Pergulatan Cakraningrat – Mataram – Kompeni( II-6): PEMBERONTAKAN CINA

Babad Tanah Jawi dan Perang Cina, menggambarkan secara rinci pergolakan dan intrik di dalam kraton. Jika Babad Tanah Jawi bersumberkan catatan pujangga kraton yang terus disempurnakan dari waktu ke waktu, yang boleh jadi ditulis sesuai versi penguasa pada masanya, sedangkan Perang Cina ditulis lebih banyak berdasarkan catatan-catatan Kompeni yang dibuat secara rinci dan tentu saja juga berdasarkan versinya.

Commandeur Kompeni di Semarang Willem ter Smitten tahun 1728, misalkan melaporkan ke Batavia tentang adanya plot besar–besaran untuk melemparkan Kompeni ke Laut Jawa, yang dirancang oleh persekutuan Patih Danureja, Cakraningrat dan sisa-sisa pemberontakan Surapati yakni Mas Brahim, yang didukung para bupati pesisir, bupati wilayah dalam bahkan didukung Ratu Amangkurat. Dilaporkan, Patih Danureja berambisi merebut tahta kerajaan sedangkan Cakraningrat ingin menegakkan kembali kekuasan Panembahan Cakraningrat II yang mengendalikan semua kabupaten pesisir khususnya Jawa Timur.

Semula Cakraningrat mengajukan permintaan sebagai bagian haknya atas perkawinannya dengan adik raja, yang didukung oleh isteri dan ibu mertuanya, Ratu Amangkurat, untuk kembali memperoleh hak kontrol atas Sidayu, Pasuruan, Bangil dan Probolinggo. Sesungguhnya Sunan menyetujui, tapi Kompeni menolaknya.

Sejak Trunojoyo membedah keraton Mataram, Kompeni telah memutuskan bahwa orang Madura tidak boleh masuk ke Jawa, maksudnya bupati Madura tidak boleh memiliki wilayah di Jawa. Semenjak itu pertikaian segitiga terjadi. Cakraningrat meminta kembali hak kontrol atas pesisir, sedangkan Kompeni tidak mau Cakraningrat diberi tanah di Jawa bahkan minta penyerahan Madura kepada Kompeni. Sementara itu kraton tidak mau Cakraningrat menjadi bawahan Kompeni. Bahkan untuk itu Kompeni juga berusaha melalui Patih Danureja agar Cakraningrat menceraikan isterinya yang adik Sunan.

Di tengah pertikaian segitiga itu, pada tahun 1741 – 1742 timbul pemberontakan penduduk Cina di wilayah Jawa Tengah, pada mulanya di jalur pantura Semarang – Lasem, tapi kemudian merambah sampai ke kraton Kartasura. Perang Cina yang juga sering disebut Perang Kuning ini, dipicu oleh “Geger Pecinan”, yaitu pemberontakan yang berujung pada pembantaian sekitar 10.000 (sepuluh ribu) orang Cina di Batavia 9 – 10 Oktober 1740.

Di Kartasura, pemberontak menghasut serta memperalat cucu Amangkurat III, Mas Garendi, untuk bersama-sama merebut tahta Pakubuwana II. Pada 29 – 30 Juni 1742, Mas Garendi dan pasukan Cina berhasil menjebol dan merebut kraton, sehingga raja beserta seluruh keluarganya termasuk ibu suri Ratu Amangkurat dan isteri Cakraningrat terpaksa lari dalam pengawalan Kompeni menuju Ponorogo.

Keberhasilan Pasukan Kuning merebut kraton Kartasura, mengubah peta politik terutama di daerah-daerah pesisir. Para Bupati di wilayah pesisir barat, segera meminta perlindungan kepada Kompeni. Sedangkan wilayah pesisir timur sebagian dikuasai para pemberontak dan sebagian lagi berada di bawah Cakraningrat IV. Terhadap situasi yang seperti itu, Pimpinan Kompeni di Batavia memerintahkan Kompeni di Semarang untuk memanfaatkan keadaan dengan melakukan sapu bersih bukan hanya di wilayah pesisir, tapi juga sampai ke pedalaman.

Sementara itu dengan cepat pasukan Cakraningrat bergerak merangsek dari wilayah Timur ke Kartasura. Dengan pasukan gabungan Madura – Bali yang lincah tak mengenal takut, mereka melibas apa saja yang dijumpai dalam perjalanannya. Mereka juga tidak segan bergerak dan berperang di malam hari dan di kala hujan. Satu hal yang tak disangka oleh pasukan pemberontak dan juga tak bisa dilakukan oleh pasukan perlawanan gabungan pasukan Sunan dan Kompeni.
Pada akhir November 1742, Pasukan Madura berhasil mengalahkan 1.600 pemberontak Cina yang didukung sejumlah bantuan dari beberapa Bupati., dan mencapai ibukota Kartasura dalam keadaan kosong. Sesudah merebut kembali kraton, orang-orang Madura membawa saudara Sunan, Pangeran Ngabehi Loringpasar, masuk ke dalam kraton dan memperlakukannya bagaikan seorang Sunan, sementara Sunan yang tiba belakangan tidak diijinkan masuk.

Hal itu membingungkan baik Sunan maupun Kompeni, sehingga pada tanggal 9 Desember 1742 Kompeni mengirim utusan ke Madura menemui Cakraningrat. Bersamaan dengan itu juga tiba utusan Sunan yang menyatakan terima kasih atas bantuan Cakraningrat merebut kembali Kartasura. Pada 20 Desember 1742, akhirnya pasukan Madura yang menduduki kraton mempersilahkan Sunan masuk, dan bersama semua pribumi yang hadir, mengikuti adat Jawa dengan mencium kaki Sunan.

Ilustrasi: Kerusuhan  Cina Batavia 1740, repro dari Portal Resmi Provinsi DKI Jakarta, https://jakarta.go.id/artikel/konten/575/chinezenmoord

Catatan: Seri tulisan ini merupakan Bagian II dari seri tulisan PARA PAHLAWAN NUSANTARA DI AFRIKA SELATAN. Bagian ini dimaksudkan untuk menggali gambaran situasi yang melatarbelakangi mengapa sampai Pangeran Cakraningrat IV dibuang ke Pulau “Penjara” Robben nun jauh di Afsel. Kami berharap para pembaca dan terutama para ahli sejarah, pemerintah dan tokoh-tokoh masyarakat di berbagai daerah di Nusantara, dengan ridho dan berkahNya tergerak untuk menggali sejarah para pahlawan yang dibuang ke Afsel sampai kemudian menjadi tokoh-tokoh yang dimuliakan oleh masyarakat Afsel. Aamiin.
(Bersambung).

Advertisements

Leave a comment

Filed under Uncategorized

Pergulatan Cakraningrat – Mataram – Kompeni (II-5): CARA RAJA JAWA MENGENDALIKAN BAWAHAN

Satu dari beberapa fakta paling penting dalam sejarah Jawa abad tujuh belas sampai pertengahan delapan belas, adalah para raja menguasai hak prerogatif dengan cukup berhasil mempertahankan monopoli dalam pemberian jabatan. Ini sebagian besar disebabkan oleh fakta bahwa peperangan yang dilakukan Sultan Agung yang kemudian dilanjutkan oleh Amangkurat I cukup berhasil membersihkan elit lokal sampi ke akar-akarnya. Dan juga karena saudara-saudara raja dikurung dalam kraton dan tidak mendapatkan kewenangan yang akan memberi mereka landasan kekuatan lokal. Proses ini dilanjutkan oleh raja-raja berikutnya, di mana Kompeni seringkala menyediakan otot alias kekuatan pemukul yang diperlukan untuk melakukannya.

Akibatnya hampir semua wilayah yang independen terbabat habis pada tahun 1720-an, dengan perkecualian Cakraningrat di Madura dan rezim para penerus Surapati di hutan-hutan liar sekitar Malang.

Cakraningrat IV mendapatkan posisi independen ini karena kepiawiannya dalam memainkan hubungan segitiga dengan keraton dan Kompeni, yang bagi Kompeni lebih senang menyebutnya sebagai mengadu-domba Kraton dengan Kompeni, yang ingin mengontrol Madura. Terlebih lagi jarak yang relatif dekat dengan Bali memungkinkan ia menyewa pasukan bayaran Bali secara diam-diam, yang ia gunakan sehingga pasukan Madura berhasil menguasai kraton Kartasura yang semula diduduki “Sunan Kuning Mas Garendi”, pada perang yang dikenal sebagai Perang Cina 1742. Inilah untuk kedua kalinya pasukan Madura berhasil menjebol benteng pertahanan Mataram, setelah Trunojoyo yang pertama.

Cara yang sederhana tapi ampuh bagi Raja Jawa, demikian pula Madura, untuk mengontrol pejabat-pejabatnya adalah dengan meminta tahanan, atau mungkin lebih tepat disebut sebagai menyandera pihak-pihak yang berpotensi menjadi lawannya. Raja Jawa tidak pernah mengembangkan sistem yang rumit, tapi cukup sederhana dengan menyandera keluarga dekat dari orang yang ingin dikendalikan. Biasanya dengan menahan dan membatasi gerak isteri serta anak dari orang yang ingin dikendalikan, terutama pada masa krisis dan perang.

Pejabat-pejabat wilayah luar ibukota hanya wajib datang sekali setahun pada Grebeg Maulud. Yang merupakan perkecualian adalah Pangeran Cakraningrat IV yang menolak untuk datang. Sang Raja tidak memiliki kekuatan militer yang memadai untuk memaksanya patuh atau menurunkannya selama tidak ada bantuan dari Kompeni, sehingga akhirnya dia setuju untuk membuat kompromi seperti diusulkan Kompeni. Cakraningrat diperbolehkan tidak datang dengan alasan sakit asalkan putranya dikirim untuk mewakilinya.

Politik koalisi melalui poligami dan perkawinan menyatukan elit Jawa ke dalam ikatan yang sangat besar. Hubungan perkawinan meneguhkan ikatan yang tampaknya tidak bisa dijaga oleh hubungan lain. Pada pucuk tertinggi ada raja dengan semua saudari, saudari tiri, puteri, isteri, selir, yang semuanya ia gunakan untuk mengikat pejabat-pejabatnya. Bahkan mendapatkan bekas isteri atau bekas selir raja masih dianggap sebagai kehormatan besar. Kesempatan untuk menghasilkan putera mahkota dianggap bisa mendamaikan faksi-faksi yang bersangkutan di dalam keluarga kerajaan yang biasanya terpecah belah.

Raja juga mendapatkan selir dari pejabatnya. Selir-selir raja berasal dari semua wilayah dan semua golongan masyarakat.

Khusus dalam hubungan perkawinan antara Mataram – Madura, berlangsung antara (1) Cakraningrat I dengan adik Sultan Agung; (2) Cakraningrat IV dengan adik kandung Pakubuwono II, Raden Ayu Bengkring; (3) Puteri Cakraningrat III yaitu Ragasmara dinikahkan dengan Pangeran Arya Mangkunagara, putera tertua Amangkurat IV. Demikian pula, (4) Putri Cakra Adiningrat II (penerus trah Cakraningrat) yaitu Raden Ayu Sriya menjadi permaisuri Pakububowo VII (Menyingkap Tabir Sejarah Kerajaan Madura Barat, R.Abdul Hamid Mustari, Paguyuban Keluarga Kasultanan Bangkalan, tanpa tahun)

Sementara itu juga demi menenteramkan keadaan, Sunan Pakubuwana II menikahi putri pamannya yang memberontak, yakni Pangeran Purbaya yang telah diasingkan Ke Batavia.

Tetapi koalisi melalui ikatan perkawinan tidak selalu efektif sebagai metode kontrol, malah bisa pula meruwetkan situasi yang sudah ruwet. Perkawinan Amangkurat III dengan puteri pamannya, Pangeran Puger, justru memicu pemberontakan dari Pangeran Puger sampai menjadi Pakubuwana I. Pun demikian pernikahan satu-satunya saudara kandung Pakubuwono II dengan Cakraningrat malah menimbulkan lebih banyak masalah daripada meringankan, lantaran hak-hak yang secara salah kaprah disebut mas kawin dari raja kepada Cakraningrat tidak diberikan.

Sementara gerakan Ibu Suri yang membela Cakraningrat berhasil dikunci oleh hasutan Demang Urawan kepada banyak punggawa dan sentana. Di sini Ibu Suri kalah bahkan kehilangan akses kepada putra kandungnya Sunan Pakubuwana II. Buku Perang Cina dan Babad Tanah Jawi menggambarkan intrik dan perebutan pengaruh di lingkaran dalam pusat kekuasaan, dan semenjak Demang Urawan yang homoseks itu menguasai medan pengaruh, dengan segera kemerosotan moral menjangkiti kraton.

Demang Urawan juga membuat permusuhan dengan Cakraningrat, bupati yang paling handal, yang adalah saudara ipar raja, yang hak-haknya sebagai Pangeran ipar raja dihambat serta tidak diberikan, sementara utusannya dalam acara pisowanan tahunan dipermalukan.

Foto: Pintu gerbang makam Aermata di Bangkalan – Madura , yaitu kompleks makam keluarga besar Cakraningrat, dengan makam utama Ratu Ibu, yaitu permaisuri dari Cakraningrat I. Di dalam kompleks ini juga terdapat makam Cakraningrat IV, yang bersebelahan dengan makam Cakraningrat II. Kecuali di Madura, makam Cakraningrat IV juga berada di Pulau Robben, Afrika Selatan. Makam mana yang sesungguhnya? Para ahli sejarahlah yang mestinya lebih tahu.

Catatan: Seri tulisan ini merupakan Bagian II dari seri tulisan PARA PAHLAWAN NUSANTARA DI AFRIKA SELATAN. Bagian ini dimaksudkan untuk menggali gambaran situasi yang melatarbelakangi mengapa sampai Pangeran Cakraningrat IV dibuang ke Pulau “Penjara” Robben nun jauh di Afsel. Kami berharap para pembaca dan terutama para ahli sejarah, pemerintah dan tokoh-tokoh masyarakat di berbagai daerah di Nusantara, dengan ridho dan berkahNya tergerak untuk menggali sejarah para pahlawan yang dibuang ke Afsel sampai kemudian menjadi tokoh-tokoh yang dimuliakan oleh masyarakat Afsel. Aamiin.

(Bersambung).

Leave a comment

Filed under Uncategorized

Pergulatan Cakraningrat – Mataram – Kompeni (II-4) : DIPANEGARA, BUANGAN I KE AFSEL

Tatkala perang dengan Surabaya masih berlangsung, Pakubuwana I wafat dan digantikan puteranya bergelar Amangkurat IV, bertahta dari tahun 1719 sampai 1726. Dalam masa pemerintahannya yang relatif pendek terjadi banyak pergolakan internal yang seperti sebelumnya, merebak menjadi pemberontakan-pemberontakan, yang membawa jalan bagi Kompeni semakin kuat mencengkeram pengelolaan kekuasaan Jawa.

Pergolakan tersebut mengakibatkan pada awal 1723, Pangeran Purbaya dibuang ke Batavia, Pangeran Dipanagara dibuang ke Afrika Selatan, sementara Bupati Surabaya dan para penerus Surapati diasingkan ke Srilanka.

Meski wilayah-wilayah luar sudah berhasil dikuasai, pergulatan serta intrik di dalam kraton terus berlangsung. Karena raja tidak segan menciptakan kontroversi dalam pengangkatan-pengangkatan dan pemecatan. Tetapi satu hal yang menarik sebetulnya ia pun berusaha memegang semua kontrol dan tidak mau melibatkan siapa pun, bahkan Kompeni sekalipun. Sayangnya, sebelum Amangkurat dapat benar-benar menikmati kekuasaannya, ia menderita sakit perut parah yang memunculkan banyak gosip dan kecurigaan.

Ada gosip ia diracun oleh persekongkolan patih Danureja. Ia juga mencurigai banyak orang menjadi penyebab sakitnya. Mencurigai dan meminta sumpah setia Danureja, Cakraningrat, Bupati Pekalongan Jayaningrat, Bupati Jepara Citrasoma, Bupati Batang Puspanagara, Bupati Kudus Jayasentika, bahkan para isteri, selir dan juga ibu kandungnya sendiri, sampai-sampai memerintahkan hukuman mati kepada seorang selir dan gajahnya. Menurut catatan Kompeni, Amangkurat IV yang kemudian wafat pada 20 April 1726 karena sakit perutnya itu, diperkirakan menderita sakit tipus. (Willem Remmelink, Perang Cina).

Sebelum wafat, raja menyatakan keputusannya tentang suksesi kepada Kompeni. Ia melewatkan putra tertuanya, yaitu Pangeran Arya Mangkunegara dan menunjuk Pangeran Adipati Anom sebagai penerusnya. Jika sesuatu terjadi, suksesi diteruskan ke Pangeran Buminata dan kemudian ke Pangeran Loringpasar.

Tanggal 15 Agustus 1726, dalam versi buku Raja di Alam Republik, Pangeran Adipati Anom yang baru berusia 15 menjelang 16 tahun dinobatkan menjadi raja bergelar Pakubuwana II. Sedangkan dalam Perang Cina, penobatan dilakukan pada hari Minggu 2 Juni 1726, bertepatan pada hari Lebaran.

Usia raja yang sangat muda ini semakin menimbulkan kegaduhan politik pemerintahan yang semakin ganas. Dalam situasi yang seperti itu Adipati Danureja yang memiliki bakat sangat besar untuk selamat dari ganasnya percaturan politik Jawa, memperoleh ruang permainan yang luas.

Tak pelak lagi suasana istana semakin gaduh sampai akhirnya Danureja atas permintaan raja kepada Kompeni, ditahan sewaktu menjalankan tugas raja menghadap Kompeni di loji Kompeni di Semarang, 9 Juli 1733.

Meskipun demikian, penggantian patih Danureja oleh dua patih yakni Demang Urawan dan Natakusuma juga tidak menyelesaikan persoalan, karena Demang Urawan yang seorang homoseksual ini justru lebih ambisius, kasar dan nekad dibanding Danureja, bahkan perbuatannya sering tidak masuk akal. Demang Urawan dikenal sangat sakti seperti warok Ponorogo dan semua pejabat bertekuk lutut di hadapannya.

Perilaku dan ambisi Demang Urawan tercium oleh ibu suri, Ratu Amangkurat yang menyayangi Cakraningrat IV serta mengandalkannya sebagai Bupati yang paling berpengalaman, pintar dan berani, untuk bisa membantu serta menasihati Pakubuwono II. Oleh sebab itu Ratu menikahkan Cakaraningrat IV dengan satu-satunya adik kandung Pakubuwana yaitu Ratu Bengkring.

Kraton ibarat memiliki tiga raja, yakni Sunan sendiri, Ibu Suri dan Patih Demang Urawan beserta Patih Natakusuma yang tidak berprinsip. Namun sesungguhnya, Kompenilah saat itu yang menguasai Jawa, karena ia yang memiliki banyak hak kontrol baik politik kekuasaan maupun bisnis.

Foto: Menara pengawas Penjara berdampingan dengan Makam  Kramat P.Cakraningrat IV, nampak dari atas kapal yang sedang merapat ke pulau bagaikan masjid dengan menara masjidnya.

Catatan: Seri tulisan ini merupakan Bagian II dari seri tulisan PARA PAHLAWAN NUSANTARA DI AFRIKA SELATAN. Bagian ini dimaksudkan untuk menggali gambaran situasi yang melatarbelakangi mengapa sampai Pangeran Cakraningrat IV dibuang ke Pulau “Penjara” Robben nun jauh di Afsel. Kami berharap para pembaca dan terutama para ahli sejarah, pemerintah dan tokoh-tokoh masyarakat di berbagai daerah di Nusantara, dengan ridho dan berkahNya tergerak untuk menggali sejarah para pahlawan yang dibuang ke Afsel sampai kemudian menjadi tokoh-tokoh yang dimuliakan oleh masyarakat Afsel. Aamiin.

(Bersambung).

Leave a comment

Filed under Uncategorized

Pergulatan Cakraningrat – Mataram – Kompeni (II-3): KOMPENI, DARI LAWAN JADI SEKUTU

Catatan: Seri tulisan ini merupakan Bagian II dari seri tulisan PARA PAHLAWAN NUSANTARA DI AFRIKA SELATAN. Bagian ini dimaksudkan untuk menggali gambaran situasi yang melatarbelakangi mengapa sampai Pangeran Cakraningrat IV dibuang ke Pulau “Penjara” Robben nun jauh di Afsel. Kami berharap para pembaca dan terutama para ahli sejarah, pemerintah dan tokoh-tokoh masyarakat di berbagai daerah di Nusantara, dengan ridho dan berkahNya tergerak untuk menggali sejarah para pahlawan yang dibuang ke Afsel sampai kemudian menjadi tokoh-tokoh yang dimuliakan oleh masyarakat Afsel. Aamiin. B.WIWOHO.

Kemenangan Pasukan Gabungan Madura – Makassar dalam merebut keraton Mataram, mengubah perjalanan sejarah Dinasti Mataram dari semula melawan Kompeni, menjadi besekutu dengan Kompeni, sebagaimana dibahas dalam Bagian I: Makam-Makam Pejuang Nusantara Yang Bertebaran & Dikeramatkan di Afrika Selatan terutama Bab Invasi Senyap & Awal Campur Tangan Belanda.

Sisa-sisa pasukan Mataram dengan dibantu Kompeni dan belakangan juga oleh pasukan Madura di bawah pimpinan Cakraningrat II yang sudah berhasil bebas dari penahanan Trunajaya, menyerang pasukan Trunajaya. Kompeni juga mendatangkan anggota pasukannya dari Makassar yang terdiri dari pribumi-pribumi Makassar yang dipimpin Karaeng Naba yang menurut Babad Tanah Jawi adalah kakak dari Karaeng Galesong. Karaeng Naba ditugaskan membujuk Karaeng Galesong untuk meninggalkan Trunajaya, sampai akhirnya membelot. Pembelotan ini menurut Babad Tanah Jawi menyebabkan kekalahan Trunajaya. Trunajaya yang mengetahui pembelotan tersebut membunuh Karaeng Gelesong tanpa diketahui oleh anggota pasukannya.

Cakraningrat II yang sudah bebas pada 27 Desember 1679 menemui Trunajaya dan pasukannya yang sudah dipukul mundur ke lereng Gunung Kelud, dan meminta kemenakannya itu untuk menyerah kepada Sunan, dengan menjamin keselamatannya. Trunajaya menurut tapi pada akhirnya dihukum mati juga oleh Sunan Amangkurat II yang semula memintanya untuk memberontak, dengan tangannya sendiri, yang disusul dengan hunjaman keris para bupati sehingga tubuhnya hancur tercabik-cabik dan hatinya dipotong kecil-kecil sekuku hitam serta dibagikan untuk ditelan mentah-mentah ramai-ramai. Akibatnya tidak diketahui di mana makam Trunajaya yang tewas pada hari Selasa 2 Januari 1680 itu. (Babad Tanah Jawi dan Raden Soenarto Hadiwijoyo, Raden Trunojoyo Panembahan Maduratna Pahlawan Indonesia dalam Menyingkap Tabir Sejarah Kerajaan Madura Barat) . Pemberotakan Trunajaya yang semula dirancang sendiri oleh Pangeran Adipati Anom (Amangkurat II) berhasil dipadamkan tahun 1679.

Sesudah pemberontakan Trunajaya, hubungan Mataram dengan Madura kembali baik. Seperti ayahnya Cakraningrat I, Cakraningrat II sangat setia terhadap Amangkurat II. Bersama adik kesayangan Sunan yaitu Pangeran Puger, Cakraningrat merupakan kepercayaan dan andalan kerajaan, sampai Sunan wafat tahun 1703.

Situasi berubah sesudah Sunan wafat dan putera mahkota Adipati Anom dinobatkan menjadi Amangkurat III. Raja baru yang sekaligus juga putera menantu Pangeran Puger, pincang kakinya dan mempunyai perangai yang buruk. Pada masa pemerintahannya kembali terjadi intrik-intrik dan pergulatan kekuasaan yang ganas, sampai antara lain mengorbankan jiwa permaisuri dan menyengsarakan seluruh keluarganya, yaitu Pangeran Puger beserta isteri dan putera-puterinya, yang sempat dihukum kerangkeng berhari-hari di alun-alun, dalam sengatan terik mentari dan berselimut dinginnya udara malam.

Sunan juga memperkosa isteri Cakraningrat II, sehingga sempat membuat marah Cakraningrat, yang reda sementara setelah ingat permintaan almarhum Amangkurat II agar ia bersedia membimbing Amangkurat III.

Kesewenang-wenangan raja pada akhirnya membuat Pangeran Puger dan Cakraningrat II bersepakat melakukan perlawanan. Cakraningrat II memohon ijin menengok Madura beserta seluruh keluarganya, dan Pangeran Puger beserta keluarganya juga diam-diam melarikan ke Semarang dalam kejaran pasukan kerajaan. Di kota ini kedua pejabat senior kerajaan Mataram itu berjanji untuk bertemu kembali guna menyusun kekuatan dan bersama-sama menggempur Kartasura.

Selama menunggu kedatangan Cakraningrat, Pangeran Puger dibujuk orang kepercayaannya, Ki Rangga Yuda Negara, agar meminta bantuan Kompeni, yang menghasilkan perjanjian kerjasama antara Kompeni dengan Pangeran Puger. Setelah Cakraningrat dan pasukannya bergabung di Semarang Pangeran Puger dinobatkan menjadi raja dengan nama kebesaran Susuhunan Pakubuwana, pada tahun 1704. Segera sesudah itu penyerbuan ke Kartasura dimulai sampai akhirnya kraton Kartasura berhasil direbut pada tahun 1706, dan Sunan Amangkurat III melarikan diri tapi berhasil ditangkap dan dibuang ke Srilanka.

Sesudah berhasil membantu Pakubuwono I meneguhkan kekuasaannya dan merebut Kraton Kartasura, dalam perjalanan pulang ke Madura tanggal 4 Agustus 1707, Cakraningrat II yang sudah berusia 80 tahun itu jatuh sakit dan wafat di Kamal, Madura. Ia digantikan putera sulungnya, Raden Tumenggung Sosro Adiningrat yang bergelar Pangeran Cakraningrat III.

Di masa pemerintahannya, Cakraningrat III menghadapi pemberontakan menantunya, Arya Dikara di Pamekasan. Untuk memadamkannya ia mengutus adiknya yang memiliki panggilan Raden Surodiningrat atau Raden Jurit. Jurit artinya perang. Maka sebutan Raden Jurit berarti Pangeran Muda yang ahli dan jago berperang. Namun bukannya memadamkan, banyak orang Madura bahkan Raden Jurit sendiri, berbalik melawan kakaknya Cakraningrat III. Akibatnya Cakraningrat III terdesak dan melarikan diri ke kapal Kompeni meminta perlindungan.

Ironisnya, di atas kapal terjadi kesalahpaham, yang dipicu dari tindakan Kapten Kompeni, Dominicus Marius Pasqaues Chavones ( Prof. Dr.H.Aminudin Kasdi, Perlawanan Penguasa Madura atas Hegemoni Jawa, dalam Menyingkap Tabir Sejarah Kerajaan Madura Barat) atau Kapten Kartas (dalam Babad Tanah Jawi), menjabat dan mencium tangan permaisuri yang spontan berteriak keras lantaran terkejut dan takut, tidak memahami cara penghormatan seperti itu. Sebagai catatan, dalam hal penyebutan nama asing dalam hal ini Belanda, orang Jawa sering menyebut dan mencatat dengan panggilan tersendiri. Hal ini bisa dilihat misalkan dari penulisan nama pejabat-pejabat Kompeni lainnya di dalam buku Babad tersebut.

Mendengar teriakan itu Cakraningrat III yang tidak menyaksikan apa yang sebenarnya terjadi, spontan bereaksi menikam mati Kapten Kompeni. Segera terjadi perkelahian antara Pangeran beserta putra-putra dan para prajuritnya melawan prajurit-prajurit Kompeni sampai akhirnya Cakraningrat, putra-putra dan para prajuritnya tewas. Kepala Cakraningrat III di potong dipisahkan dari tubuhnya dan dibawa ke Surabaya, sedangkan tubuhnya dibuang ke laut sehingga seperti halnya Trunajaya, tidak ada makamnya. Peristiwa tersebut terjadi pada tanggal 16 Oktober 1718 di atas kapal Oegstgeest.

eristiwa itu membuat sedih Sunan Pakubuwono I, karena Mataram sedang membutuhkan bantuan Madura untuk mengatasi pemberontakan Adipati Surabaya yang telah berhasil mengalahkan pasukan gabungan Mataram dan Kompeni. Dengan segera Sunan menobatkan Raden Jurit menggantikan abangnya menjadi Cakraningrat IV, serta memerintahkan merebut Surabaya bersama sisa-sisa pasukan gabungan Mataram – Kompeni, ditambah bala bantuan dari Banyumas, Dayeuh Luhur, Pamreden, Rema dan lain-lain. Dengan bantuan Cakraningrat IV, akhirnya Amangkurat dan Kompeni berhasil memenangkan peperangan melawan Surabaya (Willem Remmelink, Perang Cina). Foto : Makam Cakraningrat II di Kompleks Makam Raja-Raja Aermata, Arosbaya, Bangkalan, Madura. Kompleks ini penuh dengan seni ukir batu yang sangat rumit tapi indah. (Bersambung).

Leave a comment

Filed under Uncategorized

Pergulatan Cakraningrat – Mataram – Kompeni (II-2): INTRIK & PEREBUTAN KEKUASAN KRATON MATARAM

Catatan: Seri tulisan ini merupakan Bagian II dari seri tulisan PARA PAHLAWAN NUSANTARA DI AFRIKA SELATAN. Bagian ini dimaksudkan untuk menggali gambaran situasi yang melatarbelakangi mengapa sampai Pangeran Cakraningrat IV dibuang ke Pulau “Penjara” Robben nun jauh di Afsel. Kami berharap para pembaca dan terutama para ahli sejarah, pemerintah dan tokoh-tokoh masyarakat di berbagai daerah di Nusantara, dengan ridho dan berkahNya tergerak untuk menggali sejarah para pahlawan yang dibuang ke Afsel sampai kemudian menjadi tokoh-tokoh yang dimuliakan oleh masyarakat Afsel. Aamiin. B.WIWOHO.

Hubungan Mataram dengan Madura terus berlanjut. Putera mahkota Amangkurat I, Pangeran Adipati Anom sangat kecewa dengan kepemimpinan ayahandanya yang sangat kejam dan semena-mena, yang dengan mudah menghukum mati siapa saja yang bersalah atau tidak berkenan di hati sang raja. Selain itu Adipati Anom juga punya persoalan khusus dengan ayahandanya dalam memperebutkan cinta seorang gadis jelita Rara Oyi.

Adipati Anom kasmaran berat dengan gadis cantik, yang ternyata simpanan sang raja yang berasal dari Surabaya, yang dipelihara oleh menteri dalam Ngabehi Wira Reja, yang bila sudah tiba saat akil baliq dan dewasa akan diserahkan untuk dijadikan selir raja. Pangeran Pekik dan isterinya Ratu Pandan tidak tega melihat cucunya mabok asmara, dan karena itu nekad menikahkan Adipati Anom dengan Roro Oyi. Untuk itu mereka siap berkorban memperoleh hukuman mati dari Sunan.

Peristiwa itu akhirnya diketahui Sunan Amangkurat yang menjadi sangat murka. Pangeran Pekik dan isterinya, yang tiada lain adalah mertua Sunan sendiri, benar-benar dihukum mati, bahkan beserta sanak saudaranya sebanyak emat puluh orang, dibunuh seketika. Demikian pula Ngabehi Wira Reja dan isterinya dibunuh di lain waktu. Sedangkan Adipati Anom dipaksa untuk membunuh Rara Oyi dengan tangannya sendiri. Sesudah itu ia diusir ke Lipura dan harta kekayaannya di kadipaten dijarah-rayah. Semenjak itu kekejaman Sunan semakin menjadi-jadi dan kemaksiatan di kerajaan merajalela.

Pangeran Adipati Anom berencana menghentikan suasana kacau tersebut dengan meminta dukungan kekuatan dan pasukan dari Pangeran Kajoran, yang selanjutnya menugaskan menantunya, Pangeran Trunajaya untuk membantu Adipati Anom. Trunajaya adalah putera Demang Mlayakusuma, putera Cakraningrat I yang tewas saat memadamkan pemberontakan Pangeran Alit.

Segera Trunajaya kembali ke Madura menyusun kekuatan, bersekutu dengan duaribu orang pelarian dari Makassar yang dipimpin Karaeng Galesong yang pada saat bersamaan tiba di Jawa. Pasukan gabungan ini mengamuk dan merebut wilayah-wilayah pesisir dan Timur, termasuk kekuasaan paman Trunajaya sendiri, Cakraningrat II, serta mengasingkan pamannya itu ke tengah hutan belantara Lodaya di Kediri. Di kemudian hari Cakraningrat II berhasil selamat dan bertemu kembali dengan Adipati Anom yang sudah dinobatkan menjadi Amangkurat II.

Dalam menghadapi serbuan Trunajaya, untuk pertama kali Amangkurat I melibatkan pasukan Kompeni yang sudah menancapkan kuku kekuasaannya di Jepara, yang memiliki satu brigade pasukan bersenjata lengkap. Perintah Sunan kepada utusannya, Raden Prawira Taruna, Kompeni harus bersedia membantu Mataram dan apabila tidak bersedia harus pergi meninggalkan Jepara. Perintah atau permintaan ini tentu saja disambut gembira oleh Kompeni, yang merasa memperoleh jalan untuk ikut campur dalam politik kekuasaan dengan memiliki akses ke Sunan.

Perang besar pun meledak tak terelakkan. Sungguh tepat ungkapan yang menggambarkan orang-orang yang terlibat perang bagaikan orang-orang yang haus darah. Perang yang terlanjur berkobar tak mudah membedakan teman atau saudara. Jika semula perang ini dimaksudkan sebagai sandiwara dan tekanan kepada Sunan, tapi dinamika di lapangan dan bau amis darah, menjadikannya perang sungguhan yang merenggut ribuan jiwa serta semakin menyulut emosi sekaligus ambisi untuk melumat lawan dan merebut kekuasaan atas wilayah demi wilayah yang ditaklukkan, sampai akhirnya ibukota Mataram berhasil direbut dan dikuasai Trunajaya tahun 1677. Sunan dan putera-puteranya termasuk Adipati Anom melarikan diri, dan wafat di dusun Pasiraman, Banyumas. Jenazahnya dimakamkan di Tegal. Foto suasana pemakaman Lemah Duwur di Bangkalan, cikal bakal dan leluhur Dinasti Cakraningrat. (Bersambung).

2 Comments

Filed under Uncategorized

Pergulatan Cakraningrat – Mataram – Kompeni (II-1) : BERMULA DARI SULTAN AGUNG

Catatan: Seri tulisan ini merupakan Bagian II dari seri tulisan PARA PAHLAWAN NUSANTARA DI AFRIKA SELATAN. Bagian ini dimaksudkan untuk menggali gambaran situasi yang melatarbelakangi mengapa sampai Pangeran Cakraningrat IV dibuang ke Pulau “Penjara” Robben nun jauh di Afsel. Kami berharap para pembaca dan terutama para ahli sejarah, pemerintah dan tokoh-tokoh masyarakat di berbagai daerah di Nusantara lainnya, dengan ridho dan berkahNya tergerak untuk menggali sejarah para pahlawan daerah-daerah lain yang juga dibuang ke Afsel sampai kemudian menjadi tokoh-tokoh yang dimuliakan oleh masyarakat Afsel. Aamiin. B.WIWOHO.

Perlawanan dan pemberontakan Pangeran Cakraningrat IV dari Madura sehingga mengakibatkan ia dibuang ke Pulau “Penjara” Robben di Afrika Selatan, adalah satu dari puluhan atau bahkan mungkin lebih pergulatan politik dan kekuasaan yang penuh intrik serta ganas di lingkungan dalam kerajaan Mataram dan Kartasura, yang melibatkan Kompeni Belanda.

Intrik dan pergulatan politik itu tak peduli apakah ada hubungan darah antara ayah dan anak, suami-isteri, saudara kandung, mertua dan punggawa terkasih, bisa membawa risiko dari mulai yang paling ringan berupa denda sampai hukuman mati seketika, atau bertarung dengan harimau.

Bagi pangeran-pangeran pemberontak yang masih keluarga dekat raja dan pejabat-pejabat yang tinggi tingkatannya, oleh Kompeni diupayakan memperoleh hukuman pembuangan, dengan alasan antara lain untuk disimpan sebagai jago aduan yang sewaktu-waktu bisa kembali diturunkan ke gelanggang. Daerah pembuangan dipilih mulai dari pantai Ayah di Banyumas sampai ke Batavia bahkan Tanjung Harapan di Afrika Selatan dan Srilanka.

Untuk yang ke Batavia dan luar Jawa biasanya membutuhkan pertolongan Kompeni, dan apabila itu terkait langsung dengan ancaman terhadap kekuasaan raja, maka raja harus menanggung biaya pengiriman pembuangan.

Pergulatan kekuasan yang keras dimulai semenjak masa pemerintahan putera Sultan Agung, yaitu Amangkurat I yang terus berlangsung setidaknya sampai dengan Pakubuwana III. Pergulatan semakin seru dan kompleks, tatkala Kompeni Belanda mulai merapat ke Amangkurat I, selanjutnya memperoleh legalitas resmi dari Pangeran Adipati Anom yang kemudian dikukuhkan menjadi Amangkurat II, dan semakin kokoh di masa Pangeran Puger berjuang merebut tahta kerajaan dan dinobatkan sebagai Susuhunan Pakubuwana I.

Pergulatan yang seru dan kompleks tersebut bagai bandul jam yang satu saat mengayun ke kiri dan pada saat yang lain mengayun ke kanan. Satu saat antara raja dan para pangeran, satu saat lain antara para pangeran dengan Kompeni dan satu saat yang lain pula antara raja dengan Kompeni, tetapi yang terakhir ini tidak berlangsung terbuka, apalagi berkobar menjadi peperangan antara raja dan Kompeni.

Pertalian erat bahkan kekeluargaan antara Madura dan kerajaan Jawa, dalam sejarah sudah tercatat semenjak Kerajaan Singasari di abad 12 – 13, berlanjut ke Kerajaan Majapahit dan Kerajaan Islam Demak serta Pajang. Di masa kerajaan Islam Demak dan Pajang, kekuasaan politik pemerintahan juga menyebar hampir ke semua wilayah Jawa sampai ke Madura, terutama dalam bentuk jaringan kekuasaan yang dilandasi dengan dakwah dan syiar Isam serta kekerabatan melalui perkawinan. Penguasa Madura, Panembahan Lemah Duwur yang memiliki turunan darah raja Majapahit Brawijaya, dan di kemudian hari menurunkan dinasti Cakraningrat, menikah dengan puteri Sultan Kerajaan Pajang, Hadiwijaya, dengan menjadikannya sebagai permaisuri (DR.H.J.De Graaf, Awal Kebangkitan Mataram dan Menyingkap Tabir Sejarah Kerajaan Madura Barat).

Upaya membangun jaringan politik kekuasan dikokohkan kembali tatkala Sultan Agung dinobatkan menjadi raja Mataram tahun 1613. Ia menancapkan kuku kekuasaannya ke timur sampai ke Madura, sebagai balasan dan serangan balik dari Adipati-Adipati wilayah Timur yang dihimpun dan dipimpin oleh Pangeran Surabaya. Serbuan dari Timur itu berkat ketajaman analisa intelijen yang tepat beserta operasi penyesatan informasi, bisa di tahan di wilayah Pajang (Surakarta), diisolasi oleh pasukan Mataram sehingga kehabisan logistik baru dipukul mundur.

Delapan bulan kemudian setelah membuat persiapan yang matang, Mataram mengirim serbuan balasan ke Timur dari darat dan laut, merambah satu demi satu ke kadipaten-kadipaten wilayah Timur, mulai dari Tuban, Surabaya, Madura sampai Blambangan. Dengan bantuan pasukan telik sandi yang handal, pasukan Sultan Agung, mengisolasi ketat pasukan lawan sehingga dengan mudah dapat dikalahkan. Satu-satunya daerah yang sulit dikalahkan adalah Madura yang dipimpin oleh Pangeran Mas.

Pangeran Mas adalah adik dari Pangeran Koro atau Pangeran Tengah yang wafat pada tahun 1621. Ia menjabat sebagai wali Raden Prasena, putera Pangeran Koro yang masih kanak-kanak. Di masa pemerintahan Pangeran Mas selama 1621 – 1624 itulah Pasukan Sultan Agung dua kali menyerbu Madura. Serbuan pertama dapat dipukul balik, tapi serbuan kedua yang mengerahkan sekitar 50.000 balatentara, tak bisa dibendung oleh 2.000 pasukan Madura yang dibantu oleh laskar wanita baik isteri, saudara maupun anak dari pasukan utama. Kraton Kadipaten Madura di Arosbaya pada tahun 1624 itu berhasil diduduki Pasukan Mataram, Pangeran Mas mengungsi ke Giri di Gresik. Seribu anggota pasukan Madura yang masih tersisa bersama putera mahkota Raden Prasena yang masih kanak-kanak diboyong ke ibukota Mataram.

Dalam menundukkan wilayah-wilayah di sekitarnya, Sultan Agung tidak melakukan politik bumi hangus dan tumpas habis, melainkan merangkul pangeran-pangeran yang menyerah, untuk kemudian dibawa ke ibukota Mataram dan diangkat sebagai kerabat ataupun orang kepercayaan.

Hal itu diterapkan pula terhadap Surabaya dan Madura. Pangeran Pekik dari Surabaya kelak menjadi besan Sultan Agung bagi putera mahkotanya, sementara Raden Prasena bahkan tumbuh dewasa di Mataram menjadi putera angkat kesayangan Sultan dan kemudian dinikahkan dengan adik kandung Sultan serta diberikan berbagai kemudahan untuk mendirikan kerajaan di Madura. Ia dianugerahi berbagai kelengkapan kebesaran kerajaan termasuk uang dan dinobatkan sebagai Adipati untuk Madura dengan gelar Cakraningrat I.

Pada masa pemerintahannya, Sultan Agung menghabiskan banyak waktu, biaya dan pasukan untuk menyerbu Belanda di Batavia dari berbagai penjuru. Sebagai akibatnya ia membutuhkan pendampingan dari Cakraningrat dan kedua orang puteranya, yaitu putera sulung Raden Ario Atmojonegoro dan adiknya Demang Mloyokusumo, sehingga ketiga orang ini menjadi kepercayaan Sultan yang justru lebih banyak berada di kerajaan Mataram dibanding di Madura.

Kedekatan dan kesetiaan mereka bertiga kepada Sultan Agung dibuktikan dengan mengamankan putera mahkota yang ditunjuk menggantikan menjadi raja apabila Sultan Agung wafat. Penobatan putera mahkota menjadi Sunan Amangkurat I ini mendapatkan perlawanan dan pemberontakan dari adiknya, Pangeran Alit beserta para pendukungnya.

Cakraningrat turun tangan memadamkan pemberontakan dan berhasil, namun ia tewas dibunuh oleh Pangeran Alit. Demikian pula kedua putera Cakraningrat yang mendampingi dan membantu ayahnya. Sebagai penghormatan, jenazah Cakraningrat dan putera sulungnya dimakamkan di Pemakaman Raja-Raja Mataram Imogiri, berdekatan dengan makam Sultan Agung, yang merupakan lokasi utama kompleks pemakaman agung itu. Sedangkan jenazah putera satunya, Demang Mlayakusuma di makamkan di Madura di Kompleks Makam Raja-Raja Madura di Aermata, Arosbaya, Bangkalan.

Foto : Penulis bersama sahabat-sahabat Prof Gunawan Sumodiningrat dan Prof Tjuk Kasturi Sukiadi, mengenakan pakaian adat Jawa Surakarta, berfoto sebelum berziarah ke makan Sultan Agung dan Pangeran Cakraningrat I di Kompleks Pemakaman Raja-Raja Mataram di Imogiri, Yogyakarta. Di depan gapura kompleks makam, peziarah harus mengesetkan yaitu menginjak-injak seraya menggesek-gesekan seperti orang membersihkan kaki, di lantai yang konon dimakamkan kepala pengkhianat Mataram yang memihak Kompeni Belanda. Sebuah simbol yang dalam dan luas maknanya. Semoga bangsa Indonesia bisa menghayati dan mengambil hikmahnya. Aamiin. (Bersambung).

Leave a comment

Filed under Uncategorized

Catatan Kritis 27 th Bergulat dalam : Pembauran, Bahaya Dominasi Minoritas dan Kesenjangan Sosial Ekonomi

Pengantar:

Tak terasa tanggal 9 April 2018 ini usia Yayasan Haji Karim Oei, yaitu sebuah lembaga non pemerintah yang bergerak di bidang pembauran bangsa telah berusia 27 tahun. Banyak suka duka yang kami lalui yang semuanya kami tuangkan dalam sebuah buku berjudul “RUMAH BAGI MUSLIM, INDONESIA DAN KETURUNAN TIONGHOA”, yang kami luncurkan awal Oktober 2016 yang lalu. Tulisan ini adalah pengantar atas buku tersebut, yang sekaligus juga merupakan renungan dan pengingat keadaan, yang tak bosan kami kemukakan semenjak April 1997, yang nampaknya justru sangat relevan dengan keadaan tahun 2018 sekarang. Semoga dengan ini, kita bisa mengambil langkah-langkah antisipasi keadaan yang tepat demi terwujudnya pembauran, kesatuan dan persatuan Indonesia nan jaya raya. Aamiin. B.WIWOHO.

Masalah kesenjangan sosial ekonomi di Indonesia, nampaknya dalam waktu dekat belum akan reda, apalagi teratasi. Jika pada tahun 1990-an indeks kesenjangan yang dikenal sebagai gini ratio itu ada di sekitar angka 0,3 sampai 0,33 kini semakin memburuk menjadi di atas 0,43.

Pada akhir dasa warsa 1980-an sampai awal 1990-an, sentimen rasial akibat kesenjangan tersebut sangat terasa, sehingga berbagai upaya untuk mengatasinya gencar dilakukan oleh Pemerintah dan tokoh-tokoh masyarakat ada periode itu misalkan, Presiden Soeharto menggariskan kebijakan delapan jalur pemerataan, serta beberapa kali mengadakan pertemuan dengan para konglomerat keturunan Cina, yang kemudian dikenal sebagai pertemuan Tapos. Juga dilancarkan kebijakan untuk menggunakan sekitar 5% keuntungan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) buat membantu pengembangan usaha kecil dan koperasi, kebijakan bapak angkat dengan anak angkat di bidang usaha serta tambahan pungutan terhadap wajib pajak menengah atas untuk masyarakat tidak mampu.

Di kalangan masyarakat, Pimpinan Pusat Muhammadiyah yang dimotori oleh Wakil Ketua Umum, Lukman Harun, merangkul sejumlah tokoh Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM), media massa dan tokoh pembauran antara lain Junus Jahja, menyelenggarakan berbagai dialog dan kerjasama dengan pengusaha-pengusaha ke- turunan Cina, untuk bersama-sama mencari jalan keluar demi mewujudkan persatuan dan kehidupan berbangsa serta bernegara yang aman, tenteram, damai sejahtera.

Rangkaian pertemuan tersebut mengilhami sejumlah tokoh dari NU, Muhammadiyah, Al – Wasliyah, HMI, KAHMI, Al. Irsyad dan LSM untuk kemudian pada tanggal 9 April 1991 mendirikan Yayasan Haji Karim Oei Tjeng Hien, yang selanjutnya disingkat Yayasan Karim Oei atau YHKO, sebuah nama yang kental dengan nuansa Islam, Indonesia dan Cina sekaligus. Ini sejalan dengan alasan utama pendirian, yakni mewujudkan persatuan dan kesatuan bangsa melalui pembauran bisnis dan agama, terutama agama mayoritas masyarakat yaitu Islam. Para pendiri meyakini, memperkuat kehidupan sosial ekonomi masyarakat pribumi juga harus dilaksanakan secara sistemis dan keberpihakan yang nyata, kuat tapi sehat, karena pribumi yang kuat akan menjadi kunci utama bagi pembauran. Three in One (3 in 1), tiga dalam satu wadah, satu gerakan, satu perjuangan. Begitu kami sering menyebutnya.

Tak terasa, kini sudah 25 (dua puluh lima) tahun usia YHKO. Banyak dari 20 pendiri dan perintisnya yang kini sudah almarhum, uzur atau sepuh, dan hanya sekitar 3 sampai 7 orang saja yang masih aktif. Demikian pula para sahabat pendukung termasuk para pejabat tinggi negara.

Alhamdulillah selama 25 tahun, telah banyak kegiatan yang dilaksanakan dan lebih dari seribu lima ratus orang yang sudah kita bantu memeluk agama Islam. Pelbagai kegiatan yang terkait dengan 3 in 1 tadi, baik yang berskala lokal atau internal, nasional maupun internasional telah kami selenggarakan, secara sendiri atau pun bekerjasama dengan lembaga-lembaga lain. YHKO telah dan akan selalu memperjuangkan agar bisa menjadi rumah yang indah lagi nyaman bagi segenap anak bangsa, terutama bagi WNI keturunan Cina, dan lebih khusus agar menjadi muslimin dan muslimat yang taat, nasionalis sejati yang sukses dalam kehidupan sosial ekonominya.

ASING – ASENG MEREBAK KEMBALI.

Bersamaan dengan kelahiran YHKO, tata kehidupan dunia juga mengalami perubahan yang semakin mencolok. Semenjak akhir abad ke 20, sebagai dampak berpadunya kekuatan modal dengan kemajuan ilmu-teknologi yang super canggih, terjadi Gelombang Globalisasi yang mengumandangkan musik jiwa yang menggalang alam pikiran manusia, untuk terpadu secara total pada dimensi rasionalitas yang memuja pesona dunia melalui kebutuhan- kebutuhan palsu yang menyihir.

Dimensi rasionalitas yang ditata dalam tiga sistem utama yakni sistem pasar bebas, sistem sosial politik demokratis yang individualis dan sistem sosial budaya yang lepas bebas, sudah mulai kita rasakan dampaknya dengan berkembangnya sikap dan gaya hidup masyarakat yang hedonis, individualis, pragmatis, materialis dan narsis.

Musik jiwa dimensi rasionalitas dengan 3 (tiga) paket sistem utama tersebut, menyerbu secara dahsyat negara-negara bangsa, diantaranya menggempur secara langsung peradaban sesuatu bangsa termasuk Indonesia, terutama pada aspek nasionalisme, sosial budaya, kearifan lokal, adat dan tradisi, agama serta spiritualisme. Dalam hal nasionalisme, Gelombang Globalisasi berusaha melunturkan serta mendangkalkan nilai dan semangat nasionalisme sesuatu bangsa atau negara, mengobarkan separatisme dan disintegrasi, memecah-belah, menghancurkan militansi rakyat, menciptakan kesenjangan sosial ekonomi serta menyuburkan konflik horizontal dan vertikal.

Dalam aspek sosial budaya, Gelombang Globalisasi menggelora- kan sex bebas dan sex sejenis dengan apa yang sekarang kita kenal sebagai LGBT (Lesbian, Gay, Bisex dan Transexual), mengobarkan budaya hidup yang hedonistis-individualistis, pragamatis-mate- rialitis dan narsis, merusak dan menghancurkan bangunan tata nilai keluarga – kebersamaan – gotong-royong, merusak serta meng- hancurkan moral masyarakat, kebudayaan, adat, tradisi dan ke- arifan lokal,

Dalam aspek agama dan spiritualisme, Gelombang Globalisasi mendangkalkan dan menghancurkan nilai-nilai moral spiritual dan kesalehan yang hakiki, melibas tradisi dan kearifan lokal yang memperkuat spiritualisme dan agama, menciptakan dan mengembangkan aliran-aliran sesat, mengembangkan sekularisme dan secara khusus melakukan deislamisasi terhadap pemeluk agama terbesar dan militan ini.

Gempuran dahsyat tersebut kini sudah bisa kita lihat pada pola pikir, perilaku, gaya hidup dan bahkan peradaban masyarakat. Nampak jelas, masyarakat Indonesia kini sedang mabok dalam alunan musik jiwa yang pragmatis, hedonis, individualis, materialis dan narsis. Kita mulai berubah menjadi masyarakat yang sangat egois, yang memuja diri sendiri, yang menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuan, khususnya agar bisa “berkuasa dan kaya dalam tempo yang sesingkat-singkatnya dengan segala cara.” Hidup kita menjadi boros, keras lagi mementingkan diri sendiri. Menjadikan kesalehan hanya sekedar sebagai formalitas.

Pola hidup masyarakat sedang berkembang pesat ke pola hidup yang sangat konsumtif berlebihan, serba mewah dan gemerlap, sehingga menjadikan negeri kita senantiasa defisit dalam neraca pembiayan dan perdagangan luar negerinya. Kita telah menjadi bangsa yang tekor lantaran pola hidup kita. Cobalah perhatikan barang-barang kebutuhan kita sehari-hari, mulai dari bahan pangan yang sangat sederhana seperti garam sampai dengan peralatan elektronik yang canggih, sebagian besar berasal dari impor. Demikian pula penguasaan sumber daya alam, seperti minyak dan gas bumi, mineral dan emas, hutan dan kebun kelapa sawit bahkan air minum dalam kemasan, pabrik semen, rokok dan toko-toko kelontong dan bahan pokok, juga dikuasai oleh modal asing atau pengusaha besar yang bekerjasama dengan asing. Sementara rakyat di sekitarnya tetap miskin.

Tak pelak lagi, kesenjangan sosial ekonomi kembali merebak bahkan semakin melebar, sebagaimana ditunjukkan oleh indeks kesenjangan di atas tadi, yang mendekati tanda bahaya. Suhariyanto, Deputi Bidang Neraca dan Analisa Statistik BPS, dalam diskusi dengan para pemimpin redaksi media massa April 2014 menjelas- kan, angka ketimpangan sosial ekonomi Indonesia saat ini ter- cermin secara nyata dalam gini ratio Indonesia yang tidak membaik sejak 2011 silam, yang berada di level 0,41.

Rasio gini berada di angka 0 hingga 1, yang dalam pengertian awam mencerminkan seberapa besar porsi orang kaya menikmati kue ekonomi nasional. Semakin besar gini rasio, semakin besar tingkat ketimpangan.

Gini rasio hingga 0,3 dianggap masih aman, tetapi 0,4 hingga 0,6 sudah dianggap lampu kuning, sedangkan lebih dari 0,6 adalah rasio yang berbahaya, yang menunjukkan ketimpangan sosial ekonomi tak lagi bisa ditoleransi. Kondisi gini rasio yang masih relatif “hijau” terjadi hingga tahun 2010, di mana posisinya masih di angka 0,38. Di era Orde Baru, gini rasio berkisar 0,31-0,38.

Data BPS juga mengindikasikan kondisi ketimpangan sosial ekonomi yang makin melebar, jika dikonfrontasikan dengan laju pertumbuhan ekonomi yang mencapai 5%-6% dalam beberapa tahun terakhir. Kelompok kaya lebih mendapatkan manfaat dari pertumbuhan ekonomi tersebut. Pada 2008, 40% penduduk di kelompok pendapatan terendah masih menikmati PDB antara 21%- 23%. Namun porsi itu anjlok menjadi hanya 16% pada 2012.

Sebaliknya, 20% penduduk terkaya, yang pada 2008 sudah menikmati 40% produk domestik bruto atau kue ekonomi nasional, melonjak menjadi penikmat 49% kue ekonomi nasional pada 2012.

Ini terjadi, karena dari rata-rata laju pertumbuhan ekonomi 6%, penduduk miskin hanya menikmati kenaikan pendapatan maksimal 2% per tahun. Sebaliknya penduduk terkaya menikmati kenaikan pendapatan hingga 8%. Artinya kenaikan pendapatan penduduk yang kaya melonjak signifikan, sedangkan penduduk miskin meski pendapatannya naik tetapi tidak besar. (http://finansial.bisnis.com/ read/20140419/9/220506/kesenjangan-kaya-miskin-vs-indeks-kebahagiaan-biar- timpang-asal-bahagia). Kesenjangan tersebut semakin mengkuatirkan jika kita menyimak laporan World Bank (Harian Kompas 8 Desember 2015) yang menyatakan 1% keluarga terkaya di Indonesia menguasai 50,3% kekayaan nasional. Ini berarti sebagian besar yaitu 99% keluarga Indonesia berebut kue nasional yang 49.7% . (catatan tambahan per Januari 2017).

Ironisnya, di negeri kita tercinta Indonesia ini, yang justru memprihatinkan, kelompok-kelompok yang paling menikmati sumber daya alam dan kue pembangunan, adalah kelompok yang oleh berbagai media massa terutama media sosial yang sangat luas jaringan dan jangkauannya, dicirikan dan disebut Asing–Aseng, yang tiada lain adalah orang-orang asing dan WNI keturunan Cina, yang secara kebetulan dalam keyakinan beragama juga banyak berbeda dengan mayoritas penduduk.

Jadi berbeda dengan kaum minoritas di banyak negara lain yang hanya mengandung satu unsur minoritas misalnya suku/ras saja atau hanya agama saja, di Indonesia tidak demikian halnya. Mereka mengumpulkan dua unsur minoritas sekaligus yaitu suku/ras dan agama, sehingga dengan demikian potensi kerawanan sosialnya jauh lebih besar.

Posisi strategis Asing – Aseng khususnya WNI keturunan Cina yang non muslim pada kegiatan ekonomi, dalam praktek kehidupan adalah merupakan kekuasaan potensial dan aktual, yang selanjutnya mudah merambah ke penguasaan sumber daya alam, penguasaan media massa kemudian ke politik dan pemerintahan dan lain sebagainya, yang apabila tidak diatasi secara sistemis strategis, maka akan menjadi gurita kekuasaan yang mendominasi. Padahal dominasi hanya akan melahirkan pertentangan. Cepat atau lambat, dominasi akan membangkitkan perlawanan.

Demi ikut mewujudkan persatuan dan keharmonisan nasional antara lain dengan mengantisipasi dan mengatasi kesenjangan sosial ekonomi yang menajam, serta dominasi kekuasaan yang berbasis ekonomi yang diwarnai dengan perbedaan SARA (Suku Agama Ras dan Antar Golongan) tersebutlah maka Yayasan Haji Karim Oei (YHKO) pada tahun 1991 didirikan.

Dalam berbagai kesempatan, para pendiri YHKO disamping berusaha keras mewujudkan pembauran, juga berkeyakinan dan oleh sebab itu selalu menyatakan bahwa Indonesia harus memiliki pribumi yang kuat, karena pribumi yang kuat merupakan kunci pembauran. Untuk itu pula Pemerintah harus memiliki serta melaksanakan kebijakan strategis yang menyeluruh dan terpadu, bukan hanya bersifat tambal sulam, emosional, dan manipulatif, serta tidak pernah menyentuh persoalan utama yakni penguasaan modal yang menyebabkan peta kompetisi menjadi sangat tidak seimbang. Yang juga tidak kalah penting, adalah secara sungguh- sungguh tidak pandang bulu, memberantas KKN (Korupsi – Kolusi – Nepotisme).

KEJAYAAN & KEHANCURAN PERADABAN.

Para pendiri Yayasan Karim Oei memahami sejarah panjang dunia termasuk Indonesia, yang mengajarkan adanya siklus kejajayaan dan kehancuran nan silih berganti tanpa henti akibat bencana alam, perang dengan negara lain, perang saudara ataupun karena pergolakan-pergolakan di dalam negara bahkan juga akibat kemerosotan peradabannya. Demikian pula sejarah Nusantara.

Sejumlah peninggalan sejarah di Indonesia membuktikan pernah berlangsungnya peradaban tinggi misalkan sejumlah candi di pegunungan tinggi Dieng, candi Borobudur, puluhan candi di Prambanan dan puing-puing rerentuhan Keraton Boko, semuanya di Jawa Tengah. Sementara itu sejumlah candi serta bukti peninggalan peradaban yang sudah maju lainnya, juga terdapat di berbagai pelosok Nusantara.

Di bidang pelayaran dan perdagangan, beberapa sumber tulisan dari Barat sebagaimana dikutip Agus Sunyoto dalam Atlas Walisongo, Pustaka IIMaN, Trans Pustaka dan LTN PBNU, 2012, menyatakan pada tahun 70-an Masehi, cengkih dari kepulauan Maluku sudah diperdagangkan di Roma, dan semenjak abad ketiga Masehi, perahu-perahu dari kepulauan Nusantara telah menyinggahi anak benua India serta pantai timur Afrika, dan sebagian di antaranya bermigrasi ke Madagaskar.

Bukan hanya dari para pencatat perjalanan orang-orang Barat saja, kisah pelayaran tadi juga bisa ditemukan di relief Candi Borobudur. Pada tahun 2003, pengrajin kapal dari Madura telah membuktikan kehandalan perahu di relief candi tersebut, dengan membuat tiruannya, sekaligus napaktilas pelayarannya. Kapal yang dinamai “Samudraraksa” ini berlayar ke Afrika dengan selamat dan kini disimpan di Musium Kapal Samudraraksa di Borobudur. (http:// http://www.tempo.co/read/news/2003/07/03/05521575/Ekspedisi-Kapal-Borobudur- Dapat -Memberdayakan – Budaya dan http://setuparch.blogspot.com/2013/09/ kapal – kapal-sriwijaya.html ). Replika berikutnya diberi nama “Spirit of Majapahit”, diluncurkan menuju Jepang dari dermaga Marina, Jakarta pada 4 Juli 2010. (http://www.jpnn.com/index.php?mib=berita.detail&id=67324).

Pencatat sejarah China anak buah Fa Hsien di akhir abad III dan awal abad IV Masehi menerangkan pula bahwa pelaut-pelaut Nusantara memiliki kapal-kapal besar yang panjangnya sekitar 200 kaki (65 meter), tinggi 20 – 30 kaki (7 – 10 meter) dan mampu dimuati 600 – 700 orang ditambah muatan seberat 10.000 hou. Sementara pada masa itu panjang jung China tidak sampai 100 kaki (30 meter) dengan tinggi kurang dari 10 – 20 kaki (3 – 7 meter). Catatan yang ditulis dalam Tu Kiu Kie ini telah dikutip oleh banyak ahli yang mempelajari sejarah agama Buddha maupun Asia Tenggara di masa lalu.

Ahli Javanologi Belanda, Van Hien tahun 1920 dalam De Javansche Geestenwereld, yang disadur secara bebas oleh Capt. R.P. Suyono dalam Dunia Mistik Orang Jawa, penerbit LkiS Yogyakarta 2007 halaman 12, menerangkan Shi Fa Hian (Fa Hsien) dalam perjalanannya pulang ke China diserang badai dan terdampar di pantai Jawa. Ia berdiam lima bulan di Jawa, menunggu selesainya pembuatan sebuah kapal besar yang sama dengan kapalnya yang rusak dihantam badai (juga Atlas Walisongo halaman 20).

Berbagai catatan sejarah menyatakan, pada sekitar abad VII – XII Masehi, di pulau Sumatera juga berlangsung pemerintahan Kerajaan Sriwijaya yang kekuasaannya meliputi Asia Tenggara termasuk pulau Jawa. Puncak kejayaan Sriwijaya terjadi pada abad VIII. Sejarawan S.Q. Fatimi menyebutkan bahwa pada tahun 100 Hijriyah (718 M), seorang maharaja Sriwijaya (diperkirakan adalah Sri Indrawarman) mengirimkan sepucuk surat kepada Khalifah Umar bin Abdul Aziz dari Kekhalifahan Umayyah, yang berisi permintaan kepada khalifah untuk mengirimkan ulama yangdapat menjelaskan ajaran dan hukum Islam kepadanya.

Surat itu dikutip dalam Al-‘Iqd Al-Farid karya Ibnu Abdu Rabbih (sastrawan Kordoba, Spanyol), dan dengan redaksi sedikit berbeda dalam Al-Nujum Az-Zahirah fi Muluk Misr wa Al-Qahirah karya Ibnu Tagribirdi (sastrawan Kairo, Mesir” Dari Raja sekalian para raja yang juga adalah keturunan ribuan raja, yang isterinya pun adalah cucu dari ribuan raja, yang kebun binatangnya dipenuhi ribuan gajah, yang wilayah kekuasaannya terdiri dari dua sungai yang mengairi tanaman lidah buaya, rempah wangi, pala, dan jeruk nipis, yang aroma harumnya menyebar hingga 12 mil. Kepada Raja Arab yang tidak menyembah tuhan-tuhan lain selain Allah. Aku telah mengirimkan kepadamu bingkisan yang tak seberapa sebagai tanda persahabatan. Kuharap engkau sudi mengutus seseorang untuk menjelaskan ajaran Islam dan segala hukum-hukumnya kepadaku.” (Surat Maharaja Sriwijaya kepada Khalifah Umar bin Abdul Aziz. http://id.wikipedia.org/wiki/Sriwijaya, 1 Mei 2015 pukul 18.45 ).

Bukti tentang peradaban yang cukup maju lainnya ditemukan pula melalui berbagai prasasti dan kondisi lapangan, yang men- jelaskan mengenai setidaknya ada lima sistem irigasi yang tertata baik, yang dibangun pada rentang periode abad 9 sampai 14 di lembah Sungai Brantas, Jawa Timur (1000 Tahun Nusantara, Kompas 2000, hal 128).

Pun demikian kondisi pada sekitar abad XV – XVI, tatkala para ulama gencar berdakwah ke Nusantara. Pamor Kerajaan Nusantara Majapahit yang beribukota di Trowulan, Jawa Timur, memang sedang memudar, bahkan kekuasaannya mulai runtuh. Meskipun demikian gambaran kebesaran peradabannya dicatat oleh pengembara Portugis tahun 1512 – 1515 Tome Pires dalam karyanya yang sangat terkenal dan sering menjadi sumber rujukan sejarah Asia Tenggara, Suma Oriental (dalam Pemugaran Persada Sejarah Leluhur Majapahit oleh Prof. Dr. Slamet Mulyana, Inti Idayu Press, Jakarta 1983 halaman 282, 283 dan seterusnya). Menurut Tome Pires, Sultan Malaka yang bergelar Raja Muzaffar Syah (1450 – 1458) serta puteranya yaitu Raja Mansyur Syah (1458 – 1477), sebagai raja bawahan Jawa, memiliki hubungan yang baik dengan Jawa. Bahkan untuk keperluan menunaikan ibadah haji ke Mekah, Raja Mansyur Syah memesan jung besar dari Jawa.

Demikianlah, dari sekilas gambaran tadi kita bisa mempelajari siklus kejajayaan dan kehancuran negeri kita di masa lampau sampai menjadi negara modern Indonesia sekarang ini, yang sudah barang tentu memakan korban yang tidak sedikit. Kita tidak ingin kesenjangan sosial ekonomi yang disertai unsur-unsur SARA menerpa Indonesia yang sekarang, yang sedang mengalami ledakan penduduk menjadi sekitar 250 juta jiwa ini. Harus kita syukuri, telah banyak kemajuan dan hal-hal postif yang kita capai. Namun begitu masih banyak lagi tantangan dan ancaman di depan mata yang kita hadapi, yang semoga dengan ridho dan berkah Tuhan Yang Maha Kuasa, akan kita atasi dengan kerja keras, cepat dan tepat.

Kenyataan yang menuntut antisipasi penanganan yang cepat dan tepat tersebut, mendorong Rapat Badan Pembina dan Pengurus Karim Oei akhir 2015 yang lalu, untuk meningkatkan sumbangsihnya dengan antara lain menerbitkan buku, yang kemudian kami beri judul : “Yayasan H Karim Oei & Masjid Lautze : RUMAH BAGI MUSLIM, INDONESIA dan KETURUNAN TIONGHOA.”, sekaligus mensyukuri ulang tahun YHKO yang ke 25 (duapuluh lima), pada tanggal 9 April 2016. (Pengantar buku: Yayasan H.Karim Oei & Masjid Lautze : RUMAH BAGI MUSLIM, INDONESIA & KETURUNAN TIONGHOA, penerbit Teplok Press, telp 081382896969. Yayasan Karim Oei : 0216257413 dan 085717649127)

Leave a comment

Filed under Uncategorized