KOBARKAN PERANG MELAWAN KORUPSI: Korupsi itu Musuh Rakyat, Musuh Bangsa dan Negara

Hari-hari ini kita menyaksikan di berbagai media massa, dua drama sosial kenegaraan yang ironis. Yang pertama, sudah berlangsung lebih satu setengah bulan yaitu Perang Cicak vs Buaya Jilid III. Yang kedua menyusul sekitar seminggu terakhir ini, yaitu Gubernur DKI Jaya Ahok vs DPRD DKI Jaya. Drama pertama menyulut terjadinya demonstrasi karyawan-karyawan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap kebijakan pimpinannya, yang dinilai mengalah terhadap tekanan Kepolisian.
Tak pelak lagi semenjak kemarin sampai hari ini, demonstrasi tersebut memperoleh dukungan yang luar biasa dari media massa dan masyarakat sipil terutama melalui jejaring sosial. Banyak pihak menilai Pemerintahan Presiden Jokowi dalam empat bulan pemerintahannya telah menunjukkan keberpihakan terhadap para koruptor, dengan berbagai kebijakan yang dinilai melemahkan KPK, sehingga dengan demikian telah melanggar janji-janji kampanyenya yang dirumuskan dalam Nawacita.
Bulan April 2014, media massa dan jejaring sosial juga ramai memberitakan kemarahan Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo yang menangkap basah beberapa orang kernet truk menyuap petugas Dinas Perhubungan di Jembatan Timbang Subah, Batang, Minggu 27 April 2014. Menyaksikan perbuatan terkutuk dan hina di depan matanya tersebut, Ganjar yang lembut itu menjadi naik pitam. Kamera wartawan dan rombongan merekam peristiwa tersebut dan menyebarluaskan di berbagai media termasuk Youtube.
Sebelumnya kita juga pernah menyaksikan liputan berita kemarahan yang sama dari Wakil Gubernur DKI Jaya Ahok Basuki Tjahaja Purnama dan Walikota Surabaya Tri Rismaharini. Tetapi apa reaksi masyarakat membaca serta menyaksikan berita-berita tersebut? Cenderung dingin dan mungkin geli. Di media Youtube, tayangan-tayangan kemarahan Ganjar selama dua hari baru dikunjungi tidak lebih dari 6.000 kali, jauh di bawah kunjungan tayangan gosip operasi sabun seorang artis. Seorang kenalan pegawai negeri, bahkan berkomentar enteng, “sial saja tuh orang Perhubungan.”
Sungguh kita tak boleh lelah dan berhenti mengobarkan perang melawan korupsi. Ketika membuka sebuah diskusi di Mesjid Agung Al-Azhar, Jakarta 19 April 1998, yang dihadiri tokoh-tokoh muda yang beberapa hari kemudian menjadi tokoh-tokoh Reformasi antara lain Amin Rais, selaku Pemimpin Umum Majalah Panjimas, saya menembakkan peluru terhadap gaya hidup koruptor, khususnya para pejabat pemerintah yang jauh melebihi kewajaran dan gaji yang diterimanya. (Pengembaraan Batin Orang Jawa di Lorong Kehidupan, penerbit Bina Rena Pariwara, hal 171).
Korupsi dengan praktek-praktek pungutan liar, suap-menyuap, komisi, hadiah dan mark-up telah semakin mempersulit kehidupan masyarakat. Di sektor swasta, korupsi menimbulkan ekonomi biaya tinggi, menurunkan daya saing produk nasional, mempersempit ruang usaha serta lapangan kerja dan pada gilirannya mengakibatkan pengangguran yang kemudian berujung pada kebodohan dan kemiskinan.
Di sektor Pemerintahan khususnya dalam pelayanan publik, bagian porsi anggaran yang benar-benar jatuh ke rakyat semakin mengecil, pembangunan prasarana dan sarana kesehatan, pendidikan, transportasi, pengairan dan berbagai kesejahteraan sosial lainnya makin terabaikan. Akibatnya aneka bencana alam dan wabah penyakit bermunculan.
Korupsi di lingkungan pemerintahan juga mengakibatkan misalokasi dana dan sumber daya alam nasional serta penyimpangan dan penyalahgunaan wewenang, sehingga mengabaikan prinsip-prinsip pembangunan untuk rakyat, bahkan kembali menempatkan Indonesia dalam cengkeraman kapitalisme global yang menggoyahkan sendi-sendi kedaulatan ekonomi nasional.
Korupsi dan kesalahan paradigma pembangunan yang menempatkan sumber daya alam sebagai barang modal bagi pertumbuhan ekonomi semata-mata, juga mengakibatkan lingkungan hidup kita rusak parah, suhu harian meningkat, banjir dan tanah longsor. Karena korupsi maka sumber daya alam kita yang melimpah, mulai berubah dari berkah menjadi kutukan, menimbulkan berbagai azab dan bencana yang susul-menyusul terus beruntun seperti tiada akhir.
Di bidang moral keagamaan, korupsi adalah perbuatan zalim yang dimurkai Tuhan Yang Maha Adil serta merusak moral dan akhlak para pelaku serta siapa saja yang menikmatinya. Oleh karena itu pada tahun 2000 Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengeluarkan fatwa haram terhadap korupsi, termasuk yang lazim disebut risywah atau rasuah atau hadiah atau gratifikasi.
Menanggapi kesan menguatnya perlawanan terhadap pemberantasan kroupsi di satu pihak, dan melemahnya pemberantasan korupsi di lain pihak, kemarin, Selasa 3 Maret 2015, MUI kembali menggelar konperensi pers untuk menegaskan sikap MUI dalam pemberantasan korupsi, diantaranya fatwa hukuman mati untuk koruptor. Wakil Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI), KH Makruf Amin, menegaskan pidana hukuman mati juga bisa dijatuhkan terhadap para koruptor. “Fatwa korupsi sudah banyak kita ada data-datanya dan ayat-ayat mana saja,” kata Makruf dalam konferensi pers tentang fatwa-fatwa MUI mutakhir di Kantor MUI, Jakarta Pusat, Selasa (3/3/2015). Makruf menambahkan, salah satu fatwa untuk para koruptor misalnya menyita semua harta serta hukuman mati. Alasan pelaku kejahatan rasuah dibuat miskin lantaran sudah mengambil uang rakyat.

“Kami sudah ada mengatur hukuman mati dan ada juga dimiskinkan istilahnya,” imbuh dia. Selain itu, dalam fatwa korupsi disebutkan pula jika pejabat menerima hadiah yang bukan haknya dapat dikategorikan perbuatan korupsi. Sebab, lanjut dia, pemberian tersebut merupakan jalan pembuka sebelum tindak pidana korupsi. “Jalan menuju korupsi ialah pemberian hadiah, jadi pejabat terkait dilarang, apalagi korupsi,” katanya. (http://news.okezone.com/read/2015/03/03/337/1113148/mui-keluarkan-fatwa-hukuman-mati-bagi-koruptor).
Menyadari betapa besar dampak negatif korupsi, penulis bersama sejamlah tokoh dan cendekiawan yang tergabung dalam Gerakan Kebangkitan Indonesia Raya (GKIR), langsung melalui tangan sesepuh GKIR, yaitu mantan Wakil Presiden Try Sutrisno, tanggal 5 Oktober 2004, menyerahkan satu bundel pokok-pokok pikiran yang disajikan dalam bentuk kertas polos tanpa kop dan identitas serta disket kepada calon Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Bundel tersebut terdiri dari beberapa artikel antara lain 3 artikel yaitu: (1). Analisa Strategis Masa Depan Pemerintahan Pasca Pilpres 2004; (2). Pokok-Pokok Pikiran Tentang Kabinet Periode 2004 – 2009; (3). 8 Prioritas Pemerintahan Baru Menuju Kebangkitan Indonesia Raya.
Butir kedua dari 8 Prioritas Pemerintahan Baru tersebut adalah Mengakselerasi Pelaksanaan Tata Pemerintahan Yang Amanah Melalui Program Pemberantasan Korupsi Secara Sistematis dan Terpola, Preventif dan Represif, yang terdiri dari 6 langkah utama, yakni: (1) Penataan sistematik untuk menutup berbagai peluang birokrasi yang memungkinkan terjadinya korupsi; (2) Melakukan shock therapy dan deterrent effect yang positif; (3) Menghilangkan hambatan-hambatan prosedural dalam penanganan kasus-kasus korupsi;(4) Membangun dan mengembangkan mekanisme kontrol sosial yang kuat; (5) Mengembangkan budaya dan tata nilai yang mengutamakan prestasi idiil dibanding materiil; (6) Lain-lain tindakan yang memperkuat upaya di atas antara lain law enforcement di bidang perpajakan.
Pokok-pokok pikiran yang disusun oleh berbagai ahli multi disiplin yang berpengalaman termasuk intelijen tersebut, disampaikan dengan tulus dan ikhlas, dan untuk itu GKIR dan Pak Try Sutrisno menolak memberikan usulan calon anggota Kabinet tatkala SBY menawarkannya.
Kini Pemerintahan Presiden SBY yang berlangsung selama 10 tahun sudah beralih ke tangan Presiden Jokowi. Sementara itu korupsi bukan mereda, apalagi terbasmi. Justru orang-orang dekat SBY serta tokoh-tokoh elit nasional dan daerah, satu persatu masuk penjara karena korupsi, dengan besaran korupsi yang semakin fantastis. Semua itu tentu tidak bisa disalahkan sepenuhnya kepada SBY, dan juga Jokowi sekarang ini. Kita semua bertanggungjawab, karena kita selama ini bersikap permisif dan toleran terhadap korupsi dan para koruptornya, bahkan tidak jarang memberikan predikat dermawan kepada mereka.
Marilah kita pahami dan sadari bahaya korupsi yang akan menggilas, menghancurkan serta melumat masa depan anak cucu kita. Marilah kita bertekad untuk memerangi korupsi, mulai dari diri kita sendiri, misalkan jangan ikut-ikutan jadi koruptor atau membantu koruptor, jangan berpesta dengan koruptor dan sejalan dengan kode etik kehormatan Akademi Militer Amerika Serikat di West Point yang berbunyi, “ a cadet will not lie, cheat, steal or tolerate those who do,” maka jangan sedikitpun bersikap toleran terhadap korupsi, para koruptor dan hadiah atau pun sumbangan dari mereka, apalagi untuk membangun parasana dan sarana ibadah. Semoga. (B.Wiwoho, tulisan ini diperbarui dari tulisan 30 April 2014).

Leave a comment

Filed under Uncategorized

FILOSOFI TOPO NGRAME & MATI SAKJRONING URIP : Kandungan Makna Suluk Kidung Kawedar (4).

Dewa Ruci, Jagad Besar Jagad Kecil.
Bait 23 – 26 Kidung Kawedar atau Kidung Sariro Ayu, menguraikan apa yang disebut dalam filosofi Jawa, “jagad gede – jagad cilik atau jagad besar – jagad kecil”, yang tiada lain merupakan ajaran tasawuf tentang bagaimana mengendalikan hawa nafsu manusia agar bisa mencapai tahap manunggaling kawula – Gusti.

Bumi, gunung, lautan, sungai dan alam raya dengan segenap isinya, dalam pandangan orang awam adalah jagad atau dunia atau alam raya. Alam raya ini dalam tasawuf bisa tunduk kepada seseorang, apabila orang tersebut mampu mendayagunakan arta dayanya. Orang yang seperti ini akan diangkat derajatnya menjadi kekasih Gusti Allah yang dianugerahi segala macam kelebihan, walaupun yang bersangkutan tidak meminta bahkan sudah tidak memiliki keinginan apa-apa kecuali menempatkan diri sepenuhnya sebagai hamba sekaligus kekasih Allah, yang senantiasa taat, tunduk dan patuh kepada-Nya.

Dalam ajaran tasawuf, diri manusia pada umumnya diibaratkan sebagai jagad kecil yang merupakan copy dan miniatur dari alam raya, sedangkan alam raya disebut jagad besar. Manusia akan tetap menjadi jagad kecil apabila kerohaniannya tidak dapat mengalahkan kemanusiaannya yang dipenuhi hawa nafsu. Sebaliknya jika rohaninya bisa menundukkan unsur kemanusiaan atau unsur lahiriahnya, sehingga hakikat dirinya lebih menonjol dibandingkan jangkauan pancainderanya, maka masuklah ia ke dalam “alam malakut yang jabarut”, yaitu alam yang dihuni para malaikat dan ruh suci. Dalam keadaan yang seperti itu manusia menjadi jagad besar, sedangkan alam raya yang kita lihat justru berbalik menjadi jagad kecil. Begitu besar rohani kita sehingga tidak dapat ditampung oleh bumi dan langit. Sementara itu bumi, langit dan seisinya menjadi kecil bagi manusia. Mereka semua tunduk dan takluk kepada manusia yang seperti itu.

Dalam filosofi Jawa, hubungan jagad besar – jagad kecil diajarkan secara indah melalui cerita wayang dengan kisah Dewa Ruci, yaitu kisah khas Jawa yang disisipkan dalam babon kisah induk Mahabarata. Oleh Sunan Kalijaga yang merupakan murid Sunan Bonang, kisah Dewa Ruci bersama kisah Jimat Kalimasada (Ajimat Sakti Dua Kalimat Syahadat) dan kisah-kisah carangan (ranting) khas Jawa lainnya seperti Petruk Jadi Ratu, dipopulerkan ke masyarakat dalam bentuk pertunjukkan wayang kulit, sebagai sarana dakwah agama Islam. Kisah-kisah wayang dakwah tersebut masih sangat populer di kalangan penggemar wayang sampai sekarang.

Serupa dengan kisah Dewa Ruci, cucu pujangga Ranggawarsita yang juga cicit Yasadipura, yaitu Iman Anom, pada tahun 1884 M, menggubah Suluk Ling Lung Sunan Kalijaga (Syeh Malaya). Suluk Ling Lung secara jelas merupakan ajaran tasawuf yang dituangkan dalam kisah pencarian jati diri Sunan Kalijaga, semenjak dari pemuda berandalan, kemudian disadarkan dan berguru ke Sunan Bonang, sampai akhirnya berjumpa dengan Nabi Khidir. Perjumpaan Sunan Kalijaga dengan Nabi Khidir dilukiskan hampir sama dengan perjumpaan Bima dengan Dewa Ruci, namun dalam bentuk ajaran tasawuf yang cukup kental.

Dalam tasawuf, manusia digambarkan terdiri dari dua unsur yaitu ruh atau roh dan tubuh. Dari kinerja keduanya menghasilkan apa yang kita sebut dengan jiwa. Jiwa manusia ini apabila suci dari segala kekeruhan yang datang dari alam lahiriah, maka naiklah kedudukan dan status jiwa tersebut ke alam malakut-jabarut. Dalam keadaan seperti itu manusia bisa bertawajuh, membulatkan hati dan menghadapkan diri sepenuhnya kepada Allah (bait 25), sehingga tiada lagi dinding penghalang antara sang jiwa dengan Sang Pencipta. Di mata orang ini, alam raya dengan segala pesona dunianya menjadi nampak begitu kecil bagaikan sebutir biji sawi. Alam atau jagad raya yang tertangkap oleh mata batinnya menjadi jagad kecil, karena dirinya telah berubah menjadi jagad besar

Manusia yang seperti itu memperoleh sebutan rohaniyin malakutiyin, manusia-manusia rohani yang berada dalam alam malaikat, yang tak dapat dijangkau oleh pancaindera manusia. Meskipun tubuhnya bergaul berada di tengah sesama manusia lainnya, tetapi jiwanya sedang melakukan perjalanan yang tak terbatas lagi tiada ujung, senantiasa berada di sisi Gusti Allah Yang Maha Agung. Ia telah mencapai tingkat yang oleh orang Jawa disebut tapa ngrame, mati sak jeroning urip dan urip sak jeroning mati. Hidup bagaikan bertapa di tengah keramaian, dan menjalani kematian di dalam kehidupan serta hidup di dalam kematian.

Al Ghazali dalam Raudhatut Thalibien wa ‘Umdatus Saalikien (Raudah, Taman Jiwa Kaum Sufi) menyatakan, orang tersebut sudah mencapai tingkatan mati dari nafsunya dalam keadaan masih hidup di dunia, dan menghidupkan hatinya yang mati, sampai kedudukannya kokoh dalam penyaksiaannya terhadap yang Qadim (yang ada terus menerus tanpa awal dan tanpa akhir), serta menempatkan selain Dia pada tempat ketiadaan.

Secara sederhana bisa dikatakan ia telah mematikan, sebetulnya lebih tepat mampu mengendalikan sepenuhnya nafsu pesona dunianya, dan sebaliknya menghidupkan atau mengutamakan kemuliaan rohaninya.

Tidak sembarang orang bisa menghadap Presiden lebih-lebih selalu berada di sisinya. Apalagi berhadapan dengan Gusti Allah tanpa penghalang sama sekali. Hanya orang-orang yang disayang lagi dikasihi Gusti Allahlah yang bisa. Sebagai kekasih Allah, kalau mau ia bisa dianugerahi banyak hal dan segala keinginannya akan dipenuhi. Ia memperoleh mangunah linuhung sebagaimana diuraikan dalam bait 25, juga bait-bait awal serta bait-bait selanjutnya. Betapa tidak. Kalaulah kita menjadi kesayangan seorang Raja, Presiden atau konglomerat, banyak kesenangan yang bisa kita dapat. Apalagi menjadi kekasih Gusti Allah, menjadi wali Allah. Hanya sayang, orang yang menjadi kekasih Gusti Allah adalah justru orang-orang yang sudah mati sak jeroning urip, sehingga bisa disebut sudah tidak punya keinginan apa-apa lagi bagi dirinya sendiri, kecuali semata-mata mengabdi kepada Gusti Allah.

Orang yang senantiasa taat dan ikhlas kepada Allah, yang sudah bisa mengendalikan hawa nafsunya, akan sampai ke maqam makrifat, bisa berhadapan dengan Gusti Allah tanpa penghalang, menurut Al Gazhali dalam kitab Minhajul ‘Abidin, bisa memperoleh anugerah 40 kemuliaan, dua puluh ketika masih di dunia dan dua puluh lagi di akhirat. Mulai dari yang berbentuk pujian, kekayaan hati, keberkahan, sampai pun tatkala sudah wafat masih diijinkan memberikan syafaat kepada orang lain di padang mahsyar dan lain-lain.

Lantas apa yang harus dilakukan lagi di dunia ini oleh orang-orang yang sudah mencapai maqam makrifat? Seperti Bima dalam cerita Dewa Ruci, harus kembali ke kerajaan Amarta, kembali ke masyarakat mewujudkan rahmatan lil alamin, hamemayu hayuning bawono, mewujudkan rahmat bagi alam semesta dengan segenap isinya, bukan hanya bagi keluarga Pandawa, apalagi bagi diri Bima pribadi. Bima harus kembali ke tengah rakyatnya untuk tegar memberantas kebatilan dan menegakkan kebenaran, serta melindungi dan menyejahterakan mereka.

Ketegaran memberantas kemungkaran dan kebatilan tanpa kompromi sedikit jua itulah, yang menimbulkan ungkapan bagi orang-orang yang tegar, kokoh dan lurus dalam membasmi kemungkaran dan kebatilan, bagaikan Bima yang tidak peduli tembok kokoh pun akan ditabrak demi kebaikan dan kebenaran.

Manusia sebagai abdullah atau hamba Allah, mengemban tugas khalifah fil ard, atau wakil dan utusan Gusti Allah untuk mengelola alam raya demi terwujudnya rahmatan lil alamin. Bukan dengan lantas berzuhud pergi uzlah, menyepi lari dari hiruk pikuk masyarakat. Dia harus tapa ngrame, berzuhud dan wara di tengah keramaian dunia, menjalankan tugasnya sebagai khalifah fil ard, yang semuanya semata-mata demi Allah, seperti dilakukan Kanjeng Nabi Muhammad Saw, Sunan Bonang, Sunan Kalijaga dan para wali lainnya. Selaku duta Allah yang menjalankan tugas-tugas kemanusiaan semata-mata demi Allah, maka segala tindak-tanduk dan caranya pun harus betul-betul taat dan sesuai dengan aturan Allah, antara lain berani membasmi kemungkaran dan menegakkan kebenaran, ikhlas, tulus, jujur dan tawadhu. Hidupnya harus bersih, sederhana serta mengabdi pada kemaslahatan umat dan alam raya.
Marilah kita berdoa, semoga kita khususnya penulis dan para pembaca, dianugerahi masuk ke dalam golongan hamba-hambaNya yang seperti itu, yang senantiasa beriman dan beramal saleh. Aamiin.

2 Comments

Filed under Uncategorized

FILOSOFI JATI DIRI ORANG JAWA : Kandungan Makna Suluk Kidung Kawedar (3).

Manunggaling Kawulo Gusti.

Bait 15 sampai dengan 18 Kidung Kawedar menguraikan tentang manunggaling kawulo – Gusti atau penyatuan sang hamba dengan Tuhannya. Sebagaimana kelaziman penyair-penyair sufi di berbagai negara, penggambaran hubungan antara sang hamba dengan Sang Khalik itu dilakukan dengan menggunakan bahasa-bahasa kiasan serta ungkapan-ungkapan simbolik dan metaforis. Begitu pula dalam Kidung Kawedar yang merupakan suluk yang berupa tembang puisi yang kontemplatif-meditatif ini.

Agar segera bisa menarik perhatian khalayak, Sunan Kalijaga seperti gurunya Sunan Bonang, juga menggunakan kiasan-kiasan yang lazim berlaku pada saat itu, sehingga langsung bisa diterima oleh sebagian besar masyarakat yang masih menganut Syiwa-Buddha, berbagai aliran kepercayaan serta percaya pada roh-roh gaib.

Berbeda dengan bait-bait awal, dalam bait 15 – 18 tidak disisipkan sama sekali istilah dan kata-kata dari bahasa Arab atau pun Islam, sehingga karenanya, bagi penganut berbagai aliran kepercayaan dan Syiwa-Buddha, juga bisa ditafsirkan sesuai metode meditasi mereka. Keempat bait itu selanjutnya dan bahkan sampai sekarang, menjadi pegangan dari banyak aliran kebatinan dan Kejawen.

Bait 15 dan 16 ditafsirkan sebagai keadaan manusia semenjak masih di alam ruh, di dunia tatkala ruh dan raga menyatu maupun setelah kematian. Di alam ruh ia bagai cahaya kebiruan yang jernih, bening, suci tak bernoda. Tatkala mengembara di dunia, nafsunya yang menyenangi pesona dunia, dapat menjadi racun yang menyebar dalam kehidupannya. Bisa atau racun itu dapat bermanfaat bagi kehidupan, sebaliknya kehidupan yang semula tenang juga bisa berubah menjadi racun. Namun sesungguhnya ia memiliki kekuatan tersembunyi yang disebut arta daya atau kebijaksanaan dan kekuatan batin dengan rasa belas kasihnya, yang mampu menjadi daya kekuatan jiwa yang luar biasa, yang sebenarnya selalu berusaha mengingatkan pada asal mula dan jati dirinya.

Bait 17 – 18 adalah bait yang yang menggambarkan kemustahilan sekaligus kekosongan atau suwung. Semuanya dilukiskan dalam kalimat yang dimulai dari, ada pendeta yang ingin menciptakan ilham sehingga diibaratkan kumbang menggapai langit. Dilanjutkan dengan pertanyaan-pertanyaan tentang sarang angin, inti batang (empulur yang mengeras seperti batu) kangkung, letak cakrawala, isi buluh atau batang bambu yang kosong, jejak burung yang sedang terbang serta punggung dari bola besi dan seterusnya, yang pada dasarnya tidak ada, kosong dan mustahil.

Bait 18 masih melanjutkan kemustahilan dan kekosongan yang diuraikan di bait 17, namun sudah mulai memasukkan isyarat-isyarat pencarian manusia terhadap jati diri dan Sang Pencipta. Pencarian itu ibarat mau mengambil air dengan pikulan yang terbuat dari air, mengambil api dengan pelita yang menyala sampai merendam air dalam air, membakar api yang membara, mengubur bumi dan seterusnya. Sesungguhnya apa yang dicari dan diinginkan, sudah ada pada dirinya.

Bagi penganut aliran-aliran kebatinan dan kejawen, keadaan kemustahilan itu adalah tan kena kinaya ngapa, tidak tergambarkan atau tidak dapat disepertikan. Jadi hakikat Tuhan adalah kekosongan yang tak terbayangkan tetapi memiliki energi yang luar biasa, sehingga mampu mengatur kehidupan serta keserasian alam raya.

Dengan semedi dan tirakat diharapkan semua nafsu dan keinginan manusiawi dapat dimatikan sehingga atman menjadi kosong. Kosong akan mudah menyatu, manunggal dengan yang sama kosongnya pula. Dengan pemahaman yang seperti itulah Kidung Kawedar sampai sekarang bisa diterima, bahkan dijadikan sumber referensi utama oleh semua kalangan masyarakat Jawa yang menyenangi olah batin, baik yang Islam maupun bukan.

Dalam tasawuf, suluk berarti jalan atau cara mendekatkan diri ke Gusti Allah Swt yang pada umumnya ditempuh secara tahap demi tahap, tanjakan demi tanjakan, tapi secara garis besar bisa dikelompokkan menjadi dua tahap.

Tahap pertama adalah tahap penyucian diri antara lain dengan bertobat dan berhenti melakukan dosa serta berbagai perbuatan tercela lebih-lebih yang dilarang Gusti Allah. Tahap kedua yaitu penyerahan diri secara total kepada Allah swt. Jika diibaratkan salon kecantikan, tahap pertama adalah tahap membersihkan wajah sedangkan tahap kedua adalah tahap membuat pondasi yang dilanjutkan dengan merias wajah agar menjadi cantik. Sementara itu bila diibaratkan dunia kesehatan, maka tahap pertama adalah mengenali dan membuang semua penyakit, sedangkan tahap kedua adalah perbaikan dan perawatan menuju manusia yang sehat lahir dan batin.

Tahap pertama disebut juga tahapan takhalli atau pengosongan jiwa dari sifat-sifat tercela. Tahap kedua disebut tahali atau mengisi kembali setelah kosong, dengan sifat-sifat terpuji seperti ikhlas, sabar, jujur, taat, tawakal, tawadlu, ridho dan merasa cukup atau qanaah. Hasil dari kedua tahapan ini adalah tajalli, yaitu manusia baru dengan wajah batin yang nampak indah sempurna, yang dengan itu ia bisa melihat serta merasakan keagungan Gusti Allah (Tasawuf, Salon Kecantikan Jiwa di Era Globalisasi, https://islamjawa.wordpress.com).

Mengenai manunggaling kawula – Gusti, Kitab Al Hikam yang tersohor dan menjadi salah satu pegangan penganut tasawuf, karya Al Imam Ibnu Athaillah Askandary menyatakan apabila jiwa manusia suci dari segala kekeruhan yang datang dari alam lahiriah, maka naiklah jiwa tersebut ke alam jabarut, yaitu alam yang dihuni para malaikat. Dalam keadaan begitu, tidak ada dinding penghalang antara sang jiwa dan Sang Pencipta. Di mata orang yang memiliki jiwa seperti itu, alam raya nampak begitu kecil bagaikan sebutir biji sawi. Alam atau jagad raya yang tertangkap oleh pancainderanya menjadi jagad kecil, sedangkan dirinya menjadi jagad besar. Maka berlangsunglah apa yang disebut manunggaling kawula – Gusti. Manusia menyatu dengan Tuhannya, dalam arti jiwa manusia mampu mengendalikan segala nafsu dan keinginannya, sehingga menyatu dengan kehendak Allah, mampu melaksanakan dengan baik tugas-tugasnya selaku wakil dan utusan Allah di muka bumi (Pengembaraan Batin Orang Jawa di Lorong Kehidupan, halaman 100 – 115 dan 143, serta Memaknai Kehidupan halaman 32 – 33).

Al Ghazali dalam Raudhatut Thalibien wa ‘Umdatus Saalikien atau Raudah, Taman Jiwa Kaum Sufi, menggambarkan suasana penyatuan antara sang hamba dengan Sang Pencipta, tercapai tatkala dzat dari sang hamba mencapai tahap fana’, sifatnya telah sirna dan kefanaannya lebur dalam keabadian-Nya. Maka bagi sang hamba bisa berlaku “dengan diri-Ku ia mendengar dan dengan diri-Ku ia melihat”. Jadilah Dia yang melimpahkan kewalian sang hamba dan menjadi wali (kekasih) sang hamba. Jika sang hamba berkata, maka berkata dengan zikir-zikir-Nya. Jika memandang dengan cahaya-cahaya-Nya. Jika bergerak maka akan bergerak dengan kekuasaan-Nya. Jika memukul dengan limpahan keperkasaan-Nya.

Allahu Akbar.

Sang Guru Sejati, Hartati & Arta Daya.

Bait 19 sampai 22  menunjukkan betapa Sunan Kalijaga sebagai penggubah kidung, memiliki pengetahuan yang luas dan perasaan yang peka terhadap alam semesta. Karena itu ia bisa menuangkan nuansanya secara indah ke dalam kiasan-kiasan yang memiliki daya sugesti spiritual yang tinggi. Ia juga bisa bertutur tentang Gunung Agung di Bali dan segara Serandil yang ada di daerah Cilacap. Keduanya pada saat itu cukup jauh jaraknya dari daerah Pantai Utara Jawa, dan bagi penganut kepercayaan dan kebatinan, dipercaya memiliki kekuatan magis alam semesta yang dahsyat.

Ia memulai bait 19 dengan gambaran sebuah pohon keyakinan yang bersumber dari sawiji yang bisa berarti satu, tapi bisa juga berarti dari sebuah biji. Maknanya sama saja yakni berasal dari Yang Satu. Pohon keyakinan itu tumbuh subur dan menyebar ke segenap penjuru mata angin. Pohon keyakinan yang berpijak berakar kokoh di bumi, menjulang tinggi ke angkasa menembus langit.

Bait 20 sampai 22 menceritakan pencarian seorang hamba pada keyakinan terhadap yang Maha Kuasa dari waktu ke waktu. Untuk itu ia bisa meninggalkan kehidupan yang penuh pesona dunia. Tak ada yang tahu di mana istana Tuhan. Namun akhirnya ia menemukan Hartati atau karsa yang utama, yaitu daya kekuatan jiwa yang luar biasa, yang mendorong makhluk hidup untuk berkehendak.

Hartati yang berasal sekaligus merupakan manifestasi dari Tuhan pada setiap diri manusia itu, tidak mudah diketemukan, apabila sang manusia tidak bisa menaklukan hawa nafsunya yang setinggi gunung, bergelora bak laut pasang dan menggelegar bagaikan guntur, meskipun ia berada di dalam rumah peribadatan yang disucikan.

Manusia yang bisa memahami, menaklukkan serta mengendalikan hawa nafsunya juga akan memiliki arta daya, yaitu kebijaksanaan dan kekuatan batin yang luar biasa. Orang yang seperti itu akan berdiri kokoh di dunia, serta dihormati manusia sejagad lantaran sudah memperoleh berkah kekuasaan Yang Maha Kuasa. Arta daya akan menuntunnya di dalam kehidupan di dunia. Manusia yang seperti itu oleh para penganut tasawuf disebut sudah menguasai ilmu hikmah, dan bagi para penghayat Kejawen akan selalu dibimbing oleh Sang Guru Sejati.

Perihal Sang Guru Sejati, ada dua pendapat. Satu pendapat meyakini Sang Guru Sejati itu tiada lain adalah Gusti Allah yang bersemayam di dalam rahsa manusia. Sedangkan bagi yang lain, Sang Guru Sejati itu hanyalah utusan atau pembawa pesan Gusti Allah kepada rahsa manusia. Si pembawa pesan itu adalah malaikat atau ruh suci yang ditugasi Gusti Allah untuk menyampaikan pesan, dan bukan Gusti Allah itu sendiri. Sungguh hal-hal gaib seperti itu, sebaiknyalah kita kembalikan pada firman-Nya dalam Surat Al Israa ayat 85, “Dan mereka bertanya kepadamu tentang ruh. Katakanlah, ‘ruh itu urusan Rab-ku, dan tidaklah kamu diberi ilmu melainkan hanya sedikit’.

Maasyaa Allaah laa quwwata illaa billaah.

Leave a comment

Filed under Uncategorized

HUBUNGAN SEKS & PENGARUHNYA PADA ANAK : SEKS DALAM PERADABAN & KEBUDAYAAN JAWA (3)

Puncak hubungan seks dan pengaruhnya pada sang anak.

Selain menggambarkan perilaku seks binal, Serat Centhini dan sejumlah kitab lain menguraikan pula betapa sakral masalah hubungan seks bagi para priyayi Jawa. Begitu Tambangraras menyerahkan kegadisannya misalkan, maka segera sesudah selesai melakukan hubungan suami – isteri untuk pertama kalinya, keluarganya langsung mengadakan kenduri dan meracik segala macam jamu, sebagaimana diungkapkan antara lain dalam dua bait ini:

“Tan cinatur langening pulang sih, sabab puniku kandha uliya, saru yen kinarya wadheh, yata wau kang ibu, ngrukti titigasan ireki, sakeh kang ila-ila, sadaya rinamut, sarta lan kendhurinira, Nyai Daya sampun reracik ajampi, pentil delima pethak.

Inguregan ingisenan ganthi, mesoyi pucuk lawan majakan, kapulaga lawan cengkeh, isine cubung wulung, mrapat lawe wenang ginodhi, sawuse ingubedan, pan pinipis lembut, slasih ireng jinantonan, myang pon-emponan panginang ketemu giring, ring bathok pauyupan.”

Masalah seks dalam makna memahami dan mempersiapkan hubungan harmonis pria – wanita supaya bisa menurunkan anak yang baik, juga banyak dikupas dalam berbagai kitab Primbon Jawa, terutama yang bersumber dari babon atau kitab induk karangan Kanjeng Pangeran Harya (KPH) Cakraningrat patih Kasultanan Yogyakarta di masa pemerintahan Sultan Hamengkubuwono V (tahun 1820 – 1855). Sayang sekali kitab primbon seperti itu sekarang sulit dicari, disamping banyak ditulis ulang secara sembarangan oleh siapa saja, juga lebih dikesankan unsur-unsur mistis dan tahayulnya, sehingga tidak menarik bagi generasi muda sekarang.

Satu hal yang seyogyanya perlu dipahami, sebagaimana diajarkan oleh leluhur penulis, yang dalam versi lain bisa dijumpai pula dalam Serat Centhini, Serat Nitimani, Serat Kawruh Sanggama dan Primbon KPH Cakraningrat tersebut, adalah bagaimana sepasang suami-isteri mempersiapkan diri menjelang berhubungan badan, dan apa yang harus dilakukannya pada saat sanggama, terutama apabila mengharapkan keturunan. Secara hakikat, ajaran ini sama dengan ajaran di dalam Islam, namun rukun dan tatacaranya berbeda.

Inti ajarannya adalah hubungan sanggama tidak boleh dipaksakan, dilakukan dalam kondisi badan sehat, sebelumnya mandi dan gosok gigi atau bersih-bersih badan supaya aroma tubuhnya harum, serta dilangsungkan dalam suasana yang tenang dan nyaman. Selanjutnya berdoa atau shalat hajat dua rekaat, memohon ijin dan pertolongan Gusti Allah, agar hubungan suami isteri yang akan dilakukan diridhoi, dirahmati dan diberkahi, diberi kekuatan lahir batin sehingga berlangsung harmonis, serta dijadikan sebagai bekal ibadah dan amal saleh. Yang lebih penting lagi, selama bersanggama, hawa nafsu tidak boleh dibiarkan melesat lepas bebas tanpa kendali agar pada saat mencapai orgasme, baik tatkala terjadi pada isteri atau pun suami, masing-masing syukur jika bisa keduanya, hening sejenak sembari berdoa di dalam hati, agar benih yang dipancarkan bisa menjadi anak yang soleh atau solehah dan sejumlah harapan baik lainnya bagi sang anak.

Suasana batin pasangan pria – wanita pada detik-detik saat mencapai orgasme itulah yang diyakini akan menentukan watak anak yang lahir dari persetubuhan tadi. Apatah berwatak ksatria Pandawa seperti Puntadewa, Bima, Arjuna dan Kresna ataukah para Kurawa seperti Duryudana, Dursasana, Burisrawa dan Sengkuni bahkan Rahwana; berwatak Gajah Mada, Sunan Kalijaga, Bung Karno, ulama, seniman, pedagang ataukah Ken Arok, Damarwulan ataukah berandal ataukah koruptor?

Ibarat sebuah lukisan, suasana batin orang tua sewaktu mencapai puncak hubungan seksual sangat menentukan kualitas kain bahan lukisan. Adapun cat, corak, jenis dan gambar lukisan tergantung pada orangtua, guru dan masyarakat setelah sang anak lahir. Maka seperti suasana batin Begawan Wisrawa dan Dewi Sukesi yang lupa diri lantaran nafsu syahwatnya berkobar tanpa kendali menerjang pagar ayu atau kesusilaan, lahirlah raksasa perkasa nan angkara murka yakni Rahwana atau Dasamuka.

Di dalam legenda dan kepercayaan masyarakat Jawa, ada sejumlah tokoh besar yang lahir akibat hubungan gelap atau pun pemerkosaan. Orang yang melanggar kesusilaan dengan melakukan hubungan gelap, pada umumnya dikuasai dorongan nafsu, semangat dan tekad atau lebih tepat nekad dengan sangat kuat terutama pihak lekaki, sehingga lahirlah anak yang memiliki semangat dan berani nekad. Lebih-lebih apabila setelah lahir, anak hasil kumpul kebo ini bisa dibesarkan serta dididik oleh ibunya selaku orangtua tunggal dengan keprihatinan tinggi. Maka jadilah tokoh-tokoh hasil lembu petengyang mengukir sejarah seperti halnya Ken Arok dan Bondan Kejawan, serta sejumlah tokoh lainnya yang diyakini masyarakat memiliki latar belakang hasil hubungan seks yang sama.

Tentu saja penulis tidak menganjurkan para sahabat melakukan hal yang seperti itu demi memiliki keturunan yang perkasa dan bisa menjadi penguasa ternama. Karena toh kalau anggapan seperti itu benar, berapa persen dari anak-anak hasil hubungan gelap yang bisa berkuasa, dan berapa persen yang gagal total dalam kehidupannya. Saya yakin yang gagal jauh lebih banyak. Lagi pula, keberhasilan menjadi penguasa, tidaklah menjamin yang bersangkutan mencapai ending yang baik.Bahkan tidak jarang kehidupannya berakhir dengan tragis. Naudzubillah.

Semoga urun rembug kita ini, bisa menggugah kesadaran dan membangkitkan keyakinan akan hikmah dan fadilah masalah seks, sebagai bekal ibadah dan amal soleh, terutama demi terbentuknya insan-insan kamil dalam suatu peradaban yang mulia. Allahumma aamiin.

*) Disampaikan pada acara Urun Rembug Kelirumologi “Seks Dalam Peradaban & Kebudayaan Jawa”, yang diselenggarakan Pusat Studi Kelirumologi – Jaya Suprana School of Performing Art, di Balairung Jaya Suprana Institut, Mall of Indonesia, Kelapa Gading, Jakarta, Sabtu 14 Februari 2015.

Leave a comment

Filed under Uncategorized

SEKS DALAM PERADABAN & KEBUDAYAAN JAWA (2): Zaman Dulu, Seks Diajarkan Secara Tertulis

Serat Nitimani, secara kata-kata apa adanya bisa diterjemahkan sebagai Memahami Sperma, ditulis selama lima tahun oleh Aryasugada dan selesai pada tahun 1888. Meskipun namanya seperti itu, bahkan dalam bahasa Jawa pun terkesan vulgar, namun isinya tidaklah demikian. Bagian yang menjelaskan salah satu tanda yang menunjukkan pasangan wanita mencapai puncak olah asmara, yang sebagian juga dikutip dalam kitab Kawruh Sanggama, aslinya adalah, “sinenggol pucuking pasta, ing kono dipun turuta, sakarsanireng wanodya, yen pinareng datan lami, wanita amudar prasa, yekti ana wataranya, gara-gara jroning baga, anyendhol pucuking pasta, iku saka kira-kira laraping reca gupala, kabukaning kang wiwara, jenenging Hyang Kamajaya, aliya tandha mangkana, kang sayekti kawistara, kawawas sawarnanira, ing hangga sakojur wanda, angler kaoncatan yitma, lesu ngalumpruk marlupa, kadi-kadi tan kuwawa, anyandhang enaking rahsa, sesambate melas arsa, karya trenyuh ing wardaya. ”Sebuah gambaran tentang wanita yang tengah mencapai klimaks hubungan seks, tetapi diungkapkan dalam bahasa Jawa halus atau kromo inggil, melalui berbagai kiasan. Padahal isinya sederhana, pokoknya tubuhnya lunglai bagaikan pakaian basah yang jatuh dari jemuran, nglumpruk – nglempreg, mendesah-desah bahkan mengeluh tidak karuan seolah-olah hendak mati.

Serat Nitimani yang disajikan dalam bentuk tanya jawab, sesungguhnya adalah sebuah ajaran kehidupan manusia yang dimulai semenjak alam ruh, diturunkan untuk hidup di bumi melalui sepasang manusia, yaitu ibu-bapaknya, untuk suatu tujuan mulia yakni hamemayu hayuning bawana, melestarikan sekaligus membangun alam raya. Hidup di dunia itu hanya sekedar singgah minum sejenak. Lebih sepertiga dari isi kitab ini merupakan kajian tasawuf yang sudah pada tahap hakikat dan makrifat. Sebagian besar di antaranya membahas isi kitab Wirid Hidayat Jati karya Raden Ngabehi Ranggawarsita. Sementara itu hampir dua pertiga bagian membahas hubungan pria – wanita. Sebagian dari itu pada hemat penulis mengambil dari Serat Centhini yang selesai ditulis 64 tahun sebelumnya. Sebagai kitab tasawuf, maka hubungan pria – wanita yang hampir dua pertiga bagian tersebut ditempatkan dalam rangka menyiapkan benih anak manusia menjadi seorang insan kamil nan mulia.

Erotika, seks dan mistis.

Perihal Serat Centhini, ini memang sungguh kitab yang luar biasa, yang berisi mengenai berbagai pernik kehidupan masyarakat Jawa, ada tentang penanggalan Jawa, rumah, makanan, obat-obatan, kebiasaan hidup sehari-hari termasuk seks yang dikupas tuntas mulai dari bagaimana mengenal serta memahami perilaku seks seorang perempuan berdasarkan ciri-ciri fisiknya, sampai bagaimana melakukan adegan sanggama secara liar dan nakal dengan berbagai posisi dan cara, adegan sesama lelaki, satu lelaki dengan dua bahkan tiga perempuan sampai ke adegan sanggama secara mistis dan sakral. Karena itu maka banyak para pengamat sastra Jawa yang menyebut Centhini lebih dahsyat dibanding kitab seks Kamasutra dari India yang sangat mendunia.

“Memang ada yang menyebut seperti itu, tapi saya kira Centhini bercerita tentang banyak hal. Lebih luas daripada Kamasutra,” kata Elizabeth D. Inandiak, seorang Perancis yang menggubah dan menerjemahkan Serat Centhini ke Bahasa Indonesia dan Perancis. “Saya tak pernah membayangkan sama sekali bahwa seks bisa bergabung dengan mistik, dan itu ada di Centhini” katanya dalam kuliah umum “Erotika Nusantara: Serat Centhini” di Teater Salihara, Jakarta, 10 Maret 2012 (http://historia.co.id/artikel/3/978/Majalah-Historia/Meleburkan_Seks_dan_Mistik).

Sebagai lelaki Jawa yang dibesarkan di daerah Pantai Utara, sedari kecil penulis sering mendengar tentang kesenian tayub, ledhek, ronggeng dan sejenisnya, baik di Jawa terutama di daerah Jawa Timur, Blora, Surakarta, Banyumas dan Jakarta.Namun saya belum pernah dengan mata kepala sendiri menyaksikan secara langsung. Saya hanya tahu dari surat kabar dan majalah serta cerita dari mulut ke mulut. Pada benak saya kesenian jenis itu sangat seronok dan biasanya disertai mabuk-mabukan.

Secara kebetulan pada sekitar akhir 1980-an, di suatu tengah malam, dengan dua orang teman, penulis bepergian dari Pati menuju Solo menembus pegunungan Kendeng melewati daerah Grobogan dan Purwadadi. Di tengah jalan kami menjumpai ada suatu pertunjukkan tayub yang agak ramai. Lantaran belum pernah melihat, tak pelak lagi kami berhenti menonton tiga perempuan penari tayub mengibing di atas panggung dikerubuti sejumlah lelaki, sambil sesekali para lelaki menyawer, memberikan uang saweran kepada para penari perempuannya. Sementara itu masyarakat di bawah panggung, menonton dengan kadang-kadang bersorak sorai menyemangati para penari. Walau begitu, seluruh suasana berlangsung tertib, tidak nampak ada yang minum bermabuk-mabukkan, tidak ada nuansa vulgar, jorok apalagi tidak senonoh. Sungguh berbeda jauh dengan gambaran acara tayuban yang dikisahkan hampir di sepanjang Serat Centhini.

Dalam Serat Centhini, pertunjukkan tayub dengan ronggengnya, bahkan sendratari Panji dengan iringan rebana di rumah Bupati dan di lingkungan pesantren pun, diwarnai tingkah polah beberapa orang untuk mengumbar nafsu seksnya secara liar menerjang norma-norma kesusilaan dan agama yang berlaku.

Lantaran diungkapkan dalam bentuk tembang-tembang puisi macapat, serta dalam bahasa peralihan Jawa Tengahan ke Jawa Baru, bagi masyarakat sekarang, Centhini tidak mudah dipahami. Namun jika sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, dan penulis belum pernah membacanya, sulit membayangkan bagaimana mengungkapkan aneka macam adegan serta perilaku seks dan sanggama yang benar-benar vulgar sesuai apa adanya itu, ke dalam bahasa Indonesia yang mudah dimengerti oleh orang kebanyakan termasuk anak-anak. Apalagi bila dipengggal-penggal diambil hanya bagian adegan-adegan sanggamanya saja, niscaya menjadi bacaan yang amat sangat porno.

Tetapi bagi orang dewasa, jika disajikan secara utuh disertai ulasan yang membahas segi-segi buruk dan baiknya, Centhini patut dibaca. Terutama apabila sebagaimana diungkapkan Elizabeth Inandiak, kecabulan dan kekotoran bahasa Serat Centhini terhapus lewat keindahan tembang dengan paduan gamelan dan pesinden. “Pembacaan Serat Centhini sejatinya memang ditembangkan. Dengan demikian, para pembaca tak tenggelam ke lautan kata-kata kotor dan cabul sehingga keindahan erotika Serat Centhini tetap dapat ditangkap.”

Beberapa pelajaran dan hikmah akibat seks bebas misalkan, digambarkan pada diri tokoh penganut seks bebas Kulawirya, yang menderita penyakit kelamin raja singa atau syphilis. Sementara itu kecerobohan orangtua dalam melakukan hubungan-hubungan seks, sehingga menjadi bahan intipan dan tontonan rutin tiga anak gadisnya yakni Banem, Banikem dan Baniyah, membuat ketiga anak gadisnya liar tak mengenal rasa malu. Akibatnya, mereka langsung bernafsu mencoba mempraktekkan persanggamaan kedua orangtuanya, tatkala menerima tamu pria yang menginap di rumahnya.

Sebagaimana kelaziman yang berlangsung semenjak runtuhnya Kerajaan Majapahit dan berdirinya Kesultanan Demak, pengajaran-pengajaran dari orangtua ke anak atau dari pandita dan ulama kepada para santrinya, dilakukan dengan menggubah serat atau kitab, bahkan juga suluk, dalam bentuk tembang-tembang macapat. Isi kandungan serat atau kitab adalah bebas, bisa langsung berupa ajaran-ajaran, tapi bisa pula merupakan kisah roman sejarah seperti halnya Serat Damarwulan. Sedangkan suluk, yang berasal dari bahasa Arab, yang berarti cara atau jalan, berisi ajaran mengenai cara mendekatkan diri kepada Gusti Allah (berbagai tulisan mengenai suluk, bisa dilihat dalam https://islamjawa.wordpress.com). Dengan aneka tembang macapat yang digubah oleh para wali, berbagai hal dan tata nilai kehidupan, diajarkan kepada masyarakat secara halus lagi indah, mengikuti rasa seni di kedalaman batin setiap insan.

Kisah asmara paling halus dalam Serat Centhini menjadi milik pasangan Amongraga dan Tambangraras. Amongraga, putra tertua Sunan Giri, duduk berhadapan dengan Tambangraras, istrinya, di kamar pengantin pada malam pertama pernikahannya. Amongraga berada di buritan ranjang pengantin, sedangkan Tambangraras duduk di haluan. Jarak antara keduanya cukup jauh. Riuh-rendah tetamu yang masih berpesta dan mabuk di luar kamar masih terdengar, sedangkan suasana di dalam kamar sangat tenang dan damai.

Amongraga tak lantas bersanggama dengan istrinya. Dan terus begitu hingga malam keempat puluh. Selama itu, Amongraga mengajarkan sejumlah rahasia kepada istrinya agar persanggamaan mereka mencapai penyatuan sejati. Sebelum tibanya malam itu, keduanya hanya saling menatap dan berbicara. Mereka bertelanjang secara bertahap sesuai dengan tingkatan mistiknya. Semakin tinggi tingkatan mistiknya, semakin tinggi pulalah ketelanjangannya.

Tingkatan mistik tercapai berkat ajaran-ajaran Amongraga yang diambil dari mistisisme Islam dan asmaragama (seni bercinta Jawa). Ajaran Islamnya bersumber dari buah pikir sufi Timur Tengah seperti Al-Jili, Abdul Qadir al-Jailani, Al-Ghazali, dan Rumi. Sedangkan ajaran asmaragama bersumber dari tradisi tantrisme dan falsafah Jawa Kuno. Karena asmaragama, banyak yang menganggap Serat Centhini sebagai Kamasutra Jawa. “Memang ada yang menyebut seperti itu, tapi saya kira Centhini bercerita tentang banyak hal. Lebih luas daripada Kamasutra, ”kata Elizabeth Inandiak.

Amongraga menyadari sepenuhnya apa yang diajarkannya selama empat puluh malam, pun juga dengan Tambangraras. Jiwa mereka terbakar dalam api asmara. Dan mencapai puncaknya pada malam ke empatpuluh. Saat itulah, mereka menyatukan tubuh. Tak ada laki-laki, tak ada perempuan. Manunggal. Demikianlah puncak erotika. Inandiak menyebut itu sebagai paduan sir (nafsu dalam bahasa Jawa) dan sir (rahasia dalam bahasa Arab). “Nafsu yang mengangkat asmaragama ke alam gaib (rahasia),”. Sesuatu yang pada hematnya menjadi padanan kata paling tepat untuk erotika dan tidak ditemukan dalam alam pikiran orang Barat melalui pembacaannya terhadap karya sastra mereka. “Sepanjang pengetahuan saya, mudah-mudahan saya salah, tak ada kesusastraan Eropa yang menggabungkan seks dan mistik seperti ini,” katanya menutup diskusi. (BERSAMBUNG)

2 Comments

Filed under Uncategorized

SEKS DALAM PERADABAN & KEBUDAYAAN JAWA (1) : Untuk Membentuk Insan Kamil Nan Mulia.

Kitab Pararaton.

1. “Demikianlah Bhatara Brahma mencari-cari pasangan untuk bersetubuh, maka adalah sepasang pengantin baru, sedang saling mencintai dengan mesra, yang pria bernama Gajahpara, yang wanita bernama Ken Endok, mata pencahariannya bertani. Ken Endok pergi ke sawah mengirim makanan suaminya Gajahpara, nama sawahnya Ayuga, sedangkan tempat kediamannya bernama Pangkur.

Turunlah Bhatara Brahma menyetubuhi Ken Endok, tempat persetubuhan itu bernama Tegal Lalateng.Dewa Brahma berpesan kepada Ken Endok, ‘Janganlah engkau bersetubuh dengan suamimu lagi. Jika engkau bersetubuh dengan suamimu, suamimu akan meninggal, karena kecampuran dengan anakku itu. Nama dari anakku nanti Ken Arok. Dialah yang kelak membawa perubahan besar di Pulau Jawa.”

2. “Adalah seorang pencari tuak di hutan milik penduduk desa Kapundungan, dia mempunyai seorang anak perempuan cantik. Anak ini ikut ayahnya ke hutan. Oleh Ken Arok gadis ini diperkosa di tengah hutan, nama hutan itu Adiyuga.”

3. “kebetulan bertemulah Ken Arok dengan anak gadis penghulu desa Tugaran yang sedang bertanam kacang di ladang. Maka anak gadis itu diperkosa oleh Ken Arok. Lamalah hal ini berlangsung. Itulah sebabnya biji-biji kacang di Tugaran besar-besar dan enak rasanya.”

Petikan di atas mengisahkan tiga peristiwa hubungan seks dari enam masalah yang terkait dengan seks dalam kitab Pararaton, yaitu kitab yang menceritakan tentang Ken Arok, Kerajaan Singasari dan Kerajaan Majapahit, abad XIII sampai dengan XV.

Para sahabat, topik pembicaraan kita kali ini adalah “Seks Dalam Peradaban & Kebudayaan Jawa. ” Pengertian seks di sini tentu bukanlah semata-mata terbatas pada makna jenis atau alat kelamin, melainkan segala hal yang berkaitan dengan masalah seks, baik itu masalah seksual, seksualitas atau pun kehidupan seks masyarakat Jawa, yang sudah menjadi adat istiadat dan membudaya.

Pengetahuan tentang sesuatu budaya dan peradaban yang berlangsung jauh di masa silam, pada umumnya diperoleh dari bukti-bukti sejarah, baik yang tertulis dalam suatu kitab, prasasti, peninggalan benda sejarah seperti relief candi maupun cerita yang dituturkan dari mulut ke mulut. Demikianlah, kisah perilaku seseorang dalam memenuhi hasrat seksualnya di abad XIII, dalam hal ini Ken Arok, Tunggul Ametung dan bahkan Dewa Brahma, dikisahkan dalam kitab Pararaton di atas.

Sejarah tentang seks, adalah sama panjangnya dengan kisah kehidupan dan perdababan manusia, semenjak penciptaan Adam-Hawa, disambung perseteruan Habil dan Khabil putera Adam, dan terus berlanjut sampai di awal tahun 2015 sekarang yang mewarnai kasus perseteruan POLRI vs KPK.

Kuda liar yang harus dikendalikan.

Ulama-ulama tasawuf menggambarkan hasrat seks sebagai nafsu yang bak kuda perkasa. Nafsu itu diperlukan agar manusia hidup dinamis hamemayu hayuning bawono atau rahmatan lil alamien, namun ia tidak boleh bagaikan kuda liar yang melonjak-melonjak, berlarian tiada arah tujuan menerjang serta merusak apa saja. Oleh karena itu nafsu termasuk nafsu seks harus dikendalikan secara baik lagi tepat guna.

Hasrat seks yang seperti kuda liar di masa Kerajaan Singasari tersebut oleh raja-raja Majapahit yang merupakan keturunan dari Ken Arok, dikendalikan melalui Perundang-Undangan Majapahit (Prof.Dr.Slamet Muljana, penerbit Bhratara, 1967). Ada enam kejahatan yang disebut tatayi, salah satunya adalah merusak kehormatan wanita, yang pelakunya diancam dengan pidana mati. Demikian pula masalah perkawinan, warisan dan gangguan terhadap perempuan yang sudah bersuami, diatur serta dilindungi oleh Undang-Undang.

Bukti sejarah tentang gambaran kehidupan seks dalam peradaban dan kebudayaan Jawa, sudah ada semenjak abad IX, sebagaimana terpahat dalam relief Candi Borobudur di Jawa Tengah. Candi Borobudur memiliki 1460 panel relief dan 504 stupa. Dari panel relief sebanyak itu, ada 160 panel yang sengaja ditimbun tanah karena reliefnya dianggap vulgar dan cabul. Panel-panel itu terletak di bagian paling bawah, yang disebut Kamadhatu, yang sekaligus dijadikan sebagai pondasi candi. Panel relief yang tersembunyi ini menggambarkan adegan Sutra Karmawibhangga atau hukum sebab-akibat kehidupan, yakni gambaran perbuatan yang mengikuti hawa nafsu manusia, seperti bergosip, membunuh, menyiksa dan memperkosa. Juga ada adegan-adegan seks dalam berbagai posisi.

Kehidupan seks di masyarakat mana pun di dunia ini semenjak zaman baheula sampai kini, pada hemat saya sama saja. Ada yang berlangsung bebas, ada yang binal dan liar, namun secara umum dan formal ditempatkan sebagai sesuatu yang sakral. Gambaran campur aduk tersebut dijumpai juga di Jawa, sebagaimana dikisahkan dalam kitab Serat Centhini (Centini) yang oleh para sastrawan dianggap sebagai ensiklopedi Jawa.

Serat Centhini yang ditulis oleh para pujangga Keraton Kasunanan Surakarta selama lima tahun dari semenjak 1809 sampai 1814 setebal lebih 4000 halaman, mengisahkan berbagai aspek kehidupan dengan latar belakang kehidupan masyarakat pada masa kekuasaan Sultan Agung tahun 1613 – 1645.

Sekitar tiga puluh tahun sebelumnya, Raden Rangga Prawiradirja, seorang pejabat Keraton Yogyakarta yang ditugaskan menjadi wedana di Madiun pada 1755 – 1784, menggubah cerita roman sejarah yang menjadi sangat legendaris, dengan latar belakang situasi di kerajaan Majapahit pada sekitar terjadinya Perang Paregreg awal 1400. Cerita roman sejarah itu dinamakan Serat Damarwulan, yang disusun dalam bentuk tembang-tembang macapat nan merdu. Di dalamnya disisipkan sejumlah adegan seks antara lain sebagai berikut:

“Swarga nraka sampun pisah gusti, dhuh mas mirah atma jiwaningwang, pupujan ingsun mas angger, sagunging para arum, samya sanget ageng kang brangti, harjasa luwih, Raden Damarsantun, amatek asmaragama, para putri wus marem kadya saresmi, kena asmaragama.”

Bait itu mengisahkan bagaimana Raden Damarwulan memenuhi dahaga seks semua isterinya, yaitu permaisuri dan para selirnya sekaligus dengan menggunakan ajian asmaragama, yaitu suatu ajian yang membuat semua isterinya merasa sudah melakukan hubungan seks secara memuaskan, padahal yang disetubuhi hanya salah seorang saja, bahkan bisa tidak seorangpun.

Pada bagian lain dikisahkan pula bagaimana Sang Raja menggauli pertama kali gadis pingitannya dari desa, yang semula agak takut-takut, tapi kemudian berlangsung sampai mandi keringat sambil sang gadis mendesah mesra:

“Ken Warsiti mingser semu ajrih, glis sinambut pan kanuswa-kuswa, binekta tilam sarine, Nata ndhatengken kayun, lan Warsiki karon ing resmi, angga tan padya muga, cipta lir binanjut, riwe kumyus aturasan, ngesah asih Warsiki sesambat mati, Sang Nata wlas tumingal.”

Meskipun mengisahkan persanggamaan, kedua bait di atas didendangkan dalam irama tembang Dandhanggula yang bernuansa meditatif kontemplatif, sehingga tidak terkesan vulgar.

Kitab Kawruh Sanggama yang ditulis oleh Raden Bratakesawa tahun 1926 menyebutkan, salah satu tanda yang menunjukkan seorang wanita mencapai kepuasan seks adalah “pratandhanipun malih manawi wanita wau sampun madhar prasa, sariranipun ngalumpruk marlupa kados oncat yitmanipun sarta asasambat ingkang damel trenyuh ing manahipun priya. Tumrap wanodya ingkang sampun asring-asring leledhang ing taman lambang sari, asring sambat pejah, boten purun pisah, sasaminipun kados inggih-inggiha. Tubuhnya terpuruk tiada daya, nyawanya bagaikan melesat meninggalkan raga, mendesah mengeluh minta pertolongan sehingga membuat terharu hati lelaki. Bagi wanita yang sudah terbiasa melepas birahi di taman cinta, bahkan sering mengeluh rasanya seperti hendak mati, tak mau berpisah seperti sungguh-sungguh saja.”

Cara memuaskan pasangan wanita dan tanda-tanda tatkala mencapai klimaks hubungan seks, menjadi kewajiban dan harus dipahami oleh seorang lelaki. Karena itu maka diajarkan dalam kitab Kawruh Sanggama (Pengetahuan tentang Sanggama) dan Serat Nitimani dengan cara yang indah dan tidak vulgar. Serat Nitimani menurut pengarang kitab Kawruh Sanggama, juga menjadi salah satu sumber rujukannya.(bersambung).

Leave a comment

Filed under Uncategorized

PERAYAAN VALENTINE, MUSIK JIWA KAPITALISME GLOBAL YANG HARUS DIWASPADA

Hari Valentine Itu Peringatan Untuk Santo Velentinus.
Tulisan ini adalah tulisan lama yang berjudul “Berhala Baru, Gaya Hidup Hedonarsis,” yang kami angkat kembali dengan judul baru, terkait dengan perayaan Hari Velentine, guna memberikan gambaran apa yang ada dibalik gegap gempitanya perayaan tersebut, agar kita tidak ikut mabuk menari mengikuti  gendang orang lain. Semoga Gusti Allah Yang Maha Kuasa, senantiasa menganugerahkan hidayahNya kepada kita bangsa Indonesia. Aamiin.

Gaya hidup hedonis dan narsis (hedonarsis) yang banal, yang memuja pesona dunia, harus kita akui tengah melanda masyarakat kita. Marilah coba kita kaji beberapa peristiwa yang sempat menjadi topik hangat pemberitaan media massa. Rita misalkan, bukan nama sebenarnya tapi dari peristiwa yang sungguh-sungguh terjadi, adalah seorang mahasiswi berusia 19 tahun. Siang itu, bukannya di perpustakaan untuk belajar, ia nongkrong di sebuah kafe di Plaza Senayan, Jakarta. Tak jauh dari mejanya, duduk beberapa orang, salah satu di antaranya pengusaha tajir bernama Abu Fatah, juga nama yang disamarkan.

Singkat kata mereka berkenalan dan berjanji malam hari bertemu di sebuah hotel berbintang lima.Tapi siapa menyangka malam itu di kamar hotelnya, mereka digerebek dan ditangkap petugas-petugas Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Rupanya Abu Fatah sedang menjadi target pengawasan atas dugaan korupsi berjamaah, yang dipantau ketat oleh KPK.

Begitulah jika Gusti Allah sudah membiarkan tabir penutup aib hamba-hamba-Nya tersingkap.Rita adalah seorang mahasiswi muda beliau dari keluarga sederhana, yang tak menyadari kemampuan ekonomi serta statusnya sebagai wanita dan mahasiswa, bergaya hidup bak orang kaya. Sementara Abu Fatah, adalah putera seorang ulama, alumni pondok pesantren dan bagian dari jaringan persahabatan tokoh-tokoh partai yang berlabel Islam, yang sedang hidup bergelimang pesona dunia.

Contoh kisah yang kedua, mahasiswa Ridho Ramanda, juga nama yang disamarkan, adalah seorang putera pejabat tinggi ternama, yang mengalami kecelakaan di jalan tol Jagorawi, pagi-pagi sekali pukul 05.45, setelah semalaman bergadang merayakan pesta tahun baru 2013 Masehi, yang tidak ada di dalam kamus kegiatan islami. Lantaran mengantuk, Ridho yang berusia 22 tahun ini menabrak mobil lain sehingga menewaskan dua orang dan mencederai tiga orang lainnya.

Kasus yang menyerupai Ridho, dialami oleh Abu Jamal, pun nama yang disamarkan, pelajar di bawah umur dengan usia 13 tahun yang ngebut dengan mobilnya di jalan tol pukul 00.45 sehingga mencelakai kendaraan lain dan merenggut tujuh nyawa manusia serta melukai sejumlah orang.

Ketiga contoh tadi, menggambarkan betapa gaya hidup generasi muda kita telah melenceng dari apa yang diajarkan oleh Islam dan Kanjeng Nabi Muhammad Saw. Bukan hanya pada keluarga mereka, tapi harus kita akui bahwa kekuasaan, kekayaan, harta benda dan pesona dunia telah menyilaukan matahati kehidupan banyak rumahtangga masyarakat kita dewasa ini. Padahal kita yakin mereka adalah keluarga-keluarga muslim yang pasti sering mengumandangkan tasbih, menyebut asma Allah nan Maha Suci serta shalawat nabi.

Namun memang tidak mudah menangkap energi api ajaran islami dibanding menangkap abunya. Sebagaimana dikisahkan perawi hadis Bukhari, suatu hari tatkala Baginda Rasul sedang berwudhu, para sahabat berebut menampung limbah atau musta’mal air tetesan wudhu yang mengalir dari sela-sela jari tangan Rasulullah. Para sahabat tersebut memanfaatkan air limbah itu buat membasuh muka masing-masing.

Kanjeng Nabi terkejut melihat air limbah wudhunya dipakai mambasuh muka para sahabat yang bersih itu.Beliau bertanya, “Wahai sahabat-sahabatku, apa yang sedang kalian lakukan? Mengapa air kotor bekas wudhuku kalian pakai membasuih muka?” Salah seorang menjawab, “Kami sedang menunjukkan rasa cinta kami kepadamu ya Rasulullah.” Kanjeng Nabi menggeleng dan bersabda, “ Tidak para sahabatku tercinta, bukan seperti itu cara kalian membuktikan cinta kepadaku. Jika memang kalian bena-benar mencintaiku, maka patuhilah ajaranku, dan kerjakan sunahku.”Beliau kemudian menegaskan, “Barangsiapa mencintai sunahku, berarti dia mencintaiku.Dan barangsiapa mencintaiku, pasti akan bersamaku di dalam surga.”

Sahabatku, kita sering secara gegap gempita merayakan hari-hari besar Islam, memperingati maulud atau hari kelahiran Nabi Muhammad Saw, bahkan mengumandangkan atau membaca shalawat setiap hari.Tentu itu semua bagus. Namun akan jauh lebih bagus lagi dan bermakna apabila kita bisa memetik hikmah dengan meneladani perilaku kehidupan mulianya, serta mentaati sabda, hadis dan sunahnya. Lebih jauh lagi, jangan sampai mulut kita mengumandangkan shalawat dan jari kita menghitungnya ratusan, bahkan ribuan, tapi perilaku kita menyimpang dan bertentangan dengan hadis serta sunahnya.

Tiga contoh peristiwa di atas, jelas-jelas menggambarkan betapa pragmatisme dan hedonarsis telah mempengaruhi kehidupan generasi muda penerus masa depan bangsa dan umat. Mereka hanyalah beberapa titik pada puncak gunung es berhala-berhala modern, penghamba pesona dunia, sebagai akibat bergesernya filosofi dan tata nilai kehidupan dari idealisme dan akhlak mulia, ke pragmatisme-materialisme yang berkembang semakin banal.Sebagian generasi muda kita telah menganut slogan kehidupan, “Kecil dimanja, muda foya-foya, tua kaya raya dan mati masuk surga.Hidup sekali, mati sudah pasti, karena itu nikmatilah dunia selagi kita hidup.”

Pergeseran filosofi dan tata nilai kehidupan ini, memang dirancang secara sengaja oleh Kapitalisme Global, yang secara sadar dan terpola, membentuk suatu tata dunia baru dengan gaya hidup masyarakat yang menekankan pentingnya kekuatan modal, ilmu dan teknologi, yang selanjutnya menghasilkan aneka produk gaya hidup moderen dalam segala bentuknya, baik yang berupa jasa maupun barang.

Dengan dukungan media massa yang berbasis teknologi canggih, mereka menggalang citra gaya hidup yang menekankan pada kebebasan individu, kepentingan diri dan pasar bebas. Sebuah contoh gaya hidup yang tidak islami namun bisa marak di Indonesia dengan penduduk mayoritas beragama Islam ini, adalah perayaan Hari Kasih Sayang setiap tanggal 14 Pebruari, yang dikenal sebagai Hari Valentine.Penggalangan citra super luar biasa ini, ditandai aneka produk dengan ciri warna dasar merah jambu, gambar simbol hati, bunga mawar dan coklat. Padahal hari Valentine adalah hari peringatan Gereja Katholik Roma untuk martir Santo Valentinus, yang digagas dan dicetuskan oleh Paus Gelacius I pada tahun 496, buat menandingi Hari Raya Lupercalia yang dilangsungkan setiap 15 Pebruari oleh Bangsa Romawi Kuno. Karena itu, untuk apa kita bangsa Indonesia terutama umat Islam harus ikut-ikutan merayakannya? Tentu bagi yang beragama Kristen Katholik silahkan saja, asalkan tidak sampai terjebak ikut mendendangkan musik jiwa Kapitalisme Global. Mengapa?

Kapitalisme Global telah menciptakan musik jiwa yang mampu membuat nilai tukar sebagai tujuan utama, dengan mengabaikan nilai-nilai kebenaran termasuk tradisi luhur bangsa-bangsa dan agama. Musik jiwa ini menurut Herbert Marcuse (One Dimensional Man,dalam berbagai tulisan di internet antara lain ungumerahmuda.blogspot.com, Abdul Muin Angkat blog dan Manusia Satu Dimensi, Yayasan Bentang Budaya, Yogyakarta 2000 ) bahkan telah menjadi sumber kekuasaan baru pasca Perang Dunia II, yaitu kekuasaan selera dan gaya hidup, yang dikemas dengan penggalangan citra, iklan dan promosi secara besar-besaran. Ia menyerbu ke segenap pelosok dunia, termasuk Indonesia, yang secara kebetulan sedang mengalami lompatan-lompatan budaya.

Kapitalisme Global dengan dalih rasionalitas, efektivitas dan produktivitas, menawarkan kebebasan berfikir, berbicara dan berkesadaran, telah menggilas nalar, budi luhur dan kearifan-kearifan tradisional, selanjutnya memobilisasi masyarakat secara total.

Kapitalisme Global telah melancakan perang semesta, sebagaimana perang yang paling dikuatirkan Rasulullah Saw, yaitu bukan perang fisik seperti Perang Badar, melainkan perang di wilayah batin dan jiwa manusia. Perang semesta merupakan perang moderen yang paling dahsyat, yang bukan lagi ditentukan oleh benteng-benteng batu nan kokoh serta meriam-meriam, melainkan perang budaya dan gaya hidup yang mampu menembus masuk ke ruang-ruang pribadi di dalam rumahtangga setiap penduduk dunia.

Perang semesta bisa dengan cepat dan tanpa disadari target sasarannya, menyingkirkan budaya, nilai-nilai agamis dan tata nilai lainnya, sekaligus membangun alam pikiran baru yang terpadu secara total, yang pada hakekatnya membangun gaya hidup yang individualistis, pragmatis, hedonis, materialistis dan narsis.

Dengan musik jiwa dan gaya hidup, Kapitalisme Global telah menciptakan kebutuhan-kebutuhan palsu yang menyihir dan menghisap individu-individu ke dalam pusaran sistem produksi dan konsumsi. Media massa, budaya termasuk film dan musik, industri periklanan, penggalangan citra, manajemen dan cara-cara berfikir sempit, semuanya diarahkan untuk memproduksi sistem represif yang melenyapkan negativitas, kritik dan perlawanan. Sistem yang seperti ini membentuk masyarakat industri maju lintas negara yang moderen, dengan pola pemikiran yang berdimensi satu, yang tidak mengenal alternatif.

Di dalam ketatanegaraan dan politik praktis, hal itu bisa dilihat dari fenomena partai-partai, yang secara ideologis tidak lagi memiliki perbedaan. Mereka seolah-olah menawarkan perbedaan dan perubahan, namun sejatinya tidak ada bedanya antara partai satu dengan yang lain.

Manusia moderen mengira dirinya benar-benar hidup bebas dalam dunia yang menawarkan aneka kemungkinan untuk dipilih, diraih dan diwujudkan, padahal kebebasan yang dikehendakinya sesungguhnya hanyalah apa yang sudah didiktekan oleh Kapitalisme Global kepadanya.

Ketiga contoh peristiwa yang mengawali tulisan ini, dengan gamblang menggambarkan serangkaian perilaku masyarakat yang mengabdi pesona dunia dengan kebebasannya. Demikian pula berbagai fakta di persidangan kasus-kasus korupsi yang hampir setiap hari digelar beberapa tahun belakangan ini, menunjukkan keterlibatan para tokoh dari lintas profesi dan pilar kekuasaan, mulai dari pengusaha, legislatif, eksekutif sampai dengan yudikatif. Mereka menunjukkan perilaku mengejar kekuasaan dan kekayaan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya dengan segala cara. Mau serba enak secara instan, sehingga mengabaikan ajaran-ajaran moral dan agama.Kesalehan hanya sebatas formalitas bahkan dijadikan sebagai topeng.Puji-pujian terhadap Yang Maha Kuasa dan Kanjeng Nabi hanyalah penghias bibir belaka.

Sahabatku, tasawuf mengajarkan para penganutnya untuk membangun akhlak luhur dan budi mulia, hidup bersih, sederhana dan mengabdi, yang tidak silau apalagi memuja pesona dunia.Islam diturunkan bukan untuk meluapkan kebebasan individual dan kepentingan diri, melainkan mengabdi pada kebersamaan dan harmonisasi dalam mewujudkan rahmat bagi semesta alam. Bukan hanya bagi manusia, bahkan bukan hanya untuk sesama muslim. Karena itu Rasulullah senantiasa menunjukkan keteladanan dalam kehidupan sehari-hari. Beliau hidup sangat sederhana, zuhud dan wara, lembut lagi penuh kasih sayang terhadap sesamanya, sampai-sampai semua benda perlengkapan hidupnya, juga binatang piaraannya diberi nama serta panggilan kesayangan. Beliau juga sangat menjaga perasaan orang lain, sebagaimana contoh sederhana yang diriwayatkan Bukhari dan Muslim, “Apabila kalian bertiga, maka janganlah dua orang berbisik-bisik dengan membiarkan, tidak mengajak yang ketiganya.”

Maka, marilah sama-sama kita renungkan dan hayati gumaman isteri beliau, Siti Aisyah, di pinggir makam Rasulullah pada malam pertama setelah pemakaman:

“ Wahai laki-laki yang tak pernah mengenakan sutera.

Wahai laki-laki yang tak pernah tidur di atas tilam nan lembut.

Wahai laki-laki yang hingga saat meninggalnya belum pernah

kenyang dengan roti gandum yang lezat-lezat.

Wahai laki-laki yang menyukai dipan kasar dibanding ranjang mewah.

Wahai laki-laki yang sering beberapa malam tidak tidur karena takutnya pada neraka (yang mengancam umatnya).”

(Sumber: K.H.Abdurrahman Arroisi dalam 30 Kisah Teladan dan K.H.Firdaus AN dalam Detik-Detik Terakhir Kehidupan Rasulullah).

2 Comments

Filed under Uncategorized