlawanan Amir Hamzah.
Bait 32 yang menjadi bahasan bab ini merupakan kelanjutan dari bait 31, yang menceritakan tentang Baginda Rasul Kanjeng Nabi Muhammad Saw. Sebagai tembang puisi, kita memang tidak bisa menerjemahkan apalagi menafsirkan Kidung Kawedar ini secara kata per kata, melainkan harus memahami bait demi bait secara keseluruhan, termasuk memahami latar belakang serta keadaan masyarakat pada saat tembang itu digubah. Sebagai contoh, penggunaan kata marang wang (kepada saya) pada baris terakhir bait 31, dan penggunaan kata awak mami (kepada saya) pada baris kelima bait 32. Wang dan mami yang berarti saya, pada hemat penafsir merujuk kepada Nabi Muhammad saw., dan bukan kepada penulis Kidung dalam hal ini Sunan Kalijaga atau pun pembaca kidung. Begitulah, barang siapa yang mengikuti jalan Rasulullah Saw. secara hakikat dipercaya bisa ikut memperoleh hikmah keutamaannya.

Demikian pula penafsiran atas baris keempat dan kelima yang menyebutkan, pan nabi patang puluh, paring wahyu mring awak mami (karena 40 nabi memberikan wahyu kepada saya), tidak berarti Kanjeng Nabi Muhammad menerima wahyu dari nabi-nabi sebelumnya sebagaimana ia menerima wahyu dari Gusti Allah Swt., tetapi dimaksudkan ia menerima limpahan atau meneruskan tugas kewahyuan dari para nabi tersebut. Hal ini dipertegas dengan baris berikutnya yang menyatakan karena ia sebagai nabi terakhir.
Dengan kekuatan kewahyuan yang seperti itu maka kaum beriman akan dengan mudah menduduki Baitul Muqadas atau Masjidil Aqsa.

Kembali pada bait 32 Kidung Kawedar atau disebut juga Kidung Sarira Ayu, baris ketujuh dan kedelapan mengemukakan wibawa Nabi Dawud dan Hamzah, yaitu paman Rasulullah, sehingga bahkan para jin dan setan pun ketakutan, tiada yang berani mendekat. Menilik keperkasaan dan keberaniannya, penyebutan nama Nabi Dawud dan Sayidina Hamzah, diharapkan dapat menarik serta memberikan sugesti keberanian kepada pemeluk-pemeluk Islam yang masih baru dan belum banyak jumlahnya.

Nabi Dawud adalah perintis pembangunan wilayah di mana Betal Mukadas (Baitul Muqadas atau Masjidil Aqsa) yang disebut pada baris kedua bait ini berada. Ia adalah ayah dari Nabi Sulaiman, seorang nabi yang dianugerahi Allah banyak keistimewaan antara lain jago berperang, bisa memahami bahasa burung, serta diamanahi kitab suci Zabur. Di samping seorang nabi, ia juga sekaligus seorang raja yang memimpin kerajaan yang besar dan kuat. Di dalam Kidung Kawedar, disebut sabda Nabi Dawud, karena kecuali ditakuti musuh-musuhnya, ia pun dikaruniani suara nan merdu, sehingga sampai sekarang menjadi kiasan, apabila ada orang yang memiliki suara merdu diibaratkan ia memperoleh suara Nabi Dawud, sebagaimana juga disinggung di bait keempat.

Perihal Baginda Ambyah atau Sayidina Hamzah, namanya memang amat tersohor di semenanjung Melayu semenjak awal abad 16, dan terus menyebar ke Nusantara termasuk Jawa, mengikuti penyebaran agama Islam. Di kalangan Rumpun Melayu, cerita keberanian dan kepahlawanannya yang heroik dalam berperang melawan kaum musyrikin dituangkan dalam Hikayat Amir Hamzah, sedangkan di Jawa dikisahkan dalam Serat Menak.
Serat Menak dengan tokoh utama Hamzah, yaitu paman Kanjeng Nabi Muhammad Saw, mengisahkan perjuangan umat Islam sebelum masa kerasulan Nabi Muhammad saw. Di tengah kekafiran dan kejahiliyahan yang berkembang di sejumlah negeri di Timur Tegah, terdapat kaum hanif yang tetap menjalankan ajaran dari millah Nabi Ibrahim, yaitu Agama Islam. Jadi Agama Islam yang dimaksud dalam cerita Menak sebenarnya adalah ajaran Allah yang telah dimulai sejak masa kehidupan Nabi Adam. Cerita ini secara tersirat juga menegaskan bahwa Agama Allah satu-satunya hanyalah Islam. Sementara itu terdapat agama yang lain yang muncul sebagai bentuk distorsi dari ajaran nabi-nabi sebelumnya. Kaum hanif ini terus berjuang menegakkan kalimat Allah dengan menghadapi tantangan kaum kafir, sambil menantikan kedatangan Nabi akhir zaman yang akan segera tiba, bernama Nabi Muhammad

Di masa kanak-kanak kami tahun 1950an, pertunjukan seni bertutur atau mendongeng yang disebut kentrung, serta wayang dan ketoprak dengan lakon Wong Agung Menak, merupakan tontonan yang digemari masyarakat. Dua tokoh yang penafsir kagumi adalah Umarmaya yang kocak tapi sakti, serta Wong Agung Menak itu sendiri, yang sakti tak terkalahkan lagi disenangi banyak puteri cantik. Di zaman sekarang kepahlawanan mereka tak kalah bila disandingkan dengan Superman, Batman, Spiderman, Cat Women dan para hero dunia maya lainnya.(Untuk versi kajian bait per bait, lihat link tulisan: https://islamjawa.wordpress.com/2014/12/19/serat-menak-kisah-kepahlawanan-amir-hamzah-tafsir-suluk-kidung-kawedar-sunan-kalijaga-13/).

Maasyaa Allaah.

Leave a comment

Filed under Uncategorized

SHALAT DAIM : Kandungan Makna Suluk Kidung Kawedar (6).

Zikir Ya Hu Allah dan Keutamaan Surat Al Ikhlas.

Kandungan isi bait 30 Kidung Kawedar sungguh luar biasa. Sarat makna dan keutamaan. Diawali dengan ajaran zikir, keberadaan malaikat yang menjaga kita dan menolak segala perbuatan buruk, kemudian bagaimana mengenal Gusti Allah dan keutamaan Surat Kolhu atau Al Ikhlas. Bait ini juga menjadi landasan ulah batin bagi para penganut kejawen, baik yang muslim maupun yang bukan.

Baris pertama adalah mengajarkan berzikir di kala malam. Zikir artinya mengingat atau menyebut. Ingat dalam bahasa Jawa adalah eling. Jadi eling atau ingat itu sama maknanya dengan zikir, dan zikir yang terbaik adalah zikrullah atau mengingat Allah

Dalam rangka mengajarkan zikir mengingat Gusti Allah itulah, maka Sunan Kalijaga memulai bait ini dengan kalimat Ya Hu Dat myang pamujining wengi, yang bermakna berzikirlah di kala malam kepada Dzat Allah. Kalimat ini di dalam masyarakat Jawa berlanjut dengan ajaran zikir Ya Hu Allah. Kalimat zikir Ya Hu Allah, Hu Allah dan Allahu sampai sekarang banyak dijumpai di kalangan para penganut dan praktisi spiritual muslim Asia Tenggara khususnya Nusantara.

Allah adalah salah satu bahkan merupakan asma yang utama yang menggenapkan sembilan puluh sembilan (99) asma-asma Allah yang mulia (asma’ul husna) menjadi seratus. Penggunaan asma Allah sering dijumpai secara berdiri sendiri, dan sering pula bersama kata lain seperti Akbar dan Nur, sehingga menjadi Allahu Akbar (Allah Maha Besar) dan Allahu Nur (Allah adalah Cahaya dari segala Cahaya). Tak jarang dalam berzikir, kata Allah diberi tambahan Hu, sehingga menjadi Hu Allah yang berarti Dialah Allah.

Baris ketiga dan keempat bait 30, menyebutkan tentang adanya dua malaikat yaitu Kirun di sebelah kanan kita dan Wana Kirun di sebelah kiri, membawa gada besi dan bertugas menolak semua perbuatan buruk pada diri kita. Nama malaikat Kirun tidak dijumpai di dalam Qur’an maupun hadis. Melihat tugasnya terhadap manusia, kemungkinan besar mereka adalan Qorin dari golongan setan yang senantiasa menggoda dan mengajak manusia untuk berbuat buruk, serta Qorin dari golongan malaikat yang mengajak pada kebajikan. Pada hemat penafsir, Sunan Kalijaga dalam kidung menyebut Qorin, tapi pada pendengaran masyarakat adalah Kirun. Inilah salah satu kelemahan dari sastra tutur, yang disebarkan secara lesan dari mulut ke mulut.

Tafsiran penulis dikuatkan dengan baris kedelapan yang menguraikan tugas Qirun membuka hati manusia agar bisa mengenal Allah. Tenajul berasal dari kata tanazul yang berarti mengenal Allah melalui hati yang terbuka bersih. Sedangkan rijal memiliki beberapa makna yaitu lelaki, orang yang berani, tulus, taat azas, berani berkorban untuk berdakwah. Dalam kaitan bait ini tenajul rijal bisa dimaknai menjadi orang yang bisa mengenal Allah melalui hati yang bersih yang sudah terbuka untuk itu.

Semua hal baik yang diuraikan dalam bait-bait Kidung Kawedar, adalah berkat keutamaan kolhu. Kolhu adalah pengucapan orang Jawa terhadap Surat Qulhu atau Surat Al Ikhlas, sebagaimana juga menyebut Patekah untuk Al Fatihah.

Kandungan makna dan keutamaan Surat Al Ikhlas dari berbagai hadis dan riwayat, bisa disebut istimewa. Surat Al Ikhlas menegaskan ketulusan pengakuan umat atas kemurnian keesaan dan kekuasaan Gusti Allah Swt, menolak segala macam kemusyrikan dan menerangkan tiada sesuatu pun yang menyamai-Nya. Semua pengakuan dan keyakinan atas keesaan beserta kekuasaan Tuhan itulah yang dinamai tauhid, yang merupakan induk atau inti sari dari ajaran Islam.

Ayat 1 dan ayat 2 menjelaskan keesaan, kesempurnaan serta kekuasaan Tuhan, sekaligus menegaskan bahwa yang tidak mempunyai kedua sifat tersebut bukan Tuhan, tidak pantas dan tidak bisa disebut Tuhan. Sedangkan ayat ketiga dan keempat menegaskan perbedaan Tuhan dengan manusia dan makhluk-Nya. Dia sudah ada sebelum yang lain ada, bukan anak siapa-siapa dan tidak memiliki seorang anak pun. Begitu sempurnanya sifat dan kekuasaan Allah, sehingga tiada siapa pun dan tiada sesuatu pun menyamai-Nya.

“Qul huwallaahu ahad, katakanlah: Dialah Allah, Yang Maha Esa”, adalah puncak ilmu tentang akidah. Oleh sebab itu pula ada sejumlah hadis yang menyatakan sabda Rasulullah bahwa nilai Surat Al Ikhlas sama dengan sepertiga Al Qur’an. Sejumlah hadis yang cukup sahih sebagaimana diuraikan antara lain dalam Tasir Al Azhar, mengungkapkan berbagai keutamaan surat ini, misalkan siapa yang membacanya akan disenangi Allah (Hadis Riwayat Bukhari), dan “wajib orang itu masuk surga” (Hadis Riwayat Tarmidzi).

Dengan keutamaan-keutamaan Surat Ikhlas tadi, maka tidak berlebihan apabila Sunan Kalijaga memberikan kabar gembira kepada siapa yang mempercayainya, ambalik lara roga. Kembali atau tertolak semua penyakit dan penderitaannya. Allaahush shamad, Allah tempat bergantung segala sesuatu. Tempat, maksudnya satu-satunya sesembahan kita yang Maha Kuasa, kepada siapa kita berharap memohon pertolongan atas segala masalah, termasuk segala penyakit dan penderitaan.

Allahu Akbar.
Keutamaan Ayat Kursi.

Seperti halnya bait sebelumnya, bait 31 juga sarat makna dan keutamaan. Namun demikian ada dua versi untuk kalimat pada baris pertama. Satu versi menyebut dudur molo sedangkan versi lain dudut molo. Kata dudur tidak ditemukan pada kamus bahasa Jawa Kuno maupun bahasa Jawa pergaulan sehari-hari pada umumnya, namun Raden Wiryapanitra dalam Serat Kidungan Kawedar terbitan Dahara Prize menyebut dudur molo sebagai kayu penyangga bubungan rumah. Dalam buku “Joglo, Arsitektur Rumah Tradisional Jawa” karangan R.Ismunandar K, penerbit Dahara Prize 1997, Semarang, bagian bangunan yang disebut molo dan dudur molo itu dijumpai di halaman 57 dan 83. Sedangkan versi dudut molo, bisa berarti mencabut atau membersihkan (dudut) molo yang bisa berarti noda, penyakit atau dosa. Jika melihat baris keempat yang berbunyi usuk-usuk ing luhur, yaitu kayu kasau penyangga genting yang di atas, nampaknya yang benar adalah dudur molo. Disambung baris kelima yaitu ingkang aran wesi ngalarik, semakin memperkuat tafsir pemakaian tamzil bangunan rumah untuk menyebutkan kedudukan ayat Kursi dan Surat Al Anaam.

Meskipun terdapat dua versi, pemakaian ayat Kursi bisa diterima pada keduanya. Ia bisa saja diibaratkan balok penyangga bubungan rumah, tapi bisa juga sebagai pembersih penyakit dan noda kehidupan.

Mari kita coba pahami ayat ke 255 Surat Al Baqarah ini:
“Allaahu laa ilaaha illaa huwal hayyul qayyuumu, laa ta’khudzuhuu sinatuw walaa nauum, lahuu maa fis samaawaati wa maa fil ardhi, man dzal ladzii yasyfa’u ‘indahuu illaa bi idznihii, ya’lamu maa baina aidiihim wa maa khalfahum, wa laa yuhiithuuna bi syai-im min ‘ilmihii illaa bi maa syaa-a, wasi’a kursiyyuhus samaawaati wal ardha, wa laa ya-uuduhuu hifzhuhumaa wa huwal ‘aliyyul ‘azhiim.”

Ayat Kursi menurut Prof.Dr.Quraish Shihab adalah ayat yang paling agung di antara seluruh ayat-ayat Al Qur’an. Karena dalam ayat ini disebutkan tidak kurang enam belas kali, bahkan tujuh belas kali, kata yang menunjuk kepada Allah swt, Tuhan Yang Maha Agung. Dalam Tafsir Al-Mishbah ia menulis sebagai berikut: “Allah (1); Tidak ada Tuhan (penguasa Mutlak dan yang berhak disembah) kecuali Dia (2); Yang Maha Hidup (3); Maha Kekal (4); yang terus-menerus mengurus makhluk-Nya (5); Dia (6); tidak dikalahkan oleh kantuk dan tidak tidur. Kepunyaan-Nya (7); apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi, tiada yang dapat memberi syafaat di sisi-Nya (8); tanpa izin-Nya (9); Dia (Allah) (10); mengetahui apa-apa yang di hadapan mereka dan di belakang mereka, dan mereka tidak mengetahui sesuatu dari ilmu-Nya (11); melainkan apa yang dikehendaki-Nya (12); Kursi (ilmu/kekuasaan)-Nya (13); meliputi langit dan bumi. Dia (14); tidak lelah memelihara keduanya dan Dia (15); Maha Tinggi (16); lagi Maha Besar (17).”

Pada bait 30 kita telah dikenalkan dengan bacaan zikir Ya Hu Allah dan Surat Al Ikhlas. Melalui ayat Kursi, bait ini memperkenalkan lebih jauh tentang siapa Allah yang dikidungkan sebelumnya itu. Dalam satu ayat yang terdiri dari lima puluh kata ini, terdapat tujuh belas kata yang menunjuk kepada Allah.

Dari ayat Kursi pula keluar ungkapan yang sangat terkenal di dalam bahasa Jawa yaitu Gusti Allah ora sare, Gusti Allah tidak tidur. Artinya Gusti Allah mengetahui apa saja, meskipun manusia mencoba menyembunyikan sesuatu terhadap manusia yang lain. Ungkapan ini lazim dikeluarkan oleh seseorang yang tidak berdaya terhadap perbuatan zalim orang lain kepada dirinya. Maknanya sangat luas, terutama untuk menenangkan dirinya sendiri dengan meyakinkan hatinya, bahwa Gusti Allah pasti akan menolongnya dengan menegakkan kebenaran dan keadilan.

Menurut para ahli tafsir Al Qur’an, yang dimaksudkan dengan “kursi Allah” dalam ayat ini ialah gambaran tentang kekuasaan-Nya Yang Maha Besar dan kerajaan-Nya Yang Maha Luas. Jadi bukanlah kursi seperti yang kita kenal sehari-hari.

Prof.Dr.Quraish Shihab berpendapat, pengulangan tujuh belas kata yang menunjuk nama Allah, bila dicamkan dan dihayati akan memberi kekuatan batin tersendiri bagi pembacanya. Ibrahim Ibnu Umar al-Biqa’i menurutnya, memberi penafsiran “supra rasional” menyangkut ayat Kursi. Pada hemat ulama ini dalam tafsirnya, Nazhm ad-Durar, “Lima puluh kata adalah lambang dari lima puluh kali shalat yang pernah diwajibkan Allah kepada Nabi Muhammad saw. ketika beliau berada di tempat yang maha tinggi dan saat dimi’rajkan. Lima puluh kali itu diringankan menjadi lima kali dengan tujuh belas rekaat sehari semalam. Di sisi lain, perjalanan menuju Allah ditempuh oleh malaikat dalam lima puluh ribu tahun menurut perhitungan manusia ( Surat Al Ma’arij 70:4)” Dari sinilah pakar tafsir itu mengaitkan bilangan ayat Kursi dengan perlindungan Allah. “Kalau di hadirat Allah gangguan tidak mungkin akan menyentuh seseorang, dan setan tidak akan mampu mendekat, bahkan akan menjauh, maka menghadirkan Allah dalam benak dan jiwa melalui bacaan ayat Kursi, yang sifatnya seperti diuraikan di atas, dapat menghindarkan manusia dari gangguan setan, serta memberinya perlindungan dari segala macam yang ditakutinya.”
Demikian penjelasan ulama ahli tafsir al-Biqa’i, yang sekaligus penulis jadikan penegas atas hikmah dan keutamaan sebagaimana yang diajarkan Sunan Kalijaga melalui Kidung Kawedar

Setelah mengajarkan ayat Kursi, baris kedua sampai dengan keempat bait 31 Kidung ini mengajarkan Surah Ngam-ngam yang tiada lain adalah Surat Al An’aam. Surat keenam dalam Al Qur’an yang arti katanya adalah binatang ternak, dinamakan seperti itu karena di dalamnya disebut kata “an ‘aam” yang berhubungan dengan adat istiadat kaum musyrikin, yang mempercayai bahwa binatang ternak dapat dipergunakan buat mendekatkan diri kepada tuhan mereka.

Begitu tinggi kandungan ajaran Surah Ngam-ngam (Al An’aam) dan relevansinya dengan keadaan masyarakat Jawa pada saat itu, sehingga Sunan Kalijaga mengajarkannya sesudah Surat Al Ikhlas dan ayat Kursi. Apa yang diungkapkan semenjak bait pertama, menjadi gamblang setelah mempelajari dan memahami zikir Ya Hu Allah, Surat Al Ikhlas, ayat Kursi dan Surat Al An’aam.

Dari ajaran berzikir Ya Hu Allah itu pula, bersemai ajaran shalat daim pada masyarakat Islam di Jawa, yaitu zikir yang tidak pernah berhenti, bahkan terus menerus menyertai tarikan nafas, yang iramanya dilatih sesuai kata hati (Pengembaraan Batin Orang Jawa di Lorong Kehidupan halaman 118). Shalat daim dimaksudkan buat melatih agar kalbu kita senantiasa dipenuhi dengan ingatan terhadap Gusti Allah, sehingga selanjutnya pikiran dan perbuatan kita selalu mengikuti jalan yang diridhoi-Nya, selalu dalam ketaatan dan bimbingan-Nya. Aamiin.

Baris keenam sampai dengan kesepuluh bait 31, adalah penegasan atas kenabian Kanjeng Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa salam, yang sudah diungkapkan dalam Surat Al An’aam, beserta segala keagungan dan keutamaannya.

Allaahumma shalli ‘alaa sayyidinaa Muhammad.

Leave a comment

Filed under Uncategorized