MASIHKAN UMAT TAAT & MENDENGAR KEPADA PARA ULAMA SESUAI AJARAN KANJENG NABI?

Dua bulan belakangan, lebih-lebih pada hari ini, Rabu 1 Februari 2017,  baik di media masa khususnya televisi,  maupun di berbagai jejaring media sosial, berhamburan pernyataan sejumlah tokoh dan politisi yang menanggapi perdebatan antara Pak Ahok dan Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia Al Mukarrom K.H. Ma’ruf Amin dalam persidangan hari Selasa 31 Januari 2017. Para tokoh tersebut terutama yang kental latar belakang atau pun organisasi keislamannya, mengaku sebagai santri Kyai Ma’ruf Amin.

Di kalangan kaum muslimin (dan muslimat) terutama di Indonesia, lazim berlaku adab pergaulan yang mulia, yang diajarkan oleh Al Qur’an dan hadis Kanjeng Nabi Muhammad SAW, yaitu seseorang yang lebih muda, apalagi santri atau murid seorang ulama, jika berjumpa dan berpamitan selalu mencium tangan yang lebih tua atau ustadz atau ulama.

Sementara itu di dalam tata pergaulan dan hubungan yang menyangkut perbedaan pendapat serta penugasan, berlaku ungkapan “sami’na wa atho’na”, yang artinya kami dengar dan kami taat. Ungkapan ini menunjukkan  sikap hormat dan patuh yang diajarkan kepada seorang muslim untuk hormat dan patuh terhadap ulama. Ungkapan kepatuhan itu berasal dari ayat suci Al Qur’an surat Al Baqarah ayat 285.

Perihal ulama, Junjungan Kanjeng Nabi Muhammad Saw. dalam hadis yang sangat termasyhur, yang diriwayatkan oleh Abdu Dawud, bersabda, “Ulama adalah pewaris Nabi.” Karena menempatkan ulama sebagai pewaris Nabi itulah, maka para ulama sangat dimuliakan di dalam pergaulan. Tangannya dicium, doanya diharapkan, nasihat, petunjuk serta perintahnya ditaati, sami’na wa atho’na.

Doa, nasihat, petunjuk serta perintah para ulama itulah yang sekarang ini sangat dinantikan umat Islam di Indonesia, tatkala satu sama lain tengah dipertentangkan, berprasangka buruk, menzalimi dan menggibah, bahkan bukan hanya sudah saling menyindir, tetapi sudah hendak saling menerkam, dan semuanya gara-gara politik yang mengobarkan pesona harta dan kekuasaan. Karena politik, bisa menyebabkan ada diantara kita yang merasa sok tahu banyak hal, sok memonopoli kebenaran, sehingga tega mengecap buruk saudara seimannya. Naudzubillah. Padahal Rasulullah SAW bersabda sebagaimana diriwayatkan Ibnu Umar,  “Seorang muslim itu adalah saudara bagi muslim yang lain. Oleh sebab itu, jangan menzalimi dan meremehkannya dan jangan pula menykitinya.” (HR. Ahmad, Bukhori dan Muslim)

Diriwayatkan pula oleh Imam Ahmad dari Suwaid bin Hanzalah,“Kami pernah keluar bersama Rasulullah Saw dan  Wa’i bin Hujr. Waktu itu Wai  dihukum oleh musuhnya. Rupa-rupanya orang-orang merasa enggan untuk membelanya dengan bersumpah bahwa Wa’i saudaranya. Maka saya (Hanzalah) bersumpah bahwa dia (Wa’i) adalah saudara saya. Akhirnya musuh tersebut melepaskannya. Kami kemudian datang kepada Rasulullah Saw menceritakan hal itu kepada beliau, maka Rasulullah bersabda, ‘Kamu adalah orang yang paling baik dan yang paling jujur diantara mereka. Apa yang kamu lakukan adalah benar. Orang Islam adalah saudara bagi orang Islam yang lain.”

 Perihal hubungan sesama muslim, junjungan kita Nabi Muhammad SAW mempertegas,  “Perumpamaan orang-orang yang beriman dalam hal saling mencintai, saling menyayangi dan kasih mengasihi adalah seperti satu tubuh, yang apabila ada salah satu anggota tubuh mangaduh kesakitan maka anggota-anggota tubuh yang lainnya ikut merasakannya yaitu dengan tidak bisa tidur dan merasa demam.” (H.R Bukhari Muslim dari An-Nu’man bin Basyir r.a)

Begitu indahnya persaudaraan secara islami yang mengajarkan untuk saling mengasihi dan melindungi, termasuk menutup aib serta melindungi kehormatan satu sama lain.

Islam mengajarkan umatnya untuk saling tidak membuka aib yang hanya akan membuat saudaranya terhina. Dan Allah SWT pun memberikan balasan kepada umatnya yang menutupi aib saudaranya sesama muslim, diantaranya Allah akan menutupi aibnya di dunia dan di akahirat kelak. Adapun hadits yang menjelaskan adalah, “Tidaklah seseorang menutupi aib orang lain di dunia, melainkan Allah akan menutupi aibnya di hari kiamat kelak.” (HR. Muslim)

 “Barang Siapa menutupi aib seorang muslim, maka Allah akan menutupi aib orang tersebut di dunia dan akhirat.” (HR. Ibnu Majah)

Sebaliknya siapa yang mengumbar aib saudaranya maka Allah akan membuka aib hingga aib rumah tangganya. “Barang siapa yang menutupi aib saudara muslimnya, Allah akan menutupi aibnya pada hari kiamat, dan barang siapa mengumbar aib saudara muslimnya, maka Allah akan mengumbar aibnya hingga terbukalah kejelekannya di dalam rumahnya.” (HR. Ibnu Majah).

Tentang ketaatan kepada ulama tersebut, beberapa  sahabat bertanya, “tetapi, ulama mana yang harus ditaati pada zaman edan sekarang ini?” Para pemikir Islam klasik jauh-jauh hari sudah menyadari dan mengingatkan, bahwa ulama yang paling buruk adalah ulama yang datang ke penguasa, kecuali untuk memperingatkan dan menegur Sang Penguasa. Datang atau didatangi penguasa bukan untuk mengumbar pesona dunianya, bukan untuk makan enak sementara masih banyak umatnya yang kelaparan, apalagi untuk menjadi ulama kes, memperoleh oleh-oleh atau hadiah uang tunai. Oleh karena itu pula pada hemat Al Ghazali, ulama harus tegak menjaga fungsinya sebagai pemegang amanah Allah, penjaga waris Nabi-Nabi dan penegak politik keadilan. Para ulama dan cendekiawan harus bersikap waspada dan jangan menundukkan diri pada politik kezaliman, bahkan jika dianggap perlu harus mengambil sikap uzlah, menjauhkan diri dari segala soal yang berbau politik kekuasaan.

Demikianlah wahai sahabat-sahabatku, semoga kita semua dikarunia hidayah untuk senantiasa taat kepada Gusti Allah SWT dan Kanjeng Nabi Muhammad SAW, dengan mematuhi perintah serta mengikuti keteladanannya, khususnya dalam memuliakan para ulama selaku pewarisnya, memuliakan saudara-saudara kita dengan saling mengasihi dan melindungi satu sama lain. Semoga, Allahumma aamiin. (Ingin membedakan ulama baik dan buruk, lihat : ULAMA dan PENGUASA, https://islamjawa.wordpress.com/2016/10/20/ulama-dan-penguasa/).

 

Advertisements

Leave a comment

Filed under Uncategorized

Masihkah Para Santri Sami’na wa Atho’na Kepada Para Ulama? Semoga

Dua bulan belakangan, lebih-lebih pada hari ini, Rabu 1 Februari 2017,  baik di media masa khususnya televisi,  maupun di berbagai jejaring media sosial, berhamburan pernyataan sejumlah tokoh dan politisi yang menanggapi perdebatan antara Pak Ahok dan Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia Al Mukarrom K.H. Ma’ruf Amin dalam persidangan hari Selasa 31 Januari 2017. Para tokoh tersebut terutama yang kental latar belakang atau pun organisasi keislamannya, mengaku sebagai santri Kyai Ma’ruf Amin.

Di kalangan kaum muslimin (dan muslimat) terutama di Indonesia, lazim berlaku adab pergaulan yang mulia, yang diajarkan oleh Al Qur’an dan hadis Kanjeng Nabi Muhammad SAW, yaitu seseorang yang lebih muda, apalagi santri atau murid seorang ulama, jika berjumpa dan berpamitan selalu mencium tangan yang lebih tua atau ustadz atau ulama.

Sementara itu di dalam tata pergaulan dan hubungan yang menyangkut perbedaan pendapat serta penugasan, berlaku ungkapan “sami’na wa atho’na”, yang artinya kami dengar dan kami taat. Ungkapan ini menunjukkan  sikap hormat dan patuh yang diajarkan kepada seorang muslim untuk hormat dan patuh terhadap ulama. Ungkapan kepatuhan itu berasal dari ayat suci Al Qur’an surat Al Baqarah ayat 285.

Perihal ulama, Junjungan Kanjeng Nabi Muhammad Saw. dalam hadis yang sangat termasyhur, yang diriwayatkan oleh Abdu Dawud, bersabda, “Ulama adalah pewaris Nabi.” Karena menempatkan ulama sebagai pewaris Nabi itulah, maka para ulama sangat dimuliakan di dalam pergaulan. Tangannya dicium, doanya diharapkan, nasihat, petunjuk serta perintahnya ditaati, sami’na wa atho’na.

Doa, nasihat, petunjuk serta perintah para ulama itulah yang sekarang ini sangat dinantikan umat Islam di Indonesia, tatkala satu sama lain tengah dipertentangkan, bahkan bukan hanya sudah saling menyindir, tetapi sudah hendak saling menerkam, dan semuanya gara-gara politik yang mengobarkan pesona harta dan kekuasaan. Padahal Rasulullah SAW bersabda sebagaimana diriwayatkan Ibnu Umar,  “Seorang muslim itu adalah saudara bagi muslim yang lain. Oleh sebab itu, jangan menzalimi dan meremehkannya dan jangan pula menykitinya.” (HR. Ahmad, Bukhori dan Muslim)

Diriwayatkan pula oleh Imam Ahmad dari Suwaid bin Hanzalah,

“Kami pernah keluar bersama Rasulullah Saw dan  Wa’i bin Hujr. Waktu itu Wai  dihukum oleh musuhnya. Rupa-rupanya orang-orang merasa enggan untuk membelanya dengan bersumpah bahwa Wa’i saudaranya. Maka saya (Hanzalah) bersumpah bahwa dia (Wa’i) adalah saudara saya. Akhirnya musuh tersebut melepaskannya. Kami kemudian datang kepada Rasulullah Saw menceritakan hal itu kepada beliau, maka Rasulullah bersabda, ‘Kamu adalah orang yang paling baik dan yang paling jujur diantara mereka. Apa yang kamu lakukan adalah benar. Orang Islam adalah saudara bagi orang Islam yang lain.”

 

Perihal hubungan sesama muslim, junjungan kita Nabi Muhammad SAW mempertegas,  “Perumpamaan orang-orang yang beriman dalam hal saling mencintai, saling menyayangi dan kasih mengasihi adalah seperti satu tubuh, yang apabila ada salah satu anggota tubuh mangaduh kesakitan maka anggota-anggota tubuh yang lainnya ikut merasakannya yaitu dengan tidak bisa tidur dan merasa demam.” (H.R Bukhari Muslim dari An-Nu’man bin Basyir r.a)

Begitu indahnya persaudaraan secara islami yang mengajarkan untuk saling mengasihi dan melindungi, termasuk menutup aib serta melindungi kehormatan satu sama lain.

Islam mengajarkan umatnya untuk saling tidak membuka aib yang hanya akan membuat saudaranya terhina. Dan Allah SWT pun memberikan balasan kepada umatnya yang menutupi aib saudaranya sesama muslim, diantaranya Allah akan menutupi aibnya di dunia dan di akahirat kelak. Adapun hadits yang menjelaskan adalah, “Tidaklah seseorang menutupi aib orang lain di dunia, melainkan Allah akan menutupi aibnya di hari kiamat kelak.” (HR. Muslim)

 “Barang Siapa menutupi aib seorang muslim, maka Allah akan menutupi aib orang tersebut di dunia dan akhirat.” (HR. Ibnu Majah)

Sebaliknya siapa yang mengumbar aib saudaranya maka Allah akan membuka aib hingga aib rumah tangganya. “Barang siapa yang menutupi aib saudara muslimnya, Allah akan menutupi aibnya pada hari kiamat, dan barang siapa mengumbar aib saudara muslimnya, maka Allah akan mengumbar aibnya hingga terbukalah kejelekannya di dalam rumahnya.” (HR. Ibnu Majah).

Demikianlah wahai sahabat-sahabatku, semoga kita semua dikarunia hidayah untuk senantiasa taat kepada Gusti Allah SWT dan Kanjeng Nabi Muhammad SAW, dengan mematuhi perintah serta mengikuti keteladanannya, khususnya dalam memuliakan para ulama selaku pewarisnya, memuliakan saudara-saudara kita dengan saling mengasihi dan melindungi satu sama lain. Semoga, Allahumma aamiin.

 

Leave a comment

Filed under Uncategorized

Tasawuf di Kancah Pragmatisme dan Hedonisme Masyarakat

Tasawuf di Kancah Pragmatisme dan Hedonisme Masyarakat

Zaman Edan.

Amenangi zaman edan

Ewuh aya ing pambudi

Melu edan nora tahan

Yen tan melu anglakoni

Boya kaduman melik

Kaliren wekasanipun

Ndilalah karsa Allah

Begja-begjane kang lali

Luwih begja kang eling lan waspada.

 Artinya:

Mengalami hidup di zaman edan (gila)

Sungguh repot lagi serba sulit

Mau ikut edan tidak tahan (tidak bisa)

Jika tidak (mau) ikut menjalani (edan)

Tidak akan kebagian

Akhirnya kelaparan

Namun sudah (menjadi) ketetapan Allah

Sebesar apa pun keberuntungan orang yang lupa (diri karena edan)

Masih lebih beruntung (bahagia) orang yang ingat (Tuhan) dan waspada.

(Pujangga Ranggawarsita, Serat Kalatida bait ke 7).

 Bismillahirrahmanirrahim,

Shalawat dan salam bagi Junjungan Kanjeng Nabi Muhammad Saw, keluarga, sahabat dan pengikutnya.

Bagaimana kehidupan individu-individu dan komunitas masyarakat Indonesia sekarang, khususnya yang beragama Islam? Apakah benar kita masih patut disebut sebagai bangsa yang santun, ramah, sabar, rendah hati, hemat, menghargai idealisme, senang bergotongroyong membantu sesamanya dan menjaga tali silaturahmi? Yang islami, yang iklhas, tawadhu, tawakal dan seimbang dalam mengelola kepentingan dunia dan akhirat?

Marilah kita belajar dari kehidupan. Lihatlah gambaran keadaan di tempat-tempat umum, di mana individu-individu berinteraksi dalam suatu komunitas. Banyak gambaran kehidupan sehari-hari yang bisa dijadikan pelajaran. Ambil saja satu contoh yaitu jalanan. Perhatikan mulai dari baliho, poster dan pamflet narsis dari para elit baik tingkat kelurahan, kabupaten, propinsi sampai dengan nasional. Di pasang di mana-mana seenaknya, dipaku menyakiti serta merusak pepohonan, mengotori tembok dan jembatan, melintang sembarangan mengganggu jarak pandang pengemudi. Belum lagi isinya, pamer, membanggakan diri dan mengumbar seribu janji: ujub, riya dan mengobral amanah. Penyakit-penyakit hati yang ditakuti oleh umat Islam, yang merupakan umat mayoritas di Indonesia. Naudzubillah.

Selanjutnya amati perilaku pengemudi kendaraan bermotor dan suasana jalanannya.Trotoar untuk rakyat kecil pejalan kaki, tersita habis oleh keserakahan pemilik toko dan para pedagang, sehingga rakyat khususnya yang tak mampu harus berjalan ekstra hati-hati. Sementara banyak kendaraan yang main serobot mengambil jalan atau hak pengendara lainnya. Ada yang jalan seenaknya tak peduli menganggu pengendara di belakang dan sekitarnya, karena sambil menelpon atau memainkan telpon genggam. Ada pula yang melaju sembari membuang sampah di jalanan.

Bagaimana angkutan umum? Banyak yang berhenti mendadak seenaknya. Juga banyak yang ngetem, berhenti menunggu-menaikkan-menurunkan penumpang di tempat-tempat yang terpampang larangan berhenti. Namun demikian, hati-hati bila timbul masalah di perjalanan. Meskipun anda benar, tidak serta merta anda bisa menagih hak berlalulintas anda, salah-salah bisa berujung pada perkelahian yang berbuntut penyesalan. Naudzubillah.

Sungguh, ciri-ciri masyarakat Indonesia yang dulu diunggulkan yaitu sopan, sabar, tertib, penuh toleransi serta menghargai hak orang lain, gotongroyong, idealis, hemat dan sejumlah budi luhur lainnya, ternyata tanpa kita sadari telah berubah menjadi pragmatis, hedonis, individualis, materialis dan narsis.

Jika kita pelajari sejarah strategi pembangunan, awal pergeseran tata nilai budi luhur tersebut, dimulai pada awal Orde Baru tahun 1967, dengan digantinya secara dramatis filosofi pembangunan yang menganut faham ideologi secara ekstrim dan emosional, menjadi faham pragmatisme yang fokus pada hal-hal yang bisa membuahkan hasil nyata. Tak pelak lagi, pragmatisme telah menghasilkan perilaku “tujuan menghalalkan cara,” karena yang terpenting itu hasil dan bukan caranya. Sungguh bagai ciri-ciri “Zaman Edan”, yang tidak ikut edan tak kebagian.

Pragmatisme mengubah tata nilai idealis menjadi tata nilai yang materialis. Karena itu tidak mengherankan, bila dalam suatu pertemuan kekerabatan, tidak jarang topik pembicaraan banyak berkisar pada soal rumah, villa, kendaraan dan sejumlah masalah pesona dunia lainnya, yang di masa lalu dianggap tabu. Sungguh memprihatinkan.

Indonesia Sebagai Pasar Dengan Individu yang Konsumtif.

Namun demikian kita tidak perlu cepat kecil hati. Karena masyarakat yang pragmatis, hedonis, individualis, materialis dan narsis tersebut ternyata bukan hanya monopoli Indonesia saja, tapi juga masyarakat dunia pada umumnya dewasa ini.

Tanpa kita sadari, kita telah menjadi bagian dari Masyarakat Tata Dunia Baru yang dibentuk oleh Kapitalisme Global, baik dari Kapitalis Barat maupun Utara khususnya China, dengan Divisi-Divisi Perang Semestanya, terutama Divisi-Divisi Perang Asymetris atau non militer.

Beberapa tahun sebelum Indonesia menggelorakan faham pragmatisme, seorang filsuf Jerman , Herbert Marcuse, telah menerbitkan buku yang amat terkenal yang berjudul One Dimensional Man, Manusia Satu Dimensi, untuk menggambarkan perkembangan dari “kapitalisme lanjut” yang akan melancarkan perang dalam bentuk non militer (sekarang terkenal dengan sebutan perang asymetris), dengan mendendangkan musik jiwa yang dahsyat, yang menggalang alam pikiran manusia agar terpadu secara total pada dimensi rasionalitas yang memuja pesona dunia dengan kebutuhan-kebutuhan palsu yang menyihir.

Alunan musik jiwa itu ternyata segera terbukti menerjang bergulung-gulung berupa Gelombang Globalisasi, bak Perang Semesta, yaitu perang yang tergolong paling dahsyat, baik dalam bentuk perang asymetris (non militer) maupun Perang Militer yang konvensional (http:// bwiwoho.blogspot.co.id/2014/02/kapitalisme-global-kekuatan-perang.html).

Gambaran tentang masyarakat yang memuja pesona dunia bagi umat Islam, sesungguhnya bukan sesuatu yang baru, sebab jauh sebelumnya Kanjeng Nabi Muhammad Saw. sudah pernah memperingatkan akan datangnya hal itu.

Syahdan seusai Perang Badar yang heroik, Rasulullah meluruskan anggapan para sahabatnya yang menyatakan Perang Badar sebagai perang besar yang menghasilkan kemenangan dari segala kemenangan. Menurut beliau, kembali dari Perang Badar itu adalah kembali dari perang yang sekecil-kecilnya.”Kita ini kembali dari peperangan yang pal-ing kecil, menuju peperangan yang lebih besar, yaitu peperangan melawan hawa nafsu.” Seorang sahabat bertanya, perang apa yang paling utama. Baginda Rasul menjawab, “Engkau perangi hawa nafsumu.” Abu Daud meriwayatkan sabda beliau, “Bukanlah orang yang gagah berani itu lantaran dia cepat melompati musuhnya di dalam pertempuran, tetapi orang yang berani ialah yang bisa menahan dirinya dari kemarahan.”

Demikianlah, Perang Semesta yang menyertai Gelombang Globalisasi-II di akhir paruh abad 20, merupakan perang moderen terdahsyat, yang bukan lagi ditentukan oleh benteng-benteng batu nan kokoh dan meriam, melainkan perang dalam segala bentuk, khususnya perang budaya dan gaya hidup yang mampu menembus masuk ke ruang-ruang pribadi di dalam rumahtangga setiap penduduk dunia.

Demi memenangkan peperangannya, para Kapitalis Global, baik Barat maupun Utara yang pada umumnya non-muslim,  terus berusaha menggelorakan pesona gaya hidup beserta produk-produk konsumtifnya, dengan akibat di samping kerusakan tata nilai budi luhur dan  keagamaan, juga terkurasnya sumber daya alam dan kerusakan lingkungan hidup. Masyarakat luas hanya dijadikan sebagai pasar dengan individu-individunya yang konsumtif.

Sebagai masyarakat yang sedang mabok dalam alunan musik jiwa yang pragmatis, hedonis, individualis, materialis dan narsis, kini kita mulai berubah menjadi masyarakat yang sangat egois, yang memuja diri sendiri, yang menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuan, khususnya agar bisa “berkuasa dan kaya dalam tempo yang sesingkat-singkatnya dengan segala cara.” Hidup kita menjadi boros, keras lagi mementingkan diri sendiri. Menjadikan kesalehan hanya sekedar sebagai formalitas. Pedoman hidup halal dan thoyib menjadi kabur.

Pola hidup masyarakat sedang berkembang pesat ke pola hidup yang sangat konsumtif berlebihan, serba mewah dan gemerlap, sehingga menjadikan negeri kita senantiasa defisit dalam neraca pembiayan dan perdagangan luar negerinya. Kita telah menjadi bangsa yang tekor lantaran pola hidup kita. Cobalah perhatikan barang-barang kebutuhan kita sehari-hari, mulai dari bahan pangan yang sangat sederhana seperti garam sampai dengan peralatan elektronik yang canggih, sebagian besar berasal dari impor. Demikian pula penguasaan sumber daya alam, seperti minyak dan gas bumi, mineral dan emas, hutan dan kebun kelapa sawit bahkan air minum dalam kemasan, pabrik semen, rokok dan toko-toko kelontong serta bahan pokok di pedesaan, juga dikuasai oleh modal asing atau pengusaha besar yang bekerjasama dengan asing. Sementara rakyat di sekitarnya tetap miskin.

Karena kita tidak mungkin menghindar dari percaturan global, maka dengan memahami Perang Semesta Global, kita bisa menarik kesimpulan,  gempuran perang asymetris dengan alunan musik jiwanya masih akan terus berlangsung; sehingga agar kita bisa tetap eksis bertahan sebagai umat Islam sekaligus sebagai negara bangsa , kita harus membuat antisipasi yang memadai. Jika tidak, maka kita hanya akan menjadi kuli bagi bangsa-bangsa lain (dijajah dalam berbagai bentuk) atau kuli di negara lain (buruh di negara lain – Tenaga Kerja Indonesia di luar negeri).

Tasawuf & Revolusi Mental

Tata nilai kehidupan yang dibentuk oleh Kapitalisme Global tersebut, jika tidak segera dihentikan dan direvolusi, sudah pasti akan segera menghancurkan diri kita sendiri, bahkan meluluhlantakkan Indonesia sebagai negara bangsa. Hal itu sangat dimungkinkan sejalan dengan kekuatiran Prof.Dr.M.Sahari Besari, yang menyatakan sistem nilai serta struktur sosial masyarakat Indonesia ternyata tidak terkonstruksi untuk mengakomodasi, apalagi melawan, gelombang dahsyat globalisasi yang datang tanpa henti. (Teknologi di Nusantara, 40 Abad Hambatan Inovasi, M.Sahari Besari, Penerbit Salemba Teknika 2008, halaman 1).

Perubahan total atas tata nilai hedonis dan lain-lainnya tadi, apakah disebut sebagai Revolusi Mental, Revolusi Moral atau yang lain, sungguh sudah merupakan keharusan yang mendesak. Karena tata nilai hedonis dan sekutunya tersebut, pada hakikatnya adalah krisis moral yang akan  membawa bangsa Indonesia dan umat Islam masuk ke dalam pusaran krisis multidimensi yang besar, berat dan kompleks.

Demi menjadi bangsa dan umat yang besar, kuat, jaya dan makmur sejahtera di kancah globalisasi, baik secara individu maupun secara kolektif, kita harus mampu merevolusi mental dan moral yang merusak tadi, serta membangun kembali jatidirinya yang mulia, selaku insan kamil yang senantiasa jujur dan apa adanya, tahu diri, tahu menempatkan diri dan tahu membawa diri, yang hidup dengan prinsip-prinsip kehidupan yang diajarkan dalam tasawuf, yaitu BSM : “Bersih – Sederhana – Mengabdi”. Tasawuf tidak berarti harus hidup menyepi, tinggal di gunung, gua dan tempat-tempat sunyi dengan mengenakan pakaian amat sederhana dan makan seadanya. Tasawuf adalah jalan kehidupan yang dilandasi pada kebulatan hati pada Tuhan Yang Maha Kuasa, yang dilakukan dengan tekun ibadah dalam arti yang luas dan tidak cenderung pada kemewahan. Itulah BSM yang akan banyak dikupas dalam buku ini.

Dengan BSM maka segala macam aktivitas yang kita lakukan harus dimulai dengan kebersihan jiwa, kebersihan hati dan niat, dikembangkan dalam pola kehidupan serta perilaku kesederhanaan, dengan sasaran pengabdian kepada masyarakat banyak, kepada kemaslahatan umum dan bukan untuk kesenangan diri sendiri. Pola hidup BSM yang sudah pernah dicanangkan oleh Yayasan Amanah Umat, Jakarta dan dibacakan oleh Ketua Dewan Pembinanya Prof.K.H.Ali Yafie 12 Oktober 2005, harus dikembangkan menjadi moral ekonomi, politik, hukum dan terus dikembangkan ke sektor-sektor kehidupan lainnya terutama dalam kebudayaan.

Dalam budaya ekonomi, kita harus bisa mengobarkan perang terhadap sikap hidup yang konsumtif dan boros, dengan membudayakan sikap hidup hemat, sederhana dan menabung. Kita harus teguh memperjuangkan terwujudnya rahmatan lil alamin dengan menggalang etos dan budaya industri secara hakikat dalam makna yang luas yakni pola pikir, sikap hidup dan perilaku untuk mendayagunakan sumber daya alam, ketrampilan, peralatan dan ketekunan kerja dalam suatu mata rantai produksi yang luas, berkesinambungan serta mengutamakan nilai tambah, dan bukan dalam arti sempit sebagaimana kita kenal selama ini, yang dibatasi hanya semata-mata sebagai suatu proses pabrikasi.

Etos dan budaya industri serta semangat mengabdi pada rakyat dan komunitas, yang produktif berkesinambungan, mendayagunakan keunggulan lokal, yang melestarikan eko sistem dan melakukan konservasi itu harus dikembangkan dalam sistem kebersamaan dan kekeluargaan yang kita kenal sebagai gotongroyong, sehingga mampu menggetarkan setiap pori-pori kehidupan anak bangsa dan umat.

Dalam rangka Revolusi Mental dan Moral dengan prinsip-prinsip kehidupan yang sesuai dengan ajaran tasawuf, maka para pemimpin umat, pemimpin negara, pemimpin pemerintahan dengan segenap aparat birokrasi, penegak hukum, TNI – Polri serta para elite nasional tingkat pusat dan daerah harus terlebih dahulu merevolusi mental dan moralnya sendiri, serta menjadikan dirinya sebagai suri tauladan. Revolusi Mental dan Moral harus menggelinding bagaikan bola salju yang makin lama makin besar, dengan para pemimpin sebagai intinya. Revolusi Mental dan Moral harus dimulai dari pembersihan niat, perilaku dan cara berfikir serta moralitas pemimpin masyarakat atau pemegang kendali di sektor-sektor kehidupan masyarakat, termasuk di dalamnya para ulama dan umara.

Para tokoh masyarakat harus bangkit menghidupkan kembali budaya serta kearifan-kearifan lokal suku-suku bangsa di Nusantara yang hidup rukun, damai, penuh toleransi, gotongroyong dan unggul dalam seni dan ketrampilan. Para ulama khususnya ulama muslim harus bisa membumikan ajaran dan kesalehan formal umatnya dalam berbagai kegiatan dan perilaku amal saleh.

Apabila para pemimpin dan rakyat bisa sama-sama hidup BSM: bersih – sederhana dan mengabdi, niscaya solidaritas sosial dan saling kepercayaan yang kini kian menipis, bisa digalang kembali. Sejarah di berbagai belahan bumi telah mengajarkan, para pemimpin yang hebat adalah mereka yang senasib sepenanggungan dengan rakyat serta bisa menghayati penderitaan rakyatnya. Jangan sampai misalkan kepada umat, anak buah dan masyarakat diminta hidup hemat dan pesta sederhana, sementara pemimpinnya berpesta pora hidup bergelimang kemewahan. Jangan sampai bersemboyan sebagai abdi masyarakat, namun dalam praktek kesaharian kita minta dilayani dan memeras masyarakat. Sudah menjadi rahasia umum, di bidang usaha saja, boro-boro dilayani dengan baik, belum apa-apa, baru mengurus ijin usaha saja sudah dikenai berbagai pungutan. Padahal usahanya belum berjalan dan belum tentu memperoleh keuntungan, bahkan mungkin bisa bangkrut.

Para ulama dan pemimpin yang menghayati penderitaan rakyat dan visioner, akan dengan mudah membangkitkan harapan rakyat atas masa depan yang gemilang di kancah perang dan kompetisi global yang tak mungkin dihindari. Ulama dan pemimpin-pemimpin yang seperti itu, yang pola hidupnya bersih-sederhana-mengabdi, akan dengan mudah menggalang dukungan serta mengajak umat dan rakyatnya bersama-sama mengatasi “Zaman Edan”, mewujudkan masa depan nan gemilang.

Tetapi jangan lupa, Pemimpin itu sesungguhnya bukan hanya Presiden, Gubernur dan Bupati, melainkan kita semua, sebagaimana Sabda Kanjeng Nabi Muhammad Saw., “Semua kamu adalah pemimpin dan bertanggungjawab atas kepemimpinannya. Seorang imam adalah pemimpin dan bertanggungjawab atas rakyatnya. Seorang suami adalah pemimpin dalam keluarganya dan bertanggungjawab atas kepemimpinannya. Seorang isteri adalah pemimpin dan bertanggungjawab atas penggunaan harta suaminya. Seorang karyawan (juga pelayan) bertanggungjawab atas harta perusahaan (majikan). Seorang anak bertanggungjawab atas penggunaan harta ayahnya. (Hadis Bukhari dan Muslim).

Oleh sebab itu, marilah kita bangun kepedulian dan kebersamaan kita sebagai bangsa dengan jalan mempraktekkan pola hidup BSM. Pola hidup BSM akan membuat perekonomian Indonesia bergeser dari perekonomian yang konsumtif menjadi perekonomian yang produktif. Korupsi yang lebih berbahaya dan lebih jahat dibanding terorisme akan dapat diberantas. Ekonomi berbiaya tinggi akan dapat ditekan, sehingga daya saing In-donesia menjadi bagus. Devisa kita akan bisa banyak dihemat dan dihimpun. Lapangan kerja akan banyak tersedia karena sektor produksi tumbuh bagaikan pohon industri yang menjulang tinggi, berdahan dan berbuah lebat serta kokoh subur tertanam dalam alam Nusantara yang sesuai.

Pengangguran ditekan sekecil mungkin, sumber daya alam terkelola dengan baik dan tidak dieksploitasi secara sembarangan. Lingkungan hidup terjaga dan terpelihara, pertumbuhan sosial ekonomi akan merata ke segenap pelosok tanah air, kesenjangan sosial terjembatani, keadilan sosial dapat ditegakkan, keamanan dan ketertiban umum terpelihara baik lagi terkendali. Ekonomi rakyat, ekonomi umat dengan demikian pasti akan tumbuh dalam kehidupan masyarakat Nusantara Raya, negeri maritim di zamrud khatulistiwa, yang aman tenteram, adil makmur, sejahtera jaya sentosa. Allahumma aamiin. (Dari buku Bertasawuf di Zaman Edan, penerbit BukuRepublika, telp 081285304767)

 

Leave a comment

Filed under Uncategorized

Pembauran, Bahaya Dominasi Minoritas dan Kesenjangan Sosial Ekonomi : Catatan Kritis 25 th Bergulat dalam Pembauran.

Masalah kesenjangan sosial ekonomi di Indonesia, nampaknya dalam waktu dekat belum akan reda, apalagi teratasi. Jika pada tahun 1990-an indeks kesenjangan yang dikenal sebagai gini ratio itu ada di sekitar angka 0,3 sampai 0,33 kini semakin memburuk menjadi di atas 0,43. Pada akhir dasa warsa 1980-an sampai awal 1990-an, sentimen rasial akibat kesenjangan tersebut sangat terasa, sehingga berbagai upaya untuk mengatasinya gencar dilakukan oleh Pemerintah dan tokoh-tokoh masyarakat ada periode itu misalkan, Presiden Soeharto menggariskan kebijakan delapan jalur pemerataan, serta beberapa kali mengadakan pertemuan dengan para konglomerat keturunan Cina, yang kemudian dikenal sebagai pertemuan Tapos. Juga dilancarkan kebijakan untuk menggunakan sekitar 5% keuntungan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) buat membantu pengembangan usaha kecil dan koperasi, kebijakan bapak angkat dengan anak angkat di bidang usaha serta tambahan pungutan terhadap wajib pajak menengah atas untuk masyarakat tidak mampu.

Di kalangan masyarakat, Pimpinan Pusat Muhammadiyah yang dimotori oleh Wakil Ketua Umum, Lukman Harun, merangkul sejumlah tokoh Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM), media massa dan tokoh pembauran antara lain Junus Jahja, menyelenggarakan berbagai dialog dan kerjasama dengan pengusaha-pengusaha ke- turunan Cina, untuk bersama-sama mencari jalan keluar demi mewujudkan persatuan dan kehidupan berbangsa serta bernegara yang aman, tenteram, damai sejahtera.

Rangkaian pertemuan tersebut mengilhami sejumlah tokoh dari NU, Muhammadiyah, Al – Wasliyah, HMI, KAHMI, Al. Irsyad dan LSM untuk kemudian pada tanggal 9 April 1991 mendirikan Yayasan Haji Karim Oei Tjeng Hien, yang selanjutnya disingkat Yayasan Karim Oei atau YHKO, sebuah nama yang kental dengan nuansa Islam, Indonesia dan Cina sekaligus. Ini sejalan dengan alasan utama pendirian, yakni mewujudkan persatuan dan kesatuan bangsa melalui pembauran bisnis dan agama, terutama agama mayoritas masyarakat yaitu Islam. Para pendiri meyakini, memperkuat kehidupan sosial ekonomi masyarakat pribumi juga harus dilaksanakan secara sistemis dan keberpihakan yang nyata, kuat tapi sehat, karena pribumi yang kuat akan menjadi kunci utama bagi pembauran. Three in One (3 in 1), tiga dalam satu wadah, satu gerakan, satu perjuangan. Begitu kami sering menyebutnya.

Tak terasa, kini sudah 25 (dua puluh lima) tahun usia YHKO. Banyak dari 20 pendiri dan perintisnya yang kini sudah almarhum, uzur atau sepuh, dan hanya sekitar 3 sampai 7 orang saja yang masih aktif. Demikian pula para sahabat pendukung termasuk para pejabat tinggi negara.

Alhamdulillah selama 25 tahun, telah banyak kegiatan yang dilaksanakan dan lebih dari seribu lima ratus orang yang sudah kita bantu memeluk agama Islam. Pelbagai kegiatan yang terkait dengan 3 in 1 tadi, baik yang berskala lokal atau internal, nasional maupun internasional telah kami selenggarakan, secara sendiri atau pun bekerjasama dengan lembaga-lembaga lain. YHKO telah dan akan selalu memperjuangkan agar bisa menjadi rumah yang indah lagi nyaman bagi segenap anak bangsa, terutama bagi WNI keturunan Cina, dan lebih khusus agar menjadi muslimin dan muslimat yang taat, nasionalis sejati yang sukses dalam kehidupan sosial ekonominya.

ASING – ASENG MEREBAK KEMBALI.

Bersamaan dengan kelahiran YHKO, tata kehidupan dunia juga mengalami perubahan yang semakin mencolok. Semenjak akhir abad ke 20, sebagai dampak berpadunya kekuatan modal dengan kemajuan ilmu-teknologi yang super canggih, terjadi Gelombang Globalisasi yang mengumandangkan musik jiwa yang menggalang alam pikiran manusia, untuk terpadu secara total pada dimensi rasionalitas yang memuja pesona dunia melalui kebutuhan- kebutuhan palsu yang menyihir.

Dimensi rasionalitas yang ditata dalam tiga sistem utama yakni sistem pasar bebas, sistem sosial politik demokratis yang individualis dan sistem sosial budaya yang lepas bebas, sudah mulai kita rasakan dampaknya dengan berkembangnya sikap dan gaya hidup masyarakat yang hedonis, individualis, pragmatis, materialis dan narsis.

Musik jiwa dimensi rasionalitas dengan 3 (tiga) paket sistem utama tersebut, menyerbu secara dahsyat negara-negara bangsa, diantaranya menggempur secara langsung peradaban sesuatu bangsa termasuk Indonesia, terutama pada aspek nasionalisme, sosial budaya, kearifan lokal, adat dan tradisi, agama serta spiritualisme. Dalam hal nasionalisme, Gelombang Globalisasi berusaha melunturkan serta mendangkalkan nilai dan semangat nasionalisme sesuatu bangsa atau negara, mengobarkan separatisme dan disintegrasi, memecah-belah, menghancurkan militansi rakyat, menciptakan kesenjangan sosial ekonomi serta menyuburkan konflik horizontal dan vertikal.

Dalam aspek sosial budaya, Gelombang Globalisasi menggelora- kan sex bebas dan sex sejenis dengan apa yang sekarang kita kenal sebagai LGBT (Lesbian, Gay, Bisex dan Transexual), mengobarkan budaya hidup yang hedonistis-individualistis, pragamatis-mate- rialitis dan narsis, merusak dan menghancurkan bangunan tata nilai keluarga – kebersamaan – gotong-royong, merusak serta meng- hancurkan moral masyarakat, kebudayaan, adat, tradisi dan ke- arifan lokal,

Dalam aspek agama dan spiritualisme, Gelombang Globalisasi mendangkalkan dan menghancurkan nilai-nilai moral spiritual dan kesalehan yang hakiki, melibas tradisi dan kearifan lokal yang memperkuat spiritualisme dan agama, menciptakan dan mengembangkan aliran-aliran sesat, mengembangkan sekularisme dan secara khusus melakukan deislamisasi terhadap pemeluk agama terbesar dan militan ini.

Gempuran dahsyat tersebut kini sudah bisa kita lihat pada pola pikir, perilaku, gaya hidup dan bahkan peradaban masyarakat. Nampak jelas, masyarakat Indonesia kini sedang mabok dalam alunan musik jiwa yang pragmatis, hedonis, individualis, materialis dan narsis. Kita mulai berubah menjadi masyarakat yang sangat egois, yang memuja diri sendiri, yang menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuan, khususnya agar bisa “berkuasa dan kaya dalam tempo yang sesingkat-singkatnya dengan segala cara.” Hidup kita menjadi boros, keras lagi mementingkan diri sendiri. Menjadikan kesalehan hanya sekedar sebagai formalitas.

Pola hidup masyarakat sedang berkembang pesat ke pola hidup yang sangat konsumtif berlebihan, serba mewah dan gemerlap, sehingga menjadikan negeri kita senantiasa defisit dalam neraca pembiayan dan perdagangan luar negerinya. Kita telah menjadi bangsa yang tekor lantaran pola hidup kita. Cobalah perhatikan barang-barang kebutuhan kita sehari-hari, mulai dari bahan pangan yang sangat sederhana seperti garam sampai dengan peralatan elektronik yang canggih, sebagian besar berasal dari impor. Demikian pula penguasaan sumber daya alam, seperti minyak dan gas bumi, mineral dan emas, hutan dan kebun kelapa sawit bahkan air minum dalam kemasan, pabrik semen, rokok dan toko-toko kelontong dan bahan pokok, juga dikuasai oleh modal asing atau pengusaha besar yang bekerjasama dengan asing. Sementara rakyat di sekitarnya tetap miskin.

Tak pelak lagi, kesenjangan sosial ekonomi kembali merebak bahkan semakin melebar, sebagaimana ditunjukkan oleh indeks kesenjangan di atas tadi, yang mendekati tanda bahaya. Suhariyanto, Deputi Bidang Neraca dan Analisa Statistik BPS, dalam diskusi dengan para pemimpin redaksi media massa April 2014 menjelas- kan, angka ketimpangan sosial ekonomi Indonesia saat ini ter- cermin secara nyata dalam gini ratio Indonesia yang tidak membaik sejak 2011 silam, yang berada di level 0,41.

Rasio gini berada di angka 0 hingga 1, yang dalam pengertian awam mencerminkan seberapa besar porsi orang kaya menikmati kue ekonomi nasional. Semakin besar gini rasio, semakin besar tingkat ketimpangan.

Gini rasio hingga 0,3 dianggap masih aman, tetapi 0,4 hingga 0,6 sudah dianggap lampu kuning, sedangkan lebih dari 0,6 adalah rasio yang berbahaya, yang menunjukkan ketimpangan sosial ekonomi tak lagi bisa ditoleransi. Kondisi gini rasio yang masih relatif “hijau” terjadi hingga tahun 2010, di mana posisinya masih di angka 0,38. Di era Orde Baru, gini rasio berkisar 0,31-0,38.

Data BPS juga mengindikasikan kondisi ketimpangan sosial ekonomi yang makin melebar, jika dikonfrontasikan dengan laju pertumbuhan ekonomi yang mencapai 5%-6% dalam beberapa tahun terakhir. Kelompok kaya lebih mendapatkan manfaat dari pertumbuhan ekonomi tersebut. Pada 2008, 40% penduduk di kelompok pendapatan terendah masih menikmati PDB antara 21%- 23%. Namun porsi itu anjlok menjadi hanya 16% pada 2012.

Sebaliknya, 20% penduduk terkaya, yang pada 2008 sudah menikmati 40% produk domestik bruto atau kue ekonomi nasional, melonjak menjadi penikmat 49% kue ekonomi nasional pada 2012.

Ini terjadi, karena dari rata-rata laju pertumbuhan ekonomi 6%, penduduk miskin hanya menikmati kenaikan pendapatan maksimal 2% per tahun. Sebaliknya penduduk terkaya menikmati kenaikan pendapatan hingga 8%. Artinya kenaikan pendapatan penduduk yang kaya melonjak signifikan, sedangkan penduduk miskin meski pendapatannya naik tetapi tidak besar. (http://finansial.bisnis.com/ read/20140419/9/220506/kesenjangan-kaya-miskin-vs-indeks-kebahagiaan-biar- timpang-asal-bahagia).  Kesenjangan tersebut semakin mengkuatirkan jika kita menyimak laporan World Bank (Harian Kompas 8 Desember 2015) yang menyatakan 1% keluarga terkaya di Indonesia menguasai 50,3% kekayaan nasional. Ini berarti  sebagian besar yaitu 99% keluarga Indonesia berebut kue nasional yang 49.7% . (catatan tambahan per Januari 2017).

Ironisnya, di negeri kita tercinta Indonesia ini, yang justru memprihatinkan, kelompok-kelompok yang paling menikmati sumber daya alam dan kue pembangunan, adalah kelompok yang oleh berbagai media massa terutama media sosial yang sangat luas jaringan dan jangkauannya, dicirikan dan disebut Asing–Aseng, yang tiada lain adalah orang-orang asing dan WNI keturunan Cina, yang secara kebetulan dalam keyakinan beragama juga banyak berbeda dengan mayoritas penduduk.

Jadi berbeda dengan kaum minoritas di banyak negara lain yang hanya mengandung satu unsur minoritas misalnya suku/ras saja atau hanya agama saja, di Indonesia tidak demikian halnya. Mereka mengumpulkan dua unsur minoritas sekaligus yaitu suku/ras dan agama, sehingga dengan demikian potensi kerawanan sosialnya jauh lebih besar.

Posisi strategis Asing – Aseng khususnya WNI keturunan Cina yang non muslim pada kegiatan ekonomi, dalam praktek kehidupan adalah merupakan kekuasaan potensial dan aktual, yang selanjutnya mudah merambah ke penguasaan sumber daya alam, penguasaan media massa kemudian ke politik dan pemerintahan dan lain sebagainya, yang apabila tidak diatasi secara sistemis strategis, maka akan menjadi gurita kekuasaan yang mendominasi. Padahal dominasi hanya akan melahirkan pertentangan. Cepat atau lambat, dominasi akan membangkitkan perlawanan.

Demi ikut mewujudkan persatuan dan keharmonisan nasional antara lain dengan mengantisipasi dan mengatasi kesenjangan sosial ekonomi yang menajam, serta dominasi kekuasaan yang berbasis ekonomi yang diwarnai dengan perbedaan SARA (Suku Agama Ras dan Antar Golongan) tersebutlah maka Yayasan Haji Karim Oei (YHKO) pada tahun 1991 didirikan.

Dalam berbagai kesempatan, para pendiri YHKO disamping berusaha keras mewujudkan pembauran, juga berkeyakinan dan oleh sebab itu selalu menyatakan bahwa Indonesia harus memiliki pribumi yang kuat, karena pribumi yang kuat merupakan kunci pembauran. Untuk itu pula Pemerintah harus memiliki serta melaksanakan kebijakan strategis yang menyeluruh dan terpadu, bukan hanya bersifat tambal sulam, emosional, dan manipulatif, serta tidak pernah menyentuh persoalan utama yakni penguasaan modal yang menyebabkan peta kompetisi menjadi sangat tidak seimbang. Yang juga tidak kalah penting, adalah secara sungguh- sungguh tidak pandang bulu, memberantas KKN (Korupsi – Kolusi – Nepotisme).

KEJAYAAN & KEHANCURAN PERADABAN.

Para pendiri Yayasan Karim Oei memahami sejarah panjang dunia termasuk Indonesia, yang mengajarkan adanya siklus kejajayaan dan kehancuran nan silih berganti tanpa henti akibat bencana alam, perang dengan negara lain, perang saudara ataupun karena pergolakan-pergolakan di dalam negara bahkan juga akibat kemerosotan peradabannya. Demikian pula sejarah Nusantara.

Sejumlah peninggalan sejarah di Indonesia membuktikan pernah berlangsungnya peradaban tinggi misalkan sejumlah candi di pegunungan tinggi Dieng, candi Borobudur, puluhan candi di Prambanan dan puing-puing rerentuhan Keraton Boko, semuanya di Jawa Tengah. Sementara itu sejumlah candi serta bukti peninggalan peradaban yang sudah maju lainnya, juga terdapat di berbagai pelosok Nusantara.

Di bidang pelayaran dan perdagangan, beberapa sumber tulisan dari Barat sebagaimana dikutip Agus Sunyoto dalam Atlas Walisongo, Pustaka IIMaN, Trans Pustaka dan LTN PBNU, 2012, menyatakan pada tahun 70-an Masehi, cengkih dari kepulauan Maluku sudah diperdagangkan di Roma, dan semenjak abad ketiga Masehi, perahu-perahu dari kepulauan Nusantara telah menyinggahi anak benua India serta pantai timur Afrika, dan sebagian di antaranya bermigrasi ke Madagaskar.

Bukan hanya dari para pencatat perjalanan orang-orang Barat saja, kisah pelayaran tadi juga bisa ditemukan di relief Candi Borobudur. Pada tahun 2003, pengrajin kapal dari Madura telah membuktikan kehandalan perahu di relief candi tersebut, dengan membuat tiruannya, sekaligus napaktilas pelayarannya. Kapal yang dinamai “Samudraraksa” ini berlayar ke Afrika dengan selamat dan kini disimpan di Musium Kapal Samudraraksa di Borobudur. (http:// http://www.tempo.co/read/news/2003/07/03/05521575/Ekspedisi-Kapal-Borobudur- Dapat -Memberdayakan – Budaya dan http://setuparch.blogspot.com/2013/09/ kapal – kapal-sriwijaya.html ). Replika berikutnya diberi nama “Spirit of Majapahit”, diluncurkan menuju Jepang dari dermaga Marina, Jakarta pada 4 Juli 2010. (http://www.jpnn.com/index.php?mib=berita.detail&id=67324).

Pencatat sejarah China anak buah Fa Hsien di akhir abad III dan awal abad IV Masehi menerangkan pula bahwa pelaut-pelaut Nusantara memiliki kapal-kapal besar yang panjangnya sekitar 200 kaki (65 meter), tinggi 20 – 30 kaki (7 – 10 meter) dan mampu dimuati 600 – 700 orang ditambah muatan seberat 10.000 hou. Sementara pada masa itu panjang jung China tidak sampai 100 kaki (30 meter) dengan tinggi kurang dari 10 – 20 kaki (3 – 7 meter). Catatan yang ditulis dalam Tu Kiu Kie ini telah dikutip oleh banyak ahli yang mempelajari sejarah agama Buddha maupun Asia Tenggara di masa lalu.

Ahli Javanologi Belanda, Van Hien tahun 1920 dalam De Javansche Geestenwereld, yang disadur secara bebas oleh Capt. R.P. Suyono dalam Dunia Mistik Orang Jawa, penerbit LkiS Yogyakarta 2007 halaman 12, menerangkan Shi Fa Hian (Fa Hsien) dalam perjalanannya pulang ke China diserang badai dan terdampar di pantai Jawa. Ia berdiam lima bulan di Jawa, menunggu selesainya pembuatan sebuah kapal besar yang sama dengan kapalnya yang rusak dihantam badai (juga Atlas Walisongo halaman 20).

Berbagai catatan sejarah menyatakan, pada sekitar abad VII – XII Masehi, di pulau Sumatera juga berlangsung pemerintahan Kerajaan Sriwijaya yang kekuasaannya meliputi Asia Tenggara termasuk pulau Jawa. Puncak kejayaan Sriwijaya terjadi pada abad VIII. Sejarawan S.Q. Fatimi menyebutkan bahwa pada tahun 100 Hijriyah (718 M), seorang maharaja Sriwijaya (diperkirakan adalah Sri Indrawarman) mengirimkan sepucuk surat kepada Khalifah Umar bin Abdul Aziz dari Kekhalifahan Umayyah, yang berisi permintaan kepada khalifah untuk mengirimkan ulama yangdapat menjelaskan ajaran dan hukum Islam kepadanya.

Surat itu dikutip dalam Al-‘Iqd Al-Farid karya Ibnu Abdu Rabbih (sastrawan Kordoba, Spanyol), dan dengan redaksi sedikit berbeda dalam Al-Nujum Az-Zahirah fi Muluk Misr wa Al-Qahirah karya Ibnu Tagribirdi (sastrawan Kairo, Mesir” Dari Raja sekalian para raja yang juga adalah keturunan ribuan raja, yang isterinya pun adalah cucu dari ribuan raja, yang kebun binatangnya dipenuhi ribuan gajah, yang wilayah kekuasaannya terdiri dari dua sungai yang mengairi tanaman lidah buaya, rempah wangi, pala, dan jeruk nipis, yang aroma harumnya menyebar hingga 12 mil. Kepada Raja Arab yang tidak menyembah tuhan-tuhan lain selain Allah. Aku telah mengirimkan kepadamu bingkisan yang tak seberapa sebagai tanda persahabatan. Kuharap engkau sudi mengutus seseorang untuk menjelaskan ajaran Islam dan segala hukum-hukumnya kepadaku.” (Surat Maharaja Sriwijaya kepada Khalifah Umar bin Abdul Aziz. http://id.wikipedia.org/wiki/Sriwijaya, 1 Mei 2015 pukul 18.45 ).

Bukti tentang peradaban yang cukup maju lainnya ditemukan pula melalui berbagai prasasti dan kondisi lapangan, yang men- jelaskan mengenai setidaknya ada lima sistem irigasi yang tertata baik, yang dibangun pada rentang periode abad 9 sampai 14 di lembah Sungai Brantas, Jawa Timur (1000 Tahun Nusantara, Kompas 2000, hal 128).

Pun demikian kondisi pada sekitar abad XV – XVI, tatkala para ulama gencar berdakwah ke Nusantara. Pamor Kerajaan Nusantara Majapahit yang beribukota di Trowulan, Jawa Timur, memang sedang memudar, bahkan kekuasaannya mulai runtuh. Meskipun demikian gambaran kebesaran peradabannya dicatat oleh pengembara Portugis tahun 1512 – 1515 Tome Pires dalam karyanya yang sangat terkenal dan sering menjadi sumber rujukan sejarah Asia Tenggara, Suma Oriental (dalam Pemugaran Persada Sejarah Leluhur Majapahit oleh Prof. Dr. Slamet Mulyana, Inti Idayu Press, Jakarta 1983 halaman 282, 283 dan seterusnya). Menurut Tome Pires, Sultan Malaka yang bergelar Raja Muzaffar Syah (1450 – 1458) serta puteranya yaitu Raja Mansyur Syah (1458 – 1477), sebagai raja bawahan Jawa, memiliki hubungan yang baik dengan Jawa. Bahkan untuk keperluan menunaikan ibadah haji ke Mekah, Raja Mansyur Syah memesan jung besar dari Jawa.

Demikianlah, dari sekilas gambaran tadi kita bisa mempelajari siklus kejajayaan dan kehancuran negeri kita di masa lampau sampai menjadi negara modern Indonesia sekarang ini, yang sudah barang tentu memakan korban yang tidak sedikit. Kita tidak ingin kesenjangan sosial ekonomi yang disertai unsur-unsur SARA menerpa Indonesia yang sekarang, yang sedang mengalami ledakan penduduk menjadi sekitar 250 juta jiwa ini. Harus kita syukuri, telah banyak kemajuan dan hal-hal postif yang kita capai. Namun begitu masih banyak lagi tantangan dan ancaman di depan mata yang kita hadapi, yang semoga dengan ridho dan berkah Tuhan Yang Maha Kuasa, akan kita atasi dengan kerja keras, cepat dan tepat.

Kenyataan yang menuntut antisipasi penanganan yang cepat dan tepat tersebut, mendorong Rapat Badan Pembina dan Pengurus Karim Oei akhir 2015 yang lalu, untuk meningkatkan sumbangsihnya dengan antara lain menerbitkan buku, yang kemudian kami beri judul : “Yayasan H Karim Oei & Masjid Lautze : RUMAH BAGI MUSLIM, INDONESIA dan KETURUNAN TIONGHOA.”, sekaligus mensyukuri ulang tahun YHKO yang ke 25 (duapuluh lima), pada tanggal 9 April 2016.  (Pengantar buku:  Yayasan H.Karim Oei & Masjid Lautze : RUMAH BAGI MUSLIM, INDONESIA & KETURUNAN TIONGHOA, penerbit Teplok Prees, telp 081382896969. Yayasan Karim Oei : 0216257413 dan 085717649127)

 

 

Leave a comment

Filed under Uncategorized

Tasawuf di Zaman Edan : Kisah Perjalanan Mencari Hakikat

KISAH PERJALANAN MENCARI HAKIKAT

Oleh Parni Hadi*

Buku ini berjudul “Bertasawuf  Di Zaman Edan (Era Globalisasi)”.  Buku ini mencerminkan penulisnya adalah seorang pelaku dan pencari kebenaran dan  kesejatian. Kebenaran (yang ) Sejati, hakikat Tuhan, Allah Swt.  Ini adalah sebuah kisah dari seorang pencari  substansi sekaligus  inti kebenaran.  Kebenaran Tertinggi. Kebenaran Mutlak Tanpa Batas  (A Truth Seeker’s Story).

Bentuk, cara dan gaya penyajian kisah pencarian ini diwarnai oleh latar belakang budaya, agama dan profesi sang penulis, yakni Bambang Wiwoho,  saya biasa memanggilnya Mas Wie, seorang Jawa, beragama Islam dan berprofesi sebagai wartawan.

Namanya sudah menunjukkan ia seorang Jawa. Bambang artinya satria yang hidup, dibesarkan dan tumbuh berkembang  di pertapaan, padepokan atau  perguruan bersama  sang pertapa dan sang guru sekaligus. Wiwoho berarti dimuliakan, dihormati.

Tasawuf adalah sebuah ajaran cabang ilmu dalam agama Islam untuk mengenal dan mendekatkan diri kepada Allah. Sebuah ilmu, cara dan sekaligus jalan menuju Kebenaran Mutlak dengan laku-laku tertentu, yang  berintikan dan dimulai dengan pengenalan diri sendiri melalui  pengendalian nafsu, penataan batin dan berakhir pada pasrah kepada Allah.

Sebagai orang Jawa, yang  budayanya terkenal suka meramu segala macam ilmu dan laku menjadi satu padu, Mas Wie membingkai keislamannya dengan nama Islam Jawa. Ada yang menyebut “Islam rasa Jawa” dan atau  “Jawa rasa Islam”. Ada juga:  “ Wadah Islam rasa Jawa” dan atau “Wadah Jawa rasa Islam”.  Wadah  dan isi telah menyatu. Syariat dan hakikat telah saling mengikat. Keduanya adalah tajali (pengejawantahan) Sang Maha Hakikat.

Sebagai wartawan, Mas Wie menulis kisah perjalanannya secara sistematis, runtut, runut, kohesif, komprehensif, holistik  dengan diksi yang  gampang, jelas dan lugas. Gaya penyajiannya enak dan perlu (dibaca, lebih bagus lagi dengan membeli dulu buku ini). Konsisten dari judul sampai konklusi menuju kepada tujuan buku ini:  dapat dipahami (dengan mudah) oleh pembaca.

Seorang wartawan adalah sosok yang senang mempertanyakan segala sesuatu. “A questioning mind” atau Bathin Yang Selalu Bertanya. Tidak gampang percaya begitu saja pada segala hal, selalu resah, gelisah, ingin membuktikannya sendiri. Minimal,  ingin melakukan klarifikasi, penjelasan, dari ahlinya. Di sini sebagai pelaku, pencari dan pejalan (traveller) menuju hakikat, Mas Wie perlu pemandu yang bertindak sebagai guru.

Tanda Bakti untuk Guru

Alhamdulillah, Allah mempertemukan Mas Wie dengan Sang Guru, yakni Profesor  Kyai Haji Ali Yafie, seorang tokoh Islam nasional berasal dari Sulawesi Selatan. Karena itu, Mas Wie lebih suka memanggilnya Puang Ali Yafie, yang kebetulan tahun ini genap berusia 93 tahun. Tampilnya sang Guru yang non Jawa menunjukkan bahwa hakikat itu bersifat universal, tidak mengenal SARA (suku,   agama (aliran), Ras dan Antargolongan), istilah top jaman Pak (Presiden) Harto (Suharto) serta kebangsaan, ideologi,  apalagi partai politik.

Kyai Ali Yafie memenuhi syarat  untuk menjadi guru Mas Wie sesuai ajaran Jawa yang termaktub dalam  “Serat Wulangreh”  buku  karya Kanjeng Sinuhun Pakubuwono IV, raja Surakarta. Sang pujangga-raja atau raja-pujangga dalam Tembang Dhandhanggla menasehatkan:  jika mencari guru pilihlah manusia yang nyata, yang bagus martabatnya, tahu hukum (syariah), yang beribadah dan “wirangi” (wara),  syukur petapa, yang sudah selesai dengan dirinya sendiri, tidak berpikir lagi tentang pemberian orang lain.

Ditilik  dari usia, senioritas dengan aneka ragam pengalaman hidupnya , Kyai Ali Yafie sangat pantas menyandang gelar “mursyid” (guru tasawuf). Laku hidup Pak Kyai diperas, ringkas  dan bernas,  oleh Mas Wie, sang murid, menjadi BSM (Bersih, Sederhana dan Mengabdi).

Laku sangat penting dalam menempuh jalan (tarekat)  menuju hakikat dan makrifat  seperti ajaran Sri Mangku Negoro IV, raja Puri Mangkunegaran, Surakarta dalam karyanya “Serat Wedhatama”. Ajaran itu menyebut “ngelmu  iku kalakone kanthi  laku” (ilmu itu mewujudnya dengan laku).

BSM  sebagai laku menjiwai, menjelujuri kisah perjalanan sang murid dalam buku ini dari awal sampai akhir.  Ada yang berpendapat, mursyid dan murid adalah satu: ya mursyid, sekaligus ya murid, saling mengisi, saling melengkapi atau “tumbu oleh tutup” dalam ungkapan Jawa. Jadi klop.

Contoh menyatunya guru dan murid itu mengejawantah dalam tokoh Kresna dan Arjuna dalam kisah  Perang Bharatayudha, lakon wayang kulit Jawa.  Sang guru dan murid selalu sejalan seperti permukaan dan punggung daun sirih,  jika digigit sama rasanya (Pindha suruh,lumah lan kurebe, yen ginigit padha rasane).

Kebetulan wartawan dan guru adalah pewaris tugas kenabian, yakni menyampaikan kabar gembira dan peringatan seperti tersurat dalam Al Khafi, QS 18:56 (lihat “Jurnalisme Profetik”)  demi terwujudnya kesejahteraan  untuk seluruh alam semesta beserta isinya. Orang Jawa bilang:  “Memayu hayuning bawono”.  Semuanya diniatkan sebagai ibadah kepada Al Khalik.

Sebagai teman Mas Wie, saya ketika dimita untuk memberi kata sambutan buku ini menyarankan  agar ada kata-kata di sampul depan : “Tanda bhakti untuk Kyai Haji Ali Yafie”. Sebagai hadiah ulang tahun beliau  yang ke 93. Semoga beliau panjang usia, terus bermakna dan berbahagia. Semoga Puang diberi kesehatan dan kekuatan untuk terus menjadi obor, penyuluh, penerang perjalanan bangsa Indonesia dalam menempuh Perang Bharatayudha dalam pusaran globalisasi.

Kanjeng Nabi  Muhammad, Rasulullah Saw, telah bersabda bahwa musuh terbesar kita adalah hawa nafsu kita sendiri.  Setiap manusia pada hakikatnya setiap saat melakukan perang Bharatayudha, melawan hawa nafsunya sendiri. BSM adalah pedoman hidup yang perlu difahami dan diamalkan oleh setiap orang, terutama oleh para pemimpin negeri ini.

Islam mengajarkan pengendalian nafsu, bukan penghilangan nafsu,  karena nafsu adalah perangkat hidup sebagai sunatullah.  Berkat adanya nafsu, kehidupan dapat berkembang: maju atau rusak. Kata kuncinya  adalah pengendalian berdasar ajaran budaya dan agama sesuai tuntunan Kitab Suci yang diturunkan Allah kepada para rasul, utusannya dan orang-orang yang  dipilih-Nya .

BSM perlu menjadi pedoman setiap insan, terutama para pemimpin,  dalam mengarungi “Zaman Edan”, mengutip Pujangga Ronggowarsito, dalam era globalisasi ini.  Ini gampang diomongkan, tapi sulit diamalkan. Banyak orang mendapat gelar “Jarkoni”, bisa berujar, tidak bisa melakoni. Sederet gelar akademis dan keagamaan tidak menjamin dan mencerminkan kualitas intelektualitas dan religiusitas seseorang.

Era globalisasi yang dipicu oleh kapitalisme mempengaruhi sikap hidup hampir semua orang sejagat menjadi: individualis, egoistis, egosentris, “sopo siro, sopo ingsun”, tidak satunya kata dan perbuatan, semua memperturutkan hawa nafsunya masing-masing. Pengendalian nafsu terkait erat dengan disiplin diri yang ketat. Berlatih “sepi ing pamrih, rame ing gawe”. Tetap bekerja keras selama hidup di dunia ini, tapi niatnya semata sebagai ibadah. “Topo ngrame” (bertapa di tempat ramai).

Perang, fisik dan bathin, terbuka atau tertutup, pada galibnya adalah “purgatorio” (cleansing atau penyucian) dari unsur-unsur kebathilan menuju penyempurnaan.  Ini akan terus terjadi berulang kali  di sepanjang jaman dan tempat sesuai kodrat Tuhan sebagai Yang Maha Kuasa dan Maha Sempurna.

Seorang teman,  dosen tasawuf, baru-baru ini bilang:  Hanya sufi (pengamal Tasawuf)  yang lurus  dapat memandu menyelamatkan perjalanan bangsa ini dan seluruh umat manusia menuju kebahagiaan melewati jalan Cinta untuk semua (rahmatan lil alamin).

Prof. Dr. KH Ali Yafie adalah suri teladan untuk banyak orang dalam melakoni BSM. Beliau konsisten suci dalam pikiran, perkataan dan perbuatan (butir terakhir Dasadharma) dalam kehidupan sehari-hari.  Mas Wie, selamat atas terbitnya buku ini dan selamat menempuh perjalanan lebih lanjut! Tabik Puang Ali Yafie! (Pengantar untuk buku Bertasawuf di Zaman Edan, penerbit BukuRepublika, telp 081285304767)

Jakarta, 2 November, 2016.

*Wartawan, inisiator/pendiri/ketua Dewan Pembina Dompet Dhufa dan penulis “Jurnalisme Profetik”.

Leave a comment

Filed under Uncategorized

Pembauran Keturunan Tionghoa Relevan & Mendesak Untuk Ditingkatkan: Prof.Dr.Din Syamsuddin

Masjid Lautze, Pembauran Sejati.
Sebenarnya pertautan antara Islam dan Tionghoa bukanlah hal asing dan baru, namun keduanya telah terjalin dalam temali sejarah dan budaya yang panjang dan dalam. Hanya saja di Indonesia, hubungan antara umat Islam dan Tionghoa seolah- olah berjarak jauh dan senjang. Pandangan umum umat Islam, etnik Tionghoa adalah “orang lain”, pendatang, suka hidup eksklusif, dan bahkan harus dijauhi kalau tidak dibenci. Begitu pula sebaliknya, bagi masyarakat keturunan Tionghoa, orang-orang Islam (termasuk mereka yang dulu disebut pri- bumi) itu adalah bodoh, pemalas, tertinggal, sampai kepada sebagian mereka mudah dan suka disuap.

Mungkin penilaian tadi bisa dianggap berlebihan dan mendramatisasi, tapi agaknya relatif masih ada, walau sekarang berbeda dengan dulu.

Hubungan Islam dengan Tionghoa (Negeri China) sudah terjalin sejak masa Khalifah Kedua Umar bin Khattab, yang berhasil mengembangkan Islam ke luar Jazirah Arabia, dari Persia di sebelah Timur hingga ke Mesir di sebelah Barat. Pada masa setelah Khulafaur Rasyidin, yaitu masa Dinasti Umawiyah dan Dinasti Abbasiyah, kawasan (Dunia) Islam jauh lebih luas dan tentu mendorong kontak Islam dengan kawasan dan peradaban-peradaban lain menjadi intensif. Walau Negeri China tidak termasuk wilayah perluasan dakwah Islam, tapi hubungan budaya antara Dunia Islam dan Negeri China waktu itu berlangsung harmonis.

Pada sisi lain, Negeri China, sebagai salah satu pusat peradaban dunia sebelum Islam, telah menjadi pelaku utama perdagangan internasional yang menciptakan jalur sutera. Jalur perdagangan sutera ini melewati negeri-negeri Muslim, baik pada jalur Utara seperti Iran dan Negeri-negeri Asia Tengah, maupun pada jalur Selatan seperti India hingga Mekkah melalui Laut Merah.

Perjalanan para sahabat Nabi Muhammad SAW ke Negeri China juga terjadi, antara lain ditandai oleh adanya jejak Saad bin Waqash (seorang panglima pasukan Islam pada masa Khalifah Umar bin Khattab) di sebuah bukit di Guangzhou, berupa makam dan masjid. Kontak seperti itu sebenarnya sudah terjadi sebelum era Islam, dan Negeri China dianggap sebagai negeri maju. Mungkin hal ini yang mendorong adanya ungkapan (bukan hadits Nabi) yang berbunyi “uthlubul ‘ilma walaw bis Shin”, atau tuntutlah ilmu walau ke Negeri China.

Khusus dengan Indonesia (atau Nusantara), hubungan Negeri China dengan Indonesia (sebagai negeri Muslim) bahkan signifikan. Terdapat teori bahwa Islam masuk ke Nusantara, selain dari Gujarat/ India dan Jazirah Arabia, juga dari Negeri China. Bahkan, tidak banyak yang mengetahui, bahwa dari Sembilan Wali yang menyiarkan Islam di Tanah Jawa, ada yang berdarah Tionghoa (Sunan Ampel). Hubungan itu semakin kuat dengan kedatangan Laksamana Cheng Ho, Panglima Angkatan Laut Dinasti Ming, yang beragama Islam dan bergelar haji, ke Nusantara (mendarat antara lain di Sunda Kelapa, Semarang, dan Gresik).

Menurut cerita, sebelum berlayar dengan rombongannya Laksamana Cheng Ho berpamitan dulu kepada seorang imam di sebuah masjid tua (sudah berusia seribu tahun) di Xian, Negeri China. Di kota Xian, dan banyak kota lain di Negeri China, bahkan Beijing, terdapat banyak restoran halal yang dikelola oleh orang-orang Tionghoa Muslim. Selain juga, di Negeri China ada provinsi berpenduduk mayoritas Muslim (etnik Uighur), dan Provinsi Otonomi Khusus seperti Ningxia

Alinea di atas hanyalah sketsa sejarah yang menggambarkan bahwa Islam dan Negeri China sudah dekat sejak dahulu kala. Dengan latar semacam inilah, kita mudah memahami proses masuk Islam tokoh keturunan Tionghoa di Indonesia sebagai hal biasa, lumrah, dan sudah sering terjadi sebelumnya, karena sesungguhnya Islam bukanlah agama asing bagi orang-orang Tionghoa. Begitu pula kita memahami masuk Islamnya Haji Karim Oei sebagai kelanjutan dari proses lama dan hubungan dekat Islam dengan Tionghoa itu sendiri.

Abdul Karim Oei, bernama Tionghoa Oey Tjeng Him (1005-1988), yang mendapat hidayah masuk Islam tahun 1929 pada usia 20 tahun, tentu bukan keturunan Tionghoa pertama di Indonesia yang memeluk Islam. Sudah banyak keturunan Tionghoa sebelumnya yang masuk Islam. Tentu Sunan Ampel, satu dari Wali Songo, yang berasal dari Negeri China, memiliki pengikut-pengikut dari keturunan Tionghoa. Begitu pula, pengikut dan pengagum Cheng Ho di Nusantara dari keturunan Tionghoa banyak yang memeluk Islam.

Namun, keberislaman Haji Karim Oei mempunyai arti tersendiri. Hal ini disebabkan karena beliau adalah seorang pengusaha besar, memiliki pengaruh di kalangan warga Tionghoa, dan juga mempunyai hubungan akrab dengan Presiden Soekarno dan ulama terkemuka Buya Hamka. Hubungan dengan kedua tokoh tersebut, mungkin karena Haji Karim Oei pernah menjadi Konsul Muhammadiyah di Bengkulu, sesudah dijabat oleh Ustadz Hasan Din, mertua Bung Karno di Bengkulu, di mana Soekarno muda pernah juga menjadi Ketua Bidang Pengajaran Muhammadiyah ketika “diungsikan” di sana. Begitu pula hubungannya dengan Buya Hamka adalah karena ayahanda Buya Hamka, Prof. Karim Amrullah, adalah Konsul Muhammadiyah di Sumatera Tengah. Yang jelas, posisi Haji Karim Oei di organisasi Islam seperti itu menambah derajat hubungan umat Islam (khususnya warga Muhammadiyah) dengan warga keturunan Tionghoa. Mereka, warga keturunan Tionghoa itu, dianggap sebagai saudara sesama manusia dan sebangsa, dan apabila mereka masuk Islam maka dianggap juga sebagai saudara seiman.

Keberadaan Haji Karim Oei sebagai Muslim Tionghoa kemudian mendapat dukungan dari para tokoh Islam, seperti Lukman Harun dari Muhammadiyah, atau Prof. KH. Ali Yafi dari NU, Yunan Helmi Nasition dari Al-Washliyah, atau H.B. Wiwoho, seorang pengusaha/ aktifis Muslim. Hubungan antara Muslim Tionghoa dengan ormas- ormas Islam sangat dekat. Hal inilah yang ikut mendorong lahirnya Yayasan Karim Oei yang bertujuan membina para warga Tionghoa yang masuk Islam dan mengembangkan dakwah Islam di kalangan warga Tionghoa. Salah satu karya penting yayasan ini adalah men-dirikan Masjid “Karim Oei” Lautze di Jalan Lautze, Jakarta Pusat.

Masjid Lautze yang bisa dikatakan berada di lingkungan “China Town” (walau di Indonesia sebenarnya tidak ada China Town karena warga Tionghoa tinggal menyebar di kalangan masyarakat non Tionghoa di hampir semua kota), memang berhasil menarik perhatian warga keturunan Tionghoa. Suasana demikian telah ikut mendorong cukup banyak tokoh keturunan Tionghoa memeluk Islam, seperti pengusaha Junus Jahja pada 1979, Yusuf Hamka pada 1981, atau Max Muljadi Supangkat pada 1982. Kendati saya dengar bahwa yang masuk Islam di Masjid Lautze terakhir ini sekitar tiga orang pada setiap Jum’at, namun peran Masjid Lautze sebagai Pusat Islam (Islamic Center) sangat penting. Peran itu tidak hanya di Ibu Kota tapi sudah merambah ke kota-kota lain seperti Bandung.

Tentu, harus dikatakan, bahwa dakwah Islam di kalangan warga keturunan Tionghoa di Indonesia tidak hanya dilakukan oleh Yayasan Karim Oei, tapi juga oleh organisasi-organisasi lain, terutama Persatuan Islam Tionghoa Indonesia (PITI, dan yayasan yang didirikan oleh pengusaha keturunan Tionghoa Mas Agung yang diberi nama Yayasan Wali Songo.

Yayasan Karim Oei, alhamdulillah, masih eksis dan berkembang. Kepemimpinan yayasan sekarang sudah diestafetkan kepada generasi kedua/putra Haji Karim Oei, yakni H. Ali Karim Oei.

Salah satu peran penting dari Yayasan Karim Oei/Masjid Lauze, PITI, dan Yayasan Wali Songo, adalah mendorong proses akulturasi etnik Tionghoa dengan etnik-etnik lainnya di Indonesia.

Adalah tokoh Yayasan Karim Oei/Masjid Lautze Junus Jahja yang ikut memprakarsai gerakan ini. Pembauran adalah istilah tepat dan penting. Interaksi dua pihak yang dianggap “berseberangan”, masing-masing mewarisi trauma psikologis dari sejarah panjang bahkan sejak era penjajahan, dan masing-masing menyandang stereotipe negatif terhadap lainnya, memang harus mengambil bentuk integrasi, penyatuan, atau pensenyawaan. Itulah yang dimaksud sebagai pembauran, yakni berbaurnya dua komunitas (lebih khusus komunitas etnik Tionghoa berbaur atau membaur dengan komunitas etnik-etnik lainnya) baik lahiriah maupun batiniah.

Sebenarnya proses pembauran itu sudah pernah dimulai setelah kemerdekaan, seperti yang ditunjukkan secara simbolis oleh persahabatan akrab Haji Karim Oei dengan Bung Karno dan Buya Hamka, namun agak sedikit terganggu dengan Peristiwa G 30 S/ PKI. Kala itu banyak etnik Tionghoa yang menjadi sasaran/korban pemberantasan/pembubaran PKI, terutama karena dianggap menjadi bagian dari Poros Jakarta-Peking pada masa Presiden Soekarno.

Pada awal Orde Baru, terutama dengan adanya kebijakan setiap warga negara Indonesia harus memeluk suatu agama dan berketuhanan Yang Maha Esa sesuai Pancasila, maka mayoritas etnik Tionghoa memilih agama-agama non Islam, seperti Katolik, Kristen, atau Buddha/ Tridharma (mungkin karena menganggap kalangan Islam berperan besar dalam mengganyang PKI). Hal ini pula yang “membangkitkan” sentimen lama “Chinafobia” di kalangan umat Islam. Keadaan tentu semakin meningkat apalagi kemudian terjadi kesenjangan ekonomi di kalangan umat Islam sementara kekuasaan ekonomi berada di tangan etnik Tionghoa.

Kecenderungan ini memburukkan upaya pembauran lantaran pola hubungan antara etnik Tionghoa dan etnik-etnik non Tionghoa yang kebetulan mayoritas beragama Islam mengambil bentuk “superior-inferior” khususnya dalam bidang ekonomi. Kendati berkembang juga persepsi sebaliknya di kalangan etnik Tionghoa bahwa mereka merasa tertekan secara politik, terutama pada Era Orde Baru semua yang berbau Cina dilarang. Namun, kebebasan pada Era Reformasi dan sejalan dengan dinamika global dan kawasan Asia dengan kebangkitan China keadaan mulai membalik.

Keturunan Tionghoa di Indonesia, negeri dengan penduduk Muslim terbesar di dunia dan memiliki keturunan serta diaspora Tionghoa terbesar di dunia, menikmati kebebasan sosial, ekonomi, bahkan politik yang terbuka. Hal ini tentu positif bagi kemajuan Indonesia di masa depan, namun jika tidak dilola dengan tepat maka bisa memunculkan kondisi negatif, seperti adanya kesan “superior- inferior ekonomi” tadi. Hal ini pada giliran berikutnya dapat mendorong sentimen suku-agama-ras-antar golongan (SARA) yang tentu kontra-produktif bagi kerukunan dan kemajuan bangsa dan negara pada masa depan.

Dalam kaitan itulah, maka ide dan program pembauran menjadi tetap relevan dan mendesak untuk ditingkatkan. Tentu, pembauran yang perlu diwujudkan adalah pembauran sejati, bukan pembauran basa-basi yaitu pembauran semu. Pembauran sejati adalah bangsa yang majemuk bersedia untuk hidup berdampingan dengan damai dalam semangat saling memahami, saling menghormati, saling membantu, bahkan saling melindungi. Dalam pembauran sejati dan kerukunan sejati tidak boleh ada baik diktator mayoritas maupun tirani minoritas. Untuk itulah, perlu lahir dan hadir Haji Karim Oei-Haji Karim Oei baru, dan lembaga seperti Masjid Lautze perlu diperbanyak untuk menjadi rumah bagi Muslim Tionghoa dan jembatan bagi etnik Tionghoa untuk bersilaturahim dengan saudara- saudara sebangsa dan setanah air lainnya

(Pengantar buku: Yayasan H.Karim Oei & Masjid Lautze : RUMAH BAGI MUSLIM, INDONESIA & KETURUNAN TIONGHOA, penerbit Teplok Prees, telp 081382896969. Yayasan Karim Oei : 0216257413 dan 085717649127)

Leave a comment

Filed under Uncategorized

JALAN TASAWUF YANG MODERAT : Helmy A.Yafie

Dari Buku BERTASAWUF DI ZAMAN EDAN.

Buku ini dibuka dengan pertanyaan atau pernyataan (?) menggelitik, ‘bertasawuf di era global, mana mungkin ?’. Bagaimana mungkin, bertasawuf di kancah globalisasi, yang menuntut orang untuk bersaing secara ketat, bekerja keras, agar bisa memperoleh fasilitas untuk dapat menikmati kenyamanan hidup sesuai dengan ukuran-ukuran modern  secara memadai (bergengsi); sedangkan jalan tasawuf mendorong untuk hidup prihatin dan sederhana. Bagaimana mungkin bertasawuf di tengah-tengah kegaduhan dan kebisingan persaingan yang sangat ketat dan menekan, yang memaksa orang untuk memikir diri sendiri dan mengutamakan kepentingan sendiri. Kehidupan modern, di era global dan tasawuf adalah dua hal yang memiliki perbedaan ekstrim, tidak bisa menyatu, seperti minyak dan air. Maka dengan gambar seperti itu  bisa mendatangkan kesimpulan bahwa tidak mungkin bertasawuf di era global sekarang. Tetapi, kata Bapak Wiwoho, penulis buku ini, mungkin, dan bisa.

Globalisasi[1] yang kita kenali sekarang ini adalah sebuah tatanan global, yang bertumpu pada apa yang disebut pasar bebas,  mempengaruhi hampir seluruh aspek kehidupan kita,  menjangkau sampai ke pelosok yang terpencil sekalipun. Tidak ada ruang tersisa, di desapun kita melihat bentuk-bentuk globalisasi. Paling tidak, disana ada layanan televisi dan internet atau warung-warung internet yang memungkin orang-orang memperoleh informasi tentang atau berinteraksi dengan kota, dengan dunia dalam waktu sekejap[2]. Jaringan toko-toko mini market sudah ada dimana-mana.   Globalisasi tidak hanya mendominasi perekonomian kita, yang  terintegrasi dalam suatu sistem perekonomian global di bawah bendera pasar bebas[3], tetapi juga telah mencengkram dan merubah kehidupan sosial dan budaya kita serta lingkungan hidup kita.

Globalisasi,  yang dikontrol melalui World Trade Organizaztion (WTO)[4], telah membawa kita kepada suatu kehidupan penuh dengan persaingan yang sangat ketat dan menekan,  mendorong sikap individualistis, pragmatis, hedonis, dan konsumtif. Secara keseluruhan kita didorong pada suatu kehidupan yang merangsang keserakahan kita, dengan suguhan suatu impian tentang kehidupan yang indah. Kita didorong berbelanja untuk terus menerus berbelanja. Semua barang yang dibutuhkan tampak tersedia, dan seperti mudah diperoleh. Tersedia layanan kredit, dan kartu kredit, dengan syarat-syarat yang tampak mudah, tetapi sesunggunya menjebak. Estetika barang-barang termanifestasikan di jendela toko, papan reklame,  iklan dan papan reklame sebagai layanan cuma-cuma dan kemewahan suasana pelayanan konsumen serta sebagai artefak atau komoditas itu sendiri. Jantung evolusi estetika komersial adalah materi-mteri visual yang penuh dengan hasrat seperti warna, kaca dan lampu. Pokoknya setiap saat kita disuguhi dengan segala macam tontonan yang merangsang keserakahan kita.

Cara memandang, sikap dan tindakan seperti itu bertentangan dengan tasawuf[5], yang mendorong orang untuk hidup prihatin dan sederhana, menjauhi kehidupan dunia yang gemerlap. Tasawuf, atau sufisme, adalah tradisi mistik yang Qur’ani dan Muhammadi[6]. Menurut sejarah tasawuf adalah usaha spiritual yang tersebar secara luas di berbagai daerah dengan perbedaan bahasa dan budaya, tetapi disatukan dengan otoritas spiritual wahyu-wahyu Qur’an dan tauladan Nabi Muhammad, yang dimulai dengan perbahan jiwa, atau perputaran, menuju Tuhan[7]. Tasawuf bisa juga dikatakan cara dan jalan bagaimana seorang muslim dapat berada sedekat mungkin dengan Allah Swt.[8]

Untuk dekat kepada Tuhan, bagi seorang sufi harus menempuh jalan panjang, yang berisi stasiun-stasiun, yang disebut maqamat dalam bahasa Arab atau stages dan stations dalam istilah Inggeris[9]. Literatur tasawuf tidak memberikan angka dan susunan yang sama. Tetapi yang paling umum dikenalkan adalah : tobat—wara—zuhud—kefakiran—sabar—tawakkal—kerelaan hati—ma’rifat. Di atas stasiun-stasiun itu ada lagi : cinta—ma’rifat—fana’ dan baka—persatuan. Persatuan mengambil dua bentuk, al hulul dan wahdat al wujud.[10] Selain istilah maqam, dalam literature tasawuf juga dikenal istilah hal. Hal  merupakan keadaan mental, seperti perasaan senang, perasaan sedih, perasaan takut, dan sebagainya. Hal yang biasa disebutkan adalah : takut—rendah hati—patuh—ihlas—rasa berteman—gembira hati—syukur.[11] Hal, berlainan dengan maqam, bukan diperoleh atas usaha manusia, tetapi diperoleh sebagai anugerahdan rahmat dari Tuhan. Dan, berlainan dengan maqam, hal bersifat sementara, datang dan pergi dalam perjalanan mendekati Tuhan.[12]

Dari literature yang ada statiun yang paling penting bagi seorang yang mau menempuh jalan tasawuf adalah al-zuhd, yaitu keadaan meninggalkan dunia dan hidup kematerian[13]. Sebelum menjadi sufi, seseorang yang ingin menjadi sufi harus terlebih dahulu menjadi zahid, atau ascetic. Dalam sejarah Islam, sebelum aliran tasawuf dikenal, terlebih dahulu ada aliran zuhud. Aliran zuhud sudah ada sejak abad pertama dan permulaan abad kedua Hijriyah[14]. Sesungguhnya, laku kehidupan asektis, seperti mengasingkan diri dari masyarakat, tidak pernah menjadi praktik yang dianjurkan selama periode awal perkembangan Islam. Nabi Muhmmaad SAW, yang kehidupannya menjadi teladan bagi umat Islam, sepenuhnya hidup dengan masyarakat; ia menikah, memiliki anak, memimpin perjuangan pembebasan umatnya, memimpin umatnya[15]. Kehidupan zuhud atau asketisme yang muncul pada abad kedua hijriyah timbul sebagai reaksi terhadap kerusakan moral,  karena  merasakan kemakmuran sebagai akibat dari semakin meluasnya wilayah Islam. Reaksi terhadap hidup mewah dari para Khalifah dan keluarganya serta pembesar-pembesar negara sebagai akibat dari kekayaan yang diperoleh setelah semakin meluasnya ke Syria, Mesir, Mesopotamia dan Persia[16].  Orang-orang melihat perbedaan yang sangat besar antara hidup sederhana dari Rasul serta para sahabatnya dan Khalifah-khalifah yang empat, terutama Abu Bakar dan Umar. Mu’awiyah hidup dalam kemewahan sebagaimana halnya dengan raja-raja Roma dan Persia. Anaknya Yazid dikenal tidak mempedulikan ajaran-ajaran agama. Dalam sejarah Yazid dikenal sebagai seorang pemabuk. Diantara penguasa Bani Umayah, hanya Khalifah Umar Abdul Aziz (717-720) yang dikenal mempunyai sifat takwa dan patuh kepada ajaran-ajaran Islam, dan hidup sederhana[17]. Begitu juga dengan Khalifah-khalifah Bani Abbas. Al Amin, anak Harun al Rasyid, kemudian menggantikan Harun al Rasyid sebagai khalifah, dikenal rusak moralnya, sehingga ibunya sendiri, Zubaidah, memilih memihak kepada al Ma’mun, ketika kedua saudara itu bertikai.[18]

Orang-orang yang kecewa dengan keadaan itu, tidak mau turut dalam hidup kemeawahan, hidup berlebihan, dan ingin mempertahankan hidup dalam kesederhanaan zaman Rasulullah dan Sahabat-sahabatnya, menjauhkan diri dari kehidupan mewah seperti itu.

Aliran zuhud itu mulai tampak di Kufah dan Basrah di Irak. Para zahid Kufalah yang pertama sekali memakai wol kasar sebagai reaksi terhadap pakian sutera halus yang dipakai para Khalifah dan pembesar Bani Umayyah. Pakaian mereka yang terbuat dari wol kasar adalah symbol penolakan dan perlawanan. Misal Sufyan al-Tsauri (wafat 190 H), Abu Hasyim (wafat 150 H) dan Jabir Ibn Hasyim (wafat 190 H). Di Basrah, kota yang tenggelam dalam kemewahan, aliran zuhd mengambil corak yang lebih ekstrim, sehingga meningkat kepada ajaran mistik. Para zahid yang terkenal disini adalah Hasan al Basri (wafat 110 H) dan Rabiyah al-Adawiyah (wafat 185 H)[19]. Dari Kufa dan Basra gerakan kezuhudan itu menyebar ke seluruh penjuru dunia. Di Khurasan Persia, kemudian muncul Ibrahim al Adham (wafat 162 H). Di Madinah muncul Ja’far al-Sadiq (wafat 148 H).[20]

Gerakan para zahid besar abad ke 2 Hijiriyah— seperti al Hasan al Basri, Abu Hasyim al-Kuf, Sufyan as-Tsauri, Fudhail bin Iyad, Rabiyah al-Adawiyah, dan Marfu al-Karhi—kemudian dilanjutkan oleh para zahid berikutnya. Muncul nama-nama seperti al-Bistami, al-Hallaj, Junaid al-Baghdadi, al-Ghazali, Ibnu Sabin, Ibnu al-Farid, Jalaludin ar-Rumy.[21]

Sebelum Rabiah al-Adawiyah, tujuan tasawuf yang diupayakan oleh para zahid, tidak dari terciptanya kehidupan yang diridoi oleh Tuhan, sehingga di akhirat nanti terlepas dari azab Allah (neraka) dan memperoleh surganya. Para zahid, seperti al-Hasan al-Basri, Abu Hasyim al-Kufi terdorong mengembangkan sikap zahid, takut pada Tuhan, menyusuaikan diri dengan emosi dan sikap yang dicontohkan oleh Nabi Muhammad dan para sahabatnya atau generasi berikutnya yang saleh dan bertakwa. Rabiah al-Adawiyah, mengembangan emosi cinta kepada Tuhan, sehingga menguasi segenap hatinya. Yang diharapkan tidak lain cintanya dibalas Tuhan dengan cinta pula. Dia dicatat dalam sejarah  sebagai tonggak peralihan dari dominasi emosi takut kepada Tuhan menjadi emosi cinta kepada Tuhan. Lalu ada masa tasawuf mengambil bentuk mistisisme, yang menekankan pada ma’rifatullah (mengenal Tuhan dengan hati nurani). Dipelopori oleh Ma’ruf al-Karkhi (wafat 815/200 H), ad-Darani (wafat 830/215 H) dan semakin tegas pada Zunnun al-Misri (815/245 H). Gerakan tasawuf bisa dikatakan mencapai puncuknya pada abad ke 9 (abad 3 H), kendali para Ulama dari kalangan fuqaha memberikan reaksi negatif, terutama karena ucapan-ucapan ganjil (syatahat) yang muncul dari lidah mereka, yang asyik-masyuk bercinta dengan kekasihnya, Tuhan. Namun Junaid al-Bagdadi, al-Quyairi,  dan lain-lain beruasaha meyakinkan kepada semua pihak bahwa tasawuf itu tidak bertentangan dengan syariat. Ia berdasarkan al-Qur’an dan sunnah Nabi, dan tidak lain bentuk pengamalan syariat secara sangat sungguh-sungguh dengan memberikan perhatian pada sikap hati atau batin. Upaya mendamaikan ketegangan antara oarng-orang tasawuf dengan para fuqaha dan teolog, akhirnya berhasil dilakukan oleh al-Gahzali (1111/505 H). Berkat al-Ghazali tasawuf diterima secara umum di kalangan umat Islam, lebih-lebih setelah mengambil bentuk (organisasi) tarekat, menguasai umat Islam selama lebih kurang enam abad, sejak abad 13 (abad ke-7 H).[22]

Dari sejak  para zahid besar yang menolak dan mengecam kehidupan duniawi yang megah dan berlebihan pada abad kedua Hijriyah, sampai kepada generasi berikutnya, karena memakai pakaian dari bulu domba yang kasar, maka digelari orang sebagai sufi,  tasawuf dan mutasawif itu memperoleh tambahan arti yang khas[23].

Meskipun dengan tekanan yang bervariasi,  mereka telah mengembangkan emosi takut pada Tuhan atau azab-Nya, sikap zuhud (tidak terikat atau tidak tertarik dengan kesenangan dunia, sikap wara (hanya mau mengambil yang halal dan pantang mengambil yang diragukan kehalalannya, apalagi yang haram), sikap qanaah (merasa cukup dengan rezeki yang halal, betapapun sedikitnya), sikap sabar dalam menahan tekanan dan menahan suka duka kehidupan di jalan Tuhan, emosi ridho pada Tuhan (senang pada-Nya dalam segala sesuatu), sikap ingat selalu kepada-Nya, sikap khusyu dan bertekun dalam beribadah (shalat, puasa, zikir), emosi cinta kepada-Nya, sedemikian rupa sehingga mereka betul-betul merasakan kehadiran Allah dalam hati mereka atau merasa sangat dekat dengan-Nya. Dengan demikian, arti khas yang menambah muatan kata tasawuf itu tidak lain dari upaya mengolah atau mengembangkan sikap dan emosi agama dalam rangka mencapai kehidupan yang diridhoi Allah, dalam rangka mencapai kedekatan dengan-Nya.[24] Kata mutasawwif kemudian difahami mengacu kepaa orang yang sedang berjuang menjalankan upaya tasawuf, dan sufi mengacu kepada mereka yang telah mencapai tujuan dari upaya tasawuf.

Kita dapat mengatakan bahwa sebagai sebuah gerakan, tasawuf atau sufisme, sesungguhnya muncul karena situasi tertentu. Gerakan ini muncul sebagai kritik terhadap situasi sosial tertentu, situasi sosial yang timpang dan tidak adil. Bahkan dalam banyak kasus, sufisme adalah gerakan perlawanan terhadap kemapanan, sehingga beberapa tokoh tasawuf atau sufi menjadi korban atau mengorbankan diri untuk menunjukkan konsistensinya terhadap apa yang diyakininya atau apa yang diperjuangkannya. Al Hallaj misalnya (di hukum mati pada tahun 309), atau Syekh Siti Jenar di Jawa, terlepas dari setuju atau tidak setuju dengan keyakinan, adalah Sufi yang harus berhadapan langsung dengan kekuasaan pada masanya, karena menolak untuk mengakui kekuasaan yang ada, maka dihukum mati.

Kembali kepada pertanyaan pembuka buku ini, apakah mungkin bertasawuf di era global? Kalau melihat sejarahnya, jawabannya adalah sangat mungkin, sebagaimana juga yang dicoba dijawab oleh penulis melalui bukunya ini. Tentu dengan prasyarat tertentu. Kalau kita melihat bahwa pada dasarnya ajaran tasawuf adalah pengendalian hawa napsu, menghapus keserakahan,  melawan atau mengendalikan kecenderungan yang bersifat badani, melepaskan diri dari ketakutan terhadap hari esok, maka itu harus secara total menyerahkan diri kepada Allah SWT. Untuk mengontrol itu maka sufi senantiasa tidak pernah melepaskan ingatannya kepada Tuhan. Mereka terus menerus berzikir. Dalam rangka itu mereka memperkuat diri dengan kesabaran dan  kesabaran. Itu bukanlah hal yang mudah, karena godaan dan jebakannya banyak, mulai dari kecenderungan yang bersifat badani, sampai kepada keterikatan kepada orang terdekat. Itu sebabnya sufi pergi menyendiri. Maka mereka menjalani kehidupan sebagai zahid. Perjalanan sebagai zahid biasanya dilakukan bertahun-tahun, sebelum sampai kepada pemahaman yang benar, sering dengan semakin meningkatnya kontrol terhadap hawa napsu, keserakahan dan kecenderungan-kecenderungan badani. Dalam perjalanan sebagai zahid, selain selalu mengingat kepada Allah, menyantuni sesama, mereka juga melakukan pembiasaan-pembiasaan. Dalam cerita-cerita tentang sufi  kita dapat menemukan tindakan-tindakan ekstrim dari seorang zahid, yang tidak normal atau melampaui batas kebiasaan menurut ukuran masyarakat manusia pada umumnya. Misalnya, ketika musim salju, ada yang secara sengaja datang ke tempat yang penuh salju, dan pada tengah malam ketika salju baru saja seleasi turun, dalam keadaan minus sekian derajat dengan rasa dingin yang menggigit dia mandi[25]. Karena adanya latihan-latihan yang dilakukan rutin periodik atau pembiasaan-pembiasaan maka pada umumnya Sufi dapat mengontrol tidak hanya pikiran, emosi, tetapi tubuh fisiknya. Misalnya, banyak kisah tentang sufi yang dapat berjalan diatas air[26]. Bahkan ada sufi, al-Muhashibi (wafat 243 H/857 M), tubuhnya seperti sudah dapat mendeteksi hal-hal (tak wajar, mengotori kebersihan mereka) yang ada disekitarnya tanpa dia harus memikirkannya. Ketika dia disodori makanan yang mengandung subhat, tanpa ada yang memberitahukan sebelumnya, tangannya menjadi kaku tidak bisa digerakkan[27].

Tegasnya tasawuf itu adalah pengetahuan yang dipraktek, bukan sekadar ilmu yang dibicarakan, dan praktek itu semakin memperdalam atau memperluas pengetahun, jika direnungkan kembali, dan pada akhirnya menyatu dengan diri. Praktek artinya  membiasakan diri dengan kebiasaan-kebiasaan tertentu atau menjalani ajaran-ajaran tertentu secara konsisten. Sabar, tawakkal, berserah diri, prihatin, sederhana, rendah hati, kerelaan, keikhlasan, mengekang diri (untuk tidak mengambil lebih, mengambil bukan hak), memberi, tidak meminta dan sebagainya bukanlah untuk dikhotbahkan tetapi dilakukan, dipraktekkan. Tentu itu tidak otomatis bisa dijalani. Tidak otomatis orang sampai kepada tingkat kesabaran yang terjaga.  Maka perlu ada proses membiasakan diri, yang mengantar kepada semakin terbiasa dan pada akhirnya menjadi kebiasaan atau menjadi sesuatu yang tampak alami. Proses membiasakan pada permulan akan berlangsung berat, karena itu  memerlukan pengorbanan. Hasilnya nanti adalah pembebasan. Bebas dari rasa takut dan khawatir terhadap apapun, yang mengikat kita, kecuali kepada murka Allah.

Menjalani kehidupan dengan jalan tasawuf memungkinkan dilakukan sekarang. Tidak perlu seekstrim para sufi zaman dahulu, pergi mengembara, atau meninggalkan jabatan penting (seperti Ibrahim al Adam, seorang raja yang kemudian meninggalkan singgana kerajaan, pergi mengembara untuk menjalani kehidupan zahid[28]). Tetapi lebih pada membiasakan diri, mulai membiasakan diri dengan dengan kebiasaan-kebiasaan dan tradisi zahid. Mencoba membebaskan diri dari kehidupan yang menekan sekarang ini.

Tetapi yang perlu mendapat catatan adalah bahwa kita hidup dalam kancah globalisasi yang menjadi bungkus  terbaru dari kapitalisme, dan kapitalisme itu hidup dari eksploitasi untuk bisa eksis. Kapitalisme mengekspoitasi dan merangsang napsu dan keserakahan manusia (untuk menguasi dan memiliki) sehingga produksi, distribusi dan perputaran barang-barang yang diproduksinya menjadi berlipat dengan jangkauan yang semakin meluas. Dengan alasan itu, kapitalisme juga mengeksploitasi alam. Semua bisa dijual. Manusia, selain dieksploitasi  sebagai konsumen dimana napsu untuk menguasai dan membeli dirangsang terus menerus melalui berbagai cara dan setiap saat, juga dieksploitasi sebagai pekerja atau orang yang dimanfaatkan jasa dan sumberdayanya.  Sedangkan tasawuf mengekang napsu dan keserakahan manusia,  semakin kecil semakin baik. Artinya ajaran atau jalan tasawuf itu bertentangan dengan kepentingan kapitalisme. Kalau jalan tasawuf menjadi gerakan, maka itu ancaman bagi kapitalisme. Dan dalam sejarah, beberapa sufi, seperti al-Hallaj, bisa dihabisi ketika dianggap sebagai ancaman  kemapanan, oleh yang berkuasa,  serta dicap sebagai sesat.

Saya kira buku ini mengajak kita untuk berefleksi dengan keadaan sekarang, yang sesungguhnya merisaukan, atau bahkan menakutkan, dan mencoba menunjukkan bahwa sebenarnya ada cara atau jalan yang bisa digunakan untuk menghadapinya, yakni apa yang disebut tasawuf. Tidak perlu menempuh cara seekstrim yang pernah ditempuh oleh para sufi zaman dahulu.  Tidak perlu menjadi sufi seperti orang-orang terdahulu. Tetapi yang perlu adalah  mengikuti jalan itu, jalan tasawuf yang lebih moderat. Itulah yang dicoba diungkapkan melalui buku ini.

Sebagian besar isi buku ini merupakan hasil nyantri Penulis dengan Prof.K.H.Ali Yafie, serta dari beberapa ceramah beliau. Penulis berinteraksi secara intensif dengan Prof.Ali Yafie sejak akhir 1980an. Isi buku ini bertumpu pada pesan “hidup bersih, sederhana dan mengabdi.”

Wamaa taufiqi illa billah ‘alaihi tawakkaltu wailaihi uniib.

Jakarta, 6 November 2016

Helmy Ali Yafie dalam buku BERTASAWUF DI ZAMAN EDAN, penerbit BUKUREPUBLIKA

[1] Globalisasi adalah proses  integrasi internasional yang terjadi karena pertukaran pandangan dunia, produk, pemikiran dan aspek-aspek kebudayaan lainnya. Kemajuan infrastruktur transportasi dan telekomunikasi, termasuk kemunculan internet, merupakan faktor utama dalam globalisasi yang semakin mendorong saling ketergantungan (interdependensi) aktivitas ekonomi dan budaya.  Lihat, Al-Rodhan, R.F. Nayef and Gérard Stoudmann. (2006). Definitions of Globalization: A Comprehensive Overview and a Proposed Definition.: Albrow, Mrtin and Elizabeth King (eds) (1990), Globalization, Knowlledge and Society London, Sage. ISBN 978-0-8039-8324-3. P. 8.   “.. all those processes by which the people of the world are incorporated into single world society. Kemajuan transportasi dan telekomunikasi, termasuk kemunculan telegraf dan internet merupakan faktor utama dalam globalisasi yang mendorong saling ketergantungan (interdependensi) aktivitas ekonomi dan budaya. Lihat, Steven H. Guyford (1972), Science, System and Society”, Journal of Cybernetics, 2(3):1-3. DOI: 10.1080/01969727208542909;  Dalam Wikipedia Indonesia, Globalisasi, Ensiklopedi Bebas, diakses tanggal 2 November 2016.

Akar Globalisasi dapat ditelusuri hingga lebih dari lima ratus tahun lalu ketika kerajaan-kerajaan Eropa saling berlomba untuk mendapatkan kontrol atas sumberdaya alam berharga seperti emas, perak, tembaga, dan kayu yang didapatkan dari  Asia, Afrika, dan Amerika. Ketika perusahaan  perkapalan raksasa seperti Hudson’s Bay Company dan East India Company diizinkan beroperasi melalui perjanjian antar kerajaaan, dimandatkan untuk menyusuri sebagian besar dunia guna mencari sumberdaya yang akan menguntungkan kerajaan mereka secara  komersial.  Meskipun sumberdaya yang ditergetkan telah berubah seiring berkembangnya teknologi, tetapi model pasar globalisasi tetap sama, yakni eksploitasi. Di masa kini globalisasi ekonomi di dorong bergerak dengan kecepatan tinggi, terutama sejak runtuhnya Tembok Berlin. Sebelum hal itu terjadi, dan selama sebagian besar abad 20, ekonomi dunia terpisah antara dua kubu: komunisme dan kapitalisme. Secara simbolis, runtuhnya Tembok Berlin dan berakhirnya Perang Dingin menandai kemenangan kapitalisme atas komunisme dan hilangnya sistem ekonomi dunia yang bipolar. Mulai saat itu, kapitalisme mendominasi ekonomi global. Sebagai institusi dominan dari kapitalisme global, perusahaan transnasional secara membabai buta membuka pasar dan meluaskan jaringan operasi mereka hingga keempat penjuru dunia. Lihat, Maude Barlow dan Tony Clarke, Blue Gold, Perampasan dan Komersialisasi Sumberdaya Air, Gramedia, 2005, halaman 101.

[2] Seorang anak di zaman sekarang ini lahir di rumah yang didalamnya televisi rata-rata menyala lebih dari tujuh jam setiap hari. Untuk pertama kalinya dalam sejarah manusia, sebagian besar kisah mengenai orang-orang, kehidupan, dan nilai-nilai bukannya diceritakan oleh orang tua, sekolah, atau orang-orang dalam komunitas yang memiliki sesuatu untuk disampaikan, tetapi oleh sekelompok konglomerasi dari kejauhan  untuk didagangkan, kata  George Garbner, dalam bukunya Marketing Mayhem Globally, 1997; Lihat,  Jost Smiers, Art Under Pressure, Insist, Yogyakarta, 2009, hlm. 200.

[3] Perekonomian global berada dibawa satu sistem yang didasarkan pada kepercayaan bahwa ekonomi global dengan peraturan universal yang dibuat oleh koorporasi dan pasar adalah hal yang tidak dapat dihindari. Kebebasan Ekonomi adalah nilai khas, bukan lagi demokrasi ataupun usaha untuk melindungi ekologi. Hasilnya, dunia kita sekarang mengalami transformasi besar-besaran yang intinya adalah penyerangan hebat terhadap seluruh segi kehidupan manusia. Dalam pasar global segalanya bisa dijual, bahkan bagian-bagian kehidupan yang sebelumnya dianggap sakral seperti kesehatan dan pendidikan, kebudayaan warisan, kode etik dan bibit tanaman, serta sumber-sumber daya alam, termasuk udara dan air. Barlow dan Tony Clarke, Blue Gold, Ibid.

[4] Globalissi yang telah menjadi keharusan masa kini, dan  karena itu tidak bisa dihindari,  mempunyai struktur, dan dipimpin oleh World Trade Organization, organisasi perdagangan dunia (WTO), didirikan pada tahun 1994, sebagai kelanjutan dari General Agreements on Tariff and Trade (GATT). Hampir semua Negara adalah anggota WTO. WTO inilah yang merumuskan aturan-aturan yang bersifat mengikat, harus dikuiti. Ricardo Parella dengan meringkas aturan-aturan itu dan menyebutnya sebagai enam firman tatanan hukum baru. Firman pertama, adalah kita semua menjadi global. Menghormati apa-apa yang menurut perspektif lokal merupakan hal penting dan apa-apa yang berhak mendapat perlindungan bukan merupakan soal yang harus dibahas; firman kedua, semua metode produksi harus tunduk pada ekonomi baru yang didukung oleh  keimanan kepada digitalisasi; firman ketiga, kondisi kemanusiaan hendaknya dipandang sebagai permainan yang didalamnya hanya ada pemenang dan pecundang; firman keempat, Negara harus meliberalkan pasarnya dan tidak diperkenankan adanya proteksi apapun untuk hal-hal yang dinilai berharga; firman kelima, semua regulasi harus dikesempingkan; firman keenam, apapun yang berada di ranah publik harus diswastanisasikan. Kepemilikan swasta menyajikan mekanisme yang lebih menjanjikan untuk memperoleh kebahagiaan dan  keburuntungan dibandingkan yang bisa ditawarkan oleh intervensi publik. Lihat Jost Smier, Art Under Pressure, Insist Press, 2009. WTO bersama IMF dan Bank dua, oleh Ho Jong-Chan disebut sebagai Trinitas Tak Suci (Unholy Trinity), karena mereka, meskipun bukan boneka negara-negara kaya, yang memikirkan dan mengimplementasikan kebijakan-kebijakan yang dimaui oleh negara-negara kaya itu. Mereka mendesakkan kebijakan-kebijakan yang justeru menguntungkan negara kaya (dan merugikan negara-negera miskin). Lihat Ho Jong-Chang, Bad Samarithan, 2007.

 

[5] Tasawuf, menurut bahasa Arab berarti memakai pakian dari suf (bulu domba yang kasar). Orang yang memakainya dapat disebut sufi atau mutasawif. Memakai pakaian dari bulu domba yang kasar itu merupakan praktik yang lumrah di kalangan orang-orang yang miskin atau mereka yang hidup dalam kesederhanaan di kawasan Arab dan sekitarnya (pada masa lalu, jauh sebelum datangnya Islam dan setelah dartangnya agama itu), Lihat, IAIN Syarif Hidayatullah, Ensiklopedi Islam, Jilid 3 Q-Z, Penerbit Jembatan, cetakan ke 2, 2002.

[6] Para Sufi periode-periode awal, ketika ditanya tentang apa itu tasawuf memberikan jawaban  yang tidak sama. Mereka memberikan batasan dengan menekankan salah satu aspek yang ingin ditekankannya. Al Junaid (wafat 297/909), orang Bagdad, sufi yang paling terkemuka pada zamannya, dielu-elukan sebagai Pemimpin Masyarakat Sufi (Sayyid al-Ta’ifah) misalnya mengatakan bahwa tasawuf  adalah ‘penyerahan dirimu kepada Allah, dan bukan untuk tujuan yang lain’. Sedangkan Sahl ibn Abdullah al Tusari (wafat 283/897), orang Persia,  yang dikenal wara’, zuhud, puasa sepanjang tahun, dan mampu menciptakan keajaiban-keajaiban, mengatakan : ‘Tasawuf adalah makan sedikit demi mencari damai dalam Allah dan menarik diri pergaulan ramai’.Sementara Abu al-Husain al-Nuri’ (wafat 295/907), mengatakan: ‘Tasawuf bukanlah gerak lahiri (rasm) atau pengetahuan (‘ilm), tetapi ia adalah kebajikan (khulq)’; lihat Farid ‘L-Dinn Attar, Tadhkirat ‘l-Awliya’, 1331 A.H., dan Al Qusyairy, al-Risalah, Dalam Dr. Muhammad Abd. Haq Ansari, Merajut Tradisi Syari’ah Sufisme, PT Rajagrafindo Oersada, 1997.

[7] Carl W. Ernest, Expresi Ekstase dalam Sufisme, Penerbit Putra Langit, Yogyakarta, 2003, halaman 13.

[8] Harun Nasution, Filsafat dan Mistisime dalam Islam, Bulan Bintang, Jakarta, 1983. Halaman 56.

[9] Ibid., Literatur tasawuf tidak selamanya memberikan angka dan dan susunan yang sama. Abu Bakr Muhammad al-Kalbadi memberikan susunan : tobat-zuhud-sabar-kefakiran-kerendahan hati-takwa-tawakkal-kerelaan-cinta-ma’difat; Abu Nasr al-Sarraj al-Tusi memenyebut dalam al-Luma : tobat-wara’-zuhud-kefakiran-sabar-tawakal-kerelaan hati; Abu Hamid al-Ghazaly dalam Ihya’ Ulum al-Din memberikan susunan : tobat-sabar-kefakiran-zuhud-tawakkal-cinta-ma’rifat-kerelaan; Menurut Abu al-Qasim Abd al-Karim al-Qusyairi, maqamat itu sebagai berikut: tobat-wara’-zuhud-tawakkal-sabar-kerelaan.

[10] Ibid.,

[11] Ibid.,

[12] Ibid.,

[13] Ibid.,

[14] Ibid, Lihat juga Michael A. Sells (eds), Sufisme Klasik, Menelusuri Tradisi Sufi, Mimbar Pustaka, Bandung, 2003

[15] Michael A. Sells (eds), Sufisme Klasik, Menelusuri Tradisi Sufi,Mimbar Pusataka, Bandung, , 2003; Earler Islamic Mysticism, Paulis Prees, New Jersey, 1999. Halaman 29

[16] Harun Nasution, opcit., Lihat Juga AJ. Arberry, Aliran Tasawwuf, Mizan, Bandung, halaman 36-37

[17] Ibid.,

[18] Harun Nasution, Opcit,

[19] AJ Arberry, Opcit

[20] Ibid..,

[21] Ibid.,

[22] Ensiklopedi Islam, Loc.cit.,

[23] Ibid.,

[24] Ibid.

[25] Lihat, Friduddin ‘Attar, Kisah-kisah Sufi Agung, Pustaka Zahrah, Jakarta 2005.

[26] Ibid.,

[27] Ibid.,

[28] Ibid.,

Leave a comment

Filed under Uncategorized